Harga Cabai Meroket, Mardison: Berdayakan Petani Lokal dan Manfaatkan Lahan Tidur




Menyikapi melejitnya harga cabai merah keriting dalam beberapa minggu terakhir membuat DPRD Kota Pariaman melakukan koordinasi dengan SKPD terkait, yakni Koperindag dan Dinas Pertanian.

"Naik turunnya harga cabai disebabkan minim pasokan, tapi kedepannya kita harus menyikapi kenaikan tersebut dengan sebuah kebijakan," kata Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyuddin di Balaikota Pariaman, Jumat (18/11).

Menurutnya, cabai merupakan kebutuhan pokok kedua bagi masyarakat Pariaman, karena itu fluktuasi harga cabai harus dicermati dengan bijak.

Mardison menyatakan, untuk kestabilan harga cabai ke depan, petani cabai lokal harus diberdayakan. Dia mengimbau agar lahan-lahan kosong di Pariaman dijadikan lahan cabai yang dibina oleh Dinas Pertanian.

"Harus ada kebijakan strategis bagaimana pemanfaatan lahan tidur agar dijadikan lahan pertanian cabai oleh masyarakat. Kemudian dalam pembenihan cabai unggul, saya kira Dinas Pertanian akan memfasilitasi," sebut Mardison.

Cabai yang dikonsumsi masyarakat Pariaman, imbuh Mardison, sangat selektif. Mereka menyukai cabai Curup yang pedas dan cabai Jawa, meskipun harganya mahal.

Sementara itu Kepala Dinas Koperindag Kota Pariaman Gusniyeti Zaunit menyatakan harga cabai Kamis kemarin dan hari ini Rp75 ribu/kilogram.

"Anehnya, harga yang kami data kepada pedagang tidak sama dengan harga yang mereka jual kepada konsumen, sehingga kami mendengar ada masyarakat yang membelinya Rp90 hingga Rp95 ribu/kilogram," ungkapnya.

Gusniyeti mengimbau agar pedagang cabai menjual harga cabai sesuai dengan harga yang dinyatakan kepada Diskoperindag.

"Saya heran, apasih gunanya bagi mereka (berbohong). Mulai besok kita gunakan tekhnik pendataan berbeda dengan pengamatan dan penanyaan langsung kepada masyarakat yang membeli," pungkasnya.

OLP