Headlines News :

Berita Terpopuler

Pages Pariaman News

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan posting dengan label tokoh minang. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label tokoh minang. Tampilkan semua posting

Ketika Anas Malik Di Tanah Suci Dan Sertijab Pangdam Bukit Barisan

Written By oyong liza on Kamis, 10 Januari 2013 | 01.25


Pada medio 1983, alm,Kol Anas Malik, Mantan Bupati Padang Pariaman yang hingga kini masih ditauladani, Menunaikan Ibadah Haji ke Tanah suci Mekah. disana Anas Malik selain menunaikan Ibadah Haji juga menyempatkan diri menemui Jemaah asal Pariaman . hal tersebut ia lakukan dengan mencari dari kemah ke kemah.  beliau lakukan, untuk memastikan warganya dapat pelayanan yang baik disana ujar seorang perantau Riau asal Pariaman yang menghubungi saya via telpon," alangkah bangganya kami dikunjungi Bupati. beliau menanyakan mulai dari kesehatan hingga makanan kami kala itu." Ujar sang Bapak tersebut yang saya lupa namanya via telpon .

Hal tersebut dibenarkan oleh Putri alm Anas Malik, Ilya Rosa, " Papa selalu begitu, sangat memperhatikan (warga piaman). malah Papa ( Anas Malik ) dikala musim Haji tahun 1983 itu sempat jadi Inspektur Upacara Hari kemerdekaan di Kedutaan Mina. kebetulan Musim Hajinya bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus." Ujar Ilya yang kala itu bersama suaminya Leonardy Harmainy,Sip,MH Dt Bandaro Basa di Rumah Makan Pauh Raya Pariaman beberapa hari yang lalu.
 

Ilya menukuk " Banyak perihal tentang Papa yang belum diketahui Publik, Papa suka menulis Diary, nanti saya usahakan mendapatkan Copiannya untuk bahan tulisan Oyong." Ujar Ilya sembari makan dengan sendok.matanya sesekali menerawang,kuat dugaan saya ia mencoba mengingat-ingat kenangan bersama Almarhum." Dulu ada kisah Lucu ketika Mayjen Soeripto jadi Pangdam Baru Bukit Barisan. Papa diundang pada pelantikan tersebut ." Ujar Ilya ." Soeripto adalah mantan bawahannya dulu yang pernah dihukum Disiplin Hormat bendera dari pukul 10 hingga jam 6 sore."

"Kala itu Papa terlambat karena beberapa hal. Soeripto belum mau memulai upacara sebelum Papa datang." Ujar Ilya menerangkan." Sesampainya Papa disana langsung disambut Soeripto,Papa belum tau siapa nama Pangdam. papa berujar ketika disalami Soeripto 'ngapain kamu disini SOERIPTO ? sudah kenal dengan Pangdam ?" ujar Ilya menirukan." Saya menunggu Bapak, jawabnya sembari mempersilahkan Papa duduk dan tak menjawab bahwa dirinyalah sang Pangdam baru."

Papa baru tau setelah Sertijab dilakukan., " Soeripto berpidato kala itu tentang Papa setelah Sertijab, dia berujar sangat bersyukur pernah menjadi Anak Buah Papa, dia mengakui Papa adalah gurunya yang mendidik dengan Tegas demi kebaikan, dia berujar takkan pernah saya berdiri berpidato disini tanpa gemblengan disiplin atasan saya Anas Malik.saya pernah dijemur dari Pagi hingga Sore oleh Beliau." Ujar Ilya, hal tersebut dia ketahui karena Anas Malik menceritakan kejadian tersebut dirumah." Papa dengan enteng menjawab, kan Papa tidak tau dia Pangdam? ketika kami tanya kenapa Papa menanyakan ke Pangdam 'ngapain kamu disini?". Ujar Ilya tertawa mengingat kisah tersebut.
 

Dalam kesempatan itu Leonardy juga menambahkan satu hal, " Bandara BIM, dulu Beliau yang merintis bersama Gubernur AZWAR ANAS. " ujar Leonardy yang dibenarkan oleh Tokoh Masyarakat,Artagnan, ketika saya verifikasi ," Benar, Anas Malik lah yang merintis Bandara Katapiang." ujanya merinci secara mendalam baik ihwal pembebasan tanah dan Master Planingnya." Setelah di Matangkan Anas Malik, barulah pengerjaannya dilakukan oleh Bupati dibawahnya " imbuh Artagnan yang juga seorang sejarawan ini.

Banyak Hal tentang Anas Malik, mancaragam cerita Faktual teladan yang musti digali dan terus ditulis agar dapat jadi contoh bagi kita tentang arti dari sebuah kepemimpinan . kerinduan akan sosok pemimpin semacam beliau adalah dambaan kita semua untuk memimpin Kota Pariaman ini kedepan.


catatan Oyong Liza Piliang

Anas Malik Dan Pedati Pembawa Tempurung

Written By oyong liza on Jumat, 07 Desember 2012 | 11.15

siapakah anak yang bersama Almarhum Anas Malik ini ? jika ada yang tau mohon hubungi saya di no 082169909098

Akhir-akhir ini sering saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan. dengan semakin dekatnya Pilkada Kota Pariaman siapa yang paling pantas dipilih ? demi Tuhan pertanyaan tersebut sudah berpuluh kali dialamatkan kepada saya pribadi.baik kalangan Pemuda, Politisi, ibu-ibu bahkan sampai tokoh masyarakat yang sudah punya nama. jawaban saya cuma satu. Pilihlah pemimpin yang merakyat dan punya Integritas tinggi. saya selalu menganalogiskan dengan Kiprah Alm Anas Malik yang saya teliti sejarah hidupnya.dan demi Tuhan pula saya tak pernah mempromosikan satu Nama Balonpun. netralitas dan independensi saya hingga kini masih terjaga.

Anas Malik dimasa kepemimpinannya sangat berdedikasi dan merakyat. hubungannya dengan masyarakat tak disekati birokrasi. 


"diruangannya masyarakat boleh masuk dan tak ada seorang pegawaipun yang boleh menghalangi.karena itu perintah Anas Malik." 
ujar Efendi Jamal yang kala itu Pegawai baru golongan dua. 

" masyarakat menemui bupati dari jam 8 pagi hingga pukul 11 siang. lalu Bupati sendiri yang langsung kelapangan menjemput aspirasi." ujar Efendi Jamal lagi.

