Menjemput Budi Pekerti


 Oleh: H. Leonardy Harmainy, S.iP, MH, Dt. Bandaro Basa, Mantan ketua DPRD Sumbar.


Sebuah tamparan yang menyakitkan terhadap nurani kita, setelah melihat tayangan video kekerasan oleh anak-anak berseragam Sekolah Dasar itu. Kita tersentak dan marah, entah kepada siapa harus ditunaikan. Inilah peringatan, lampu kuning terhadap moral dan martabat yang diagung-agungkan selama ini. Ternyata ada yang keliru dan terabaikan di tengah kesibukan menata kehidupan ummat agar hidup lebih baik.

Jika kita hendak merunut lebih dalam, ada banyak faktor yang telah membuat peristiwa kekerasan sesama anak-anak tersebut terjadi. Sesungguhnya, tak bisa lagi dilihat kasus per kasus saja. Ini persoalan bersama, bukan hanya sekedar tenaga pendidikan saja.


Kita akhirnya semakin yakin, pendidikan budi pekerti yang pernah ada, pada dasarnya tidak boleh hilang. Harus dihadirkan kembali. Dengung pendidikan karakter yang diharapkan belum menjawab tantangan berat moral anak bangsa. Tantangan itu datang dari berbagai penjuru, menyerang sendi kehidupan yang kita ketahui sarat adat budaya sopan santun.


Tantangan arus global dengan teknologi informasi, membuat semua benteng peradaban dan keadaban telah runtuh. Serupa dinding yang kuat dimakan rayap zaman. Teknologi informasi telah masuk ke rumah dan kamar tidur. Bayangkan, jika minimnya gerakan budaya budi pekerti, yang didasari kesiapan penanaman pendidikan agama kepada anak, akan hanyutlah generasi masa depan. Adat budaya Minangkabau itu akan lenyap, tinggal cerita.


Tantangan di atas terus menjadi pola hidup dan perilaku bergeser setelah mendapatkan informasi yang makin tak seimbang, antara pengetahuan moral, budi pekerti, dengan informasi negatif yang masif datang.  Akhirnya, kita tak bisa banyak berharap banyak lagi terhadap aplikasi model integrated learning, karena memang orientasi pendidikan yang diambil tak pernah memiliki fokus, kemana tunas-tunas muda ini nantinya. Sistem pendidikan nasional itu ternyata harus diakui telah berjalan sendirian. Tidak lagi ditopang oleh kebijakan strategis dari pemimpin-pemimpin formal maupun informal. Kalah oleh keadaan.


Jauh hari, hujjatul Islam, Al-Ghazali mengingatkan pentingnya budi pekerti bagi ummat. Budi pekerti itu akan lekat kuat, apa bila dipraktekkan, dipatuhi dan diyakini sebagai salah satu yang baik dan direstui sebagai jalan untuk keselamatan. Karenanya, perlu gerakan bersama yang masif kembali saling mengingatkan, saling menegakkan budaya malu, budaya sopan santun.


Persoalan hari ini adalah, godaan yang makin menggiurkan, dimana jalan pintas untuk mendapatkan keuntungan, kenikmatan, bisa dilakukan tanpa mempertimbangkan moral dan budi pekerti. Seakan-akan moral dan budi pekerti tersebut, sudah tak perlu lagi. Sekalipun disadari jalan pintas tersebut memiliki resiko yang besar.


Transformasi Budaya


Islam mengajarkan, agar setiap ummat saling mengingatkan dan menjaga, agar menjauhi api neraka, (Q.S:66.6). Ayat ini secara harfiah memiliki arti yang sangat jelas. Namun bila dirunut lebih jauh, ayat ini mengandung makna agar ummat memagari kehidupannya dari celaka kehidupan dunia dan akhirat. Inilah dimaksudkan dari pendahulu kita, pentingnya penguatan penguatan sistem kekerabatan, dari lingkaran terkecil, keluarga, orang tua, sangat dituntut dalam rangka menanggulangi kemerosotan moral dan budi pekerti anak.


Kini dengan kondisi yang makin cepat bergeser meninggalkan sikap yang melemahkan sistem komunal, kuatnya sistem individualisme dan materialisme, gerakan transformasi budaya harus segera dilakukan. Setiap elemen membangun sistem yang kuat, agar generasi muda selamat dari celaka budaya di masa depan.


Apa yang mesti dilakukkan? Hidupkan kembali budi pekerti di rumah, budi pekerti di masyarakat dan budi pekerti di sekolah. Tiga hal ini, harus ditopang dengan kebijakan makro dari pemerintah terkecil, hingga jenjang paling tinggi. Ini perlu juga kesadaran kolektif, yang bisa membuat krisis karakter bisa ditahan dan dibangun kembali.


