Lensa Piaman: Labuhan Pulau Kasiak

Secara alami sebuah jalur disela-sela karang yang mengelilingi bibir pantai Pulau Kasiak untuk dilewati perahu kecil terbentuk. "Labuhan" adalah istilah yang diberikan oleh nelayan lokal yang acap menepikan biduknya di halaman pulau yang terdapat penangkaran penyu alami milik Pemko Pariaman tersebut. Foto diambil dari atas menara mercusuar setinggi 40 meter. Pulau Kasiak memiliki luas 0,5 Hektare, ditumbuhi kelapa, pohon sukun, pepaya, dll.

Lensa Piaman: Tidur Pulas

Saat narasumber memberikan makalah di podium, beberapa hadirin terlihat menahan kantuk dan akhirnya tertidur pulas di aula utama Balaikota Pariaman dalam acara sarasehan tentang "Sejarah Pariaman dan kepahlawanan H. Bgd. Dahlan Abdullah" Senin, (25/8).

Lensa Piaman: "Lomba Melepas Anak Penyu"

Rombongan Ibu Bhayangkari Polda Sumbar terlihat memberikan semangat pada tukik (bayi penyu) yang hendak mereka lepas ke laut di pantai Konservasi Penyu, Desa Ampalu, Pariaman Utara, Kota Pariaman, Jumat, 22/8/2014.

Lensa Piaman: Potensi Wisata di Pulau Kasiak

Panorama di atas menara mercusuar pulau Kasiak (Kaslik) Pariaman terumbu karang terlihat jelas di kejernihan air laut. Kawasan pulau Kasiak adalah kawasan konservasi penyu secara nature milik pemko Pariaman dibawah dinas DKP dan dikelola secara penuh oleh UPTD Konservasi Penyu. Pulau Kasiak banyak di kunjungi nelayan lokal untuk memancing ikan karang, gurita dan berbagai biota laut lainnya. Akibat perburuan swallow laut beberapa tahun lalu membuat kondisi karang rusak parah. Pemko beberapa waktu lalu bersama mahasiswa pencinta terumbu karang melakukan penanaman terumbu karang di halaman pulau ini.

Headline News :

Berita Terpopuler

PU/Pimred Oyong Liza Piliang, PJW Iwan Piliang, Reporter, Nesya, Hendra, Angga, Nanda, Hendri, Reza. Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan posting dengan label politik. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label politik. Tampilkan semua posting

Fenomena Caleg Jelang Pemilu

Written By oyong liza on Selasa, 07 Januari 2014 | 22.29





Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang selalu di amalkan walaupun cupu. Ilmu pengetahuan yang luas jika diaplikasikan tentu punya dampak bagi peradaban, meskipun dalam ruang lingkup terkecil sekalipun. Adapula kalangan berilmu yang menyalahgunakan ilmu yang mereka miliki untuk mengendalikan orang disekitarnya sesuai kehendak. Kemudian adapula kalangan berilmu yang berperilaku menyimpang jika diberi amanah. Jika demikian punah sudah sebuah peradaban.

Ilmu yang dimaksud diatas tentu bukanlah ilmu perdukunan atau ilmu capak-capak, ambuih-ambuih sebagaimana layaknya lakonan para dukun. Ilmu yang saya maksud adalah dalam artian yang sesungguhnya, yaitu ilmu pengetahuan ilmiah yang mencakup segala sektor dan lini disiplin ilmu.

Dalam mengelola sebuah jabatan sangat diperlukan penguasaan ilmu tekhnis terkait jabatan yang akan di handle oleh sipengemban jabatan tersebut. Misalkan jabatan seorang kepala desa, minimal mereka mampu berkomunikasi dengan baik, punya dasar ilmu psikologi massa untuk memahami karakter masyarakat yang dia pimpin. Kemudian baru dasar ilmu tata kelola pemerintahan. Biasanya, sangat jarang masyarakat salah dalam memilih orang yang akan memimpin mereka. Semakin tinggi SDM masyarakat, semakin tinggi pula kriteria yang musti dipenuhi untuk calon pemimpin mereka. Hal itu berlaku vertikal untuk jabatan keatasnya, hingga dalam memilih Presiden.

Calon pemimpin mustilah pribadi yang punya jiwa petarung tinggi. Punya pondasi cita-cita, yang musti pandai pula mereka utarakan pada calon konstituennya. Calon pemimpin yang akan jadi, selalu memiliki sikap orisinil, satu kata satu perbuatan. Pencitraan boleh-boleh saja asalkan jangan memanipulasi opini publik. Hal ini perlu saya tulis mengingat di tahun 2014 ini kita memasuki tahun politik. Kita akan memilih wakil kita untuk duduk di DPRD Kota/Kabupaten, Provinsi, DPR-RI dan DPD-RI. Setelahnya kita juga akan memilih orang nomor satu di Republik ini.

Dalam teori propaganda politik dikenal istilah OKO (Opini Kontra Opini). OKO adalah permainan psikologi massa tingkat tinggi untuk menciptakan sebuah sudut pandang politik pada satu figur tokoh yang dimainkan. OKO adalah sebagai bentuk mesin potensial dalam dunia politik demi tujuan politik yang lebih besar pula. Mereka melakukan dengan sistemik berharap menuai hasil empirik. Bagaimana jika permainan OKO menjual figur polesan? Bagaimana kita bisa tahu bahwa figur tersebut sosok ideal sebagaimana pencitraan yang dilakukan dengan simultan dan sistemik? Jawabannya adalah SDM kita sendiri. Teliti sebelum membeli. Orang yang jeli dapat memastikan mana mangga yang masak dibatang dan peraman dari melihat sekilas bentuk kulitnya. Mereka tahu mana durian yang masak jatuh dibatang dengan durian hasil panjatan meskipun sipenjual memodifikasi tampuk durian itu.

Sekarang saya sedang mengamati Caleg, baik untuk Kota/Kabupaten, Provinsi hingga DPR-RI serta DPD-RI. Kita dapat memberikan penilaian pada para caleg tersebut jika kita mengenal latarbelakang mereka sebelumnya. Sejak kapan dia peduli kepada masyarakatnya. Apakah dia sebelumnya dikenal aktor sosial atau dikenal aktor politik. Aktor sosial adalah orang yang selalu peka pada lingkungannya dengan tidak dibuat-buat, karena hal demikian karakter aslinya. Sedangkan aktor politik adalah orang yang tiba-tiba muncul hanya disaat-saat ada perhelatan politik. Kadang aktor politik disaat masa dimana dia butuh dukungan berlaku waduhai eloknya hingga menuai simpati masyarakat. Namun setelah hajat dia kesampaian dia akan kembali menjadi dirinya sendiri. Dia bukanlah emas, melainkan tembaga bersepuh emas yang menyilaukan.