"kalau kejujuran dan kepekaan hati Anas Malik sangat luarbiasa. dulu ada sebuah pedati yang membawa tempurung di Sungai Limau. Anas Malik lalu berhenti dan bercakap-cakap dengan pengendara dan pemiliknya. mau dibawa kemana dan harganya berapa. karena kasihan Anas Malik menyuruh pemilik pedati tersebut mengantar Kependopo Rumah Dinas Bupati diKaran Aur Pariaman." 

ujar A Latif kepada saya tempo hari dipalanta Anih samping BPD Pariaman.

" sesampai dirumah dinas, Ibu Juwita Istri Anas Malik tentu tercengang, buat apa tempurung kelapa sebanyak itu. namun karena sang Istri sangat paham dengan watak Suami dibayarlah uang untuk membeli tempurung tersebut." lanjut Latif.

" Tujuan Anas Malik sebenarnya adalah bentuk pembinaan kepada Pedati, dulu pedati  rodanya tanpa karet sangat merusak aspal.kepada sang pemilik pedati setelah tempurungnya diborong, Anas Malik meminta agar roda pedati yang semula dari kayu agar dilapisi dengan potongan ban bekas. sejak itulah roda pedati dilapisi karet dari ban bekas.semenjak itulah roda pedati diPariaman ini dilapisi ." ujar Latih dengan tersenyum.

Ketauladanan Anas Malik yang demikian harusnya menjadi contoh kepada pemimpin yang akan datang. yang musti ditiru adalah Integritas dan Merakyat serta kecintaan akan Kampung halamannya. lalu lanjutkan dengan seni memimpin yang jadi karakter Asli Anda masing-masing, karena setiap Pribadi tentu punya Mantagi dan Gezah masing-masing.

Catatan Oyong Liza Piliang

Beginilah Cara Alm Kol Anas Malik Menghabiskan Dana Taktisnya

Written By oyong liza on Rabu, 07 November 2012 | 12.05


Sehari tak menulis membuat saya merasa berhutang kepada pembaca setia Pariamantoday,ini bersebab karena kesibukan saya juga dalam menafkahi keluarga dengan uang Halal. banyak rekan-rekan wartawan yang heran ketika saya katakan dengan jujur bahwa saya tak sekalipun pernah masuk ruangan kantor bupati Lapangan merdeka Pariaman sebelum sudah pindah ke Kayu tanam yang barusan saya dengar dari wartawan jalan menuju kesana tak kunjung baik sembari melihat foto-foto terbarunya.

dalam kemendungan pagi ini saya teringat ucapan beberapa tokoh masyarakat tempo hari, ihwal langkah yang diambil Kapolres dalam mengantisipasi Mogoknya Angdes sangat perlu diapresiasif.

Hebohnya Ocehan Palanta tak beranjak, topic utama pembahasan selalu menghitung-hitung peluang "Ayamnya" berlaga nanti, saya lebih banyak menyimak dari berbicara. saya merasa lebih baik sebagai "tukang kaba" yang akan memblowup update kekinian Politik Pariaman yang barometernya selalu dari Palanta (kedai kopi) yang banyak tersebar di Kota Pariaman ini.orang piaman memang hobi berlungguk..

saya lebih acap bertanya ketika sesekali ocehan menyentil Alm Kol Anas Malik, menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang sosok The Legend (meminjam istilah Indra J Piliang).

seorang mantan pamong senior, dimana masa Anas Malik masih berdinas medio 80-90an berujar bahwa diera itu masalah Proyek berjalan dengan sangat Fair, tidak ada istilah uang cindua, sogok menyogok. Anas Malik bisa membuat PNS bekerja Profesional dengan mobilitas tinggi, diera ini pulalah kontraktor baru bertumbuhan.

Anas Malik sangat disiplin waktu, dia selalu datang kekantor sesuai jadwal jam 7.30wib, dan bekerja dibalik meja hanya sampai pukul 10 pagi, dikantor Anas Malik sangat mudah ditemui oleh masyarakat,"Jika ingin bertemu Bupati, kita musti datang dibawah jam 10 pagi, setelah itu Beliau langsung kelapangan." ujar Artagnan,"kala itu saya baru setahun jadi PNS, Anas Malik sangat memperhatikan kesejahteraan pegawai, ia menghimbau agar PNS sepulang dari kantor agar mencari penghasilan tambahan semacam bertani dll." tukuk mantan anak buah Anas Malik ini.

Anas Malik seorang yang sangat penghiba hatinya, suatu kala seorang wanita pedagang sayur tua menjujung dagangannya yang membubung, lewat didepan Bupati,"sayur itu diborong Anas Malik, lalu dibagi-bagikan kepada warga dibelakang Rumah dinasnya, dana Taktis hanya habis untuk membantu masyarakat, jika ia melihat seorang yang sangat tua bekerja, selalu ia sambangi dan memberikan lembaran Rp 10.000, jumlah yang sangat besar kala itu." tukuk Artagnan." hampir semua dana taktis beliau habiskan untuk membantu masyarakat" ujar Artagnan dengan kalimat tanpa ragu.

ada yang sangat membekas bagi masyarakat pesisir pantai Karan Aur, persis dibelakang Pendopo Rumah Dinas Bupati, masyarakat nelayan yang tak memiliki tanah bersebab pasiah maelo (tak boleh diperjual belikan)dikasih sertifikat Gratis oleh Anas Malik ujar Tokoh masyarakat lainnya.

banyak yang musti dicontoh dari sosok Anas Malik oleh Pemimpin pariaman kedepan dalam berbagai hal termasuk pendidikan. dimasa kepemimpinan Almarhum seluruh dosen asal Pariaman disuruh pulang kampung untuk mengajar, semuanya menuruti, dan alumninya setara dengan mereka yang kuliah di Padang.

Anas Malik pulalah yang mengoptimalkan istilah K-3 (Kebersihan, Keindahan, Ketertiban) dengan program, memungut puntung rokok dan sampah, membangun pagar disetiap pekarangan agar terlihat indah, serta menertipkan apa yang jadi penyakit masyarakat kala itu semacam buang hajat sembarangan ditepi pantai, mengandangkan ternak agar tak berkeliaran dijalanan umum serta menghimbau masyarakat dari pintu kepintu agar meramaikan mesjid menunaikan solat subuh dengan mengayuh sepeda ontelnya.. dimanakah sepeda ontel Alm Kol Anas Malik yang bersejarah itu sekarang? itu yang acap jadi pertanyaan saya ..

catatan Oyong Liza Piliang

Ilya Rosa Anas Malik : Agar Keluar Pintu Kepala Papa Selalu Tegak

Written By oyong liza on Sabtu, 03 November 2012 | 20.28


Menjawab tantangan Indra J Piliang (IJP) Untuk menulis literatur Alm Kol Anas Malik, Tokoh besar peletak pondasi Pembangunan Pariaman, saya terima dengan semangat Jihad.

