Mandi Laut Bersama Ponakan, Kepsek SD Terseret Arus
ilustrasi
Pariaman ----- Seorang Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kota Pariaman, nyaris tewas terseret ombak saat mandi laut di Pantai Pasie Lohong, Senin (18/6) sore.
      
Korban Wel Novia, 53 tahun, merupakan warga Pasie Lohong, Kecamatan Pariaman Tengah. Kejadian nahas tersebut terjadi sekitar pukul 17.30 WIB. Saat kejadian, korban bersama dua orang keponakannya, M. Nabil, 11 tahun dan Sadam, 12 tahun, sedang mandi laut yang tidak jauh dari rumahnya.

Kondisi cuaca yang kurang bagus dan gelombang laut yang tinggi, diduga menjadi penyebab terseretnya korban ke tengah laut.
      
Salah seorang saksi mata warga Pasie Lohong di lokasi kejadian, Afrianto, 40 tahun, mengatakan, saat kejadian dirinya sedang bersantai di pantai. Tiba-tiba, kata dia terdengar teriakan minta tolong dari salah seorang remaja.

"Bersama warga lain, kita bergegas menyebur ke laut untuk memberikan pertolongan," kata dia.
      
Tidak berselang lama, korban akhirnya berhasil diselamatkan warga. Usai diberikan pertolongan pertama di pinggir pantai, korban langsung dievakuasi ke UGD RSUD Pariaman.
       
"Dua orang keponakannya berhasil ke tepi pantai. Korban terseret ombak. Tadi itu gelombang cukup tinggi," terang Afrianto.
        
Hingga berita ini diturunkan, korban masih mendapatkan perawatan medis di RSUD Pariaman. (Nanda)
Bom Ikan Suami Meledak, Febrianti Kehilangan Tangan di Hari Raya
Polisi tiba di lokasi kejadian
Kayutanam ----- Ledakan bom ikan atau bondet di Korong Pasa Usang Kecamatan 2X11 Kayutanam, Kabupaten Padangpariaman pada Jumat (15/6), memakan korban.
     
Febrianti, 45 tahun, warga Pasa Usang, Kecamatan Kayutaman, terpaksa harus kehilangan tangan kanannya setelah bom ikan yang ia pegang meledak secara tiba-tiba di tangannya.
      
Kapolres Padangpariaman AKBP Rizky Nugroho menerangkan, bom ikan tersebut merupakan milik suaminya, Gumasrul. Benda itu merupakan bom ikan sisa yang tidak dipakai lagi.
      
Menurutnya, bom tersebut disimpan di belakang rumah korban lalu dipindahkan untuk dijemur ke halaman depan rumah. Nahas, saat diangkut kedalam kamar untuk disimpan, bom tersebut meledak.
     
"Bom itu adalah milik suami korban untuk menangkap ikan. Dibeli beberapa tahun yang lalu dan memang sudah tidak digunakan lagi," terangnya.
     
Ia memastikan, ledakan bom tersebut tidak terkait dengan aktivitas terorisme. Hal itu murni ledakan ikan bom. Pihaknya telah mendalami ledakan tersebut dengan memintai keterangan dari banyak pihak.
    
"Kini korban telah dievakuasi ke RS M Djamil Padang dan informasi yang kami terima, harus diamputasi," pungkasnya. (Nanda)

Ngamuk di BIM, Pemuda Asal Nias Diamankan Polisi
Yadesman Telaumbanua diamankan polisi. Foto/Nanda
Ketaping ---- Salah seorang penumpang pesawat yang tengah transit di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padangpariaman, bikin geger, Jumat (8/6) pukul 10.30 WIB.
        
Penumpang tersebut bernama Yadesman Telaumbanua, 23 tahun, warga Nias, Sumatera Utara. Ia diamakan oleh petugas keamanan BIM setelah mengamuk di ruang tunggu bandara.

Ia merupakan salah seorang penumpang pesawat Lion Air JT 252 dan akan melanjutkan penerbangan dari Padang ke Gunung Sitoli, Sumatera Utara menggunakan pesawat Wings Air pukul 13.15 WIB.
      
Kapolres Padangpariaman, AKBP Rizky Nugroho menerangkan, Yadesman telah diamamkan dan dievakuasi ke Polsek kawasan bandara.
     
"Pesawatnya mendarat di BIM dan berganti ke pesawat untuk penerbangan lanjutan. Pada saat menunggu penerbangan berikutnya dari Padang ke Gunung Sitoli, yang bersangkutan ini mengamuk, berteriak-teriak dan mendorong penumpang lain. Kini, telah kita amankan" jelasnya.
      
Dikatakannya, Yadesman yang mengamuk menumpang pesawat bersama dua orang keluarganya. Dari keterangan keluarga, Yadesman yang juga salah seorang mahasiswa di Kota Bandung itu, diduga mengalami ganguan kejiwaan.
      
Hingga berita ini diturunkan, kasus tersebut masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. (Nanda)
Truk Pompa Cor Terbakar Saat Mengecor Rumah Warga
Truk terbakar akibat sengatan arus listrik tegangan tinggi. Foto/Nanda
Pariaman ----- Satu unit truk concrete pump atau truk pompa coran beton terbakar saat akan melakukan pengecoran lantai dua salah satu rumah warga di Desa Kampung Paneh, Kota Pariaman, Selasa (22/5).
   
Dalam kejadian itu, truk concrete pump dengan nomor polisi BA 8256 BE, milik PT. Jaya Sentrikon Indonesia Padangpariaman, mengalami kerusakan berat.
   
Informasi yang dihimpun, kebakaran berawal saat operator truk pompa coran beton menaikkan pipa besi penyalur coran. Namun nahas, pipa tersebut mengenai kabel tegangan tinggi. Hal tersebut, menimbulkan arus listrik dan menimbulkan percikan api.
    
Akibat arus listrik dari kabel bertegangan tinggi mengaliri ke truk, membuat operator truk contrate pump, Yapriadi tersengat listrik dan terpental.
    
"Percipakan api membesar dan membakar truk. Namun operatornya selamat, ia mengalami luka robek di bagian kepala," terang salah seorang saksi.
     
Api dapat dipadamkan setelah beberapa waktu berselang. Tidak butuh waktu lama, kurang dari satu jam, bangkai truk dan areal jalan didinginkan Unit Damkar Kota Pariaman.
    
