Silek Harimau Lalok Cubadak Aie Masih Lestari
Mukhlis Rahman sedang menyaksikan peragaan silek harimau lalok. Foto/Komonfo Pariaman
Pariaman ----- Kesenian tradisional Silek Harimau Lalok di Kanagarian Sikarek Ulu, Desa Cubadak Aie Utara, Pariaman Utara, peragakan silat tradisional di Laga-laga Desa Cubadak Aie Utara, Sabtu malam (14/4).

"Atas nama perguruan pencak silat Pariaman maupun Padangpariaman sudah ada kesepakatan bahwa sekali 15 hari diadakan silaturahmi antar perguruan Harimau Lalok. Setiap perguruan akan mengundang perguruan yang lain," ungkap Aminusin Lempa ketua panitia di acara tersebut.

Aminusin menyebut saat ini giliran pihaknya mengundang seluruh perguruan silat se Pariaman dan Padangpariaman silaturahmi guna melestarikan seni budaya silek. Selama ini kata dia, banyak kesenian tradisional yang telah hilang seperti randai (simarantang), ulu ambek, tari piriang dan indang.

Pria yang menjadi Kapalo Mudo Silek Harimau Lalok Sikarek Ulu itu juga menjelaskan bahwa untuk melestarikan kesenian tradisional tersebut, perlu regenerasi kepada generasi muda agar mengenal kesenian tradisional Silek Harimau Lalok.

Walikota Pariaman Mukhlis Rahman berharap melalui acara tersebut ke depannya pelatihan kesenian tradisional di daerah Cubadak Aie Utara dapat diteruskan dan dilestarikan. Salah satunya Silek Tradisional Harimau Lalok.

"Ini perlu terus dilestarikan sehingga tidak hilang digerus zaman. Kegiatan seperti ini juga dapat meminimalisir permasalahan remaja," tutupnya. (win)
Sanggar Silek Gagak Hitam Koto Marapak Diresmikan
Logo silek harimau
Wakil Walikota Pariaman Genius Umar resmikan sanggar tradisional Gagak Hitam, Sabtu lalu (29/4). Sanggar tersebut merupakan perguruan silat Harimau Lalok di Desa Koto Marapak, Pariaman Timur.

Acara peresmian itu turut dihadiri oleh anggota DPRD Kota Pariaman Riza Saputra, perwakilan perguruan silat se-Kota Pariaman, Kabupaten Padangpariaman dan Agam, tuo silek dan tuo adat.

Genius Umar pada kesempatan itu mengatakan harapannya agar generasi muda Pariaman memiliki peran sentral dalam upaya membangun daerah dengan upaya kreatif.

Seni dan budaya lokal mesti diprtahankan untuk kekayaan daerah. Generasi muda sebagai agen perubahan punya peran penting dalam menggalakan setiap potensi seni budaya ke tengah masyarakat.

"Pemko sangat mendukung dan siap mempromosikan setiap seni dan budaya daerah, termasuk sanggar perguruan silat tradisional," ujarnya.

Jumaidi Tuangku Mudo, selaku panitia acara mengatakan silat adalah olahraga beladiri asli Minangkabau yang banyak dipelajari pemuda di desanya. Ia mengatakan pihaknya ke depan juga akan menggelar pertunjukan batajua (bersilat) dengan mengundang berbagai perguruan silat di provinsi Sumbar.

Phaik/OLP
Mukhlis, Permainan Tradisional Tak Boleh Hilang Ditelan Gadget

Walikota Pariaman Mukhlis Rahman menutup rangkaian kegiatan capacity building (fasilitas pengembangan) Forum Anak Kota Pariaman yang digelar mulai tanggal 24 Januari lalu. Acara penutupan diikuti dengan menggelar Permainan Tradisional Piaman yang hampir punah di SD Negeri 19 Kampung Baru, Kamis (26/1/2017).

Mukhlis mengatakan permainan tradisional perlu ditimbulkan kembali kepada anak-anak yang saat ini ketergantungan dengan gadget (perangkat elektronik). Permainan tradisional, sambungnya, adalah warisan budaya yang harus dilestariakan.

"Permainan ini harus terus digiatkan agar tidak hilang ditelan waktu," dia menekankan.

Ia menambahkan, dalam permainan tradisional banyak hikmah yang dapat dipetik oleh anak-anak. Permainan tradisional bernilai positif untuk interaksi sosial, kerjasama, sportifitas dan bagian dari olahraga rakyat.

“Mari kita lestarikan kembali. Jangan sampai hilang ditelan zaman diganti dengan gadget yang hanya individual saja. Ayo simpan gadgetmu, mari bermain tradisional,” imbuhnya semangat.

Ia menuturkan, saat ini Pariaman telah meraih predikat Kota Layak Anak tingkat Madya. Pihaknya mengapresiasi upaya Forum Anak Kota Pariaman dalam menumbuh-kembangkan kembali segala bentuk permainan anak dalam rangkaian capacity building yang digelar tersebut.