Fenomena demikian sudah sangat empirik dari masa ke masa dalam percaturan politik di negara kita. Kita selalu dengan mudah disapu tipuan muslihat karena lemahnya ingatan kita. Belum lagi rayuan materi yang membuat kita terlelap seakan ditiup sepoinya angin saat bersandar diteduhnya pohon cemara.

Saya secara pribadi terus terang dan berharap kepada masyarakat PARIAMAN yang dikenal egaliter. Kita dikarunia SDM yang unggul dari sisi demokrasi sebagaimana cara pola kehidupan sosial masyarakat kita sehari-hari. Kita tahu mana pemimpin yang pantas dan mana yang tidak. Namun kita lupa memberikan suara tersebut kepada orang yang tepat saat-saat hari H setelah menerima kunjungan pasukan 'ninja', 


"Berapa pemilih di rumah ini? kita pukul rata 100 ribu per kepala," 

Kata si Ninja yang menyerang dikala fajar sebelum hari pencoblosan. Ketas tegang berharga dikeluarkan saat itu juga.

Catatan Oyong Liza Piliang

IJP: Politik dan Keamanan di Sumbar

Written By oyong liza on Minggu, 15 Desember 2013 | 20.20





Tahun 2014 adalah tahun politik. Hawanya sudah mulai masuk di penghujung tahun 2013 ini. Sebagai tahun politik, tentunya terjadi persaingan yang hebat di antara pendukung dan peserta pemilihan umum 9 April 2014 dan pendukung pasangan dalam pemilihan presiden-wakil presiden pada 9 Juli 2014. Aksi kriminalitas yang melibatkan kalangan calon anggota legislatif juga sudah terjadi. Belum lagi beragam aksi penangkapan terkait pemakaian narkoba, termasuk ganja atribut peserta pemilu juga sudah tampak di jalanan. 

Jika bicara tentang ASEAN Community 2015, dalam kaitannya dengan aspek politik dan keamanan, terutama di Indonesia umumnya dan Sumatera Barat khususnya, tentulah harus dilihat dari sisi keluar masuknya barang dan manusia yang menuju Sumatera Barat dari negara-negara anggota ASEAN. Begitupula sebaliknya, seberapa banyak warga Sumatera Barat bepergian ke negara-negara ASEAN, termasuk barang dan jasa yang dijadikan transaksi. Pergerakan barang dan jasa tentu menyasar pelabuhan, baik udara, darat maupun laut. Perjalanan tanpa visa memudahkan bagi siapapun untuk bepergian.

ASEAN adalah salah satu kawasan yang memiliki nilai-nilai tersendiri. Kawasan ini mampu mengubah nilai-nilai dari luar menurut sistem budaya yang dianut. Kalaupun ada kawasan yang menjadi Barat dalam kebudayaan, Barat itu tidak serta merta menjadi duplikasi dari Eropa atau Amerika Serikat. Begitupun, kalaupun ada kawasan yang menjadi Timur, tidak serta merta sama atau mirip dengan China, misalnya. Beragam kebudayaan yang bertemu di kawasan ini adalah buah dari denyut sejarahnya sendiri yang berbeda satu sama lain. 

Thailand, misalnya, tidak menghadapi kolonialisme secara langsung. Vietnam mendapatkan kepercayaan diri akibat “menang” perang melawan Amerika Serikat. Kamboja pernah terjebak dalam sejarah panjang rezim otoriter. Myanmar (atau Burma) sedang berupaya memulihkan diri sebagai bangsa yang juga menganut demokrasi. 

ASEAN menjadi kawasan yang diminati, karena pertumbuhan ekonominya yang nyaris stabil. Sekalipun sempat mengalami krisis pada tahun 1997-1998, kawasan ini sudah mampu bangkit lagi sebagai tujuan investasi dunia. Ketika sejumlah negara di Eropa masih sulit bangun dari keterpurukan ekonomi, kawasan ASEAN menampilkan diri sebagai kumpulan negara yang stabil secara ekonomi. Tentu hal ini tidak terlepas dari kebangkitan ekonomi China, sebagai negara besar yang berbatasan dengan negara-negara ASEAN. Daya serap China begitu besar, terutama untuk produk-produk dari kawasan ASEAN, termasuk dan mungkin terutama sumberdaya alamnya.

***

Indonesia akan menjadi perhatian utama di kawasan ASEAN tahun depan, terutama menjelang pergantian Presiden dan Wakil Presiden. Sekalipun tahun ini terjadi aksi besar-besaran penentang Perdana Menteri Yinchuck di Bangkok, pengaruhnya tidak sebesar pergantian pemerintahan di Indonesia. Indonesia masih menjadi kekuatan ekonomi terbesar di kawasan ASEAN. Sokongan jumlah penduduk dan sumberdaya alamnya, masih menjadi jangkar utama stabilitas ekonomi, politik dan keamanan di ASEAN. Bayangkan kalau di Indonesia terjadi krisis ekonomi, apalagi krisis politik, kawasan di sekitarnya dengan sendirinya juga mengalami krisis. Krisis di negara ASEAN lain, belum tentu krisis bagi Indonesia. Sebaliknya, krisis di Indonesia, berarti krisis bagi kawasan ASEAN. 

Masalah Indonesia tentulah terkait dengan pemerataan pembangunan, ketimpangan antara Jawa dengan Luar Jawa atau antara Indonesia Barat, Indonesia Tengah dengan Indonesia Timur. Jumlah penduduk Indonesia di Pulau Jawa sekitar 65%, sementara di luar Pulau Jawa sebanyak 35%. Pulau Jawa yang bahkan tak lebih luas dari Kalimantan Barat, menjadi pulau terpadat di Indonesia dan paling konsumtif. Pengembangan daerah-daerah di luar Pulau Jawa dalam era desentralisasi, dekosentrasi dan tugas perbantuan sejak tahun 1999, belum sama sekali mampu menjadikan penduduk Pulau Jawa melakukan migrasi atau transmigrasi. 

Dapat dibayangkan kemajuan yang akan terjadi di Indonesia, apabila daerah-daerah di luar Pulau Jawa juga berkembang dengan baik. 

Otonomi daerah di Indonesia tentu membawa serta dan membangkitkan budaya lokal yang selama ini terpinggirkan. Sentimen itulah yang kemudian memunculkan sikap untuk mengajukan daerah-daerah baru. Muncul konflik seputar pemekaran daerah. Sementara pilkada sendiri tidak banyak berbuah konflik. Kalaupun terjadi, hanya melibatkan pihak yang kecewa atas hasil, bukan berdasarkan kepentingan lain, misalnya klan atau etnis. Sebagai negara yang paling berkembang demokrasinya, Indonesia sebetulnya bukanlah titik rawan bagi sektor keamanan. Kotak-kotak suara sama sekali bukan ajang konflik. 