Kerugian belum dapat dipastikan. Kebakaran yang terjadi di Jalan Padang-Pariaman itu menyita perhatian warga. Arus kendaraan sempat terganggu saat dilakukannya proses pemadaman. (Nanda)

Ratusan Warga Pariaman Gelar Salat Gaib Atas Gugurnya Anggota Polri di Mako Brimob
Peristiwa kerusuhan di Rutan Mako Brimob. Foto Merdeka.com/istimewa
Pariaman ----- Ratusan umat muslim Kota Pariaman gelar salat gaib di Masjid Mujahiddin, Kelurahan Kampung Jao, Kota Pariaman, Jumat (11/5). Salat gaib itu dilaksanakan atas wafatnya 5 orang anggota Polri yang gugur dalam kurusuhan di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Selasa (8/5) silam.
        
Mubaliq Pariaman, Ilyas Tuanku Mudo mengutuk peristiwa kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob Kepala Dua Depok tersebut. Ia menyayangkan peristiwa tersebut-di antara-sesama muslim tega saling membunuh.
         
"Kita mengutuk kerusuhan tersebut. Ini tidak boleh terjadi lagi," kecamnya.
          
Sebagai mubaliq, ia berkomitmen menjadi mitra Polri menangkal paham radikalisme dan aksi terorisme di Indonesia.
          
Wakapolres Pariaman, Kompol Noviardi Zen mengatakan, keluarga besar Polres Pariaman masih berduka dengan gugurnya 5 anggota Polri dalam kerusuhan tersebut.

Hingga saat ini, bendera setengah tiang masih terpasang diseluruh Mapolres Pariaman, dan seluruh Mapolsek.

Ia mengucapkan terimakasih atas dukungan yang ditunjukkan masyarakat Indonesia terhadap Polri. "Dukungan itu, sangat berarti bagi Polri dalam melaksanakan tugas kepolisian," katanya. (Nanda)
Kapolres Pariaman: Warga Malai III Koto Tolak Pemakaman Jenazah Teroris
foto merdeka.com/istimewa
Pariaman ---- Kapolres Pariaman, AKBP Andry Kurniawan menyampaikan, jenazah Beni Samsu Trisno alias Abu Ibrahim, narapidana teroris yang tewas dalam kerusuhan di rutan Mako Brimob, Selasa (8/5), berkemungkinan tidak dimakamkan dikediaman orangtuanya di Kabupaten Padangpariaman.
    
"Hasil koordinasi dengan pihak keluarga dan tokoh masyarakat setempat, berkemungkinan jenazahnya tidak dimakamkan di Malai III Koto," katanya di Pariaman, Kamis (10/5).
    
Namun pihaknya belum bisa memastikan dimana jenazah narapidana kasus terorisme tersebut dimakamkan.
    
Katanya, awalnya pihak keluarga berkeinginan agar jenazah Beni dimakamkan di kampung. Namun warga keberatan jika jenazah dimakamankan di daerah itu. Setelah disepakati antara pihak keluarga dengan ninik mamak dan pihak nagari setempat, jenazah akan dimakamkam di tempat lain.
      
"Berbagai pertimbangan masyarakat, akhirnya jenazah tidak dimakamkan di kampung. Ada kekuatiran warga, jika dimakamkan di kampung, makam akan diziarahi oleh kelompok penganut paham radikal lain. Dikuatirkan, dapat mempengaruhi warga di sana. Alasan lain, karena terpinda ini tidak tinggal di sini, KTP dan KK nya di daerah Pekanbaru. Jadi warga meminta agar dimakamkan sesuai domisili KTP dan KK nya," ulasnya.
     
Menurut AKBP Andry,  juga menyampaikan bahwa narapidana yang tewas tersebut memang pernah menetap di Kabupaten Padanpariaman. Namun merantau pada 1990 dan menetap di Pekanbaru, Provinsi Riau.
      
Beni alias Abu Ibrahim sebelumnya ditangkap di Jalan Kopkar Raya, Perumahan Gading Permai, Pekanbaru, Riau, Selasa (24/10/2017). Ia ditangkap karena akan melakukan penyerangan sejumlah kantor kepolisian di daerah Riau. Beni merupakan anggota jaringan Jamaah Ansor Daulah (JAD). (Nanda)
Tukang Bangunan Tewas Tersengat Listrik di Kampung Jao
Jasad korban di RSUD Pariaman. Foto/Nanda
Kampung Jao ----- Seorang tukang bangunan tewas tersengat listrik saat memasang atap kanopi di sebuah toko elektronik di Kelurahan Kampung Jao II, Kecamatan Pariaman Tengah, Kota Pariaman, Sabtu (7/4).

Tukang bangunan bernama Riko Rahmanto, 32 tahun, merupakan warga Batang Kabuang Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman.

Ia tewas seketika setelah tidak sengaja menyentuh kabel listrik saat memasang atap kanopi.

Menurut saksi, Fauzi, 25 tahun, usai tersengat listrik, korban terjatuh dari atap bangunan berlantai tiga itu.

Warga yang mengetahui peristiwa langsung berbondong-bondong mengerumuni dan mengevakuasi korban ke RSUD Pariaman.

Korban juga mengalami luka bakar hampir di sekujur tubuhnya.  "Korban sudah dievakuasi ke RSUD Pariaman," ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, keluarga dan kerabat korban ramai menjenguk korban di rumah sakit. Jasad kemudian dibawa ke rumah keluarga korban. (Nanda)
Seorang Pria Pengangguran Cabuli 34 Bocah di Sungai Limau
Tersangka saat diamankan di Mapolsek Sungai Limau. Foto/Nanda
Padangpariaman ----- 34 orang anak diduga menjadi korban pencabulan sesama jenis (sodomi) di Nagari Lohong, Kecamatan Sungai Limau, Padangpariaman.

Perbuatan bejat itu diduga dilakukan oleh tersangka R, 20 tahun. Tersangka yang berstatus pengangguran itu, tidak lain adalah tetangga anak-anak yang jadi korban kejahatan predator anak itu.

Kapolres Pariaman, AKBP Bagus Suropratomo Oktobrianto menjelaskan, tersangka pertama diamankan oleh orangtua korban bersama masyarakat pada Rabu (4/4) sore. Ia diamankan setelah menerima keterangan salah seorang saksi yang melihat korban diajak ke dalam rumah tersangka.

Usai diamankan di rumahnya, orang tua korban dan warga menyerahkan tersangka ke kantor Polsek Sungai Limau.

"Masyarakat mengantarkan pelaku ke Polsek Sungai Limau atas dugaan perbuatan itu. Selanjutnya kasus tersebut telah ditangani penyidik," jelasnya.