Adapun permainan tradisional yang dimainkan seperti tangkelek, balapan tampuruang, tarik batang kelapa, engrang, patok lele, joli-joli, kuciang-kuciang, congklak, pacah piriang, main batu, lompat karet, maen ketapel, yang membuat suasana menjadi meriah diiringi gelak tawa anak-anak.

Hadir dalam acara Ketua TP PKK Kota Pariaman Ny. Reni Mukhlis, Kepala SOPD terkait, Kabag, Camat, Kepala Sekolah SDN 19 Kampung Baru Redawati dan jajaran, serta panitia acara Forum Anak Kota Pariaman.

TIM
Mukhlis: Kesenian Tradisional Media Efektif Penyampai Informasi dan Edukasi



Kesenian tradisional merupakan media efektif dalam penyampaian komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Walikota Pariaman Mukhlis Rahman dalam sambutannya pada acara festival komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga (KKBPK) melalui kesenian lokal/tradisional tingkat Provinsi Sumatera Barat tahun 2016 di pentas Pantai Gandoriah, Minggu (15/5).

"Para pengembang Islam di Pariaman juga telah memanfaatkan kesenian tradisional untuk mengenalkan ajaran Islam. Pada masa orde baru juga sering memanfaatkan kesenian tradisional untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan keada masyarakat. Sekarang juga memanfaatkan hal yang sama agar pesan-pesan program kependudukan dan KB bisa sampai kepada masyarakat," kata Mukhlis.

Kesenian tradisional, ungkap dia, juga erat kaitannya dengan pengembangan pariwisata. Kota Pariaman selama ini terus berupaya untuk menghidupkan sanggar-sanggar kesenian tradisional dan sekolah-sekolah karena seni dan budaya merupakan daya tarik bagi wisatawan.

Dia juga menyambut baik terhadap iven-iven yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat di Kota Pariaman. Kota Pariaman sedang giat-giatnya mempromosikan sektor pariwisata. Upaya pembenahan fasilitas umum terus dilakukan setiap tahunnya.

Sedangkan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Barat, Nofrijal, menyampaikan bahwa kegiatan festival KIE program KKBPK melalui kesenian lokal/tradisional tingkat Provinsi Sumatera Barat diikuti oleh kabupaten/kota se Sumatera Barat.

"Festival ini diikuti oleh 14 kabupaten/kota se Sumatera Barat dengan tujuan untuk menyebarluaskan informasi tentang program KKBPK kepada masyarakat dengan memanfaatkan kesenian tradisional. Cara penyampaian informasi melalui kesenian tradisional ini sangat mudah dimengerti oleh masyarakat," Jelas Nofrijal.

Informasi-informasi tentang program KKBPK, sambungnya, didapat melalui kesenian tradisional akan ditindak lanjuti oleh masyarakat dengan menanyakan langsung kepada petugas di lapangan.

Eri/OLP
Ubek Tawa Tanpa Nama

MENELUSURI kawasan Palinggam, dari arah pantai Padang, menuju arah Pulau Air - - nama sebuah kawasan, bukan pulau — melewati bangunan-bangunan tua, menjadi saksi sejarah kesibukan perdagangan di pelabuhan Pantai kota Padang, Sumatera Barat. Beberapa bangunan bak ruko era silam, berlantai dua dengan pilar-pilar kayu ulin bercat kusam mengelupas.

Setiap menyimak bangunan seperti itu ingatan saya selalu melayang ke kawasan Tanjong Pagar, Singapura. Bangunan sejenis, mirip abis, di sana dipugar. Bentuk aslinya, baik kontruksi, pintu dan jendela dibiarkan sama. Dinding dicat baru, suasana elok, ruangan berpendingin. Kini banyak dihuni bagi perkantoran dan restoran modern. Makan di salah satu kedai di kawasan itu, selain menggoyang lidah, menikmati suasana, menjadi pengalaman tersendiri.

Menjadi pertanyaan, mengapa di Padang bangunan demikian dibiarkan saja?
Di tengah pertanyaan itu membuncah di benak, mata saya tertuju ke sosok seorang bapak. Ia mangkal di sebuah pertigaan bersebelahan dengan bangunan gudang di bagian atasnya bertuliskan 1906. Namanya Aljasir

Ia sudah mangkal di sana sejak 1978. Di atas “kereta dorong” beroda sepeda tiga, di atasnya bagaikan meja, menampung sebuah panci aluminium berdiameter selengan orang dewasa. Di dalamnya cincau hijau. Di depan panci, berderet botol segi empat, mirip botol minuman keras Johny Walker. Sebuah botol pantatnya saya angkat, tertera tulisan; Liquer, Scotland, nomor seri 1260V. Deretan botol itu disekat kotak-kotak kayu.

Di dalam botol berisi air berwarna hijau daun, ada 36, racikan dari daun kacang tujuh. Di samping kiri botol ada pula berisi gula enau. Di sebelah kanan botol air hitam. Warna hitam itu konon air dari daun Samiloto, berkhasiat untuk penyakit diabetes.

Tidak ada judul di kereta dagangan itu.

“Ini Ubek Tawa,” ujar Aljasir.

