Lubuak Nyarai Segera Punya Cottage
Air terjun dan pemandian alami di Lubuak Nyarai. (Ritno/istimewa)
Paritmalintang -- Pemerintah kucurkan dana Rp2,6 milyar untuk tingkatkan infrastruktur dan fasilitas penunjang bagi wisatawan yang berkunjung ke objek wisata khusus Lubuak Nyarai, Lubuk Alung, Padangpariaman.

Dana tersebut merupakan sharing anggaran antara Pemerintah Kabupaten Padangpariaman dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tahun 2017

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Padangpariaman Jon Kenedy menjelaskan, peningkatan infrastruktur tersebut meliputi pembangunan akses jalan dari gerbang masuk objek wisata hingga batas hutan lindung, pembangunan tempat parkir kendaraan pengujung, pembangunan gerbang objek wisata.

“Akan ada jalan dari gerbang hingga perbatasan hutan lindung yang akan dibangun oleh Dinas PU Kabupaten Padangpariaman. Ada pembangunan tempat parkir dan gerbang juga di sana nantinya,” jelasnya Senin (7/8/2017) siang.

Selain itu, di Lubuak Nyarai nantinya juga akan dibangun cottage atau tempat pengunjung beristirahat usai menempuh perjalanan yang jauh dan menanjak menuju Lubuak Nyarai.

“Nanti wisatawan bisa beristirat dengan santai di Lubuak Nyarai. Cottage yang dibangun ini akan lebih repsentatif dan membuat pengunjung nyaman,” ulasnya.

Menurutnya, peningkatan dan penambahan fasilitas di objek wisata harus terus dilakukan, tidak sebatas di Lubuak Nyarai saja. Peningkatan dan penambahan infrastruktur juga dilakukan di sejumlah objek wisata lainnya di Padangpariaman.

“Kita akan lakukan peningkatan infrastuktur di objek wisata lainnya yang ada di Padangpariaman, namun sementara ini baru dimulai dari Lubuak Nyarai,” sebutnya.

Ditegaskan mantan Camat Nan Sabaris itu, pembangunan infrastruktur di objek wisata menegaskan bahwa Pemkab Padangpariaman berkomitmen menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu strategi peningkatan ekonomi masyarakat. (Nanda)
Tiga Lokasi Wisata di Padangpariaman Ini Sedang Memoles Diri



Pemkab Padangpariaman tahun ini akan fokus membangun sarana prasarana penunjang di tiga lokasi wisata. Lokasi tersebut, Lubuak Nyarai, Lubuak Bonta dan Pantai Tiram.



Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Padangpariaman, Jon Kenedi, di ruang kerjanya di Parit Malintang, Senin (6/3/2017), mengatakan, dinasnya mendapat anggaran sekitar Rp4 miliar untuk pengembangan wisata Padangpariaman-- bersumber dari APBD ditambah Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat.

"Dana tersebut kita pecah dan fokuskan pada tiga lokasi. Untuk Lubuak Nyarai dalam waktu dekat akan dibangun musala dan tempat parkir dengan total anggaran Rp1 miliar," ucap Jon Kenedi didampingi Wiwiek Herawati, Kepala Bidang Pemasaran dan Destinasi.

Ia menyebutkan, selain pembangunan tersebut, lokasi Lubuak Nyarai juga akan dibangun akses jalan dari dan menuju oleh Dinas Pekerjaan Umum Padangpariaman. Lubuak Nyarai sambung dia, merupakan lokasi pariwisata yang paling banyak mendapat sentuhan pembangunan di tahun 2017.

"Lubuak Nyarai telah mendunia dan menjadi objek wisata tracking terkemuka di Asia Tenggara. Pemkab akan membangun akses jalan dari dan menuju lokasi, bukan di area tracking," imbuhnya.

Sedangkan untuk lokasi wisata Lubuak Bonta, tutur dia, melalui DAK akan disalurkan Rp1 miliar untuk pembangunan MCK, ruang ganti, membangun wahana dan pondok wisata (cottage).

Untuk lokasi wisata bahari sekaligus destinasi kuliner Pantai Tiram, jelas dia, melalui APBD Padangpariaman tahun 2017, telah dianggarkan dana sebesar Rp850 juta untuk pengerukan telaga/muaro sekaligus mempertinggi beton bibir telaga yang sering roboh akibat air pasang.

Di samping tiga lokasi khusus itu, imbuhnya lagi, pihaknya juga akan membangun rumah pohon dan pintu gerbang di lokasi wisata jenjang seribu di Bukik Siriah, Sungai Geringging, senilai Rp150 juta.

"Saat ini ada sekitar 531 lokasi temuan potensi wisata di Padangpariaman yang belum dikelola maksimal. Lokasi tersebut sudah kita inventarisir dan ke depan akan kita buatkan Rippda (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah) bersama dengan DPRD," tuntasnya.

Pariwisata Padangpariaman sendiri, Wiwiek Herawati menambahkan, pada tahun 2015 dikunjungi sekitar 5.070.000 wisatawan nusantara dan 6.071 wisatawan mancanegara, mengalami peningkatan di tahun 2016 menjadi 5.500.000 wisatawan nusantara dan 6.420 turis mancanegara di tahun 2016.

"Ada peningkatan kunjungan sekitar 400.000 wisatawan nusantara dan 300 lebih wisatawan mancanegara di tahun 2016. Target peningkatan kunjungan untuk tahun 2017 telah kita persiapkan dengan menggelar berbagai iven dan perbaikan sarana prasarana penunjang di berbagai lokasi wisata," kata Wiwiek.

Terpisah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Padangpariaman Zahirman, menyebutkan, pembangunan wisata Padangpariaman juga dilakukan dengan saling koordinasi antar SOPD.

"Untuk pariwisata Padangpariaman Dinas Kominfo sedang menyiapkan teknologi informasi berbasis website dan aplikasi untuk menyebarluaskan segala informasi tentang pariwisata," ungkap Zahirman.

Di dalam aplikasi tersebut, imbuh Zahirman, akan disertakan pihak ketiga seperti pengusaha biro perjalanan pariwisata dan pengusaha perhotelan.

"Ketika aplikasi diakses akan tersajikan daftar menu yang berisi destinasi-destinasi wisata yang ada di Padangpariaman. Kemudian sub domainnya, pengunjung aplikasi dari luar daerah bisa memilih atau memesan paket perjalanan dan penginapan mereka," sebutnya.

Untuk menyiapkan ke arah itu, tukuk dia, pihaknya akan mengandeng PT Telkom dalam penyedian jaringan data sekaligus melatih sumberdaya manusia untuk mengelola aplikasi tersebut.

"Progres kita tertuju ke sana. Beberapa daerah seperti Kota Surabaya dan Batam telah sukses melakukan hal tersebut," pungkasnya.

OLP
Diklat TIK Sumbar Jadikan Pariaman Daerah Observasi



Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Pariaman, Yalviendri, terima rombongan observasi lapangan pendidikan dan pelatihan (diklat) teknologi informasi telekomunikasi (Tik) Provinsi Sumatera Barat, Selasa (28/2/2017), di ruang rapat Balaikota Pariaman.

Yalviendri mengatakan saat ini Kota Pariaman sedang memasuki tahap perwujudan smart city dengan mendayagunakan Tik dalam segala urusan pemerintahan, seperti birokrasi, pencatatan hingga perbendaharaan.

Saat ini menurutnya Pariaman telah memiliki aplikasi Simda, Simbangda, e-Puskesmas dan Si Upiak. Aplikasi tersebut menurutnya dalam rangka memudahkan ASN dan publik dalam berbagai pelayanan.

"Tik memudahkan kita membuat data, proses birokrasi yang tidak berbelit. Tugas masing SOPD bisa dilakukan pemantauan dengan baik dalam rangka menuju pemerintahan yang bersih dan baik," ujarnya.

Ia menyatakan, saat ini pariwisata Pariaman sedang berkembang-- dan banyak acara-acara pelatihan kedinasan dan badan usaha swasta yang menjadikan Pariaman sebagai daerah observasi mereka.

"Kunjungan saat ini saja secara tidak langsung akan menguntungkan bagi pariwisata Pariaman. Silahkan nikmati kuliner Pariaman dan kunjungi berbagai destinasi wisata menarik yang ada di Pariaman," sebut mantan Kabag Humas itu.

Rombongan tersebut tergabung dalam BPSDM Sumbar yang diketuai oleh Armyson. Rombongan terdiri dari 30 orang ini dari berbagai SOPD Provinsi Sumbar.

TIM
Persatuan Kapal Wisata Bahari Pariaman Bantah Melanggar SOP



Ketua Persatuan Kapal Wisata Bahari Kota Pariaman, Yuswil (58) menyebut peristiwa karamnya kapal wisata "Kuda Laut" Rabu (3/8) di muaro Pariaman, murni musibah dan tidak ada pelanggaran SOP (standar operasional prosedur) yang ditetapkan oleh pemerintah oleh nahkoda kapal.

"Kita perlu luruskan, tidak benar ada larangan cuaca ekstrim dari dinas terkait saat itu. Apalagi memasang bendera merah tanda tidak boleh beroperasionalnya kapal," kata Yuswil, di Muaro Pariaman, Jumat (5/8).

"Rabu itu sudah empat kapal berangkat ke pulau dan kapal karam ini adalah kapal yang kelima hendak berangkat," sebutnya.

Yuswil menuturkan, sejak dua minggu terakhir, pihak dinas terkait tidak ada mendrop tiket ke muara kecuali pada hari Sabtu dan Minggu. Semua penumpang kapal juga dikenakan jaket pelampung pada setiap pemberangkatan kapal.

Saat peristiwa, kata dia, masyarakat setempatlah yang melakukan evakuasi terhadap seluruh penumpang hingga menanggulangi biaya perobatan di RSUD Pariaman.

"Kita kasih baju ganti, kita kasih makan hingga menanggulangi biaya berobat. Kemudian semua penumpang dibawa oleh mobil dinas SKPD ke Batipauah, Tanah Datar untuk dipulangkan," sebutnya.

Ai Montir (48) nahkoda sekaligus pemilik kapal "Kuda Laut" juga menegaskan tidak ada seorangpun petugas yang melarang kapalnya berangkat ke pulau sebagaimana pernyataan beberapa pihak di media. Setiap kapal yang berangkat tetap diminta biaya sandar Rp10 ribu perkapal oleh petugas dinas terkait.

"Tidak benar ada bendera merah," katanya.

Dia menceritakan, saat itu kapalnya berniat membawa 11 wisatawan ke Pulau Angsoduo. Sebelum berangkat dirinya memerintahkan seorang ABK menyuruh penumpang memasang rompi pelampung sebagaimana SOP yang telah ditetapkan.

Menurutnya, setelah penumpang menggunakan rompi, kapal yang dikemudikannya mulai berangkat. Dia mulai mengintai ombak di mulut muara. Musibah berawal saat mesin tiba-tiba mati karena pen baling-baling patah sehingga kapal otomatis terhenti.

"Saat itulah ombak datang dan menghempaskan kapal ke batu grip. Melihat kejadian itu masyarakat terjun ke muara untuk menyelamatkan seluruh penumpang," jelas dia.