H.David (Anto Barat), senior sekaligus tokoh pemuda Sumbar, bersama Senior Lainnya dan sahabat dalam Organisasi Pemuda Pancasila Sumbar, mengajak saya menjemput H,Leonardy Harmainy Dt Bandaro Basa Dibandara BIM sepulang dari tanah suci menunaikan ibadah Haji untuk yang kesekian kalinya. Leonardy adalah menantu dari Alm Kol Anas Malik yang memperistri Putri kelimanya Ilya Rosa Anas Malik (53th).Leonardy juga Ketum Pemuda Pancasila Sumbar 3 periode berturut-turut, sekarang masa bakti 2012-2017.

Setelah sekian lama menunggu di Bim,Pesawat Garuda Mendarat. saya yang datang bersama Ferry Nugrah (pemimpin umum koran InvestigasiNews) dari Pariaman, langsung menuju kediaman Leonardy di Ulak karang, diiringi konvoi kendaraan Loreng orange ciri Khas Ormas kami. kami makan siang disini, bercengkrama dan tentu saja sekalian mengucapkan selamat pada sang Ketua Semoga jadi Haji yang Mabrur.

Dirumah ini, Ilya Rosa Anas Malik mengaku acap membaca tulisan saya, dan langsung saya todong dengan pertanyaan seputar alm Anas Malik , sosok yang sangat dikagumi, diteladani hampir semua orang dimana saya berdiskusi tentang Integritas seorang pemimpin. bila pembaca baru baru kali ini membaca tulisan saya tentang Anas Malik, ada baiknya membaca tulisan saya sebelumnya tentang almarhum yang ada dikolom kategori, lalu pilih Anas Malik.

Banyak harta berharga yang tak bisa ditakar dengan materi yang ditinggalkan Anas Malik kepada putrinya ini, Ilya berujar disuatu saat, meminta,"Papa, kenapa kita tidak membeli mobil? sebagaimana orang lainnya?",pertanyaan Ilya diawal tahun 80an semasa Anas Malik masih menjabat sebagai Bupati Pd Pariaman. dengan tenang Almarhum menjawab,"Papa ingin keluar Rumah dengan kepala tegak, kita wajib bersyukur dengan apa yang kita miliki" demikian jawaban Anas Malik kala itu. Almarhum yang pernah menjabat DANDIM BEKASI sebelumnya , memang terkenal BerIntegritas tinggi, pernah suatu ketika Almarhum membantu dengan ikhlas seorang pengusaha keturunan namun entah kenapa bersebab datanglah orang suruhan Pengusaha tersebut memberikan Kunci Mobil baru, Anas Malik tersinggung, sipesuruh tersebut langsung ia tampar dan berkirap dari rumahnya dengan mobil barunya tersebut."kami bangga kepada Papa , orang yang kepalanya selalu tegak karena tak pernah mau disuap dalam bentuk apapun" ujar Ilya, sepotong wajah sendu tersirat dari wajah sang anak seakan mengenang masa lalunya dengan sang Ayah tercinta.

Alm Kol Anas Malik, hingga kini belum tergantikan , baik kefokusannya dalam memajukan Pariaman juga sebagai contoh Tokoh Panutan yang sulit dicarikan tandingannya di Sumatera Barat, Ia menolak ditawari jadi Walikota Jakarta (bagian wilayahnya ibu Ilya Lupa), karena ingin pulang kampung ingin membangun dan mengangkat peradaban tanah leluhurnya ini, hal itupun setelah dikuatkan tekadnya oleh Ayahandanya sendiri yang dipanggil Ilya dengan sebutan Ungku Malik.beruntunglah Anas Malik mendapat Pendamping hidup yang seidealisme, seorang istri yang tidak pernah mengeluh bernama Yuwita (81th). ibu Yuwita sekarang masih hidup dan berdomisili diJakarta. semasa jadi Istri Bupati, sebagai penambah penghasilan, Juwita juga menjahit Daster, kemeja dan kerajinan tangan lainnya, dijual untuk menutupi kekurangan gaji suami sebagai Bupati, beda betul dengan istri pejabat sekarang yang kebanyakan matrealistis dan Hedonis yang bikin kita miris bahkan bengis.

tak ada harta benda yang ditinggalkan Anas Malik Untuk anak-anak dan cucu-cucunya, rumah dinasnya pun sekarang terancam diambil negara kata Ilya,"bagi kami tidak apa-apa, saya ingat semasa papa dihadiahi parcel disaat hari-hari besar, semuanya dibagikan ketetangga kami dilingkungan komplek ABRI tersebut." ujar Ilya dengan mata berbinar.

apa yang Anas Malik dapat dari Negara sekarang ini? rumah dinaspun mau disita negara! sungguh tak sebanding dengan apa yang telah ia perbuat untuk negara ini,Pariaman ini.adakah kita membesarkan namanya semacam Gedung Olahraga yang dulu hampir disematkan namanya namun karena ke egoisan beberapa kalangan tak terealisasi, adakah kita melihat bukunya terbit?adakah kita terpikir untuk mengangkat namanya secara Nasional? diusulkan jadi pahlawan? bersebab karena ialah "Abri masuk Desa" berubah menjadi "Manunggal Bakti" secara Nasional.

