David Menangis SBY Bangga
13666859321338735963


Saya membuka akun @SBYudhoyono di Twitter kemarin siang. Sebuah foto berjubah bertoga merah dengan lis tepi putih di kisi-kisi, dikenakan oleh Presiden SBY. Ia menerima gelar Honoris Doctoral (Doctor of Letters) dari Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Senin, 23 April di Singapura. 

Ketika kerjasama program studi Rajaratnam diresmikan di Singapura pada 2009, penandatanganannya dilakukan oleh Boediono. Kala itu ia calon wakil presiden. Momen peresmiannya bertepatan dengan sidang akhir keputusan pengadilan coroner, kasus pembunuhan David Hartanto Wijaya, mahasiswa jenius asal Indonesia di NTU.

Di pagi hari sebelum berangkat menghadiri persidangan coroner ke Singapura - - semua persidangan saya ikuti - - Djoko Suyanto, Menkopolhukam, sempat menelepon.
“Bila menghentikan kerjasama tentu tak mungkin. Minimal apa yang bisa kita lakukan?” tanyanya ke saya. Pertanyaan itu agaknya berkait ke kalimat saya di Tvone sehari sebelumnya. Saya mengutip sosok warga Singapura yang dekat dengan kepolisian negeri jiran itu. Ia menghargai kegigihan saya memverifikasi kasus yang disebut NTU, di semua media Singapura, David bunuh diri, “Hanyalah urusan are you patriot or not?”

Di Tvone saya seakan bertanya ke Boediono, “Are you patriot or not? Are  you Indonesian or not”
Maka ketika saya hendak menutup pintu rumah, menuju Bandara, Djoko Suyanto kembali menelepon. “Silakan hubungi Rizal Malarangeng, Keluarga David Jam 14 waktu Singapura bisa diterima Bapak Boediono di Hotel Shangrilla. Itulah yang maksimum dapat kita lakukan,” tutur Djoko.

Sebagaimana sudah pernah saya tulis di Sketsa berseri kasus David, pertemuan dengan Boediono memang terjadi. Dari pihak keluarga hadir ayah, Hartono Wijaya dan ibunya serta Wiliam Hartanto, kakak David. Pada pertemuan itu keluarga meyakinkan Boediono, bahwa sejatinya anaknya dibunuh bukan bunuh diri. Mereka meperlihatkan foto-foto pendarahan David sebelum diletakkan di jembatan kaca, dengan pilihan tiada lain jatuh. Adegan itulah yang disebut bunuh diri. Apalagi ada pembuktian foto dan video melalui handphone, oleh seorang mahasiswi NTU asal Iran. Ia bersaksi dengan mata memerah dan tak berani menatap mata keluarga David. 

Boediono kala itu sempat membulak-balik foto. Dan menunjukkan sikap peduli akan kasus itu. Selebihnya salam-salaman, dan penandatanganan program kerjasama dengan NTU dilakukan persis berbarengan dengan keputusan pengadilan coroner; keputusannya sudah bisa diduga:  David bunuh diri!

Di luar ruang sidang saya sempat memeluk ibunda David. Ia meraung kering kerongkongan. Airmata tak mengalir lagi. Ayahandanya gemetar tidak  berkata-kata. Mukanya  merah bata.
William kakak David, memaki pengadilan Singapura
OC Kaligis, yang kami minta membantu secara probono kala itu, bilang, “Hukum itu in the matter of floor or in the matter of fact?” 

Benar. Persidangan itu akhirnya bagaimana kita menghidangkan yang disebut fakta.
Sebelum meninggalkan pengadilan coroner Singapura, saya menuju toilet. Seorang agen polisi yang berselisih, sempat menjabat erat agak lama. Ia tak berkata-kata. Saya hanya mencoba membaca gestur tubuhnya. Ia seakan berkata, “Kamu  benar.”
Entahlah.

Logika saya, namanya juga program kerjasama Singapura dan Indonesia, kok memberikan gelar doktor untuk pemimpin Indonesia? Bukankah gelar doktor untuk Presiden SBY sudah sangat banyak?

Sebelumnya Yudhoyono menerima gelar Doktor Honoris Causa dari beberapa universitas. Di antaranya di bidang hukum dari Universitas Webster, 2005, di bidang politik dari Universitas Thammasat , 2005. Di bidang pembangunan pertanian berkelanjutan dari Universitas Andalas, Padang, 2006. Doktor Kehormatan di bidang Pemimpin Perdamaian dari Universiti Utara Malaysia. Presiden SBY, warga Indonesia pertama yang menerima gelar Honoris Causa dari Malaysia. Maret 2012 lalu ia juga menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Tsinghua, Beijing. Mungkin masih ada yang lain.

Yang jelas saya terlambat tahu akan pemberian gelar doktor untuk SBY oleh program sama, program kerjasamanya dilakukan pada 2009 itu. Terlebih lagi, kini air mata keluarga David belumlah kering. Proses verifikasi panjang kasus ini terus saya lakukan.
Terakhir kami sempat membawa laptop David pulang 2011 lalu. Itu pun bisa dilakukan dengan berkali-kali bulak-balik, dalam negosiasi yang alot disaksikan staf KBRI kita di Singapura. Tak dipungkiri, hashing data di laptop David sudah berubah. Saya mengusulkan kepada keluarga David agar kita mencari pakar forensic digital dari negara independen seperti di Inggris. Namun itu semua membutuhkan biaya. Untuk membayar lawyer di Singapura tempo hari, uang Rp 350 juta kami motivasi dihimpun dari gerakan Facebook, sosial media.

Maka tulisan Ferdiansyah Rivai berjudul: SBY, Ingatkah Kau Kepada David NTU, Premis Ferdi, menolak lupa, telah lebih awal mengingatkan saya untuk kembali menulis. Setelah membaca tulisan itu, di http://politik.kompasiana.com/2013/04/21/sby-ingatkah-kau-pada-david-hartanto-ntu-553447.html, saya mencoba menghubungi Daniel Sparringa, Staf Khusus bidang politik Presiden SBY. 

Kalimat saya ke Daniel, saya tentu tak punya hak melarang Presiden SBY menerima gelar doktor itu. Akan tetapi paling tidak mengulang cerita 2009, terimalah keluarga David, sebelum ke Singapura, sehingga tak membuat pilu di luka terus menganga.