Dari sinilah kita memotret, apakah akan ada gangguan keamanan di dalam menghadapi pileg dan pilpres tahun depan. Dari banyak data sebelumnya, sama sekali jarang gangguan keamanan sepanjang pemilu dan pilpres. Masyarakat Indonesia pada prinsipnya mendukung demokrasi, sehingga pemilu dan pilpres menjadi semacam perayaan bersama. Perayaan pada hakekatnya adalah pesta. Pesta demokrasi. Semangat berpesta dalam demokrasi itu sudah tertanam lama. Bukan orang takut kepada kepala-kepala daerah untuk tidak hadir di kotak suara, melainkan segan kepada tetangga kenapa tak datang. Begitulah, pileg dan pilpres sama sekali bukan faktor yang memicu konflik di tengah masyarakat Indonesia.

***

Kembali ke Sumbar, masalah utamanya lebih banyak ke kriminalitas, baik berupa pencurian, perampasan, sampai kekerasan dalam kejahatan di rumah dan jalanan. Yang lain adalah tingginya pengguna narkoba, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Narkoba ini menjadi masalah besar, terhubung dengan kawasan ASEAN secara umum. Mudahnya orang keluar masuk pelabuhan laut, misalnya, bisa serta merta membawa barang-barang haram itu. Belum lagi peredaran narkoba ini juga terjadi di kalangan penegak hukum. Sudah banyak berita betapa polisi, jaksa, hakim, sampai guru juga menggunakan narkoba. 

Di luar itu, kejahatan seksual. Dampak kehadiran internet begitu menakutkan. Kejahatan seksual juga terjadi akibat tingginya tingkat pemakai social media, seperti twitter dan facebook. Kasus pembunuhan “berantai” di Sumatera Barat dengan medium facebook menghebohkan Sumbar. Belum lagi penipuan via facebook dengan motif investasi atau orang luar yang ingin menanamkan uangnya di Indonesia, hasil “kejahatan” di negaranya. Para penipu canggih itu sebagian sudah ditangkap. Mereka mayoritas terdiri dari orang-orang asing, termasuk dari Korea Selatan. Mereka menggunakan teknologi untuk menipu korbannya. 

Konflik terbuka di Sumatera Barat terkait dengan masalah-masalah lama, yakni tanah ulayat. Investasi berupa perkebunan di Sumbar masih menyisakan persoalan klaim tanah ulayat, sebagaimana juga terjadi di bidang pertambangan dan energi. Sentimen agama juga kuat, terkait dengan rencana pendirian RS Siloam di Padang. Hal ini secara umum masih bisa ditanggulangi oleh aparat keamanan, mengingat pihak-pihak yang terkait bisa langsung dipetakan. Mereka adalah tokoh-tokoh masyarakat sendiri, bukan kelompok massa yang tiba-tiba menjadi beringas, lalu melakukan aksi-aksi kekerasan. 

Dengan demikian, dampak kekerasan komunal sama sekali bisa dihindari di Sumbar. Yang perlu diantisipasi adalah kekerasan secara individual. Di sinilah kita mengenal konsep social security (keamanan sosial), human security (keamanan kemanusiaan), bukan state security (keamanan negara) dalam skala nasional. Di sinilah perlunya training-training pengamanan lingkungan, bukan hanya dengan cara memagari nagari, bahkan lebih jauh lagi masuk ke tingkat keluarga. Soalnya, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi bisa berarti ada pihak yang saling berhubungan, di dalam kamar, tanpa diketahui oleh niniak mamak ataupun wali nagari. 

Apalagi, perang moderen tidak lagi bisa dimaknai sebagai pendudukan bersenjata. Perang moderen berarti penguasaan teknologi – dan pengendaliannya --. Kita mengenal konsep cyber war, yakni perang di dunia cyber, perang di internet, dengan cara membobol situs-situs antar negara. Para hacker Indonesia dikenal lebih menguasai bidang cyber war ini, sekalipun – belum tentu – menjadi satuan khusus yang sengaja dibentuk. Pornografi menurut saya juga bagian dari perang moderen, bahkan juga peredaran narkoba, sebagaimana Perang Candu yang terjadi di China (dengan Inggris) pada pertengahan abad ke-19. 

Di atas semua itu, perang yang sebenarnya adalah perang di bidang ilmu pengetahuan. Dan strategi memenangkan perang itu tentulah dengan memperbanyak dan memperluas penguasaan ilmu pengetahuan bagi rakyat Sumbar, khususnya, Indonesia, umumnya. Anggaran pendidikan bukanlah solusi utama, apabila anggaran itu lebih banyak masuk ke bidang infrastruktur, ketimbang distribusi ilmu pengetahuan berupa buku-buku, jurnal, koran, dan lain-lainnya. Distribusi itu dengan sendirinya juga diikuti dengan beragam kegiatan di bidang ilmu pengetahuan, baik berupa seminar, diskusi, debat, training, dan lain-lainnya. Bukankah Sumbar sudah mendeklarasikan dirinya sebagai industri otak? Wallahu ‘Alam.

Catatan Indra Jaya Piliang

Kampanye dan Calon Pemimpin Idealis

Written By oyong liza on Selasa, 10 Desember 2013 | 19.52



Dalam suasana pra-pemilu 2014 ini, negara kita sedang berada dalam kehangatan suasana kampanye. Upaya mempromosikan diri sendiri sebagai ajang sakral yang tidak pernah bisa ditinggalkan. Seperti mendatangi masyarakat kelas menengah ke bawah dengan menggunakan metode insidental random sampling. Mereka berkeliling secara acak ke daerah-daerah yang menurut mereka strategis untuk mengumbar-umbarkan janji.

    Atribut-atribut material juga tidak terlepas dari suasana kampanye seperti ini. seperti spanduk, baliho, baju pemenangan dan sebagainya. Ke semua itu menyuguhkan tulisan-tulisan yang memancing simpati masyarakat.

    Dalam penyampaian janji yang berlebihan, mereka seakan dipandang sebagai sosok yang idealis. Mereka mempunyai ide dan gagasan layaknya penganut paham idealisme yang sebenarnya. Alangkah disayangkan, mereka tidak membarengi buah fikirannya itu dengan komitmen untuk merealisasikan. Kalaupun ada, itu hanya bersilat lidah saja. Setelah memberikan ide, mereka menebar janji, bahwa setelah dirinya terpilih nanti, dia akan menerapkan apa yang disampaikan kala itu.

    Dalam persiapan pemilu 2014 nanti, banyak sekali yang harus dibenahi dari negara ini. Pandangan dan pendapat dari pemimpin idealis sangatlah diperlukan. Keadaan gonjang-ganjing kepemimpinan saat ini, carut marut perekonomian, KKN, sadap-menyadap dan sebagainya. Keadaan seperti ini janganlah sampai dimanfaatkan oleh oknum yang tak bermoral sebagai landasan ide untuk dijadikan sebagai tameng dalam kompetisi perebutan kursi emas pemerintahan.