Panglima Abri M Yusuf kala itu tanpa egois datang KePariaman ini untuk menyematkan Pangkat militer Kolonel Dipundaknya, karena dianggap perwira terbaik dimasanya, dan hanya sekali terjadi dalam sejarah Negara Indonesia ini berdiri seorang Jenderal mengantarkan Pangkat kedaerah,, dan kita wajib bersyukur bahwa putra terbaik itu, yang meninggal diusia 63 tahun, seusia Rasulullah Mangkat, adalah Putra asli Pariaman ini..

catatan Oyong Liza Piliang

Alm Kol Anas Malik Dalam Kenangan : Tidur Bareng Bupati, Kereta Api Hingga APERTA

Written By oyong liza on Kamis, 18 Oktober 2012 | 18.00


gampang-2 susah mencari bahan untuk literatur perjalanan Alm Kol Anas Malik, tokoh besar, mantan Bupati Pd Pariaman periode 1979-1989 ,namun dengan rajinnya saya bergaul dengan kalangan senior yang terlibat langsung pada masa era pemerintahan beliau jadi sedikit melegakan. pada era itu saya sangatlah kecil, dan tinggal di Pekan Baru Riau.
Bakhtiar Sultan,ST dan Artagnan,SE

kali ini narasumber tulisan ini adalah Bapak Bakhtiar Sultan  ST, mantan kepala Bappeda kota Pariaman medio 2004 serta Bapak Artagnan,SE mantan Kabid Sosbud Bappeda Pd Pariaman medio 2001-2011, kini mereka berdua sudah pensiun dan acap sepalanta dengan saya dilapau Kopi samping BPD Kota Pariaman yang juga terkenal dengan Palanta Politik.

menurut Bakhtiar Sultan ST yang akrab saya panggil aciak mengatakan, diera pemerintahan Alm Kol Anas Malik, dikenal dengan istilah
LALOK BASAMO BUPATI,kesempatan ini dipergunakan oleh bupati Anas Malik untuk melihat kondisi ril masyarakat, merasakan , dan melihat daerah pariaman dari kacamata rakyat, bahkan tak jarang Alm Anas Malik juga membawa istinya Nyonya JUWITA ANAS MALIK turut serta. bupati mendengarkan keluhan masyarakat serta mengajarkan akan pentingnya kebersihan , disiplin dan solat subuh berjamaah dimesjid. Lalok bersama Bupati menjadi trend disaat itu.. masyarakat yang beruntung akan mendapat giliran beberapa malam bersama Bupati. dan hal tersebut dilakukan beliau selama masa kepemimpinannya ujar Aciak dengan kalimat mantap.

Palapa (Pariaman, Lubuk Alung, Padang) . istilah ini adalah alm yang membuat. sekarang dikenal dengan simpang Palapa disimpang tiga lubuk alung lengkap dengan tugu Palapanya ujar Artagnan SE yang acap saya panggil Da An. menurut Da An kereta api yang dimasa era kepempinan beliau sebelumnya mati kembali dihidupkan. ditangan Anas Malik lah istilah kereta api wisata pertama digagas dengan rute Padang , tabiang, l alung. pauh kamba, kuraitaji , pariaman dan nareh (sekarang beberapa stasiun sudah tidak berfungsi).hal tersebut menurut da an adalah sebagai sarana penunjang wisata pantai, dan maka dari itu pulalah diera beliau pantai yang dulunya terkenal dengan istilah wc terpanjang didunia berhasil ia tertibkan meskipun dengan tangan besi.(ada istilah sidang tinja, siapa yang buang hajat dipasir pantai akan disidang dipengadilan, didenda pula biar jera).

Alm Kol Anas Malik menggagas lahirnya Yayasan YLP3ESIDA, sebuah yayasan untuk melahirkan sekolah akademis, diantaranya STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi), lalu AKOP dan APERTA (Akademi Pertanian).

kemudian Yayasan PEMDA. yayasan ini melahirkan sekolah menegah juruan atas, diantaranya SPP (Pelayaran), SPK (Sekolah Perawat Kesehatan).SMEA PEMDA, SMA Manunggal dan SMPS(Sekolah menengah pekerja sosial di lubuk alung). semua yang beliau dirikan tersebut diatas semuanya masih eksis hingga kini kata Da An.

Abri masuk desa yang dizaman rezim Alm Soeharto sebagai Presiden, dibuat oleh bupati dengan konsep optimal dan berkesinambungan, rutin dan terarah. demikian kata aciak dan da an sepakat, kedua senior ini dizaman tersebut sudah berkarier sebagai PNS .

Alm Kol Anas Malik satu-2nya mungkin orang di Indonesia ini yang kenaikan pangkatnya diantar langsung . beliau dari Letkol ke Kolonel dilantik dipariaman ini langsung oleh KASAD ABRI, dalam arti kata orang Mabes ABRI yang turun kesini mengantar , bukan sebaliknya dipanggil sebagaimana lazimnya upacara kenaikan pangkat seorang perwira Abri baik masa sekarang, apalagi dahulu. hal tersebut membuat berbagai kalangan tercengang bercampur bangga.

Setelah tak menjabat lagi , semua materi dan atribut kedinasan beliau lepas, mobil, sepeda ontel dan perangkat rumah, lalu beliau kembali kerumah dinasnya dijakarta, dikawasan jatiwaringin ujar Da an dan aciak dengan ekspresi wajah sendu seakan mengenang sosok pembangun kawasan Perumnas didesa Kampung Baru sekarang (dulu bernama kampung nias), serta seorang Putra daerah yang hingga kini belum ada yang menandinginginya baik dari segi integritas, moralitas, ketegasan serta ketulusan dalam pengabdian untuk memajukan daerah yang saya huni sekarang ini..

aciak dan da an dari pancaran matanya jelas sekali merindukan Alm Kol Anas Malik.. seorang pemimpin sejati kebanggaan kami putra daerah Pariaman.. Semoga Arwah beliau mendapatkan tempat yang layak disisiNYA..kami akan selalu mengenangmu.. mendoakan.. dan menunggu lahirnya Anas Malik-Anas Malik baru didaerah ini..

catatan Oyong Liza Piliang

( Alm Kol Anas Malik Dalam Kenangan) Sidang Tinja, Jemuran Dan Kambing

Written By oyong liza on Rabu, 17 Oktober 2012 | 13.38


Indra J Piliang pernah menantang saya untuk menulis buku Biografi Sang Fenomenal dan sekaligus tokoh besar masyarakat Piaman Alm Kol Anas Malik, beliau mantan Bupati Pd Pariaman periode 1979-89, dan masa itu kota dan kab pariaman masih dalam satu kesatuan administratif, begitu juga dengan kepulauan mentawai.

beliau juga konon yang mendirikan PKDP (Persatuan Keluarga Daerah Piaman) , sebuah paguyuban kekeluargaan yang sangat besar dan hingga kini tersebar hampir diseluruh republik ini, berkantor pusat di Ibukota Jakarta.

kemaren, senin 15/10/2012 kebetulan sekali dipalanta samping BPD nama Alm Anas Malik jadi pembicaraan ditengah kemaruknya birokrasi dikota Pariaman ini, birokrasi yang tidak humanis, arah pembangunan yang tidak pro rakyat kecil dan isu KKN yang acap dibicarakan dipalanta tersebut.

