[Tajuk] Memanen Puji di Arena MTQ

Pantaikata --- Target dan capaian Kota Pariaman selaku tuan rumah MTQ ke-37 Sumbar terlampaui. Sukses sebagai penyelenggara dan peserta kini dirayakan oleh segenap warga Pariaman, baik yang ada di ranah maupun perantauan. Tak lupa postingan-postingan bangga para netizen di pelbagai media sosial.

MTQ Sumbar ke-37 juga melambungkan nama Pantai Kata sebagai destinasi wisata yang benar-benar ditata berkonsep religius. Pantai Kata yang sukses memikat kafilah, ofisial dan tamu luar daerah, agaknya kembali digunakan dalam ajang MTQ Nasional 2020 yang rencananya diselenggarakan di provinsi Sumatera Barat.

Kota Pariaman yang menargetkan lima besar, tanpa disangka berhasil meraih posisi juara umum dua di bawah kota Padang yang meraih 101 poin. Pariaman dengan 52 poin di kantong, diikuti oleh kakaknya Padangpariaman di posisi ketiga yang meraih 47 poin.

Dalam acara penutupan MTQ Sumbar di Pantai Kata, Jumat malam (10/11), Walikota Pariaman Mukhlis Rahman mengatakan pentingnya MTQ dalam syiar agama Islam. Perhelatan MTQ yang berbiaya miliaran rupiah, ia nilai membawa banyak manfaat bagi umat muslim Pariaman. MTQ telah membawa pengaruh positif dalam tatanan sosial masyarakat yang tengah bergejolak seiring perkembangan pesat teknologi informasi yang tidak bisa dibendung.

Kesuksesan MTQ ke-37 Sumbar di Pariaman juga tak terlepas dari kebijakan pemerintah Pariaman seperti magrib mengaji dan subuh mubarokah.

Dari data yang dirilis Ketua Pengawas MTQ Nasional tingkat Sumbar di Pariaman, Maswar, selama penyelenggaraan MTQ di Pariaman pihaknya tidak ada menerima laporan dari kontingen luar Pariaman terkait pelayanan. Baik di pemondokan, penginapan, rumah warga, hingga transportasi kafilah dan ofisial.

Pengawas MTQ Sumbar bahkan menilai MTQ di Pariaman merupakan yang terbaik dari segi penyelenggaraan. Pihaknya akan bersikeras mengusulkan Pariaman menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan MTQ tingkat nasional di Sumbar tahun 2020 yang sedang dalam pengusulan.

Dari pantauan di lapangan dan sejumlah keterangan, warga Pariaman bangga menjadi tuan rumah MTQ di banding acara lainnya: TdS dan Triathlon. Warga yang rumahnya dihuni para kafilah bahkan mengaku tidak mencari keuntungan uang semata dari sewa. Banyak dari pemilik rumah menganggap kafilah dan ofisial seperti sanak keluarga dengan perlakuan yang sama. Dengan kepulangan kafilah ke daerahnya masing-masing, warga Pariaman merasa kehilangan, namun memiliki sanak saudara baru yang patut dikunjungi suatu saat.

MTQ Sumbar di Pariaman juga memperlihatkan keompakan warga Pariaman sesungguhnya kepada publik Sumbar. Warga Pariaman di perantauan tidak hanya ikut mendukung, namun juga partisipatif.

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit juga patut dipuji. Ia berhasil mewakil Gubernur Irwan Prayitno yang selalu absen karena dinas luar. Ia selalu hadir saat pembukaan dan penutupan. Orang nomor dua di Sumbar itu memuji konsep penyelenggaraan bertema wisata pada MTQ ke-37, yang satu dua kali menuai kritik. Ia bahkan menyaru daerah lain meniru inovasi Pariaman.

MTQ Sumbar di Pariaman juga menyajikan hal-hal anyar seperti penerapan aplikasi e-MTQ yang belum pernah ada.

