21 July 2017

Polisi Temukan Mie Instan Diduga Mengandung Babi di Sejumlah Minimarket Pariaman
Mie instan yang ditarik dari peredaran oleh BPOM RI/Foto: Istimewa
Pariaman -- Polres Pariaman dan Dinas Koperindag Kota Pariaman serahkan sampel mie instan untuk diuji kandungannya ke BPOM Padang, Jumat (21/7/2017). Pengujian tersebut untuk memastikan ada atau tidaknya kandungan DNA babi pada mie instan yang merupakan  produk impor dari Korea Selatan itu.

Sebelumnya, satuan Intelkam Polres Pariaman melakukan pengecekan ke sejumlah mini market di Kota Pariaman, Kamis (20/7) silam. Dari hasil pengecekan, ditemukan 3 produk mie instan yang masuk daftar BPOM yang harus ditarik peredarannya karena tidak mencantumkan label khusus. Tiga produk itu ditemukan dijual di tiga mini market di Kota Pariaman.

Dalam peraturan Kepala BPOM Nomor 12 Tahun 2016, dinyatakan pangan olahan yang mengandung bahan tertentu yang berasal dari babi harus mencantumkan tanda khusus berupa tulisan "MENGANDUNG BABI" dan gambar babi berwarna merah dalam kotak berwarna merah di atas dasar warna putih.

“Dari 14 swalayan yang kita cek ditemukan tiga produk yang mereknya masuk daftar harus ditarik peredarannya. Itu kita temukan di tiga swalayan di Kota Pariaman,” ujar Kasat Intelkam Polres Pariaman, IPTU Syafruddin L.

Ia belum mau mengumumkan merek produk mie instan itu karena masih dalam pengujian di labor BPOM Padang.

“Kita masih menunggu hasil uji labor atas sampel mie yang kita temukan. Jika sudah ada kepastian hasil labor, maka langkah selanjutnya akan kita koordinasikan dengan pihak Koperindag Kota Pariaman,” ulasnya.

Dilanjutkan Syafruddin, meskipun ditemukan di Kota Pariaman, bukan tidak mungkin produk itu telah menyebar diseluruh Sumatera Barat.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperindag dan UMKM Kota Pariaman, Gusniyetti Zaunit mengatakan, pemerintah memang tidak melarang peredaran makanan ataupun produk dalam bentuk apapun yang mengandung bahan babi, namun sesuai aturan harus menerakan bahwa mengandung bahan babi pada kulit luar.

“Pemerintah memang tidak melarang beredar produk yang berbahan babi, asal legal dan sesuai aturan BPOM bahwa produsen harus menerakan produk tersebut mengandung unsur dan bahan dari babi, boleh-boleh saja. Jika sudah ada label kandungan babinya, tentu konsumen bisa memilih membeli atau tidak,” ujarnya.

Terkait hasil uji sampel oleh BPOM, jika memang mengandung DNA babi, Dinas Koperindag akan menarik produk mie instan tersebut.

“Jika hasil labornya benar, maka dipastikan akan ditarik dari tempat penjualan kemarin itu,” pungkasnya.

Nanda

20 July 2017

Laptop dan Surat Tanah Dibobol Maling Saat Makan di Pincalang
Petugas sedang melakukan olah TKP terhadap aksi pecah kaca mobil
Pauh -- Rapinis, 49 tahun, warga Sungai Sariak, Padangpariaman, menjadi korban pencurian dengan modus pecah kaca mobil, Kamis (20/7/2017) siang. Pencurian terjadi saat korban makan siang di RM Pincalang di Desa Pauh Barat, Pariaman Tengah, Kota Pariaman.

Kejadian itu berawal ketika korban sedang makan di RM Pincalang, sekitar pukul 14.00 WIB. Korban saat pergi makan, meninggalkan laptop dan beberapa lembar surat berharga di dalam mobilnya.

Betapa kagetnya korban usai makan. Korban yang tiba di parkiran mendapati kaca mobil pecah dan sejumlah barang barang yang hilang.

Menurut keterangan Rapinas, beberapa barang yang hilang antara lain satu unit laptop merek Toshiba dan satu lembar surat tanah.

"Ada laptop dan surat tanah yang hilang, total kerugian kira-kira Rp7.000.000," ujar Rapinis.

Hingga berita ini diturunkan, kasus pencurian dengan pecah kaca itu telah ditangani jajaran Polres Pariaman.

Kasus pencurian dengan pecah kaca yang menimpa Rapinis di Kota Pariaman bukanlah pertama kalinya. Pelaku memanfaatkan kelengahan dan kelalaian korban yang meninggalkan barang berharga didalam kendaraan sudah menjadi kejadian kesekian kalinya.

Diperlukan kewaspadaan dan mawas diri masyarakat agar tidak menjadi korban selanjutnya.

Nanda

14 July 2017

AF "Ayah Rutiang" Pindah Tahanan
AF saat diamankan di Mapolsek Sungailimau. Foto: Nanda
Alai Gelombang -- AF (42), tersangka kasus pencabulan anak kandung sendiri di nagari Kuranji Hilir, Kecamatan Sungailimau, Padangpariaman akhirnya dipindahkan dari Rutan Polsek Sungailimau ke Rutan Polres Pariaman, Jumat (14/7/2017) siang.