salah seorang senior, Herman, yang dikala Alm Kol Anas Malik menjabat bupati medio th 80an tersebut masih berusia rentang 25-35 tahun punya cerita dan fakta . herman yang memanggil alm dengan sebutan Maktuan tersebut berujar bahwa setiap minggu pagi dini maktuan acap mengayuh sepedanya sendirian tanpa pengawal, berkaos putih, celana trening putih serta handuk kecil putih yang selalu melingkar dilehernya. maktuan turun langsung dari pintu kepintu guna membangunkan warga agar menunaikan sembahyang subuh kemesjid, lalu sidak kepasir-pasir pantai merazia masyarakat yang kala itu buang hajat disana, yang berakibat baunya sampai kehidung pengunjung pasar yang jaraknya tak sampai 100 meter dari bibir pantai yang kini terkenal dengan nama Pantai Gandoriah.

bagi pembuang hajat sembarangan tersebut ada konsekwensi hukumnya kata herman, ini dikenal dengan sidang cirik (tinja), mereka disidang dipengadilan negeri pariaman yang dulunya  di desa kampung baru (
kantor dinas pendidikan yang dihuni sekarang). sidang tinja berupa denda dan berefek jera.herman mengatakan denda memang nominalnya tidak terlalu besar, namun dengan dimeja hijaukan menimbulkan efek jera.

juga terkenal Sidang Jemuran. Alm Kol Anas Malik seorang yang sangat tegas! meski kepada sanak famili serta keponakannya sendiri beda betul dengan pemimpin era sekarang ini yang bermental KKN. Maktuan kata herman seorang yang sangat mencintai kebersihan, tak jarang beliau menampar bila melihat orang buang puntung rokok sembarangan, perihal jemuran yang "dipajang" didepan rumah juga ditindak tegas, warning, bila membandel akan disidang pula.. maka terkenalah istilah sidang jemuran. didenda biar jera..

masyarakat pariaman yang hobi memelihara kambing mustilah punya kandang agar tidak berkeliaran dijalan raya dan tidak memakan tanaman tetangga.terapan disiplin tersebut juga beliau pertegas bila masyarakat yang telah beliau sosialisasikan sebelumnya membandel, kambing ditangkap, sipemilik juga disidangkan dan didenda.. terkenallah istilah sidang kambing. bahkan dalam suatu kesempatan maktuan tak segan-2 menembak kambing yang berkeliaran dijalan raya, ini dikenal dengan istilah razia kambing.

perjuangan Alm Kol Anas Malik sarat dengan perjuangan dan pengorbanan. beliau acap dihujat oleh masyarakat karena dinilai terlalu tegas. kata herman, beliau pernah dikirimi penyakit guna-guna semacam biriang dll, namun maktuan yang berjuang dan merasa itulah solusi untuk Pariaman saat itu hanya percaya kepada Allah SWT,tidak memperdulikan hal tersebut, beliau orang yang sangat logis dan rasional, tidak percaya tahyul.

dalam menjabat selama dua periode sebagai bupati Pd Pariaman alm tidak menumpuk materi, setelah tak menjabat lagi beliau kembali kerumah dinas beliau dijakarta, perumahan Mabes Abri. tak ada harta yang beliau tinggalkan untuk sanak familinya, beliau murni membangun pariaman ini..beliau tetap hidup dalam kesederhanaannya hingga ajal menjemput Sang Pahlawan kami ini, sekarang beliau dikenang.. jasa-2nya tak akan pernah kami lupakan.. semoga arwah beliau mendapat tempat yang layak disisi ALLAH..Amien..

catatan Oyong liza Piliang

Kabar-Kabar Tan

Written By oyong liza on Kamis, 11 Oktober 2012 | 17.57


Tan Malaka sungguh percaya pada Tuhan. Tan juga cinta pada ibunya. Jejak pikiran Tan berhulu pada ibunya. Lelaki-lelaki Minang memang merasa selalu dikutuk menjadi Malin Kundang oleh ibunya, hingga menjadi batu, apabila lupa pada ibu. Guna menghindari itu, lelaki-lelaki Minang membawa garis keturunan ibunya pada tali darahnya. Lelaki-lelaki yang berubah menjadi pemberang, apabila menemukan ada perlakuan tidak wajar pada ibu, sekaligus ibu pertiwi.

Tan berjalan ke banyak tempat: Belanda, China, Singapura, dan lain-lain. Ia juga mengirim surat-surat ke Moscow, markas besar Komunis Internasional (Cominteren). Ia menolak perintah Moscow untuk memberontak  pada tahun 1926. Makanya, Muhammad Hatta mengatakan Tan berpunggung lurus, hingga tidak bisa membungkuk kepada Stalin.

Ketika film Gie membawa gairah dalam kehidupan kaum muda dan remaja beberapa waktu lalu, mulai terlihat adanya kaum muda idealis dalam wujud parlente. Gie adalah generasi aktivis yang gagal menyeberangi zaman peralihan. Ia masuk ke lorong-lorong kelas sejarah, tetapi mengalami kekecewaan atas situasi kekinian yang dia hadapi. Ia mengadu kepada gunung, lalu asap beracun dari gunung itu juga yang membawa pergi nyawanya dan sekaligus abu jenazahnya.

Dengan Gie, gejolak kaum muda idealis mulai bisa mendapat wadah yang tepat. Tetapi, Gie tidak menghasilkan gagasan-gagasan perubahan. Gie sama dengan Ahmad Wahid yang banyak mengkritik. Ibaratnya, dengan Gie dan Wahib, kaum muda menjadi lebih kritis, curiga pada apapun, terutama kemapanan dan keprofanan. Wahib juga mati muda ketika mengalami kecelakaan di kawasan Senen. Ia sempat ditolong gelandangan, kelompok yang paling dibelanya.

Tetapi, sekadar kritikan saja tidak cukup untuk menggerakkan atau mengubah sebuah bangsa. Gie dan Wahid belum banyak memikirkan bangsa, apalagi dalam tatanan regional dan global, secara sistematis. Yang memikirkan itu adalah Tan Malaka,  sebelum Republik Indonesia dibentuk. Buku-bukunya dibaca diam-diam, karena Tan dikejar oleh intel-intel polisi kolonial. Tan bahkan mendirikan sekolah-sekolah non pemerintah di Semarang. Ia menulis juga tentang massa aksi. Dengan jembatan keledai Materialisme Dialektika dan Logika, ia sembunyikan buku-buku kutipan dalam pikiran.

