Mulai 2019 Dana Desa Difokuskan bagi Pengembangan SDM

Walikota Pariaman Genius Umar menyerahkan secara simbolis peralatan rajutan kepada salah seorang peserta pelatihan di Balairung Waliktota Pariaman. Foto: Eri
Pariaman - Sebanyak 180 orang ibu-ibu dari enam desa dilatih mengembangkan produk rajutan di Balairung Rumah Dinas Walikota Pariaman, Senin (1/4).

Walikota Pariaman, Genius Umar mengatakan bahwa produk rajutan bisa menjadi produk unggulan Kota Pariaman.

"Kota Pariaman adalah daerah tujuan wisata. Pada 2018 kunjungan wisatawan mencapai angka tiga juta. Dengan kunjungan wisatawan yang tinggi ini seharusnya meningkatkan ekonomi masyarakat," ujarnya.

Namun, sebut Genius, kunjungan wisatawan ke Kota Pariaman belum berdampak signifikan terhadap perekonomian pelaku UMKM di Kota Pariaman. Oleh sebab itu pihaknya melakukan pembinaan pada pelaku UMKM.

"Agar pengrajin rajutan bisa menghasilkan rajutan yang menarik dan dibeli oleh wisatawan," sambungnya.

Selain pelatihan berbasis keahlian, Genius juga menyampaikan bahwa pengrajin harus juga dibekali ilmu menajemen usaha dan permodalan.

"Disamping pelatihan merajut, ibu-ibu ini juga harus dilengkapi dengan ilmu menajemen keiwirausahaan dan cara mendapatkan permodalan ke perbankan. Hal ini penting karena akan ada pengrajin yang terkendala dengan cara berusaha dan permodalan," sebutnya.

Staf Khusus Kemendes PDTT RI, Feby Dt. Bangso hadir pada kesempatan itu. Ia menyinggung dampak dana desa bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Ia menyampaikan selama empat tahun dana desa banyak digunakan untuk infrastruktur desa seperti pembangunan gedung PAUD, embung, pembangunan kantor desa, jalan desa dan sebagainya.

Namun pada 2019 ini, jelas dia akan difokuskan pada pengembangan SDM di desa dan pengembangan ekonomi desa. Dana desa bisa diberikan kepada kelompok pengrajin di desa. Ada 10 orang dalam satu kelompok bisa dibantu permodalannya untuk kelompok rajutan misalnya.

"UMKM juga bisa menjadi salah satu unit usaha pada Bumdes. Bumdes bisa membantu penjualan produk-produk UMKM di desanya, sehingga Bumdes juga memikirkan sosial benefit, seperti bekerjasama dengan pihak lain untuk membantu penjualan produk," jelasnya.

Kepala Dinas Perindagkop dan UKM, Gusniyeti Zaunit menuturkan, pelatihan yang diikuti 180 orang itu dilaksanakan selama tiga hari di sentra rajutan Desa Taluak, Marunggi, Sikabu, Sei. Kasai dan Balai Kuraitaji serta sentra sulaman timbul di Desa Pakasai.

"Pengembangan produk rajutan bisa berupa souvenir, peralatan rumah tangga, mukena, jilbab dan produk turunan lainnya. Kegiatan dilaksanakan pada tgl 2 4 dan 5 April 2019," ujarnya. (Eri/OLP)