Selain inovasi pada penyelenggaraan, MTQ ke-37 Sumbar di Pariaman kembali melambungkan nama Mukhlis-Genius sebagai pasangan kepala daerah berkinerja mumpuni. Citra kedua orang itu meninggi di tengah isu pecah kongsi.

Alamat pujian juga datang kepada Kakankemenag Pariaman Muhammad Nur. Mantan di Bukittinggi, pulang kampung ke Pariaman, ia buktikan dengan prestasi. M Nur tidak terlepas dari suksesnya penyelenggaraan MTQ di Pariaman. Mantan Ketua KNPI Pariaman itu mampu menempatkan diri dengan baik sebagai bagian dari tim kerja.

MTQ Pariaman yang sukses dalam prestasi dan penyelenggaraan, merupakan kabar baik bagi Pariaman yang akan menghelat berbagai lomba lainnya di waktu yang akan datang. Kerjasama tim, terbukti berbuah besar di banding jalan sendiri-sendiri. (OLP)
Tajuk: Politik Sosmed
Ilustrasi. Foto: istimewa
Salah satu kelemahan pemilihan langsung (popular vote) menjadikan masyarakat terkelompok. Pemilihan langsung dengan barisan pendukung, acap pula bersitegang dengan barisan pendukung lain.

Jika dulu perang urat syaraf antar pendukung kisaran debat terbatas, di zaman revolusi digital bergeser ke perdebatan terbuka di pelbagai ranah media sosial. Facebook, Twitter, WhatsAp, dan aplikasi sejenisnya menjadi medan terbuka perang opini dan propaganda.

Aksi saling sindir menyindir, saling mencibir hingga melontarkan isu yang condong mendiskreditkan pribadi seseorang, terlontar begitu saja di sosial media (sosmed). Entah itu presiden selaku simbol negara, gubernur, bupati/walikota hingga kepala desa, lumrah kita lihat jadi subjek cemoohan.

Revolusi digital dengan pesatnya media sosial tidak diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) penggunanya. Padahal, cermat sedikit, sedikit kalimat yang diguratkan di akun sosial media akan cepat menyebar diketahui orang banyak, bak bersorak di tengah gelanggang massa dengan pengeras suara.

Fenomena itu menjadi persoalan berat bagi bangsa kita. Sedikit-sedikit ribut, sedikit-sedikit heboh oleh kabar hoax dan berujung aksi demo dan semacamnya. Pertaruhannya tentu stabilitas nasional, persekusi, pengucilan bahkan gesekan horisontal.

Kini, media sosial menjadi sarana efektif berkampanye. Mulai dari kampanye simpatik, abu-abu hingga hitam pundam. Media sosial sebagai wadah berkumpulnya lautan manusia tanpa sekat ruang dan waktu, minim pengawasan. Polisi siber hanya membackup isu-isu besar saja. Sedangan isu-isu tingkat daerah terkait stabilitas kemanan daerah--saat pesta demokrasi---hampir tidak tertangani. Liarlah bola itu di gelanggang berkanji.

Mencermati Pilkada Kota Pariaman yang akan datang sebentar lagi, akun-akun mencurigakan mulai bermunculan. Mereka melempar bola panas di balik keanoniman mereka. Kabar-kabar belum terkonfirmasi mereka sebarkan ke tengah masyarakat di sosial media dengan bumbu penyedap rasa. Makin banyak postingannya dikomentari, makin masuklah barang dia.

Pilkada Pariaman 2013, meski media sosial telah berkembang, postingan haluan kiri masih bisa terkendali. Kini, tahun 2017 seiring banyaknya pengguna media sosial---hampir semua orang punya--gejolak di ranah sosial jelang Pilkada patut diawasi. Mengawasi bukan berarti mengekang kebebasan berpendapat, bukan pula berarti tidak boleh berkampanye. Namun mengawasi konten merusak seperti SARA, fitnah dan mufakat jahat untuk memecah belah masyarakat.

