Lensa Piaman: Labuhan Pulau Kasiak

Secara alami sebuah jalur disela-sela karang yang mengelilingi bibir pantai Pulau Kasiak untuk dilewati perahu kecil terbentuk. "Labuhan" adalah istilah yang diberikan oleh nelayan lokal yang acap menepikan biduknya di halaman pulau yang terdapat penangkaran penyu alami milik Pemko Pariaman tersebut. Foto diambil dari atas menara mercusuar setinggi 40 meter. Pulau Kasiak memiliki luas 0,5 Hektare, ditumbuhi kelapa, pohon sukun, pepaya, dll.

Lensa Piaman: Tidur Pulas

Saat narasumber memberikan makalah di podium, beberapa hadirin terlihat menahan kantuk dan akhirnya tertidur pulas di aula utama Balaikota Pariaman dalam acara sarasehan tentang "Sejarah Pariaman dan kepahlawanan H. Bgd. Dahlan Abdullah" Senin, (25/8).

Lensa Piaman: "Lomba Melepas Anak Penyu"

Rombongan Ibu Bhayangkari Polda Sumbar terlihat memberikan semangat pada tukik (bayi penyu) yang hendak mereka lepas ke laut di pantai Konservasi Penyu, Desa Ampalu, Pariaman Utara, Kota Pariaman, Jumat, 22/8/2014.

Lensa Piaman: Potensi Wisata di Pulau Kasiak

Panorama di atas menara mercusuar pulau Kasiak (Kaslik) Pariaman terumbu karang terlihat jelas di kejernihan air laut. Kawasan pulau Kasiak adalah kawasan konservasi penyu secara nature milik pemko Pariaman dibawah dinas DKP dan dikelola secara penuh oleh UPTD Konservasi Penyu. Pulau Kasiak banyak di kunjungi nelayan lokal untuk memancing ikan karang, gurita dan berbagai biota laut lainnya. Akibat perburuan swallow laut beberapa tahun lalu membuat kondisi karang rusak parah. Pemko beberapa waktu lalu bersama mahasiswa pencinta terumbu karang melakukan penanaman terumbu karang di halaman pulau ini.

Headline News :
Custom Search

Berita Terpopuler

Redaksi

Pedoman Media Siber

Powered by Blogger.
Showing posts with label pariwisata. Show all posts
Showing posts with label pariwisata. Show all posts

Andrinof Chaniago Ajak Ali Mukhni Bangun Kawasan Marina di Muaro Anai

Written By oyong liza on Monday, 17 April 2017 | 15:51

Bupati Ali Mukhni didampingi Wabup Suhatri Bur bersama Mantan Menteri PPN/Bappenas Andrinof Chaniago meninjau Muaro Anai yang akan diproyeksika sebagai kawasan marina di Ketaping, Batang Anai,  Minggu (16/4)
Tokoh nasional asal Sumatera Barat Andrinof Chaniago mengatakan bahwa Kawasan Muaro Anai yang berada pada akses jalan menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM) berpontensi menjadi kawasan wisata Marina di Kabupaten Padangpariaman. Hal itu ia katakan saat meninjau lokasi tersebut, Minggu (16/4/2017).

Pada kawasan itu nantinya disediakan dermaga mini tempat berlabuhnya kapal-kapal pesiar sebagai transpotasi menuju pulau-pulau yang ada di wilayah pesisir-- seperti Pulau Mandeh, Pasumpahan, Pieh bahkan hingga ke Kepulauan Mentawai.

“Muaro Anai layak dijadikan kawasan Marina, sebagai pintu gerbang transportasi laut dan destinasi wisata baru Sumatera Barat,” kata mantan Menteri PPN/Bappenas itu.

Ide itu dia sampaikan menindaklanjuti masukan para wisatawan dalam dan luar negeri sewaktu berlibur ke Sumbar. Para wisatawan kata dia mengalami kesulitan untuk mencari transportasi menuju dermaga yang berada di Bungus Kota Padang. Jarak tempuh pun cukup jauh yang memakan waktu hingga satu jam. Sangat logis apabila kawasan Muaro Anai dioptimalkan menjadi dermaga mini untuk transportasi laut yang baru.

“Kedalaman Muaro Anai sudah memenuhi standar kedalaman mencapai 6 meter. Kapal-kapal bisa berlabuh di sini dan tak perlu jauh-jauh lagi ke Bungus. Jadi bisa hemat satu jam perjalanan, semuanya untuk kepuasan wisatawan,” ungkapnya.

