Televisi dan Kecerdasan Khalayak dalam Bermedia

Foto ilustrasi/rumah pintar/internet 



Oleh: Dewi Nila Utami (Mahasiswa MIKom UNAND)
Saya teringat dengan sebuah video yang dibagikan oleh salah seorang dosen saya tentang dampak media dalam membentuk pola pikir penontonnya. Video tersebut merupakan vlog seorang mentalis ternama di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa industri entertainmen hanya membodohi khalayak dengan berbagai acaranya yang tidak masuk akal alias setingan semata.

Faktanya, sebagian besar acara yang muncul di media massa terutama televisi menyajikan acara yang kurang edukatif malah menuntun penonton untuk suka berangan-angan, tidak berpikir realistis dan cenderung konsumtif. “Semakin bodoh penonton, semakin mudah dimasuki, semakin dapat duit.

Disadari atau tidak, kapitalis telah menguasai media massa sejak awal kemunculannya. Hal ini semakin berlanjut bahkan semakin diperkuat dengan kehadirannya dalam bentuk media audio-visual (televisi). Kaum kapitalis dengan paham kapitalismenya telah memanfaatkan media siaran sebagai ladang untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Menurut Karl Marx, kapitalisme adalah sistem ekonomi yang memungkinkan beberapa individu menguasai sumber daya produksi vital yang mereka gunakan untuk meraih keuntungan maksimal.

Televisi akan terus berusaha membuat acara-acara populer yang disukai oleh khalayak. Semakin banyak masyarakat yang menonton, maka akan semakin sering iklan dilihat oleh masyarakat, sehingga akan semakin meningkat pula penghasilan media dari biaya iklan tersebut. Jadi bisa disimpulkan bahwa kaum kapitalis berada di balik semua acara televisi yang kurang edukatif ini.

Lalu apa yang salah dengan acara tersebut? Pada beberapa stasiun TV, ada acara-acara yang menjadikan kemiskinan atau kekurangan (anggota tubuh) sebagai alat untuk menarik simpati penonton. Dalam hal ini, orang yang kekurangan ataupun miskin tersebut dijadikan sebagai objek semata dengan adegan-adegan yang telah diseting sebelumnya sehingga menarik perhatian dan simpati penonton.

Penonton yang tidak memahami tentang hal ini, menganggap bahwa hal itu nyata dan berpikir bahwa acara tersebut bagus. Tentunya, hal ini akan berdampak pada tingginya rating acara tersebut sehingga setiap iklan yang terpasang pada acara tersebut akan dibandrol dengan nominal yang lebih tinggi daripada iklan yang dipasang pada acara lainnya yang kurang diminati masyarakat. Ironisnya, sebagian besar pemilik media televisi tersebut adalah politikus yang menjadikan kemiskinan dan kekurangan seseorang sebagai senjata untuk mendapatkan dukungan dan simpati dari masyarakat.

Tak hanya itu, media seringkali menampilkan acara-acara yang kurang edukatif, kurang memberikan motivasi serta tidak memberikan solusi kepada masyarakat. Beberapa stasiun TV menampilkan sinetron-sinetron ataupun FTV dengan latar belakang kehidupan mewah, glamour dan hedonis, percintaan para remaja usia sekolah yang juga dibumbui dengan persaingan, perkelahian atau tawuran untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan ataupun untuk sekadar melampiaskan emosi atau kekesalan mereka terhadap sesuatu. Para remaja mulai membayangkan mendapatkan pasangan yang “ideal”, cantik atau gagah, kaya dan sebagainya. Secara tidak langsung, acara ini akan membentuk pola pikir masyarakat yang suka mengkhayal dan berpikir instan untuk mendapatkan sesuatu.

Menurut pemilik serta pekerja media televisi, acara-acara ini tidak salah karena itu merupakan gambaran realita kehidupan yang terjadi di masyarakat. McQuail mengemukakan bahwa ada enam perspektif yang berkembang di masyarakat ketika membicarakan tentang peran media massa.

Pertama, melihat media massa sebagai window on events and experience. Artinya media berfungsi sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang terjadi di luar sana ataupun pada diri mereka sendiri. Kedua, media juga sering dianggap sebagai a mirror of events in society and the world, implying a faithful reflection, yaitu cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan dunia yang merefleksikan apa adanya.

Ketiga, memandang media massa sebagai filter atau gatekeeper yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak. Keempat, media massa seringkali dipandang sebagai guide, penunjuk jalan atau interpreter yang menerjemahkan atau menunjukkan arah atas berbagai ketidakpastian atau alternatif yang beragam. Kelima, media masssa sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga memungkinkan terjadinya tanggapan dan umpan balik. Keenam, media massa sebagai interlecutor yang tidak hanya sekadar tempat berlalu lalangnya informasi, tetapi juga partner komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi yang interaktif.

Kehadiran iklan dalam acara-acara yang dipertontonkan menjadi polemik bagi sebagian kalangan. Hal ini dikarenakan iklan cenderung menonjolkan nilai-nilai yang sebenarnya tidak penting, memunculkan perspektif keliru tentang mutu suatu produk sehingga lebih menyesatkan daripada memberitahu, menurunkan standar etika karena terlalu sering melontarkan bujukan, mengacaukan dan melencengkan berita, memboroskan terlalu banyak sumber daya, menciptakan banyak kesulitan bagi orangtua dalam mendidik anak-anaknya, serta memicu monopoli karena iklan cenderung digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar saja (Warne:2003).

Hal ini menegaskan bahwa tidak semua iklan baik untuk diikuti. Lakukanlah seleksi jika hendak membeli produk atau pahami dampak yang akan timbul jika apa yang iklan itu sarankan untuk dilakukan.

Bagaimanapun juga, penonton adalah pribadi yang independen. Penonton punya hak untuk menentukan dan memilih program acara yang akan mereka tonton. Intinya, penonton harus cerdas dan bijak dalam bermedia terutama televisi. (*)