Kegaduhan di alam nyata, tidak sekali dua kali dipicu dari ranah sosial media. Banyak sudah contohnya. Di Pariaman, kita tolak hal itu terjadi. (OLP)
Tajuk: Pawai Alegoris Dinginkan Suhu Politik Pariaman
Tiga figur sentral politik Pariaman dalam satu kabin mobil atap terbuka. Foto: Phaik
Pemko Pariaman disertai berbagai instansi gelar Pawai Alegoris dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-72, Jumat lalu (18/8/2017), dengan mengitari Kota Pariaman. Rombongan pawai beriring kendaraan hias, marching band, asyik dan unik itu, disaksikan ribuan pasang mata yang memadati sepanjang jalan utama di Pariaman.

Peserta mulai dari anak TK hingga SMA/sederajat hingga personil TNI/Polri dan sejumlah badan usaha milik daerah/negara, berusaha memberikan penampilan terbaiknya di puncak peringatan kemerdekaan NKRI itu.

Iring-iringan peserta pawai dilepas oleh Walikota Pariaman Mukhlis Rahman di halaman Balaikota. Ia didampingi oleh Wakil Walikota Genius Umar dan Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyuddin di cuaca yang begitu cerahnya. Unsur Forkopimda juga terlihat di barisan depan: Dandim 0308/Pariaman Letkol Arh Hermawansyah, Kapolres Pariaman AKBP Bagus Suropratomo, Kepala Kemenag Pariaman M Nur dan Sekda Kota Pariaman Indra Sakti.

Walikota Pariaman Mukhlis terlihat antusias melepas rombongan pawai. Ia mengatakan, banyaknya peserta dalam acara akbar tahunan serentak di seluruh Indonesia itu, menandakan tingginya rasa kebangsaan oleh anak negeri Pariaman.

Pawai 18 Agustus di Pariaman, terlihat keragaman suku bangsa dari kostum yang dikenakan para peserta. Menurut Mukhlis hal itu pertanda baik bagi kesatuan bangsa dalam keragaman agama, bahasa, adat dan warna kulit dalam bingkai NKRI.

Pawai kemerdekaan juga memperlihatkan keakraban tiga motor pembangunan Pariaman di atas mobil atap terbuka. Ia juga tiga figur sentral ranah politik di Pariaman. Mukhlis Rahman, Genius Umar dan Mardison Mahyuddin terlihat cerah melambaikan tangannya pada masyarakat di sepanjang jalan arakan pawai. Isu positif mendinginkan di tengah melepuhnya suhu Pilkada Pariaman 2018.

Pawai Alegoris, sejumlah akses ke jalan utama menuju Pantai Gandoriah macet total hingga tuntasnya semua iring-iringan pawai dari balaikota. Aparat berkepentingan terlihat sibuk mengatur lalu-lintas di tengah riuhnya bunyi sirine dan sorak gembira peserta dan warga.

Pawai yang menyisakan pekerjaan berat bagi pasukan kuning keesokan harinya itu, dinilai merupakan salah satu pawai terbesar yang pernah diselenggarakan di Kota Pariaman. Tak sampai 1x24 jam, sepanjang jalan dilalui penuh sampah, kembali kemas oleh pasukan kuning yang tak pernah hendak dipuji itu. (OLP)
[Tajuk] Lebaran = Simulator Wisata Pariaman

Liburan hari raya Idul Fitri 1438 Hijriyah/2017 Masehi, merupakan momentum bagi Kota Pariaman untuk membenahi segala kekurangan dalam pelayanan pariwisata. Dalam keramaian luar biasa tersebut, tentu banyak hal yang menjadi catatan dan bahan evaluasi bagi pemerintah ke depannya.

Jika diibaratkan, lebaran bagaikan alat simulasi bagi calon pilot di atas mesin simulator saat menaik dan menurunkan pesawat. Alat simulator dibuat semirip mungkin dengan suasana dan kondisi pesawat. Mulai dari ketinggian, kecepatan angin, kestabilan pesawat dalam setiap cuaca, hingga perhitungan bangunan-bangunan sekitar bandara saat pesawat didaratkan. Simulator merupakan penentu kesuksesan bagi kelulusan para calon pilot.

