60 Hektar Lahan Tidur di Kota Pariaman Jadi Sarang Mancik



Banyaknya lahan persawahan tidur (terlantar) akibat masalah pengairan seperti saluran irigasi yang belum ada serta rusaknya saluran yang telah ada, berdampak pada pola pertanian di Kota Pariaman.

"Dengan tidak berfungsinya secara efektif lahan persawahan tersebut membawa dampak negatif terhadap perekonomian masyarakat yang sebahagian besar menggantungan hidup dari hasil pertanian, terutama di wilayah Kecamatan Pariaman Utara, Timur dan Selatan."


"Lebih parah lagi lahan tidur tersebut menjadi sarang tempat berkembangbiaknya hama pertanian seperti tikus sawah (mancik) yang sewaktu-waktu dapat merusak tanaman padi produktif di sekitarnya," ucap Kepala Dinas Pertanian Kota Pariaman, Agusriatman, di sela pemantauan saluran pengairan pertanian sekota Pariaman, Rabu, (13/4).

Kata dia, oleh sebab itu pihaknya bawa serta lintas SKPD saat lakukan peninjauan lapangan untuk menangani persoalan krusial tersebut.

"Agar tidak terjadi over lapping penganggaran pada masing-masing SKPD ataupun dana desa," ucap dia.


Dia mengungkap, beberapa lokasi harus digegaskan perbaikan drainasenya seperti di Desa Nareh Hilie, Nareh I dan Cubadak Aie Utara.

"Perlu dibangunnya saluran drainase dan saluran sekunder sepanjang 1.400 meter. Di lokasi ini terdapat 60 hektar lahan tidur, dulunya merupakan lahan produktif berhulu dari saluran Ulu Sikijang." 


"Jika dibiarkan, saat curah hujan tinggi areal persawahan di Desa Nareh I akan dilanda banjir dan menghancurkan tanaman padi," ungkapnya.

Kata dia, saat banjir 22 Maret lalu telah robohkan dua saluran irigasi di Desa Kampuang Gadang dan Desa Kampuang Kandang yang akan mengairi persawahan sampai ke Desa Toboh Palabah.

Pihaknya akan segera tindak lanjuti pemanfaatan anggaran secara maksimal baik melalui APBD maupun DAK bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan umum.

"Sehingga ke depan semua aliran irigasi dan drainase yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal dan mengaktifkan kembali lahan tidur yang selama ini tidak dapat menghasilkan apapun," tutup Agusriatman.


TIM