Penasaran akan yang disebut Ubek tawa itu saya memesan segelas.
Saya perhatikan bapak itu mengambil salah satu botol berisi air gula merah, lalu menuangkan botol air hijau, menambahkan dua sendok besar cincau hijau, memberi air peras jeruk nipis, plus air dari sebuah botol berisi kuning kehijauan - - konon ini aroma jeruk sitrun. Adonan itulah yang disebut Ubek Tawa.
Jika mangacu ke judul Ubek Tawa, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan Obat Tawar. Namun minuman itu setelah saya tenggak, dominan berasa beraroma daun cincau dan jeruk nipis manis gula merah. Air daun hijau itu merupakan perasan daun kacang tujuh.

Untuk mendapatkan cincau sapanci besar itu, Aljasir mengaku menggodok daun cincau satu plastik kresek hitam besar. Sedangkan mendapatkan 36 botol air kacang tujuh, ia memeras 8 ikat daun kacang tujuh. Per ikatnya segenggaman orang dewasa.

“Kasiat minuman ini untuk panas dalam, antara lain.”

Saya pun menyimak ada telur itik di rak bagian atas dagangan Aljasir. Saya penasaran untuk apa pula telur bebek itu? Rupanya jika mau, pembeli bisa menambahkan ke kuning telur bebek. Mengadonkannya, kuning telur dikocok, baru dimasukkan racikan Ubek Tawa bak di atas. Maka di gelas akan keluar menuman berbusa mengundang selera.

Saya coba gelas kedua, terasa segar di lidah, tak ada sama sekali aroma amis telur. Penasaran juga mengapa bisa? Bisa jadi telur itu kalah oleh rasa jeruk, daun kacang tujuh dan cincau.

Aljazir mengaku bermodalkan Rp 150 ribu sehari. “Jika hari baik, tidak hujan, penjualan sehari terkadang lebih Rp 500 ribu,” ujarnya. Jika hujan, orang tak banyak keluar rumah, omzetnya hanya di kisaran Rp 300 ribu saja. Jika rata-rata penjulannya sehari Rp 400 ribu, maka Rp 250 ribu perhari untung bersihnya. Itu artinya setidaknya ia mendapatkan Rp 7,5 juta sebulan.

Dari berjualan Ubek Tawa, Aljasir mengaku mampu menyekolahkan anaknya dua orang. Satu sudah bekerja dan seorang lagi masih kuliah. Ia pun mengatakan sudah membangunkan rumah untuk anaknya dalam skala kecil.

Sejak 1978, pria yang berpantalon coklat, bersandal kulit hitam itu konsisten berjualan di lokasi itu. Kendati tak mengenal istilah manajemen pemasaran modern, agaknya, inilah disebut kiat mudah diingat orang itu. Konsisten berada di tempat sama.

Saya perhatikan setiap orang yang lewat di kawasan itu, disapanya, dominan menngenalnya. Entah karena dikenal itu, ia tak menaruk judul apapun di gerobak dagangannya itu. Alam seakan mengenalkannya ke publik pelanggan.

Saban hari ia di lokasi dari pukul 16 hingga pukul maksimal 23 malam. Saya perhatikan selama duduk di bangku panjang yang disediakan bagi pembeli, sudah ada 6 orang yang duduk membeli dan 3 orang minta dibungkus. Seorang Bapak tua dengan tetap di atas motornya, dengan raut wajah diam, langsung dibuatkan Ubek Tawa pakai telur itik. Sesosok muda sangaja datang bersepeda, kepada saya mengatakan Ubek Tawa minuman segar menyehatkan.

Di literatur saya coba cari di internet, tidak menemukan apa saja khasiat Ubek Tawa. Namun saya menyimak ada situs internet kaos bermerk Kapuyuak, membuat desain khas Ubek Tawa, warna hijaunya khas, mirip sekali dengan hijau daun kacang tujuh di botol-botol Ubek Tawa. Tampak sekali produsen t-shirt itu menangkap tajam bahwa Ubek Tawa sudah menjadi bagian unik minuman bersejarah kota Padang.

Dalam perjalanan pulang ke kawasan kediaman Dinas Gubernur Padang, di mana di aulanya, pada 20- 21 Oktober ini berlangsung Pelatihan Jurnalis Warga dan Reportase. Menulis literair dan reportase ini bagian tugas yang saya berikan ke peserta; Saya pun menugaskan diri sendiri melakukannya. Lantas saya menyimak dari taksi, di tepi jalan lain ada juga penjual Ubek Tawa lainnya.
Di lokasi berbeda itu, sudah ada tambahan jamu ber-merk bersase terlihat di rak kacanya. Jadi, Ubek Tawa plus jamu. Berbeda sekali dengan Ubek Tawa ala Aljasir murni alami, kecuali satu tambahan sitrun.

Membayangkan wajah Aljasir selalu tersenyum melayani pembeli, pada sosok sepertinya saya dapat berkaca akan sebuah etos kerja luar biasa, konsisten pada apa dipercayainya menghasilkan, mulia berdiri di telapak kaki sendiri, di tempat sama.

catatan Iwan Piliang