Syahdan, demikian pula halnya dengan pelayanan pariwisata. Liburan lebaran semua standar operasional prosedur yang dijalankan oleh pemerintah di bidang pariwisata beserta kaitan lainnya, terlihat memiliki sejumlah kekurangan di samping sejumlah kelebihan. Ramainya kunjungan saat lebaran tentu menjadi alat ukur paling kompatible untuk bahan evaluasi.

Dari sisi parkir, hal ini masalah klasik, masih terlihat belum termanajemen dengan baik, pun begitu dengan kebersihan dan transportasi laut ke pulau. Pengelolaan arus balik dari Pulau Angsoduo perlu dikaji lagi. Harus ada regulasi yang tegas agar penumpang dapat pulang tepat waktu sehingga tidak menumpuk di pulau hingga malam.

Pulau Angsoduo primadona memang. Puluhan ribu wisatawan telah menginjakan kakinya di pulau seluas satu hektar itu selama liburan lebaran 2017. Semua kapal terisi penuh, bahkan ada kapal yang nekat menaikan penumpang melebihi kapasitas tonase. Untung saja alam masih berpihak dan tidak ada kecelakaan berarti yang dialami kapal wisata selama lebaran.

Selain itu, dengan ditemukannya ratusan tiket kadaluarsa menjadi permasalahan tersendiri dalam pengelolaan transportasi ke pulau. Tiket ke pulau retribusi tahun 2016 dijual oleh para oknum yang tentu saja merugikan ke daerah. Retribusi yang seharusnya masuk kas daerah berpindah ke kantong lain.

Tarif parkir meski ada regulasi tertulis, tidak demikian fakta di lapangan. Masih ada pungutan di atas standar kewajaran. Imbauan bayar parkir sesuai nominal dalam spanduk/baliho di berbagai titik area wisata yang dipajang, masih saja tidak dipatuhi oleh sebagian oknum di lapangan. Bahkan, ada pula yang berani merobah tarif parkir, cukup bermodalkan pensil dan pena.

Sejumlah bahan evaluasi di atas harusnya tidak boleh terulang kembali jika pemerintah sangat serius ingin menjadikan daerahnya sebagai destinasi wisata yang membuat nyaman setiap pengunjung. Perihal itu jika terus dibiar, akan berdampak pada citra pariwisata Pariaman secara keseluruhan.

OLP
[Tajuk] Bermimpi di Tarok City
Jalan selebar 75 meter dengan panjang 3 kilometer telah dibuka di kawasan Tarok City
Tarok City merupakan sebuah rencana besar masa depan (future plan) yang akan memiliki dampak besar pada pertumbuhan ekonomi. Tidak hanya bagi masyarakat Tarok, Nagari Kapalo Hilalang, Kecamatan 2x11 Kayutanam, daya ungkit Tarok City diyakini akan mendongrak pertumbuhan ekonomi Padangpariaman dan Sumatera Barat. Padangpariaman siap melangkahkan kaki menapaki lajunya era modernisasi.

Tarok City bisa dikatakan gebrakan dari "tanah pinggir" yang akan mampu merubah wajah Padangpariaman dan Sumatera Barat. Butuh nyali besar kepala daerah untuk mewujudkan gagasan dan progres tersebut.

Tarok City jelas sejalan dengan Nawacita Presiden Jokowi yang mendesain pembangunan Indonesia dari pinggiran/pedalaman. Satu contoh pembangunan dari pinggiran Nawacita Jokowi adalah pembangunan terpadu di wilayah perbatasan negara Indonesia yang disebut pesona tapal batas seperti di Atambua, kota di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan Timor Leste. Perbatasan yang dulu terkesan anker itu, sekarang berubah menjadi kawasan ekonomi yang kemudian menjadi salah satu destinasi wisata unik.

