Sejarah Politik Pariaman: Modern Bercitarasa Konservatif
Oleh Oyong Liza Piliang
Tidak salah rasanya Kapolres Pariaman yang baru AKBP Andry Kurniawan berbenah diri menyiapkan skenario untuk pengamanan Pilkada Pariaman 2018. Khususnya, tentu di media sosial. Tempat itu medan perang urat syaraf, perang opini dan perang siber antar pendukung tiga pasang calon yang berlaga.

Sebagai daerah dengan tingkat kerawanan kategori tiga atau kerawanan di dunia siber untuk Pilkada Serentak Indonesia 2018, pantas pula kiranya pihak kepolisian melakukan razia dan imbauan melalui Unit Cyber Troop-nya yang baru aktif beberapa hari ini.

Unit itu tentu saja diharapkan bukan dijadikan alat untuk menjerat kebebasan berpendapat dan berekspresi bagi warganet. Pelanggaran hukum yang menjurus ke arah fitnah, memicu konflik, semestinya ditindak. Hukum memang harus tegak, namun tidak selalu untuk menghukum. Semangat hukum adalah mendidik.

Peran penegak hukum di ajang pesta demokrasi merupakan jembatan bagi semua pihak. Langkah persuasif, pendekatan sosial kultur suatu daerah, jadi panduan utama polisi dalam menyelesaikan setiap sengketa pemilu/pilkada. Euforia masyarakat dalam setiap kontestasi demokrasi, selaras dengan kultur sosial dan budaya daerah tersebut. Pemahaman akan hal itu sangat penting sebelum mengambil langkah/tindakan hukum.

Pariaman, merupakan daerah melek politik. Hal itu diasah terus oleh masyarakatnya yang gemar berdialetika, berorganisasi dan berkumpul dalam komunitas-komunitas terkecil di lapau-lapau. Politik secara organik terus berkembang dalam tatanan masyarakat Pariaman. Politik, adalah pembahasan paling lumrah di Pariaman. Tak pandang usia, gender sekalipun.

Karakter sosial masyarakat Pariaman sekarang, tidak terlepas dari sejarah panjang. Jika ditarik ke belakang, kita bicara abad pertengahan. Di Eropa, Raja Inggris Charles, belum dipancung: dipicu oleh pernikahannya dengan perempuan Katolik (30 Januari 1649). Satu abad pasca Perang Salib berakhir (1095-1291). Satu masa dengan berdirinya Kesultanan Utsmaniyah atau Kerajaan Ottoman (1299-1923).

Pariaman, era sastrawan Portigis Tome Pieres masih menulis menggunakan bulu unggas di abad ke-14, Pariaman sudah merupakan Kota Bandar yang sibuk. Literasi sejarah Pariaman-bahkan sebelum Christoper Columbus menginjakkan kaki di benua Amerika pada 1492-sudah menggurat dalam buku Suma Oriental yang ditulisnya.

Pariaman era silam, merupakan kota strategis di sepanjang pesisir barat Sumatera setelah kota bandar lainnya di Aceh, Barus. Pariaman kota perdagangan rempah yang diangkut dari berbagai wilayah Sumatera untuk diperjualbelikan kepada saudagar Eropa, Arab dan China. Sebuah dermaga cukup modern di zaman itu, selalu sibuk angkut muat, jauh sebelum Belanda menjajah Nusantara. Ekonominya terbilang maju.

Sebagai kota bandar yang sibuk, orang Pariaman di masa itu selangkah lebih terdidik oleh pengalamannya sendiri. Mereka mahir diplomasi dan bernegosiasi yang menjadi landasan karakter orang Pariaman saat ini. Profesi orang Pariaman saat itu mayoritas penghubung antar penjual dan pembeli, atau broker. Penjual dari kalangan pribumi dan pembeli saudagar luar negeri. Keahlian mereka, kedua belah pihak selalu merasa diuntungkan.

