30 July 2012

Saya Orang Bayaran ?

                               bersama jurnalis BBC meng online kan news gempa sumbar 2009


Dulu pernah saya dituding orangnya mukhlis rahman (wako pariaman), setelah tak terbukti dituding pula saya orang Mardison Mahyudin (ketua dpd golkar/wakil ketua Dprd) bersebab saya satu ormas dengannya, setelah tak terbukti dituduh pula saya orangnya Ruslan a gani bersebab polingnya yg tinggi diweb ini, setelah tak terbukti dituding pula saya orangnya Ibnu Hajar (ketua Dprd) bersebab ia menantu paman saya, setelah tak terbukti dituduh pula saya Orang bayaran.. namun sipenuduh ini sesekali melihat fakta kehidupan saya sehari-hari yg jauh dari kesan yg mereka tuduhkan tersebut.


ada yg beranggapan saya menyerang mukhlis karena saya tak kebagian proyek..padahal mereka tidak tau historis saya dengan Wako ini. dia sudah seumpama kakak bagi saya bersebab salah seorang keponakan kandung saya sudah dianggap anak oleh ibu Reni istri Wako teman seangkatan dengan anaknya. ada yg bilang saya menyerang mardison ikhwal perpecahan ditubuh ormas Pemuda Pancasila Pariaman padahal kami kompak-kompak saja bak orang beradik kakak.


Masyarakat pariaman musti dididik cerdas melalui tulisan, mereka harus tau apa itu freedom writers, mereka harus tau apa itu profesionalisme jurnalis. saya belajar ikhwal ini tak lebih tak bukan dari kalangan wartawan senior yg sudah amat tuanya dan bahkan yg sudah wafat, baik langsung maupun melalui tulisan-tulisannya semacam Martias J Pandoe dan alm Buya HAMKA.


terkejut seorang sahabat ketika saya menulis dan mengkritisi Mardison mahyudin dan berujung pula verifikasinya diradio damai yg juga beradu argumentasi dengan saya live dan didengar orang banyak. Sms yg masuk kesaya seakan langsung tendensius menuding bahwa apa gerangan di Pemuda Pancasila Pariaman, apakah terjadi perpecahan? sebagai mana masyarakat pariaman tau Mardison Mahyudin Ketua MPO PP KOTA PARIAMAN.


pandangan sempit berbagai kalangan yg mengenal saya tidak secara emosional terkadang mereka mencerminkan saya seumpama dirinya saja. saya ajan dipitih (uang).. tapi uang yg bisa saya pertanggungjawabkan, saya dianggap bagak bersebab Parewa yg kalau dianu-anukan bisa berurusan panjang bersebab banyak peluru sepeda indak balampunya.. mereka hanya bisa menduga saja.. menilai saya secara lahiriah.. saya adalah orang yg paling taat hukum bersebab saya pencandu dan penggemar hukum,kemanapun saya berhelm,polisi dari pangkat terendah sampai yg tertinggi saya hormati, bersebab mereka penegak hukum bukan karena mereka sahabat-sahabat saya, tak mau saya ongas dengan berperilaku pecundang mentang-mentang.. tak sedikit produk hukum yg saya baca hari demi hari demi menambah wawasan dan mempertjam keilmuan saya, dikarenakan dalam beberapa kegiatan saya diormas dan LSM menuntut saya harus punya pemahaman materi yg mendalam dalam setiap kasus yg kami advokasi.


teringat saya pepatah alm Buya HAMKA : "tak perlu menepuk duli, menekan tulen dikenal jua oleh jauhari.."


catatan Oyong Liza Piliang

22 July 2012

Tak Salah Bunda Mengandung



Bukan salah bunda mengandung, dilahirkan sebagai orang Minang, apa hendak dikata,
Alhamdulillah, wajah mirip orang Tionghoa, sehingga tahu rasanya ditodong.
Lho, kok?


Di pertengahan tahun tujuhpuluhan, ketika tinggal Tanjung Priuk dan
bekerja di sebuah outlet BUMN Farmasi di Jalan Asemka---sebuah kawasan
Pecinan pula---saya pulang agak malam. Begitu naik becak di Terminal Bus
menuju tempat tinggal saya di Kampung Bahari, seorang bertubuh kekar,
berkulit kehitaman dan berambut keriting menghampiri saya dan
menodongkan sebuah pisau.


Dalam bilangan detik, jam tangan Seiko 21 batu berwarna keemasan yang
saya kenakan, kacamata dan sebuah kantong plastik hitam berisi obat buat
anak kami kedua Anton yang ketika itu berusia tiga tahun berpindah tangan.
Dengan lunglai saya pulang dan setiba di rumah langsung melapor kepada
sang belahan jiwa: “Kur, tadi Uda kena todong di terminal bus (ketika
itu doi masih memanggil saya dengan sapaan Uda)”. “Ya, sudah lah,” ujar
saya pasrah.


Tetapi tidak dengan si doi. Dia melapor kepada Mang Musa suami bibiknya,
seorang “jawara” kelas kampung yang tinggal tidak jauh dari rumah kami.
Dan Mang Musa kemudian melapor ke Pak Zaikun, Ketua RW tempat dia
tinggal seorang Bintara Kostrad dan seorang tokoh yang disegani. Pak
Zaikun ini punya anak buah yang tinggal di kawasan di samping kiri
Setasiun KA Tanjung Priok yang disebut RT 13, yang dikenal sebagai
tempat tinggal para pencoleng, tikang todong dan sejenis. 



Dan tidak sukar baginya untuk menemukan si penodong melalui koordinatornya, dan
meminta---disertai ancaman tentunya---agar jam tangan dan kacamata yang
dia rampas dari saya dikembalikan.


Dua hari kemudian si penodong yang bertubuh kekar, berkulit kehitaman
dan berambut keriting itu menemui saya dengan terbongkok-bongkok, minta
maaf dan mengganti jam tangan saya dengan jam tangan merek Seiko yang
lebih mahal, karena jam saya sudah terlanjur dijual olehnya.


Saya kira om orang Cina,” jelasnya tanpa dosa, kenapa dia menodong saya
malam itu.


(Alamaak, rupabya di mata si penodong orang Tionghoa---Astaghfirullah Al
Adzim---sah-sah saja untuk ditodong)


Khawatir ketemu di bus kota atau di tempat lain dengan pemilik asli jam
tersebut---ya, tentu saja jam tangan pengganti yang diberikan si
penodong kepada saya tidak bukan boleh beli di toko---sehingga saya
bisa-bisa dituduh tukang todong, minimal tukasng tadah, jam tersebut
saya jual kepada si Kemo, sepupu Kur yang berjualan di Pasar Kampung
Bahari. Uangnya kemudian saya belikan lagi jam Seiko 21 batu berwarna
keemasan seperti jam saya semula.


Demikianlah pengalaman saya yang sangat unik: ditodong, yang sangat
mungkin tidak akan saya alami kalau saya tidak memiliki wajah mirip
orang Tionghoa.




catatan darwin bahar the indonesian freedom writers

21 July 2012

18 July 2012

Terungkapnya Skandal Tidur Bareng di Istana



Kok bisa ya berita yang melibatkan pembantu presiden nan amat terhormat ini bisa lolos sebagai headline di media cetak dan herannya juga, pelakunya kok tak diburu-buru peliput TV dan juga dikejar-kejar live report radio? Wah, apa semua wartawan lagi konsentrasi meliput bom gas yang sedang trend ya?


Cerita ini dua hari lalu merebak kalangan Kabinet yang terhormat. Seorang anggota kabinet pada suatu siang ditelepon oleh seorang perempuan. Suara di sana berkata, “Selamat siang Bapak Menteri.” Dari suaranya perempuan itu masih muda.


“Siang, ini siapa ya?” tanya pak menteri itu.


“Saya Sinta , yang pernah tidur bersama Bapak waktu itu…” jawab si perempuan.


“Hahh???” sang menteri terdengar penasaran.


“Kalau Bapak tidak ingin rahasia itu terbongkar, Bapak harus memberi saya uang tutup mulut!” ancam si wanita.


“Oke, baiklah…” jawab menteri itu pasrah.


Kemudian dia berpikir, di mana pernah meniduri perempuan tersebut? Di luar negeri? Di luar Jawa? Di luar Jakarta? Atau hanya di seputaran Jakarta saja?


Berselang sehari kemudian si menteri itu menyerahkan sejumlah uang di suatu tempat yang telah ditentukan. Uang itu diterima oleh kurir sang perempuan.


Tetapi, keesokan harinya, si wanita itu menelepon lagi dan meminta hal yang sama. Dengan hati yang masih penasaran, menteri yang terhormat itu mengabulkan permintaannya. Tetapi, anehnya setiap hari, wanita itu meminta hal yang sama dengan ancaman yang sama. Akhirnya, dengan pasrah menteri tersebut mengabulkan permintaan tersebut. Walaupun begitu, menteri itu menjawab dalam teleponnya.


“Okelah… aku kabulkan permintaanmu. Tetapi, jangan bikin penasaran gitu dong. Saya cuma ingin tahu emangnya kita pernah tidur bersama di mana dan kapan itu terjadi?”


Wanita itu menjawab dengan sangat lembutnya: “Kita ‘kan sama-sama dalam Ruang Sidang Kabinet lima hari lalu di Istana, kita ‘kan pernah tidur bareng di ruang sidang pada waktu ‘SBY membacakan pidato beliau!”


“Hah? Sang menteri pun pingsan karena terlanjur memberi uang sebesar Rp 500 juta kepada wanita tersebut.


·Makanya bapak-ibu pejabat negara yang terhormat kalau mau tidur jangan suka bareng-bareng di ruangan terbuka ya!


catatan aida ces the indonesian freedom writers

15 July 2012

Pak.. Kenapa Pipi SBY Makin Tembem ?

Pada suatu petang hari seorang anak dan bapaknya sedang nonton tv bersama-sama di ruang keluarga.  Karena sering muncul di berita TV wajah Presiden SBY sudah tidak asing lagi di memori penglihatan si anak. Apalagi kalau tv yang ditontonya berlambang elang yang sedang menegok ke arah kiri itu. Tiba-tiba si anak memecah keriuhan dari ocehan pembawa berita dengan bertanya kepada bapaknya.


"Pak, kenapa pipi pak presiden koq makin tembem aja?"
"Masak sih, bapak lihat biasa-biasa saja dengan pipinya." Kata bapaknya kalem sambil masih melototi layar tv. "Ah……,bapak engak pernah perhatiin pipinya kali." Tukas anaknya dengan rada kesel karena diacuhin.


"Benar. Malahan bapak melihatnya kebalikan darimu dia sedikit makin kurusan." Lanjutnya, "Mungkin mikirin rakyatnya yang semakin banyak
yang miskin dan sedang susah sehingga sampai mendatangi rumahnya hanya untuk minta-minta biaya sekolah buat anaknya." Terus sang bapak.
"Ketahuan nih……he…he…he…, bapak dulu nyoblos gambarnya kan?" Ledek anaknya sambil cengengesan.
 