Pada masa Orde Baru, buku-buku Tan juga dilarang. Para mahasiswa harus membacanya diam-diam. Pembaca buku Tan juga takut dicokok oleh intel-intel polisi atau yang pura-pura jadi intel untuk diperas keluarganya. Dengan cara itu, Tan terkubur, menempuh jalan lengang, berikut seluruh buku-buku yang ditulisnya atau buku-buku tentang dia. Tapi, bagi pengagumnya, tentu buku-buku itu hanya disimpan dalam peti-peti tertutup, pada loteng-loteng gudang, atau di tempat-tempat yang sulit dilacak.

Cara orang-orang menyembunyikan buku Tan atau tentang Tan barangkali tidak kalah misteriusnya dengan cara Tan menyembunyikan naskah bukunya pada ruas-ruas bambu di kakus gubuk tempat tinggalnya, di Kalibata, dulu.

***

Harry A Poeze, seseorang yang mengabdikan hidupnya untuk mencari informasi apapun tentang Tan, telah datang membawa kabar. Tan tidak dibunuh atau disuruh bunuh oleh Kelompok Sutan Syahrir atau kelompok Muhammad Hatta, sebagaimana sempat digembar-gemborkan. Ketiganya jelas saling kenal-mengenal dalam raga, pikiran dan kebudayaan. Bagaimana mungkin mereka saling bunuh? Tan ditembak mati pasukan Batalyon Sikatan pimpinan Letnan Dua Soekotjo pada 21 Februari 1949.

Apa motif penembakan Tan? Revolusi, manusia dalam revolusi. Tan yang bergerilya dan sempat mengumpulkan pendukung atas nama Merdeka 100%, jelas menjadi korban dari propaganda di kalangan elite. Soekarno dan Hatta yang lebih memilih meja perundingan, telah mendapat perlawanan dari kelompok-kelompok pejuang lain, termasuk Jenderal Soedirman yang memutuskan pergi ke hutan. Maka, Soedirman sempat mendukung Persatuan Perjuangan pimpinan Tan.

Soliditas internal kalangan elite tentu tergoncang oleh keuletan propaganda Tan yang keras melawan kolonialisme. Dimanapun ada kolonialisme, Tan datang dan melawannya. Tidak salah kalau Harry A Poeze menyebut Tan sebagai “Che Guevara Asia”.

Lalu, di pelosok-pelosok desa di tanah Jawa – sebagai pusat kolonialisme terlama dan terbesar –, perseteruan biasa di kalangan elite pergerakan itu diterjemahkan sebagai permusuhan antar elite. Tan masuk kategori kelompok kiri yang lantas diberangus. Terjemahannya adalah hukuman mati. Bukan Letnan Dua Soekotjo yang sempat menjadi Walikota Surabaya itu yang harus dilsalahkan, apalagi perseteruan di kalangan elite, tetapi sikap setelah Tan mati. Ia diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional, tetapi foto-fotonya jarang ditampakkan dalam buku-buku sejarah. Kuburan dan tulang-belulangnyapun tidak dicari.

***

Bagi generasi kini, Tan tentu sulit dikenali lagi. Buku-buku yang ditulisnya atau buku-buku tentang dia, sudah begitu mudah didapatkan. Tetapi, semakin mudah mendapatkan buku-buku itu, semakin kabur gambar Tan. Mengapa? Barangkali karena nilai romantika atas buku itu hilang. Membaca buku, tanpa romantika, bagai menelan sepiring nasi tanpa sambal.

Dulu, saya diperkenalkan kepada buku Dari Penjara Ke Penjara oleh seseorang yang bernama Arfandi Lubis. Sekalipun bermarga Batak, ia fasih berbahasa Minang. Ia menemani, dengan setia, tanpa intimidasi, dalam kegiatan inisiasi jurusan yang saya ikuti di kawasan Puncak, Jawa Barat. Dalam dingin malam, ketika saya direndam di sungai pada waktu dini hari, Arfandi terus membongkar cara berpikir saya tentang banyak hal.

Dan pelan, Arfandi selalu bertanya, sudah sampai bab berapa saya membaca buku itu. Sebagai mahasiswa baru, saya tentu menjelaskan bagian-bagian yang sudah saya baca dan corat-coret. Saya lupa, apakah pernah mengembalikan buku itu. Yang jelas, buku berwarna merah itu sudah penuh dengan coretan dan lipatan.

Pada satu malam, saya bertemu Arfandi di gedung bioskop Lenteng Agung. Waktu itu, bersama dengan teman-teman aktivis majalah pers mahasiswa, kami berniat menonton film yang sempat dilarang, tapi boleh diputar kemudian: Yang Muda Yang Bercinta. Arfandi yang setahu saya selalu ditemani mahasiswi-mahasiswi cantik – mungkin karena daya pikat kecerdasan dan idealismenya—bercerita bahwa ia sedang menghadapi usus-ususnya yang dirayapi penyakit.  Itu pertemuan terakhir saya dengan Arfandi.

Beberapa waktu kemudian, saya mendengar kabar, Arfandi meninggal di Amerika Serikat dalam upaya mengobati penyakit kanker pada usus-ususnya. Arfandi harus mati di sebuah negara yang – setahu saya – tidak pernah disukainya. Deru revolusi di Amerika itu barangkali di mata Arfandi terkesan terlalu dibuat-buat, untuk menutupi pola penghancuran suku-suku Indian secara sadis.

Kabar tentang tanggal kematian Tan yang datang dari Harry A Poeze – yang beruntung saya undang ke Yayasan Harkat Bangsa Indonesia dan Universitas Paramadina untuk diskusi –, telah mengembalikan saya pada ingatan tentang Arfandi. Tan mati ketika revolusi telah mendekati titik akhir. Arfandi meninggal pada usia sangat muda dalam kebencian yang dalam pada penindasan.  Dan kita, generasi sekarang, terus bergulat dengan hidup yang tidak lagi puitis. Hidup tanpa revolusi. Hidup yang berputar-putar pada kekinian dan kedisinian… 


catatan Indra J Piliang

Dari Mutasi Kadisdik Bahari Hingga Angkat Bicaranya Sesepuh Minang Azwar Anas

Written By oyong liza on Rabu, 05 September 2012 | 12.29

                                            foto dokumentasi pribadi tgl 22 agustus 2012


hujan yg sangat lebat semalam membuat beberapa batang air melimpah dan terjadi genangan dijalan pintas cimparuah menuju kampung baru  yg membuat saya berbalik arah ketika mengantarkan anak kesekolah tadi pagi, curah hujan yg tinggi semalam entah apalah yg terjadi dilokasi kantor bupati baru diparit malintang kata beberapa sahabat dan senior  ketika memberikan informasi bahwa kadisdik kab pd pariaman Drs.Bahari MM dimutasi jadi kadis pariwisata ketika saya sarapan pagi dipalanta samping BPD.

