7 October 2012

Meneropong Kota Pariaman Di Solok



Pertemuan singkat penuh makna dengan Sang empunya Pariaman News...

Selepas Shalat Jumat setelah istirahat siang (28/09/2012), saya membuka beranda facebook. Saya putar scroll mouse lap top ke arah bawah, terhenti jari tangan saya ketika melihat status di wall Oyong Liza Piliang II yang bertuliskan “Disolok.
Karena saya tinggal dan bekerja di Solok, bagi saya adalah suatu kewajiban untuk menerima orang yang datang ke tempat saya. 

Apalagi saya memang berkeinginan untuk bertemu langsung dengan pemilik nama di atas karena sebelumnya pertemuan kami hanya di dunia maya melalui situs jejaring sosial facebook. Dari beberapa kali chatting terutama semenjak tulisan saya beliau muat di Pariaman News, keinginan untuk bertemu dan berdiskusi langsung dengan beliau sangatlah besar. Tapi karena belum ada kesempatan, keinginan itu belumlah dapat terlaksana. Mumpung  Bang Oyong berada di Solok, kesempatan ini tidak mau saya lewatkan begitu saja. Tanpa pikir panjang, langsung saya kirim pesan di obrolan : “Lagi dima di Solok Bang?” Tanya saya.
“Dikantor Walikota diak”. Beliau menjawab.

Lalu beliau memberikan nomor Hp-nya. “Ini Nomor Hp Abng”.
Saya langsung menelfon beliau dan menanyakan, “Dikantor Walikotanya dima bang?”

“Ambo lagi di Humas diak”. Beliau menjawab.
Ok..Awak ka situ Bang. Jawab Saya.
Saya susul beliau ke Bagian Humas...Ternyata beliau sedang di dalam ruangan Kabag Humas.

Saya tanya pada staf Humas. Lagi ada tamu siapa di dalam?
Kabag lagi ada tamu dari Investigasi News. Jawab staf tersebut.

Teringat oleh saya, bahwa Bang Oyong sering menyebut nama Fery Nugrah, SH pemilik koran mingguan Investigasi News dalam tulisannya.
Lalu saya kirim sms ke Hp beliau, “Kalau lah kalua dari ruangan Kabag Humas, calling yo bang. Awak ingin basobok samo Abang”.

Yup...jawab beliau.
Lalu saya kembali ke ruangan. Setalah menunggu beberapa lama, saya kembali lagi ke ruangan Humas, dan pas saja beliau baru keluar dari ruangan Kabag Humas. Langsung kami berjabat tangan. Rupanya saya tidak salah, beliau bersama Bang Fery Nugrah dan seorang perempuan bertahilalat yang kalau tidak salah namanya Ni Len. 

“Ini yang menulis di Pariaman News kemarin”, kata Bang Fery. Saya sudah baca tulisannya. Bagus. Kata Bang Fery, beliau memuji Saya...Teruslah berkarya kata Bang Oyong. Kemampuan menulis akan terus terasah kalau semakin sering di coba. Beliau memotivasi saya. “Saya baru belajar dan mencoba-coba menulis Bang”, ucap saya merendah.

Dari situ berawal diskusi kami. Selanjutnya pembicaraan mengalir begitu saja di depan ruangan Bagian Humas dibawah tangga menuju Lantai II Balaikota Solok diiringi gemercik air yang menyembur dari kolam buatan yang berada persis dibawah anak tangga. Sadar diskusi ini menarik dan akan berlangsung lama, saya ajak beliau duduk di Rumah Makan depan Balaikota. Saya tawari beliau makan, beliau bilang kami sudah makan. Akhirnya kami memesan Juice.

Diskusi kami lanjutkan. Banyak hal yang kami bahas dalam pertemuan yang tanpa disengaja ini.  Mulai dari menyoal seputar Media Online Pariaman News, peran media sebagai pilar ke-4 demokrasi, revolusi media global, media sebagai sosial kontrol hingga carut marutnya kondisi pemerintahan di Kota Pariaman, mulai dari birokrasinya bahkan perilaku pejabatnya. 

Dari berbagai topik yang kami diskusikan, pada intinya bermuara keprihatinan melihat kondisi politik dan pemerintahan di Kota Pariaman. Carut marut kondisi birokrasi pemerintah dan kesewenangan kekuasaan selama ini seolah tak ada pengontrol yang sebanding. Hadirnya Pariaman News salah satunya disebabkan oleh keprihatinan ini untuk menghadirkan berita yang berimbang dan dengan perspektif yang berbeda menerobos cara berfikir yang terkungkung oleh sistem. Media mainstreem sudah tidak steril, kata sang empunya Pariaman News ini. Ikhwal kondisi politik dan pemerintahan di Kota Pariaman ini, telah banyak disorot oleh Bang Oyong melalui tulisannya di Media Online Pariaman News ini.

Ada secercah harapan yang saya lihat dari pembicaraan ini, yaitu adanya rasa  kepedulian terhadap kampung Piaman. Bahwa kita sebagai orang muda tidak boleh pesimistis melihat realita yang terjadi. Lakukan apa yang mampu kita perbuat. Berharap kepada lembaga formal sebagai kontrol atas kekuasaan nan pongah, sepertinya sulit. Mereka terlanjur merasakan nikmatnya duduk di kursi empuk bagian kekuasaan.
Banyak motivasi yang saya dapatkan dari pertemuan singkat namun penuh makna ini. Sembari itu, mudah-mudahan virus dan semangat perubahan ini bisa menular kepada generasi muda lainnya dan orang-orang yang peduli terhadap kondisi Kota Pariaman. Semoga saja...

Catatan Rahmat Rio Yuherdi