Ide tersebut disambut baik oleh Bupati Padangpariaman Ali Mukhni. Ia mengakui memang telah lama berkeinginan untuk menjadikan kawasan Muaro Anai sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru karena hanya berjarak 3,5 kilometer dari bandara internasional. Dengan dibukanya akses transportasi laut di Muaro Anai maka akan menghemat waktu wisawatan satu hingga dua jam, dibandingkan apabila wisatawan berangkat melalui dermaga di Bungus, Kota Padang.

“Jarak Muaro Anai dari BIM, tak sampai lima menit. Wisatawan turun dari pesawat bisa langsung ke Mandeh, Pesisir Selatan atau ke Mentawai tanpa harus melewati Kota Padang,” kata dia.

Tahun ini, sebut Ali Mukhni pihaknya sedang dalam penyusunan masterplan kawasan pariwisata yang dimotori oleh dinas pariwisata pemuda dan olahraga. Kawasan pantai dari Muaro Anai hingga Tiram diproyeksikan sebagai kawasan wisata yang telah memiliki perencanaan pembangunan sesuai tata ruang daerah.

“Padangpariaman ingin punya ikon tersendiri dalam pariwisata. Kita tidak mau ikut-ikutan, tapi berupaya bagaimana wisatawan menghabiskan uangnya di Padangpariaman,” pungkasnya.

HA

Genjot Promosi Wisata, Padangpariaman Akan Beriklan di Google Adsense

Written By oyong liza on Sunday, 12 March 2017 | 07:27

Zahirman



Pemerintah Kabupaten Padangpariaman berencana akan menjalin kerjasama dengan situs terbesar dunia Google, dalam hal promosi daerah. Kerjasama dalam bentuk iklan itu dalam rangka mempromosikan potensi wisata yang ada di Padangpariaman.

"Kita berencana memasang ikan di Google Adsense, untuk mempromosikan wisata Padangpariaman seluas-luasnya," ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Padangpariaman Zahirman, Minggu (12/3/2017).

Dari laman Google Adsense disebutkan, Adesense adalah program kerjasama periklanan melalui media internet yang diselenggarakan oleh Google. Melalui program periklanan Adsense, pemilik situs web atau blog yang telah mendaftar dan disetujui keanggotaannya, diperbolehkan memasang unit iklan yang bentuk dan materinya telah ditentukan oleh Google di halaman web mereka.

Selain menyediakan iklan-iklan dengan sistem bayar per klik, Google Adsense juga menyediakan Adsense untuk pencarian dan iklan arahan.

Zahirman menjelaskan, pihaknya di Dinas Komunikasi dan Informatika pada pemasangan iklan Google Adsense itu, hanya selaku pihak penjembatan antara Dinas Pariwisata setempat dengan pihak penyedia iklan Google.

"Setelah pemasangan iklan tersebut terwujud, pembayaran tagihan dibayarkan oleh pihak Dinas Pariwisata," ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Padangpariaman Jon Kenedi sumringah dengan rencana tersebut. Pihaknya merasa terbantu dengan andilnya sejumlah dinas dalam upaya bersama memajukan pariwisata Padangpariaman.

"Pariwisata Padangpariaman butuh dukungan semua pihak, bahkan dari Dinas Komunikasi dan Informatika untuk menyiapkan teknologi informasi untuk promosi wisata Padangpariaman, berikut dukungan dari media," ujarnya.

OLP

Tingkatkan Kualitas SDM, 50 Pelaku Jasa Pariwisata Mendapat Pelatihan

Written By oyong liza on Wednesday, 22 February 2017 | 20:35




Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pariamaman memiliki komitmen dalam peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) kepariwisataan di Kota Pariaman. Para pengelola dan pelaku wisata mendapat pelatihan berkelanjutan dalam rangka menuju Pariaman sebagai destinasi wisata halal di Sumatera Barat.

Pelatihan diikuti oleh 50 orang dari kalangan pengusaha rumah makan dan pemilik hotel/penginapan bertempat di Hotel Safari In di Pantai Kata Pariaman, Rabu (22/2/2017).

Walikota Pariaman Mukhlis Rahman dalam arahannya menyampaikan, masyarakat sebagai pelaku usaha jasa pariwisata harus menyadari bahwa Pariaman tidak memiliki tambang yang besar dan lahan pertanian yang luas sebagai kekayaan daerah. Pariaman hanya dianugerahi alam yang indah-- jika dikembangkan dengan baik akan dikunjungi oleh banyak orang sebagai destinasi wisata.