Di saat daerah lainnya masih membarter barang, orang Pariaman sudah mahir menghitung kepingan emas, perak dan perunggu sebagai alat tukar perdagangan. Pariaman yang maju, menjadikannya daerah rantau bagi kaum urban yang ingin merobah nasib dan peruntungan.

Pembauran ragam kultur budaya, sebagai pribumi, menjadikan orang Pariaman egaliter. Bergaul dengan orang Eropa berbeda dengan orang Arab dan China. Sikap membaur dan pintar menempatkan diri itulah yang kemudian diturunkan menjadi karakter orang Pariaman saat ini. Kata selalu berbalas kata, bukan beradu lengan. Dialetika selalu dikedepankan dalam mengurai setiap permasalahan yang ada.

Menjadikan Pariaman tetap aman di masa itu, sebuah ilustrasi pemikiran jenius orang dulu yang menginginkan daerahnya tetap sebagai pusat perdagangan antar negara. Orang Pariaman telah berpolitik untuk kemajuan ekonominya, jauh sebelum negara kita berdiri.

Oleh sebab itulah, Pariaman selalu harus ditangani sesuai dengan bentuk keekslusifan budaya mereka. Jalan terbaik untuk menjadi pengayom bagi masyarakat Pariaman itu sendiri, adalah dengan membaur dengan mereka. Jika sudah demikian, hampir tidak akan ada persoalan rumit di Pariaman yang tidak bisa diselesaikan. (***)
Profesor Sri Zul Chairiyah Sebut Parpol Belum Serius Wujudkan Keterwakilan Perempuan
Profersor Sri Zul Chairiyah salah satu narasumber pada acara sosialisasi KPU Kota Pariaman tentang tentang penyelenggaraan Pemilu 2019. Turut menjadi narasumber Walikota Pariaman Mukhlis Rahman dan pakar hukum tata negara dari Unand Khairul Fahmi.
Pariaman --- Guru besar Ilmu Politik Universitas Andalas, Sri Zul Chairiyah menyebut partai politik belum serius mewujudkan keterwakilan 30 persen perempuan di parlemen.

Dari hasil penelitian yang ia dilakukan pada partai politik di Sumatera Barat, ditemukan partai tidak memiliki program dan kegiatan meningkatkan kapasitas serta perekrutan perempuan dalam pemilu.

""Parpol tidak serius menerapkan aturan keterwakilan perempuan di parlemen. Padahal parpol mendapatkan dukungan dana dari APBD, alokasinya juga diperuntukan untuk pendidikan politik. Ini kan sudah ada solusinya," ujarnya di Pariaman, Selasa (28/11) siang

Menurutnya, dilihat dari hasil pemilihan umum legislatif 2004, 2009 dan 2014, menunjukan kebijakan afirmatif untuk meningkatkan keterwakilan politik berada dalam situasi dilematis.

Hal itu dikarenakan jumlah caleg perempuan yang terpilih masih jauh dari rata-rata 30 persen, dukungan pemilih terhadap terhadap caleg perempuan hingga pejabat publik masih kurang memahami atau menjadikan ketentuan keterwakilan perempuan sebagai syarat saja.

"Pengkaderan melalui pendidikan politik di partai politik tidak berjalan, sehingga pengurus dan anggota parpol minim idiologis dan kapasitas politik," sebutnya.

Ia menyarankan, caleg perempuan terus menggiatkan sosialisasi. Tidak usah menggunakan cost political yang besar, namun mengoptimalkan sosialisasi dengan masyarakat.

Selain itu, kata dia, menggunakan Vote Getter atau pengumpul suara untuk mendapatkan dukungan pemilih, itu penting dalam mendulang suara bagi caleg perempuan.

"Menggunakan pengaruh tokoh masyarakat untuk mendapatkan suara masih efektif digunakan," kata dia.

Sementara itu, kordiv perencanaan program dan data KPU Kota Pariaman Alfiandri Zaharmi mengatakan, KPU Kota Pariaman memiliki program kegiatan sosialisasi yang menyasar kelompok perempuan yang tergabung dalam organisasi perempuan atau bisa juga melibatkan pengurus partai politik perempuan di Kota Pariaman.