    Ide ya ide, jangan sampai dijadikan sebagai ajang untuk mengumbar janji. Sangat disayangkan ketika masyarakat telah menaruh harapan pada pemimpin terpilih nanti, tetapi mereka malah berkhianat begitu saja. Keadaan semacam ini jelas menggambarkan sosok pemimpin bertopeng pada paham idealisme. Ide yang disampaikan tidak beguna bagi keberlansungan negerinya.

Sekilas tentang idealisme

    Idealisme memang suatu paham yang sangat efektif dalam menarik perhatian masyarakat. Dengan memberikan ide dan gagasan yang mutakhir agar nantinya direalisasikan dalam masyarakat. Paham seperti ini akan membangun persepsi masyarakat yang percaya akan pemimpinnya, karena selalu dihadiahi buah fikiran yang kreatif dalam membangun tatanan kemasyarakatan.

    Seseorang yang menganut paham idealisme akan senantiasa berbagi dengan siapapun. Apalagi dia adalah seorang pemimpin, dia akan menjadi pemikir bagi masyarakatnya. Selalu memberikan inspirasi yang membangun. Alhasil, pemimpin seperti ini akan membawa masyarakatnya ke arah yang lebih maju. Hal itu disebabkan karena seorang idealis selalu mampu memberikan ide kreatif sehingga bisa menemukan inovasi terhadap kemajuan warga masyarakatnya.

    Pemimpin idealis bisa menjadi tempat berteduh di kala hujan dan panas. Dalam keadaan apapun mereka selalu mengupayakan pencegahan terhadap suatu hal yang tidak dikehendaki datang pada masyarakatnya. Seperti halnya krisis ekonomi pada era globalisasi ini. Jika sebuah negara dilanda krisis, negara lain harus bersiap-siap terkena ombaknya. Sang pemimpin idealis selalu memikirkan upaya menepisnya. Dan, selalu menginstruksikan ide itu kepada masyarakat sebagai wujud realisasi.

    Selain itu, ketika masyarakat sudah dilanda suatu persoalan yang dimulai dari hal yang tetek bengek sampai persoalan yang lebih serius. Dia akan berusaha mencarikan jalan keluar serta solusi yang efektif dalam menyelesaikan masalah itu. Tak ayal, jika ada, pemimpin seperti ini merupakan sosok pemimpin idaman masyarakat.

    Menurut wakil walikota DKI Jakarta, Basuki T Purnama, pemimpin yang benar-benar idealis sangatlah minim di Indonesia ini. Apalagi mereka yang betul-betul berkomitmen pada tiga prinsip; bersih, transparan, dan profesional (BTP) (19/8). Pemimpin yang idealis tentunya memiliki ciri BTP dalam dirinya. Hal itu nantinya akan berimbas pada terlaksananya ide yang sudah dibangun tanpa persoalan KKN yang menjamur seperti sekarang. Kita akan mendapat hasil yang memuaskan dari jerih payah dalam merealisasikan gagasan itu.

    Yang ada adalah para pemimpin yang ‘sok’ idealis. Mereka seakan bertopeng dengan pandangan baik masyarakat terhadap idealisme. Mereka berlagak seperti pemimpin yang penuh ide dan gagasan. Memang benar, semua orang punya ide dan gagasan tetapi seseorang yang idealis dapat merealisasikan idenya dengan tepat sasaran. Sementara seorang yang berpura-pura idealis, mereka memberikan ide karena maksud pamrih yang diterimanya.

    Pemimpin dengan paham idealisme memang harus ada pada pemerintah kita. Seharusnya pemerintah membuka jalan terhadap para idealis untuk mengisi jabatan pemerintah. Dengan menetapkan peraturan-peraturan seputar kontestasi dalam perhelatan akbar ini. Yang semua itu dapat memudahkan mereka bergelut dengan dunia pemerintahan. Selain itu dengan menerapkan BTP (bersih, transparan dan profesional) di dalam setiap badan pemerintahan. Tujuannya agar melahirkan manusia-manusia yang benar-benar berpaham idealisme.


 Roni Vebrian

Sutan Bhatoegana, Kami Belum Lupa Kisah Soal Nazaruddin

Written By oyong liza on Selasa, 03 Desember 2013 | 19.02

Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)
Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)


Akhirnya, Rudy Rubiandini pun mulai berani menyebut nama saat jadi saksi dalam sidang Simon Gunawan Tanjaya, staf Kernel Oil. Tak tanggung-tanggung, nama yang disebutnya meminta THR adalah Ketua Komisi VII DPR RI : Sutan Bhatoegana. Tak hanya Sutan Bhatoegana, rekan se Fraksinya – Fraksi Demokrat – Tri Yulianto juga ikut disebut. Bahkan kini KPK sudah mencekal staf ahli Bhatoegana, Ir. Iryanto Muchyi, MM yang saat ini juga sedang menjadi caleg Partai Demokrat. Kalau KPK sudah mencekal seseorang terkait kasus korupsi yang sedang disidik, tentu tidak dilakukan dengan ngawur. 

KPK pasti punya alasan kuat kenapa seseorang harus dicekal.
Sutan Bhatoegana tentu saja membantah dia meminta apalagi menerima dana THR sebesar USD 200.000. Itu hanya ulah pihak yang tidak suka dan ingin menjatuhkan Partai Demokrat, kilah Bhatoegana. Tentu sah-sah saja SB membantah keras untuk membela diri. Rudy Rubiandini pun tentunya tak main-main menyebut nama orang dalam persidangan di bawah sumpah. Kalau dia berbohong, dampaknya akan mempersulit dirinya sendiri. Sebab Rudy bukanlah orang bebas, dia adalah tersangka lain dalam kasus yang sama dengan Deviardi. Jadi kalau RR memberikan kesaksian bohong, akan memperberat hukumannya.

Lalu, kira-kira siapa yang benar dan siapa yang berbohong? 

Kita lihat saja nanti, bagaimana perkembangan kasus ini di persidangan. Hari ini KPK akan memeriksa Menteri ESDM Jero Wacik – yang kebetulan juga kader Partai Demokrat – dalam kaitan dengan kasus korupsi di tubuh SKK Migas. Pak Jero tentu tak bisa sembarangan lagi menyebut uang yang ada di ruang kerja Sekjen ESDM sekedar uang operasional. Selain jumlahnya cukup fantastis, bentuknya dalam mata uang US dolar dan jangan lupa pula : nomor serie uang yang ditemukan di ruang Sekjen ESDM itu berurutan dengan uang yang ditemukan di tempat Rudy Rubiandini. Tentu ini bukan kebetulan.

Kembali ke Sutan Bhatoegana, yang membantah keras dengan ekspresinya yang khas : mimik muka meyakinkan dan nada sara meletup-letup. Tapi kita mungkin belum lupa,pada Juni 2011 lalu, publik juga dipertontonkan cerita “seru” dan meyakinkan dari Sutan Bhatoegana. Kala itu kasus suap Wisma Atlet sedanga panas-panasnya, karena Nazaruddin kabur ke Singapura sehari sebelum dicekal KPK. Rekan-rekan separtainya saat itu membela Nazar dengan alasan Nazar sedang berobat/periksa jantung di sebuah RS di Singapura. Desakan publik membuat Partai Demokrat akhirnya mengirim utusan untuk – kabarnya – membujuk Nazar agar kembali ke tanah air.  