Sementara itu, Yulisman (42), seorang saksi mata menyebut hari itu cuaca relatif aman namun ombak besar di pintu muara. Dia mengaku tidak ada melihat bendera merah tanda larangan kapal berangkat.

"Saya bersumpah tidak melihat bendera merah karena saat menolong (evakuasi penumpang) kami meletakkan baju dekat bendera tersebut," ujarnya.

Saat itu, imbuh dia, kapal berada di mulut muara di dekat yang dangkal dan dihempas ombak hingga ekor kapal terangkat lalu menabrak ke batu grip yang menyebabkan mesinnya tanggal dan hilang.

"Saya melihat semua penumpang pakai baju pelampung kecuali empat orang anak-anak," tuntasnya.

Sebagaimana dikabarkan, sebelumnya sebuah kapal angkutan wisata merk lambung Kuda Laut membawa belasan penumpang terbalik akibat dihempas ombak sekitar 200 meter dari titik pemberangkatan di muaro Pariaman pukul 13.15 Wib, Rabu (3/8).

Kapal tersebut bertolak dari muaro Pariaman menuju Pulau Angsoduo tiba-tiba mati mesin saat dihadang ombak besar dan menghantamnya dengan kuat yang menyebabkan badan kapal rusak parah.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Pariaman, Yota Balad, saat itu kepada wartawan menyatakan bahwa sebelumnya petugasnya telah melarang kapal tersebut berlayar karena cuaca tidak stabil dan cenderung buruk.

"Namun tetap saja mereka (nahkoda dan kru) mencuri kesempatan saat petugas sedang istirahat," ungkap Yota.

OLP

Mukhlis Intruksikan Pelayanan Wisata Prima Saat Lebaran



Untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengunjung (wisatawan) datang ke Kota Pariaman pada saat lebaran, Walikota Pariaman Mukhlis Rahman telah memerintahkan seluruh jajaran SKPD terkait agar berbenah dan menata kembali kawasan wisata.

Lokasi wisata meliputi Pantai Gandoriah, Pantai Pasir Lohong yang disulap menjadi Taman Anas Malik, Pantai Cermin, Pantai Kata dan Pantai Sunur. Termasuk Pulau Angsoduo dan Penangkaran Penyu.

Sebagai kawasan yang baru berkembang, kata Mukhlis, Selasa (7/6), masih banyak kekurangan dan kelemahan yang perlu dibenahi agar ke depan menjadi lebih baik. Sarana prasarana, pelaku wisata termasuk SDM aparatur yang berintegritas dalam mengkoordinir pelayanan wisatawan di lapangan.

“Saya minta SKPD terkait agar benahi tempat wisata, tidak ada lagi parkir dikelola oleh preman memakai celana pendek, identitas pengelola parkir harus jelas dan tarifnya sesuaikan dengan aturan,” ungkap Mukhlis saat rapat bersama SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Pariaman.

Masalah keselamatan dan kenyamanan wisatawan ke pulau, dirinya juga menginstruksikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bersama Kepala Dinas Perhubungan/Komunikasi dan Informatika agar bersinergi serta bekerja dengan SOP yang telah ditetapkan. Tidak dibenarkan ada kapal lain selain kapal resmi dan melakukan pengawasan rutin terhadap aktivitas pelayanan pariwisata di lapangan.

“Pelayanan kapal ke pulau hanya satu pintu, beri petunjuk arah pembelian tiket resmi dan kontrol naik turun penumpang kapal sesuai dengan aturan keselamatan penumpang. Kita punya Pol PP. Jika ada oknum yang bekerja tidak sesuai dengan aturan, tindak,” tegasnya.

Menanggapi instruksi Walikota Pariaman tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Efendi Jamal, mengatakan akan menertibkan kawasan wisata bersinergik dengan Kepala Dinas Perhubungan dan Kasat Pol PP untuk kenyamanan dan ketertiban pengunjung.

Terpisah, Kadishubkominfo, Yota Balad, juga akan menidaklanjuti instruksi tersebut, dan akan selalu melakukan koordinasi bersama SKPD terkait termasuk pihak Kamla yakni Pol Air dan TNI.

“Sebelumnya kita sudah melakukan pemeriksaan kelengkapan dan keamanan serta kelayakan seluruh kapal wisata bersama Satpolair, Satpol PP dan TNI AL," kata Yota.

Pihaknya mengaku telah melakukan pemeriksaan izin, kelengkapan sarana dan prasarana serta kelayakan dari 30 kapal yang ada.

"Saya sudah menandatangani  berita acara pernyataan dari pengusaha kapal untuk melengkapi peralatan keselamatan sesuai dengan ketentuan. Pada saat ini sudah ada 6 kapal yang layak sesuai standar resmi. Mudah-mudahan menjelang lebaran akan bertambah,” ungkapnya.

Andi Sikumbang
Editor: OLP
Lipsus Festival Gandoriah: Decak Kagum Warga Saksikan Layangan Kreasi 5 Negara



Lima negara, USA, Swedia, Thailand, Singapura, Malaysia dan tuan rumah Indonesia ikuti lomba layang-layang kreasi di hari pertama Festival Pesona Gandoriah tahun 2016 di Pantai Gandoriah Pariaman, Sabtu (28/5).



Kreasi layangan mencengangkan itu jadi tontonan menarik bagi ribuan pengunjung yang memadati Pantai Gandoriah di saat pembukaan festival yang dihelat hingga tanggal 1 Juni mendatang.




"Layangan akan tetap mengudara pada malam hari dengan lampu kerlap kerlip di tubuhnya. Jadi pengunjung Festival Pesona Gandoriah pada malam hari juga dapat menyaksikan keindahan langit yang dihiasi layang-layang kreasi," kata Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Pariaman Efendi Jamal.




Layang kreasi itu, dikatakan warga hingga Walikota Pariaman baru kali itu disaksikannya secara langsung. Layangan ada yang berbentuk aneka jenis ikan, gajah, pola lingkaran, tokoh kartun dan layangan milik Pemko Pariaman sendiri dengan logo sabiduak sadayuang di tubuhnya.

Festival Pesona Gandoriah dibuka secara akbar dengan berbagai atraksi seni tradisional hingga pentas hiburan oleh artis Ratu Sikumbang. Di hari pertama festival ini juga digelar lomba memasak gulai kapalo lauak, masakan khas masyarakat Pariaman yang diikuti 51 peserta. Aneka hidangan disajikan secara apik oleh para peserta yang kemudian disantap oleh para tamu dan undangan setelah dilakukan penilaian oleh empat (4) orang dewan juri.
 

Walikota Pariaman Mukhlis Rahman mengatakan bahwa Festival Pesona Gandoriah adalah kali kedua dihelat di Kota Pariaman dan langsung jadi kalender wisata nasional. 

"Kita dapat bantuan publikasi dari pihak kementerian. Pariaman makin dikenal secara luas," kata Mukhlis kepada wartawan.

Mukhlis menyebut, kala pertama Festival Pesona Gandoriah (sebelumnya bernama Festival Pesisir) digelar pada tahun 2015 dianggarkan oleh APBD senilai Rp800 juta lebih, namun tahun ini hanya Rp554 juta.

"Itu tandanya iven yang diselenggarakan berhasil karena banyak yang mau jadi sponsor. Kalau bisa ke depan Rp0. Semakin sedikit kita anggarkan dari APBD pertanda sukses sebuah acara," ungkapnya.

Dia menambahkan, pihak Pemko Pariaman punya 10 kalender pariwisata tetap yang bertujuan untuk menggenjot dunia kepariwisataan. Festival Pesona Gandoriah sendiri dia nilai sudah menuai sukses sejak pertama iven itu digelar.

"Karena banyak yang unik kita perlombakan di sini seperti beruk memanjat kelapa yang ditonton sekitar 18.000 pasang mata pada tahun lalu," terangnya.

Mukhlis menargetkan pada Festival Pesona Gandoriah tahun 2016, karena bertepatan usai ujian nasional dan masa liburan, jumlah pengunjung diharap tiga kali lipat dari tahun sebelumnya.


"Dengan ramainya pengunjung otomatis masyarakat kita yang diuntungkan. PDRB meningkat. Itu yang ingin kita capai yakni pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan membangun dunia pariwisata," sebutnya.

Wakil Walikota Pariaman Genius Umar, menambahkan, bahwa saat ini Pantai Gandoriah menjadi pusat liburan tur sekolah dan korporasi luar daerah bahkan luar provinsi disamping wisata keluarga. Ribuan wisatawan berkunjung ke Pariaman tiap harinya.

Oleh sebab itu dirinya telah perintahkan UPTD Parkir untuk sterilkan jalan di sepanjang pantai dari kendaraan bermotor.

"Mungkin sudah over kapasitas karena masuki masa liburan. Tadi saya lihat petugas sibuk sterilkan jalan dari kendaraan yang parkir di badan jalan. Mereka sudah sediakan kantong parkir baru jika area parkir utama penuh," ungkap Genius.

Kata Genius, masyarakat Pariaman mampu jadi marketing bagi dunia kepariwisataan dengan jaringan viral di sosial media.

"Setiap pengunjung yang datang adalah marketing wisata. Mereka berfoto dan mengunggah di sosial media hingga menjadi viral dan membentuk branding positif bagi pariwisata Pariaman. Itulah kekompakan warga Pariaman untuk memajukan daerahnya," pungkas Genius meyakinkan.


Terkait layang-layang, Eva (39), warga Pariaman Tengah mengaku kagum melihat layangan kreasi yang mengikuti lomba di hari pertama festival. Dia ikut pula berfoto selfie bersama layangan beraneka rupa tersebut.

"Saya pikir layangan kertas saja. Rupanya unik-unik dan stabil di udara. Bahkan ada layangan raksasa berbentuk bulat donat, kosong di tengah yang berputar-putar mirip kincir air," katanya.


OLP
Subahanallah, Lubuak Nyarai Bak Hamparan Syurga



Forum wartawan peduli pariwisata piaman (FWP3) penuhi undangan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Padangpariaman untuk menjajal wisata pemacu adrenalin tracking minat khusus Lubuak Nyarai yang berlokasi di Hutan Lindung Gamaran, Kecamatan Lubuk Alung, Padangpariaman.




Lokasi Lubuak Nyarai menjadi dikenal publik secara luas sejak tahun 2013 hasil kerja keras masyarakat setempat dan kelompok pemuda sadar wisata pimpinan Ritno Kurniawan (30). Ketenaran Lubuak Nyarai sudah diakui dunia sebagai salah satu zona wisata tracking terbaik di Indonesia.


Rena Ali Mukhni mandi di Lubuak Ngungun (14/5)


Sejak tahun 2013 hingga kini, Lubuak Nyarai sudah dikunjungi lebih dari 60.000 wisatawan domestik dan 120 orang wisatawan mancanegara diantaranya dari Singapura, Irlandia, Malaysia, Australia dan Amerika Serikat. Publikasinya sudah nongkrong di laman website national geographic oleh para tim eksplorasi pimpinan Tom Concorn. Bahkan korporasi besar jadikan tracking di Lubuak Nyarai sebagai program wisata terjadwal oleh perusahaan mereka.