Kapolres Pariaman, AKBP Bagus Suropratomo Oktobrianto, mengatakan pemindahan tersangka AF ke rutan Polres Pariaman untuk lebih memudahkan penjagaan saja.

Ia membantah, jika pemindahan tersangka AF disebabkan oleh kekhawatiran luapan amarah keluarga korban kepada tersangka.

"Pemindahan tersangka agar lebih optimal saja penjagaannya. Karena di Polres ruang tahanannya luas dan petugasnya lebih banyak, maka lebih optimal," ujarnya.

Kata dia, hingga saat ini situasi masyarakat di lingkungan tempat tinggal korban masih kondusif, tidak ada gejolak yang menonjol.

"Keluarga korban kesal, marah itu jelas tapi kondisinya masih kondusif," sebutnya.

Sebelumnya, AF diamankan pada Selasa (11/7) setelah dilaporkan istrinya atas dugaan pencabulan kepada DPS (18) yang merupakan anak kandungnya sendiri sejak korban berumur 15 tahun.

AF yang berprofesi sebagai petani itu resmi ditahan setelah ditetapkan menjadi tersangka oleh penyidik unit reskrim Polsek Sungailimau pada Kamis (13/7) lalu.

Nanda
LK3 Padangpariaman, "Ayah Rutiang" Harus Dihukum Berat
Ilustrasi
Sungailimau -- Kasus pencabulan yang dilakukan ayah kandung terhadap anaknya sendiri secara berulang kali, memalukan masyarakat Padangpariaman. Hal ini patut menjadi perhatian semua pihak agar tidak terulang lagi di masa mendatang.

Ketua Lembaga Konsultasi Keluarga Kesejahteraan (LK3) Padangpariaman, Rahmat Tuanku Sulaiman mengungkapkan hal itu, Jumat (14/7/2017) menangkapi kasus pencabulan ayah kandung AF (42) terhadap anaknya  DPS (18) di Nagari Kuranji Hilir, Kecamatan Sungailimau Padangpariaman.

Kasus itu terungkap Selasa (11/7/2017) lalu oleh laporkan ibu korban ke Mapolsek Sungailimau. Hasil visum yang diperoleh kepolisian dari dokter menyatakan organ kewanitaan korban dinyatakan mengalami kerusakan. 

Menurut Rahmat, dari banyak kasus pencabulan atau kekerasan seksual, pelaku lebih dominan orang dekat sendiri dari korban. Pelakunya seharusnya merupakan orang yang melindungi korban sebagai orang dekat, termasuk anggota keluarga.

"Namun kenyataannya jadi sasaran tindakan tidak bermoral tersebut. Kasus ayah mencabuli anak ini bukan yang pertama di Padangpariaman. Akhir tahun 2016 lalu, kasus serupa terjadi di Nagari Sikucur,” kata Rahmat.

Dikatakan Rahmat, ke depan setiap keluarga jangan terlalu percaya meninggalkan anak perempuan di rumah sendiri bersama laki-laki. Sekalipun laki-laki tersebut masih kerabat sendiri.

“Jika anak perempuan tersebut menunjukkan kelainan atau perubahan yang mencurigakan dari kehidupan kesehariannya, ibunya sebagai orang yang paling dekat dan merasakan psikologis perempuan, harus menyelidikinya,” imbuh Rahmat.

Sementara itu, Pekerja Sosial LK3 Padangpariaman Armaidi Tanjung mengatakan, kasus pencabulan itu harus ada shockterapy bagi pelaku. Selain hukuman  yang lebih berat diputuskan pengadilan, hukuman sosial pun harus diberikan kepada pelaku.

“Sedangkan korban  yang sudah menderita secara fisik, psikis dan sosial, harus dipulihkan dengan pendekatan yang lebih manusiawi. Jangan sampai stigma korban pencabulan yang diberikan masyarakat menyebabkan korban semakin tertekan dan menambah penderitaannya,” kata Armaidi Tanjung penulis buku Potret dan Masalah Pekerja Anak itu.

Kasus pencabulan di lingkungan keluarga, kata Armaidi Tanjung, menunjukkan semakin lemahnya ketahanan keluarga. Ayah sebagai kepala keluarga seharusnya melindungi istri dan anak dalam berbagai aspek, termasuk tindakan amoral yang dapat menghancurkan masa depannya.

“Pencabulan ayah terhadap anak tersebut, berarti si ayah tidak lagi menjadi pelindung bagi anaknya. Tapi malah menghancurkan harga diri dan kesucian anak kandung sendiri,” pungkas Armaidi.

Kapolres Pariaman, AKBP Bagus Suropratomo Oktobrianto di Pariaman mengatakan, perbuatan itu telah dilakukan tersangka sejak korban berumur 15 tahun. AF yang merupakan petani dan urang sumando Kuranji Hilir itu tinggal satu atap dengan korban beserta istri.

"Perbuatan itu ia lakukan sejak awal tahun 2015 dan berulang-ulang hingga tahun 2016," jelasnya.