"Kita punya program sosialisasi pada tahapan pilkada dengan sasaran kelompok perempuan dan bisa juga melibatkan kader parpol perempuan," ujarnya.

Program tersebut, ulasnya, dilakukan karena KPU menyadari segmentasi perempuan penting untuk diberikan sosialisasi khusus tentang kepemiluan termasuk peningkatan kapasitas perempuan dalam politik. (Nanda)
Tingkatkan Keterwakilan di DPRD, Perempuan Pariaman Terima Pelatihan Politik
Wawako Genius Umar foto bersama dengan peserta pelatihan dan panitia
Pariaman --- Wakil Walikota Pariaman Genius Umar membuka secara langsung pelatihan peningkatan kapasitas perempuan dalam berpolitik yang diadakan di Aula BPKB Rawang Kota Pariaman.

Acara dihadiri Asisten Deputi Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak Nyimas Aulia, Kepala DP3AKB Kota Pariaman Alfian Harun, dengan narasumber Ruslan Ismail Mage dari Direktur Eksekutif Sipil Institut Jakarta yang merupakan mentor nasional motivator politik Indonesia.

Peserta merupakan para kader wanita dari organisasi perempuan, organisasi politik sebanyak 80 orang dengan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab yang akan berlangsung selama dua hari pada 21 hingga 22 November 2017, Senin (21/11) lalu.

Genius Umar mengharapkan dengan diadakan acara itu akan melahirkan pemikiran-pemikiran baru untuk kemajuan perempuan, sehingga tercapai dua aspek yakni perempuan sebagai pencegah konflik dan perempuan sebagai penggiat perdamaian, dan mampu aktif ke tingkat perwakilan rakyat dimana saat ini hanya satu orang perempuan yang menjadi anggota DPRD di Kota Pariaman dengan persentase 5 persen.

"Jumlah perempuan di dalam pengambilan kebijakan masih sangat rendah bila dilihat dari kuota 30 persen yang telah diamanahkan undang-undang, DPRD Kota Pariaman memiliki angka keterwakilan perempuan sangat kecil," terangnya.

Namun, sebut Genius, melihat respon, baik laki-laki maupun perempuan pada pemilu 2014 lalu, pihaknya yakin kuota 30 persen perempuan dalam legislatif dapat diwujudkan, minimal ada keterwakilan lebih besar kaum perempuan dari sebelumnya.

Kegiatan itu bertujuan untuk memberikan motivasi kepada perempuan calon legislatif pada pemilu tahun 2019 mendatang serta pentingnya pendidikan politik bagi perempuan.  (TKIP DP3AKB)
Ketua KPU Akui Tensi Politik Pariaman Tinggi Seiring Pilwako dan Pileg 2019

Gandoriah ---- Ratusan masyarakat Kota Pariaman ikuti jalan santai dalam rangka Gerakan Sadar Pilkada Serentak Tahun 2018 di Pantai Gandoriah, Kota Pariaman, Minggu (29/10) pagi. Acara tersebut digagas oleh KPU RI yang serentak dilaksanakan di 171 kota/kabupaten/provinsi yang akan menghelat Pilkada serentak 2018 di seluruh Indonesia.

Jalan santai dimulai dari halaman balaikota Pariaman melewati jalan utama di Pariaman seperti jalan Imam Bonjol, jalan Sudirman, jalan SB Alamsyah dan berakhir di tugu perjuangan Angkatan Laut Pariaman.

Jalan santai dalam rangka gerakan sadar pilkada serentak tahun 2018, 15 perwakilan partai politik peserta pemilu tingkat Kota Pariaman juga menyerahkan bendera parpol peserta pemilu 2014 dari perwakilan pengurus parpol kepada KPU Kota Pariaman dan Panwaslu Kota Pariaman yang melambangkan parpol di Kota Pariaman siap melaksanakan pilkada serentak 2018 dan pemilu legislatif 2019.