Peran Aktif Semua


Atas semua itu, tingkat pendidikan orang tua untuk membangun kesadaran moral sangat menentukan. Kemerosotan ini disadari sebagai lemahnya fungsi dan peran aktif orang tua. Sebagai pintu pertama pengetahuan moral, orang tua juga harus diberi pendidikan melalui kebijakan strategis dari pemerintah.


Sekolah memang telah memberi pendidikan karakter, namun itu ternyata belum cukup. Hanya bisa sampai ke kognisi (pengetahuan), belum menjadi afeksi (sikap) dan psikomotorik (budaya). Beberapa kasus memang menunjukkan demikian. Kini waktunya berbenah, harus sampai pada tingkat afektif dan psikomotorik.


Lebih dari itu, peran masyarakat yang melemah harus diperkuat. Usaha menanggulangi kemerosotan adat budaya, budi pekerti, harus dikontrol melalui rasa malu yang tinggi. Di sinilah peran pemerintah, alim ulama, niniak mamak,cadiak pandai, mengayomi seluruh generasi.


Akhirnya, kesadaran kolektif terhadap rasa malu, sikap saling menghormati, harus ditumbuhkan sejak dini oleh orang tua, masyarakat dan pemerintah. Kemudian, lingkungan yang ramah,jauh dari kekerasan, adalah gerakan yang harus dilakukan sesegera mungkin. Mulai dari pemimpin paling tinggi di setiap lini, harus diingatkan setiap waktu, mereka memiliki kewajiban agar generasi baru hadir dengan kecemerlangan masa depan, bermodal akhlak dan budi pekerti yang tinggi. Percuma cerdas tapi licik, percuma pintar tapi culas, percuma hebat tapi bermoral bobrok.


Semoga kita meninggalkan generasi yang kuat dan bermartabat dengan persiapan sistem kehidupan yang lebih baik. Pangkal bala semua ini, yang harus diperiksa lebih serius, tingkat kemakmuran dan kesejahteraan ekonomi ummat, yang mempengaruhi tingkat pendidikan dan kehidupan yang teratur. Setiap kita adalah pemimpin, setiap kita bertanggung jawab untuk membawa ummat yang dipimpin untuk lebih baik. Jangan ada yang menjerit karena kepemimpinan kita, sebab itu awal dari sebuah kekacauan. Jangan pernah ada lagi kekerasan serupa tayangan di video itu. Menyakitkan, menampar nurani. 


Salam (LH).
Ketika Anas Malik Di Tanah Suci Dan Sertijab Pangdam Bukit Barisan

Pada medio 1983, alm,Kol Anas Malik, Mantan Bupati Padang Pariaman yang hingga kini masih ditauladani, Menunaikan Ibadah Haji ke Tanah suci Mekah. disana Anas Malik selain menunaikan Ibadah Haji juga menyempatkan diri menemui Jemaah asal Pariaman . hal tersebut ia lakukan dengan mencari dari kemah ke kemah.  beliau lakukan, untuk memastikan warganya dapat pelayanan yang baik disana ujar seorang perantau Riau asal Pariaman yang menghubungi saya via telpon," alangkah bangganya kami dikunjungi Bupati. beliau menanyakan mulai dari kesehatan hingga makanan kami kala itu." Ujar sang Bapak tersebut yang saya lupa namanya via telpon .

Hal tersebut dibenarkan oleh Putri alm Anas Malik, Ilya Rosa, " Papa selalu begitu, sangat memperhatikan (warga piaman). malah Papa ( Anas Malik ) dikala musim Haji tahun 1983 itu sempat jadi Inspektur Upacara Hari kemerdekaan di Kedutaan Mina. kebetulan Musim Hajinya bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus." Ujar Ilya yang kala itu bersama suaminya Leonardy Harmainy,Sip,MH Dt Bandaro Basa di Rumah Makan Pauh Raya Pariaman beberapa hari yang lalu.
 

Ilya menukuk " Banyak perihal tentang Papa yang belum diketahui Publik, Papa suka menulis Diary, nanti saya usahakan mendapatkan Copiannya untuk bahan tulisan Oyong." Ujar Ilya sembari makan dengan sendok.matanya sesekali menerawang,kuat dugaan saya ia mencoba mengingat-ingat kenangan bersama Almarhum." Dulu ada kisah Lucu ketika Mayjen Soeripto jadi Pangdam Baru Bukit Barisan. Papa diundang pada pelantikan tersebut ." Ujar Ilya ." Soeripto adalah mantan bawahannya dulu yang pernah dihukum Disiplin Hormat bendera dari pukul 10 hingga jam 6 sore."

