Genius Umar Beberkan Resep Mendidik Anak bagi 'Orangtua Zaman Now'

Wawako Genius Umar beri sambutan pada acara seminar paraenting skill 2. Foto/Junaidi
Pariaman --- Wakil Walikota Pariaman Genius Umar mengatakan selain pembangunan fisik dengan infrastruktur, Pemko Pariaman juga mengimbangi dengan pembangunan akhlak, perilaku, karakter serta iman dan taqwa bagi segenap warga Pariaman.

"Pembangunan itu mesti seimbang antara fisik dan sumber daya manusianya," ujar Genius saat Seminar Nasional Parenting Skill bersama Ustad Bendri Jaisyurahman dari Jakarta, yang dilaksanakan oleh GOW Kota Pariaman dalam rangka memperingati Hari Ibu, bertempat di Aula Balaikota Pariaman, Rabu (13/12).

Ia menambahkan, sebagai orangtua, terutama ibu, harus mampu memberikan teladan yang baik bagi anak-anaknya, menjadi panutan dengan akhlak yang baik. Para orangtua mesti menjadi garda terdepan dalam pembangunan akhlak masyarakatnya di samping peran pemerintah dan stakeholder lainnya.

"Untuk menjadi contoh bagi anak-anak, orangtua terlebih dahulu melakukannya. Teladan tidak berlaku sebaliknya, contoh orangtua yang menyuruh anaknya untuk sholat, tetapi ia sendiri tidak pernah sholat," katanya.

Tantangan dalam mendidik generasi muda, imbuh Genius, saat ini kian pelik dengan derasnya arus teknologi informasi. Anak-anak zaman kini sudah akrab dengan gawai pintar mereka seperti smartphone. Dalam hal ini peran orangtua sangat diharapkan dalam membimbing mereka agar gawai tersebut tidak disalahgunakan nantinya.

“Smartphone dapat menjadi alat untuk menimba ilmu yang bermanfaat, sekaligus bisa menghancurkan akhlak anak-anak kita. Untuk itu, peran ibu sangat vital dalam mengarahkan dan membimbing anaknya agar memahami mana yang boleh mereka akses dan mana yang tidak,” sambungnya.

Selain itu, imbuh Genius, pengaruh narkoba yang telah menggurita di kalangan generasi muda, harus dapat dicegah dan antisipasi agar tidak menimpa anak-anak.

"Ditambah dengan tayangan televisi yang tidak mendidik, kita mesti bisa memberikan pengertian tentang tayangan tersebut. Kita mesti bangga dengan apa yang orangtua kita contohkan dulu, bagaimana mereka meluangkan waktu kepada kita dan membahagiakan kita sebagai anak. Karena itu kita mesti kembali kepola asuh masa lalu, yang dapat membuat anak tertawa dan tersenyum gembira, berinteraksi dengan sebayannya,” tutupnya. (Junaidi/*)