Daniel mengatakan jadwal presiden tak mungkin lagi di sela. Lagian ia mengaku tak membidangi hal itu. Ia memberikan kontak Teuku Faisasyah, Staf Khusus Bidang Hubungan Internasional. Hingga tulisan ini saya buat, Faisasyah belum saya hubungi, foto presiden kita bertoga bersama Bertil Anderson, presiden NTU sudah menghiasi lembaran sejarah.

Di media online saya menyimak berita, bahwa Presiden SBY menyebut kalau Singapura memuji Indonesia. Dalam seloroh kawula muda, jika orang memuji pasti ada maunya. Dan Anda, Pembaca, tentulah bisa menjabarkan maunya Singapura dari Indonesia, tanpa harus saya berpanjang kata.
Dua bulan lalu, saya ke Singapura. Di setiap kunjungan ke sana, saya selalu terkenang akan verifikasi panjang saya di kasus David ini yang belum usai. Kini di negeri jiran itu sudah selesai bangunan bak kapal diangkat tiga pilar tinggi, menjadi landmark baru Singapura, Marina Casino Sand Bay. Di atas jembatan futuristik antara bangunan Marina ke The Fullerton Bay, setiap langkah yang saya ayunkan terbayang selalu kasus David.

Saya teringat misalnya bagaimana kisah satu siswi Indonesia yang diungsikan ke Singapura oleh orangtuanya karena peristiwa kerusuhan Mei 1998. Ia menyelesaikan SMU lalu masuk ke NTU, Singapura. Di kampus yang dianggap hebat itu, ia mendapatkan pelecehan seks oleh sang dosen. Sosok itu yang kemudian banyak membantu saya untuk mendapatkan informasi tentang NTU dan kasus David. Ia juga memperkenalkan saya kepada mahasiswi S2 asal Indonesia. Risetnya di bidang kimia, diminta profesor untuk dijual ke industri. Karena tak mau, ia trauma hingga kini karena di laboratorium menghisap bahan kimia berbahaya. Entah diciptakan sang profesor atau memang kecelakaan?

Di balik menterengnya kampus NTU di lebih 100 hentar lahan, juga menyimpan cerita mundurnya peradaban. Seperti laku pelecehan seks, “kecelakaan” di lab, juga David dibunuh.
Ketika mampir ke bangunan tua hotel Fullerton, di kawasan Fullerton Bay, di tepian jembatan besi yang dibangun Inggris pada 1829 itu, jarang warga yang mau meilhat ada ada patung kecil induk kucing dengan dua anaknya yang sedang bercengkerama. Kendati terbuat dari baja, kelenturan patung itu tak kalah dari ekspresi kucing hidup. Kucing bahagia.

Di saat itu ingatan saya menerawang, pertama kali bertandang ke kediaman keluarga David di sebuah penggal siang 2009. Mereka masih berduka. Di jam makan siang itu, sang ibu meleletakkan di meja tamu potongan mangga.

“Makanlah Mas, sudah lewat jam makan siang., kami tak ada apa-apa”
“Saya tak ke dapur sejak David diberitakan bunuh diri.”
“David sejak kecil tidak pernah pegang pisau.”
“Bahkan untuk sekadar mengupas buah.”
“Di kampusnya untuk buah dia selalu beli jus.”
Adakah sosok yang tidak pernah memegang pisau berani menusuk profesornya, Chan Kap Luk, yang telah memiliki 5 paten, konon mengaku penemuannya itu?

Dari verifikasi saya, dua orang neni-neni, pekerja pembersih di NTU, sosok tua berseragam biru, pernah saya pertemukan dengan ayah David. Mereka mengaku melihat bagaimana David disikat sebelum ia diletakkan di jembatan kaca.
Pangkal pahanya dipatahkan.

Urat nadi kaki kanan putus disikat belati.
Darah bersimbah.
Sayang kedua neni-neni itu bergetar. Mereka enggan bersaksi ke persidangan.
Maka ketika mata saya nanar menyimak karya seni tua, keluarga kucing di The Fullerton Bay, air mata tak terasa jatuh.

Iwan Piliang, Citizen Reporter.
SBY Bergelimang Tipu ( Bagian 2 )

Bagian pertama tulisan ini, telah mendapatkan tanggapan meriah di media sosial. Bambang Walujo Wahab, di twitter mengatakan secara terbuka, ia bisa menambahkan lebih banyak lagi urusan tipu itu. Beberapa kawan lantas memintanya menuliskan, tapi hingga bagian dua ini saya tulis belum terlihat jua.
Mohammad Hasin Adi, di Kompasiana, menyarankan melakukan konperensi pers terhadap premis saya tulis.  

Ia katakan, “Siapa tahu Bapak Iwan bisa jadi pahlawan. Dan mudah-mudahan tidak jadi pecundang. ”Bagi saya menulis bukan untuk menjadi pahlawan. Bukan pula untuk mencetak uang. Tetapi saya konsisten taat kaedah kepada ilmu yang diajarkan dosen  saya di fakultas komunikasi. Komunikasi menyampaikan pesan, landasannya akal, budi, hati nurani. Kalau keberpihakannya, Bill Kovach dan Tom Rosentiel di buku  The Element of Journalism secara nyata dan jernih menuliskan: hanya kebenaran untuk warga, lain tidak.

Ada juga tentu pembelaan kepada SBY. SBY dan Boediono mempermudah perinjinan impor alat tanam padi saya yang di persulit oleh birokrat kementrian perdagangan. Maka di mata saya beliau berdua adalah pemimpin yg baik dan hanya dirusak wibawanya oleh birokrat busuk, DPR busuk dan LSM busuk, semoga kalian semua terbakar di neraka karena mempersulit dan membohongi rakyat kecil, merongrong kekuasaan dan wibawa pemerintah yang sah terpilih oleh rakyat,” tulis Cucun Wijaya, masih di Kompasiana.

Begitulah dinamika di media sosial. Setiap orang dapat merespon secara interaktif setiap info kita tuliskan. Poin utama saya selalu, perihal ini akan meningkatkan mutu peradaban jika semua pihak terlibat di proses tanggap menanggap, tulis menulis, identitasnya jelas, batang hidungnya nyata, sehingga komentar miring pun dapat dipertanggung-jawabkan.

