Menengok BUMDes Tampuniak Sejahtera di Cubadak Aie

Direktur BUMDes Tampuniak Sejahtera Ronal Ilham sedang berdiri di depan BUMDesnya. Foto/Eri Elfadri
Pariaman ----- Masyarakat Desa Cubadak Aie dan sekitarnya harus menempuh jarak minimal 1 kilometer bila ingin memfotocopy satu lembar dokumen saja dari desanya. Berangkat dari permasalahan tersebut, Kepala Desa Cubadak Aie Abdul Hamid beriinisiatif untuk membentuk Badan Usama Milik Desa (BUMDes) "Tampuniak Sejahtera".

BUMDes dengan unit usaha fotocopy dan percetakan ini sudah berjalan sejak 26 Desember 2017 lalu. Dengan modal penyertaan dari dana desa sebesar Rp50 juta, BUMDes Tampuniak Sejahtera memulai program kerja: dari mencari kedai, merenovasi, serta membeli peralatan fotocopy serta percetakan.

"Dari modal 50 juta tersebut kami pergunakan untuk merenovasi kedai, membeli mesin fotocopy, mesin percetakan dan alat tulis kantor," ungkap direktur BUMDes Tampuniak Sejahtera Ronal Ilham (32), Kamis (19/4) .

Setelah dua bulan usaha berjalan, kata Ronal, pihaknya menambah unit usaha BUMDes sehingga bisa melayani jasa berupa transfer, pembayaran tagihan listrik, telepon, PDAM, iuran BPJS,  penjualan pulsa, multifinance dan simpanan.

"Untuk usaha simpanan kami bekerjasama dengan Bank BNI. Kami juga menerima bila ada masyarakat yang menitipkan kerajinan tangan untuk dijual di sini," lanjut ayah satu anak ini.

Ronal mengatakan, permasalahan yang dihadapi sejauh ini adalah kurangnya minat masyarakat untuk menabung meskipun pengurus BUMDes telah berupaya untuk mempromosikannya. Selain itu, karena BUMDes baru berjalan beberapa bulan, pengurusnya belum punya honor.

"Kami sebagai pengurus bekerja di BUMDes ini bersifat sosial. Jika BUMDes sudah berjalan dan mendapat laba, baru bisa ditetapkan gaji/honor untuk pengurus. Makanya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saya masih bertani," terangnya.

Keberadaan BUMDes ini disambut baik oleh masyarakat. Ni Jus, salah seorang warga Dusun Baruah Kubu, Cubadak Aie, mengatakan biasanya ia mencari tempat fotocopy harus pergi ke Desa Manggung, Ampalu, bahkan sampai ke Pasar Pariaman hanya untuk menfotokopi satu lembar KTP.

"Tapi sekarang saya tidak perlu lagi jauh-jauh untuk mencari dan membeli perlengkapan alat tulis untuk kebutuhan anak-anak sekolah," ungkap dia.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Efendi Jamal, menargetkan seluruh desa di Kota Pariaman sudah memiliki BUMDes pada tahun 2019. Untuk itu pihaknya terus mensosialisakan dan memotivasi aparat desa maupun masyarakat secepatnya membentuk BUMDes sesuai dengan Permendes PDTT nomor 14 tahun 2014 tentang pendirian, pengurusan dan pengelolaan, dan pembubaran badan usaha milik desa yang diperkuat dengan Permendes PDTT nomor 19 tahun 2017 tentang penetapan prioritas penggunaan dana desa tahun 2018.

"Sudah ada tujuh desa yang memiliki BUMDes dari dana desanya. Sedangkan 21 desa lagi sedang mempersiapkan BUMDesnya dan 29 desa lagi masih terus dimotivasi untuk segera membentuk BUMDes," kata dia.

Ketujuh BUMDes tersebut, kata Efendi Jamal yakni di Desa Batangtajongkek, Palak Aneh, Toboh Palabah, Cubadak Aie, Sungai Rambai, Sungai Pasak dan Cubadak Aia Selatan.
"Sedangkan Desa Aia Santok dan Cubadak Mentawai membentuk BUMDes bersama yang dibiayai oleh dana dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi," sebutnya. (Tim)