Menurut AKBP Bagus, pihaknya saat ini masih menjalani pemeriksaan terhadap tersangka, korban dan saksi-saksi. Dari intrograsi, tersangka mengakui jika perbuatan cabul sesama jenis ia lakukan sejak tahun 2012 silam.

"Pengakuannya sudah sejak tahun 2012 silam," ujarnya.

Ditambahkannya, selain memeriksa saksi, korban dan tersangka, penyidik juga akan meminta dilakukannya visum terhadap korban.

"Kita minta dilakukan visum. Dalam perkara seperti ini, visum sangat diperlukan," pungkasnya. (Nanda)
Diciduk Polisi FR Akui Cabuli Balita 4 Tahun
FR saat diamankan di Mapolres Pariaman. Foto/Nanda
Pariaman ------ Entah apa yang ada dibenak FR, 35 tahun, warga Desa Cubadak Mentawai Kota Pariaman. FR yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai tidak tetap di salah satu perusahaan milik negara di Kota Pariaman itu, diduga tega mencabuli anak balita (bawah lima tahun) Z, 4 tahun, yang tidak lain kawan sepermainan anaknya sendiri.

Terungkapnya perbuatan cabul tersangka FR berawal ketika korban Z mengeluhkan rasa sakit pada bagian alat kelaminnya. Rasa sakit saat buang air kecil yang diderita, menimbulkan kecurigaan orang tua korban.

“Korban menceritakan perbuatan yang dilakukan tersangka, selanjutnya pada hari yang sama, orang tua korban melapor ke Polres Pariaman,”  terang Kasat Reskrim Polres Pariaman, AKP Ilham Indarmawan kepada media, Selasa (3/4) siang.

Tidak berselang beberapa jam setelah mendapatkan laporan orangtua korban, tim Opsional Reskrim bergerak cepat, tersangka FR pun akhirnya diamankan.

Tersangka diamankan di rumahnya. Dalam penangkapan itu, awalnya tersangka sempat mengelak laporan yang dialamatkan kepadanya. Tersangka tidak dapat mengelak lagi setelah dikonfontir.

"Kita sudah lakukan konfrontir tersangka dan korban. Dalam konfrontir tersebut, korban akhirnya mengakui perbuatan yang ia lakukan kepada korban," ulasnya.

Selain hasil pemeriksaan korban dan tersangka, dugaan perbuatan cabul juga diperkuat beberapa alat bukti. Menurut AKP Ilham, dari kesimpulan hasil visum, ditemukan adanya kerusakan pada selaput dara korban.

"Ada beberapa keterangan yang kita jadikan alat bukti, keterangan hasil visum dari dokter dan pakaian dalam korban," pungkasnya.

Kini, FR terancam kurungan maksimal 15 tahun penjara Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (Nanda)
Ibu Kandung Temukan Anaknya Gantung Diri di Gubuk Tua
Jasad korban ditemukan oleh ibunya dalam posisi tergantung. Foto/Nanda
Sungai Geringging ----- Warga Padang Tarok Nagari Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging, Padangpariaman, digemparkan dengan temuan sesosok mayat tergantung, Sabtu (3/3) pagi.

Abdul Hadi (30), warga Durian Bukur Nagari Batu Gadang Kuranji Hulu, Sungai Geringging ditemukan tewas tergantung di sebuah pondok di kebun warga.

Jasad Abdul Hadi pertama kali ditemukan oleh ibunya, Jasni (60), saat mencari korban ke mana-mana. Tak kunjung ditemukan, orangtuanya melanjutkan pencarian di beberapa tempat lain. Betapa kagetnya Jasni mendapati sang anak tewas tergantung dengan seutas tali plastik di gubuk tersebut.

"Korban setelah minum obat meninggalkan rumah, namun tidak kunjung pulang. Esok hari dicari ibunya, tapi tidak ditemukan. Tepat 3 Maret 2018 pukul 08.00 WIB korban ditemukan telah meninggal dunia dengan posisi tergantung dengan seutas tali," jelas Paur Humas Polres Pariaman, AKP Sumiarti.

Setelah ditemukan, jasad korban dievakuasi ke Puskesmas Sungai Geringging untuk dilakukan visum bagian luar tubuh korban.

"Hasil visum luar oleh tim medis Puskesmas dikatakan, jika korban meninggal murni gantung diri. Kemudian korban dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan," pungkasnya. 


Hingga berita ini diturunkan belum diketahui motif korban mengakhiri hidupnya. (Nanda)
Miris, Bocah SD Dicabuli Pelajar SMP Bergiliran di Kandang Kambing
Foto ilustrasi/istimewa/internet
Pariaman ---- Dunia pendidikan Kota Pariaman tercoreng. Empat orang pelajar, dua duduk di bangku SMP dan dua orang kelas 4 SD, diduga mencabuli bocah perempuan yang masih berusia di bawah umur.

Pelaku, sebut saja Buyung (bukan nama sebenarnya), 13 tahun, bersama tiga orang rekannya itu diduga cabuli Melati (bukan nama sebenarnya), 9 tahun, pelajar kelas 3 SD. Akibatnya Buyung, warga salah satu desa/kelurahan di kecamatan Pariaman Tengah, itu dilaporkan oleh orangtua Melati ke Polres Pariaman pada hari Kamis (15/2) silam.

“Benar, kami telah menerima laporan dari orantua korban sesuai dengan LP/32/B/ll/2018 /SPKT/Polres, untuk korban sudah diambil keterangan oleh penyidik,” kata Kapolres Pariaman AKBP Bagus Suropratomo Oktobrianto melalui Kasat Reskrim Polres Pariaman, AKP Ilham Indarmawan di Polres Pariaman, Rabu (21/2) siang.

Dilanjutkan AKP Ilham, dari keterangan korban, dugaan perbuatan cabul itu dilakukan oleh Buyung dan kawan-kawan pertama kali bulan Oktober 2017 silam. Kejadian berawal ketika Melati ikut bermain “Sepak Tekong” dengan keempat terlapor yang merupakan tetanggaan itu.

Korban yang ikut sembunyi dengan Buyung, lantas diajak bermain ke kandang kambing yang berada dekat lokasi bermain. Di sana, menurut pengakuan korban ia dicabuli. Tidak sendirian, usai Buyung, tiga orang rekan Buyung mengikuti perbuatan Buyung terhadap korban.

Sementara itu, lanjut Kasat, hasil pemeriksaan terhadap 2 orang terlapor yang dilaksanakan pada hari Senin (19/2) silam, keterangan menganggetkan didapatkan oleh penyidik. Tak tanggung-tanggung, perbuatan cabul itu dilakukan hampir tiga puluh kali, baik secara bergilir ataupun dilakukan oleh masing-masing terlapor.