"Iya, habis kelihatannya menyakinkan pangkatnya saja jendral
purnawirawan kehormatan
apalagi ditambah gelar DR pertanian dari IPB
dengan hasil desertasi sangat memuaskan." Jawab bapaknya tidak mau
diledek.

"Makanya, bapak sih milih kulitnya aja engak isinya. Kata ibu sih
kalau milih itu bukan dilihat luarnya tapi dalamnya." Balas anaknya
sok nguruin.

"Wah……,kamu itu anak siapa sih suka nguruin orang tua?" Jawab
bapaknya sambil berakting memasang muka masam.
"Kan anak bapak. Iya kan bu?" Timpal anaknya sambil minta dukungan
ibunya yang baru membawa pisang goreng dari dapur ke ruang keluarga.
"Iyalah, memangnya anaknya siapa secerdasmu kalau bukan anaknya bapak
dan ibu." Sambung ibunya sambil mesem-mesem melihat anak dan bapak
yang sedang bercandaan itu.

"Bu." Celetuk si anak
"Iya, ada apa sayang?" Balas sang ibunya sambil duduk dan mengelus
kepala si anak.

"Ibu perhatiin kagak? Pipi pak presiden semakin temben aja yah."
Pertanyaan penasaran soal pipi itu dilontarkannya lagi.
"Hem……, ibu perhatikan memang semakin tembem seperti katamu." Jawab
sang ibunya sambil menyomot pisang goreng dari piring.
"Kan bener kataku pak." Katanya kepada bapaknya untuk menyakinkan
bahwa pendapatnya benar sebagaimana juga pendapat ibunya.
"Ibu kamu dulu pasti tidak nyoblos gambar SBY." Jawab ayahnya sambil
tertawa geli.

"Berarti ibu yang bener bapak salah. Milih itu jangan cuma dilihatin
luarnya aja." Tungkas si anak membela pilihan ibunya.
"Kalau begitu saya punya teka-teki buat Ibu sama Bapak. Siapa bisa
menjawab" Tantang anaknya.

"Apa teka-tekinya sayang?" Tanya sang ibu.
"Kenapa pipi pak presiden semakin tembem." Kata anaknya lagi.
"Lagi-lagi pipi tembem-pipi tembem." Protes sang ayah.
"Karena memamg dari sananya pipinya sudah tembem." Jawab sang ibu.
"Habis kalau pipinya tidak tembem bukan pak presiden" Jawab sang ayah
sekenanya.

"Salah semuanya." yang benar, "Pipi pak presiden tembem karena
kebanyakan minum minyak." Jawab si anak.
"Lha koq kebanyakan minum minyak?" Tanya sang ayah keheranan.
"Ada-ada saja sih kamu." Kata ibunya.

"Bagaimana tidak kebanyakan minum minyak. Coba lihat berita di tv-tv
orang pada ngeluh harga minyak naik sangat tinggi sekali. Dan kata
para pakar diatas ekspektasi." Lanjutnya,
"Ekonomi sudah berjalan di atas relnya dengan benar walaupun inflasi
diatas dua digit yang ditakuti oleh penasehatnya sendiri dengan perut
buncitnya si Syahrir itu." Terus,

"Gimana kabar si Syahrir melihat inflasi sudah tembus dua digit itu?
Tetap saja makin kaya raya dan makmur saja meski masih susah payah
untuk ngerakin perut buncitnya tersebut" Sedang,
"Presidenpun koceknya makin hari makin tebel saja hasil dari
keuntungan menaikan harga minyak diatas ubun-ubun sebagaian besar
rakyat miskin." Omelan si anak.

"Sudah……sudah makan tuh pisang gorengnya mumpung masih hangat." Sela
sang ibu
"Nanti kalau sudah besar jadi Presiden saja atau anggota DPR." Saran
sang ayah
"He….he…he…" Jawab si anak singkat.

catatan allindo the indonesian freedom writers

12 July 2012

Iwan Piliang : berkombur malotup bung ! medan punya

PENGALAMAN DULU : Minggu, 14 Desember 2008   lalu,di saat jarum jam lewat dari pukul 00. Bersama kawan-kawan, kami menikmati jajanan di deretan gerobak kaki lima di sebelah Hotel Formule 1, Jl. HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat. Ketika penganan macam Bubur Ayam, Sate Padang, Nasi Goreng, Ayam Panggang telah lelap ke perut, tersisalah celotehan setelah midnight.

Saya menyampaikan kepada empat kawan, soal jawaban pertanyaan bercandaan dari kawan-kawan wartawan di Medan, mengapa mereka memilih Gubernur dengan penampilan fisik macam Syamsul Arifin, berkulit gelap, berperut tambun, berhidung besar, berpipi pun legam?

Ada kawan wartawan di Medan menjawab jenaka. Ketika saya tuturkan kembali kisah itu, empat teman kongkow yang mendengar terpingkal-pingkal. Salah seorang sampai berurai airmata, memerut melilit menahan ria-tawa.

SABTU, 13 Desember 2008, pukul 00.30 itu, di tempat yang sama, sosok yang kami “gossip”-kan itu, kok bisa-bisanya ada. Syamsul Arifin, Gubernur Sumatera Utara itu,sedang di depan hidung kami. Skenario ilahiah mengatur kami “bertuah”.

Saya berbisik kepada Surya Wijaya – - kawan pengusaha furnitur yang hari itu baru saja datang lagi ke Jakarta, “Benar, kan, apa saya bilang tempo hari?”

Surya tertawa. Kami cekikikan.

Maya Lie, kolega Surya, ikut tersenyum melihat ke sosok Syamsul. Sang Gubernur, senyam-senyum. Bisa jadi ia paham bahwa kami menertawakan kelucuan wajahnya. Maka, Maya memberanikan diri mengulurkan tangan. Saya mengikuti, dilanjutkan Taufik Hidayat, Wina Hendarti, dan Surya. Kami berkenalan. Meja pun kemudian menyatu bagaikan kilat.

Keadaan macam di deratan meja lain. Di pelataran jalan itu, ramai anak muda kongkow.

“Saya sudah berusaha ngumpet, mau cari makanan sendiri,“ ujar Syamsul.

“Eh, ini, tak sengaja jumpa dua stafnya Pak Aksa Mahmud.”

Aksa yang dimaksud adalah anggota DPR-RI, kerabat Jusuf Kalla itu.

“Pak, saya masih ingat ketika Bapak debat calon Gubernur di Metro TV dulu,” Maya bertanya dan menceritakan, ”Ada penanya, nanti jika Bapak terpilih Gubernur, lalu apa menjadi berubah?”

“Bapak jawab, apa yang mau aku ubah tampang aku sudah begini.”

Syamsul tertawa. Kami gerrr.

Ada lagi pertanyaan pemirsa teve yang diingat Maya. “Bagaimana konsep Bapak memajukan Sumut?”

“Bapak jawab, apa itu konsep, aku nggak punya itu konsep-konsep.”

“Iya di kantor Gubernur, itu sudah banyak, bertumpuk itu konsep, konsep apalagi, aku kan tinggal jalankan yang terbaik?” ujar Syamsul.

Sepiring sate kambing dan sepiring nasi goreng sudah di hadapan sang Gubernur ini. Sate Padang pun sudah di depan saya. Bubur ayam dan minutan berdatangan. Ia memesan jus jambu.

“Pak apa masih kuat makan sate kambing?” tanya Maya.

“Aku baru saja check up. Semua bagus.”

“Ada sembilan yang dicek. Kolesterol, normal. Ginjal normal, Jantung normal. Cuma ada dua saja kesehatanku yang bermasalah.”

“Iya dua saja yang bermasalah,” katanya meyakinkan sambil menatap kami satu-satu, “Urusan darah muda, dan kalau sudah datang, maka timbul penyakit berikutnya, jantung berdebar-debar.”

Belum selesai dengan urusan penjelasannya, Syamsul menekan hidungnya yang besar, sehingga kulit hidung bagian atas hingga menyentuh kelopak mata. Sebuah lubang menganga, kebiasaan dan pemandangan langka.

Semua kami terpingkal-pingkal. Syamsul ikut pula tertawa.

Kami sangat tak menduga.Seorang pejabat.Baru pula kenal.

Seakan tak percaya sosok di depan kami itu, benar-benar pejabat. Dua staf Aksa Mahmud menimpali, bahwa Syamsul memang senang guyon dan gampang akrab. Ia jika berkunjung ke kediaman SBY, juga JK selalu masuk lewat jalur khusus, lewat belakang rumah. Ia mengenal pembantu, akrab dengan kalangan biasa di kediaman pejabat.

Penampilannya pun tak ubah orang biasa kebanyakan.

Seakan belum puas mengocok perut kami, jurus Syamsul berikutnya mengajukan teka-teki. “Banyakan mana bulu kucing dibanding kera?”

Melihat kami belum satu jua pun menjawab, ia melanjutkan, “Jelas banyakan bulu kucing. Kera di bagian pantatnya licin, bulunya nol.”

Jawaban yang disampaikan tanpa dosa itu membuat perut kami kian sakit menahan tawa.Seakan belum puas, ia menimpali, “ Jangan kan kalian, pantat SBY pun ‘basah’ku bikin terpingkal-pingkal.”“Aku satu-satunya yang menyapa SBY; Bos! Bukan presiden”“Soalnya aku sudah lama kenal. Ibaratnya stock lama kemasannya aja baru.”Syamsul pun ngakak.

Dua kalimat di atas itu disampaikannya tentu bukan bentuk merendahkan presiden. Ia semata tulus menunjukkan keakraban dan kejenakaannya kepada siapapun termasuk kepada kepala negara sekalipun.

Syamsul memang “barang” langka.

Dua bulan lalu saya pernah melihat penampilannya di airport Soekarno-Hatta, Jakarta, ketika dia hendak pulang ke Medan. Ia bersandal kulit,, berpantolan hitam berbaju batik coklat tua. Jika diperhatikan batiknya pun biasa, bukan dari bahan berkelas. Yang membuat saya terganggu, di luar batik ia pun mengenakan blazer hitam yang ber-resleting, dibiarkan terbuka. Jatuhan blazer bagian luar, ujungnya tampak miring, karena selempangan sebuah tas hitam biasa, macam yang suka diberikan gratis di event seminar itu. Cuek sekali.

Saya ingin menyapanya kala itu. Tetapi ia keburu ke gate lain, sementara saya hendak menuju Jogyakarta. Kala itu dari jauh saja sudah membuat saya tersenyum. Tetapi senyum yang tersembul kala itu, karena teringat akan joke orang melayu Medan soal sosok keturunan India, Benggali, yang banyak mukim di Medan. Umumnya mereka berkulit gelap macam Syamsul.