Tarok City bukan pertaruhan gengsi dan mimpi di siang bolong. Perencanaan pembangunan, Ali Mukhni telah melibatkan berbagai kalangan, termasuk dari lingkup akademisi. Para profesor ternama dari pelbagai disiplin ilmu tersebut ia minta mengkaji progres Tarok City dalam berbagai aspek dan sudut pandang.

Menurut Profesor Syamsul Amar dari Universitas Negeri Padang, pembangunan kawasan Tarok City memerlukan perencanaan yang strategis dan sistematis. Ia menyarankan agar pemerintah mengkaji segala aspek dan amdal dengan menyeluruh. Pengaruh topografi, geologi dan desain bangunan mesti selaras dengan fisik wilayah. Hal itu menurutnya bertujuan demi terciptanya sebuah kawasan terpadu yang selaras dengan alam dan tata ruang daerah.

Sembari terus melakukan kajian dan meminta masukan dari berbagai pihak oleh Ali Mukhni, para menteri menyambut ide brilian tersebut, sebut saja Menteri Azman Abnur, Nila Moeloek dan mantan menteri Andrinof Chaniago. Bahkan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dengan tegas menyatakan siap mendukung pembangunan Tarok City dari awal hingga akhir. Tentunya siap pula dengan penganggaran melalui dana APBD Provinsi Sumbar.

Pertanyaan yang timbul, tentu dukungan oleh masyarakat Padangpariaman sendiri. Jika ada sedikit persoalan di lapangan belum tentu kita berbeda. Kata Plato, hanya orang mati saja yang tidak punya persoalan. Berbeda pendapat bukan berarti tidak mendukung, begitu setidaknya anasir yang kami terima melalui wawancara di lapangan dengan berbagai narasumber tentang rencana pembangunan Tarok City.

Nagari Kapalo Hilalang merupakan daerah tadah hujan penghasil air bersih konsumsi masyarakat Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman. Belantara Tarok City kaya akan flora dan fauna. Alam sejuk, burung bernyanyi setiap saat. Kawasan tersebut dulunya juga perlintasan Harimau Sumatera, hewan paling dilindungi di Indonesia. Sebagai kawasan paru-parunya Padangpariaman, diharapkan pembangunan itu nantinya tidak merusak ekosistem yang ada.

Pohon-pohon tua mesti dilestarikan dan diinventarisir. Kawasan Tarok juga diharapkan berkonsep alam sehingga kawasan tersebut selain menjadi pusat pendidikan dan perkantoran, diharapkan sekaligus menjadi destinasi wisata.

Konsep kota yang akan diterapkan oleh kawasan tersebut tentu akan banyak gagasan-gagasan yang akan lahir sejalan dengan mulai dibangunnya Tarok City. Bukan tidak mungkin kebun binatang terbesar di Sumatera Barat juga akan dibangun di sana mengingat luasnya lahan yang tersedia.

Gagasan lain yang akan muncul tentu saja keberadaan mal-mal seiring ramainya kaum urban bermukim di sana. Jika sudah demikian, jika kita bermimpi ke depan, bukan tidak mungkin Tarok City kembali menjadikan Ranah Minang sebagai pusatnya kota pendidikan di Indonesia.

OLP
Tajuk: Budaya Pungutan Liar



Pungutan liar atau acap disingkat pungli merupakan fenomena aneh di beberapa negara berkembang. Pungli merujuk pada kesepakatan kepada orang yang memungut dan orang yang dipungut oleh sebab kepentingan dalam bentuk pemberian uang dan materi lainnya. Kemudian pemungut yang tidak mendapat persetujuan dari yang dipungut, karena orang yang ingin dipungut merasa tidak perlu memberi kepada pemungut dalam bentuk materi apapun karena memang tidak ada aturan yang mengharuskannya memberi sesuatu.

Fenomena pungli di Indonesia aneh nya lagi oleh sebagian orang bahkan dianggap 'sebuah kelaziman'. Ada yang berdalih atas ungkapan terimakasih karena dipercepat dalam pengurusan, atau agar tidak dipersulit-- bagi pemberi. Dan si penerima menganggapnya uang rokok yang lazim-lazim saja-- contoh pungli dalam bentuk paling kecil.