Dari keterangan terlapor juga, lanjut Ilham, perbuatan cabul itu dilakukan Buyung Cs sejak bulan Oktober 2017 hingga Februari 2018, terakhir tanggal 5 Februari 2018 silam.

“Awalnya dibujuk dan lalu digilir,” jelasnya. Saat ini, kasus pencabulan anak dibawah umur itu telah ditangani unit PPA Polres Pariaman.

Sementara itu, Kadisdikpora Kota Pariaman, Kanderi, mengaku telah mendapatkan laporan terkait kasus pencabulan yang diduga dilakukan oleh 4 orang pelajar di Kota Pariaman. Pihaknya masih menunggu dan memantau proses hukum yang saat ini telah diproses di PPA Satreskrim Polres Pariaman.

“Laporannya sudah kami terima, tapi kita akan pantau proses hukumnya, untuk tindakan dari dinas ataupun pihak sekolah sifatnya menunggu proses hukum,” katanya. (Nanda)
Diduga Kram, Pelajar SMA 3 Bukittinggi Tewas di Pemandian Lubuak Nyarai
Jenazah korban saat berada di RSUD Paritmalintang. Foto/Nanda
Lubuak Nyarai ----- Seorang pelajar Sekolah Menangah Atas Negeri (SMAN) 3 Kota Bukittinggi tewas saat berenang di objek wisata pemandian Lubuk Nyarai, Padangpariaman, Selasa (20/2).

Muhammad Yoga Ananda (18 tahun) remaja asal warga Padang Gamuak Guguak Panjang Kota Bukittnggi itu, tewas diduga alami kram saat berenang.

Petugas Pusdalops BPBD Padangpariaman, Roger Kenedy dan Zulzaldi mengatakan, korban mengunjungi objek wisata Lubuk Nyarai bersama 21 orang pelajar SMAN 3 Bukitinggi lainnya.

Korban bersama rombongan tiba dan mulai berjalan menuju objek wisata Air Terjun Nyarai pukul 08.30 WIB. Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, akhirnya korban dan rombongan lainnya tiba di lokasi.

"Sekira pada pukul 13.30 WIB korban langsung melompat  ke air, namun korban tidak kunjung naik ke permukaan, diduga mengalami kram," jelasnya.

Karena tidak kunjung naik ke permukaan, rekan korban sesama pelajar bersama pemandu wisata langsung melakukan pencarian. Namun, upaya pencarian belum membuahkan hasil. Korban belum juga ditemukan.

Jasad korban akhirnya berhasil ditemukan saat petugas gabungan Pusdalops BPBP Padangpariaman bersama warga setempat melakukan pencarian bersama. Berselang beberapa jam, jasad korban akhirnya berhasil ditemukan dan langsung dievakuasi.

Saat ini, kata dia, korban telah berhasil dievakuasi ke RSUD Padangpariman di Paritmalintang untuk dilakukan visum. Sementara keluarga korban yang telah mendapatkan informasi dari petugas, sedang perjalanan menuju rumah sakit.

"Petugas masuk pukul 15.00, setelah mendapatkan informasi dari masyarakat dan melakukan pencarian dibantu warga setempat. Setelah dilakukan pencarian, akhirnya sekitar pukul 16.45 tim gabungan melihat jasad korban mengambang ke permukaan," ulasnya.

Kram atau kejang otot kerap terjadi saat tubuh melakukan aktivitas yang berat. Berjalan dengan medan berat, dalam waktu tempuh yang lama memicu terjadinya otot kram. (Nanda)
Pasutri Pegawai Honorer Pariaman Ditangkap Polisi Edarkan Sabu
Tersangka perlihatkan barang bukti di Mapolres Pariaman. FOTO/Nanda
Pariaman ------ Pasangan suami istri dicocok tim 3CN Pegasus Polres Pariaman karena peredaran narkoba. FF (40) diamankan bersama sang istri, ES (36) di rumahnya di kelurahan Kampung Perak, Pariaman Tengah, Kamis (15/2) lalu, pukul 18.30 WIB.

Saat ditangkap, petugas nyaris berhasil dikibuli dan tidak menemukan barang bukti narkoba. Namun kecurigaan petugas dengan gerak-gerik istri pelaku pun akhirnya membuahkan hasil. ES pun digeledah, alhasil, beberapa paket narkoba jenis sabu-sabu ditemukan petugas yang disembunyikan di dubur ES.

"Tersangka diamankan berdasarkan informasi dari masyarakat, langsung menggrebek," terang Kasat Resnarkoba Polres Pariaman Iptu Suhardi di Mapolres Pariaman, Minggu (18/2) siang.

Dari hasil penggeledahan, pihaknya menemukan barang bukti berupa, 1 paket sedang narkoba jenis sabu, 2 paket kecil, 6 kantong sisa sabu, 1 unit timbangan digital, alat isap sabu dan uang Rp1.250.000.

Menurut Iptu Suhardi, dari pemeriksaan kedua tersangka, barang haram tersebut diperoleh tersangka dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas IIB Pariaman.

“Pengakuannya dari tersangka, paket tersebut berasal dari dalam Lapas,” pungkasnya.

Akibat perbuatannya itu, tersangka dikenakan pasal 112, 114 dan 132  Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun penjara.

Terpisah, Kadis Pol PP dan Damkar Kota Pariaman, Handrizal Fitri membenarkan tertangkapnya oknum pegawai honorer Damkar Kota Pariaman. Penangkapan itu terjadi, berselang beberapa saat saja, usai ia memberikan amanat kepada personil untuk tidak terlibat penyalahgunaan narkoba.

Ia mengaku telah melaporkan penangkapan tersebut kepada Walikota Pariaman untuk petunjuk selanjutnya. Dengan perbuatannya yang dilakukan tersangka, ia memastikan, sanksi terberat pemecatanpun akan dikenakan kepada tersangka.

“Sanksi terberat adalah pemecatan, tidak ada kata lain,” ujarnya tegas.

Rentetan penangkapan oknum tenaga honorer ini, menurut dia memperpanjang daftar pegawai dalam pusaran jaringan narkoba di Kota Pariaman. Mengatasi hal itu, ia meminta agar BNK Kota Pariaman melakukan tes urine seluruh personil Damkar dan Satpol PP Kota Pariaman. (Nanda)
Pegawai Dinas PU Alami Kecelakaan Tunggal di Toboh Palabah
FOTO/Nanda/istimewa
Toboh Palabah ---- Mobil yang kemudikan ASN Dinas PU Kabupaten Padangpariaman alami kecelakaan tunggal di Jalan Soekarno-Hatta Desa Toboh Palabah, Kota Pariaman, Senin (5/2) pukul 07.45 Wib pagi.