Pihaknya selaku penyelenggara pemerintahan melalui berbagai iven berusaha terus mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan berkunjung ke Pariaman. Usaha tersebut mesti melibatkan masyarakat sebagai pelaku wisata di daerahnya.

"Pelaku jasa pariwisata mesti melayani tamu dengan baik. Bersikap ramah dan murah senyum. Bagi pedagang, tata serapi mungkin dan jaga kebersihan dagangan sehigienis mungkin," ujar Mukhlis.

Pariwisata Pariaman saat ini, sambung Mukhlis mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Transportasi umum kereta api dari Padang menuju Pariaman, empat kali sehari, selalu penuh, apalagi di hari Sabtu Minggu dan hari libur nasional. Sejumlah destinasi wisata di Pariaman selalu ramai, apalagi lokasi favorit seperti Pantai Gandoriah, Pantai Kata dan Pulau Angsoduo.

Lebih lanjut, ia mengharapkan kepada pelaku jasa pariwisata, untuk tidak memahalkan nilai standar harga dan tetap menjaga mutu dagangan/jasa yang mereka tawarkan bagi setiap wisatawan.

“Karena setiap orang yang datang akan kembali lagi berkunjung apabila mereka merasakan sebuah kenyamanan, ketenangan,” singkat Mukhlis.

Kepala Bidang Destinasi Disparbud Kota Pariaman, Saldin, mengungkap sosialisasi dan pelatihan tersebut diadakan selama dua hari dari tanggal 22 hingga 23 Februari 2017.

"Acara ini menghadirkan narasumber dari Disparbud Provinsi Sumbar, asosiasi pariwisata seperti APB, PHRI, ASITA dan Disparbud Kota Pariaman," ujarnya.

TIM

Ternyata Masih Banyak Warga Pariaman Tak Berwisata ke Pantai

Written By oyong liza on Saturday, 14 January 2017 | 22:35

                                         Image by Putri Junaidi Loving Pariaman

Tingginya tingkat kunjungan wisatawan ke Pariaman membakar semangat pemerintah daerah. Wakil Walikota Pariaman Genius Umar beberapa waktu lalu mengatakan pihaknya akan terus membangun dan membenahi sejumlah infrastruktur wisata di tahun 2017.

"Yang sudah dibangun di tahun 2016 seperti Tugu Perjuangan ALRI, Jembatan Pedestrian, sejumlah taman dan anjungan, akan kita percantik di tahun 2017 ini di samping membangun destinasi baru," kata dia.

Dia menuturkan, mempercantik dimaksud adalah menambah fitur dari apa yang telah dibangun agar terlihat lebih menarik untuk menambah kenyamanan wisatawan. 


Lebih jauh dia mengatakan, dalam cetak biru pariwisata Pariaman ke depan, pihaknya menargetkan sepanjang pantai Pariaman adalah destinasi pariwisata. Untuk itu pihaknya perlu membuat sebuah dermaga di halaman Pantai Gandoriah dan Mesjid Terapung-- selaras visi misi menjadikan Pariaman sebagai kota wisata yang Islami.

"Kita ingin menjadikan Pariaman sebagai pusatnya wisata pantai di Sumatera Barat," tekadnya.

Sedangkan permasalahan yang dihadapi saat ini terhadap pengelolaan wisata yang juga dipengaruhi oleh alam ialah ancaman abrasi pantai dan pulau. Diperlukan penanganan segera agar tidak merusak apa yang telah dibangun.

"Ini karena fenomena alam, namun manusia diberi kemampuan melakukan rekayasa alam seperti penambahan batu grip untuk mengatasi abrasi pantai," ucapnya.

Sementara itu Rini (28) wisatawan asal Pekanbaru Riau, di Pantai Gandoriah, Sabtu (14/1/2017) mengatakan pantai Pariaman sekarang sangat jauh berbeda dibanding lima tahun yang lalu. Dia sebelumnya sempat meragukan keindahan pantai Pariaman yang massif dikampanyekan di media sosial.

"Saya pikir hanya euforia masyarakat saja, namun setelah datang dan lihat sendiri sungguh luarbiasa perubahannya. Ini langkah maju, Pariaman ibarat disulap," kata dia memuji.