"Kala itu Papa terlambat karena beberapa hal. Soeripto belum mau memulai upacara sebelum Papa datang." Ujar Ilya menerangkan." Sesampainya Papa disana langsung disambut Soeripto,Papa belum tau siapa nama Pangdam. papa berujar ketika disalami Soeripto 'ngapain kamu disini SOERIPTO ? sudah kenal dengan Pangdam ?" ujar Ilya menirukan." Saya menunggu Bapak, jawabnya sembari mempersilahkan Papa duduk dan tak menjawab bahwa dirinyalah sang Pangdam baru."

Papa baru tau setelah Sertijab dilakukan., " Soeripto berpidato kala itu tentang Papa setelah Sertijab, dia berujar sangat bersyukur pernah menjadi Anak Buah Papa, dia mengakui Papa adalah gurunya yang mendidik dengan Tegas demi kebaikan, dia berujar takkan pernah saya berdiri berpidato disini tanpa gemblengan disiplin atasan saya Anas Malik.saya pernah dijemur dari Pagi hingga Sore oleh Beliau." Ujar Ilya, hal tersebut dia ketahui karena Anas Malik menceritakan kejadian tersebut dirumah." Papa dengan enteng menjawab, kan Papa tidak tau dia Pangdam? ketika kami tanya kenapa Papa menanyakan ke Pangdam 'ngapain kamu disini?". Ujar Ilya tertawa mengingat kisah tersebut.
 

Dalam kesempatan itu Leonardy juga menambahkan satu hal, " Bandara BIM, dulu Beliau yang merintis bersama Gubernur AZWAR ANAS. " ujar Leonardy yang dibenarkan oleh Tokoh Masyarakat,Artagnan, ketika saya verifikasi ," Benar, Anas Malik lah yang merintis Bandara Katapiang." ujanya merinci secara mendalam baik ihwal pembebasan tanah dan Master Planingnya." Setelah di Matangkan Anas Malik, barulah pengerjaannya dilakukan oleh Bupati dibawahnya " imbuh Artagnan yang juga seorang sejarawan ini.

Banyak Hal tentang Anas Malik, mancaragam cerita Faktual teladan yang musti digali dan terus ditulis agar dapat jadi contoh bagi kita tentang arti dari sebuah kepemimpinan . kerinduan akan sosok pemimpin semacam beliau adalah dambaan kita semua untuk memimpin Kota Pariaman ini kedepan.


catatan Oyong Liza Piliang
Ilya Rosa Anas Malik : Agar Keluar Pintu Kepala Papa Selalu Tegak

Menjawab tantangan Indra J Piliang (IJP) Untuk menulis literatur Alm Kol Anas Malik, Tokoh besar peletak pondasi Pembangunan Pariaman, saya terima dengan semangat Jihad.

H.David (Anto Barat), senior sekaligus tokoh pemuda Sumbar, bersama Senior Lainnya dan sahabat dalam Organisasi Pemuda Pancasila Sumbar, mengajak saya menjemput H,Leonardy Harmainy Dt Bandaro Basa Dibandara BIM sepulang dari tanah suci menunaikan ibadah Haji untuk yang kesekian kalinya. Leonardy adalah menantu dari Alm Kol Anas Malik yang memperistri Putri kelimanya Ilya Rosa Anas Malik (53th).Leonardy juga Ketum Pemuda Pancasila Sumbar 3 periode berturut-turut, sekarang masa bakti 2012-2017.

Setelah sekian lama menunggu di Bim,Pesawat Garuda Mendarat. saya yang datang bersama Ferry Nugrah (pemimpin umum koran InvestigasiNews) dari Pariaman, langsung menuju kediaman Leonardy di Ulak karang, diiringi konvoi kendaraan Loreng orange ciri Khas Ormas kami. kami makan siang disini, bercengkrama dan tentu saja sekalian mengucapkan selamat pada sang Ketua Semoga jadi Haji yang Mabrur.

Dirumah ini, Ilya Rosa Anas Malik mengaku acap membaca tulisan saya, dan langsung saya todong dengan pertanyaan seputar alm Anas Malik , sosok yang sangat dikagumi, diteladani hampir semua orang dimana saya berdiskusi tentang Integritas seorang pemimpin. bila pembaca baru baru kali ini membaca tulisan saya tentang Anas Malik, ada baiknya membaca tulisan saya sebelumnya tentang almarhum yang ada dikolom kategori, lalu pilih Anas Malik.