Informasi yang dihimpun di lokasi, kecelakaan berawal saat minibus jenis Isuzu Panther dengan nopol BD 1453 BA yang dikemudikan Rahmat Firman melaju dari arah Pariaman menuju kantor Bupati Padangpariaman. Pengumudi buru-buru agar bisa mengikuti apel pagi di halaman kantor bupati Padangpariaman.

Kendaraan diduga melaju dalam kecepatan tinggi. Namun nahas, setiba di lokasi, diduga pengemudi lepas kontrol, sehingga minibus lepas kendali dan nyungsep ke selokan yang ada di sisi kiri jalan dua jalur tersebut.

Akibat kecelakaan itu, pengemudi mengalami luka pada bagian kepala dan memar pada dada karena mengalami benturan kuat dengan kaca depan minibus dan benturan dengan stir mobil.

Sedangkan minibus mengalami kerusakan pecah kaca depan, ringsek bodi bumper depan dan goresan pada sisi kiri bodi minibus.

Usai pengemudi dievakuasi ke RSUD Pariaman oleh warga, minibus langsung dievakuasi dengan mobil derek ke bengkel terdekat. (Nanda)
"Pamit Menjala Ikan, Warga Nagari Pasie Laweh Ditemukan Tewas Mengapung
Warga bersama polisi evakuasi jasad korban dari aliran sungai. FOTO/Nanda
Lubuk Aluang ----- Seorang kakek ditemukan warga mengapung di aliran Sungai Batang Anai Korong Balah Hilia, Nagari Balah Hilia, Kecamatan Lubuk Alung, Minggu (4/2) siang.

Mayat yang dikenali sebagai Buyuang Tuun (65) warga Ujuang Guguak Korong Padang Pulai, Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Lubuk Alung itu, ditemukan oleh warga saat akan menjaring ikan di aliran sungai.

"Kejadian tersebut diketahui oleh warga sekitar pukul 11.15 WIB yang melihat mayat mengapung di aliran sungai. Ternyata itu adalah korban, kami beritahukan kepada warga lain dan polisi," ujar Nazaruddin, salah seorang warga setempat.

Menurut dia, korban sebelum ditemukan tewas berkemungkinan juga sedang menjala ikan sungai, karena saat korban ditemukan dengan masih terjerat jala.

Usai ditemukan, jasad korban langsung dievakuasi warga bersama polisi ke RUSD Padangpariaman untuk dilakukan visum oleh dokter setempat.

Sementara itu, anak korban di rumah sakit mengatakan, jika orang tuanya tersebut pamit menjala ikan di sungai dekat rumah pada Sabtu (3/2) pukul 17.00 WIB. Namun hingga malam hari, orangtuanya tak kunjung pulang ke rumah.

Hingga berita ini diturunkan, jasad korban masih dalam proses visum di RSUD Padangpariaman. Pihak keluarga dan kerabat korban juga terlihat berdatangan. (Nanda)
Konsumsi Shabu, Mc Orgen Tunggal Ditangkap Polisi di Balai Nareh
E (tengah) diapit dua anggota polisi saat tunjukan barang bukti. FOTO/istimewa
Pariaman ---- E alias B (37), warga Desa Balai Nareh, Kecamatan Pariaman Utara Kota Pariaman, dibekuk tim Pegasus 3CN Polres Pariaman, Kamis (1/2) malam.

E yang sehari-hari berprofesi sebagai Master of Ceremony (MC) orgen tunggal, itu dibekuk di rumahnya tanpa perlawanan sekira pukul 20.00 Wib.

Kapolres Pariaman AKBP Bagus Suropratomo Oktobrianto Sutan Mudo Nan Sati didampingi Kasat Resnarkoba Polres Pariaman, Iptu Suhardi mengatakan, penangkapan tersangka berawal dari informasi dari masyarakat yang menyebutkan jika tersangka kerap menggelar pesta narkoba di rumahnya.

"Penyelidikan pun kami lakukan. Tersangka yang sudah menjadi target operasi, terus kita monitor pergerakannya dan berhasil kita amankan," terangnya.

Sejumlah informasi dikumpulkan pihak kepolisian. Tersangka E pun diintai pergerakannya. Penyelidikan yang telah dilakukan Polres Pariaman akhirnya membuahkan hasil, tersangka E pun akhirnya berhasil dibekuk. Alhasil, sejumlah barang bukti narkoba jenis shabu-shabu sisa pakai diamankan.

Barang bukti berupa, 1,8 buah plastik klip bening bekas bungkus sabu, 2 buah plastik bening bekas bungkus sabu, 3 buah mencis modifikasi, 9 buah pipet modifikasi diruncingkan, 9 buah pipet modifikasi dibengkokkan, 3 buah tutup botol minuman dilubangi, 1 buah tutup botol minuman yang terpasang pipet dibengkokkan, 1 buah kaca pirek berisi sisa shabu, 2 buah timah rokok dimodifikasi dijadikan sumbu,1 buah pipet sedotan dibulatkan, 1 telpon genggam merek evercross warna hitam. 

Dilanjutkan Iptu Suhardi, pihaknya masih menggali keterangan dari tersangka E untuk mengetahui asal barang ia dapatkan.

"Sementara barang dia peroleh dari seseorang untuk keperluan sendiri," ulasnya.
Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, E harus mendekam di balik jeruji besi menjalani proses hukum. (Nanda)
Akibat Lepas Kontrol, Mini Travel Hantam Rumah Warga Parikmalintang
Usai menabrak pondok kayu, mobil jenis Suzuki Ertiga nyungsep di teras rumah penduduk. FOTO/istimewa/Nanda
Parikmalintang ---- Diduga mengalami lepas kontrol, mobil travel alami kecelakaan tunggal di Korong Pasa Dama, Nagari Parikmalitang, Padangpariaman, Jumat (26/1) pagi.

Menurut salah seorang warga di lokasi kecelakaan, Redno Afriadi mengatakan, kecelakaan terjadi sekitar pukul 04.00 WIB dinihari. Minibus jenis Suzuki Ertiga dengan nopol BA 1961 QE tersebut melaju dari arah Bukittinggi menuju Kota Padang.

Nahas setiba di lokasi, mobil mengalami lepas kontrol dan turun dari badan jalan hingga menabrak pondok kayu dan menghantam teras rumah warga hingga mobil menjadi berputar arah.