Bahkan menurutnya, gadis asal Pariaman itu tidak menduga keluarganya di Pariaman Tengah sendiri juga kaget melihat perubahan tersebut.

"Dia sangat jarang ke pantai. Saya pikir dengan tinggal di Pariaman dia sering, ternyata tidak. Dia kaget, hingga menelpon beberapa keluarga lainnya ke pantai," akunya.

Dia bahkan berani memprediksi dari ribuan wisatawan hari ini yang lalu lalang di sepanjang Gandoriah-Cermin-Kata, tidak sampai 10 persennya orang asli Pariaman.

"Ini analisa saya saja ya," seloroh dia tertawa.

Dari apa yang dia katakan, penasaran kami mencoba menanyakan hal tersebut kepada beberapa warga Pariaman yang kami pilih secara acak. Erna (50) pemilik toko serba  ada yang rutin buka setiap hari mengaku tidak ke pantai lebih dari lima tahun.

"Kata orang saja saya dengar, tapi belum sempat ke sana," kata dia.

Dengan sedikit bujukan untuk melihat kesannya jika hari ini berkunjung ke Gandoriah, kami lakukan dengan janji akan menuliskan testimoninya.

"Ramai sekali, luarbiasa. Saya akan lebih sering lagi  berkunjung," kata dia sepulangnya.

OLP

Padangpariaman Tempatkan Petugas Gabungan di Kawasan Wisata

Written By oyong liza on Wednesday, 4 January 2017 | 11:00




Bupati Padangpariaman Ali Mukhni mengimbau masyarakat dan wisatawan mewaspadai cuaca ekstrim yang melanda Padangpariaman di awal tahun 2017.

"Tingginya curah hujan menyebabkan rawan bencana banjir, longsor dan tingginya gelombang laut. Bupati mengimbau agar masyarakat waspada dan tidak euforia menyikapi awal tahun baru," disampaikan Kabag Humas/Protokoler Padangpariaman Hendra Aswara, di IKK Paritmalintang, Rabu (4/1/2017).

Juru bicara Pemkab Padangpariaman itu lebih jauh mengungkapkan, menyikapi berbagai peristiwa yang ditimbulkan akibat cuaca ekstrim, pihaknya telah membentuk posko bersama TNI/Polri dengan Dinas Pol PP/Damkar dan Dinas Kesehatan yang ditempatkan di sejumlah kawasan wisata Padangpariaman.

"Kepada masyarakat jangan mandi di sungai dan laut karena berpotensi hanyut karena derasnya arus. Di samping menyiapkan petugas di lapangan kita juga meminta kepada masyarakat agar saling mengingatkan satu sama lain," ujar Hendra.

Hendra mengatakan saat ini Pantai Tiram, Pantai Katapiang dan Pantai Kata merupakan kawasan wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan saat tahun baru dan awal tahun.

"Di kawasan tersebut pengamanannya ditingkatkan. Setiap hari petugas melapor langsung ke WA pak Bupati. Baik mengenai jumlah kunjungan hingga kondisi cuaca," pungkasnya.

OLP

Laporan Khusus: Ada Apa Dengan Jogja

Written By oyong liza on Thursday, 1 December 2016 | 16:08




Ikatan emosional Sumatera Barat dengan Daerah Istimewa (DI) Jogjakarta, sangat panjang, dimulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga awal kemerdekaan. Bahkan, Sultan Hamengkubuwono IX dikabarkan pernah menghibahkan sebidang tanah di kota Jogjakarta kepada Mr. Muhammad Yamin, yang kemudian dibangun oleh Muhamad Yamin menjadi gedung pertemuan bagi mahasiswa asal Sumatera Barat.

"Saya pernah beberapa kali ke sana waktu mahasiswa dulu," kata Wakil Walikota Pariaman Genius Umar, bincang-bincang dengan wartawan saat studi komparatif jurnalis Pariaman dan Bagian Humas Pemko Pariaman, di Jogjakarta, Senin lalu. Studi banding yang diikuti 25 jurnalis dan 7 pegawai Humas, dari tanggal 27 hingga 30 November 2016 tersebut, dipimpin langsung oleh Genius umar.

Budaya dan Pariwisata

Masyarakat Jogjakarta sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional tanpa kehilangan kebebasan berpendapat dan berekspresi. Kebebasan berekspresi di muka publik di sepanjang Jalan Malioboro atau Hanacaraka dalam bahasa sanskerta, oleh para seniman, salah satu instrumen dalam motor penggerak perekonomian setempat.