Utusan Partai Demokrat ke Singapura dipimpin Sutan Bhatoegana yang saat itu dianggap dekat dengan Nazaruddin. Didampingi beberapa fungsionaris Demokrat, Sutan pun menemui Nazar di Singapura.

Hasilnya?! Sepulang Sutan dkk dari Singapura, Partai Demokrat menggelar konferensi pers resmi. Didampingi Anas Urbaningrum selaku Ketua Umum dan Edhie Baskoro Yudhoyono sebagai Sekjen, Sutan Bhatoegana menjelaskan bahwa Nazar saat itu sedang sakit dan masih dalam perawatan. Berat badan Nazar turun 18 kg, jalannya agak membungkuk, saat berbicara sambil terbatuk-batuk dan selalu memegangi dadanya. Padahal waktu itu Nazar baru 3 mingguan kabur, sudah turun 18 kg, wow! Pasti “sakit”nya cukup parah dan mestinya tampak sangat kurus. Bhatoegana bahkan menjelaskan bahwa Nazar berniat kembali ke Indonesia kalau pengobatannya sudah selesai, tak lama lagi.

13859439481992913216
foto : www.asatunews.com

Perkembangan selanjutnya, fakta menunjukkan bahwa Nazar tak pernah kembali. Kalaupun ia kemudian dipulangkan ke tanah air, itu karena tertangkap tak sengaja oleh polisi Kolumbia dan kemudian dideportasi. Ia ketahuan memakai paspor milik kerabatnya. Ditangkapnya Nazar di Kolumbia setelah ia melakukan serangkaian pelarian ke beberapa negara, bukan dalam rangka berobat. Saat ditangkap pun sama sekali tak tampak Nazar seperti orang yang sakit parah. Televisi Kolumbia yang menyiarkan saat-saat awal setelah Nazar ditangkap – yang kemudian disiarkan televisi Indonesia – jelas menunjukkan Nazar sehat walafiat, tubuhnya sama sekali tak kelihatan susut. Kalau jalannya sedikit membungkuk, itu karena postur Nazar yang cukup tinggi dan itu sudah kebiasaan Nazar. Dia tampak berbicara dengan Dubes RI untuk Kolumbia dengan santai, tak terkesan terganggu batuk.

Pasca penangkapan Nazar di Kolumbia, pers nasional kemudian meminta keterangan Sutan. Kenapa Nazar tampak sehat walafiat dan bobot tubuhnya tak tampak susut. Tapi Sutan dengan sedikit ngotot – meski tak sengotot awalnya – tetap berkilah bahwa Nazar memang turun 18 kg berat badannya saat dia bertemu di Singapura. Nah lho! Sudah ketahuan berbohong masih bisa ngeyel dengan mimik muka meyakinkan. Kalau kata pepatah lama : sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Jadi, karena publik sudah pernah punya pengalaman disuguhi cerita rekaan yang meyakinkan oleh Sutan Bhatoegana, ada baiknya sekarang kita tak percaya begitu saja sanggahan Bhatoegana. Let’s wait and see, semoga Rudy Rubiandini mau menceritakan semua fakta kemana aliran uang dari Kernel Oil dan siapa saja yang kecipratan uang itu.

Jangan mau konyol pasang badan untuk politisi yang ikut menikmati tapi selamat dari jerat hukum. Untuk Pak Sutan, lebih baik bersiap diri menghadapi kemugkin terburuk, dari pada terus berkilah.

Catatatn Ira Oemar

Ketika Kepala Sang Pemimpin Sudah Tergadai

Written By oyong liza on Selasa, 13 Agustus 2013 | 12.21





Sepenggal kalimat dalam sebuah tulisan yang pernah saya baca, berbunyi : "Penggal Kepalanya Maka Badannya Akan Roboh." Filosofi kalimat di atas sangatlah mendalam, sehingga jadi Fenomena tersendiri dalam dunia perpolitikan kita.

Seorang Pemimpin untuk duduk dalam sebuah jabatan Politik menghabiskan banyak dana, baik itu Presiden hingga kepala daerah. Darimana mereka mendapatkan Biaya untuk menuju kursi yang mereka inginkan tersebut.? Disini mereka memerlukan Donator. Para Donator juga terbagi dua, yaitu Donator Utama dan Donator penyumbang (ala kadar dan simpatisan).

Jika Calon yang di dukung oleh Donator utama tersebut menang, peran dan campur tangan mereka sangat tinggi sekali. Okelah jika Donator tersebut mendukung sang Calon demi sebuah Idealisme, tentu saran yang akan mereka berikan demi kebaikan dan kemajuan. Bagaimana Jika sebaliknya? Pemenang tersebut di danai oleh Donator oportunis? Orang yang dominan memikirkan Sisi Ekonomi, untung rugi daripada Idealisme Calon yang ia "Ijon" tersebut?

Kepala Daerah hasil "Ijon" tersebut akan berada pada posisi dilematis. Ia takan bisa melawan Donator Utama tersebut bersebab "Kepalanya sudah dipenggal". Kebijakan yang musti memihak pada warga jika bertentangan dengan kepentingan "sipemenggal" tersebut, dengan keyakinan penuh saya katakan, sang Kepala Daerah lebih memihak kepadanya ketimbang Masyarakat banyak yang memilihnya. Akibatnya janji janji selama Kampanye tidak ditepati, Masyarakat Antipati, gigit jari.

Fenomena beginilah yang sering terjadi dalam konteks Pilkada langsung berbiaya mahal. Disini saya tidak mengatakan bahwa sang Kepala Daerah tidak menginginkan kemajuan dengan melahirkan kebijakan untuk kesejahteraan masyarakatnya. Dia Ingin sekali.. Namun apa daya.. Kepalanya Sudah tergadai.

Catatan Oyong Liza Piliang

Strategi Paling Jitu Menuju Pariaman 1

Written By oyong liza on Kamis, 04 Juli 2013 | 11.52





Tim Pemenang Pasangan Calon Wako-Wawako Pariaman periode sekarang ini musti mengemas Pola Kampanye serta Sosialisasi paling tepat, Musti jelas dan tepat sasaran agar Dana yang dikeluarkan tidak menjadi sia-sia . Kampanye paling efektif menurut pendapat saya Pribadi adalah berkomunikasi dua arah langsung dengan masyarakat, jika ini dilakukan, sangat jarang masyarakat tidak bersimpati , asal tidak si Calon itu sendiri yang serba berkekurangan dari segi Performence.