Banyak harta berharga yang tak bisa ditakar dengan materi yang ditinggalkan Anas Malik kepada putrinya ini, Ilya berujar disuatu saat, meminta,"Papa, kenapa kita tidak membeli mobil? sebagaimana orang lainnya?",pertanyaan Ilya diawal tahun 80an semasa Anas Malik masih menjabat sebagai Bupati Pd Pariaman. dengan tenang Almarhum menjawab,"Papa ingin keluar Rumah dengan kepala tegak, kita wajib bersyukur dengan apa yang kita miliki" demikian jawaban Anas Malik kala itu. Almarhum yang pernah menjabat DANDIM BEKASI sebelumnya , memang terkenal BerIntegritas tinggi, pernah suatu ketika Almarhum membantu dengan ikhlas seorang pengusaha keturunan namun entah kenapa bersebab datanglah orang suruhan Pengusaha tersebut memberikan Kunci Mobil baru, Anas Malik tersinggung, sipesuruh tersebut langsung ia tampar dan berkirap dari rumahnya dengan mobil barunya tersebut."kami bangga kepada Papa , orang yang kepalanya selalu tegak karena tak pernah mau disuap dalam bentuk apapun" ujar Ilya, sepotong wajah sendu tersirat dari wajah sang anak seakan mengenang masa lalunya dengan sang Ayah tercinta.

Alm Kol Anas Malik, hingga kini belum tergantikan , baik kefokusannya dalam memajukan Pariaman juga sebagai contoh Tokoh Panutan yang sulit dicarikan tandingannya di Sumatera Barat, Ia menolak ditawari jadi Walikota Jakarta (bagian wilayahnya ibu Ilya Lupa), karena ingin pulang kampung ingin membangun dan mengangkat peradaban tanah leluhurnya ini, hal itupun setelah dikuatkan tekadnya oleh Ayahandanya sendiri yang dipanggil Ilya dengan sebutan Ungku Malik.beruntunglah Anas Malik mendapat Pendamping hidup yang seidealisme, seorang istri yang tidak pernah mengeluh bernama Yuwita (81th). ibu Yuwita sekarang masih hidup dan berdomisili diJakarta. semasa jadi Istri Bupati, sebagai penambah penghasilan, Juwita juga menjahit Daster, kemeja dan kerajinan tangan lainnya, dijual untuk menutupi kekurangan gaji suami sebagai Bupati, beda betul dengan istri pejabat sekarang yang kebanyakan matrealistis dan Hedonis yang bikin kita miris bahkan bengis.

tak ada harta benda yang ditinggalkan Anas Malik Untuk anak-anak dan cucu-cucunya, rumah dinasnya pun sekarang terancam diambil negara kata Ilya,"bagi kami tidak apa-apa, saya ingat semasa papa dihadiahi parcel disaat hari-hari besar, semuanya dibagikan ketetangga kami dilingkungan komplek ABRI tersebut." ujar Ilya dengan mata berbinar.

apa yang Anas Malik dapat dari Negara sekarang ini? rumah dinaspun mau disita negara! sungguh tak sebanding dengan apa yang telah ia perbuat untuk negara ini,Pariaman ini.adakah kita membesarkan namanya semacam Gedung Olahraga yang dulu hampir disematkan namanya namun karena ke egoisan beberapa kalangan tak terealisasi, adakah kita melihat bukunya terbit?adakah kita terpikir untuk mengangkat namanya secara Nasional? diusulkan jadi pahlawan? bersebab karena ialah "Abri masuk Desa" berubah menjadi "Manunggal Bakti" secara Nasional.

Panglima Abri M Yusuf kala itu tanpa egois datang KePariaman ini untuk menyematkan Pangkat militer Kolonel Dipundaknya, karena dianggap perwira terbaik dimasanya, dan hanya sekali terjadi dalam sejarah Negara Indonesia ini berdiri seorang Jenderal mengantarkan Pangkat kedaerah,, dan kita wajib bersyukur bahwa putra terbaik itu, yang meninggal diusia 63 tahun, seusia Rasulullah Mangkat, adalah Putra asli Pariaman ini..

catatan Oyong Liza Piliang
Kabar-Kabar Tan

Tan Malaka sungguh percaya pada Tuhan. Tan juga cinta pada ibunya. Jejak pikiran Tan berhulu pada ibunya. Lelaki-lelaki Minang memang merasa selalu dikutuk menjadi Malin Kundang oleh ibunya, hingga menjadi batu, apabila lupa pada ibu. Guna menghindari itu, lelaki-lelaki Minang membawa garis keturunan ibunya pada tali darahnya. Lelaki-lelaki yang berubah menjadi pemberang, apabila menemukan ada perlakuan tidak wajar pada ibu, sekaligus ibu pertiwi.