Lubuak Nyarai, Subhanallah begitu indah, memukau dan mempesona. Buktikan dan datang ke sana. Tidak satupun hasil bidikan lensa kamera tandingi panorama aslinya. Tuhan memperlihatkan seni tekstur maha tinggi yang tidak dijangkau oleh pemikiran manusia. Di sana terdapat beberapa air mancur dan kolam alami sebening kristal. Tebing-tebing terpahat indah. Udara alamnya yang sejuk merupakan oksigen menyehatkan untuk paru-paru. Lokasi Lubuak Nyarai dan area sekitarnya masih hutan perawan yang dipastikan masyarakat setempat akan terus dijaga selamanya.

Sebelum sampai di Lubuak Nyarai yang dihiasi kolam dan tebing, wisatawan yang berangkat dari posko pemandu akan mendapatkan briefing dari pemandu jalan. Tiap sepuluh orang ditemani dua pemandu. Jarak dari posko ke Nyarai sejauh 5,3 Km dan lebih kurang dua jam jalan kaki. Sejumlah tanjakan dan penurunan adalah tantangan tersendiri bagi pencinta olahraga tracking. Apalagi saat hujan. Dipastikan akan lebih lama sampai dan menguras energi karena area jalan berubah menjadi becek dan licin.

Ada sejumlah kearifan lokal masyarakat setempat yang wajib dipatuhi oleh para pengunjung. Diantaranya larangan mandi di area pusaran air di palung batu sempit Lubuak Nyarai, memanjat tebing, mencoret tebing, bersorak membuat kegaduhan. Disamping itu juga ada larangan bersifat mistis yakni pengunjung dilarang mematahkan kayu dengan lutut dan wajib pulang sebelum magrib.

"Dulu ada seorang pengunjung kemasukan arwah seperti pendekar saat kami memandu mereka pulang kebetulan pas azan magrib. Makhluk halus yang menghuni tubuh pengunjung itu mengancam akan menghilangkan pengunjung jika tidak dari sekarang hingga ke depannya masih tetap berjalan di saat magrib. Sejak peringatan dari alam gaib itu kami buat aturan pengunjung harus pulang sebelum pukul lima sore kecuali bagi para wisatawan camping. Kami minta maaf dan makhluk gaib itu pun pergi," tutur Firdaus (32), salah seorang pemandu.

Dia menambahkan, pihaknya juga melarang memadamkan api unggun bagi para pengunjung yang camping di Nyarai dengan mematikan api menggunakan kaki.

"Jika membuat api unggun padamkanlah dengan menyiramnya dengan air," tuturnya.

Lubuak Nyarai bukan satu-satunya destinasi selama tracking sejauh 5,3 km. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan area Lubuak Ngungun dengan kolam alami yang dalam, beranjak dari sana wisatawan disambut Lubuak Batu Tuduang. Dinamakan Batu Tuduang karena di sini terdapat sebuah batu sebesar rumah tipe 36 dengan cekungan di bagian bawah. Para wisatawan sering pula mandi-mandi di bawah batu.

Selepas dari Batu Tuduang, ada Lubuak Sikayan Limau, Sikayan Tabiang, Lubuak Ukam, Lubuak Kasai, dan tibalah saatnya di Lubuak Nyarai. Letih selama perjalanan dua jam dipastikan hilang sesampai di hamparan panorama bak surga di depan mata milik Lubuak Nyarai.

FWP3 sendiri memberangkatkan tiga orang koordinator dan tiga peniliti, yakni Oyong Liza Piliang, koordinator advokasi, Rafkiman, koordinator budaya sekaligus reporter SCTV, Tomi Syamsuar, koordinator maritim yang juga wartawan harian Singgalang, Muhamad Zulfikar dari Antarasumbar, Rudi Yudistira dan Abdul Syaril reporter Padang TV dan TVRI yang merupakan tiga orang peneliti FWP3.

Rombongan FWP3 bertolak dari kantor PWI Pariaman Jl. SB. Alamsyah, Pariaman Tengah, Kota Pariaman di Sabtu pagi mendung (14/5) sekitar pukul 09.12 WIB dengan menggunakan satu unit minibus. Setiba di Lubuk Alung, rombongan masuk simpang Balah Hilir di Pasar Lubuk Alung Jl. Padang-Bukittinggi.

Infrastruktur menuju lokasi pos Nyarai dari simpang Balah Hilir perlu dikritik. Jalan-jalan dipenuhi lobang. Mendekati lokasi pos Nyarai mobil terpaksa dihentikan karena aspal jalan sudah habis dimakan abrasi akibat banjir besar dua bulan lalu. Rombongan kemudian dijemput mobil dari dinas pariwisata menuju pos Nyarai yang berjarak 1 km lagi.

Dari simpang Balah Hilir menuju pos Nyarai berjarak sekitar 8 km melewati Jembatan Anai yang baru dibuat sepanjang 160 meter. Pemandangan di jembatan itu perlihatkan panorama gunung merapi dan singgalang dari kejauhan. Kawasan Jembatan Anai tanpa sengaja hadirkan panorama bak lukisan alam yang cukup menyita perhatian rombongan. Ingin berhenti agak sejenak saja rasanya di sana.

Sesampai di posko Nyarai yang menyediakan/menjual sepatu tracking karet, mantel hujan, celana mandi dan batu akik dari Nyarai sendiri, terdapat sebuah wc yang dibangun oleh swadaya masyarakat. Di sana terdapat 165 orang pemandu yang dibagi dalam 7 tim dengan tugas hari genap hari ganjil. Dari 165 pemandu dikurangi 40 orang pengurus diantaranya pengurus pos, administrasi, tim rescue, keamanan dan ahli spiritual dan pawang binatang. Untuk satu pengunjung dipungut biaya Rp20 ribu untuk tracking dan Rp40 ribu untuk camping semalam. Selama camping mereka ditemani pemandu. Berbuat maksiat merupakan larangan paling keras di Lubuk Nyarai.

"Kami mendapat pelatihan menjinakan dan penanganan hewan liar serta P3K dari Pemerintah Kabupaten Padangpariaman. Jika ada wisatawan yang kram kaki, kejang, tim rescue akan datang ke lokasi, lalu menandunya ke pos dan diobati. Kami di sini berkomunikasi menggunakan handy talky karena sinyal seluler sangat lemah dan hilang di beberapa lokasi Nyarai," tutur Firdaus kembali.

Kelompok sadar wisata Lubuak Nyarai adalah peraih terbaik dua tahun 2014 kelompok sadar wisata nasional menyisihkan Bali dan Lombok. Sepanjang area tracking menuju Lubuak Nyarai terdapat 4 kedai yang menjual air botol mineral, mie instan, kopi, teh dan goreng-gorengan, sedangkan di lokasi Lubuak Nyarai terdapat lima kedai. Semuanya dibangun semi permanen berupa pondok kayu. Harga dipatok sesuai standar atas himbuan tokoh masyarakat setempat.

Bupati Padangpariaman Ali Mukhni, Dandim 0308/Pariaman, rombongan Asita Sumbar, rombongan jajaran manajemen Garuda Indonesia, satu rombongan dengan FWP3 semuanya berjumlah sekitar 45 orang, barengan tracking mulai pukul 12.05 WIB. Istri Bupati, Rena Ali Mukhni tak kalah semangat menjajal tracking Lubuk Nyarai di tengah hujan meski akhirnya mengambil keputusan cukup sampai di Lubuak Batu Tuduang.

Sedangkan Ali Mukhni dan rombongan lainnya sampai di Lubuak Nyarai dengan basah kuyup. Rena Ali Mukhni ditemani Kadis Budpar dan para staf akhirnya mandi-mandi di kolam alami Batu Tuduang yang terkenal karena merupakan lokasi mandi favorit artis Nugie yang sudah beberapa kali kunjungi Nyarai.

Dengan kedatangan orang nomor satu Padangpariaman yang langsung tiba di lokasi Lubuak Nyarai diharapkan akan lahir gagasan pembangunan menuju akses ke lokasi. Kepada wartawan Ali Mukhni mengaku sudah mempersiapkan masterplan Lubuak Nyarai.

Untuk membangun destinasi wisata yang sudah punya nama, hemat kami dari FWP3, tidak boleh tanggung-tanggung, apalagi Lubuak Nyarai sudah punya reputasi hingga ke mancanegara. DPRD harus ringan palunya dalam mengetok anggaran buat pariwisata. Bayangkan saja, anggaran untuk dinas pariwisata Padangpariaman hanya seperlima anggaran di dinas yang sama Kota Pariaman yang hanya berpenduduk 95 ribu jiwa dan luas hampir setara dengan luas Kecamatan Lubuk Alung.

Membangun pariwisata ibarat orang berdagang. Modal besar harus dikucurkan untuk raup keuntungan bagi Padangpariaman bernama PAD. Namun PAD tanpa diringi PDRB sama juga bohong. Biarkan wisata berkembang dahulu, biarkan masyarakat sekitar terangkat taraf ekonominya dahulu. Apa gunanya PAD besar kalau duit lima ribu terlihat luas bagi masyarakat. PAD akan datang dengan sendirinya seiring waktu dengan peningkatan ekonomi masyarakat. Jika ingin PAD kenapa tidak ditaruh saja APBD tahunan di bank dan ambil bunganya, jika segala sesuatunya selalu diukur dengan PAD.

Yang perlu dibangun adalah infrastruktur menuju pos utama Nyarai dari Lubuk Alung dengan pengaspalan jalan. Kemudian mendirikan paling tidak tiga bangunan pesangrahan dari pos menuju Lubuak Nyarai tanpa merusak tatanan alam dan mempertahankan ekosistem.

Mushola, WC, kamar bilas, kios souvenir dan kerajinan tangan disatukan di tiap pesangrahan.

FWP3 sendiri sangat apresiasi kedatangan Ali Mukhni dan Asita Sumbar. FWP3 meyakini akan lahir terobosan besar untuk membangun kawasan wisata minat khusus Lubuak Nyarai yang sudah mendunia.

OLP
Kebun Binatang dan Telaga di Pulau Tangah Kabar Menarik Yang Sedang Direncanakan




Pemerintah Kota Pariaman terus mengembangkan objek wisata unggulan di daerahnya. Di samping Pantai Gandoriah dan Pulau Angso Duo yang sedang booming, nantinya akan dikembangkan pariwisata di Pulau Tangah.

Hal ini diungkapkan oleh Walikota Pariaman, Mukhlis Rahman, pada saat mendampingi kunjungan kerja Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Provinsi Sumatera Barat, Irdham, SH, MH di Pulau Angso Duo, Sabtu (23/4).

"Pulau tangah memiliki potensi untuk dikembangkan. Di sana ada telaga, hutannya masih alami dapat dijadikan kebun binatang mini dan tempat bermain anak seperti seluncuran," ungkap Mukhlis.

Sambungnya, pengembangan wisata tidak dapat dibangun secara keseluruhan namun harus diselesaikan satu persatu. Apabila satu kawasan sudah selesai dibangun baru pindah pengembanganya ke kawasan lain sehingga dapat langsung dirasakan masyarakat.