Sebagaimana saya menulis, tentulah tidak asal njeplak. Semua saya paparkan berangkat dari sumber kredibel, verifikasi fakta di media, serta proses perjalanan menjadi jurnalis warga, bisa dibilang tidak singkat dengan volume tulisan dapat di-trace.

Dari semua dinamika itu, setelah dua hari tulisan bagian pertama saya upload, saya menyimak di RCTI bahwa Abraham Samad, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, menyampaikan bahwa Boediono, sebagai Wapres, sudah bisa dilengserkan DPR, karena status kasus bail out Bank Century sudah ditingkatkan penyidikannya oleh KPK. Menjadi pertanyaan saya mengapa Samad mendorong DPR, bukankah wewenang KPK acap dikatakan super body? Begitu KPK menetapkan Boediono tersangka, maka seketika itu juga ia harus lengser. Dari kenyataan ini saya melihat tarik ulur, karena secara nyata memelorotkan kekuasaan SBY yang di tulisan 1 memang bergelimang tipu.

Melanjutkan bagian dua ini, ingin saya ingatkan Anda. Ihwal kampanye presiden SBY di televisi pada 2009 lalu. Anda tentu mafhum jingle Indomie. Di antara liriknya, “Dari Sabang sampai Merauke Indomie seleraku.” Lirik asli itu telah dipelesetkan ujungnya menjadi ,”SBY pilihanku.”

Sejak jingle pelesetan itu keluar saya tak pernah menyimak ada badan independen atau semacam Komisi Penyiaran menegur langkah itu. Semua seakan diam seribu basa. Bila tak keliru saya seakan bernyanyi sendiri di media sosial mengatakan bahwa Indomie telah melakukan pelanggran etika nyata. Mengapa? Karena sebuah iklan produk, mulai dari biaya produksinya, pembelian slot iklan media, semuanya mereka bebankan ke total cost produksi produk. Itu artinya konsumen ikut memikul biaya. Sebuah jingle lalu dikenal, dibiayai semua rakyat sebagai pembeli itu produk.

Eh dengan semena-mena produk itu mengalihkan jingle top of mind itu untuk kepentingan seseorang menjadi presiden. Saya sangat percaya di 2009 itu pastilah tidak semua pemakan Indomie pendukung SBY. Namun khalayak semuanya seakan sudah dikooptasi menyanyikan SBY pilihanku.
Di lain sisi perilaku kelompok usaha Salim di era silam melakukan monopoli impor gandum. Kini walaupun dipecah-pecah unit usahanya, tetap saja masih dalam satu atap usaha. Kapitalisasi dari “revolusi” pangan warga ke mie instan telah membuat Indomie menjadi bagian utama pemasukan Salim Grup. Setidaknya hingga Oktober di tahun ini saja untung Indofood sudah mencapai Rp 14 triliun. Dengan kapitalisasi tambun, kelompok usaha ini memang bisa saja menjadikan seseorang presiden RI, apalagi pola politik kini segala-gala harus fulus mulus.

Kembali ke SBY, dukungan seharusnya ia tolak, seperti pelesetan jingle Indomie tidak ber-etik itu, dia nikmati saja. Bahkan dari informasi tim komunikasi SBY kala 2009, SBY menikmati betul. SBY anggap sebagai kampanye signifikan memenangkannya.

Bisa Anda bayangkan sensitifitas seorang kepala negara pilihan demikian?

Maka tidaklah salah bila kemudian sebagai presiden SBY melakukan banyak hal kontradiktif. Sebutlah contoh ia secara terang-gamblang mengkritik keras Foke, Mantan Gubernur DKI di forum rapat resmi gubernur, terbuka ke media. Tetapi ia pula kemudian menjagokan Foke kembali menjadi gubernur DKI.
Beberapa kali dalam pidatonya SBY mengkritik ortang yang tertidur mendengar pidatonya. Bahkan kanak-kanak tertidur pun tak lepas dari tegurannya. SBY telah menghinakan jabatan presiden secara langusung, dengan mengkritik kanak-kanak tertidur mendengar pidatonya, tanpa peduli ia harus instropeksi diri, kepada siapa ia berpidato, di mana, untuk apa, premis apa  pas?

Maka dalam fakta dan kenyataan demikian, SBY pun menjadi linglung. Ia memberikan saja grasi bagi tindak kejahatan besar di bidang narkoba. Ia memberi dua grasi atas kejahatan narkoba di tahun ini.
Bila sudah demikian; sudah tak tahu di mana ia berpidato sehingga anak kecilpun harus dikritik dan tak paham narkoba adalah kejahatan amat besar, dan bangsa serta negara ini kini sudah menjadi pasar nerkoba terbesar: SBY memang linglung.  Saya tak tahu kata apa yang harus ditujukan kepadanya selain: mundur!

Tulisan ini akan belanjut ke bagian tiga, ihwal indikasi perannya di dalam monopoli pengadaan BBM di unit usaha Pertamina, Petral, bersama Hatta Rajasa. Sementara, ini saya naikkan dulu. Esok sebelum tutup tahun saya publish bagian tiga.

Iwan Piliang
Bupati Aceng - SBY Dan Andi Mallarangeng

Tercatat ada 3 berita besar di seminggu ini yang menghebohkan masyarakat Indonesia dan dunia Internasional,pertama adalah kematian pesepakbola Diego Mendieta dari Paraguay yang merumput di Persis Solo dan selama 4 bulan belum dibayarkan gajinya hingga terlunta-lunta pada saat sakit di Solo hingga ajal menjemput tanpa bisa bertemu kembali dengan keluarganya yang menantikan kedatangannya membawa uang hasil keringatnya. Kedua adalah peristiwa kawin singkat yang hanya 4 hari dari Bupati Garut Aceng Fikri dan pernyataan-2nya yang kontroversial tentang wanita yang dianggapnya seperti ‘barang’ saja,tidak sesuai spesifikasi bisa dikembalikan…! 

Moralitas dan etika Bupati Aceng Fikri yang membawa agama Islam sebagai “kuda tunggang” dalam pernikahan tersebut telah “Go International” sehingga membuat persepsi tentang Indonesia dan Islam seperti sebuah negeri yang menjalankan agama Islam seperti sebuah banyolan yang tidak lucu. Terakhir adalah berita tentang penetapan Menpora RI yaitu Andi Mallarangeng sebagai tersangka korupsi Proyek Hambalang oleh KPK,menyiratkan bahwa di tubuh pemerintahan SBY dan Partai Demokrat (sejak Mantan Bendaharanya Nazaruddin mengoceh terus menerus di media tentang korupsi berjemaah yang dilakukan oleh teman-2 separtainya ) terindikasi tidak bersih.