Tan berjalan ke banyak tempat: Belanda, China, Singapura, dan lain-lain. Ia juga mengirim surat-surat ke Moscow, markas besar Komunis Internasional (Cominteren). Ia menolak perintah Moscow untuk memberontak  pada tahun 1926. Makanya, Muhammad Hatta mengatakan Tan berpunggung lurus, hingga tidak bisa membungkuk kepada Stalin.

Ketika film Gie membawa gairah dalam kehidupan kaum muda dan remaja beberapa waktu lalu, mulai terlihat adanya kaum muda idealis dalam wujud parlente. Gie adalah generasi aktivis yang gagal menyeberangi zaman peralihan. Ia masuk ke lorong-lorong kelas sejarah, tetapi mengalami kekecewaan atas situasi kekinian yang dia hadapi. Ia mengadu kepada gunung, lalu asap beracun dari gunung itu juga yang membawa pergi nyawanya dan sekaligus abu jenazahnya.

Dengan Gie, gejolak kaum muda idealis mulai bisa mendapat wadah yang tepat. Tetapi, Gie tidak menghasilkan gagasan-gagasan perubahan. Gie sama dengan Ahmad Wahid yang banyak mengkritik. Ibaratnya, dengan Gie dan Wahib, kaum muda menjadi lebih kritis, curiga pada apapun, terutama kemapanan dan keprofanan. Wahib juga mati muda ketika mengalami kecelakaan di kawasan Senen. Ia sempat ditolong gelandangan, kelompok yang paling dibelanya.

Tetapi, sekadar kritikan saja tidak cukup untuk menggerakkan atau mengubah sebuah bangsa. Gie dan Wahid belum banyak memikirkan bangsa, apalagi dalam tatanan regional dan global, secara sistematis. Yang memikirkan itu adalah Tan Malaka,  sebelum Republik Indonesia dibentuk. Buku-bukunya dibaca diam-diam, karena Tan dikejar oleh intel-intel polisi kolonial. Tan bahkan mendirikan sekolah-sekolah non pemerintah di Semarang. Ia menulis juga tentang massa aksi. Dengan jembatan keledai Materialisme Dialektika dan Logika, ia sembunyikan buku-buku kutipan dalam pikiran.

Pada masa Orde Baru, buku-buku Tan juga dilarang. Para mahasiswa harus membacanya diam-diam. Pembaca buku Tan juga takut dicokok oleh intel-intel polisi atau yang pura-pura jadi intel untuk diperas keluarganya. Dengan cara itu, Tan terkubur, menempuh jalan lengang, berikut seluruh buku-buku yang ditulisnya atau buku-buku tentang dia. Tapi, bagi pengagumnya, tentu buku-buku itu hanya disimpan dalam peti-peti tertutup, pada loteng-loteng gudang, atau di tempat-tempat yang sulit dilacak.

Cara orang-orang menyembunyikan buku Tan atau tentang Tan barangkali tidak kalah misteriusnya dengan cara Tan menyembunyikan naskah bukunya pada ruas-ruas bambu di kakus gubuk tempat tinggalnya, di Kalibata, dulu.

***

Harry A Poeze, seseorang yang mengabdikan hidupnya untuk mencari informasi apapun tentang Tan, telah datang membawa kabar. Tan tidak dibunuh atau disuruh bunuh oleh Kelompok Sutan Syahrir atau kelompok Muhammad Hatta, sebagaimana sempat digembar-gemborkan. Ketiganya jelas saling kenal-mengenal dalam raga, pikiran dan kebudayaan. Bagaimana mungkin mereka saling bunuh? Tan ditembak mati pasukan Batalyon Sikatan pimpinan Letnan Dua Soekotjo pada 21 Februari 1949.

Apa motif penembakan Tan? Revolusi, manusia dalam revolusi. Tan yang bergerilya dan sempat mengumpulkan pendukung atas nama Merdeka 100%, jelas menjadi korban dari propaganda di kalangan elite. Soekarno dan Hatta yang lebih memilih meja perundingan, telah mendapat perlawanan dari kelompok-kelompok pejuang lain, termasuk Jenderal Soedirman yang memutuskan pergi ke hutan. Maka, Soedirman sempat mendukung Persatuan Perjuangan pimpinan Tan.