Akibat tidak tahan lagi oleh perlakuan ayahnya, korban sempat menghilang selama dua bulan dari rumah. Saat dicari oleh ibunya, korban menceritakan semua perlakuaan ayahnya kepada sang ibu saat ia diminta kembali ke rumah.

Akibat laku tak bermoral, AF "ayah rutiang" dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2012 Tentang Perlindungan Anak. Tersangka dikenai pasal 81 dengan ancaman hukuman penjara 15 tahun.

TIM

13 July 2017

AF "Ayah Rutiang" Cabuli Anaknya Sejak Masih Usia Bawah Umur
AF usai diamankan polisi di Mapolsek Sungailimau. Foto: Nanda
Sungailimau -- Kasus pencabulan ayah kepada anak kandungnya yang terjadi di Kuranji Hilir, Sungailimau, Padangpariaman, kini memasuki babak baru.

AF, 42 tahun, warga nagari Kuranji Hilir, Kecamatan Sungailimau akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dan resmi ditahan atas kasus pencabulan anak kandungnya sendiri, DPS (18) oleh penyidik Unit Reskrim Polsek Sungailimau.

Sebelumnya, AF diamankan, Selasa (11/7) setelah dilaporkan oleh istrinya atas dugaan pencabulan kepada DPS yang merupakan darah dagingnya sendiri.

Kapolres Pariaman, AKBP Bagus Suropratomo Oktobrianto di Pariaman, Kamis (13/7/2017), mengatakan, dari hasil pemeriksaan penyidiknya terhadap tersangka AF, diketahui perbuatan itu telah dilakukan tersangka sejak korban berumur 15 tahun.

"Dari pemeriksaan tersangka, diakui memang benar perbuatan yang dilaporkan tersebut benar ia lakukan sejak awal tahun 2015 dan berulang-ulang hingga tahun 2016," jelasnya.

Selain keterangan tersangka, korban dan sejumlah saksi, sangkaan kepada AF juga diperkuat dengan hasil visum korban yang mengalami kerusakan.

"Hasil visumnya sudah sama penyidik, dan keterangan dokter menyatakan ada kerusakan pada bagian organ kewanitaan korban," jelasnya.

Akibat perbuatan "ayah rutiang" tersebut, ia dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2012 Tentang Perlindungan Anak. Tersangka dikenai pasal 81 dengan ancaman hukuman penjara 15 tahun.

Nanda

12 July 2017

Diduga Cabuli Anak Kandung Sendiri, AF Dipolisikan Istri
AF saat diamankan polisi. Foto: Nanda
Sungai Limau -- Penyidik Unit Reskrim Polsek Sungailimau mengamankan AF, 42 tahun,  warga nagari Kuranji Hilir, Sungai Limau, Padangpariaman. AF diamankan, Selasa (11/7) karena diduga telah mencabuli, DPS, 18 tahun, yang merupakan anak kandungnya sendiri.

Kapolres Pariaman AKBP Bagus Suropratomo Oktobrianto, Rabu (12/7), ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa pihaknya telah mengamankan AF usai dilaporkan oleh istrinya atas dugaan pencabulan terhadap anak kandungnya sendiri ke Polsek Sungai Limau.

“Kita amankan AF selama 1 X24 jam. Terlapor atas AF yang diduga melakukan perbuatan cabul terhadap anaknya sendiri,” ujarnya.

Ia mengatakan, jika penyidik Unit Reskrim Polsek Sungailimau telah melakukan pemeriksaan terhadap AF, pelapor, korban, dan dua orang saksi.

“Kita sudah ambil keterangan dari beberapa orang, termasuk korban dan yang diduga pelaku sendiri,” terangnya.

Dia menjelaskan, dalam pemeriksaan terhadap korban, diketahui perbuatan bejat itu pertama kali  dilakukan oleh AF kepada anaknya DPS pada hari Selasa, 10 Juni 2017 silam.
Kala itu, korban dan AF hanya berdua saja di rumah. Niat bejat AF pun timbul. AF memegang tanggan korban langsung mengajak korban untuk melakukan hubungan suami istri. AF sempat tertegun, saat korban berujar istigfar dan menolak paksaan AF. Namun apa daya, nafsu bejat telah merasuki AF hingga ke ubun-ubun.

“Dari pengakuan korban, perbuatan terlapor AF kepada dia terus terulang hingga beberapa kali,” imbuh dia.

Dilanjutkan AKB Bagus, perbuatan AF itu terungkap beberapa hari belakangan setelah korban enggan pulang ke rumah dan menginap dirumah temannya --karena trauma terpalor kembali mengulangi perbuatannya lagi.

Ibu korban akhirnya menemukan korban yang sempat tidak pulang ke rumah selama tiga hari. Ibu korban yang curiga lantas menanyakan alasan korban tidak mau pulang ke rumah.

“Setelah mendapatkan pengakuan dari korban, ibu korban akhirnya langsung melaporkan AF ke Polsek Sungai Limau, dan korban kita amankan untuk keperluan penyelidikan,”pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, terlapor AF masih dalam pemeriksaan polisi.

Nanda