Ketua KPU Kota Pariaman Boedi Satria mengatakan, jalan santai yang dilaksanakan merupakan langkah KPU untuk mendorong kesadaran masyarakat bahwa pemilu adalah salah satu instumen hak politik yang harus digunakan.

"KPU memiliki tugas memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa memberikan hak suara pada bilik suara adalah hal yang sakral, karena merupakan bentuk perpindahan kekuasaan dari rakyat kepada calon yang didukung. Mengikuti dengan memberikan suara pada pilkada ataupun pemilu, berarti masyarakat menggunakan haknya yang diatur oleh konstitusi," ujarnya.

Ia mengatakan, beririgannya pelaksanaan pilkada serentak 2018 dan pemilu legislatif 2019 disadari akan meningkatkan tensi politik. Sehingga, kata dia, KPU Kota Pariaman memastikan sangat penting profesionalitas pelaksanaan dengan pelayanan yang sama kepada seluruh peserta pemilu legislatif dan pilkada serentak.

"Penyelenggara dalam hal ini KPU berkomitmen menyelenggarakan pilkada dengan profesional, melayani dengan adil. Namun masyarakat harus menjaga agar tensi politik tetap baik," ulasnya.

Sebelumnya, kata Boedi, KPU Kota Pariaman telah meluncurkan tahapan pemilihan walikota dan wakil walikota Pariaman 2018.

Sementara, Wakil Walikota Pariaman Genius Umar mengatakan masyarakat Pariaman harus mengedepankan rasa "badunsanak" dalam menjalani agenda politik pilkada walikota dan wakil walikota Pariaman 2018.

"Masyarakat harus memanfaatkan energi positif untuk membangun Kota Pariaman, bukan menyebar kampanye hoax yang justu memecah belah rasa badunsak itu. Memanfaatkan penggunaan energi positif dengan memberikan pujian kepada seluruh pasangan calon pada pilkada bukan menyebut keburukannya dan menyebar informasi hoax," ujarnya.

Menurutnya, seluruh bakal calon yang berasal dari baik yang menetap dari Kota Pariaman ataupun diperantauan adalah putra terbaik Pariaman yang memiliki keinginan membangun Pariaman ke depan.

"Semua bakal calon memiliki niat untuk membangun kota Pariaman, bukan hanya yang di Kota Pariaman saja, yang diperantauan pun memiliki keinginan bagaimana Pariaman lebih baik kedepan," ungkapnya.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyuddin, Kapolres Pariaman AKBP Bagus Suropratomo, kordiv teknis KPU Sumatera Barat Mufti Syarfie, kordiv hukum Bawaslu Sumatera Barat Nurhayati dan ketua parpol se Kota Pariaman. (Nanda)
[Depth Report] Mukhlis, Genius dan Etika Politik Jelang Pilwako

~Semua calon ingin dapat dukungan dari walikota Mukhlis Rahman. Mukhlis dinilai akan netral karena tidak mau terjebak dan ditarik-tarik ke politik.

~
Pilkada serentak 2018 batu loncatan bagi setiap parpol jelang pileg dan pilpres 2019. Semua daerah menghelat pilkada, masuk radar DPP setiap parpol.

Pariaman --- Wakil Walikota Pariaman Genius Umar mengimbau masyarakat Pariaman agar tidak terpecah oleh kepentingan politik jelang Pilwako Pariaman 2018. Semua calon, kata Genius, sejatinya bersaudara dan merupakan putra terbaik milik Kota Pariaman saat ini.

"Calon yang perantauan pulang ingin mengabdi, sama dengan calon yang saat ini berdomisili di kampung. Niat mereka baik untuk membangun Pariaman. Kita wujudkan Pilwako Pariaman badunsanak, sesama dunsanak tentu tidak ingin persaudaraannya terpecah oleh politik," ungkap Genius di Pantai Gandoriah, Minggu (29/10), menyikapi mulai memanasnya suhu politik jelang Pilwako Pariaman 2018. Komentar itu ia lontarkan selaku wakil walikota yang berketetapan hati ingin menjaga suasana kondusif demi lancarnya pembangunan di Kota Pariaman jelang pilkada.