dipalanta samping BPD PARIAMAN IKHWAL MUTASI juga menjadi perbincangan hangat oleh para politisi lapau. mutasi besar-2an yg dilakukan Pemkab Pd Pariaman yg berimbas juga pada BAHARI, mementahkan argumen beberapa orang
yg dulunya menyatakan bahwa Bahari tidak mungkin bisa digeser jabatannya dari Kadisdik mengingat ia sekampung dengan Bupati Ali Mukhni,  argumen tersebut terpatahkan dengan fakta barusan.

selagi saya asik membahas topik pilkada kota pariaman yg akan digelar pertengahan th 2013 Ferry Nugrah SH (pemimpin umum koran InvestigasiNews) datang bergabung dan memberikan informasi terbaru terkait dana yg terserap untuk pembangunan kantor bupati baru diparit malintang sudah Rp.78milliar ! saya minta saudara ferry untuk mencek dan memverifikasi kesahian informasi ini.. ferry berujar "serapan dana APBD PD PARIAMAN total rp 60 milliar ditambah dana DPID 18 milliar jadi total keseluruhan rp 78miliar" katanya meyakinkan saya.

polemik kantor bupati bukanlah politisasi media ujar saya dipalanta tersebut bersebab jika fakta berbicara , media sebagai pilar demokrasi ke-4 musti memblowup agar Pemkab mengkaji ulang penerusan bangunan tersebut karena ini akan menguras APBD PD PARIAMAN yg tidak sedikit, yg tentunya akan berimbas pada program-2 pemkab lainya yg juga perlu alokasi dana dari APBD.

sedang asik berbicara Bupati Ali Mukhni lewat dg mobil dinas toyota fortunernya sambil melambaikan tangan pada kami dengan wajah dingin. saya menyadari beban berat yg disandang bupati terkait polemik kantor bupati tersebut yg juga dikomentari sesepuh MINANG bapak AZWAR ANAS yg notabene mantan menteri dan Gubernur SUMBAR pada koran harian Padangekspres.

sebagai masyarakat yg peduli piaman saya berargumentasi dipalanta tersebut, sebaiknya sebelum dilanjutkan penambahan anggaran pembangunan kantor Bupati alangkah baiknya didatangkan tim ahli geoteknik independent untuk mengkaji secara keilmuan kondisi kekinian dan akan datang ikhwal kelayakan lokasi tersebut dijadikan ibukota kabupaten, jika ada Plan B yg lebih baik alangkah eloknya semuanya legowo begitu juga jika dinyatakan layak..dan mari kita hentikan polemiknya jika yg memvonis para ahlinya tersebut.

catatan oyong liza piliang

The Legend Tan Malaka sang Penggagas Republik Indonesia

Written By oyong liza on Sabtu, 04 Agustus 2012 | 10.02



Tan Malaka, Putra MinangKabau. Dilahirkan di Desa Pandang Gadang, Sumatera Barat pada bulan juni 1897. Nama lengkapnya adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka. Namanya seakan tenggelam dalam sejarah Republik ini. Kalah hebat dengan Hatta, Sjahrir, Soekarno. Tapi tahukah anda bahwa Tan Malaka adalah orang pertama yang menyampaikan gagasan Republik Indonesia. Pada tahun 1925 dia menulis ” Naar de Republiek Indonesia ( Menuju Republik Indonesia ). Tulisan ini melahirkan inspirasi bagi Muhammad Hatta yang menulis pada tahun 1928 ,berjudul ”Indonesia Vrije (Indonesia merdeka). Kemudian tahun 1933 Soekarno membuat tulisan ” menuju Indoensia Merdeka”

Sejarah mencatat tentang perlawanan Rakyat terhadap Jepang ketika paska kemerdekaan Indonesia,yang ketika itu para elite politik Indonesia masih ragu untuk berhadapan dengan Jepang. Namun Tan Malaka, bergerak dari bawah tanah menggiring massa dalam rapat akbar di lapangan Ikada untuk menyatakan perlawanan kepada jepang. Sejak peristiwa tu perlawanan terhadap jepang terjadi secara kolosal. Ada sebagian orang menuduh Tan Malaka sebagai Komunis tapi sebetulnya dia bukanlah Komunis seperti ajaran Stalin. 

Dia berbeda dengan Stalin. Dia Perantau, putra minang yang terdidik dalam keislaman.Hapal Al Quran. Membumikan adat minang dalam bersikap dan agama dalam bertindak. Alur dan Patut atau logika dan kepatutan adalah pola berpikirnya yang dikenal dengan MADILOG ( Materialisme, dialektika, logika ). Artinya logika dan dialektika bergantung pada materialisme, sebaliknya materialisme bersangkut paut dengan dialektika dan logika.

Pemikiran Tan Malaka amat berbeda dengan Marx atau Lenin karena ia menempatkan agama sebagai sesuatu yang un matter tetapi dengan jalan tak langsung MADILOG dapat menerangkan agama seperti obor listrik yang berdiri diluar dan tidak memasuki benda itu seluruhnya. Tan juga berpendapat masyarakat kita dari dulu ampai sekarang secara sosiologis maupun antropologis tak mungkin menjadi materialis seperti yang dialami barat yang otomatis marxisme adalah turunannya. 

Masyarakat Indonesia adala masyarakat yang selalu percaya akan adanaya kekuatan lain diluar dirinya yang menguasai alam serta isinya dan ini bersifat gaib. Hal itu ditunjukkan oleh Tan Malaka melalui berbagai kepercayaan, seperti animisme, dinamisme, dan agama Hindu, Budha, Kristen, Islam juga yang bermunculan dan dianut penduduk Nusantara. Selain itu, Tan Malaka juga menggaris bawahi bahwa penggunaan teori revolusi Marx hanyalah sebagai metode bukan sebagai dogma. Oleh karena itu, Marxisme bagi Tan Malaka harus dipahami dalam kerangka teoritis dan penerapannya amat tergantung pada kondisi masyarakat dimana ia tinggal. Ini dinyatakannya bahwa yang penting dari Marxisme adalah penerapan metode Marx berpikir, bukan menjalankan hasilnya cara berpikir.