Soliditas internal kalangan elite tentu tergoncang oleh keuletan propaganda Tan yang keras melawan kolonialisme. Dimanapun ada kolonialisme, Tan datang dan melawannya. Tidak salah kalau Harry A Poeze menyebut Tan sebagai “Che Guevara Asia”.

Lalu, di pelosok-pelosok desa di tanah Jawa – sebagai pusat kolonialisme terlama dan terbesar –, perseteruan biasa di kalangan elite pergerakan itu diterjemahkan sebagai permusuhan antar elite. Tan masuk kategori kelompok kiri yang lantas diberangus. Terjemahannya adalah hukuman mati. Bukan Letnan Dua Soekotjo yang sempat menjadi Walikota Surabaya itu yang harus dilsalahkan, apalagi perseteruan di kalangan elite, tetapi sikap setelah Tan mati. Ia diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional, tetapi foto-fotonya jarang ditampakkan dalam buku-buku sejarah. Kuburan dan tulang-belulangnyapun tidak dicari.

***

Bagi generasi kini, Tan tentu sulit dikenali lagi. Buku-buku yang ditulisnya atau buku-buku tentang dia, sudah begitu mudah didapatkan. Tetapi, semakin mudah mendapatkan buku-buku itu, semakin kabur gambar Tan. Mengapa? Barangkali karena nilai romantika atas buku itu hilang. Membaca buku, tanpa romantika, bagai menelan sepiring nasi tanpa sambal.

Dulu, saya diperkenalkan kepada buku Dari Penjara Ke Penjara oleh seseorang yang bernama Arfandi Lubis. Sekalipun bermarga Batak, ia fasih berbahasa Minang. Ia menemani, dengan setia, tanpa intimidasi, dalam kegiatan inisiasi jurusan yang saya ikuti di kawasan Puncak, Jawa Barat. Dalam dingin malam, ketika saya direndam di sungai pada waktu dini hari, Arfandi terus membongkar cara berpikir saya tentang banyak hal.

Dan pelan, Arfandi selalu bertanya, sudah sampai bab berapa saya membaca buku itu. Sebagai mahasiswa baru, saya tentu menjelaskan bagian-bagian yang sudah saya baca dan corat-coret. Saya lupa, apakah pernah mengembalikan buku itu. Yang jelas, buku berwarna merah itu sudah penuh dengan coretan dan lipatan.

Pada satu malam, saya bertemu Arfandi di gedung bioskop Lenteng Agung. Waktu itu, bersama dengan teman-teman aktivis majalah pers mahasiswa, kami berniat menonton film yang sempat dilarang, tapi boleh diputar kemudian: Yang Muda Yang Bercinta. Arfandi yang setahu saya selalu ditemani mahasiswi-mahasiswi cantik – mungkin karena daya pikat kecerdasan dan idealismenya—bercerita bahwa ia sedang menghadapi usus-ususnya yang dirayapi penyakit.  Itu pertemuan terakhir saya dengan Arfandi.

Beberapa waktu kemudian, saya mendengar kabar, Arfandi meninggal di Amerika Serikat dalam upaya mengobati penyakit kanker pada usus-ususnya. Arfandi harus mati di sebuah negara yang – setahu saya – tidak pernah disukainya. Deru revolusi di Amerika itu barangkali di mata Arfandi terkesan terlalu dibuat-buat, untuk menutupi pola penghancuran suku-suku Indian secara sadis.

Kabar tentang tanggal kematian Tan yang datang dari Harry A Poeze – yang beruntung saya undang ke Yayasan Harkat Bangsa Indonesia dan Universitas Paramadina untuk diskusi –, telah mengembalikan saya pada ingatan tentang Arfandi. Tan mati ketika revolusi telah mendekati titik akhir. Arfandi meninggal pada usia sangat muda dalam kebencian yang dalam pada penindasan.  Dan kita, generasi sekarang, terus bergulat dengan hidup yang tidak lagi puitis. Hidup tanpa revolusi. Hidup yang berputar-putar pada kekinian dan kedisinian… 


catatan Indra J Piliang
The Legend Tan Malaka sang Penggagas Republik Indonesia


Tan Malaka, Putra MinangKabau. Dilahirkan di Desa Pandang Gadang, Sumatera Barat pada bulan juni 1897. Nama lengkapnya adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka. Namanya seakan tenggelam dalam sejarah Republik ini. Kalah hebat dengan Hatta, Sjahrir, Soekarno. Tapi tahukah anda bahwa Tan Malaka adalah orang pertama yang menyampaikan gagasan Republik Indonesia. Pada tahun 1925 dia menulis ” Naar de Republiek Indonesia ( Menuju Republik Indonesia ). Tulisan ini melahirkan inspirasi bagi Muhammad Hatta yang menulis pada tahun 1928 ,berjudul ”Indonesia Vrije (Indonesia merdeka). Kemudian tahun 1933 Soekarno membuat tulisan ” menuju Indoensia Merdeka”