Sebagian Benggali itu beternak sapi. Setiap hari pria Benggali itu memerah susu. Ia mengantar kepada pelanggan. Satu hari di sebuah Lapo Tuak langganan, seorang “jagoan” seakan tersinggung, karena sang Banggali, melempar saja sepeda onta batangannya dengan sekenanya, di depan Lapo.

Jagoan yang tidak senang menantang sang Benggali berbadan besar, berkumis melingkar, bermata besar, adu jotos.

Benggali bilang, “Oke, tapi jangan hari ini, Besok jam 10, karena susu pelangganku belum seluruhnya terantar ke pelanggan, besok aku siap.”

Mereka sepakat. Keesokannya, tepat waktu, sang jagoan yang bermarga Situmorang sudah menunggu dengan lengan terkepal, muka geram. Setelah ke dalam lapo tuak menuangkan susu, Benggali itu maju berhadapan ke muka Situmorang. Pengunjung mengerubung.

“Jadi macam mana? Mentang-mentang mataku besar, kalau aku sipitkan kau mau apa?”“Lalu bila kumis melingkar ke atas lebat begini, kalau aku turunkan ke bawah kau mau apa?”Kedua tangan Benggali itu menarik kumisnya sambil memicingkan mata.

Sekilas wajahnya menjadi semacam Engkoh keturunan Cina. Orang-orang yang di Lapo Tuak yang melihat adegan Benggali mirip Cina itu pun akhirnya terpingkal-pingkal. Hitam kok encek-encek! Tak terkecuali Situmorang yang mengajak duel menjadi terpingkal. Singkat kisah, perkelahian batal.

Bayangan akan kisah Benggali itu, setelah bertemu Syamsul memang tidak meleset. Orangnya doyan humor. Dan biasa pula mereka yang jenaka, bisa melihat penyelesaian kerumitan dengan ringan sekaligus mampu menghibahkan keceriaan.

“Yah begitulah aku. Apalagi yang mauku gayakan.”“Sebelum orang-orang pada kaya, aku sudah jadi kolega Ibnu Soetowo dulu di Pangkalan Berandan.”Pangkalan Berandan, wilayah operasi PERTAMINA, sejak lama di Sumatera Utara.
sebelum menjabat Gubernur Sumut, Syamsul dua kali menjadi Bupati Langkat.“Apalagi kini sudah pula Gubernur,” katanya.Dan gaya, penampilan, kejenakaannya tetap sama, termasuk kegemarannya nongkrong di kaki lima.

Agaknya inilah “barang” langka yang harus dicontoh oleh seluruh pejabat Indonesia kini, khususnya mereka yang berada di pusat Jakarta. Jika pun tidak bisa berbuat terhadap rakyatnya, bahkan cuma bisa memerintah melalui jargon sumbang di billboard di jalan-jalan protokol, lebih mending menghibahkan kocokan melilit perut, manjadi amalan tersendiri. Rakyat kebanyakan seakan dapat dibawa larut melupakan kesulitan dan beban hidup kian berat, diawal resesi ini.

Saya lalu membayangkan para pemimpin Indonesia dulu, macam era Alm. Sutan Sjahrir, yang menurut wartawan senior, bisa ngobrol macam Syamsul Arifin itu. Mereka juga manusia biasa, peduli kepada siapapun, terutama kepada rakyat kebanyakan. Selalu berusaha berdiri sejajar dengan rakyatnya, bahkan menempatkan rakyat di atas segalanya, macam tabiat yang ditampilkan Alm. Jenderal Soedirman.

KETIKA bangun pagi di Sabtu pagi yang cerah, tawa saya belum hilang. Kepada isteri,saya ceritakan tentang pertemuan dengan Syamsul sang Gubernur itu, biar dia tidak berpikir bahwa suaminya stress, karena hidup belakangan kian sulit, lalu tertawa-tawa geli sendiri.

Penasaran akan langgam sang Gubernur, saya menghubungi Wartawan Yulhasni, Mantan Ketua Korda PWI-Reformasi Sumut. Saya konfirmasi tentang perilaku Gubernur yang bersahaja sekaligus kocak itu.

“Ha ha ha , aku pikir Abang mau bicara apa? Tumben pagi-pagi sudah telepon.”“Kalau itu betul. Di kantor Gubernur saja, rapat serius bisa cuma setengah jam saja. Sejam sisanya untuk mendengar kombur malotup,” ujar Yul di telepon.

Kombur malotup kalau diterjemahkan kira-kira sama dengan meledaknya dagelan. Nah menunggu kombur malotup, salah satu “agenda” kantor gubernuran Sumut kini.

“Tapi Abang jangan salah, Gubernur kami itu jenius.” tutur Yulhasni.

Saya amini Yul, umumnya mereka yang memilki sens of humor tinggi, memiliki kejeniusan di atas rata-rata.

SOSOK Syamsul bersama Gatot Pujo Nugroho, memenangkan secara telak pemilihan Gubernur Sumut pada 16 Maret 2008 lalu. Salah satu rivalnya dalam Pilkada Gubernur, adalah Mayjen (Purn) Tritamtomo, yang didukung pengusaha Olo Pannggabean, antara lain.

Melalui penelusuran di internet, saya menemukan deretan panjang prestasi dan kedekatan Syamsul ke masyarakatnya. Ia tidak mengubah hidupnya kendati telah menjadi orang.

“Aku ini tukang jual kue yang menjadi Gubernur,” ujarnya kepada media di Medan. Itu ucapan pertamanya ketika mengetahui menang dalam Pilkada.

Ia kelahiran 25 September 1952. Ayahnya, almarhum Hasan Basri, pejuang dan veteran dari Pangkalan Brandan, akrab disapa Haji Hasan Perak. Ibundanya Hj Fadlah.

Kehidupan ekonomi orang tuanya di masa kecil sulit. Sebagai anak tertua ia harus berjuang dengan berjualan kue. Hasil penjualan kue itu dipakai untuk membeli sejumput beras, yang dimasak bercampur ubi dan keladi. Adonan rebusan bahan makanan macam itu, kemudian dikepal-kepal. “Satu kepalan untuk satu anak sekali makan,” kenang Syamsul.

Di tengah kesulitan hidup, ia pernah mengeluhkan tentang adiknya yang kurang berkenan bekerja keras kepada ayahnya. Ayahnya bijak meminta Syamsul melihat sebuah pohon kelapa milik ayahnya.

“Ayah berpetuah, kau lihat pohon kelapa itu, tidak seluruh buahnya bagus, ada yang kecil, besar, ada pula yang busuk. Kau harus menjadi buah yang bagus.”

Terkesan sekali akan petuah ayahnya itu, pohon kelapa yang dijadikan contoh sang ayah itu, hingga kini masih tumbuh dirawatnya.

KATA AYAH, itu menjadi bahan diskusi lanjutan saya dengan Surya. “Kini rumah tangga Indonesia banyak kehilangan figur ayah. Akibatnya kenakalan remaja meningkat, anak kurang mendapatkan kehangatan sang ayah, garría prestasi sekolah mengendur” ujar Surya Wijaya seakan berpetuah.

Saya pun sepakat. “Dan perhatian ke anak oleh sang ayah itu, bukan hanya terhadap dirinya, tetapi juga terhadap hal kecil, memberikan perhatian dan kasih sayang kepada ibunya anak-anak, di lain sisi” tutur Surya.

Memang menjadi suatu tanda tanya bila di suatu rumah tangga, sang ayah tidak lagi dapat menjadi panutan. Ayah dalam pengertian lebih luas, adalah pengelola utama negara, presiden misalnya. Bila yang bersangkutan tidak mencerminkan ayah bangsa, maka kita memang seakan merasa kehilangan tauladan, sekaligus kehilangan motivator.

Indonesia saat ini membutuhkan seorang ayah yang tidak malu berkendaraan dinas macam Daihatsu Ceria, macam Syamsul yang tidak kuatir cuma naik Kijang tua di Jakarta. Sudah saatnya kita lupakan seorang ayah yang berkata ke media, “Saya kan harus mengikuti protokoler yang sudah diatur negara.”

Apalagi bila seorang ayah bangsa, tega-teganya berkata, bahwa kepemimpinan seorang presiden tidak menjamin seluruh masalah bangsa dapat selesai, menjadi ungkapan amat basi. Maka yang berpenampilan dan berpandangan begitu, bukan lagi sebagai pengelola negara, tetapi sebaliknya, macam menak feodal, membangun singgasana dari uang rakyat.

Langgam itu pun mengental sejak otonomi daerah kini. Jika disimak pembangunan fisik kantor Bupati, Wali Kota lengkap dengan perumahannya, menomorduakan sarana kesehatan, Gizi balita dan bangunan sarana sekolahan berikut kontennnya.

Saatnya kita butuh seorang ayah, berani mengatakan, karena saya pemimpin, maka saya mau ini, itu, dan lainnya yang memang pro dan berpihak kepada kesulitan kehidupan rakyat, karena memang seharusnya kedaulatan di tangan rakyat.

Ketika berkampanye di Pilkada Sumut yang lalu, Syamsul membuat tag line mewujudkan: Rakyat Sumut tidak lapar, tidak bodoh, tidak sakit dan rakyat punya masa depan. Ia memberikan sebuah harapan, apalagi jika memang disampaikan dengan ketulusan mendasar.

Akhirnya, kini, memang masih sulit menilai keberhasilan Syamsul yang baru menjabat dalam satu smester bekerja di Medan. Paling tidak, kepada siapapun agaknya kini, dia menghibahkan keceriaan di mana pun dia ada secara masif, sehingga gigi kami yang sekejap saja di sekitarnya kering kerontang kelamaan katawa.