"Mereka begitu kreatif, seniman jalanan terhebat di Indonesia. Jangan harap pengamen asal-asalan bisa mengais rejeki di sini," lanjut Genius, di pelataran samping monumen Serangan Oemum 1 Maret, Malioboro, melihat atraksi seniman di malam hari yang menjadikan Malioboro selalu bergairah 24 jam, baik siang sebagai pusat bisnis dan pusat rekreasi di malam hari yang bikin insomnia.

Kebebasan berekspresi di Jogjakarta tidak boleh menyerempet hal yang ditabukan masyarakat setempat. Para pelajar dari seluruh Indonesia yang tinggal di Jogja maupun perantau lainnya, sangat menghormati pakem tersebut.

"Jangan mengkritik keluarga Sri Sultan dan Sri Paku Alam. Selama dua tahun saya di Jogja (2000-2002), pernah ada seorang teman diturunkan tukang becak di jalanan karena membicarakan Sultan dalam persepsi yang ditabukan," sambung Genius berbagi pengalaman.

Daerah Istimewa Jogjakarta adalah setingkat provinsi, merupakan peleburan Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman. Daerah selatan Pulau Jawa yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah itu memiliki luas 3.185,80 km2, terdiri atas satu kotamadya, dan empat kabupaten, yang terbagi lagi menjadi 78 kecamatan, dan 438 desa/kelurahan. Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta adalah Sultan dan Paku Alam, tidak melalui pemilihan umum.

Penyebutan nomenklatur Daerah Istimewa Yogyakarta yang terlalu panjang menimbulkan penyingkatan nomenklatur menjadi DI Yogyakarta atau DIY. Daerah Istimewa Yogyakarta sering dihubungkan dengan Kota Yogyakarta sehingga lumrah sering disebut dengan Jogja, Yogya, Yogyakarta dan Jogjakarta.

Sensus penduduk 2010 menyatakan, populasi Daerah Istimewa tersebut sebanyak 3.452.390 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 1.084 jiwa per km2. Untuk Kota Jogjakarta sendiri luasnya masih dibawah Kota Pariaman, namun dengan jumlah penduduk melebihi Pariaman yang tidak sampai 100 ribu jiwa, berbanding sekitar 500 ribu jiwa. Pendapatan Asli Daerah Kota Jogjakarta, 80 persen dari pajak hotel dan restoran.

Bahasa Sanskerta turut ditulis mendampingi bahasa Indonesia di setiap nama jalan, bangunan dan tempat penting lainnya. Penataan destinasi wisata di kota Jogja tetap mempertahankan ketradisionalan. Daerah mereka merupakan urutan kedua setelah Bali sebagai tujuan wisata terbesar di Indonesia. 

Sebagai kota yang sudah berumur 260 tahun, tentu memiliki sejarah panjang. Di pusat kota Jogja terdapat beberapa objek bersejarah antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg, dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Pembangunan kawasan wisata di kota Jogja, dibuat berimbang antara kenyamanan pengunjung dan bagi para masyarakat yang menjadi pelaku di bisnis pariwisata tersebut, seperti pedagang, seniman, penjual jasa, dll.

Di sepanjang Jalan Malioboro, salah satu sisi jalan dibuat lebar antara 5 hingga 12 meter, ruang (space) bagi pejalan kaki, bangku dan taman, ruang bagi pedagang kuliner. Pohon-pohon berusia tua dirawat untuk meneduhkan sepanjang jalan di kota berjuluk kota gudeg tersebut. Ruang lebar itu sering dijadikan konser seniman jalanan.

Grup seniman jalanan yang menggelar konser musik, berpenghasilan hingga hitungan di atas Rp1 juta sekali tampil. Para pelancong yang merasa terhibur tidak segan-segan memindahkan sebagian isi kantongnya ke kotak yang disediakan pengamen tersebut.

Tempat yang sudah disediakan oleh pemerintah tersebut, masing-masing komunitas, baik pedagang, penjual jasa, pengamamen, bersama pemerintah, sama-sama pula dalam menjaganya. Baik keamanan, kenyamanan, hingga standar pelayanan. Pemerintah setempat juga membentuk satuan pengamanan bernama Joko Boro di sepanjang Jalan Malioboro. Kesan yang ingin mereka berikan kepada pengunjung adalah di "Jogjakarta Berhati Nyaman", sebagaimana penggalan kata password wifi di hotel kami menginap.