Sejarah mencatat tentang perlawanan Rakyat terhadap Jepang ketika paska kemerdekaan Indonesia,yang ketika itu para elite politik Indonesia masih ragu untuk berhadapan dengan Jepang. Namun Tan Malaka, bergerak dari bawah tanah menggiring massa dalam rapat akbar di lapangan Ikada untuk menyatakan perlawanan kepada jepang. Sejak peristiwa tu perlawanan terhadap jepang terjadi secara kolosal. Ada sebagian orang menuduh Tan Malaka sebagai Komunis tapi sebetulnya dia bukanlah Komunis seperti ajaran Stalin. 

Dia berbeda dengan Stalin. Dia Perantau, putra minang yang terdidik dalam keislaman.Hapal Al Quran. Membumikan adat minang dalam bersikap dan agama dalam bertindak. Alur dan Patut atau logika dan kepatutan adalah pola berpikirnya yang dikenal dengan MADILOG ( Materialisme, dialektika, logika ). Artinya logika dan dialektika bergantung pada materialisme, sebaliknya materialisme bersangkut paut dengan dialektika dan logika.

Pemikiran Tan Malaka amat berbeda dengan Marx atau Lenin karena ia menempatkan agama sebagai sesuatu yang un matter tetapi dengan jalan tak langsung MADILOG dapat menerangkan agama seperti obor listrik yang berdiri diluar dan tidak memasuki benda itu seluruhnya. Tan juga berpendapat masyarakat kita dari dulu ampai sekarang secara sosiologis maupun antropologis tak mungkin menjadi materialis seperti yang dialami barat yang otomatis marxisme adalah turunannya. 

Masyarakat Indonesia adala masyarakat yang selalu percaya akan adanaya kekuatan lain diluar dirinya yang menguasai alam serta isinya dan ini bersifat gaib. Hal itu ditunjukkan oleh Tan Malaka melalui berbagai kepercayaan, seperti animisme, dinamisme, dan agama Hindu, Budha, Kristen, Islam juga yang bermunculan dan dianut penduduk Nusantara. Selain itu, Tan Malaka juga menggaris bawahi bahwa penggunaan teori revolusi Marx hanyalah sebagai metode bukan sebagai dogma. Oleh karena itu, Marxisme bagi Tan Malaka harus dipahami dalam kerangka teoritis dan penerapannya amat tergantung pada kondisi masyarakat dimana ia tinggal. Ini dinyatakannya bahwa yang penting dari Marxisme adalah penerapan metode Marx berpikir, bukan menjalankan hasilnya cara berpikir.




Hubungannya dengan Partai Komunis lewat sahabatnya Sardjono-Alimin-Musso tidak bertahan lama. Ketika perbedaan strategi berjuang semakin melebar diantara mereka, Tan Malaka memilih untuk memisahkan diri dari PKI dan sahabatnya setelah meletus pemberontakan kaum buruh ditahun 1926 yang berhasil ditumpas habis oleh Belanda. Kemudian Paska Kemerdekaan, Tan Malaka bersama Kelompok Persatuan Perjuangan menyatakan diri berbeda pendapat ( oposisi ) dengan PM Sharir yang menerima perjanjian dengan Belanda. 

Tan Malaka menginginkan pengakuan kedaulatan penuh, sedangkan kabinet Sharir yang berkuasa hanya menuntut pengakuan kedaulatan atas Jawa dan Madura. Maka terjadilah Peristiwa 3 Juli 1946 yang merupakan kudeta terhadap kepemimpinan PM Sahrir. Tan Malaka ditangkap tanpa diadili selama 2,5 tahun dan baru dilepaskan setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin,.