3 peristiwa dalam seminggu ini membuktikan bahwa negeri ini dikelola tanpa rasa malu oleh para pemimpinnya,akibatnya bawahannya pun juga tidak merasa malu untuk melakukan hal yang sama persis dengan atasannya. Akhirnya,peristiwa memalukan dianggap sebagai hal yang biasa saja dan akan hilang sendirinya seiring dengan waktu yang berjalan,sebab mereka percaya bahwa ingatan orang Indonesia sangat pemdek,yang dibutuhkan adalah mengisi perut dan terima uang habis perkara. Pemimpin tidak perlu mundur walau peristiwa memalukan itu sudah menghancurkan kredibilitasnya, sebab atasannya tidak memintanya mundur (begitu katanya terus menerus di media).

SBY sebagai pemimpin negeri ini,juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat juga tidak perlu malu karena perbuatan Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat (Andi Mallarangeng),kalimat yang dipakai adalah “Kita harus menguormati hukum…..” Padahal Menneg BUMN Dahlan Iskan mengatakan “Etika seharusnya diatas hukum….” Kalau etika saja sudah tidak ada,bagaimana hukum mau bekerja…? Itu artinya sama saja berlindung dibalik sebuah kepalsuan….!

Kalau saja SBY tahu etika seperti yang dimaksud oleh Dahlan Iskan,maka SBY seharusnya mengundurkan diri sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat dan meletakkan kepresidenan yang ada karena sudah tidak bisa membawa ‘anak buah’nya ke etika yang benar…! Namun sekali lagi itu kalau SBY tahu etika…! Sama dengan Bupati Garut Aceng Fikri,seharusnya ybs mundur tanpa harus dipaksa mundur oleh DPRD Garut kalau dirinya masih tahu etika,tapi sayangnya pembelajaran etika dari Presiden-nya tidak seperti itu,maka dirinya ngotot bahwa kasusnya adalah sangat politis….! Sebab menurut hukum agamanya,kawin siri itu diperbolehkan daripada berbuat zinah,jadi secara hukum Islam dirinya sudah benar…!


Ketua Umum PSSI dan KPSI yang berseteru juga tidak perlu merasa malu dan mundur dengan kasus Diego Mendieta,sebab itu persoalan bukan di PSSI,tetapi Persis Solo…Etika sudah tidak ada di hati nurani mereka! Untuk membayar biaya rumah sakit saja dikatakan bahwa Diego Mendieta waktu dirawat di Rumah Sakit sudah bukan lagi pemain Persis Solo,jadi mereka tidak bertanggung-jawab lagi…! Wow,betapa etika mereka sudah tumpul dan tidak ada lagi rasa malunya…! Keberadaan Diego Mendieta yang mencoba bertahan di Solo sambil menunggu gaji 4 bulan yang belum dibayar dianggapnya bukan sebagai tanggung jawabnya..!

Dunia Internasional mencatat peristiwa ini sebagai peristiwa yang sangat merendahkan harkat dan martabat bangsa Indonesia. Bangsa ini perlu belajar etika terlebih dahulu sebelum belajar hukum dan agama…! Tanpa etika,maka bangsa ini percuma membuat begitu banyak produk hukum serta ber-Tuhan…! Tuhan saja mungkin sangat gerah dan malu bila menyaksikan bangsa ini mengakui keberadaanNya dan menyembahNya,tetapi sama sekali tidak menjalankan kehidupannya secara ber-etika..! Syariat agama diputar-putar dan ditafsirkan menurut kaidah manusia yang tidak ber-etika,bukan menurut kaidah Tuhan dan etika Tuhan…! Ini sungguh sangat memalukan pemeluk-2 agama Islam yang masih menjalankan etika Tuhan sebagai pegangan hidupnya.

Mungkinkah negeri ini memang sudah kehilangan urat malunya sehingga sebagian besar sudah tidak punya rasa malu? Rasa malu hanya bisa ada bila dirinya punya etika…!

Catatan Mania Telo Freedom Writers Kompasianer

Inilah 9 Tokoh yang Patut Ditakuti SBY

ini adalah tulisan Stella member Kompasiana
Satu sore, sambil meneguk secangkir kopi hangat, pikiran saya terpaku pada headline salah satu media online yg menuliskan besar2 tulisan : INDONESIA KRISIS PEMIMPIN. Hah ? Apa iya negara dengan 220 juta lebih penduduk ini bisa krisis pemimpin ? Rasanya nggak mungkin banget. Meskipun banyak orang bilang negara kita ini bobrok karena para pemimpinnya mafia koruptor, saya yakin sekali masih ada terselip satu dua orang pemimpin yang benar-benar NASIONALIS*) dan mau berjuang demi rakyat. Tinggal kita saja sebagai rakyat, apakah masih mau DISUAP dengan uang dan segala bujuk rayu, atau kita kembali ke idealisme memilih pimpinan ?
*) Saya nggak perlu menuliskan kriteria lain kecuali Nasionalis. Seorang Nasionalis tidak akan mau mengkorupsi uang negara/uang rakyat. Seorang Nasionalis juga pasti berani berjuang untuk rakyat, tak peduli apapun taruhannya. Seorang Nasionalis pastilah juga cendekiawan, karena untuk bisa mengangkat derajat bangsa, dia akan selalu belajar. Dan cendekiawan sejati pastilah rendah hati tapi bukan rendah diri. Seorang Nasionalis juga pastilah punya empati pada penderitaan rakyat, jadi nggak mungkin mau berfoya2, beli pesawat, dll. Jadi cukuplah satu itu saja kriterianya.

