Tanda Tangan Kapolri Dalam Kasus Simulator SIM

Kaget….Terhenyak….! Begitu mendengar berita bahwa Kapolri Jend.Pol.Timur Pradopo diberitakan terlibat kasus Simulator SIM yang sedang ramai dibicarakan (sampai disinyalir ketegangan baru antara KPK dengan Polri juga karena kasus tersebut) ; Ternyata setelah ada penjelasan dari Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar,bahwa tanda tangan Kapolri dalam surat penetapan pemenang lelang pengadaan proyek itu hanya bersifat administratif sebab memang di dalam Perpres 54 Tahun 2010 diatur bilamana proyek di atas Rp100 miliar secara administratif itu harus diketahui oleh pengguna anggaran & Pengguna anggaran di institusi Polri adalah Kapolri…! Wah,rasanya yang mendengar itu cukup plong…Judul berita memang bisa mengagetkan orang banyak…

Tetapi ternyata rasa plong itu belum selesai juga,sebab sekarang masyarakat mulai bertanya-tanya (karena sudah semakin kritis),benarkah Kapolri tidak ikut “mencicipi” hasil korupsi kasus Simulator SIM bila ternyata memang nantinya oleh Pengadilan memang dinyatakan ada korupsi atas pengadaan Simulator SIM tersebut…? Bagaimana dengan yang membubuhkan paraf diatas surat persetujuan tersebut? Apakah mereka akan tanggung renteng terkena semua….?

Kenapa pertanyaan-2 tersebut muncul…? Ini bukan pertanyaan main-2 ,sebab masyarakat tahu,bahwa dalam urusan birokrasi di pemerintahan dan institusi-2 negara,ada semacam istilah “duit dari meja ke meja” yang dibagikan bila urusan mau lancar sampai keatas…! Kasus-2 penggelapan pajak yang terbongkar di Direktorat Pajak juga demikian adanya,cuman sayang kemudian hanya berhenti sampai ke tingkat tertentu saja,padahal Dirjen Pajak begitu kaya raya & kekayaannya entah diperoleh darimana…(mantan Dirjen Pajak sampai ada yang mengklarifikasi bahwa kekayaannya diperoleh karena hibah,dsb…? Benarkah…?)

Jadi,pertanyaan-2 itu harus mendapatkan klarifikasi segera dari Polri bila hal itu tidak mau menjadi gosip panas di masyarakat..! Sebab institusi Polri memang sangat disorot sebagai salah satu institusi yang korup di mata para LSM penggiat anti korupsi. Isu tentang setoran-2 ke atas dari mulai proses rekrutmen anggota Polri sampai proses kenaikan pangkat dan mutasi serta mempertahankan poisisi jabatan pun sering terdengar kencang gosip nya..! Apakah benar tidak ada setoran sampai ke Jenderal…? Terus bagaimana para Jenderal Polisi itu bisa sangat kaya raya….? Apakah hanya makan gaji saja bisa kaya…? Berapa harga motor gede yang dimiliki oleh beberapa perwira menengah sampai perwira tinggi Polri..? Apakah cuman Rp.15 juta saja seperti sepeda motor yang dipakai oleh kebanyakan rakyat di jalanan? Harga motor gede itu bisa mencapai nilainya diatas Rp.300 juta,man…! Adzubillah…! Terus gajinya berapa…? 
Katanya 100 % gajinya dikasihkan ke istrinya…? Koq bisa ya…?

Rakyat Indonesia sekarang sudah semakin banyak yang kritis,mereka tidak cukup hanya dengar pidato dan penjelasan yang muluk-2 dari seorang Jenderal Polisi. Walau terkesan diam pada waktu mendengarkan “pidato” atau penjelasan,namun mata hatinya terbuka dan mencibir, karena tidak bisa melawan maka ditimbulkanlah gosip atau meminta rekan-2 wartawan investigasi menulis berdasarkan fakta-2 yang dijumpai dalam dunia jurnalisme investigatif….! Bila itu sudah dibuka,apakah mereka masih punya hati? Kalau masih saja tidak tahu malu,maka jangan heran masyarakat akan menghakimi dengan caranya,persis ketika Foke & Nara & para pendukungnya “dihakimi” oleh penduduk DKI Jakarta…! Benar-2 dipermalukan sampai ke titik yang memalukan…!

Polri memang kali ini (kasus Simulator SIM) harus berjuang habis-2an…! Kalau tidak,maka jangan harap mereka bisa dipercaya bersih oleh rakyat Indonesia…!
Bravo,Tempo.co…..! 

catatan Mania Telo Freedom Writers Kompasianer