Hubungannya dengan Partai Komunis lewat sahabatnya Sardjono-Alimin-Musso tidak bertahan lama. Ketika perbedaan strategi berjuang semakin melebar diantara mereka, Tan Malaka memilih untuk memisahkan diri dari PKI dan sahabatnya setelah meletus pemberontakan kaum buruh ditahun 1926 yang berhasil ditumpas habis oleh Belanda. Kemudian Paska Kemerdekaan, Tan Malaka bersama Kelompok Persatuan Perjuangan menyatakan diri berbeda pendapat ( oposisi ) dengan PM Sharir yang menerima perjanjian dengan Belanda. 

Tan Malaka menginginkan pengakuan kedaulatan penuh, sedangkan kabinet Sharir yang berkuasa hanya menuntut pengakuan kedaulatan atas Jawa dan Madura. Maka terjadilah Peristiwa 3 Juli 1946 yang merupakan kudeta terhadap kepemimpinan PM Sahrir. Tan Malaka ditangkap tanpa diadili selama 2,5 tahun dan baru dilepaskan setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin,.

Tentang sosok Tan Malaka, maka ini pendapat Prof. Moh. Yamin sejarawan dan pakar hukum kenamaan kita, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….” Tan Malaka gugur (hilang) pada tahun 1949 atau tepatnya bulan februari atau tiga bulan setelah dia membentuk Partai Murba ( 7 November 1948). Konon menurut cerita dia ditembak mati oleh tentara republiknya sendiri yang dia bela sampai mati. Dua puluh empat tahun setelah dia resmi hilang, barulah Pemerintah memberikannya gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional ( 28 maret 1963)

Tan Malaka adalah sekian dari tokoh legendaris bangsa ini. Tokoh yang berjuang dengan caranya. Akrab dengan kaum tertindas. Taat beragama. Pandai bersiasat namun tak pernah berkompromi dengan penjajah. Dia terlahir untuk menjadi petarung menegakan kalimat Allah untuk lahirnya keadilan di bumi pertiwi. Seumur hidupnya dihabiskan dalam pengorbanan dan derita tak terbilang untuk negeri yang dia cintai. Lantas apa yang bisa kita petik dari sosok Tan Malaka ? Keikhlasan berjuang dan berkorban untuk itu. Hakikat berjuang adalah demi tegaknya kemerdekaan politik dan ekonomi. Inilah yang harus kita teladani. Jangan sampai kemerdekaan melahirkan penjajahan baru ( neo-colonialism) dimana hak ekonomi rakyat tetap tertindas...

H ZAINAL BAKAR SH Telah Berpulang dan Kisah-Kisah yg Tak Terpublikasikan

Written By oyong liza on Selasa, 31 Juli 2012 | 10.10


              bpk gamawan fawzi menjenguk alm semasa sakit . image padang-today.com


terkejut saya ketika baru bangun pagi barusan, ketika bermula menghidupkan hp saya yg kebetulan merk blackberry. bertubi-tubi bunyi dentingannya. saya berkebiasaan mematikan hp diatas jam 1 malam dan baru menghidupkannya disaat saya bangun pagi, meskipun disaat sahur sekalipun.tak jarang orang yg betul-betul ada keperluan penting dikala waktu tersebut menghubungi saya kenomor privat alias datang ketempat dimana saya tinggal.


bbm yg berdenting mulanya dari sahabat saya dari Padang, kemudian dari bbm broadcasting yg ditandai dengan tulisan berwarna ungu. pesan bbm tersebut berbunyi "Innalillahi wainnaillahi rojiun..telah berpulang kerahmatullah bpk H.ZAINAL BAKAR SH (72) pukul 7.30wib selasa 31 juli di RS M JAMIL PADANG ".


Terkaget saya dibuatnya, saya langsung meyakini ikhwal kabar duka ini benar adanya setelah menghubungi kerabat almarhum yg berdomisili dipariaman ini. almarhum adalah mantan bupati pariaman (kala itu kota dan kab masih satu administrasi pemerintahan dan juga kepulauan mentawai). almarhum adalah bupati yg menjabat 2 periode berturut-turut, setelah itu almarhum juga menjabat GUBERNUR SUMBAR 1 PERIODE SEBELUM BPK GAMAWAN FAWZI (Kini Mendagri).


apa kenangan saya sama almarhum? secara langsung tidaklah ada.. namun ada sebuah cerita yg patut saya sampaikan disini, senior saya seorang tokoh pemuda yg sangat disegani dikota padang beberapa bulan yg lalu sebelum ramadhan sempat sepalanta dengan saya dikawasan pondok pecinan kota padang.


senior saya ini bernama broken ujang saraf. ia orang yg paling nekat selama ini yg pernah saya kenal, meskipun kini ia sudah berumur hampir 60 th jangan ditanya mental dan keras hatinya. ditahun 90an disaat rezim soeharto dimana tentara sangat ditakutkan ia malah memakuknya dengan lading.


dajang saraf adalah semacam adik saja oleh joelok (panggilan kami orang pariaman terhadap alm ZAINAL BAKAR). ada dikala musim durian semasa joelok masih menjabat gubernur, berduyun-duyun bupati dan walikota diwilayah sumbar ini mengantarkannya kerumah beliau, tak tanggung-tanggung berfuso-fuso kata dajang ketika itu.


oleh karena penuhnya halaman parkiran dirumah dinas gubernur semasa itu datanglah dajang ini kesana. dan berkata pada joelok " jo.. banyakna durian mah untuak siako?" dijawab alm "entah jang.. itu kiriman dari bupati yg tidak pernah saya memintanya, kalau ujang mau ambillah semua, jual dan uangnya buatkan rumah" kata joelok sebagaimana ia tuturkan kepada saya dan beberapa teman sepalanta lainnya,, dan dajang mengamini dan membawa durian yg ber fuso-fuso ini kepasar raya buat dijadikan uang..


benar adanya dan diakui dajang.. sekarang rumahnya sudah siap dan megah.. ia sangat bersyukur..dan hingga kapanpun tak kan pernah melupakan jasa almarhum..


selamat jalan joelok.. semoga ALLAH memberikan tempat yg layak disisinya..AMIEN..


Catatan Oyong Liza Piliang

Topik Terhangat

Paling Banyak Dibaca

postingan terdahulu