Jika kita atau rakyat sudah insyaf, menolak POLITIK UANG dalam berbagai bentuk, menolak menjadi Golput, maka sebenarnya stock pemimpin masih ada.  Saat menyelami track record tokoh2 itu baik melalui akun jejaring sosial, berita online, media, dll, saya menemukan 9 tokoh antitesa SBY. Ke 9 tokoh ini adalah tokoh yg sangat nasionalis, konsisten dalam sikap dan perbuatan. Tak heran, mereka jadi tokoh yang membuat rezim SBY alergi, melihat berbagai tindakan mereka, dan SBY nampak sering memilih diam jika berhadapan dengan mereka. Kenapa 9 ? Ada lagi beberapa tokoh lain, namun 9 ini yang saya lihat “sangat gigih” dalam memperjuangkan paham pro-rakyat. Lagipula angka 9 konon kabarnya dianggap keramat oleh rezin SBY. Semoga 9 tokoh ini mampu mengangkat Indonesia dari bibir jurang kehancuran.
Siapa 9 tokoh itu ? Inilah pilihan saya

1. Dr.Rizal Ramli
Siapa tak kenal tokoh ini ?  Lari keliling Monas 7x kalau sampai ada yg tak kenal beliau. Saya tidak mau cerita banyaklah soal beliau ini, semua prestasinya bisa dibaca di #Dr.Rizal Ramli#
Beliau termasuk penggagas pengajuan peninjauan kedudukan BP Migas ke MK, dan akhirnya berhasil menelurkan keputusan pembubaran BP Migas, yg acap dituding “antek imperialis”. SBY yg sangat pro-asing dibuat pusing dan takut dengan pemikiran2 ekonom satu ini.

13529778481756454440
Dr.Rizal Ramli
2. Prof. Dr. Kwiek Kian Gie
Ekonom kelahiran Jawa Tengah, 11 Januari 1935 yang lalu ini sudah tak terhitung lagi sumbangsih nya pada Rakyat Indonesia. Saya tulis pada rakyat, karena negara tidak selalu pro-rakyat. Jasa beliau yang saya nilai sangat besar, adalah “berhasil mencegah rakyat dari penipuan berkedok intelektualisme para ekonom birokrat titipan imperialis“. Lewat penjelasannya, rakyat menjadi paham apa yang sedang terjadi. Beliau berhasil mencerdaskan rakyat dengan menyederhanakan bahasa2 rumit ekonom2 ke dalam logika sederhana seorang awam. Itulah yg sebenarnya menjadi jasa terbesar beliau bagi rakyat. Meskipun berdarah Tionghoa, tapi nasionalisme beliau lebih besar dari pribumi sekalipun. Yang mau baca biografi singkatnya silakan klik #Kwiek Kian Gie#

13529779421281903623
Prof.Dr.Kwiek Kian Gie
3. Prabowo
Mantan Danjen Koppasus ini kerap dikaitkan dengan kasus penculikan aktivis th 98 serta kerusuhan Mei 98. Tapi jika kita telusuri dengan teliti, dari berbagai sumber, dan bukan hanya berpatokan pada berita2 miring di Asiaweek, maka saya amat percaya beliau adalah korban rivalitas antar jendral pada masa itu. Saya tidak akan mengupas masalah ini, yg mau mendebat maybe next time saja ya. Yang jelas, Prabowo merupakan tokoh nasionalis yang menjadi antitesa dari jendral SBY yg peragu & lamban. Beliau merupakan tokoh yang disegani oleh SBY serta mantan2 jenderal lainnya, karena dipercaya menyimpan “kartu truf” kelemahan2 mereka. Banyak yg mengkaitkan beliau dengan keluarga Cendana, tapi jangan lupakan bahwa gelombang reformasi yg digulirkan oleh tokoh2 seperti Nurcholish Majid, Amien Rais, dkk itu mendapat dukungan penuh Prabowo, sehingga Prabowo sempat dicap pengkhianat oleh keluarga Cendana.
13529797811016064293
Prabowo Subianto
4. Prof.Dr.Yusril Ihza Mahendra
Mantan menkumham ini sama seperti Dr.Rizal Ramli cs, juga selalu membuat rezim SBY kalang kabut. Sikap konsisten  & keteguhan hati beliau yg “luar biasa” mampu membuat Presiden kalah beberapa kali dalam berperkara dengan prof Yusril. Jika Kwiek Kian Gie mampu mencerdaskan rakyat dari lika liku bahasa intelektual ekonom/birokrat komprador, maka Yusril berhasil menyederhanakan kerumitan2 hukum yg disengaja untuk menutupi penyelewengan mafia hukum. Bahasa2 beliau yg lugas dan tanpa tedeng aling2, memang sering membuat anak buah SBY panas dingin. Tapi kita memang tidak perlu pemimpin yg plintat plintut bukan ?
13529803021399599005
Yusril Ihza Mahendra
5. Iwan Piliang
Berperang tidak selalu dengan senjata, tapi bisa juga melalui pena. Iwan Piliang ini adalah salah satu di antara pejuang pena itu. Saya belum terlalu lama mengikuti tulisan beliau. Tapi ketika kita membaca tulisan2nya dan pemikiran2nya baik melalui jejaring sosial & media2, maka pantaslah kalau pakar citizen journalism satu ini sering bikin kesal rezim SBY. Bahasanya yang halus tapi “TAJAM” kalau dibaca dengan hati, pedasnya melebihi tamparan seratus prajurit kali ya. Ide cemerlang beliau adalah ketika mengusulkan Pengampunan & Pemutihan Koruptor. Lho kok ? Jangan salah paham dulu. Segala carut marut pengusutan korupsi saat ini memang sangat menyedot biaya dan energi bangsa, sementara korupsi malah makin canggih. Untuk itu beliau mengusulkan agar para koruptor itu diampuni saja, diminta mengembalikan jarahannya, tapi setelah itu siapapun yg korupsi tidak diberi ampun. Ide yg cerdas, karena kita akan lebih fokus ke pencegahan dan betul..hemat energi. Analogi sama yg mungkin dulu dijadikan dasar referendum Timor Leste oleh bapak BJ Habibie.