Terkait fenomena ASN yang memiliki orientasi politik dalam setiap pilkada, Genius mengingatkan agar hal tersebut segera dihentikan. ASN di lingkungan Pemko Pariaman, sebut Genius, harus netral dan tidak boleh menceburkan diri dalam politik praktis karena hal tersebut sudah diatur dalam Undang-Undang ASN.

"Tidak boleh mengkampanyekan salah satu calon apalagi hingga menjelekan calon lain. ASN harus menjadi contoh yang baik bagi masyarakat. Sikap netral suatu keharusan," sambung Genius.

Maraknya penggunaan media sosial di kalangan masyarakat saat ini, imbuh Genius, membuat lalu lalang informasi tak lagi bisa dibendung. Banyak informasi hoax yang sengaja ditebarkan guna memecah belah masyarakat. Oleh sebab itu, masyarakat diminta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak jelas sumbernya.

"Ini sudah menjadi fenomena nasional jelang pemilu/pilkada, kemarin kita (kepala daerah se Indonesia) sempat bahas serius dengan Mendagri. Memang faktanya informasi hoax sangat marak dihembuskan jelang pilkada. Hal ini jangan sampai terjadi di Pariaman. Semua pihak diharapkan bersama-sama menangkal informasi hoax. Selaku masyarakat yang cerdas, saya pikir warga Pariaman punya filter yang baik, dan tahu informasi dari media mana yang harus dipercaya dan terverifikasi," jelasnya.

Sementara, mengenai peran partai politik yang sangat menentukan dalam penentuan bakal calon yang akan diusung dalam pilkada, disadari Genius begitu vital. Oleh karena itu, ia mengajak setiap parpol mampu menjaring yang terbaik sehingga pada akhirnya memilih para calon yang berintegritas, diterima semua kalangan dan berjiwa nasionalis.

"Yang akan melahirkan pemimpin Pariaman yang berkualitas. Saya pikir selama ini (dua pilwako sebelumnya), sejumlah parpol di Pariaman sudah melakukan hal yang positif dalam mengusung pasangan calon. Parpol tentunya akan mengusung pasangan calon berdasarkan kompetensi, pengalaman dan paham akan pemerintahan. Parpol tentunya tidak akan gegabah karena pilkada serentak sejalan dengan pileg dan pilpres 2019," akunya.

Selaku wakil walikota Pariaman yang masih menjabat hingga hari ini, Genius juga mengajak kepada setiap para bakal calon agar mampu mengedukasi masyarakat dalam setiap pertemuan politik. Jangan saling menjelekkan yang nantinya membuat masyarakat terkotak-kotak dan pada akhirnya menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat. Para kandidat menurutnya harus mampu mensosialisasikan program kerja, visi misi dan akan dibawa kemana Kota Pariaman jika ia terpilih nantinya.

"Dalam politik tentu ada etikanya. Mari sama-sama kita jaga Pariaman yang kondusif, Pariaman yang badunsanak jelang Pilwako Pariaman 2018. Pilwako bukan untuk memecah belah, tapi memilih pemimpin yang berkualitas demi kelangsungan pembangunan Pariaman ke depan," pungkasnya.

Ketua KPU Kota Pariaman Boedi Satria mengatakan, penjaringan balon oleh parpol untuk diusung di Pilwako Pariaman 2018, salah satu bentuk uji publik. Masyarakat akan menilai sejauh mana parpol tersebut mampu menjaring balon yang berkualitas dan memiliki kompetensi seorang pemimpin.

Pihaknya mengajak semua unsur masyarakat bersama-sama mewujudkan pilkada serentak yang berkualitas. Tanpa keterlibatan semua pihak, mustahil bagi KPU untuk mewujudaknnya.