Dahulu kita lihat kampanye dan sosialisasi berbiaya mahal seperti yang dilakukan oleh salah satu Calon Walikota dengan membagikan kacamata gratis ditiap mana sosialisasi, kemudian sunat massal, jika ditotal jumlah kacamata gratis yang dibagikan dan ribuan anak yang disunat, sudah pasti ia menang mudah kala itu. namun fakta bicara lain, ia kalah telak karena masyarakat Pariaman kala itu lebih percaya pada pasangan MUDA ( Mukhlis-Helmi Darlis ) yang lebih piawai dalam mengambil hati masyarakat.

Pola Kampanye tidak tepat sasaran semacam membagikan kacamata ( materi ) dianggap masyarakat berderma, sehingga sicalon tidak menemukan capaian Politik dalam kegiatan yang ia lakukan tersebut.

Lalu bagaimana kampanye paling efektif yang musti dilakukan ? Dalam sebuah artikel, saya membaca kunci kemenangan Jokowi terletak di Sosialisasi langsung kepada masyarakat DKI dengan berkomunikasi langsung, ia mengunjungi hampir seluruh pemukiman padat penduduk di Ibu Kota Jakarta. Jokowi sangat cerdas memanfaatkan momen tersebut dengan melakukan dialog dua arah dengan warga dengan bahasa yang mudah dicerna.

Kenapa sistem tersebut yang sudah terbukti mumpuni tidak dilakukan oleh Calon Walikota sekarang dengan maksimal ? tanya kenapa ? semua orang bisa menerapkan sistem yang dilakukan Gubernur Rocker tersebut meskipun tidak bisa meniru tabiat asli mantan pengusaha kerajinan kayu yang rendah hati itu. Sederhana sekali bukan ? Hanya membuka kran Komunikasi dua arah. Jika simpati warga sudah didapat, maka secara otomatis Media pasti dengan sendirinya akan berbondong-bondong menyorot dan mempublikasikan karena berita yang diliput dinilai memiliki rating tinggi dan ditunggu publik.

Catatan Oyong Liza Piliang

Politik Layang-layang

Written By oyong liza on Selasa, 25 Juni 2013 | 13.10





 Sumber Foto : Antarafoto.com


Sekarang masyarakat di sepanjang Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman sedang menghadapi musim layang-layang. Mulai dari kalangan anak-anak, remaja dan sampai pada yang tua lagi sedang demam layang-layang. Berbagai bentuk dan variasi layang-layang yang ditampilkan, mulai dari layang papau, layang maco, layang sugirai, layang sikapak dan layang-layang jantan badanguang.

Permainan layang-layang tersebut dilakukan di berbagai tempat, mulai di sawah, di lapangan terbuka, pokoknya lokasi yang memungkinkan mereka untuk manjoak an (maanjungan), untuk memulai menaikkan layang-layang.

Permainan layang-layang disebut juga dengan permainan tradisional anak nagari. Tentu ada sejarah atau yang melatarbelakangi munculnya permainan ini di awal kemunculannya, bahkan sampai dijadikan sebagai salah satu permainan anak nagari. Biasanya setiap permainan anak nagari dibuat dan dikontruksikan oleh pendahulu kita, ada tujuan dan nilai filosofinya. 

Apapun itu yang pasti dalam pembuatan layang-layang itu ada nilai estetikanya, seni pembuatan dan nilai kreatifitasnya sehingga menghasilkan bentuk yang indah dengan warna dan gambar yang unik. Ada berbentuk pesawat, palang merah, palang hitam, silempang, burung dan lain sebagainya. 

Permainan layang-layang bisa bermakna politis, karena kata orang lapau, salah satu yang menyebabkan manusia lupa dan lalai dengan waktu adalah ketika layang-layang sedang tegak tali, di samping ketika ota (pembicaraan) sedang didengarkan orang dan pancingan dicatuih (digigit) ikan. Begitu juga dengan politik, yang memberikan harapan dan mimpi yang akan bisa merubah status seseorang, dari yang biasa saja bisa beribah menjadi luar biasa, apalagi sekarang kita berada pada tahun politik. Kita bisa saja menafsirkannya, sesuai dengan sudut padang kita. Politik layang-layang ada positifnya dan ada juga negatifnya. 

Politisi pada tahun politik ini sama halnya dengan layang-layang pada musim layang-layang. Partai politik sebagai produsen politisi mengusung calon yang akan bisa memenangi hati rakyat, dengan berbagai cara dan pendekatan yang dilakukan. Mulai dengan pemajangan baliho di berbagai tempat strategis, seperti baliho permanen, spanduk dipajang di batang pohon, tonggak listrik dan lain sebagainya sebagai media promosi dengan penampilan yang juga beragam. Seperti memakai peci atau kupiah, pakai baju jas, baju koko dengan selamirinya, dan ada juga dengan memakai atribut atau jaket partainya. Ekspresi yang ditampilkan juga beragam sesuai dengan keinginan si calon didefinisikan seperti apa. Ada dengan ekspresi tertawa, dengan harapan agar dipersepsikan sebagai orang yang fresh, bahkan ada juga dengan tampilan tersenyum.  Semua itu dilakukan agar menjadi faktor penarik minat masyarakat untuk memilihnya. Dalam teori political marketing disebut dengan istilah positioning.

Menarik memang untuk didiskusikan kaitan lomba layang-layang dengan pemilihan umum. Pemilihan umum adalah sebuah sarana demokrasi untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin. Sedangkan lomba layang-layang adalah ajang pertandingan memilih layang-layang yang terbaik, mulai dari aspek ketinggian, keindahan gerakannya, keindahan bentuk rupa dan gambar serta warnanya. Artinya layang-layang yang terbaik dan ditetapkan sebagai pemenang tidak sekedar tinggi saja, tetapi juga keindahan gerakan/ goyangannya bersama dengan keindahan bentuk rupa dan warnanya. Ada beberapa indikator yang menjadi penilaian bagi tim penilai atau pemilih layang-layang terbaik, antara satu indikator dengan indikator lainnya mempunyai kaitan. Semua indikator itu harus terpenuhi dan dimiliki oleh layang-layang tersebut secara utuh dan komprehensif.  

Lomba layang-layang kalau dikait-kaitkan dengan politik, ternyata bisa juga dan ada relevansinya. Bahwa pemilihan umum juga merupakan ajang kompetisi, setiap calon di alam demokrasi diberi kesempatan untuk mensosialisasikan diri dan menonjolkan yang terbaik dari masing-masing calon dalam bentuk promotion. Seperti pada masa kampanye masing-masing calon memajang diri dengan fashion dan penampilan yang dianggap menarik oleh masyarakat seperti halnya layang-layang yang dibuat seindah dan semenarik mungkin, baik dalam bentuk warna, tagline, tema dan gambar. 