Senada dengan walikota, Kepala DKP Kota Pariaman, Dasril, membenarkan akan dikembangkannya Pulau Tangah karena Pulau Angso sebenarnya hanya boleh dikunjungi 100 pengunjung per-hari.

"Karena banyak pengunjung yang datang ke Pulau Angso, perlu di kembangkan Pulau Tangah dengan konsep yang berbeda," kata dia.

Menurutnya, rencana tersebut dimulai tahun 2016 dengan membuat perencanaan dan desain.

Sementara itu, Wakil Walikota, Genius Umar, menerangkan objek wisata Pulau Angso Duo, disamping wisata alam juga wisata sejarah. Kata dia Pulau Angso Duo tempat tinggal para penyebar agama Islam di Sumatera Barat.

"Kita lihat kuburan Katik Sangko, kuburan murid-murid Syekh Burhanudin, dan sumur tua airnya tawar yang dijadikan tempat mandi mereka. Ini bukti sejarah bahwa islam masuk ke Sumatera Barat pertama kali di Pariaman," ujar Genius menerangkan sejarah kuburan panjang pada Wakajati.

Wakajati mengaku senang mengunjungi Kota Pariaman, dan sangat apresiasi terhadap kebijakan pemerintah Kota Pariaman dalam membangun dunia pariwisata.

"Saya sangat senang melihat wisata Kota Pariaman. Wisata Kota Pariaman mantap dan perlu dikembangkan lagi," kata dia.

Dia menuturkan, banyak potensi yang dapat dikembangkan di Kota Pariaman mulai dari wisata budaya dengan tabuiknya, ecotourism dengan penangkaran penyu yang ada hutan mangrovenya dan wisata alam yang indah baik pantai dan pulau-pulau.

"Sehingga ke depan dapat lebih menarik wisatawan asing yang datang, karena wisatawan asing sangat tertarik dengan wisata budaya dan alam," ungkapnya.

Senada, Kajari Pariaman, Yulitaria, juga mengapresiasi pengembangan wisata Kota Pariaman, dan siap mempromosikannya.

"Wisata Kota Pariaman sangat bagus. Tentu masih ada kekurangannya, seperti pemandu wisata yang belum mampu menceritakan sejarah yang ada pada setiap objek wisata yang dikunjungi," kata Yuli.

Kunjungan kerja Wakajati di Kota Pariaman dilakukan selama dua hari, tanggal 22-23 April 2016, yang dimulai dengan mengunjungi Kantor Kajari Pariaman, konservasi penangkaran penyu, rumah tabuik, Pulau Angso Dua dan Pulau Kasiak.
Lubuak Nyarai Dapat Atensi di Singapura



Pemerintah Kabupaten Padangpariaman utus Ritno Kurniawan dalam event Promosi Pariwisata National Travel Singapore (NATAS), di Singapora dari tanggal 4 s/d 6 Maret 2016.

Ritno dikenal sebagai pemuda yang memperkenalkan objek wisata minat khusus Lubuak Nyarai, Lubuk Alung, mempromosikan objek wisata dan daerah Kabupaten Padangpariaman bersama Yanda dan Syafril dari Bukittinggi.

Ketiga utusan dari Sumbar ini tergabung dalam stand Kementrian Pariwisata Republik Indonesia, yang terdiri dari sembilan provinsi di Indonesia, antara lain NTB, Bali, Jawa Barat, Medan, Batam, Sumatera Barat, Jawa Timur dan Yogyakarta.

Ritno dan Yanda fokus memperkenalkan wisata minat khusus yang ada di Padangpariaman, diantaranya Air Terjun Nyarai, Sarasah dan Mountain View di Sungai Geringging.

"Pasar peminat wisata minat khusus cukup banyak di Singapura, buktinya banyak pengunjung bertanya ke stand Sumbar tentang kegiatan petualangan," kata Ritno melaporkan dari lokasi pameran.

"Target kami tidak muluk-muluk, kami hanya memperkenalkan wisata Sumatera Barat khususnya Padangpariaman," jelas Yanda semangat menimpali.

Menurut Ritno dan Yanda, kendala berkurang kunjungan wisatawan Singapura ke Sumatera Barat adalah dihapuskannya penerbangan dari Singapura ke Padang.

"Jika rute tersebut dihidupkan kembali, Insya Allah kunjungan wisata akan bertambah ke Sumatera Barat," kata Ritno dan Yanda meyakini.

Pameran yang diperkirakan dikunjungi 80.000 orang di Singapura Expo itu untuk melihat pameran dan bertanya seputar daerah yang akan dikunjungi oleh calon wisatawan. Peserta NATAS adalah seluruh pengelola destinasi wisata dan agen travel seluruh dunia.

ASM
Potensi Wisata Kota Pariaman Dilirik Kementerian




Untuk mewujudkan Pariaman sebagai daerah tujuan wisata, Pemerintah Kota Pariaman sangat serius mengelola destinasi-destinasi.

"Dalam upaya pengembangan sektor kepariwisataan tersebut, kami selalu memohon pembinaan dan dukungan oleh Kementerian Pariwisata RI, baik bidang promosi dan pemasaran maupun pengembangan destinasi," kata Walikota Pariaman Mukhlis Rahman pada acara kunjungan silahturahmi Kementerian Pariwisata RI, Jum’at malam (25/12) di Balairung Pendopo Rumah Dinas Walikota Pariaman.

Rombongan Kementerian Pariwisata RI dipimpin oleh Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Esthy Reko Astuti, yang mengikutsertakan Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Raseno Arya, Kepala Bidang Promosi Wisata Buatan, Hendri Karnoza, dan Thamrin Bhiwana Bachrie, mantan Dirjen Pemasaran Kemenpar RI, serta pejabat dan staf deputi pengembangan segmen pasar lainnya yang total berjumlah 60 orang.
Acara itu merupakan salah satu agenda kerja dari Kementerian Pariwisata untuk melihat kebijakan pemerintah daerah dalam pengelolaan kepariwisataan dan sharing informasi.

Pada kesempatan itu Mukhlis menegaskan visi Kota Pariaman yang tertuang di dalam RPJMD 2013-2018, yakni mewujudkan Kota Pariaman sebagai kota tujuan wisata dan ekonomi kreatif berbasis lingkungan, budaya dan agama.

"Visi tersebut ditetapkan mengingat potensi sumber daya alam Kota Pariaman yang terbatas dengan luas wilayah yang relatif kecil terletak di sepanjang pesisir pantai. Maka dengan potensi keindahan alam bahari dan kekayaan budaya inilah kita kembangkan menjadi andalan pariwisata Kota Pariaman," tutur dia.

Mukhlis bersyukur daerah yang dipimpinnya dikaruniai pantai yang indah, pulau dan pemandangan bawah laut dengan terumbu karang yang alami.

"Karena itu peran kita bersama untuk selalu menjaga dan melestarikannya. Dengan selalu menjaga ekosistem laut yang ada sebagaimana dengan telah ditetapkannya kawasan konservasi perairan serta juga telah dikembangan kawasan konservasi penyu sejak tahun 2009."

"Ini merupakan potensi pariwisata yang layak dijual kepada wisatawan mancanegara dan domestik. Selain itu, kami juga memiliki sedikit hutan mangrovenya dan wisata bawah laut yang tak kalah dengan Bunaken disamping kekayaan budaya tabuik yang unik dan telah mendunia” kata dia.

Salah satu destinasi andalan, tambah Mukhlis adalah Pulau Angso Duo yang semakin menarik.

Dengan kunjungan 500 orang perminggu, dan masih terdapat 4 pulau lagi yang belum dikembangkan, imbuhnya, dengan adanya pengelolaan yang tepat dia yakin pariwisata Kota Pariaman akan berkembang dengan pesat.

Untuk akses ke Kota Pariaman cukup dekat dengan Ibukota Provinsi Sumatera Barat dan Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

"Hal ini juga suatu keuntungan bagi Kota Pariaman untuk menggaet wisatawan. Selain program pengembangan destinasi, untuk memobilasi orang berkunjung ke Pariaman, maka setiap bulannya diselenggarakan iven pariwisata berskala nasional maupun internasional," tandasnya.

Esthy Reko Astuti, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kemenpar RI, mengatakan bangga dapat berkunjung ke Kota Pariaman yang mempunyai budaya dan kulinernya.

Dia sebutkan sangat tertarik dengan Visi Kota Pariaman tertuang di dalam RPJMD.

"Tidak banyak kota yang ada di Indonesia mempunyai visi pariwisata konsepnya mengedepankan lingkungan, budaya dan agama, ini sangat menarik sekali," sebut dia.

Esthy juga mengapresiasi konsen pelestarian lingkungan dengan kawasan konservasi penyu dan terumbu karang yang terus dijaga dan dilestarikan.

"Selanjutnya kementrian pariwisata akan mendukung Pemko Pariaman dalam penyelenggaraan iven-iven tetap yang telah dilaksanakan baik itu berupa promosi maupun akses sponsorship ke dunia industri," pungkasnya.


TIM
Indahnya Pariaman, Jangan Sia-siakan



Kemarin anak saya menyebut bahwa Kota Pariaman merupakan kota terbersih setelah dia melihat tugu Adipura di Taman Anas Malik saat belajar kelompok di sekolahnya. Dia menanyakan kepada saya benarkah Pariaman kota terbersih? Tanpa ragu saya jawab iya. Saya tidak perlu bertanya kepada dinas terkait untuk menjawab pertanyaan anak saya tersebut. Saya ingin dia melihat faktanya saja dan menyuruh dia membandingkan dengan kota-kota yang pernah dia singgahi di mana ada kesempatan liburan keluarga.

Perihal kebersihan, tiga tahun silam saya pernah menulis artikel berjudul "Mobil pengangkut sampah yang bersenandung". Petugas kebersihan di Pariaman bekerja dengan sukacita. Saat itu saya wawancarai dia panjang lebar perihal musik di mobil truk sampah yang saya apresiasi tersebut. Teruslah bersenandung. Lakukan pekerjaan dengan bahagia maka Anda tidak merasa bekerja seharipun, kalimat seorang filsuf.

Tadi pagi saya bangun terlalu lekas. Pukul lima subuh saya terjaga begitu saja. Usai cuci muka bergegas saya menuju palanta samping Bank Nagari di mana saya biasa sarapan pagi. Pemandangan pagi ini membuat saya senang. Puluhan mobil plat nomor luar provinsi bondong-bondong menuju Pantai Gandoriah dan sejumlah objek wisata lainnya. Adapula saya lihat beberapa unit bus pariwisata langsam di simpang tabuik. Mereka semuanya hampir dipastikan tidak hanya lewat di Pariaman. Pariaman sekarang adalah destinasi wisata tiga besar di Sumbar.

Kemarin, saya ditelpon oleh kawan selokal semasa SMP di Pekanbaru. Dia katakan berada di Pariaman sedang liburan keluarga dengan tiga mobil jenis MPV. Kawan saya tersebut sudah puluhan tahun tidak ke Pariaman meski kampung halaman orangtuanya. Pariaman bergelora di media sosial membuat dia penasaran untuk berkunjung.

"Di Pekanbaru tidak ada wisata alami. Pelaku wisata (di Pekanbaru) juga tidak bagus bagi keluarga karena ada premannya," kata teman saya tersebut saat dia menjawab pertanyaan saya kenapa tidak berlibur di Pekanbaru saja.