Pungli sudah tidak aneh merupakan embrio dari korupsi. Pungli kata lain dari memberi sogok dan menerima sogok. Pungutan liar membudaya memang. Dari azas suka sama suka, terpaksa, dipaksa dibawah ancaman, dll.

Di sebuah kedai kopi terdengar obrolan tentang susahnya mengeluarkan kendaraan
bermotor kena tilang  di kepolisian saat ini, begitu jenuhnya antri di Samsat karena harus mengikuti prosedur administrasi pengurusan pajak. Orang kita sebagian cenderung menganut budaya instan, lekas, dan malas, bahkan anti dengan kata antri membuat ruang longgar masuknya budaya kompromi berujung pungli.
 
"Payah kini mauruih SIM harus tes lo dulu. Onda awak tatangkok haruih sidang lo dulu"

Kalimat keluhan seperti itu bisa Anda dengar sendiri atau bahkan Anda sendiri juga ikut mengeluhkannya (?).


Pemberantasan Pungli anehnya lagi ada juga yang 'menentang'. Karena sudah menjadi budaya tadi. Jika biasanya mendapat kemudahan dalam membayar tilang dengan cara 'maaf' 86 dan sedikit 'pelicin' dalam pengurusan di berbagai sektor pelayanan milik pemerintah/swasta, dengan dibentuknya Satgas Saber Pungli ditambah berita penangkapan oknum pelaku pungli-- zaman sulit bagi penentang tadi. 

Penentang 'berdoa' agar Satgas Saber Pungli tidak seberingas dari berita yang mereka lihat dan dengar di media-media. Dan memang sejauh ini belum mereka dengar Satgas Saber Pungli di daerah mereka melakukan tangkap tangan.

Merubah 'budaya' atau hal yang telah membudaya semacam menyogok dan ingin disogok bagaikan mencairkan bongkahan es sebesar kepala di kutub utara dengan siraman air. Jika suhu dalam air tidak lebih hangat daripada bongkahan es, maka air tadi ikut membeku.

Artinya, jika bongkahan es di ibaratkan pelaku pungli, Unit Satgas Saber Pungli harus menjadi air yang hangat dulu sebelum menyiram es tersebut. Jika tidak, ia akan menjadi bagian dari bongkahan yang ingin dicairkan. Bongkahan es akan bertambah besar.

Satgas Saber Pungli sebelum bekerja haruslah menyoroti ke diri masing-masing. Layak kah aku? Karena mereka akan menjadi contoh sebagai pribadi penentang segala bentuk pungutan liar. Jangan ketika dimasukan menjadi anggota Satgas langsung meng iya kan saja. Mereka harus sadar akan didaulat sebagai orang baik lagi berakhlak yang diberdayakan demi kepentingan negara.

Banyak pertanyaan didengar apakah pengukuhan Satgas Saber Pungli di daerah cukup sekedar hanya mengikuti perintah pemerintah pusat saja. Apakah sudah meniupkan roh 'pandeka bagak dek bana' dalam setiap personil Satgas? Penempatan orang sudahkah berdasarkan integritas? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.




OLP
[Tajuk] Sadar Wisata



Kota Pariaman sekarang dibanding lima tahun lalu sangat pesat perbedaannya di sektor pembangunan pariwisata. Begitu juga dengan paradigma masyarakatnya, berbanding lurus pula. Mereka sekarang mulai terbuka kepada pengunjung, bersikap melayani selaku tuan rumah. Gerbang masyarakat sadar wisata mulai terkuak pintunya yang lama sekali terkunci padat berkarat.

Jika ingin melihat ramainya Pariaman, datanglah tuan-nyonya agak sekali di sepanjang Pantai Pariaman. Tuan-nyonya akan mengira Kota Pariaman itu timbangannya berat sebelah saking ramainya orang lalu lalang di sepanjang pantai tersebut.

