10 Potensi Bencana di Pariaman, Genius Perkuat Langkah Antisipatif


Pariaman - Walikota Pariaman Genius Umar mengatakan Pariaman memang merupakan daerah rawan bencana alam.

Ia menyebut ada 10 potensi bencana yang bersumber dari sisi geologis, hidrologis, geografis hingga demografis.

"Secara umum kondisi Sumatera Barat berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik bumi dan dikelilingi oleh beberapa gunung berapi. Sumbar juga daerah dengan degradasi lingkungan yang tinggi sehingga berpotensi menimbulkan potensi bencana," kata Genius di Pariaman, Kamis (27/2).

Oleh sebab itu, menurutnya tugas dari pemerintah adalah memberikan perlindungan bencana bagi masyarakatnya dengan terobosan inovatif, sebagai upaya antisipatif melalui kebijakan-kebijakan konkrit.

Untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, pihaknya terus mengupayakan yang dapat mengurangi dampak dari risiko bencana melaluI instansi terkait.

Hal itu, sambung Genius, juga perlu dukungan semua pihak karena bencana tidak dapat ditangani oleh satu lembaga saja. Tugas tersebut merupakan tanggung jawab berat bagi semua pihak

"Seseorang atau sekelompok orang saja, tapi tugas berat ini hendaknya menjadi tanggung jawab kita semua. Baik pemerintah, masyarakat maupun dunia usaha,” ungkapnya.

10 potensi bencana yang dapat mengancam Kota Pariaman, sebut Genius antara lain gempa bumi, tsunami, banjir, kekeringan, longsor, angin puting beliung, abrasi pantai, penyakit epidemik, kebakaran lahan dan perumahan dan kegagalan teknologi.

Dari 10 potensi bencana yang ada tersebut, jelas Genius, yang paling besar risiko bencananya adalah gempa bumi dan tsunami karena menimbulkan kerusakan yang cukup besar. 

“Karena itu kita perlu memperbanyak tanaman di sepanjang pantai Pariaman. Dengan menanam pohon pinago, kelapa dan jenis lainnya bisa meminimalisir dampak tsunami apabila terjadi di daerah kita,” ucapnya.

Pariaman sendiri, jelas Genius, berada di zona merah kawasan rawan bencana. Pariaman perlu menyiapkan diri dalam menghadapi bencana, baik pra bencana, saat terjadi bencana dan pasca bencana.

Genius Umar menjelaskan bahwa Kota Pariaman telah membentuk 71 Kelompok Siaga Bencana di 71 desa/kelurahan, dan mempunyai beberapa Desa Tangguh Bencana.

"Kita juga telah melatih dan membentuk kelompok Siaga Bencana Sekolah," terusnya.

Tidak hanya dari pemerintah saja, respons terhadap tanggap darurat bencana, imbuh Genius, juga menumbuhkan kesadaran dari masyarakat.

Masyarakat atas kesadaran sendiri telah membentuk organisasi dan lembaga penanggulangan bencana berbasis masyakarat. Seperti Forum Mesjid Peduli Bencana.

Tercatat, massa yang tergabung dalam organisasi yang peduli terhadap tanggap bencana di Kota Pariaman kini jumlahnya mencapai 1.400 orang yang tersebar di 71 desa/keluraha. 

"Kelompok-kelompok ini adalah kelompok yang sudah diberikan pelatihan kerelawanan siaga bencana dari BPBD Kota Pariaman," tutupnya. (Tim)