Mengingat kini di pusat, di Jakarta, banyak hal disampaikan pejabat dengan serius berjargon tidak lagi menarik, kebanyakan bernada perintah ke rakyat, maka saatnya, agaknya, berlajarlah ke rakyat Sumut memilih pemimpin, memilih sosok sang ayah. Bukan berkombur untuk sia-sia***



catatan iwan piliang the indonesian freedom writers

7 July 2012

Apa Kata Hotman Jika Semua Orang Suka Meriam Bellyna..


berapa macam minum pagi anda? kalau saya ditanya jawabnya ada empat. ketika bangun pagi saya minum secangkir kecil kopi,lalu segelas air putih kemudian susu kedelai.. berselang sejam setelah mengantarkan anak-anak dan istri saya seduh teh celup sendiri. itu rutin setiap hari sejak awal 2012 ini, saya tak suka teh telor yg jadi minuman favorit kawan-kawan saya dipalanta2 kedai kopi dipariaman ini, bukan hanya sekarang tapi sudah dari dulunya demikian. telor setengah matangpun entah sudah berapa tahun saya tak menginyamnya, saya tak suka bau hanyirnya baik itu teh telor dan telor setengah matang.. biasalah.. ini masalah selera.. kalau semua orang suka meriam bellina contohnya.. apa kata hotman ?


pagi ini saya beraktifitas seperti biasanya, dan selalu ketika membuka laptop dan konek ke inet saya cek email masuk ke pariaman.news@yahoo.co.id. barusan ada 39 email belum dibaca, saya baca satu persatu, dan saya melihat hari ini kirimannya beragam, ada yg menanyakan kapan tabuik, kiriman berkodak dipariaman expo tanpa literatur, yg bilang sianu korupsi, dan yg paling menggelikan ada seorang perempuan yg mengaku janda beranak satu minta dicarikan laki, dia pajang pula kodaknya yg lumayan manis dan bohay, ada tiga kodaknya yg ia kirim ke email saya.. namun dibalik kirimannya ini dia memberi masukan yg bagus untuk saya pertimbangkan. ia menyarankan pariaman news menyediakan kolom kontak jodoh.. masukan yg bagus, nanti akan saya bicarakan dengan programer saya.

seorang polisi muda barusan menelpon saya, ia merasa bahagia ada juga media yg meliput kegiatan polres pariaman. dan mensosialisasikan program2 polres pariaman kemasyarakat, serta menghimbau masyarakat menjauhi PEKAT (penyakit masyarakat) dan tertib berlalu lintas.. itulah gunanya media sebagai wadah sosial kontrol, baik katakan baik, jelek katakan jelek, dan saya himbau polisi muda ini untuk terus giat bekerja profesional agar terciptanya agenda besar kapolres dalam mewujudkan wajah polisi yg humanis, anti kkn,kekerasan dan pengabdi masyarakat dengan pelayanan prima.. dia mengamini nasehat saya, perubahan itu haruslah bermulai dari diri masing2 jajaran anggota polres pariaman yg jadi garda terdepan dan bersentuhan langsung dengan kehidupan sosial masyarakat. dan dengan ditiadakannya razia lantas dipolres pariaman ini hendaknya kita sebagai masyarakat musti lebih memahami arti keselamatan diri kita sendiri, gunakanlah helm dan surat menyurat lengkap bila berkendara roda dua, karena aspal itu sangat keras..


dan saya yg barusan dapat telpon dari sahabat di surabaya yg juga orang awak juga dan kader PEMUDA PANCASILA disana, ia menyatakan dan mengangkat jempol wajah pemuda pancasila pariaman yg bisa baur membaur dengan masyarakat, dan lebih menekankan kegiatan sosial daripada politik praktis, itu ia dapatkan informasinya melalui blog resmi pp pariaman. saya jawab tentu saja, dan saya balik bertanya kepadanya apa itu pancasila? genggamlah kelima sila itu , hayati dan baca serta pahami ad/art PP sesungguhnya, dan jika itu sudah dicerna maka rumusannya akan mengarah kepada kegiatan yg kami lakukan disini. apa susahnya? jangan mentang2 ente anak pp semau gue kata saya, jangan sekali2 bentrok dengan masyarakat yg seharusnya kita bela ujar saya pula.. ia mengamini dan berupaya untuk menuju kearah sana dengan memulainya dari dirinya sendiri..


dan pagi ini saya merasa bahagia, karena dapat telpon juga dari kakak angkat saya bahwa ia sudah mulai sembuh dari sakitnya, kemaren ia dirawat di RSUD PARIAMAN karena penyakit gula. dan sekarang sudah dirumah dan mulai pula bekerja sebagaimana mestinya.. amien..


catatan oyong liza piliang

6 July 2012

PARIAMAN EXPO DAN GADIS PENJAGA TOKO : "wajah abang mirip oyong liza piliang"
                               saya dan buah hati pertama yona liza venusya

barusan saya bbman dg ibu ira oemar penulis kawakan dikompasiana yg hobi traveling ini.. ia adalah seorang perempuan muslimah yg bijak, dan penuh empati.. dia jugalah penulis yg memblowup kisah siti bocah 8th penjual bakso yg bergaji 2000perak sehari dan anak seorang janda buruh tani. kisah ini membuat pembaca kompasiana menangis dibuatnya termasuk saya sendiri.. dan tulisan ibu ira oemar ini dibaca puluhan ribu pengunjung dikompasiana dan puluhan ribu pula di situs kaskus.

 kisah siti yg sempat diblowup trans7 tv ini, dikompasiana tulisan ibu ira oemar ini menggugah hati para kompasianer,dan kaskuser . (saya baru-baru ini jadi member dikaskus) mereka dg kesadaran sendiri mendatangi keluarga siti dan berderma lewat dompet peduli "siti bocah penjual bakso" ini.. dan uang puluhan juta yg terhimpun mereka sumbangkan kepada keluarga miskin ini, mereka mengajari ibu siti ini berdagang , dan mengayomi keluarga malang ini secara komprehensif.

tak berselang lama kemudian telpon saya berdering, dari sahabat saya di perth australia, ia mengatakan pada saya agar mengurus paspor dan main-main ketempatnya, masalah biaya saya yg nanggung katanya.. teman saya ini mewanti-wanti agar identitasnya jangan diungkap diweb ini.. sahabat lama dan konco saya semasa dibukittinggi ini, awal 90an dulunya adalah seorang guide touris . dia sering tidur dirumah kakak saya tempat dimana kamar saya ada satu. dan saya juga sering tidur ditempat kostnya di bukik cangang bukittinggi. dia bagaikan saudara kandung bagi saya. kemaren waktu TDR dia sempat pulang kampung, dan sayalah yg menjemputnya dibandara BIM.

 perihal paspor ini dan berkunjung keluarnegeri tentu bukan perkara mudah bagi saya,karena saya punya istri dan 2 anak perempuan yg masih kecil. itu saya terangkan padanya barusan, dan saya katakan bahwa jika ekonomi saya sudah mapan dan punya waktu luang saya akan kesana juga.. dan nantilah paspor saya urus jawab saya..

teman saya ini tau betul akan sifat saya.. jika saya sudah berkata dia jarang membantahnya, dia mengamini keadaan saya sekarang ini. dan melanjutkan, luangkanlah waktu agak sebulan sekali buat berkomunikasi dengannya via webcam skype. okelah kata saya.. hal ini memang agak runyam juga saya memikirkannya, jaringan inet dikota ini kadang kencang kadang lelet, sangat tidak stabil. butuh koneksi prima buat skype ini.

berlanjut kehelat pariaman expo 2012 dalam rangka milad kota pariaman yg ke-10 ini.. pameran yg dibuka tgl 2juli yg bertepatan dg hari lahir kota pariaman ini akan berakhir sabtu besok 7juli. dan tentu hari itu pulalah acara puncaknya, saya yg sudah melihat2 kesana kemaren, meskipun disiang hari tak seramai malam hari sudah mendapatkan gambaran sekilas akan pameran ini,.

stand-stand pameran disana cukup lengkap. selain stand2 kerajinan dan produk2 khas pariaman juga ada stand KNPI dan POLRES PARIAMAN. sangat bagus menurut hemat saya.. sosialisasi akan kegiatan ormas dan lembaga diajang ini akan memberikan dampak yg amat positif bagi para pengunjung pameran, yg belum berkunjung kesana saya himbau untuk datang.. dan saya jamin sedikit banyaknya wawasan anda akan bertambah dibuatnya. 

saya siang kemaren sampai terkesima melihat akting pelajar SMU yg memerankan tokoh sijoki dan siti baheram dipentas tradisional sandiwara minang ini,diselingi pula dengan tari randai dan indang. akting mereka sangat menjiwai sekali saya lihat ,anda boleh mempercayai tulisan saya ini.. saya yg orangnya tidak gampang tertarik saja terpukau oleh akting pelajar-pelajar SMU ini.


sehabis jumat ada wartawan senior yg membuat janji dengan saya , perihal apakah ini? tanya saya dalam hati.. saya tak akan mereka-reka akan niat dan maksudnya nanti.. yg pasti ia adalah sahabat saya.. paling tidak kami akan diskusi perihal berita2 hangat sekarang ini. 

dan barusan saya ketika membeli rokok disebuah kedai kelontong seorang anak gadis belia berkata wajah abang mirip dengan oyong liza piliang diwebsite pariaman news.. saya menjawab sejak kapan membaca pariaman news? dia jawab sudah 2minggu.. dan saya jawab pula.. memang banyak orang bilang wajah saya mirip oyong liza piliang sambil tersenyum.. dan pastinya dia akan tau juga pada akhirnya setelah membaca tulisan saya ini.. (salam hangat buat adik)


catatan oyong liza piliang





5 July 2012

PITIH HANTU DIMAKAN SETAN


SAYA merasa bahwa tulisan kali ini dipaksakan, disaat saya sedang kurang konsentrasi..banyak hal yg mengganggu pikiran saya sejak kemaren, mulai dari anak saya yg sakit hingga polemik2 yg terjadi dikota dan kabupaten ini yg dilaporkan para wartawan kepada saya. dan juga email masuk ke pariaman.news.@yahoo.co.id. semua berita masukan tak ada yg positif.. ada laporan tentang proyek di anu yg anu-anu dari wartawan, dan bahkan sore kemaren ada pula kontraktor yg minta bantuan saya perihal proyeknya yg bernilai milyaran , masih belum bisa dikerjakan karena ditentang masyarakat. dia mengatakan masyarakat sana hingga memburu mereka dengan lading.


saya hanya meminta kepada sahabat saya ini untuk mengambil jalan tengah.. jangan berpikiran negatif dulu bahwa masyarakat disana "diprovokatori". saya minta ia menyelesaikan hal ini dengan tokoh pemuda disana dan para ninik mamak, dimana nantinya akan bersua juga titik temunya. kedepankanlah pendekatan emosional ketimbang bermain dengan cara2 yg menguntungkan kita sendiri sementara maunya masyarakat kita kesampingkan.. win-win solutions bahaso pagainyo..


bukan saya tak hendak pitih masuak.. dia bisa saja menyewa jasa saya yg dikenal punya banyak masa dan dikenal tokoh pemuda didesa dimana proyek tersebut dikerjakan. namun pekerjaan-pekerjaan seperti ini sudah saya tinggalkan sejak anak kedua saya lahir. saya tak mau lagi akan uang "panas" tersebut.. cepat menguap dan menandi kekeluarga saya. saya tau karena saya yg merasakannya. namun bukan berarti saya tak menolongnya.. masukan positif bukankah bagian dari sebuah solusi yg membantu bukan?


saya yg dikenal perokok berat dan jarang olahraga juga dinasehati teman saya barusan.. ayo bersepeda yong katanya.. saya jawab nantilah jika uang saya cukup buat membeli sepeda yg diperuntukan buat olahraga tersebut. dia menukuk bagaimana jika saya suruh orang membelikannya buat oyong.. dengan tegas saya tolak.. saya jawab dengan tegas "kita sama-sama munafik.. namun kemunafikan saya tak akan pernah menentang dan menelan kembali air liur saya.. tolong jangan ulang lagi kalimat ini, jika anda masih mengakui saya sahabat anda"


tergagau dia diseberang telepon sana.. dalamnya air bisa diuji, dalamnya hati tuhanlah yg tau.. jika anda jadi sahabat saya.. ada satuhal yg mesti anda catat.. jangan pernah khianati saya.. sebab jika ini anda lakukan.. maka sayalah orang terkejam yg pernah anda temui dalam hidup anda.. saya ingatkan ia akan hal ini barusan.. kalimat bersayap jangan sekali-sekali dilontarkan kesaya.. saya orang minang nan baradaik..paham betul kemana arah kalimat tersebut jika saya amini...