Apa yang dia ujarkan membuat saya berpikir. Sejumlah coretan dalam riset saya tentang filosofi pariwisata sangatlah tepat. Tiga elemen utama membangun dunia pariwisata saya simpulkan adalah dukungan alam, investasi dan sumber daya manusia (SDM). Kerap suatu daerah gagal membangun destinasi karena faktor gagalnya membangun SDM. Tiga elemen tersebut adalah satu kesatuan yang tidak boleh terpisah. Akan gagal sebuah simpul jika salah satunya keluar.

Wisatawan perlu dilayani dengan ramah. Mereka berlibur untuk menyenangkan hati. Mereka tidak ingin melihat muka masam apalagi ucapan kasar. Sebagus apapun alamnya, wisatawan saya pastikan akan hengkang dan berkirab naik menguap ke langit ketujuh dan tidak akan kembali lagi ke daerah itu jika tidak mendapatkan pelayanan layak. Wisatawan perlu kepastian akan keamanan keluarganya. Saya mencatat hal itu.

Untuk destinasi wisata Pariaman, saya lihat sudah dibenahi dengan baik. Alam juga sangat mendukung. Tinggal mengubah nuansanya saja lagi. Nuansa nyaman, aman, tentram, damai, perlu dibentuk dengan SDM. SDM yang saya maksud bukan saja pelaku wisata langsung, namun seluruh masyarakatnya. Melakukan hal itu tidak sulit jika kita sama-sama bekerja keras.

Alam yang indah, pantai yang permai, pulau-pulau, alam bawah laut di Pariaman tanyakan saja kepada saya betapa eloknya. Hampir dua tahun saya meneliti setiap jengkal potensi wisata di Pariaman, saat itu pula decak kagum bagi diri saya sendiri. Itu bukan penilaian subjektif karena saya orang Pariaman. Buktikan saja.

Lalu di mana lagi letaknya pelecut lajunya dunia pariwisata di Kota Pariaman? Jawaban saya tiada ragu sedikitpun adalah membangun SDM-nya selekas mungkin. Fasilitas pendukung saya yakini akan menyusul seiring kesadaran jiwa wisata masyarakat Pariaman itu sendiri.

Catatan Oyong Liza Piliang
Citizen Reporter: Decak Gelamai di Angso Duo


Pandangan memukau terhampar luas, lamunan seakan terpecah oleh deburan ombak. Dalam hati ingin mengetahui apa yang ada di pulau sana, seakan sangat menarik untuk disinggahi jika dilihat dari bibir pantai Gandoriah. Memandang laut lepas dan beberapa pulau sambil menikmati makanan khas Pariaman di tepi pantai menambah gairah rasa. Ada apa di pulau yang berjejer itu?

Orang-orang di tepi pantai Gandoriah berkata di sana ada pulau Angso Duo. Di sana ada juga kuburan panjang dan surau tempat nelayan menunaikan ibadah sholat. Lagu minang berjudul "Dayuang Palinggam" dipopulerkan oleh Elly Kasim, Ciptaan Karim Nun, juga mengatakan lewat liriknya, yakni "Pulau Pandan jauah di tangah dibaliak pulau si Angso Duo."

Semasa masih tinggal di Sungai Geringging penulis sangat sering mengunjungi pantai Gandoriah untuk menikmati hidangan khas Piaman. Hal tersebut berlangsung sekitar 8 tahun yang lalu. Sejak tahun 2007 penulis hijrah ke Kota Payakumbuh. Setelah itu sangat jarang mengunjungi pantai Gandoriah. Dari Gandoriah, pulau Angso Duo sangat kelihatan. Rasa penasaran tentang pulau Angso Duo ini sudah lama penulis rasakan, seperti apa disana?

Hari Rabu, (23/12) penulis berkesempatan mewujudkan niat mengunjunginya bersama sekitar 30 orang keluarga besar Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Sukma Bunda Payakumbuh. Tak dipungkiri gaung akan keindahan pulau Angso Duo sudah menyebar kemana-mana, tak terkecuali di kota "Gelamai" sendiri, sudah menjadi buah bibir, berkat pengguna media sosial yang selalu update menginformasikan.

Di dermaga pantai Gandoriah, kami sudah ditunggu oleh pak Wan Lumbo-lumbo yang akan membawa saya dan rombongan dengan perahu mesinnya. Sambutan pedagang kaki lima dan tukang parkir di dermaga pantai Gandoriah lumayan hangat. Kaca mata salah seorang pedagang kaki lima di pojok parkiraan kami borong. Nyaris tiap orang yang ada di rombongan membeli 1 bingkai kacamata karena harganya cukup murah (Rp.20.000,) juga faktor lupa membawa kacamata. Sementara Kota Pariaman panas dan cerah.

Dengan ongkos pulang-pergi 30.000 ribu rupiah perkepala, kami di antar oleh Pak Wan dengan menggunakan 2 perahu mesin. Kurang lebih 10 menit rombongan tiba di pulau Angso Duo. Kawan-kawan yang mulanya mual di atas perahu, langsung kegirangan melihat bibir pantai. Sambil jepret sana-sini, rasa "mabuk lautnya" hilang seketika.

Turun dari perahu, celana dari lutut bawah basah kuyup karena belum ada dermaga tempat pemberhentian perahu.

"Mohon maaf bapak dan ibu terpaksa kami turunkan di bibir pantai. Alas kaki dan pakaiannya nanti akan basah karena dermaga kita sedang dibangun dan silahkan dilihat (sambil menunjuk)," kata Wan.

Rombongan tidak masalah karena sudah siap bermain air laut. Jadi sudah siap untuk basah-basah.

Matahari tegak kokoh di atas kepala, Pak Wan memandu kami ke tempat yang teduh dekat musholla. Tikar pun siap dibentang dan rombongan santap siang. Rombongan kelaparan, belum makan dari Payakumbuh.

Di pulau kelihatannya belum ada restoran atau sate Pariaman. Yang ada hanya warung, sepertinya menyediakan mie instan dan aneka cemilan serta minuman panas atau dingin saja. Kami sudah memprediksi hal ini, jadi sudah sedia nasi bungkus sebelum makan.

Selesai makan siang satu-persatu rombongan bergegas mengambil wudhu untuk menunaikan sholat dzuhur. Ketersediaan air bersih, kamar mandi, wc dan tempat ibadah untuk sebuah pulau kecil, penulis acungkan jempol. Bagus dan layak.

Penulis, tahun lalu juga pernah berkunjung ke salah satu pulau kecil di Sumatera Barat. Sarana yang demikian sangat minim, lebih unggul pulau Angso Duo. Ke depannya jika berkenan Pemko Pariaman menambah jumlah kamar mandi dan wc agar pengunjung tidak lama antrian.

"Sudah ditambah di ujung sana (sambil menunjuk), tapi belum bisa difungsikan karena masih dalam proses pengerjaan," kata Wan menimpali.

Pak Wan lumbo-lumbo mengaku pada penulis dia tidak saja bertugas sebagai pengantar, tapi sekaligus sebagai pemandu. Biaya tambahan tidak ada sudah klop dengan ongkos perahu.

Pak Wan juga mengantar rombongan ke kuburan panjang, ke sumur tua yang sudah di pagar. Ia juga menceritakan historis tentang kuburan panjang berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat. Pak Wan menggiring serta mengenalkan seluruh isi pulau pada rombongan. Tanya-jawab pun terjadi antara pak Wan dengan beberapa orang teman penulis.
 

Dari segi keamanan, informasi dan kenyamanan pengunjung, penulis memberi ponten pada pak Wan sebanyak delapan (8) jika rentang penilaian (0-10). Kenapa demikian? Selaku orang Pariaman, penulis merasa pelaku wisata Pariaman sudah banyak berubah di banding 7 tahun yang lalu. Orang seperti pak Wan patut diapresiasi karena sudah mulai merubah paradigma dalam meningkatkan kepuasaan pengunjung.

Pak Wan yang didampingi Buyung sebagai "kernetnya" mempersilahkan kami mau apa saja. Seperti snorkeling, naik banana boat, berenang, ngopi di warung, mengambil photo atau santai di cafe OPC (Orang Pariaman Creative) dipersilahkan sampai batas maksimal pukul 18.00 Wib. Mereka berdua siap menunggu kami serta menjamin keamanan kami selama berada di pulau.

"Jika abang ingin memancing dan bermalam di pulau sana, (sambil menunjuk pulau lainnya) saya siap mengantar dan menemani. Atau abang ingin camping bersama kawan-kawan, saya siap menjemput dan mengantar dilain waktu," kata Buyung kepada penulis beserta rombongan.

Tersirat kebahagian sehabis bermain banana boat di wajah-wajah teman penulis. Mereka puas bermain air laut, dan puas menikmati suasana pantai yang biasanya mereka hanya menikmati pemandangan tebing dan gunung di Payakumbuh. Meskipun bahagia, mereka juga terlihat lelah. Seharian bermain jam sudah menunjukan pukul 15.30 Wib. Kami, bersiap untuk meninggalkan pulau.

Satu hal yang jadi perhatian dari penulis yaitu belum tersedianya ole-ole (cindera mata) khas Pariaman yang bisa di beli di pulau dan di sekitaran dermaga. Penulis berpendapat, hal tersebut perlu jadi pertimbangan bagi Pemko Pariaman dalam memudahkan pengunjung untuk menghamburkan uang sebanyak-banyaknya kepada pelaku usaha kecil menengah. Sebagai contoh, pedagang kaca mata sangat cocok di beri lapak di pintu masuk (dermaga).

Saran penulis, pengambil kebijakan di Kota Pariaman hendaknya memberlakukan jalur masuk dan keluar pulau angso duo dipisah. Di jalur keluar hendaknya ada kios-kios souvenir dan makanan khas Pariaman sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang oleh pengunjung.

Di jalur keluar tersebut pengunjung dapat melihat-lihat. Karena melihat, mereka jadi tertarik membeli. Hal tersebut berpengaruh kepada pendapatan pedagang sekitar juga berpengaruh pada pendapatan asli daerah (PAD) Kota Pariaman.

Anton
Konsen Pasarkan Potensi Wisata, Mukhlis Raih Marketing Award DPD RI



Walikota Pariaman, Mukhlis Rahman mengatakan, visi menjadikan Pariaman sebagai kota tujuan wisata dengan langkah menggelar event setiap bulannya. Dengan demikian kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang diharapkan semakin banyak melancong dan secara tidak langsung akan mengungkit sektor lainnya.

"Menjadi multiplayer effect terhadap peningkatan ekonomi masyarakat dan kemajuan daerah kita," kata Mukhlis kepada wartawan usai menerima Penghargaan Regional Marketing Award oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI bekerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian kebudayaan dan Pariwisata, dan Markplus Indonesia di The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis malam (10/12).

Penghargaan Regional Maeketing Award tersebut adalah penghargaan yang diberikan kepada kepala daerah yang telah mamasarkan (Marketing) daerah yang dipimpinnya secara terpadu dengan kebijakan untuk peningkatkan taraf hidup masyarakat serta pertumbuhan ekonomi yang dihasilkannya.