Suatu hal yang harus menjadi perhatian bagi politisi kaitannya dengan lomba layang-layang adalah, bahwa layang-layang itu akan bisa naik kalau sudah terpenuhi beberapa unsur berikut ini. Pertama, harus ada orang yang menarik benang layang-layang. Kedua ada orang yang membantu menganjungkan (menjuak an) layang-layang. Ketiga, untuk bisa layang-layang naik tinggi harus ada benang yang panjang dan kuat. Keempat, stock benang harus tersedia dalam bentuk puntaran. Kelima, angin harus stabil dan cuaca kondunsif. 

Poin pertama dalam konteks politik dari unsur di atas adalah peran partai politik. Partai politik mempunyai peranan yang sangat strategis untuk mengajukan calon wakil rakyat yang berkualitas, mempunyai kapasitas dan integritas. Tentu tidak sekedar menaikan dan mencalonkan saja.  Partai politik sudah harus punya sistem rekrutmen kader yang terukur untuk menjaring dan menyeleksi kader yang akan diajukan dalam kompetisi demokrasi melalui pemilihan umum. Seyogyanya partai politik tidak sekedar usung calon, memilih secara karbitan tanpa melewati proses pengkaderan apalagi kalau hanya mengedepan uang yang dimiliki si calon.

Biasanya pemilik layang-layang sebelum membawa dan mengikutsertakan layang-layangnya dalam pertandingan, sudah memastikan bahwa layang-layang yang akan berlaga itu sudah teruji, ada succes story dan sudah dipersiapkan sebelumnya. Contohnya sudah beberapa kali dinaikan melalui uji coba, menilai apakah enggaknya (goyangannya) sudah seimbang?, apakah tali terajunya sudah terpasang dengan baik?, apakah tidak ada yang gedek (berat sebelah)?,apakah layang-layang itu bisa mengangkat benangnya dalam bentuk tegak tali?. Semuanya menjadi perhatian sebagai ajang seleksi terhadap track record atau rekam jejak prestasi yang bersangkutan, apakah layang-layang tersebut layak untuk diikutkan lomba. Termasuk juga ukuran kelasnya? Apa layak untuk tingkat tali 2, tali 3 atau tali 4.

Partai politik juga harus mempunyai tahapan seleksi dan menilai dulu apakah bakal calon tersebut berkualitas secara intelektual, matang secara emosional, kuat secara spritual, teguh secara moral, peduli dan empati secara sosial dan boleh juga dimasukan mapan secara finansial. Mapan secara finansial tidaklah menjadi wajib, namun bisa diposisikan sebagai sunnat. Kemudian menilai untuk dicalonkan pada tingkat mana? Apa untuk DPR, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. 

Poin kedua, bahwa layang-layang tidak bisa naik dengan sendirinya tanpa dukungan dan bantuan dari orang yang menjoak an (menganjungkan). Dalam hal politik bisa juga dikatakan bahwa seorang calon tidak akan bisa melakukan proses dan tahapan politik secara sendirian. Si calon akan dan pasti membutuhkan orang lain dalam bentuk tim sukses, relawan, perpanjangan tangan atau bisa juga disebut dengan istilah kaki tangan. Merekalah sebagai ujung tombak yang akan mengkomunikasikan diri si calon beserta dengan visi, misi, ide, gagasan dan program. Mereka seharusnya wajib diberikan pembekalan dalam bentuk training. Sebab bagaimanapun juga tim sukses sebagai perpanjangan tangan dari si calon dan bisa juga menjadi cerminan sosok kepribadian calon itu sendiri. Meskipun tidak ada kaitan kepribadian antara si calon dengan tim sukses. 

Tim sukses hahikatnya adalah sebagai janang. Dalam istilah minang mengungkapkan bahwa, "saketek-ketek biduak ba nahkodo, saketek-ketek alek ba janang". Janang bertugas menyusun tempat duduk, menempatkan sesuatu pada tempatnya, kok patuik ke atas, terkebawahkan, hal itu harus dimintakan maaf dan kerelaan, atau kok patuik ta kabaruh terkeataskan, hal itu adalah dimaksud dan disengaja, kok terhampirkan ipar dengan bisan, patut di kanan ditempatkan di kiri atau sebaliknya yang di kiri diletakan di kanan. Maka janang dalam artian tim sukses yang akan menyajikan, mengkomunikasikan dan menatiangkan si calon kepada khalayak ramai. Kalau janang salah dan tidak baik, maka rusaklah alek, kalau nahkodo tidak becus, maka tenggelamlah biduak. Prilaku, tatakrama dan pola komunikasi tim sukses haruslah dibangun secara baik. Sebab kecenderungan terjadi di lapangan "lebih angek tadah daripada cawan". Artinya tim sukses berpotensi lebih tinggi  tendensi emosi dan amarahnya dibandingan dengan si calon. 

Seperti halnya layang-layang, kalau yang menjoak an atau yang menganjungkan layang-layang tersebut secara terbalik, seperti kepalanya ke bawah dan ekornya ke atas, tentu layang-layang akan menukik ke bumi atau jatuh ke bawah, bahkan berakibat fatal, layang-layang jadi robek, tulangnya patah dan tidak akan bisa dinaikan lagi. Artinya setiap calon juga perlu menyeleksi dan memperhatikan tim suksesnya. Sebab tim sukses juga berfungsi sebagai corong dan agen kampanye si calon. Jika salah tim sukses mengkomunikasikan dan mengkampanyekan gagasan atau ide si calon dikomunikasikan secara terbalik, tentu akan merugikan si calon bahkan berakibat fatal dan bisa-bisa didiskualifikasi. 

Ekstrimnya lagi adalah ada oknum tim sukses yang lebih mengutamakan kesuksesan dirinya. Mengeksploitasi si calon dengan usulan-usulan kegiatan serimonial dan meraup keuntungan dari kegiatan tersebut. Lebih parah lagi ada tim sukses yang menyusup dan mencuri informasi dan strategi yang sedang dan akan dilakukan, kemudian menperjualbelikannya atau melacurkannya kepada calon yang berkantong lebih tebal lagi. "Habis manis sempah dibuang" begitu kira-kira prilakunya. 

Di samping itu dalam masa perlombaan layang-layang yang bersamaan dengan tahun politik suasana kebatinannya hampir mirip. Apalagi pada masa kampanye, berbagai intriks, strategi dan propoganda yang dilakukan. Kondisi ini pada lomba layang-layang berpotensi bersaur benangnya, karena layang-layang sudah tinggi dan benang sudah semakin panjang diloro atau dilepaskan. Orang yang benangnya kuat, panjang dan tajam berpotensi mengalahkan benang yang lemah, singkat dan tidak tajam. Kecenderungan persauran benang itu terjadi ketika sudah semakin dekat waktu penilaian. Persauran itu kadang memang dilakukan secara sengaja oleh kompetitornya dengan tujuan bisa lebih dominan dan leluasa mendapatkan kemenangan. Akibat dari persauran benang itu bersifat spekulatif, bisa menguntungkan bagi yang sengaja menyaurkan atau sebaliknya sampai kepada kegagalan fatal berupa putusnya benang dan layang-layangnya hilang dan sulit untuk menemukannya.