Pemerintahan dan Pelayanan Publik

Kota Jogjakarta dijabat oleh walikota yang dipilih oleh rakyat secara demokratis sebagaimana daerah lainnya di Indonesia. Pilkada Kota Jogjakarta dilaksanakan pada awal tahun 2017. Beda dengan Sultan dan Paku Alam, yang menjabat gubernur dan wakil gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta yang sudah merupakan ketetapan sebagaimana amanat UU No. 3 Tahun 1950 yang diubah dengan UU No. 19 Tahun 1950. Kedua UU tersebut diberlakukan mulai 15 Agustus 1950 dengan PP No. 31 Tahun 1950.

Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Jogjakarta, Sulistyo menyebut, sistem pelayanan publik sudah lama terbangun di kota itu. Setiap hari Senin dan Kamis pihaknya akan menyerap langsung aspirasi masyarakat melalui RRI yang direlay oleh empat radio swasta setempat. Program bertajuk Walikota Menyapa yang dimulai pada pukul 07.30 WIB, setiap Senin menghadirkan walikota, dan hari Kamis oleh pihak SKPD.

Dengan adanya program "Walikota Menyapa", pemerintah setempat ingin memperpendek jalur informasi dari masyarakat yang ditujukan kepada pemerintahan dengan serentet jalur birokrasi.

"Sehingga walikota bisa langsung ambil kebijakan melalui aspirasi masyarakat yang langsung diterima," ujar Sulistyo.

Di samping itu, pihaknya juga membangun aplikasi berbasis tekhnologi informasi yang dinamai unit pelayanan informasi dan keluhan yang disingkat UPIK yang dikelola satuan kerja Bidang Humas Sekretariat Pemerintah Kota Jogjakarta.

UPIK pada dasarnya menerima keluhan/masukan langsung dari masyarakat yang bisa menggunakan jaringan internet dan pesan singkat telepon seluler atau SMS. Setiap pesan yang disampaikan ke aplikasi UPIK bisa dilihat langsung oleh siapapun di website resmi pemerintah setempat.

Kepala Bagian Humas Kota Jogjakarta Trihastono, menyebutkan, setiap pesan yang masuk ke aplikasi UPIK akan diteruskan kepada SKPD terkait. Pihak SKPD dalam waktu dua hari harus menjawab pertanyaan tersebut disertai solusi secara terperinci.

"Jika itu menyangkut pembangunan yang berkaitan dengan penganggaran, SKPD mesti jelaskan kapan ada anggaran untuk atasi persoalan tersebut dan kapan dilaksanakan hingga selesai pengerjaan," terangnya.

Aplikasi UPIK juga memberi peringkat kepada SKPD yang dinilai paling respon terhadap keluhan masyarakat. Penghargaan akan diberikan langsung oleh walikota kepada SKPD bersangkutan.

Kota Pariaman - Kota Jogjakarta

Sebagai sama-sama kota kecil, kata Wakil Walikota Pariaman Genius Umar, sudah selayaknya kota Pariaman belajar dari Jogjakarta. Bak pepatah, lain ladang lain belalang, lain lubuk, lain ikannya, tentu tidak semua yang dilakukan Pemko Jogja bisa diaplikasikan di Kota Pariaman.

Konsen Pemerintah Kota Pariaman untuk menjadikan Pariaman sebagai kota tujuan wisata, ada banyak pelajaran yang dipetik dari kota itu. Dalam hal kesadaran masyarakat menjadi pelaku dan pelayan bagi pengunjung, berangsur-angsur mulai tumbuh di Pariaman.

"Konsep pariwisata berbasis komunitas sangat tepat diterapkan di Pariaman, dan hal itu kian hari makin tumbuh," sebut Genius.

Genius menceritakan, tahun pertama ia mendampingi Mukhlis Rahman sebagai walikota dan wakil walikota Pariaman periode 2013-2018, geliat pariwisata Pariaman belum begitu tumbuh. Di tahun kedua, berbagai pembangunan untuk menunjang infrastruktur kepariwisataan mulai dibangun.

"Di tahun kedua mulai ada geliat, Kota Pariaman jadi bahan pembicaraan di mana-mana," ungkap Genius.

Pihaknya menginginkan, kota kecil Pariaman yang pantainya terletak di tengah-tengah Sumatera Barat, menjadi etalasenya wisata Sumbar. Dalam tiga tahun terakhir sudah tiga hotel dibangun di Pariaman, menandakan investor sudah mulai menyadari potensi Pariaman sebagai kota wisata masa depan.