Penilaian dilakukan oleh tim independent melakukan survey ke daerah, menginterview langsung masyarakat dan pemaparan hasilnya oleh kepala daerah.

"Sebelumnya hanya menerima 300 ribu orang wisatawan yang berkunjung ke Kota Pariaman di tahun 2012. Saat ini di tahun 2015 telah mencapai 2 juta kunjungan, baik lokal maupun mancanegara," jelas Mukhlis.

Mendapatkan penghargaan itu, secara tidak langsung akan mejadi tolak ukur bagi pelancong akan datang, juga dapat mendatangkan para investor yang saat ini telah ada seperti Safari Inn Hotel and Resort di Pantai Kata, dan PT. Suwarni Agro Mandiri pabrik pupuk yang telah ekspor ke luar negeri.

"Dengan kunjungan wisatawan banyak di Kota Pariaman, pertumbuhan ekonominya yang tinggi, diharapkan akan semakin banyak investor-investor lain, yang akan berinvestasi di Kota Pariaman,” harapnya.

Ketua DPD RI Irman Gusman saat itu mengatakan, konsep penghargaan yang diberikan parameternya adalah bagaimana suatu daerah dapat memasarkan daerahnya dengan terencana dan mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakatnya.

"Acara ini juga dapat menjadi ajang silaturahmi dari seluruh marketers yang ada di Indonesia sehingga terjalin kerjasama antara pengusaha dan daerah yang kita undang. Dengan bertemu teman baru, mendapatkan bisnis baru dan mendatangkan ide terbaru dari daerah dan pengusaha diharapkan dapat menjadi ajang yang terus kita laksanakan dari tahun ke tahun," ucapnya.

Sedangkan CEO dan Founder Markplus Indonesia Hermawan Kartajaya mengatakan acara tersebut adalah rangkaian dari kegiatan The 10th Annual Markplus Conference 2016 yang menghadirkan 5000 Marketers, 500 perusahaan baik Indonesia maupun mancanegara, serta 50 keynote Speakers.

Acara itu juga memperkenalkan potensi daerah kepada peserta markplus conference dengan penampilan kesenian maupun audio visual. Sebelum acara penerimaan penghargaan, seluruh undangan menghadiri Gala Dinner Wonderful Indonesia WOW yang merupakan puncak dari acara The 10th Annual Markplus Conference 2016 ini.

Selain dihadiri Ketua DPD RI Irman Gusman, terlihat Mendagri Tjahyo Kumolo, Menbudpar Arief Yahya, Sekjen Kementerian Perdagangan, Mantan Wamen Sapta Nirwandar, CEO Garuda Indonesia Arif Wibowo, CEO Martha Tilaar, Wagub DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, 17 Duta besar negara sahabat dan 29 kepala daeah baik provinsi dan kabupaten/kota beserta para pengusaha, BUMN/BUMD dan perusahaan swasta lainnya. 


Dilaporkan oleh Juned
Editor OL
Indak Pasak ka Mangguyah



Pariwisata, wisata, kalimat itu acap didengungkan oleh kepala daerah. Baik Kota Pariaman maupun Kabupaten Padangpariaman. Kalimat itu sungguh beralasan bersebab Pariaman (kota dan kabupaten) dianugerahi pesona alam nan indah oleh Sang Pencipta. Pariaman bagaikan lukisan mahakarya di atas kanvas yang dibuat saat Sang Pencipta lagi tersenyum.

Garis pantai yang dimiliki Pariaman memiliki karakteristik tersendiri dibanding pantai barat pesisir pulau sumatera. Bibir pantainya nan landai menyediakan ruang buat dikelola dan diberdayakan. Pasir pantai yang dimiliki rata-rata berderai halus warna putih ke emasan. Di atas pasir itu tinggi pula kandungan mineralnya yang membuat ragam pepohonan sepadan menonggok subur di atasnya.

Selain anugerah pantai, potensi wisata juga di dukung oleh budaya Pariaman nan unik. Hanya di Pariaman secara sporadis laki-laki dipinang bermahar puluhan juta rupiah. Ihwal budaya tersebut, secara khusus diobservasi oleh salah satu televisi nasional dan ditayangkan dalam program bergengsi pesona nusantara. Budaya lelaki bajapuik ala Pariaman itu sudah diakui sebagai kekayaan budaya Indonesia yang sangat unik.

Kuliner juga demikian. Ragam masakan tingkat keenakannya tidak usah dipertanyakan. Sebut saja randang piaman, asam padeh, gulai kepala ikan, dan sebagainya. Nikmatnya kuliner Pariaman kaya aroma bumbu menggugah selera. Maka jarang kita lihat orang Pariaman yang memiliki kontur tubuh tidak tegap. Jika tinggi, dia disebut tinggi gadang panjang, jika postur badannya pendek bergelar pula gapuak pendek, perutnya selalu paling depan mencapai sesuatu saat berjalan.

Jarang sekali orang Pariaman disebut kuruih mariah dan pendek masiak di zaman sekarang. Asupan protein dari ikan segar kaya omega menjadikan masyarakat Pariaman jadi suka memikir. Apa saja dia pikirkan termasuk urusan Presiden Amerika hingga ke Raja-Raja di Arab. Politik lokal macam cemilan saja dia kunyah. Dia penghapal nama mobil yang kadang tidak dia miliki. Mana yang minyaknya boros dan irit dia tahu, seumpama mobil-mobil itu berkandang di rumahnya saja. Itulah kami orang Pariaman, selalu tidak mau kalah dalam berdialetika.

Dialetika di lapau-lapau ajang sana asah kemampuan mereka dalam berdebat, bermain domino, catur dan bakoa bukti mereka senang melakukan sesuatu yang mempekerjakan otak sebagai tumpuan utama. Perihal berujung judi adalah representatif kelakuan masing-masing individu karib disapa oknum, bagian terpisah dari apa yang saya maksudkan.

Kembali pada potensi wisata tentunya perlu tata kelola profesional dan termanajemen dengan baik. Keikut sertaan masyarakat wajib hukumnya dalam tata kelola wisata sebagai penduduk lokal yang dikenal egaliter. Mereka harus sato sakaki. Dengan keikut sertaan masyarakat dalam ranah pariwisata modern tentu tidak hanya sekedar sebagai pengikut saja. Mereka juga harus diberi pemahaman tentang konsep dunia pariwisata melalui pelatihan yang mudah mereka cerna bersebab konsep adat sekali-sekali tidak boleh saling bertentangan dengan wisata yang secara harfiah berarti internasionalisasi.
 

Kesesuaian antara adat dan konsep wisata sangatlah mudah diperdapat karena pelaku wisata itu sendiri adalah bagian dari masyarakat Pariaman yang homogen. Tidak ada keraguan saya katakan, dalam dunia wisata modern saat ini, budaya lokal adalah bagian dari wisata itu sendiri. Jadi tidak ada yang perlu diubah, namun dicarikan padan kesesuaiannya. Usahlah pasak pula hendak mangguyah.

Pemerintah daerah selaku fasilitator mulai melirik sumber daya manusia sebagai bagian tidak terpisah dari keutuhan konsep wisata itu sendiri. Kabar baik itu perlu diteruskan secara tekhnis dengan dukungan anggaran pemerintahan. Dimensi pembangunan itu sesungguhnya sangat luas jika anggaran untuk pembangunan sumber daya manusia terus diperdebatkan.

Negara Jepang usai kalah perang dunia kedua dipaksa Amerika mengubah konstitusi negaranya di bidang kekuatan militer. Jepang hanya boleh memiliki 300 ribu tentara yang kemudian dikenal sebagai pasukan beladiri Jepang. Saat Jepang porak poranda itu, sisa kekayaan yang dimilikinya 80 persen dialokasikan untuk membangun sumber daya manusia. Hasilnya bisa kita lihat sekarang ini bagaimana Jepang begitu agung merajai ekonomi dunia dari berbagai sektor dan lini. Semua tidaklah sim salabim abrakadabra, bukan sulap apalagi sihir.

Kesamaan minat antara orang Jepang dan orang Pariaman adalah sama-sama pengkonsumsi ikan yang kaya akan protein. Didalam kandungan protein ikan yang kita konsumsi dan orang Jepang, terdapat asupan yang diperlukan otak agar dia encer saat diajak berpikir. 


Sedangkan untuk perbedaannya mungkin adalah di Pariaman terdapat banyak benteng kokoh peninggalan Jepang, sedangkan di Jepang tidak ada satupun benteng peninggalan Pariaman. Kalau kita cerdik, benteng yang dia tinggalkan itu kita jual sebagai situs sejarah yang mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat Pariaman. Maka impaslah alias satu sama (1-1) skor antara Jepang dan Pariaman. Dia cerdas, kita cerdik.

Catatan Oyong Liza Piliang

Dengan Sejumlah Pembenahan, Mukhlis Yakin TdS 2015 Dongkrak Promosi Wisata Pariaman



Dalam rangka mensukseskan iven olahraga internasional sekaligus sport tourism Tour de Singkarak (TdS) tahun 2015, Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman komit untuk membenahi semua sarana dan prasarana yang ada di mana Kota Pariaman merupakan salah satu etape di olahraga paling bergengsi di Sumatera Barat tersebut.

Walikota Pariaman Mukhlis Rahman bersama Ketua DPRD Mardison Mahyuddin, Kapolres Pariaman AKBP Riko Junaldi, beserta jajaran lintas instansi, diikuti komunitas sepeda santai di Pariaman mengikuti rute TdS di Kota Pariaman.

Star dilakukan berawal dari jembatan Sampan, Punggung Lading Pariaman Selatan dan finish di Pantai Gandoriah, Sabtu (26/9).

Walikota Mukhlis pada kesempatan itu menghimbau kepada masyarakat agar ikut aktif terlibat mensukseskan iven olahraga balap sepeda yang ke 5 terbesar di dunia dan juga jumlah penonton terbanyak ke-lima di dunia itu.

Selain mempersiapkan sarana dan prasarana, kata Mukhlis, Pemko Pariaman juga fokus pengamanan pada setiap rute jalan yang akan dilalui oleh pembalap sepeda dari 36 negara dan 24 tim yang ikut berlomba pada TdS tahun 2015 ini.

Kota Pariaman akan mengawali Tour de Singkarak sebagai stage I finish yang akan berlangsung tanggal 3 Oktober 2015 mendatang.

“Dengan diselenggarakannya Tour de Singkarak finish di Kota Pariaman setiap tahunnya, secara tidak langsung akan mempromosikan potensi wisata Kota Pariaman yang memiliki panorama pantai dan pulau yang indah. Diharapkan pembenahan yang kita lakukan menjadi ajang promosi sekaligus menarik wisatawan berkunjung, baik lokal maupun mancanegara peserta iven TdS," kata Walikota optimis.


J/OLP
Berkantor Pusat di Pariaman, Cabang di Jakarta, Inilah Beda PT. Safinatun Najah Salsabi dengan Biro Travel Lainnya


Satu lagi biro perjalanan hadir di Kota Pariaman. Namun kali ini berskala nasional akan tetapi berkantor pusat di Pariaman. Biro travel itu dibawah bendera PT. Safinatun Najah Salsabil yang berkantor pusat di Jl. Imam Bonjol Kav. 5 Cimparuh depan Balaikota Pariaman. Ini adalah merupakan biro travel haji dan umrah yang juga melayani paket wisata baik regular maupun internasional.