catatan oyong liza piliang

30 June 2012

“Janda” Status yang Ditakuti dan Dihindari Perempuan

(foto : karya Arif Subagor dari Grup KAMPRET)
Awal Juli 2011
Nia mem-Ping! BBM-ku dan hanya meninggalkan pesan “Hello”. Saat itu sudah hampir jam 11 malam dan aku sudah tertidur. Esok paginya, aku heran melihat ada BBM dari Nia. Dia memang ada dalam contact list BBM-ku, tapi boleh dibilang kami tak pernah ngobrol banyak kecuali Nia tanya 1 – 2 kabar tentang teman lama kami di SD atau SMP. Saat on the way ke kantor, aku BBM Nia dan tanya kenapa dia mem-Ping!-ku semalam. Lalu meluncurlah kisah pahit rumah tangganya yang tak pernah kuduga bakal terjadi dalam kehidupan Nia.
“Aku ditinggalkan, Ira”, begitu Nia mengawali penuturannya. “Dia memang masih ada di sampingku, tiap malam dia pulang ke rumah kami, but no more touch, no communication at all”. Aku nyaris tak percaya. Bermula dari perkenalan Judith, suami Nia, dengan eks teman SMA-nya di akhir 2009, saat tak sengaja berjumpa di sebuah mall di Surabaya. Eks teman SMA Judith itu kini sudah menjanda karena bercerai dengan suaminya. Tapi janda dengan 2 anak ini kaya raya, ia memimpin sebuah bisnis yang dimilikinya sendiri.
Sejak pertemuan itu, komunikasi mereka makin sering  dan akhirnya Erna – nama janda itu – menawari Judith untuk bekerja sama dengannya. Namanya saja bekerjasama, tapi sebenarnya Judith bekerja pada Erna. Sejak jadi orang kepercayaan Erna, Judith diberi beragam fasilitas : sebuah mobil Honda CRV baru, akses beberapa kartu kredit yang pemakaiannya ditanggung Erna dan entah berapa gaji bulanan yang dijanjikan. Nia tak pernah tahu, sebab Judith memang tak pernah memberinya uang belanja bulanan. Bahkan sekedar memberitahukan penghasilannya pun tidak.
Nia dan Judith bertemu semasa mereka masih kuliah. Keduanya sejurusan dan seangkatan. Judith sudah mengejar Nia sejak di tahun pertama, tapi Nia tak merespon karena dianggapnya Judith bukan typical yang diinginkannya. Tapi jodoh memang tak lari kemana. Saat mengerjakan tugas akhir, Nia berpasangan dengan Santi, sepupu Judith. Sejak itulah Judith punya banyak kesempatan show time untuk menarik perhatian Nia. Alhasil, Nia pun luluh dengan kegigihan Judith dan mereka menikah selepas lulus sarjana, pada Agustus 1994.
Pada awal pernikahan, Judith dan Nia sama-sama bekerja. 3 tahun kemudian putra pertama mereka lahir, disusul 3 tahun berikutnya putri mungil menyusul lahir. Lengkaplah kebahagiaan Nia dan Judith dengan kehadiran Alvin dan Aleeya. Tapi seiring kelahiran Aleeya itulah, Judith menyatakan mau berhenti bekerja dan akan membangun bisnis sendiri. Sebagai istri yang penurut dan selalu men-support suami, Nia menyetujui gagasan Judith. Tapi ternyata tak mudah, tanpa modal yang cukup dan talenta di bidang bisnis, Judith tak pernah berhasil berbisnis apapun.
13381971631237492266
(foto : seputartuban.com)
Sementara, Nia makin cemerlang karirnya. Dia bahkan meneruskan kuliahnya ke jenjang S2 jurusan Marketing di sebuah PTN ternama. Kini jabatan kepala Divisi Marketing di sebuah perusahaan perhiasan emas dan permata yang produknya dipakai menjadi hiasan mahkota Miss World, ada dalam genggamannya. Dan selama itu pula, Nia yang membiayai kehidupan rumah tangga mereka, membeli sebuah rumah besar, mobil, menyekolahkan Alvin dan Aleeya di sekolah ternama yang bayarannya mahal. Tak sepeserpun Judith berkontribusi. Tapi Nia selalu menutupi kenyataan ini di depan anak-anak mereka, orang tua dan keluarga besar Judith, maupun orang tua dan adik-adiknya sendiri.
Di keluarganya, Nia dinilai jadi role model keluarga harmonis oleh ibu – bapaknya. Adik-adiknya selalu diharapkan mencontoh rumah tangga Nia – Judith. Di mata ibu mertuanya, Nia menantu terbaik dan tersabar. Begitu rapinya Nia menutupi kelemahan suaminya, sehingga Judith tetap punya harga diri di hadapan keluarga mereka.
Kini, ketika Judith mulai berpaling sejak kenal janda kaya raya yang kini jadi Boss-nya, Nia bingung tak tahu harus mengadu pada siapa. Selama 1,5 tahun ia memendam sendiri lara di hatinya. Judith ibarat memusuhinya. Tiap Jumat petang sepulang kantor, Nia pasti mendapati rumah kosong hanya tinggal PRT. Alvin dan Aleeya diajak Judith jalan-jalan, entah ke mall atau ke berbagai arena hiburan di Surabaya. Mereka tak hanya bertiga, tapi bersama dengan Erna dan kedua anaknya. Begitupun esoknya, Sabtu, dimana Nia memang tidak libur dan tetap bekerja sampai jam 5 sore. Anak-anaknya sudah diajak Judith meninggalkan rumah sejak siang dan baru pulang jelang tengah malam. Kadang mereka memancing atau bahkan pelesir ke luar kota, ber-6 dengan Erna dan kedua anaknya.
Nia jadi seolah tersisih dari kedua anaknya sendiri. Anak-anaknya bahkan akrab dengan anak-anak Erna. DI hari Minggu, saat Nia ada di rumah, Judith justru pergi seharian sampai larut malam. Bersama Erna tentu. Acara sowan ke ortu Nia yang rutin dilakukan tiap hari Minggu 2 pekan sekali, kini hanya dijalani Nia bersama kedua anaknya, tanpa kehadiran Judith. Ibunya bahkan pernah berujar : “Berapa sih uang belanja yang diberikan suamimu sampai-sampai ia ngoyo kerja lembur setiap hari Minggu begini?!”. Nia Cuma tersenyum kecut menanggapi pertanyaan ibunya. Mana mungkin ia menjawab “tak sepeserpun, Bu”.
Di hari kerja, Nia sampai di rumah sebelum maghrib seperti biasa, tapi Judith baru sampai di rumah jelang tengah malam bahkan kadang hampir dini hari. Kalau ia tiba di rumah saat Nia masih terjaga, Judith langsung sibuk dengan gadget-nya dan tak sepatah katapun dilontarkannya menyapa Nia. Kalau Nia sudah tidur, Judith akan langsung merebahkan tubuhnya membelakangi Nia. Judith bahkan belum bangun saat Nia berangkat ke kantor. Jadi, praktis tak ada komunikasi antara mereka. Nia pernah menyampaikan ketidaknyamanan yang dirasakannya, tapi Judith Cuma menjawab : “kalau begitu ceraikan aku!”. Setiap kali Nia dengan sabar mengajak bicara baik-baik dan ingin memperbaiki hubungan mereka, selalu saja “menu” cerai yang keluar dari mulut Judith. Bahkan Judith selalu menantang Nia segera mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama, dia akan segera mengabulkan gugatan Nia, tanpa meminta hak asuh anak dan pembagian harta gono gini.
13381972621820656598
(foto : puchusukahujan.wordpres.com)
Meski tersiksa lahir – batin, Nia tak serta merta menyetujui ajakan cerai. “Alasannya klasik, Ira. Demi anak-anak” akunya. Aleeya dekat sekali dengan Papanya. Putrinya ini berprestasi di sekolahnya dan saat ini duduk di kelas 6 SD. Dia berambisi bisa diterima di SMP paling favorit. Nia membayangkan kalau mereka bercerai, putrinya akan shock dan bahkan bisa jadi semangat hidupnya hancur. Judith pernah berseloroh menyindir Aleeya, bagaimana kalau Papa dan Mama pisah. Aleeya tak menjawab, dia hanya berlari sambil menangis sesenggukan. “Bagaimana mungkin kami bercerai, baru dibecandain aja Aleeya reaksinya sudah begitu”, kata Nia.
Aku hanya bisa menyarankan pada Nia untuk lebih mendekatkan diri pada Allah, agar diberi jalan keluar terbaik. Dan jangan pernah memberi peluang pada perempuan lain untuk merebut perhatiannya sebagai Ibu bagi kedua anaknya. Kalau Nia selalu sibuk bekerja pada hari Senin sampai Sabtu, dia harus rela berlelah-lelah di hari Minggu untuk berlibur bersama anaknya. Kusarankan padanya agar memanfaatkan moment Ramadhan yang bakal segera tiba, untuk menciptakan saat-saat bersama kedua anaknya. Sering mengajak mereka buka puasa bersama dan sebagainya. Nia setuju. Kini jelang dini hari Nia mulai sering terbangun untuk sholat Tahajjud dan Aleeya ikut bangun saat Mamanya mengambil air wudhu. Bersama Nia, Aleeya juga sholat Tahajjud sambil memohon nilai yang bagus agar diterima di SMP favorit.
Masuk bulan Ramadhan, Nia menjalani sahur bersama Alvin dan Aleeya. Judith pulang dini hari dan langsung makan sahur, lalu tidur pulas. Buka puasa pun tak pernah bersama. Selepas Idul Fitri, Judith pergi. Selama ini memang Judith sudah sering pergi berhari-hari tanpa pesan. Di telpon tak diangkat, di BBM atau SMS tak dijawab. Dari anak-anak lah Nia tahu keberadaan Judith. Tapi kepergian kali ini lebih lama. Sudah 3 bulan Judith tak kembali. Meski masih sering menelpon anak-anaknya, tapi tak sepatah katapun menanyakan kabar Nia. Ibunda Judith pun akhirnya tahu perihal anaknya yang tak pulang 3 bulan “Aduuuh.., anak ibu kok jadi Bang Toyib gini ya?” tanyanya.
Januari 2012, Nia mengajak kedua anaknya berlibur di Batu, Malang. Kali ini dikiriminya Judith SMS : “aku tak tahu apa yang kamu kerjakan di sana, sampai-sampai tak bisa cuti sehari pun. Aleeya bilang liburan paling berkesan tahun 2009 saat ke Bali, sebab kita berempat. Liburan selanjutnya gak enak sebab gak lengkap, gak ada Papa. Kami berlibur di Batu, menginap di hotel X sampai tanggal sekian. Kalau kamu ada waktu datanglah.” Dan Judith memang datang sehari semalam sebelum mereka check out. Menyewa kamar yang berbeda dan tidur bersama Alvin. Aleeya menemani Nia. Tanpa komunikasi berbulan-bulan, membuat mereka jadi canggung.
Judith kembali menawarkan perceraian. Dia katakan kini dia sudah punya pekerjaan. Uang hasil kerjanya ditabung dalam bentuk emas batangan, sebagai persiapan biaya menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri selepas SMA nanti. “Aku tak perlu mengirimimu sebab untuk hidup sehari-hari toh kamu sudah bisa cari sendiri” alasan Judith kenapa ia tak pernah memberikan sepeserpun hasil kerjanya pada Nia. Ironisnya, Nia membenarkan alasan Judith. Tapi ia tetap menolak bercerai. “Sudahlah, kamu kerja saja yang kenceng, cari duit buat sekolah anak-anak kita kelak. Gak usah pikirkan aku, aku sudah bisa mencukupi diriku dan anak-anak”.
13381973541269060022
(foto: daveenar.com)
Tapi menyangkut perceraian, Nia tetap menolak. “Aku bukan takut menjanda Ira. Sekarang pun faktanya aku sudah jadi single parent terutama hampir setahun ini. Tapi aku tak mau ribet soal perceraian, biar sajalah seperti ini” katanya padaku. Ketika Judith kembali menawarkan “menu” cerai, Nia bilang : “Relasiku banyak, aku tak mau disibukkan menjawab pertanyaan “kenapa cerai” dari mereka. Begitu juga di keluarga, mereka tahunya kita selama ini harmonis. Bagaimana aku harus menjelaskan perceraian kita?”.
Nia mengaku, ia sebenarnya sudah mulai “galau”, terutama menyangkut kebutuhan batiniah. Tak ada teman berbagi cerita saat letih sepulang kantor, tak ada sentuhan suami yang siap meredakan semua beban beratnya, dan tentu tak ada pasangan yang memenuhi kebutuhan biologisnya. “Tapi aku sekarang sudah terbiasa, Ira. Aku sudah tak punya perasaan apapun lagi padanya. Dulu aku memang sering menangis sendiri kalau malam tiba. Sekarang sudah tidak lagi. Aku sudah cuek”, kilahnya.
Itulah kisah Nia. Meski menyatakan tak takut menjanda, tapi sejatinya Nia takut dengan predikat “janda”. Ia memang tak kuatir soal urusan ekonomi, kondisi finansialnya lebih dari cukup. Hanya saja, dalam status sosial seperti sekarang, dalam lingkaran relasi yang cukup banyak baik di dalam maupun di luar negeri, Nia khawatir tak mampu menjelaskan kenapa ia memilih berpisah dengan suaminya. Seorang terpelajar, punya karir cemerlang dan status sosial ekonomi yang cukup mapan seperti Nia, ternyata tetap tak membuatnya berani memerdekakan diri dari kesewenang-wenangan suaminya dengan memilih berpisah secara hukum. Meski secara de facto mereka sudah berpisah, tapi secara de jure pernikahannya masih utuh dan ini “aman” bagi Nia. Ada banyak perempuan lain yang tak berani menjanda dengan berbagai alasan. Kisah lainnnya ada di bagian selanjutnya.
(CATATAN : semua nama tersebut di atas bukan nama sebenarnya, terinspirasi dari kisah nyata)