"Mungkin supirnya mengantuk dan mobil "out of control" dan turun dari badan jalan," tuturnya.

Dalam kecelakaan itu, supir yang belum diketahui namanya dan empat penumpang travel mengalami luka, kini sedang menjalami perawatan di RSUD Padangpariaman dan RS Semen Padang.

"Penumpang yang patah tulang dilarikan ke RS Semen Padang oleh keluarga," imbuhnya.

Hingga berita ini diturunkan, kasus kecelakaan tunggal sedang dalam penyelidikan Unit Lakalantas Satlantas Polres Padangpariaman.

"Kita masih mengumpulkan pendataan dan mengumpulkan keterangan dari saksi dan penumpang. Penyebab kecelakaan sementara ini kita duga pengemudi lepas kendali," kata Kanit Lakalantas Polres Pariaman, Ipda Afdal singkat.

Jalan Padang-Bukitinggi yang lurus membuat pengemudi acap memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Tak ayal, sejumlah kecelakaan pun terjadi akibat out of controlnya para pengemudi. (Nanda)
EB Nekat Cabuli Anak di Bawah Umur Dekat Kantor Bupati
Korban terlihat histeris saat diamankan oleh warga yang ronda. Ia terlihat sangat ketakutan dan tak menyangka pacarnya berniat merengut kesuciannya. FOTO/Nanda
Padangpariaman ---- Entah apa yang ada dibenak EB (25) berniat merenggut kesucian Mawar, bukan nama sebenarnya, 16 tahun, yang tak lain diakuinya adalah kekasihnya sendiri. Akibat perbuatannya itu, kini EB harus mendekam di balik jeruji besi Mapolres Padangpariaman.

Kejadian itu berawal ketika korban meminta untuk diantarkan ke rumah orangtuanya di salah satu daerah di Kecamatan Sintoga, Kamis (18/1) dinihari. Usai menjemput sang kekasih di Kayutanam---dalam perjalanan menuju rumah korban---tersangka mengajak sang kekasih mampir di kawasan komplek kantor Bupati Padangpariaman.

"Pemuda yang ronda melihat ada sepasang muda-mudi menggunakan sepeda motor menuju arah kantor bupati. Mereka curiga akhirnya membuntuti namun kehilangan jejak. Namun setelah berkeliling, akhirnya pemuda mendengar teriakan minta tolong, hingga keduanya pun berhasil diamankan oleh warga," jelas Babinsa Nagari Parikmalintang, Serka Azwir, Kamis (18/1).

Selain mengamankan sepasang muda-mudi itu, satu unit sepeda motor dan senjata tajam ikut diamankan warga. Usai diamankan, keduanya diserahkan ke Mapolres Padangpariaman.

"Orangtua dari korban ini tidak terima dengan perbuatan pelaku, hingga akhirnya melapor ke Polres Padangpariaman," jelas Azwir.

Kasat Reskrim Polres Padangpariaman melalui Kaur Bin Ops Satreskrim Polres Padangpariaman Iptu Ardi Lubis, membenarkan jika pihaknya telah mengamankan EB atas kasus pencabulan dengan anak di bawah umur.

"Keduanya diamankan warga saat sedang berniat berhubungan badan di kawasan IKK, selanjutnya keduanya diserahkan kepada pihak kepolisian," jelasnya.

Hingga saat ini, pihaknya masih melakukan pemeriksaan kepada pelapor, pelaku, korban dan saksi. Sedangkan korban, telah menjalani visum untuk keperluan penyidikan.

Kronologis kejadian bermula saat korban dibujuk tersangka melalui aplikasi pesan. Korban dijemput tersangka di Kayu Tanam pada Rabu malam sekitar pukul 20.30 WIB, berlanjut boncengan berdua hingga ke Kota Pariaman.

Saat malam sudah larut, tepatnya Kamis dinihari pukul 01.30, korban dibujuk tersangka nongkrong berduaan di jalan lingkar dekat IKK Padangpariaman.

Beberapa saat kemudian, pemuda setempat yang sebelumnya mengintai, dikejutkan dengan jeritan minta tolong hingga akhirnya meringkus tersangka dan mengamankan korban. (Nanda)
Dugaan Penipuan Toko Era Jaya: Dari Minta Konsumen Jual Emas Hingga Tak Mau Tandatangan di Atas Materai
Sales bernama Arman mengakali dengan menandatangani kuitansi di luar materai 6000. Foto/istimewa
Pariaman --- Korban dugaan penipuan toko elektronik Era Jaya terus bertambah. Dari sekian banyak konsumen yang merasa dirugikan, salah satunya Meri (24), warga Pariaman Timur yang terlanjur menyerahkan uang senilai Rp3.890.000 pada tanggal 2 Januari 2018.

Saat wartawan menanyakan jaminan perlihatkan barang yang akan dipamerkan, sales Era Jaya terdiam dan sejumlah karyawan lainnya berusaha kabur. Foto/OLP


Meri mengatakan dirinya ditelpon berkali-kali oleh sales Era Jaya yang mengaku bernama Dian. Dian mengatakan kepadanya bahwa Era Jaya mengadakan promo besar dan akan memberikan bingkisan kepadanya.

Sesampai di Era Jaya, kata Meri, ia disuruh mencabut undian. Dalam undian itu ada kategori silver, gold dan platinum. Kebetulan Meri mencabut platinum. Dari situ sales menyebut ia mendapatkan hadiah promo senilai pembelian Rp10 juta, namun akan diserahkan bulan April 2018 saat Era Jaya melakukan pameran di Pariaman.

"Kemudian saya dibujuk bayar tiga unit perangkat di antaranya, kompor induksi merk Cyprus kata dia seharga Rp2,9 juta, mini teathre seharga Rp5 juta dan manual water seharga Rp2,1 juta," terang Meri.

Meri kemudian disuruh memberikan tanda jadi sebesar Rp150 ribu dan sisanya dibayar saat barang diantar sales ke rumahnya oleh dua orang karyawan Era Jaya yang mengaku bernama Arman dan Ucok.

Sesampai di rumah Meri merasa curiga, namun berkat pandai membujuk dan setengah memaksa oleh Arman dan Ucok, Meri menyerah dan membayar sisa uang sebesar Rp3,7 juta lagi.

"Kecurigaan saya bertambah saat mereka menyodorkan nota pembelian biasa dan tidak maunya mereka menandatangani kuitansi mengenai materai. Saat saya ingatkan, ia ganti kuitansi tapi tetap tandatangan di luar materai," kisah Meri.