Pemerintah Kota Pariaman, tutur Genius, akan menjadikan sepanjang pantai Pariaman sebagai destinasi wisata, kemudian pulau-pulau. Di samping itu, progres ke depan, pihaknya juga kembangkan wisata hingga ke daratan dengan menonjolkan potensi mereka masing-masing, seperti sungai dan kawasan agro.

"Untuk itu kita mengajak rekan media studi banding ke sini (Jogja) untuk melihat langsung. Kita mengajak rekan wartawan terlibat dalam membangun pariwisata Pariaman dengan pemberitaan, menggali potensi, serta saran dan kritikan membangun demi kemajuan Kota Pariaman," pungkasnya.


OLP

Kota Pariaman Kembali Raih Juara I "The Most Improved Wisata Peduli Award" Sumbar

Written By oyong liza on Saturday, 12 November 2016 | 14:21




Kota Pariaman kembali meraih anugerah pertama "The Most Improved Wisata Peduli Award" 2016. Penghargaan serupa juga diraih pada tahun 2015.

"Predikat ini bukti keseriusan Pemerintah Kota Pariaman dalam mengelola dan mempromosikan wisata dan destinasinya, baik untuk kawasan Sumbar sendiri, secara nasional bahkan hingga ke mancanegara," kata Wakil Walikota Pariaman Genius Umar saat menghadiri malam pemilihan Uda Uni Sumatera Barat tahun 2016, sekaligus malam penganugerahaan Wisata Peduli Award 2016, bertempat di UPI Convention Centre, Lubeg Padang, Kamis malam (10/11).

Menurutnya, upaya pemerintah daerah dalam membangun berbagai infrastruktur sarana prasarana penunjang pariwisata, diiringi pula dengan promosi, ditambah menggelar berbagai iven, membuat kota Pariaman kian menarik untuk dikunjungi.

"Peningkatan kunjungan wisatawan ke Pariaman sangat tajam dalam dua tahun terakhir. Di tahun 2015 tercatat sebanyak 2,5 juta pengunjung. Untuk tahun 2016 kita menargetkan 3 juta pengunjung," sebut Genius.

Disamping itu, Genius juga mengapresiasi kinerja tekhnis jajaran di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pariaman yang telah sukses menggelar berbagai iven olahraga, kuliner, budaya pesisir, seni tradisional, dan beragam atraksi menarik lainnya dalam rangka meramaikan kota Pariaman.

Di saat yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pariaman, Efendi Jamal, membenarkan bahwa Kota Pariaman telah 2 kali meraih posisi pertama di ajang "The Most Improved" kategori Kawasan Potensial Pariwisata Provinsi Sumatera Barat.

"Untuk Posisi II diraih oleh Kabupaten Solok Selatan, dan posisi  III ditempati Kabupaten Dharmasraya," ujarnya.

Dikatakan, juara I sampai III untuk kategori "The Best Achievement" diraih oleh Kabupaten Pesisir Selatan, diikuti Kabupaten Agam dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Sedangkan untuk kategori "The Best Performance" kawasan utama Pariwisata Sumatera Barat, diraih oleh Kota Bukittinggi, diikuti Kota Padang dan Kota Sawahlunto.

Untuk ajang Uda Uni Sumatera Barat, Uni Kota Pariaman yang diwakili oleh Lisa Putri Manela hanya meraih Uni harapan I Sumbar. Lisa Putri Manela merupakan Cik Uniang Kota Pariaman 2016.

Hadir dalam acara tersebut Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit, Kapolda Sumatera Barat, bupati dan walikota se Sumatera Barat, Kepala Dinas Pariwisata se Sumatera Barat, para desaigner asal Sumbar, para dewan juri, peserta dan suporter masing-masing daerah yang memenuhi UPI Covention Centre.

Juned/OLP

Menuju Lokal Branding Oleh-Oleh Pariaman

Written By oyong liza on Thursday, 1 September 2016 | 21:08

Kaos dengan hastag #ayokepariaman sudah punya branding



Wakil Walikota Pariaman, Genius Umar, ajak pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) hasilkan produk lokal berupa souvenir bernilai jual bagi wisatawan untuk mensejajarkan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan pariwisata di Kota Pariaman.