Karena semakin dekatnya memasuki tahapan pendaftaran calon--8 hingga 10 Januari 2018--Boedi berharap parpol sudah melakukan persiapan yang matang dalam melakukan penjaringan. Ia menilai semakin cepat pasangan calon dideklarasikan oleh parpol, akan semakin baik bagi masyarakat selaku pemilih.

"Namun kita tentu tidak bisa mencampuri urusan partai. Semakin cepat semakin baik bagi masyarakat," katanya.

Dihubungi terpisah, pengamat politik Ajo Syahril Amiruddin, mengatakan, hingga saat ini belum satu pun parpol berani mengumumkan pasangan calon, meski tahap demi tahapan Pilkada Pariaman 2018 sudah dilalui.

Menurutnya, ada kegamangan dari para pasangan calon jika tidak mendapat dukungan dari walikota saat ini, Mukhlis Rahman.

"Semua bakal calon semuanya ingin dukungan Mukhlis. Bahkan hingga ada yang mengklaim. Saya pikir, hingga saat ini belum ada calon yang didukungnya, karena Mukhlis ingin menjaga suasana politik yang kondusif, dan menyangkut nama baiknya," ungkap Ajo Syahril.

Oleh sebab itu, ia mengatakan agar para calon jangan terlalu berharap dukungan Mukhlis jika ingin maju di Pilkada Pariaman.

"Perbanyak basis dukungan. Rangkul semua lapisan masyarakat. Jika berharap mendapat dukungan Mukhlis, tentu tidak mudah, sebab semua calon yang akan bertarung punya hubungan yang baik dengannya. Saya pikir Mukhlis tidak akan merusak hubungan tersebut demi kepentingan politik yang menguntungkan bagi calon tersebut," tutur tenaga ahli DPR RI itu.

Politisi PAN itu bahkan menilai akan banyak kejutan sebelum paslon didaftarkan ke KPU.

"Politik itu dinamis, belum ada paslon yang final. Katakanlah informasi calon si A dengan si B sudah deal sebagai cawako dan cawawako, telah dikonsumsi publik. Di tengah jalan bisa saja berubah karena adanya kepentingan politik yang lain oleh parpol pengusung," sebut mantan calon wakil walikota Pariaman dan mantan anggota DPRD Sumbar itu.

Pengusungan calon oleh partai politik, imbuh Ajo Syahril, dominan ditentukan oleh para elite politik di tingkat DPP, tidak sebatas tingkat DPC dan DPW. Parpol di tingkat pusat, menurutnya tidak akan gegabah menentukan paslon karena pertarungannya hingga pileg dan pilpres 2019.

"Pilkada serentak 2018 merupakan batu loncatan bagi parpol. Seluruh daerah Indonesia yang menghelat pilkada serentak 2018, dalam radar DPP setiap parpol," ujar Ajo Syahril meyakini. (OLP)
Genius-Mardison Vs Mahyudin-Ridwan, Azwin Amir Tiarap?

Pariaman -- Desas-desus akan berpasangannya Genius Umar-Mardison Mahyuddin dari koalisi tiga parpol Golkar-PAN-PBB dan wacana akan berkoalisinya Gerindra dengan PKS yang akan mengusung Mahyudin-M Ridwan, menurut salah seorang pengamat politik di Pariaman, Zulbahri, tidak akan menyurutkan niat Azwin Amir maju sebagai calon walikota.

"Azwin Amir tidak akan tiarap. Masih ada koalisi beberapa partai lagi yang tersisa," sebut Zulbahri, di Pariaman, Kamis (24/8).

Ia memprediksi kontestasi Pilkada Pariaman 2018 hampir dipastikan paling banyak oleh tiga pasang calon tanpa calon dari perseorangan atau independen.

Dari ketiga calon tersebut, kata dia, pasangan Genius-Mardison, Mahyudin-M Ridwan lah yang akan bertarung dalam tempo tinggi. Masing-masing tidak boleh lengah. Kedua pasangan calon itu jika jadi terealisasi, dia nilai sengit karena telah memiliki jaringan pemilih berdasarkan emosional dan primordial.