1352978082735355529
Iwan Piliang
6. Prof.Dr.Mahfud MD
Siapa tak kenal beliau ? Boo a boo…kebangetan sampeyan kalau tidak tahu siapa beliau. Ketua MK ini baru saja melontarkan komentar pedas mengenai pemberian grasi SBY kepada bandar narkoba, yg dikemudian hari memicu selisih pendapat dengan Sudi Silalahi. Gaya bicara yg lugas, menandakan kejernihan berpikir. Beliau terkenal bersih. Beberapa waktu lalu beliau pernah coba digoncang dengan kasus korupsi, tapi semua tidak mempan. Mantan menteri pertahanan ini termasuk sukses melakukan pemulangan kembali TNI/Militer ke barak. Sebagai ketua MK beliau juga sering menghasilkan keputusan yg “bikin heboh” rezim SBY. Dari penghapusan jabatan wamen sampai pembubaran BP Migas. Silakan klik link ini #Mahfud MDl#

1352978539668992815
Mahfud MD
7. Dr. Ichsanurdin Noorsy Bsc, SH, MSi
Ekonom satu ini sangat blak-blakan dalam berbicara. Tapi konsep pemikirannya sangat jelas, selalu mengacu kepentingan rakyat. Beliau sering membuat lawan debatnya di media-media merah padam atau malah pucat pasi, manakala trik2 curang birokrat ditelanjangi oleh beliau. Penipuan perbankan besar seperti kasus Century itu dibuka habis oleh beliau. Rakyat yang masih bingung dengan istilah bailout, krisis berdampak sistemik dll, kala itu mejadi paham lewat pembicaraan beliau. Ingin tahu soal doktor satu ini ? Klik #Ichsanuddin Noorsy#
13529783011880171607
Ichsanuddin Noorsy
8. Dr.Ir. M. Said Didu
Bapak yg sangat bangga sebagai insinyur pertanian alumni IPB  ini, adalah fans Manchester City yg sangat fanatik. ( Lho apa hubungannya ya dengan nasionalisme ? Ya setidaknya pilihan klub beliau ini menunjukkan bahwa beliau tidak takut dicap melawan arus. ) Selama menjadi follower beliau di jejaring sosial, mengamati pembicaraan beliau di media2, saya menemukan sikap ilmuwan sejati pada beliau. Cara berpikir yg sangat obyektif, tidak gegabah, dan jujur, betul-betul diperlukan untuk menghadapi tantangan di masa depan. Saya belum pernah mengenal orang yang begitu konsistennya menanamkan kecintaan pada produk buah lokal di tiap kesempatan. Jadi nasionalisme beliau, nggak mungkin lagi diragukan. Yg jelas rezim SBY cukup ketar ketir manakala beliau blak2an soal BUMN beberapa waktu lalu di TV.
13529802101177801151
Said Didu
9. Dr. Kurtubi
Tokoh perminyakan ini hampir selalu menjadi pembicara jika ada diskusi, sarasehan atau seminar soal perminyakan Indonesia. Doktor yg  dosen Pasca sarjana UI ini, bersama dengan Dr.Rizal Ramli, Din Syamsuddin ( ketua PP Muhamaddiyah) dan tokoh2 agama-LSM beberapa waktu lalu berhasil mengajukan pencabutan UU BP Migas dan pembubaran BP Migas ke MK. Sebuah langkah penting yang tentu bukan tanpa alasan. Kebijakan selama ini dinilai bertentangan dengan UUD 45 dan sangat pro-asing. Saya surprised dengan hasil keputusan MK itu. Ide membubarkan BP Migas ini sudah lama berusaha digulirkan oleh beliau dan tokoh2 nasionalis lainnya.
1352978363628788969
Kurtubi
Demikian ulasan tentang 9 tokoh yang semestinya patut membuat rezim SBY ketar ketir. Artinya bohong belaka, jika digambarkan negara kita ini krisis pemimpin, sehingga rakyat seolah-olah harus menurut pada tokoh-tokoh yang disodorkan partai-partai. Sudah saatnya partai-partai mendengar suara rakyat, jika tidak ingin “digembosi” oleh rakyat. Fenomena Jokowi -Ahok membuktikan bukan lagi partai yg berlaku saat pemilihan nanti, 2014. Selamat merenungkan dan bersiap berjuang untuk pemimpin pilihan kita. Jika anda tak setuju dengan pilihan saya, tidak masalah, semua orang pasti punya pemikiran sendiri.
SALAM MERDEKA !
Inilah Alasan Kenapa SBY Belum Pantas Jadi Sekjen PBB

                                      image vivanews.com




dalam minggu-2 terakhir publik disuguhi berita ihwal Kpk vs Polri terkait pengepungan gedung Kpk guna menangkap seorang penyidiknya Kompol Novel Baswedan oleh Provost Polda Bengkulu. gerakan masif dari masyarakat dan aktifis sekiranya menyalangkan mata presiden dan Dpr bahwa Komisioner ini mendapat kepecayaan dan dukungan penuh publik tanah air, itu dibuktikan dengan gerakan dan demonstrasi #SaveKPK dihampir semua kota-2 besar dinegara kita. dan dunia maya.

kekuatan rakyat yg spontan, solid tentulah sangat diluar perhitungan baik oleh Presiden ,Polri maupun Dpr RI. dengan pidato kenegaraan Presiden yang dianggap sejumlah kalangan, mendukung gerakan anti korupsi dan pro KPK dalam sekejap dapat meredam aksi-2 lain masyarakat dalam bertindak,. namun jika presiden dalam pidatonya tersebut tidak menggunakan kalimat dengan tepat dan bisa dipelintir media, niscaya hingga kini saya rasa orang no 1 direpublik ini akan terus menuai kecaman, baik itu dalam bentuk demonstrasi maupun gerakan media non mainstream semacam Twitter,facebook dan oleh para kalangan Blogger.


Komisi tiga Dpr RI sebagai mitra lembaga penegak hukum pun menanggapi (kita berpikiran positif saja) hal ini dengan mengurungkan niat merevisi UU KPK dan konon akan merealisasikan anggaran pembangunan Gedung buat Komisioner ini. hal ini tentu membuat publik sedikit merasa lega ditengah banyaknya kasus yang belum tuntas, semacam kasus Century, Hambalang dan isu tawuran pelajar yang hingga kini masih menghiasi tayangan televisi.

pagi menjelang siang kota Pariaman diguyur hujan, kelanjutan dari intensitas hujan yang disertai halilintar sepanjang sore dan malam tadi.saya memandang keluar pintu yang langsung melintang jalan utama Imambonjol begitu lengang dilewati pengemudi, baik roda empat dan dua. aktifitas perekonomian kota ini akan mandeg ujar saya dalam hati, petir menyambar, gemuruh menyahut, membuat pedagang buah dan pedagang-2 lainya apalagi pedagang macaragam Es bergerobak dipasar maupun keliling dijamin sepi pembeli bersebab enggannya orang keluar rumah dan dinginnya hari. tidur kembali adalah sebuah solusi bagi sebagian kalangan yang tak beraktifitas bersebab hujan ini. namun saya lebih memilih menulis guna menuangkan apa yang ada dikepala ini buat dibaca orang banyak dan semoga bermanfaat.