Lounching PT. Safinatun Najah Salsabil dibuka oleh Walikota Pariaman diwakili Assisten I Khaidir, dan tidak tanggung-tanggung langsung pula dihadiri oleh Kepala Staf Ahli Kemenpan-RB RI Indra Jaya Piliang beberapa hari lalu.

Kemudian Komisaris Safinatun Wisata, Bety Afnita, Kapolres Pariaman AKBP Riko Junaldi S.IK, Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyudin, Ketua DPD KNPI Kota Pariaman, Riza Saputra, Penasehat PT Safinatun Wisata, Ustadz Zulkifli Zakaria, para undangan, panitia dan ratusan masyarakat yang hadir.

Pada kesempatan itu Walikota melalui pidatonya yang disampaikan Khaidir mengatakan menyambut baik serta mengapresiasi Komisaris Bety Afnita yang telah membuka biro travel haji/umrah dan perjalanan wisata regular maupun internasional.

"Diharapkan akan ada pengusaha-pengusaha baru yang dapat membuka usahanya di Kota Pariaman sehingga realisasi mewujudkan Kota Pariaman sebagai kota tujuan wisata, perdagangan dan jasa lekas dicapai," ujarnya.

Komisaris Bety Afnita pada kesempatan itu juga mengatakan bahwa mereka hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat Pariaman dalam rangka melaksanakan umrah/ibadah haji serta memberikan solusi bagi yang ingin mewujudkan niatnya ke tanah suci.

"Kami memberikan kemudahan-kemudahan dan cara yang amanah, syariah, aman, cepat dan terbukti menguntungkan dengan berbagai keunggulan dari travel atau biro perjalanan umrah dan haji yang lain," ujarnya.

Dijelaskannya, selama ini sering terjadi permasalahan calon jemaah haji dan umrah dengan biro travel karena biro tersebut kantor pusatnya jauh di Jakarta, sementara para calon jemaah berurusan dengan agen atau calonnya saja di daerah.

"Jadi salah satu alasan kita membuat PT. Safinatun Wisata yang berkantor pusat di Kota Pariaman untuk mengatasi masalah tersebut, dan kami pun mempunyai kantor cabang di Jakarta, sehingga apabila ada permasalahan akan dapat lebih mudah menyelesaikannya di kantor pusat kita di Kota Pariaman ini," tutupnya.

Indra Jaya Piliang karib disapa IJP terlihat bangga dengan hadirnya biro travel standar nasional di Pariaman. Hal itu terlihat dari postingan foto di akun jejaring sosial miliknya baik di beranda facebook hingga twitter.

IJP, dari foto yang diposting dia di media sosial terlihat membawa serta istri dan anak-anaknya ke Pariaman. Putra kelahiran Kampung Perak yang pernah mencalonkan diri sebagai Walikota Pariaman periode 2013-2018 itu selalu mendukung kebijakan Pemko Pariaman di bidang pendidikan dan pariwisata.


J/OLP
Pariaman Ditunjuk Sebagai Kota Pelaksana Kampanye dan Pelatihan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Sumatera


Walikota Pariaman Mukhlis Rahman menuturkan bahwa isu lingkungan sangat penting dalam rangka mendukung dunia kepariwisataan di suatu daerah. Kota Pariaman, menurutnya sangat konsen memanfaatkan lingkungan dan alam yang ada sebagai pariwisata berbasis lingkungan (ecotourism). Hal itu dikatakan Mukhlis Rahman pada acara kampanye dan sosialisasi lingkungan hidup dan kehutanan yang diadakan di Aula Balaikota Pariaman, Jum’at (18/9).

Acara yang diadakan oleh Pusat Pengendalian Pembangunan EkoRegion Sumatera (P3ES) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI itu dihadiri langsung oleh Kepala P3ES Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Amral Fery.

Menurut Mukhlis, dari 145 kabupaten/kota yang ada di sumatera, Kota Pariaman terpilih sebagai salah satu daerah tempat dilaksanakannya acara tersebut.

Kepada para peserta dia mengingatkan agar kegiatan itu bukan hanya sekedar formalitas belaka tetapi dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari.

Dia juga mengharapkan agar masyarakat dapat menciptakan kesadaran untuk menjaga kebersihan dimulai dari anak sampai ke orang dewasa, sehingga peran masyarakat dalam mengelola kebersihan dan sampah di lingkungannya dapat terwujud.

Kepala P3ES Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Amral Fery, mengatakan acara itu bertemakan infrastruktur hijau yang mana di inisiasi oleh anggota DPR RI dari Komisi VII.

Kata dia, mulai dari pendanaan dan sarana pra sarana di tanggung oleh anggota DPR RI yang dititipkan melalui P3ES Kementerian Lingkungan Hudup dan Kehutanan RI.

Amral juga mengatakan perlunya kesadaran bersama masyarakat dalam pengelolaan lingkungan agar tidak terjadi bencana kabut asap yang melanda daerah Riau, Jambi dan Palembang yang mengakibatkan polusi udara dalam tingkat membahayakan.

Acara diikuti oleh 170 orang yang terdiri dari  kepala sekolah, utusan desa/kelurahan, bank sampah, karang taruna dan komunitas-komunitas peduli lingkungan di Kota Pariaman.

Pada kegiatan Kampanye dan Sosialisasi Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada hari itu juga dilakukan praktek pengolahan sampah organik menjadi kompos serta pengolahan sampah kertas dan sampah plastik menjadi barang-barang yang bermanfaat dan bernilai seni.


J/OLP
Faktor Pengungkit Pembangunan Sumatera Barat (Pariwisata, Pertanian dan Maritim)



Dalam Musda Kagama daerah Sumatera Barat tanggal 26 April 2015 yang dihadiri oleh ketua umum Kagama Pusat bapak Ganjar Pranowo saya hadir secara langsung dan memberikan materi seminar yang berjudul “pariwisata dan Maritim sebagai pengungkit pembangunan ekonomi pembangunan Sumatera Barat".

Dari data Bappeda Sumatera Barat bahwa “kontribusi sector Pertanian, Kehutanan, Perikanan terhadap PDRB  pada tahun 2014 adalah 25,04%”. Kalau dibagi rata dalam 3 sub sektor maka masing-masing subsektor berkontribusi terhadap PDRB sebesar sebesar 8%. Dengan prosentase hanya 8 % ini, terutama perikanan masih termasuk rendah, karena begitu banyaknya sumberdaya di sector perikanan dan kelautan yang berpotensi namun belum tergali.

Kami akan menjelaskan program-program/kegiatan Pemerintah Propinsi yang memiliki leverage factors (factor mengungkit) yang merupakan faktor yang mampu memberikan daya ungkit bagi faktor lainnya.

Pariwisata sebagai “driving factor”

Dari data BAPPEDA Propinsi sector “Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum” berkontribusi terhadap PDRB sebesar 1,10 %. Sebagai daerah yang menjadikan sector pariwisata sebagai sector unggulan, maka kontribusi sector Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum dengan nilai 1,10% ini masih perlu kerja keras untuk meningkatkannya, mengingat potensi yang sangat besar di sector pariwisata.

Dapat diasumsikan bahwa kontribusi sector pariwisata terhadap PDRB masih tergolong rendah, padahal Sumatera Barat memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Sumbar memiliki keragaman sumber daya alam yang indah dan lengkap, ada laut, pantai, danau, sungai, gunung, lembah, dan keindahan alam lainnya secara lengkap yang jarang dimiliki oleh daerah bahkan negara lainnya.
 
Mengingat pontensi yang besar tersebut, perlu usaha dari berbagai pihak, baik pemerintah, NGO, media dan kalangan pebisnis pariwisata untuk bekerja keras mengembangkan pariwisata Sumatera Barat.

Kalau pariwisata berkembang, maka kebutuhan akan industry kreatif akan berkembang, misalnya souvenir bagi turis/pengunjung, pertanian dan industry makanan juga akan berkembang untuk kebutuhan makanan bagi pengunjung, industri perhotelan akan berkembang, industry pengamanan (satpam) akan berkembang, dan industry jasa lainnya juga akan berkembang.

Beberapa daerah mengalami peningkatan ekonomi yang cukup tinggi dapat kami contohkan Kota Bukittinggi sebagai daerah yang lebih dahulu menjadi daerah tujuan wisata di Sumatera Barat.

Kota Sawahlunto mempunyai kemampuan menerobos kota tambang tua menjadi destinasi wisata kota tua, berbagai kebijakan terobosan pemko yang dilakukan sejak dipimpin Walikota Amran Nur sampai walikota sekarang telah merubah wajah Kota Sawahlunto menjadi Kota Wisata.

Kabupaten Pasisir Selatan dipimpin Bupati Nasrul Abit telah menjadikan Kabupaten Pesisir Selatan melalui kegiatan wisata maritim, kawasan Mandeh, Festifal langkisah telah menjadi daerah wisata baru si Sumatera Barat.

Beberapa dareah tersebut telah mampu menjadi pariwisata menjadi sokoguru ekonomi (driven factor) untuk membangkitkan sector ekonomi lainnya.

Bagaimana dengan kami di Kota Pariaman? Sesuai dengan Visi Kota Pariaman 2013-2018 adalah menjadikan Kota Pariaman sebagai daerah tujuan wisata yang islami, dan berwawasan lingkungan, maka sector pariwisata sudah menjadi tujuan bersama setiap SKPD. Setiap SKPD harus memiliki program yang mendukung program pariwisata.

Potensi yang sekarang sedang berkembang pesat adalah kawasan wisata pantai Gandoriah dan Pulau Angso.

Kami secara langsung ikut dalam proses pembinaan sektor pariwisata ini merasakan bagaimana keinginan masyarakat (terutama pemuda) di Pariaman untuk “sato sakaki” (partisipasi) dalam kegiatan pariwisata. Ada kelompok pemuda yang peduli dengan kebersihan pantai dan pulau angso, mempromosikan keindahan pulau, bawah laut, pantai dan Muara Gandoriah, Pusat Penyu dan lainnya.

Kami merasakan juga bagaimana apresiasi pengunjung spesifik dari kalangan ilmuan tentang Pusat penangkaran penyu Pariaman, antara lain yang kami terima langsung, wisatawan dari Universitas Leiden Belanda, Universitas dari USA, National Geographic, Thailand, Vietnam, Jepang, Bangladesh, Korea, China, dan kampus dari dalam negeri. Begitu bersemangatnya staf di Pusat Penangkaran Penyu menerima tamu dengan ramah dan senang hati menunjukan bahwa spirit kepariwisataan (semangat melayani) sudah masuk ke personilnya.

Berkembangnya pusat penangkaran penyu ini, telah menjadi pemicu bagi masarakat untuk membuat kerajinan tangan (souvenir) berbentuk penyu. Souvenir ini cukup laku dijual kepada pengunjung. Kebutuhan akan restoran dan rumah makan juga meningkat yang ditunjukkan dengan semakin banyaknya rumah makan dan restoran di Pariaman. Apa yang telah dilakukan adalah untuk difersifikasi (keragaman) distinasi wisata yang baru, wonderful.

