Cermin: Raja Khalera dan Wartawan




Tersebutlah di sebuah negeri antah berantah yang dipimpin seorang raja sedikit angkuh dan ceroboh. Raja narsis tersebut acapkali membangga-banggakan kesaktiannya di depan rakyat untuk penuhi hasrat ingin dipujinya.

Sang raja, sebut saja namanya Khalera, baru usai menuntut ilmu kanuragan kepada seorang sakti mandraguna dari negeri seberang. Dua tahun lamanya dia bersemedi di sana hingga dia peroleh beberapa kesaktian yang tidak dimiliki olah para "urang bakapandaian" di zaman itu.

Raja Khalera yang sebelumnya bisa menghilang, masuk ke dalam botol dan pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dalam sekejap mata, sejak menuntut ilmu seberang bertambahlah kepandaiannya.

"Mulai purnama saya perintahkan undang seluruh rakyat agar berkumpul di tepi sungai Batang Ghaladir (sungai yang amat dalam dan di huni buaya). Jangan lupa pula undang seluruh wartawan baik cetak, elektronik dan online agar berita penambahan kapandaian saya tersiar ke seluruh dunia," kata raja kepada perdana menteri selaku ketua panitia acara.

Sejak niat raja dititahkan, maka dibentuklah panitia kerja terpadu yang terdiri dari lintas sektoral.

"Acara akan berlangsung tanpa rekayasa pada bulan purnama depan," kata perdana menteri saat menggelar konprensi pers bersama wartawan di balairung istana nan megah. Ubinnya terbuat dari batu bacan dan lumut sungai dareh, sedangkan tiangnya terbuat dari emas 22 karat mengingat jika 24 karat akan mudah merayuk.

Hari H yang di nanti-nanti telah tiba. Masyarakat yang entah dari mana datangnya kerumuni tepi Batang Ghaladir dengan baju terbaiknya. Warna merah mendominasi karena kebanyakan warga kampung dari dusun bergudu datang.

"Perhatian-perhatian!! Raja Khalera sebentar lagi akan memperlihatkan kepada saudara kemampuan berjalan di atas air yang di huni oleh buaya buas. Jika raja tenggelam maka matilah dia," kata perdana menteri dengan corong mik terbuat dari tanduk kerbau Afrika.

Berselang sepemakanan goreng ubi irisan kecil, sang raja keluar. Dia tersenyum disungkup mahkota emas bertabur berlian dan baju sutera yang ditenun oleh para perajin terbaik negeri selama lima tahun. Agak saja, sejak terima baju kebesaran raja, para tukang jahit dan diseiner terbaik negeri hentikan order pelanggan reguler. Baju tersebut bersulam emas motif naga berkepala sembilan.

Riuh tepuk tangan hingar bingar.

Para wartawan keluarkan kamera paling canggih inventaris perusahaan medianya.

Sang raja sukses berjalan di atas air melewati sungai selebar 2 kilometer. Sesekali dia berjalan di antara kepala para buaya.

"Horeeeeeeeeeeeeeeeeee.............!!," riuh penonton diiringi tepuk tangan.

Acara yang menguras banyak dana tersebut rupanya berjalan di luar dugaan dan sangat sukses. Rakyat negeri antah berantah dapat hiburan dari sang raja. Makin tinggi saja popularitas sang raja di mata rakyat.

Besoknya.

Sang raja marah besar kepada sang perdana menteri usai membaca berita dari berbagai media yang membuat judul bertolak belakang dari kejadian peristiwa.

"Perdana menteri....!!!!!!!!!!!! Sini kau..........!!," raja murka.

"Kenapa media membuat berita seperti ini.....??" raja menghardik.

"Begini paduka raja. Ampunn. Karena acara kita terlalu besar dan kesibukan panitia, kami lupa menjamu makan wartawan dan berikan uang transportasi. Mungkin inilah pangkal balanya wahai paduka," jawab perdana menteri terbatuk batuk.

"Tapi tahukah engkau apa kata dunia tentang saya. Saya sangat malu dan mau dikemanakan muka ini??? Pengawal..!! lempar perdana menteri ke kandang singa..!!!" kata sang raja diiringi tangis mengisak.

Apakah judul berita koran yang membuat sang raja murka?

Ternyata hampir di setiap koran, tv, radio dan media online menerbitkan berita halaman depan berjudul "Raja Khalera Ternyata Tidak Bisa Berenang"

OLP