"Mahyudin sudah pernah menjabat walikota dan punya pemilih tradisional yang loyal, sedangkan PKS juga memiliki aleh lungguak (dasar) suara yang jelas," sambungnya.

Kendala satu-satunya yang akan menghambat koalisi tersebut, menurutnya adalah restu dari Partai Gerindra. Partai Gerindra sebagai pemenang kedua pemilu legislatif 2014 di Pariaman, tentu akan berupaya mengusung kadernya sendiri. Namun Gerindra selaku partai politik juga mesti realistis menyikapi keadaan jika kadernya dinilai belum cukup mampu bersaing dalam konteks pilkada.

"Tujuan berpolitik itu kan merebut kekuasaan. Saya kira Gerindra akhirnya akan realistis jika memang kadernya dinilai belum mampu bersaing. Di sini saya rasa bisa saja Mahyudin yang diusung," tuturnya.

Hal itu kata dia cukup mendasar mengingat solidnya hubungan Gerindra-PKS tingkat pusat yang mungkin pada akhirnya menjatuhkan pilihan mereka. PKS yang getol mengusung M Ridwan untuk dipasangkan dengan Mahyudin, berkemungkinan akan dipermulus oleh pengaruh kader PKS di tingkat pusat dengan konco politiknya Gerindra.

Sedangkan Azwin Amir dia nilai akan sulit memenangkan pilkada, mengingat pengemasan politik yang dilakukan Azwin Amir bersama timnya belum menyasar berbagai lini.

Kata dia, dalam konteks pilkada, komunikasi politik yang bersifat elitis mesti sejalan dengan komunikasi publik yang bersifat humanis.

"Azwin Amir jauh tertinggal karena kurangnya komunikasi publik. Mereka tidak memanfaatkan pengaruh media massa dalam perang gagasan. Padahal menurut hasil riset dan pakar komunikasi di Indonesia, pengaruh media mencapai 60 persen mempengaruhi opini publik," terangnya.

Genius-Mardison, sambung Zulbahri, diuntungkan dengan statusnya saat ini. Mereka figur sentral di Pariaman. Selain sebagai sosok populer, lajunya pembangunan di Pariaman akan menguntungkan bagi keduanya.

"Apa yang dilihat masyarakat saat ini dan yang merasa puas dengan kinerja pemerintahan, adalah suara dasar bagi mereka. Belum lagi jaringan pemilih primordial. Sebagai putra asli daerah pasangan itu sangat diuntungkan," sebutnya.

Kelebihan lain Genius-Mardison, ada pada sosok Genius yang telah dinilai publik sebagai pemimpin muda pembawa perubahan. Mereka berdua juga sering tampil di media massa berpengaruh dengan asumsi positif.

Sedangkan pengamat politik nasional asal Pariaman Indra Jaya Piliang, memprediksi Pilkada Pariaman 2018--oleh para calon--minim perang gagasan. Padahal menurutnya, pemilih Pariaman saat ini mayoritas kalangan muda dan pemilih pemula, sudah rasional dalam menjatuhkan pilihan politik.

"Jumlahnya dominan. Perang gagasan sangat diperlukan untuk pemilih rasional. Hal ini para kandidat bisa memanfaat media, baik media massa maupun media sosial," ujarnya.

Indra berpendapat, saat ini kalangan pemilih rasional masih banyak yang belum menentukan sikap politik. Mereka memilih berdasarkan kapasitas calon, bukan berdasarkan emosional.

Dari data yang dihimpun wartawan di lapangan, pemilih rasional di dominasi oleh generasi milenial dan generasi Z. Rentang kelahiran 1976-1986 dan 1987-2000. Kalangan tersebut dinilai kritis dalam menjatuhkan pilihan politik. Kalangan tersebut sangat aktif di media sosial.

Sedangkan untuk pemilih rasional berdasarkan kecamatan, Kecamatan Pariaman Tengah mendominasi. Pemilih Pariaman Tengah sebagai pusat kota, sejak Pilkada pertama 2008 paling menentukan. (OLP)