Tentang sosok Tan Malaka, maka ini pendapat Prof. Moh. Yamin sejarawan dan pakar hukum kenamaan kita, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….” Tan Malaka gugur (hilang) pada tahun 1949 atau tepatnya bulan februari atau tiga bulan setelah dia membentuk Partai Murba ( 7 November 1948). Konon menurut cerita dia ditembak mati oleh tentara republiknya sendiri yang dia bela sampai mati. Dua puluh empat tahun setelah dia resmi hilang, barulah Pemerintah memberikannya gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional ( 28 maret 1963)

Tan Malaka adalah sekian dari tokoh legendaris bangsa ini. Tokoh yang berjuang dengan caranya. Akrab dengan kaum tertindas. Taat beragama. Pandai bersiasat namun tak pernah berkompromi dengan penjajah. Dia terlahir untuk menjadi petarung menegakan kalimat Allah untuk lahirnya keadilan di bumi pertiwi. Seumur hidupnya dihabiskan dalam pengorbanan dan derita tak terbilang untuk negeri yang dia cintai. Lantas apa yang bisa kita petik dari sosok Tan Malaka ? Keikhlasan berjuang dan berkorban untuk itu. Hakikat berjuang adalah demi tegaknya kemerdekaan politik dan ekonomi. Inilah yang harus kita teladani. Jangan sampai kemerdekaan melahirkan penjajahan baru ( neo-colonialism) dimana hak ekonomi rakyat tetap tertindas...

H ZAINAL BAKAR SH Telah Berpulang dan Kisah-Kisah yg Tak Terpublikasikan

              bpk gamawan fawzi menjenguk alm semasa sakit . image padang-today.com


terkejut saya ketika baru bangun pagi barusan, ketika bermula menghidupkan hp saya yg kebetulan merk blackberry. bertubi-tubi bunyi dentingannya. saya berkebiasaan mematikan hp diatas jam 1 malam dan baru menghidupkannya disaat saya bangun pagi, meskipun disaat sahur sekalipun.tak jarang orang yg betul-betul ada keperluan penting dikala waktu tersebut menghubungi saya kenomor privat alias datang ketempat dimana saya tinggal.


bbm yg berdenting mulanya dari sahabat saya dari Padang, kemudian dari bbm broadcasting yg ditandai dengan tulisan berwarna ungu. pesan bbm tersebut berbunyi "Innalillahi wainnaillahi rojiun..telah berpulang kerahmatullah bpk H.ZAINAL BAKAR SH (72) pukul 7.30wib selasa 31 juli di RS M JAMIL PADANG ".


Terkaget saya dibuatnya, saya langsung meyakini ikhwal kabar duka ini benar adanya setelah menghubungi kerabat almarhum yg berdomisili dipariaman ini. almarhum adalah mantan bupati pariaman (kala itu kota dan kab masih satu administrasi pemerintahan dan juga kepulauan mentawai). almarhum adalah bupati yg menjabat 2 periode berturut-turut, setelah itu almarhum juga menjabat GUBERNUR SUMBAR 1 PERIODE SEBELUM BPK GAMAWAN FAWZI (Kini Mendagri).


apa kenangan saya sama almarhum? secara langsung tidaklah ada.. namun ada sebuah cerita yg patut saya sampaikan disini, senior saya seorang tokoh pemuda yg sangat disegani dikota padang beberapa bulan yg lalu sebelum ramadhan sempat sepalanta dengan saya dikawasan pondok pecinan kota padang.


senior saya ini bernama broken ujang saraf. ia orang yg paling nekat selama ini yg pernah saya kenal, meskipun kini ia sudah berumur hampir 60 th jangan ditanya mental dan keras hatinya. ditahun 90an disaat rezim soeharto dimana tentara sangat ditakutkan ia malah memakuknya dengan lading.


dajang saraf adalah semacam adik saja oleh joelok (panggilan kami orang pariaman terhadap alm ZAINAL BAKAR). ada dikala musim durian semasa joelok masih menjabat gubernur, berduyun-duyun bupati dan walikota diwilayah sumbar ini mengantarkannya kerumah beliau, tak tanggung-tanggung berfuso-fuso kata dajang ketika itu.


oleh karena penuhnya halaman parkiran dirumah dinas gubernur semasa itu datanglah dajang ini kesana. dan berkata pada joelok " jo.. banyakna durian mah untuak siako?" dijawab alm "entah jang.. itu kiriman dari bupati yg tidak pernah saya memintanya, kalau ujang mau ambillah semua, jual dan uangnya buatkan rumah" kata joelok sebagaimana ia tuturkan kepada saya dan beberapa teman sepalanta lainnya,, dan dajang mengamini dan membawa durian yg ber fuso-fuso ini kepasar raya buat dijadikan uang..


benar adanya dan diakui dajang.. sekarang rumahnya sudah siap dan megah.. ia sangat bersyukur..dan hingga kapanpun tak kan pernah melupakan jasa almarhum..


selamat jalan joelok.. semoga ALLAH memberikan tempat yg layak disisinya..AMIEN..


Catatan Oyong Liza Piliang