Dalam politik masa ini merupakan masa kampanye, suasana semakin panas, menegangkan dan penuh intrik. Masa ini berpotensi konflik, perkelahian, pertikaian melalui black campaign yang dilakukan oknum untuk menjatuhkan lawan politiknya.

Untuk menghindari dan meminimalisir potensi persauran ini, seyogya harus ada komitmen bersama antar peserta secara gentlemen dalam bentuk regulasi yang biasa dibungkus dengan istilah "pemilu badunsanak" penuh kebersamaan, kekeluargaan dan persaudaraan atau deklarasi "siap menang dan siap kalah", yang menang tidak menjadi sombong dan congkak, dan yang kalah tidak boleh berkecil hati dan emosi, kemudian mencari-cari kesalahan. Politisi dalam merebut simpati rakyat harus fair play kemudian  berjiwa besar, berhati lapang dan menerima hasil pilihan rakyat, sebab yang menang sebenarnya adalah rakyat. Orang minang tidak menyukai "rumah sudah tokok babunyi",sudah ada keputusan, masih menggugat. Dengan mengerahkan massa untuk melakukan aksi demonstrasi yang berpotensi anarkhis dan menelan kerugian sosial yang besar. Padahal media salurannya sudah disediakan negara melalui bawaslu, PTUN dan sampai ke MK.

Poin keempat tentang stock benang di puntaran kaitannya dengan politik adalah dana kampanye. Soal penggunaan dana kampanye memang perlu diatur, sebab kalau tidak diatur, maka dalam persaingan bebas di era demokrasi dan reformasi ini yang berpeluang memenangkan pertandingan dan pemilihan adalah kapitalis, orang berduit dan berdompet tebal. Orang yang mempunyai stock benang yang banyak di puntarannya yang unggul, apalagi masyarakat kita sebagian masih miskin dan kemiskinan itu menjadi trend topik kampanye kaum berduit. 

Kerawanan kondisi sosial ekonomi masyarakat menjadi lahan yang subur bagi politisi karbitan berduit untuk meraup simpatik dengan uang atau disebut money politic. Istilah serangan fajar sudah selalu sering kita dengar dan sudah masuk dalam kamus politik, kondisi ini juga punya korelasi dengan prilaku pragmatis masyarakat. Banyak sekali pertanyaan tentang korelasi pragmatis masyarakat dengan prilaku hedonis dan elitisnya pemimpin dan wakil rakyat. Apakah sikap pragmatis masyarakat itu sebab atau akibat? Begitu juga dengan prilaku pemimpin atau wakil rakyat yang semakin hedonis dan elitis itu juga sebab atau akibat?. Tergantung sudut pandang orang yang menilainya. 

Mata kadang menjadi silau dan tidak objektif jika dikaitkan dengan uang. Hitam bisa berubah jadi kuning dan kuning bisa berubah jadi hitam, seperti gurauan orang piaman "kalau mamaknya berduit banyak dan berdompet tebal, walaupun berkulit hitam, maka sang mamak cenderung dipanggil dengan sebutan “mak uniang”. Begitu sebaliknya jika mamak tidak berduit atau berdompet tipis, meskipun berkulit kuning, dipanggil saja dengan sebutan “mak itam”. Intonasi memanggilnya juga berbeda, kalau kepada mamak yang berduit "lunak gigi daripada lidah", kalau kepada mamak yang tidak berduit atau berdompet tipis "tetap lunak lidah daripada gigi". 

Masyarakat harus ditumbuhkan kesadaran kritisnya melalui sikap ketauladanan si calon. Walaupun beberapa NGO pencinta demokrasi selalu mengkampanyekan "ambil duit mereka, tapi jangan pilih mereka", namun tidak banyak pengaruh juga dalam memberikan effek jera kepada politisi nakal.

Bahkan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi keagamaan terbesar di Indonesia dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulamanya pada bulan september tahun 2012 mengeluarkan fatwa haram sedeqah, infak dan zakat politik, karena ada muatan risywah (suap alias sogok). Risywah adalah haram, orang yang memberi dan menerima suap atau sogok hukumnya sama yaitu haram. Fatwa haram terhadap infaq, sedeqah dan zakat bermuatan politis, agar orang yang menerimanya punya keterkaitan pilihan politik merupakan wujud keprihatinan para ulama terhadap permasalahan suap, sogok, korupsi yang sudah bergulindan di tengah-tengah masyarakat. 

Pengaturan dana kampanye adalah hal yang baik, kalau seandainya kampanye tidak dibiayai negara untuk meminimalisir praktek money politic. Pituah orang minang mengisyarakatkan "dek ameh kameh, dek pitih manjadi". Dengan uang orang bisa mendapatkan segala-galanya, "pintak buliah, karandak balaku, mukasuik sampai, di ama pacah". Harapan kita dalam hal pemilu, suara itu "mahalnya tidak bisa dibeli, murahnya tidak bisa diminta" tetapi masyarakat menentukan pilihannya sesuai dengan hati nurani dan keinginannya sesuai dengan prinsip pemilu"langsung, umum, bebas dan rahasia".

Poin kelima dalam lomba layang-layang bahwa angin harus stabil dan cuaca kondunsif. Kaitannya dengan pemilu adalah pelaksanaan kampanye harus berjalan secara damai, aman, tertib, kondunsif dan stabil serta penuh kekeluargaan. KPU kabupaten/kota di sumatera barat sudah mencanangkan "Pemilu Badunsanak" bahkan salah satu dari isi lagu KPU Sumbar adalah "Hidupkan atau Patarang lampu awak, jangan dipadamkan alias dipudurkan lampu orang".

Artinya dalam pelaksanaan kampanye ada etika dan kode etik penyelenggaraan kampanye, tidak dibenarkan black campaign, hasutan, atau memberikan imingan dan janji palsu yang mengelabui rakyat, kemudian meninabobokan masyarakat dengan pipisan kosong. Banyak materi kampanye yang disampaikan kurang mendidik, tidak memberdayakan masyarakat serta tidak menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat. 

Harapan kita adalah menjadikan pemilihan umum sebagai media atau sarana untuk seleksi pemimpin dan wakil rakyat yang berkualitas secara intelektual, emosional, moral, sosial dan spritual. Para politisi juga perlu belajar dan mengambil pelajaran dari politik layang-layang pada aspek positifnya dan meninggalkan aspek negatifnya. Masyarakat kita dorong semakin cerdas dalam menentukan pilihan. Satu Suara Menentukan Masa Depan L:ima Tahun. Semoga.



Oleh : Rahmat Tk Sulaiman, S.Sos, S.Ag, MM
Ketua Presidium MD KAHMI Kab. Padang Pariaman/ Kota Pariaman

Topik Terhangat

postingan terdahulu