catatan Ira Oemar freedom writers kompasianer

29 June 2012

Perempuan Sopir Angkot Itu Mengusung Slogan “Rumahku, Surgaku”
1337696103715228788
Siang tadi saat jam istirahat kantor saya keluar sebentar. Begitu menyeberangi pelataran kantor, sebuah angkot warna merah  melaju perlahan dan langsung berhenti tepat di depan saya. Saya pun langsung naik dan meletakkan pantat di bangku sebelah kiri dekat pintu masuk. Hanya ada seorang penumpang – remaja yang pulang sekolah – duduk di depan saya. Sementara di jok depan samping sopir ada seorang penumpang pria sedang mengajak bicara sopirnya.

Saat sudah duduk manis, mata saya baru menangkap jelas sosok sopir yang mengemudikan angkot ini. Ternyata dia seorang perempuan! Rambutnya yang melewati bahu diikat ke belakang dengan seutas kain warna hijau muda. Sementara anak-anak rambutnya yang belum cukup panjang untuk diikat, disatukannya dengan sebuah bando plastik kecil warna hitam. Sepotong kaos motif garis berlengan pendek dan celana dari bahan kaos, melengkapi penampilannya. Sesaat saya cermati raut wajahnya dari samping. Sama sekali tak nampak kesan tomboy atau kelelakian. Ah, mungkin ia sedang menggantikan bapak atau suaminya yang sedang berhalangan menyopir, pikir saya.

Saya perhatikan caranya mengemudi, sangat piawai, sama sekali tak tampak canggung dan ragu. Hanya saja dia memang tak ngebut seperi umumnya sopir angkot laki-laki. Sesekali tangannya melambai sambil telunjuknya memberi isyarat jurusan yang dituju, menawarkan pada orang-orang di tepi jalan untuk ikut angkotnya. Body languange-nya tampak sudah terbiasa melakukan gerakan khas sopir angkot. Siang itu mentari terik sekali dan sepi penumpang. Hampir semua yang ditawarinya menggelengkan kepala.


Tiba di depan sebuah SMP, angkot melambat dan berhenti sebentar, menawari sekelompok ABG cowok untuk naik. Mereka tersenyum sembari menggeleng. Angkot kembali berjalan. Di depan sebuah SD, angkot berhenti, mengajak anak-anak SD yang sedang jajan es, untuk naik ke angkotnya. Anak-anak itu berteriak akan ikut tapi masih sibuk antri es. Si sopir perempuan ini tersenyum lalu memajukan angkotnya beberapa meter dan menepi. Dengan sabar ia menunggu anak-anak itu selesai dilayani Abang penjual es. Saya lihat raut wajahnya setengah tersenyum di balik sepucuk sapu tangan warna keunguan, melihat tingkah polah anak-anak SD.
1337696279740519312
Si Mbak sopir angkot itu menutupi senyumnya dengan selembar sapu tangan, menyaksikan keribetan anak-anak SD dengan es jajanan mereka
Umumnya sopir angkot enggan mengangkut penumpang anak SD, sebab bayarnya cuma seribu perak bahkan tak jarang “gopek” doang. Tapi si “ibu” ini justru dengan sabar menunggu calon penumpangnya. Begitu pun saat salah satu anak SD itu berteriak “Kiriii!!”, ia menepikan angkot dan berhenti, tapi anak-anak itu tak segera turun karena masih sibuk berkutat dengan plastik es-nya. 

Si sopir hanya tersenyum, menunggu mereka sampai siap turun, pun bersabar ketika anak-anak itu lama merogoh sakunya mencari sisa uang jajan untuk membayar ongkos angkot.

Saat berhenti agak lama itulah saya sedikit menegakkan punggung dan melirik dashboard angkotnya. Di kaca depan persis di depan posisinya menyetir, ada 2 buah spion bekas motor tahun ’70-an (bentuknya bulat dan kecil) yang ditempelkan menggunakan karet penempel hiasan kaca mobil. Kedua spion itu ditempel sejajar berjarak 40an cm kira-kira, persis mengapit posisinya menyetir.

 Di gagang kedua spion itu ada gantungan hiasan kayu yang umumnya digantung di depan pintu rumah atau kamar anak gadis. Keduanya sama bentuk dan tulisannya : “Home Sweet Home” di bagian atas dan “Rumahku Surgaku” di bagian bawah.
13376965261490762009
Kedua bekas spion motor yang digantungi hiasan bertuliskan Rumahku Surgaku dan Home Sweet Home
Persis di tengah dashboard ada sebuah jam meja berbentuk layaknya bagian depan sebuah rumah dengan kedua pilar di sisinya. Jam meja yang umum di jual di kaki lima. Bentuk dan warnanya girly banget. Di bagian atas kepalanya, tergantung sekotak tissue. Melihat semua assesories dashboard angkotnya, saya menarik kembali pikiran bahwa perempuan ini sedang menggantikan ayah atau suaminya. Mungkin dia memang asli pengemudi angkot ini sehari-harinya. Umumnya angkot yang saya naiki penuh dengan sticker bertulisan lucu, konyol bahkan jorok.

 Tapi ini assesoriesnya “lembut” dan kewanitaan. Apalagi melihat caranya mengemudi dan gayanya menawarkan pada penumpang, membuat saya yakin perempuan ini sudah sangat terbiasa menjalankan angkot.
Ah, baru kali ini saya melihat sopir angkot perempuan, di Cilegon, sebuah kota yang relatif kecil. Kalau itu terjadi di Jakarta atau Surabaya – meski selama 22 tahun tinggal di Surabaya pun saya hampir tak pernah menemui sopir angkot perempuan – yang penuh dengan kaum urban yang kepepet urusan ekonomi, mungkin saya tak terlalu heran. Di kota ini, khususnya angkot warna merah jurusan Merak – Cilegon, jumlah armadanya sangat banyak. Tiap menit bisa 3-4 angkot lewat dengan penumpang rata-rata cuma 2-3 orang saja. Mungkin ramai hanya saat jam berangkat dan pulang sekolah.

Karena melamunkan sopir angkot itu, nyaris terlewat tujuan saya. Begitu turun, saya ulurkan pembayar ongkos angkot dan bergegas pergi. Mungkin si Mbak bingung karena dia masih mencari kembalian. Sampai di tujuan, saya masih tercenung mengingat perempuan itu. Usianya sekitar akhir 20-an atau awal 30-an tahun. Dia tampak menikmati pekerjaannya tanpa mengeluh meski penumpang sepi dan sempat direpotkan anak-anak SD. 

Yang sering saya tahu, sopir angkot biasanya ngedumel saat penumpang sepi, sewot saat orang yang berdiri di pinggir jalan cuek ditawari naik angkotnya dan marah saat anak sekolah banyak tingkah. Tapi si Mbak, dengan sifat kewanitaannya, sama sekali tak menampakkan kegalauan seperti itu. Sifat-sifat keperempuanannya masih tampak meski profesi yang digelutinya adalah profesi kaum pria.
1337696640477639032
Kotak tissue di atas kepalanya
“Rumahku Surgaku”, slogan yang ditempelkannya di kedua sisi kaca depan mobil. Sayangnya, ia harus tak berada di “surga”nya saat mentari terik menyengat. Ia harus rela terpapar debu jalanan kota industri ini dan tak mengenyam “manis”nya rumah seperti makna “home sweet home” yang digantungnya. Kalau saja boleh memilih, tentu ia lebih senang tinggal di rumah bersama anak-anaknya, menunggu mereka pulang sekolah.