Kemaritiman

Potensi maritim merupakan potensi yang belum tergarap secara maksimal. Sumatera Barat yang memiliki garis pantai mulai dari Selatan Pesisir Selatan, Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman Barat sepanjang 2.420.357 km, dengan luas laut ZEE ¬+ 186.580 km2.

Beberapa potensi pesisir yang dapat dikembangkan adalah pertama, pengembangan perikanan laut. Perikanan yang secara konvensional dilakukan oleh nelayan adalah perikanan tangkap yang mana semakin hari jumlah ikan tangkapan nelayan semakin hari semakin menurun dan jarak yang harus diarungi oleh nelayan juga semakin jauh ke tengah laut. Pesaing kapal asing di tengah Samudra Hindia juga semakin ketat karena kapal asing berukuran besar dan dilengkapi dengan teknologi yang canggih.

Apakah nelayan tradisional kita sudah mampu bersaing dengan kapal-kapal asing tersebut? Untuk sekarang saya asumsikan bahkan kemampuan nelayan kita masih kalah bersaing dibanding nelayan asing dari sisi ukuran dan teknologi kapal.

Stakeholder urusan kelautan dan perikanan di Sumatera Barat perlu memikirkan cara baru agar nelayan tetap mendapatkan ikan.

Perlu perubahan mindset dari “mencari ikan” menjadi “mengelola ikan” contohnya melalui program mina wisata (aqua-tourism). Nelayan kita ajarkan untuk melakukan peternakan ikan di laut misalnya melalui keramba apung dengan teknologi tertentu.

Model seperti ini sangat berhasil di Norwegia telah menjadikan sector perikanan ini menjadi penghasil pendapatan (PDRB) masyarakat terbesar. Di Pariaman, kami sudah mulai melakukan praktek pemula dengan membesarkan (Aqua Culture) ikan kerapu di keramba di laut Pulau Angsoduo Pariaman dengan program mina-wisata.

Potensi lain di bidang kemaritiman di Sumatera Barat adalah industri pelabuhan. Di perairan di depan Sumatera Barat, Samudra Hindia, ada ribuan kapal (kapal ikan) antar benua yang berukuran besar yang berlayar antar benua. Kapal-kapal tersebut memerlukan tempat untuk berlabuh untuk mengisi bahan bakar, stock makanan, pakaian dan lain-lainnya.  Juga kapal pesiar jurusan eropa menuju Australia dan Selandia Baru yang melewati Samudra Hindia di depan Sumatera Barat.

Sumatera Barat dapat mengambil peluang untuk tempat berlabuhnya kapal pesiar ini. pengembangan indusri pelabuhan ini akan memberikan dampak untuk pertumbuhan PDRB Sumatera Barat dan secara langsung untuk perekonomian masyarakat Sumatera Barat.

Pertanian

Sumatera Barat merupakan daerah subur untuk pertanian. Beberapa kebutuhan pertanian seperti beras dan sayur-sayuran untuk daerah Propinsi Riau berasal dari Sumatera Barat.  Kebutuhan beras di Propinsi Riau mencapai 616.115 ton pertahun, sedang produksi lokal hanya 274.379 ton, berarti masih kekurangan beras sebesar 341.736 ton. Untuk memenuhi kekurangan beras tersebut, Riau masih mendatangkan beras dari provinsi tetangga yakni Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Belum lagi kebutuhan masyarakat Riau akan sayur-sayuran kebanyakan dipasok dari Sumatera Barat.

Ini merupakan peluang besar dari Sumatera Barat untuk terus meningkatkan produksi pertanian, karena pasar sudah jelas.

Jikalau pertanian ini dikembangkan secara industri (agriculture), akan mendatangkan nilai tambah secara ekonomi. Thailand mampu menjadikan pertanian sebagai sektor ekonomi utama dengan mengembangkan industri olahan pertanian, demikian juga China kita lihat sekarang sangat banyak produk pertaniannya masuk ke Indonesia.

Sumatera Barat perlu menjaga stabilitas luas lahan pertanian, karena banyaknya lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi lahan perumahan yang dapat membahayakan kuantitas produk pertanian.

Perlu dibuatkan pemetaan mana lahan produktif pertanian yang sama sekali tidak boleh dialihfungsikan lahannya dan mana lahan pertanian yang tidak produktif dan memungkinkan untuk dialihfungsikan, serta perlu dilakukan juga pembukaan lahan pertanian yang baru, intensifikasi dan intensifikan pertanian.

Dari uraian ringkas di atas, menurut kami factor pariwisata, kemaritiman dan pertanian dapat dijadikan lokomotif pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat. Ketiga factor di atas, menurut pandangan kami dapat memberikan dorongan kepada sector lainnya untuk memacu pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat. Wasalam.


Oleh: Dr. Genius Umar, S.Sos, M.Si (Wakil Walikota Pariaman)
Festival Seni dan Bintang Qasidah se Sumbar di Gandoriah Konsep Wisata Religi Kota Pariaman



Festival Seni dan Bintang Qasidah Tingkat Sumbar dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Sumbar Drs. H. Muslim Kasim, Ak., MM di Panggung Pariwisata Pantai Gandoriah, Kota Pariaman, Jumat (24/04).

Pembukaan acara tersebut turut dihadiri oleh Kakanwil Kemenag Provinsi Sumbar Drs. H. Salman, MM, Wakil Walikota Pariaman Dr. Genius Umar, S.Sos. M.Si, Sekdako Pariaman, Ir. Armen, MM, Kakankemenag Kota Pariaman H. Dedi Wandra, S. Ag, serta Kakankemenag Kota/Kabupaten se-Sumbar.

Perlombaan tersebut dilaksanakan untuk pertama kalinya di Kota Pariaman sebagai tuan rumah. Perihal itu dikatakan dalam rangka menunjang konsep wisata religi di Kota Pariaman.

Dalam sambutannya, Muslim Kasim menyampaikan bahwa lomba Festival Bintang Qasidah ini hendaknya dijadikan ajang untuk merajut tali silaturrahmi antar kabupaten/kota se-Sumbar.

"Terlebih penting lagi bertujuan menyalurkan bakat-bakat dari generasi muda kita untuk bersaing dan berkompetensi dalam cabang Bintang Qasidah dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari atas nilai-nilai perilaku ajaran Islam. Karena Islam itu indah," ucapnya.

Disaat yang sama, Genius Umar mengungkapkan bahwa seni budaya Islam memiliki arti strategis sebagai bagian dari pembinaan umat Islam, oleh karenanya harus terus dikembangkan.

"Dengan terlaksananya lomba ini di Kota Pariaman, para utusan dari kabupaten/kota se-Sumbar dapat menikmati wisata dan kuliner yang ada di Kota Pariaman," sebutnya.

Genius juga berasumsi bahwa seniman-seniman muslim yang tersebar di seluruh wilayah nusantara perlu lebih banyak berdialog, bertukar kreatiftas untuk terus mengembangkan berbagai jenis seni budaya yang bernafaskan Islam yang sesuai dengan perkembangan zaman.

"Namun seni budaya tetap berpegang pada nilai-nilai ajaran Islam," tambah Genius.

Sementara itu, Kakanwil Kemenag Propinsi Sumbar Drs. H. Salman, MM, berharap seni Qasidah sepantasnya mendapat perhatian dari pemerintah dan semua kalangan.

"Semoga seni Qasidah ini mampu bersaing dengan kesenian lainnya dan tetap selalu mendapat tempat dihati penggemarnya," dia lugas.

Adapun yang akan diperlombakan pada Festival Bintang Qasidah tersebut adalah 3  cabang, yaitu tingkat anak-anak, remaja dan dewasa yang akan dilaksanakan dari tanggal 24 s/d 26 April 2015.



Phaik/OLP
Kembangkan Potensi Wisata, Pemko Pariaman Gaet Investor Jepang


Wakil Walikota Pariaman Genius Umar beserta beberapa Kepala SKPD terkait di lingkungan Pemerintah Kota Pariamaan (Pemko) melakukan rapat bersama Dananjaya Axioma, Direktur Asean Japan Centre (AJC) yang merupakan pusat promosi perdagangan dan pariwisata negara-negara Asean.

Kehadiran Dananjaya di Kota Pariaman untuk membantu mengkaji model perencanaan pembangunan dan pengembangan pariwisata sebagai leading sektor pembangunan ekonomi di Kota Pariaman, Jumat (9/1) di ruang rapat Bappeda. Pada kesempatan itu, Genius meminta agar Danan dapat memediasi Pemko Pariaman dengan para pengusaha Jepang agar mau menanamkan modalnya di Kota Pariaman.

Merespon keinginannya tersebut, Danan sengaja mengunjungi tempat-tempat dan melihat lebih dekat potensi-potensi yang dimiliki Kota Pariaman untuk dapat  dikembangkan dalam menunjang pencapaian visi dan misi yang telah dituangkan dalam RPJMD Kota Pariaman. Kajiannya ini, kata Danan, juga dapat menjadi acuan bagi para investor untuk investasi di Kota Pariaman khususnya di bidang pariwisata.

Dananjaya dalam presentasinya menyampaikan demografi penduduk Jepang saat ini berbentuk piramida terbalik, dimana jumlah generasi muda lebih sedikit daripada generasi tua. Ditambah lagi, sebut dia, dengan adanya kebijakan pemerintah Jepang yang tidak memberikan bunga terhadap uang pensiunan yang disimpan di bank, sehingga mereka berusaha untuk mencari daerah-daerah baru untuk memutarkan uang mereka.

"Dan orang Jepang tersebut merasa bahwa kawasan yang cukup bersahabat bagi mereka adalah kawasan Asean. Oleh karena itu, Kota Pariaman harus mampu menarik minat investor Jepang untuk menginvestasikan uangnya di sini,” kata Danan.

Sementara itu Genius mengatakan, jika Kota Pariaman benar-benar ingin melakukan pembenahan di berbagai bidang, tentunya dana dari APBN dan APBD saja tidaklah cukup, sehingga kehadiran dan investasi dari ara investor benar-benar sangat dibutuhkan.

“Saya harapkan, kita harus mengetahui dengan tepat dimana letak potensi-potensi daerah yang mungkin dapat dijual kepada para investor. Kota Pariaman ini bisa di ibaratkan seperti sebuah meja, dimana di meja tersebut nampak dengan jelas dimana letak potensi-potensi daerah Kota Pariaman yang bagus untuk dikembangan. Dan hal ini harus benar-benar diketahui oleh setiap kepala SKPD terutama bagian Penanaman Modal sebagai SKPD yang akan menjual potensi-potensi tersebut kepada para investor baik dalam maupun luar negeri,” tutur Genius menegaskan.

Rapat yang berlangung selama lebih kurang 2 jam ini juga dihadiri oleh Staf ahli, Kepala Bappeda, Kepala Disdikpora, Kepala Dishubkominfo, Kepala Diskoperindag, Kepala DPPKA, Kepala KP2TPM, Sekretaris Dinsosnaker dan Kabag Humas. 


Dewi/OLP