kembali kita ke isu nasional. nama Presiden Sby yang baru saja mendapat apresiasif publik kembali dihantam oleh keputusan tak populernya. dengan memberikan Grasi kepada jaringan sindikat hitam narkoba internasional, presiden kembali dihujat. sebagian kalangan beranggapan dan berpatokan pada apa yang pernah beliau ucapkan sendiri, tiada pengampunan bagi penjahat perusak generasi bangsa, pernah terlontar dari mulutnya. namun kali ini presiden berlindung dibalik HAM, dalih yang sangat mentah kalau dibawa keranah argumentasi dan mudah dipatahkan. dulu Corby dengan Grasi 5 tahunnya.

hilanglah kepercayaan publik akan ucapan dan perbuatan presiden, presiden dianalogiskan sebagai "pembohong" oleh sebagian kalangan aktifis yang konsen dalam memperhatikan kebijakan presiden. saya beranggapan Sby selalu lemah dalam berposisi terkait masalah hukum warga negara asing dinegeri ini maupun sebaliknya warga negara kita dinegara lain, bargaining politik luarnegeri beliau sangat diluar dugaan saya,lemah, dalam perihal mengambil kebijakan . saya berani berargumentasi bahwa HAM hanyalah sebagai bentuk dalih, dan saya berpendapat ini adalah langkah politik luarnegerinya untuk melenggangkan jalan menjadi SEKJEN PBB.

Denny Indrayana yang selalu giat memberantas jaringan Narkoba Internasional yang di otaki dari dalam Lapas, dan diapresiasi publik sebaiknya diam dan tak mengeluarkan statemen membela keputusan Sby dalam memberikan grasi kepada terpidana kasus narkoba yang bersindikasi internasional ini, meskipun secara Hukum Presiden punya wewenang penuh dalam hal itu.

orientasi Politik Sby untuk menjadi SEKJEN PBB tentu kita sebagai rakyat Indonesia sangat mendukungnya,kapanlagi Putra negeri ini akan menjabatnya yang tentunya bikin kita bangga. namun alangkah baiknya apa yang hendak dicapai didapat dengan cara yang lebih elegan,tanpa kontradiktif dengan apa yang pernah ia tabuhkan dalam statemen beberapa waktu yang lalu. kita bangga punya Presiden yang diapresiasif dunia Internasional, namun kita lebih bangga bila melihat Presiden diapresiasif rakyatnya karena ia seorang yang tegas dan bisa dipegang omongannya, satu kata satu perbuatan tidak Plin-plan.

sebaiknya presiden lebih konsen mengurus negara ini. dalam dua periode kepemimpinan beliau hanya situ kesitu saja saya lihat negara ini, belum ada gebrakan nyata dan perubahan yang dilakukan Presiden pada negara ini yang berdampak nyata pula pada kehidupan orang banyak. pengangguran tak pernah berkurang, kemiskinan dimana-mana,kesenjangan ekonomi apalagi, citra penegak hukum yang terkubur, bahkan hingga Parpol yang ia telurkan jadi "sarangnya Koruptor" beda betul dengan slogan "Katakan Tidak Untuk Korupsi" yang jadi tema pada Pemilu 2009 lalu, dan bahkan ironis sang ikon slogan tersebut sekarang meringkuk dibalik jeruji besi tahanan KPK. benahi organisasi politik dulu, negara ini, baru berfikir untuk berbuat dikancah yang lebih tinggi..

catatan Oyong Liza Piliang
Pak Beye, Kami Tak Mau Lagi Disuguhi “Prihatin” dan “Satgas”
13496798611193887934
(foto : forum.detik.com)


Ada ciri khas SBY dalam menghadapi masalah-masalah yang terjadi di negeri ini, yaitu LAMBAN bersikap. Bahkan sekedar mengeluarkan pernyataan pun acapkali harus dikecam publik dan para pengamat dulu, barulah beliau mau bicara. Semisal soal penangkapan 3 karyawan Departemen Kelautan oleh Malaysia, dipancungnya TKW asal Indonesia di Arab Saudi dan masih banyak kasus lain lagi.
Tapi tak selamanya SBY lamban, kalo hal itu menyangkut dirinya dan partai yang didirikannya, SBY sangat sigap dan cepat menyikapi. Semisal ketika Nazaruddin baru kabur ke Singapura lalu ada sms yang mengatasnamakan Nazaruddin dan isinya sangat mendiskreditkan SBY, maka tak perlu menunggu lama,saat di bandara Halim menjelang lawatan ke luar negeri pun SBY menyempatkan bereaksi keras atas hal ini. Juga ketika sebuah stasiun TV menayangkan wawancara melalui Skype antara Iwan Piliang dengan Nazaruddin, besoknya SBY langsung menghimbau agar Nazar pulang dan menyelesaikan masalahnya di tanah air. Juga ketika Angelina Sondakh ditetapkan sebagai tersangkja oleh KPK, hari Minggu pun SBY langsung menggelar pertemuan tertutup dengan para petinggi dan deklarator Partai Demokrat. Bahkan sore hari itu pula SBY langsung mengadakan jumpa pers, tak perlu menunggu hari kerja. Pernah pula SBY cepat berkomentar, yaitu ketika kasus beredarnya video porno Ariel Peterpan. Entah seperti apa SBY menyusun skala prioritas mengurus negara.

Kalaupun akhirnya SBY tampil di depan publik, pernyataan sikap SBY selalu melahirkan 2 hal : ungkapan “prihatin” dan pembentukan “satgas”. Dalam kasus TKW yang dihukum pancung di Arab Saudi, SBY yang sudah sangat terlambat bersikap, ujung-ujungnya membentuk “satgas”. Begitu pula ketika krisis cicak vs buaya jilid 1 tahun 2009 lalu. Setelah didesak banyak pihak, SBY akhirnya memberikan pernyataan dan membentuk Tim 8 yang diketuai Adnan Buyung Nasution. Sayangnya, setelah Tim pimpinan Buyung memberikan rekomendasinya, SBY malah menunda-nunda untuk melaksanakan rekomendasi itu. Bahkan akhirnya, dibentuklah Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, yang diantaranya diawaki Denny Indrayana, yang kini malah tak jelas hasil kerjanya. Benarkah Satgas itu sudah berhasil memberantas mafia hukum?