Banyak sekali orang bersantai, berolahraga skateboard dan sepatu roda di Pantai Gandoriah, membawa anak main di taman Anas Malik, bergerudu di ujung muara Pantai Gandoriah saksikan sunset, bertamasya ke Pulau Angsoduo, hingga para anak muda menenteng kamera DSLR lunju-lanja kian kemari dari Pantai Kata ke Gandoriah berjalan kaki mengodak apa yang dilihatnya.

Ingat saya dahulu di kala sore di sepanjang Pantai Gandoriah melihat para ibu-ibu berangin-angin di pondok sambil mencari kutu. Berbedak beras berkain sarung. Menggelayut kelopak matanya ke bawah saat kutu ditindas di kepanya. Pemandangan itu berganti dengan muda-mudi nan modis turun dari mobil. Mereka punya gaya.

Pembangunan sektor pariwisata syahdan dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Berbagai komunitas anak muda orientasi ekonomi bermunculan. Sejumlah cafe berdiri bak jamur di musim penghujan, mulai cafe payung, cafe pondok hingga cafe yang dikelola sesuai standar daerah destinasi wisata semacam di Pulau Bali. Jika Anda ingin rasakan menu cafe ala Pulau Dewata datang saja ke Gandoriah, dijamin sama rasanya. Tak mahal pula.

Keuntungan finansial yang dirasakan masyarakat lokal pelaku wisata membuat mereka punya tanggungjawab mempertahankan posisinya. Mereka akan terus berpacu melakukan inovasi di sektor yang mereka geluti. Itu kabar baik bagi pemerintah daerah.

Sudut pandang yang sama antara pemerintah dan masyarakat dalam memandang dunia pariwisata tanpa disadari telah membangun team-work yang solid. Ibarat kaki kiri dan kaki kanan dalam melangkah. Seayun, seirama, tegap ke arah yang di tuju.

Majunya sektor pariwisata selalu ada arus menyertai, selalu ada paham terbawa karena ragam orang beda budaya, cara, pola, berbaur dengan masyarakat lokal. Namun bukan kabar buruk.

Selalu ada dua kutub. Kutub positif dan negatif. Jika fenomena itu disikapi dengan baik akan membawa keuntungan pula. Positif dan negatif akan hasilkan energi. Masyarakat yang taat adat, memegang teguh budaya leluhurnya, bangga dengan kearifan lokalnya, punya nilai jual tersendiri. Budaya adalah medan magnet di dalam roh pariwisata.

Setiap pelancong selalu ingin melihat budaya daerah yang baru dilihatnya. Apa yang mereka lihat selalu dinilai menarik karena mereka tak punya. Di situlah letak nilai jual. Itu harus digarap maksimal dan di kedepankan.

Membangun dunia pariwisata memang tidak mudah, apalagi mempertahankannya. Butuh energi besar dan komitmen besar pula untuk mempertahankan apalagi meningkatkannya. Sejumlah persoalan akan terlihat seiring kemajuan. Persoalan yang muncul tersebut terkadang berakibat fatal jika salah dalam penanganan.

Selama kita tetap berdiri dalam benteng moral adat istiadat dan agama, selama itu pula kita tidak tergoyahkan. Pariwisata akan selalu berpihak kepada masyarakat. Dia bahkan punya daya besar untuk mengungkit sektor lain.


Kita mendengar kabar pasangan ilegal terjaring di sejumlah hotel hunian publik, remaja terjerumus narkoba, anak punk pun memilih Pariaman tempat hijrah dan berbagai isu lain. Jangan cemas dan dibesar-besarkan. Semua pasti ada jalan keluar asal solusi yang dicari itu melibatkan lintas kepentingan bersebab efek samping dari tindakan yang akan dilakukan akan lari ke muara besar.

Muara besar tersebut bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur yang saling mempengaruhi.
 

Selama ombak menghempas, selama itu pula pasir pantai terus ada. Kehidupan selalu ingin mencari titik keseimbangan. Sebagai orang berpaham kita maklum selalu ada solusi di dalam setiap persoalan.

Catatan Oyong Liza Piliang