Selepas Arman dan Ucok pergi dari rumah, Meri mulai curiga akan harga yang disebutkan sales Era Jaya. Setelah ia cek, ternyata harga home teathre dengan merk yang mereka sebut Rp5 juta, hanya dijual Rp1 juta di salah satu lapak ecommerce, Lazada. Bahkan di ecommerce lainnya, dengan merk yang sama dibandrol 899.000 saja. Sedangkan harga kompor induksi yang disebut sales Rp2,9 juta, banyak dijual di ecommerce Rp350 ribu. Sedangkan harga manual water tak lebih dari Rp150 ribu.

Menyadari ia sudah kena kibuli, Meri menghubungi sales Era Jaya. Berkali-kali ia telepon sales bernama Dian itu tak pernah menjawabnya. Tiga item tersebut setelah ia komplain, ternyata tidak bisa dikembalikan dengan dalih akan diganti saat pameran mereka.

Meri mengisahkan, saat sebelum proses ia menyerahkan uang, Era Jaya sempat menjual nama Pemko Pariaman dengan menyodorkan SIUP, SITU, TDP yang mereka urus bersampul gambar pasangan kepala daerah.

"Ini buktinya buk, kami mendapat izin dari pemko. Kita punya izin buk, kata dia saat itu," sebut Meri menirukan.

Selain itu, pihak Era Jaya juga menyebut bahwa tokonya adalah milik Cina Singapura yang takut berjualan di Pariaman.

"Kata mereka ia merupakan kaki tangan perusahaan orang Cina di Singapura. Dia juga bilang jika tak ada uang cash, bisa bayar pakai emas dan transfer," tuturnya.

Dari penelusuran wartawan ke Era Jaya yang berjarak 100 meter dari Terminal Jati Pariaman, Jumat lalu, seorang karyawan bernama Juni tidak mampu menunjukan barang yang mereka janjikan ke konsumen, seperti mesin cuci otomatis yang bisa melipat dan menyetrika sendiri yang ia sebut seharga Rp10 juta pada calon pembeli sebagai pengganti saat promo. Begitupun dengan AC dan alat elektronik yang mereka janjikan ke konsumen.

Ia juga tidak bisa memberikan jaminan barang mana yang akan ia pamerankan sesuai janji mereka pada konsumen. Ketika disebutkan modus mereka sudah sering dilakukan di kota-kota lain, mereka kecemasan. Satu persatu karyawannya kabur keluar dan tidak kembali lagi.
 

Toko Era Jaya saat diserbu beberapa konsumen yang merasa dirugikan sejak Jumat (5/1) sempat menjanjikan akan mengembalikan uang konsumen pada Sabtu (6/1). Namun setelah beberapa konsumen mendatangi tokonya, toko tersebut sudah digembok hingga hari ini.

Dari pendalaman tim wartawan, selain dugaan penipuan, Toko Era Jaya diduga telah melanggar sejumlah pasal yakni pasal 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16 dan 17 dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Dalam pasal (61) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen disebutkan Penuntutan pidana dapat dilakukan terhadap pelaku usaha dan/atau pengurusnya. Yang kemudian ditegaskan dalam pasal (62) yang berbunyi Pelaku Usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 13 ayat 2, Pasal 15, Pasal 1 ayat 1 huruf a, huruf b, huruf c, huruf c, ayat 2, dan Pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

Dalam pasal 63 berbunyi, terhadap sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62, dapat dijatuhkan hukuman tambahan, berupa:


a) perampasan barang tertentu;
b) pengumuman keputusan hakim;
c) pembayaran ganti rugi;
d) perintah penghentian kegiatan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian      konsumen;
e) kewajiban penarikan barang dari peredaran; atau
f) pencabutan izin usaha.

Semoga undang-undang tersebut dapat digunakan oleh aparat hukum guna melindungi konsumen agar tidak terjadi transaksi yang kelak akan merugikan konsumen. (OLP)
Toko Elektronik Era Jaya Diduga Menipu Konsumen, Begini Modusnya
Ketua PWI Pariaman Ikhlas Bakri (kanan) melihat dokumen usaha yang diperlihatkan penjaga toko Era Jaya bernama Juni. Di belakang Juni terlihat kompor induksi merk Cyprus yang ia katakan seharaga Rp2,9 juta kepada pembeli padahal harganya kurang dari Rp500 ribu
Jati --- Polres Pariaman menutup sementara toko elektronik Era Jaya karena bersengketa dengan sejumlah konsumennya. Toko yang berjarak sekitar 100 meter dari Terminal Jati Pariaman itu, Jumat (5/1) disambangi oleh beberapa konsumen yang merasa tertipu.

Dua orang karyawan wanita yang mengaku dari Medan mengaku baru bekerja di Era Jaya dan saat ditanya wartawan jawabannya selalu berubah-rubah.


Modus yang dijalankan oleh Toko Era Jaya berupa memberikan bingkisan kepada calon konsumen yang mereka hubungi via telepon. Konsumen diminta datang ke tokonya dengan alasan ingin silaturahmi dengan warga Pariaman untuk launching toko mereka bulan Februari 2018 di Pantai Cermin Pariaman.



Harga kompor merk yang sama dijual Rp345 ribu di sejumlah ecommerce terpercaya Indonesia. Investigasi terhadap dugaan penipuan Era Jaya sudah dilakukan wartawan ketika menerima informasi dari masyarakat dua bulan yang lalu.


"Tidak hanya silaturahmi, tapi mereka menjajikan akan memberikan bingkisan," ujar Wiwik (26) warga Pariaman Utara yang telah menyetorkan uang sebesar Rp1,6 juta kepada salah seorang penjaga toko bernama Juni (27) yang mengaku berasal dari Banjar Negara, Jawa Tengah.


Karyawan ini langsung kabur setelah mengetahui wartawan melakukan verifikasi ke tokonya. Mulanya ia serius dan terlihat beribawa menyambut kedatangan tim wartawan dari PWI Pariaman.


Menurut Wiwik, sebelumnya dirinya ditelpon berulang-ulang dengan berbagai janji oleh seorang wanita yang mengaku costumer service di toko itu. Setelah ia tiba di toko Era Jaya, dirinya dihadapkan kepada sales bernama Juni. Dari Juni, ia disuruh mencabut undian. Dalam undian tersebut ada kategori silver, gold dan platinum.