 Atau kalaupun harus mencari uang, mungkin ia lebih suka menjalankan bisnis dari rumahnya. Tapi kalau saat ini faktanya ia masih saja mengemudi angkot, tentu karena belum ada pilihan lain yang lebih baik yang mendekatkannya pada “surga”nya.

Saya teringat betapa seringnya saya mendengar atau membaca pro-kontra boleh tidaknya perempuan bekerja. Mereka yang tak setuju perempuan bekerja, umumnya selalu punya konotasi negatif tentang perempuan bekerja. Banyak dari mereka yang berargumen seharusnya perempuan memilih bekerja dari rumahnya. Lengkap dengan aneka contoh pekerjaan yang semuanya bisa dimanage dan diatur dari rumah, ibarat memencet tombol remote control saja. 

Sayangnya, mereka sering melupakan faktor-faktor yang tak mereka ketahui. Betapa banyaknya perempuan yang tak punya cukup alasan untuk memilih pekerjaan yang diinginkannya. Entah karena desakan ekonomi, sempitnya peluang, ketatnya persaingan atau keterbatasan kemampuan dan kompetensi diri.
13376967361903617064
Gaya dan sikaptubuhnya saat konsentrasi mengemudikan angkot
Perempuan itu menjalani profesi sopir angkot, apapun motivasi yang melatarbelakanginya. Ia tak memilih pergi ke manca negara untuk mengadu nasib, bisa jadi karena ia ingin tak jauh-jauh meninggalkan “surga”nya. Ia memilih pekerjaan yang berat, berpanas-panas dengan penghasilan tak menentu, ketimbang jalan pintas menjual kehormatannya. 

Semoga si Mbak terus diberi kesehatan, kekuatan dan kesabaran menjalani profesinya, kalau ia tetap harus menjalaninya. Semoga saja rizkinya membawa barokah bagi keluarganya. Keringat yang berleleran di lehernya karena panasnya udara siang kota Cilegon, lebih mulia ketimbang sejuknya AC ruang rapat mewah yang dinikmati mereka yang tertawa-tawa di gedung wakil rakyat karena “proyek” yang mereka “atur” bersama bisa goal. 

Setidaknya, lembaran uang ribuan lusuh dan recehan gopek yang dibayarkan anak-anak sekolah itu lebih bisa dipertanggung-jawabkan di akhirat kelak, jika ia ditanya dari mana uang yang di dapatnya. Selamat bekerja Mbak, semoga penumpangnya banyak, amiin.
(foto-foto diambil dengan menggunakan kamera BB)

catatan ira oemar freedom writers kompasianer
FAKTANYA TAK SATUPUN WANITA DIDUNIA INI YANG MAU DIMADU. ketika cinta terbagi 2.


menjelang jumat barusan seorang ibu muda datang ketempat saya, ini adalah kunjungannya yg kedua dalam membicarakan prahara dan polemik rumahtangganya kepada saya, diluar kapasitas ini dia sering sekali bertemu dengan saya karena ia sudah saya anggap adik sendiri termasuk suaminya.. ibu muda yg baru genap berumur 30th ini memiliki 3 anak, 1 laki2 dan 2 perempuan. yg laki2 tertua sekarang baru menginjak kelas 6 sd. anaknya yg ke 2 baru naik ke kelas 2 sd dan satu sekolahan dgn anak tertua saya. dan anak bungsunya berusia 4th. dia datang dengan berurai airmata kepada saya.. dia menuturkan sang suaminya sudah tidak adil lagi.. suaminya baru2 ini "buka cabang" beristri baru (siri) seorang janda muda.. dia bertutur kepada saya bahwa istri kedua suaminya tersebut mengaku hamil 6bulan kepadanya melalui sms ,dan rumahnya (istri muda) sudah hampir siap dibangun oleh suaminya (lagaknya memanas-manasi).. hal inilah yg membuat ibu ini amat bersedih.. dia sebagai istri sah dan diakui hukum dinegara ini hingga kini belum "menginyam" rumah baru.. rumah yg mereka tempati saat ini adalah rumah peninggalan nenek suaminya yg belum sah ia miliki secara perdata. mau dikemanakan anak2 yg bertiga ini imbuhnya.. ia menuturkan bahwa rumah warisan ini juga terancam diambil developer, dikarenakan suaminya terlalu banyak meminjam uang pada pengusaha yg "pemurah" pada suaminya .. namun dibalik itu ia bisa membaca dibalik kemurahan pengusaha tersebut ujung2nya keluarga mereka jua yg teraniaya pada akhirnya jika memang suatu saat apa yg ia prediksi benar adanya..


lama saya termenung sebelum menasihatinya.. dia mengatakan bahwa ia hendak berpisah dari suaminya.. hal inilah yg paling tidak saya inginkan..mereka yg nikah muda ini rumahtangganya memang sedang diuji.. tak lama kemudian suaminya juga datang ketempat saya dimana istrinya menangis2 kepada saya.. saya suruh suaminya pergi dulu.. (dia selalu mendengar nasehat saya,karena dia juga menganggap saya kakaknya, dan tak terbetik dihatinya bahwa saya akan jadi pihak ketiga yg akan memperuncing keadaan rumahtangga mereka).. sisuami menuruti kata saya.. lanjut saya menasehati ibu ini..saya minta ia sedikit lebih dewasa menyikapi keadaan saat ini.. ini adalah ujian tuhan.. menjelang ramadhan ini saya tekankan padanya untuk saling menahan diri dulu.. jangan ada pertengkaran , dan itu harus dimulai dari diri sendiri kata saya.. sebelum mengeluarkan kata-kata yg menjurus kearah emosional saya sarankan ia untuk berfikir agak 6 detik dulu agar logika lebih mendominasi perasaan.. saya mengajarkan ia akan arti nilai2 kedewasaan,, dan saya mengatakan kepadanya bahwa memang dalam hal ini tak satupun wanita didunia ini yg mau dimadu.. dan saya memahami apa yg ia katakan kepada saya dan berempati akan beban batin yg ia rasakan.. tak ada wanita yg mau dimadu.. silahkan tanya pada seluruh wanita dimuka bumi ini... jawaban dilubuk hatinya yg terdalam akan sama dg ibu ini.. saya yakin itu..


tangisnyapun mereda.. nasehat saya hanya meminta ia sedikit dewasa dalam menyikapi keadaan.. dan menahan dulu keinginan bercerai ini sebelum memikirkannya matang2.. sebab jika talak sudah dijatuhkan, maka yg paling menderita dalam hal ini adalah anak2 mereka.. mereka akan terkena beban psikologis dimasa pertumbuhan ini, yg fatal akibatnya saat mereka dewasa kelak.. karena ini menyangkut program bawah sadar manusia dimasa kecil yg tanpa sadar mempengaruhi perilaku mereka kelak dewasa nanti.. saya meminta ia jangan bertengkar didepan anak2.. dan memulai membicarakan polemik ini secara dewasa tanpa membawa emosi.. dengan cara apa? saya sarankan ia dengan pepatah minang.. berusahalah jadi itik.. yg tidak tenggelam oleh dalamnya air.. sedalam2nya air.. tetap setinggi dada itik.. dalam arti kata saya minta ia lebih dewasa dari suaminya dan berharap suaminya menyadari kelak hari akan kesalahannya dan kembali rukun dan berlaku adil dalam berumah tangga.. kenapa? karena ibu ini yg karena cintanya pada suaminya dan begitu juga sebaliknya, sepertinya menerima dipoligami meskipun didalam hatinya menolak dan merasa tersayat2 akibat dipoligami (ini yg ia katakan dgn gamblang pada saya).. tak satupun wanita didunia ini faktanya yg mau dimadu..


catatan oyong liza piliang

27 June 2012

Tips Menasehati Teman Yang Diketahui Sedang Berselingkuh

Seorang teman wanita menceritakan bagaimana bodohnya suami dari teman sekerjanya yang sudah berkeluarga,dimana teman wanitanya itu dibelakang suaminya melakukan perselingkuhan diam-diam dengan PIL (Pria Idaman Lain) . Perselingkuhan itu diketahui oleh dirinya karena memang teman wanita sekerjanya itu sangat dekat sekali dengan dirinya,bahkan mengenal dengan baik keluarga tersebut. Dirinya merasa tidak nyaman dengan mengetahui perselingkuhan tersebut,sebab suami dari temannya juga sangat dikenalnya. Mau menyampaikan juga tidak enak sebab bisa menimbulkan pertengkaran dan bahkan bisa saja terjadi perceraian. Memberikan nasehat kepada temannya juga tidak mungkin,sebab secara bukti dirinya tidak menangkap basah perselingkuhan tersebut,malah bisa jadi hubungan pertemanan mereka akan rusak.

Yang menjadi persoalan sebenarnya bukan hal mau menyampaikan perselingkuhan tersebut. Tetapi sandiwara yang diperankan temannya tersebut sungguh sangat luar biasa. Setiap minggunya temannya tersebut bisa mengajak suami dan anak-anaknya ke Gereja,bertutur kata dan menyampaikan dengan halus bahasa dan perkataan rohani ,seperti “Tuhan Memberkati….God Bless You,dsb…” kepada teman-temannya yang tidak mengenal dan belum mengetahui perselingkuhan temannya tersebut dengan PIL-nya. Semua teman-2nya menyangka bahwa temannya yang berselingkuh tersebut seorang yang sangat rohani karena merupakan aktivis Gereja di masa mudanya.
Mengetahui persoalan tersebut,teman ini menjadi putus asa,sedih dan murung…..Koq bisa temannya tersebut memerankan kehidupan dua sisi mata uang yang berbeda. Tentu tidak mudah melakoni peran tersebut. Apalagi kalau sedang di rumah dan di tempat ibadah,bagaimana sebenarnya hati nurani yang sesungguhnya dari temannya tersebut.
Perselingkuhan itu sebenarnya diketahui dari chatting BBM yang secara tidak sengaja diketahuinya pada waktu mereka berdua sedang makan siang. Chatting BBM (blackberry messenger) itu dibaca olehnya karena dikiranya sebuah lelucon yang biasa dikirim secara broadcast via BBM,namun ternyata isinya adalah cerita tentang “dating dan ML” yang dilakukan oleh temannya dengan PIL nya,wah…!

Akibat daripada itu dirinya sampai shock dan terus tidak bisa tidur berhari-hari dan mencoba memikirkan peristiwa demi peristiwa yang terjadi selama ini dialami bersama temannya tersebut. Sama sekali dirinya pun tidak menyangka bahwa temannya bisa melakukan perselingkuhan seperti itu tanpa diketahui oleh suaminya. Bodohkah suaminya?

