Sejak PSBB dan Larangan Mudik, Notif, ODP dan PDP Menurun di Padangpariaman

Foto: istimewa
Pariaman - Sejak diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) serentak di Sumatera Barat disertai larangan mudik oleh Presiden Jokowi, terjadi penurunan signifikan jumlah perantau yang masuk wilayah Padangpariaman.

Perantau pulang kampung atau kelompok notifikasi yang wajib isolasi mandiri setiba di kampung selama 14 hari, sebagian sudah selesai dalam pemantauan. Jumlah orang dalam notifikasi kini tinggal 2.127 orang yang penambahannya dari ke hari terus berkurang.

"Terjadi penurunan signifikan jumlah notifikasi dalam satu minggu terakhir terutama sejak mulai diberlakukannya PSBB," ungkap kepala dinas kesehatan Padangpariaman, Yutiardi Rivai melalui sambungan telepon, Rabu (29/4).

Sementara jumlah orang dalam pemantauan (ODP) juga mengalami penurunan dari sebelumnya yang kini tinggal 8 orang. Sementara jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) dari 7 orang kini tinggal 4 orang. Dari empat PDP, 1 orang di antaranya dirawat di sebuah rumah sakit di Lubuk Basung sedangkan tiga orang lainnya rawat inap di rumahnya sendiri. Pasien rawat inap sekaligus jalani karantina mandiri yang diawasi ketat oleh petugas kesehatan dan perangkat nagari.

"Semua PDP telah kita uji swab dan menunggu hasilnya dari Laboratorum Fakultas Kesehatan Unand," sambung Yutiardi.

Pihaknya saat ini terus memantau orang masuk Padangpariaman, khususnya perantau yang masuk lewat jalur tikus. Satu dua orang di antara mereka ada juga yang lolos masuk Padangpariaman.

"Di sisni hebatnya peran para walinagari. Yang lolos lewat jalur tikus langsung mereka data lalu lapor ke kita dan mewajibkan mereka isolasi mandiri 14 hari dibantu kawan-kawan dari puskesmas," imbuh Yutiardi.

Ia mengatakan pihaknya tidak mungkin menolak perantau yang terlanjur masuk Padangpariaman karena mereka memiliki sanak saudara di kampung halamannya. Yang bisa dilakukan adalah memberikan kesadaran pada mereka untuk disiplin menjalankan isolasi.

"Jika membandel kita ambil langkah tegas bekerjasama dengan aparat kepolisian," kata dia.

Sementara jumlah positif corona saat ini 4 orang. Satu orang meninggal pria berusia 66 tahun dan satu lagi perempuan yang saat ini dirawat rumah sakit Semen Padang - keduanya berasal dari kecamatan Batang Anai.

Sedangkan pasien lainnya, DM, 45 tahun, adalah orangtua dari pasien positif pertama, TA, 18 tahun dari kecamatan Sintuak Toboh Gadang.

Kabar baik datang dari hasil uji swab TA yang dinyatakan negatif. Untuk bisa dinyatakan pulih dari corona, TA mesti negatif uji swab dua kali berturut-turut.

"Sampel kedua telah kita kirim ke labor dan menunggu hasilnya. Mungkin besok sudah keluar," jelasnya.

Labor FK Unand sendiri, tutur Yutiardi menguji hingga 200 sampel per hari dari seluruh Sumatra Barat. Sehingga keterlambatan hasil uji bisa dimaklumi karena uji swab membutuhkan ketelitian dan tidak boleh salah.

Padangpariaman telah menetapkan kecamatan Batang Anai dan Sintoga sebagai episentrum Covid-19. Tracking dan penelusuran kontak langsung pasien positif dengan orang di sekitarnya terus dilakukan hingga saat ini.

"Kita terus lakukan tracking di kedua kecamatan itu. Untuk itu kita mengimbau masyarakat menerapkan protokol PSBB, gunakan masker, jaga jarak dan di rumah saja jika tidak ada keperluan mendesak. Jangan lupa rajin cuci tangan pakai sabun," pungkasnya. (OLP)