Wiwik yang kebetulan mencabut undian platinum diberi ucapan selamat, karena mendapatkan hadiah sebesar Rp5 juta yang tidak bisa diuangkan saat itu, tapi hanya bisa dicairkan pada launching Era Jaya. Uang senilai itu bisa digantikan dengan barang elektronik dengan total berkali lipat dari jumlah nilai undian. Jika Wiwik setor Rp5 juta, ia akan menerima barang elektronik seharga belasan juta dalam masa promo.

Merasa tertarik dengan promo gila-gilaan itu, kepada Juni Wiwik mengaku punya uang hanya sebesar Rp1,6 juta, kurang dari jumlah total yang dicantumkan. Anehnya Juni yang dinilainya agresif itu mengatakan dengan uang Rp1,6 juta ia akan mendapatkan satu unit kompor induksi dan Ac.

"Kata Juni kepada Wiwik harga kompor induksi merk Cyprus seharga Rp2,9 juta. Saya percaya saja dan serahkan uang Rp1,6 juta itu. Juni berjanji pada bulan Februari nanti saat launching Era Jaya, ia akan menerima AC," ungkapnya.

Dari penelusuran wartawan, harga kompor induksi merk Cyprus yang diberikan kepada Wiwik hanya dijual di bawah Rp500 ribu. Bahkan di salah satu lapak di ecommerce Bukalapak.com ada yang menjual Rp345.000. Dari fakta itu saja sangat jauh berbeda dengan harga 2,9 juta yang disebutkan Juni si penjaga toko. Kebohongan pertama itu terungkap setelah wartawan melakukan investigasi di toko mereka.

Saat sejumlah wartawan dari PWI Pariaman melakukan verifikasi ke toko itu, di dalam toko tidak ditemukan banyak barang layaknya sebuah toko elektronik besar. Yang tersedia hanya beberapa unit kompor induksi merk Cyprus dan blender elektronik. Para awak media tidak menemukan AC, TV, dan peralatan elektronik berkelas di toko itu.

Tidak hanya Wiwik yang menyambangi toko itu karena merasa tertipu denga Era Jaya. Firdaus, juga datang ke sana ingin meminta kembali uangnya jutaan rupiah yang terlanjur dibayarkan untuk menebus alat elektronik yang harganya ratusan ribu. Era Jaya memanfaatkan ketidaktahuan warga akan barang--karena barang yang ia sediakan memang jarang dijual di toko konvensional Pariaman---untuk mengelabui konsumen.

Bahkan pengakuan Firdaus, pihak Era Jaya berjanji akan mengembalikan uangnya hari ini. Tapi setelah ia tunggu berjam-jam, karyawan Era Jaya menyebut boss mereka yang bernama Ryan sedang berada di Medan sedang liburan Natal. Ia kembali dengan tangan kosong setelah jauh-jauh datang dari Kampung Dalam, Padangpariaman.

Lebih jauh wartawan menelusuri puluhan pengaduan dari masyarakat yang merasa tertipu dengan Era Jaya, satu per satu mulai menampakan diri.

Karyawan Era Jaya lari

Saat wartawan melakukan konfirmasi, beberapa orang karyawan langsung melarikan diri keluar toko. Bahkan di antaranya mengendap-endap keluar seterusnya kabur naik ojek.

Penjaga toko bernama Juni dan seorang karyawan perempuan yang mengaku berasal dari Medan mengaku dirinya karyawan baru di perusahaan itu. Ia berkilah mendapatkan nomor warga yang ia hubungi melalui operator di kantor cabang Era Jaya di daerah lain yang memiliki tugas mengacak nomor ponsel. Parahnya, ia mengaku tidak pernah menghubungi pelanggan dan hanya sebatas berperan melakukan penjualan.

Bahkan saat Wiwik mengatakan Juni telah meneleponnya dengan dua nomor, Juni masih sempat berkilah. Namun saat Wiwik bersama suaminya Dayat menyebutkan nomor ponselnya dan akan menelponnya saat itu juga di depan wartawan, barulah Juni mengaku.

Selain Juni dan tiga orang wanita, masih ada tiga orang lagi karyawan laki-laki yang didatangkan dari Sibolga. Pengakuan karyawan baru, Ucok (nama samaran) kepada wartawan, menyebut dirinya juga merasa ditipu bekerja di Era Jaya karena kerja yang dijanjikan tidak sesuai dengan fakta yang ia jalani.

"Kerjanya ga jelas. Kami ingin balek ke Sibolga, namun tak punya duit bang," ungkapnya.

Saat diiming-imingi bekerja di Era Jaya, ketiga bujang tanggung itu dijanjikan gaji bulanan Rp3 juta dan jenjang karir hingga manejer.

"Kita ga tahu kerjanya seperti ini bang. Kita mau kabur, cari kerja bangunan di sini buat ongkos pulang kampung ke Sibolga," keluh Ucok.

Saat dihubungi via telepon, bos Era Jaya bernama Ryan mengaku sedang dalam perjalanan menuju Pariaman dari Medan. Kepada wartawan ia berkilah tidak ada mengimingimingi konsumen ke Era Jaya melalui bingkisan. Ia bahkan membantah cara berjualannya dilakukan secara tidak fair.

"Kita tidak ada mengiming-imingi. Kita punya stok barang," kilahnya saat ditanya kenapa di tokonya tidak menjual barang yang dijanjikan ke konsumen.

Kasat Reskrim Polres Pariaman Ilham Indarmawan mempersilahkan masyarakat yang merasa tertipu oleh toko Era Jaya agar melapor ke polisi. Ia menegaskan akan menutup toko itu sebelum permasalahan Era Jaya dengan sejumlah konsumen diselesaikan dengan baik.

"Kita data jumlah pelanggan yang ingin pengembalian uang, sebab tadi pemilik Era Jaya, Ryan, berjanji bersedia mengganti. Kita akan fasilitasi, sebab ditelpon ia berjanji akan mengembalikan," kata AKP Ilham.

Ketua PWI Pariaman Ikhlas Bakri menegaskan pihaknya akan terus mengawal praktek dugaan penipuan konsumen yang dilakukan oleh toko Era Jaya.

"Tadi saya sudah cek surat izinnya dan akan melaporkannya ke Dinas Perizinan Kota Pariaman agar mencabut izin mereka. Hal hal seperti ini diduga kuat penipuan, saya meragukan mereka akan launching bulan Februari itu. Itu cuma modus mereka untuk menggaet lebih banyak pelanggan," ungkapnya.

Ikhlas menyebutkan bahwa Kantor PWI Pariaman yang beralamat di Jl SB Alamsyah Pariaman membuka posko aduan bagi masyarakat Pariaman yang merasa dirugikan oleh toko Era Jaya. (OLP)