Membungkus kehidupan palsu semacam seperti yang diceritakan diatas tentu tidak mudah. Temannya itu tentu seorang istri yang pandai sekali ber-akting dan pintar memerankan peran ganda dalam kehidupan rumah tangga selama bertahun-tahun tidak ketahuan. Ini tentu dibungkus oleh hal-hal yang religius dan materi .
Kehidupan religius sekarang sering menjadi tameng atau topeng seseorang untuk menutupi kebobrokannya. Tujuannya untuk supaya terlihat rohani dan bersih,apalagi kalau kemudian ditambah dengan materi yang dimiliki cukup untuk menyenangkan keluarganya. Kepintaran mencari materi untuk menopang kehidupan keluarganya juga berperan mengelabui suami/istri dan anak-anak. Maka tidak heran bila banyak kasus-2 korupsi sering justru yang tidak menyangka atau terjadi penolakan adalah dari suami/istri dan anak-2 mereka yang berbuat korupsi,karena mereka mengira orang-tuanya atau pasangannya adalah orang yang bersih,religius atau sangat rohani.

Semoga tulisan ini dibaca oleh semua orang yang mempunyai teman diketahui pasti sedang berselingkuh dan tidak diketahui oleh pasangannya,di posting kan sehingga menjadi bahan renungan mereka. Tidak perlu ditegur atau dinasehati…..barangkali tulisan ini bisa berguna menggugah hati mereka yang sedang berselingkuh atau sedang mencium pasangannya sedang berselingkuh dan sandiwaranya masih berjalan dengan baik karena dibungkus oleh hal-2 yang rohani.
Bagaimana pendapat anda?

catatan mania telo freedom writers kompasianer
Urat Malu



Entah karena tidak tahan dikritik atau ketahuan meminjam dana pinjaman dengan fasilitas bank untuk mencicil rumahnya (sebelum menjadi presiden),atau karena sikapnya yang tidak elegan terhadap redaksi sebuah surat kabar yang bernada mengancam,semuanya masih menjadi tanda tanya tentang alasan presiden Jerman itu mundur. Tetapi judul dan isi berita tersebut mengisyaratkan bahwa ada rasa malu dari presiden Jerman itu atas kegagalannya menjaga kredibilitas dirinya sendiri didepan publik Jerman.

Sayang sekali kejadian itu terjadi di negeri Jerman,bukan di negeri Indonesia. Publik sudah menyatakan pendapat melalui berbagai survei bahwa popularitas SBY sudah dibawah 50% . Publik menyatakan kekecewaan terhadap pemberantasan korupsi dan survei menunjukkan kepercayaan publik sangat rendah terhadap kinerja Pemerintah SBY-Boediono dalam hal memberantas korupsi di negeri ini. Rakyat Indonesia juga sudah sangat muak terhadap para politikus dan penegak hukum serta para Jenderal (POLRI dan TNI) yang korup,bergaji rendah hanya Rp.4,7 juta tetapi bisa mempunyai rumah mewah,simpanan gendut dan hidup bagaikan “raja-raja kecil” dengan setoran-2 ilegal yang tidak pernah diperiksa oleh KPK. Semua itu menjadi tanggung jawab siapa,kalau bukan pemimpin nomor 1 negeri ini?

Bagaimana pemimpin nomor 1 negeri ini mau memberantas korupsi kalau dirinya sendiri juga tersandera dengan berbagai dugaan korupsi yang membelit dirinya? Kasus Century? Pemberitaan koran the Age dan Sydney Morning Herald serta buku George Aditjondro “Gurita Cikeas” dan “Cikeas kian menggurita” tidak pernah ditampiknya serta diusut oleh para penegak hukum negeri ini telah menyandera dirinya untuk tidak bertindak apapun dalam menindak para Jenderal dan politikus serta penegak hukum yang korup. Yang disikat adalah para koruptor kelas teri yang tidak pegang kartu truf dirinya sendiri,sedangkan koruptor kakap yang mengambil kekayaan negeri ini sampai Trilliun-an Rupiah tidak pernah ditangkap atau disikatnya,karena semuanya pegang kartu truf penguasa negeri ini. Inilah yang disebut oleh para Kompasianer sebagai “lingkaran setan” ,kalau mau memilih pemimpin negeri ini,carilah pemimpin yang tidak mempunyai mata rantai para pemimpin masa lalu negeri ini yang KKN nya sudah kelewatan,supaya lingkaran setan ini terputus.

“Urat malu pemimpin negeri ini sudah putus..!” kata para pemimpin umat dan rakyat yang memperhatikan tingkah laku pemimpinnya. Kebohongan demi kebohongan dibangun untuk menutupi rasa malu mereka,sehingga menjadikan dirinya sudah tidak mempunyai rasa malu lagi,yang ada adalah pembenaran atas segala ucapan dan tindakannya.

Contoh-contoh kasus yang sudah membuat rakyat tertawa geli karena para koruptor itu sepertinya sudah tidak mempunyai urat malu adalah :

- Dihukum karena korupsi tetapi tidak mau disebut mantan Koruptor?

- Punya kekayaan “adzubillah” dikatakannya sebagai “hibah” dari orang tuanya.

- Kolusi dengan pengusaha untuk ngemplang pajak,dikatakannya sebagai “membantu” perpajakannya.

- Adik ipar punya simpanan “segedhe gunung” di Bank Century,dibela oleh Presiden yang “kakak ipar”

- Kader partainya korup,dikatakan oknum dan bukan kebijakan serta tujuan partai.

- Ketua Umum Partai-nya diduga korup,dicopot bila ada penetapan “tersangka” dari KPK,dll

Pemimpin negeri ini selalu mengatakan supaya rakyat menghormati proses hukum yang ada. Bagaimana rakyat mau menghormati proses hukum yang ada sedangkan penegak hukum negeri ini sudah tidak dipercaya lagi oleh rakyat ? Ini bagaikan dagelan yang dipertontonkan,sebab suara rakyat atau suara publik tidak lagi didengar. Berbeda sekali dengan negeri-2 yang pempimpinnya mempunyai urat malu,suara rakyat atau suara publik akan membuat dirinya sudah malu dan meminta mundur,tetapi pemimpin negeri ini sangat keterlaluan sekali,suara rakyat di manipulasi dengan mengatakan “rakyat siapa,rakyat yang mana?”

Sungguh,ini memang negeri tanpa urat malu….! Dari semua kritik yang ada,pertanyaan yang mendasar yang perlu dijawab oleh Presiden SBY adalah “Kapankah SBY mundur dengan urat malu yang barangkali “masih” dimilikinya? Ataukah memang SBY sudah tidak mempunyai urat malu,padahal menyaksikan banyaknya kasus korupsi negeri ini? Ataukah….?” Wallahulam…



catatan mania telo freedom writers kompasianer
SUAMI BAIK , ISTRI SELINGKUH

Kalau membaca berbagai tulisan tentang konseling keluarga,perselingkuhan lebih banyak dilakukan oleh seorang laki-laki katimbang seorang wanita. Alasan perselingkuhan lebih karena pembenaran bahwa laki-laki memang dikodratkan mempunyai sifat poligami dan faktor seks dari seorang laki-2 yang cenderung ekstrovert,walaupun ada alasan yang lain namun prosentase terbesar ya karena kedua alasan tersebut.


 Bilamana seorang wanita melakukan perselingkuhan,maka lebih banyak hal tersebut dilakukan karena “balas dendam” karena pasangannya berselingkuh lebih dulu. Memang ada wanita-2 yang berselingkuh karena faktor seks,namun dalam benak mereka pasangannya pun sebenarnya juga melakukan hal yang sama namun tidak diketahui oleh dirinya.

Tetapi ada satu kasus yang menarik yang disampaikan oleh seorang teman laki-2 yang kehidupannya diakuinya jauh dari perbuatan-2 terlarang dan bahkan tidak pernah berselingkuh dan melirik wanita lain selama kehidupan perkawinannya serta sangat mencintai istri dan keluarganya,bertanggung jawab pula ,akan tetapi istrinya berselingkuh dengan laki-laki lain…! Mendengar cerita tersebut tentu ada perasaan trenyuh dan galau kenapa kondisi ini bisa tercipta. Ternyata kebaikan seorang suami tidak menjamin seorang istri tidak berselingkuh dengan laki-laki lain.

Kebetulan istrinya pun juga pernah menyampaikan bahwa suaminya seorang yang baik,taat kepada Tuhan, dan kehidupannya bertanggung jawab. Penyampaian itu tentu bukan mengada-ada karena disampaikan melalui seorang teman wanita yang menceritakan hal ini pada saat ngobrol di warung kopi. Sang istri sendiri sebenarnya sangat mencintai suaminya karena memang ybs mengetahui betul bahwa suaminya sangat menyayangi dan mencintai dirinya. Tentu cerita tentang perselingkuhannya tidak pernah disampaikan secara terbuka.

Kenapa seorang wanita yang mempunyai pasangan hidup yang baik dan bertanggung jawab tetapi melakukan perselingkuhan?

Banyak hal analisis tentang hal itu,namun ada satu hal yang menarik tentang sebuah perselingkuhan yang dilakukan seorang wanita yaitu “tidak menjumpai sesuatu yang menarik hatinya ada pada pasangan hidupnya” ; Bukankah alasan tersebut juga seringkali terungkap pada setiap laki-2 yang selingkuh? Alasan klasik yang selalu diungkapkan oleh setiap pasangan yang melakukan perselingkuhan?

Sesuatu yang menarik yang tidak ada dalam pasangan hidupnya bisa banyak hal,apakah itu seks, apakah itu merasa “nyaman” bila dekat dengan si “someone” ,apakah itu faktor lain seperti perhatian, dan lain sebagainya. Tetapi kenapa hal tersebut bisa mengalahkan CINTA dari pasangannya?

Menurut penulis,pasangan-2 yang berselingkuh dan secara khusus adalah bila yang melakukan adalah seorang wanita,maka perlu melakukan instropeksi secara mendalam kehidupan perkawinan mula-2nya. Apakah sebuah perkawinan itu dilandasi oleh CINTA ataukah hanya perhitungan rasional saja. Perhitungan rasional yang dimaksud adalah karena adanya desakan (keluarga,umur,dsb) ataukah karena masalah “sudah terlanjur” (sudah tidak perawan,dsb) ataukah karena faktor-2 lain seperti harta, kemapanan, sudah tidak ada lagi yang “lebih baik” dsb

Perkawinan karena landasan perhitungan rasional dipastikan akan menimbulkan banyak masalah di kemudian hari. Sebuah pernikahan adalah sebuah jalan hidup yang rumit,membutuhkan kesehatian yang mendalam, kecintaan tanpa batas dan tanpa pamrih, peleburan karakter yang berbeda menjadi satu karakter atau tetap dua karakter tetapi satu hati.

Bila belum siap untuk menanggung kerumitan sebuah perkawinan,lebih baik tidak perlu buru-buru menikah….sebab bila terlanjur buat apa menikah atau mempertahankan perkawinan? Pemulihan sebuah perkawinan yang tidak berlandaskan cinta akan saling melukai.

Siapkah….


catatan mania telo freedom writers kompasianer