13496805291889158097
Aksi massa dukung KPK (foto : tribunnews.com)

Hari ini rencananya Presiden SBY akan menyikapi kisruh yang terjadi antara Polri vs KPK, setelah kemarin Mensesneg Sudi Silalahi menyampaikan pesan bahwa Presiden “mencermati” apa yang terjadi dan berpendapat bahwa yang terjadi belumlah terlalu genting, tidak separah yang digembar-gemborkan. Menyedihkan sekali, begitu banyak pihak sudah bergerak sejak Jumat malam sampai Sabtu dini hari dan gemanya menjalar ke berbagai daerah, masih dianggap belum parah. Apakah Presiden menunggu reaksi massa yang marah lalu bertindak anarkhis dengan cara mereka sendiri, baru Presiden SBY menganggap parah?

Aneh sebenarnya kalau Presiden SBY selama ini memilih diam, meski konflik Polri vs KPK sudah berjalan selama hampir 3 bulan. Kini setelah berbagai pihak dengan geram mempertanyakan “dimana Presiden?!” bahkan singakatan KPK pun diganti menjadi Kemana Presiden Kita, barulah SBY “berjanji” akan menengahi kasus ini. Akankah SBY benar-benar “bertindak” dan tidak sekedar “beretorika”?! Kali ini tak cukup kata “saya prihatin”. Keprihatinan itu sudah jadi milik publik sejak 3 bulan lalu.Kini keprihatinan itu sudah berubah menjadi kegeraman dan sebentar lagi meledak jadi kemarahan massal.

Tak cukup pula sekedar menunjuk sekelompok orang-orang dekatnya yang ingin diberinya “pekerjaan” untuk membentuk satgas baru. “Negeri 1001 Satgas” itu julukan yang diberikan rakyat setiap kali SBY membentuk satgas baru. Sebab satgas – yang biasanya beranggotakan staf ahli Presiden atau para mantan pejabat – sama sekali tak punya kewenangan menindak atau mengeur dan menginstruksikan suatu langkah kongkrit, baik kepada Pinpinan KPK maupun kepada Kapolri.

1349680679920332837
Apa Presiden SBY tidakmalu sampai disindir sedemikian keras di media sosial (foto : dari facebook)
Presiden memegang kekuasaan tertinggi atas TNI dan Polri. Presiden yang menunjuk siapa yang akan jadi Kapolri, meski penetapannya setelah melalui fit n proper test di DPR. Presiden bisa menegur Kapolri, kalau ia mau. Hanya butuh komitmen dan ketegasan saja. Presiden bisa langsung menginstruksikan dan tidak sebatas menghimbau. Jika instruksinya diabaikan, Presiden bisa menegur keras bahkan bila perlu mencopot petinggi Polri yang membangkang dari instruksinya. Masalahnya hanya satu : maukah dan beranikah SBY bertindak tegas?!

SBY pernah menegur keras anak SD yang tertidur karena kelelahan saat mendengarkan pidato SBY yang mungkin membosankan bagi anak seusia itu. Kalo sekedar seorang anak tak memperhatikan pidatonya saja SBY berani menegur, bagaimana sikap SBY pada Kapolri? Tampaknya kali ini kita pun tak bisa berharap terlalu banyak. Sebab janji “menengahi” yang semula saya kira SBY akan benar-benar hadir sebagai penengah dalam pertemuan Pimpinan KPK dan Pinpinan Polri, ternyata tak demikian jadinya. Pertemuan itu diserahkan pada Mensesneg Sudi Silalahi. Sedangkan SBY hanya akan memberikan pernyataannya nanti malam setelah mendapatkan laporan dari Sudi.
Tentu efektivitas keputusan yang diambil SBY akan berbeda jika SBY sendiri yang turun tangan menjadi penengah dalam pertemuan Ketua KPK dan Kapolri

SBY bisa langsung mendengar pemaparan versi keduanya, menakar kebenaran fakta apa yang terjadi Jumat malam di Gedung KPK, menelaah seberapa jauh perkembangan kasus penyidikan dugaan korupsi pengadaan simulator SIM, dan berbagai kasus yang menjadi ganjalan hubungan KPK vs Polri. Tentu saja SBY bisa minta didampingi Menkumham dan Menkopolhukam, misalnya, atau siapa saja yang dipandang perlu untuk dimintai pendapat dan saran. Tapi yang jelas, jika SBY benar-benar ingin mengambil peran dalam penyelesaian masalah ini, maka ia harus hadir sendiri, menjadi penengah, bukan hanya mendengarkan laporan dari Sudi Silalahi saja.

Ini bukan masalah kecil. Kelangsungan pemberantasan korupsi bisa terancam jika kerja KPK terus menerus diganggu oleh hal-hal semacam ini. Bukankah memang ini tujuan para koruptor? Mereka ingin memberikan kesan KPK memble, kinerja Abraham Samad, bambang Widjojanto dkk buruk, target-target pemberantasan korupsi tak tercapai. Katakanlah kinerja KPK memang belum sesuai harapn kita, bukankah ini juga dipengaruhi dengan tekanan-tekanan pelemahan terhadap KPK yang terus berkelanjutan tanpa henti, baik dari DPR maupun Kepolisian? Termasuk dihambatnya proses pencairan dana pembanguann gedung baru KPK.

Pak Beye, jika anda belum menganggap ini kondisi kegentingan yang memaksa, maka dimana komitmen anda dengan janji untuk berdiri di garda terdepan pemberantasan korupsi? Bukankah Pak Beye pernah mengatakan akan berjihad melawan korupsi? Sungguh, nanti malam kami tak mau lagi mendengar kata “SAYA PRIHATIN” dan tak benar-benar ogah dengan pembentukan Satgas-Satgas tak jelas, hanya untuk bisa memberikan honorarium buat orang-orang dekat Presiden. Kali ini rakyat butuh action Pak Beye, bukan lyrik lagu melankolis, bukan ungkapan prihatin tapi tanpa sikap keprihatinan. Sudah lama kami merasa seolah negeri ini tanpa pilot!

CATATAN IRA OEMAR FREEDOM WRITERS KOMPASIANER