Dia menilai, lebih banyak wisatawan berbelanja di Kota Padang dan Bukittinggi meski disaat yang sama mereka berkunjung ke Pariaman.

"Sektor ekonomi kreatif seperti kerajinan kaos dan baju bertema wisata terus tumbuh, kita terus genjot pelaku UMKM agar menghasilkan produk oleh-oleh khas Pariaman. Kita berharap setiap orang yang berkunjung ke Pariaman akan ada oleh-oleh khas Pariaman yang dibawanya pulang," kata Genius, di Pariaman, Kamis (1/9).

Disampaikan Genius, produk lokal berupa kerajinan dan penganan, lambat laun akan punya branding tersendiri terhadap Kota Pariaman sebagaimana Kota Bukittinggi dengan Sanjai-nya dan Payakumbuh dengan Gelamai-nya.

"Pada intinya pembangunan pariwisata sejalan dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kita terus upayakan agar UMKM di Pariaman melihat peluang yang memiliki celah lebar ini," tuturnya.

Sementara itu, Peneliti Forum Wartawan Peduli Pariwisata Piaman (FWP3) Muhamad Zulfikar Harahap (24) menanggapi kebijakan pemerintah terhadap pengembangan UMKM berbasis budaya lokal.

Menurutnya, selama ini perhatian pemerintah terhadap UMKM cukup besar, bahkan dalam perberdayaan kelompok dan komunitas kreatif dinilainya sangat berhasil.

"Kita bisa lihat kemajuan komunitas pemuda #ayokepariaman, Orang Piaman Creatif (OPC), Darak Badarak, dan lain-lain. Bahkan diantaranya sudah punya branding kaos tersendiri yang sudah dikenal hingga ke luar negeri," kata Zulfikar.

Terkait produk lokal UMKM, dia menilai perlu pendampingan khusus dari pemerintah setempat, sekaligus dalam mengarahkan.

"Pembinaan UMKM terkait pengembangan produk sudah dilakukan dengan baik, namun yang menjadi tantangan terbesar pemerintah adalah upaya pengawasan secara berkelanjutan," jelasnya.

Disamping itu menurutnya, Pemko Pariaman juga harus memikirkan lebih jauh terkait pemasaran dalam jangka panjang sehingga kerajinan yang dihasilkan dapat dijangkau di seluruh daerah.

TIM

Lipsus Etape 5 TdS: Usai Finish Seluruh Atlet dan Official Nginap di Kota Pariaman

Written By oyong liza on Wednesday, 10 August 2016 | 17:40




Start etape 5 Tour de Singkarak (TdS) 2016 sempat molor sekitar 30 menit dari jadwal semula pukul 10.00 WIB akibat hambatan oleh kecelakaan lalu lintas di Kecamatan Koto XI Tarusan yang mengakibatkan terlambatnya kedatangan atlet dari Kota Padang ke Pantai Carocok, Rabu (10/8). Pembalap mencapai garis finish tepat pada pukul 14.19 WIB di Pantai Gandoriah, Kota Pariaman.



Trek sepanjang 153,1 kilometer dari lokasi start Pantai Carocok, Kabupaten Pesisir Selatan menuju garis finish di Pantai Gandoriah Kota Pariaman itu menjadi arena pacuan bagi para pembalap karena banyaknya trek mendatar untuk merebut yellow jersey di event tahunan balap sepeda paling prestisius di Tanah Air itu.




Pemerintah Kota Pariaman sengaja menggelar panggung seni dan lomba beruk memetik kelapa untuk memeriahkan finish etape 5. Acara penyambutan finish dihadiri oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit didampingi Walikota Pariaman Mukhlis Rahman, Wakil Walikota Genius Umar, Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyuddin, Kapolres Pariaman, Dandim 0308/Pariaman dan sejumlah unsur Forkopimda.




Menurut Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Kadis Budpar) Kota Pariaman Efendi Jamal, finish etape 5 TdS tahun 2016 berbeda dengan penyelenggaraan finish TdS tahun 2015 yang mana Kota Pariaman juga sebagai pihak penyelenggara.

Bedanya, kata Efendi Jamal, pada TdS 2016 semua atlit, official, pers, tamu dari kementerian dan pihak EO semuanya menginap di Kota Pariaman.

"Tahun lalu semuanya menginap di Kota Padang, untuk tahun ini semuanya menginap di Kota Pariaman yang sudah memiliki hotel berbintang yakni Safari In dan empat buah hotel lainnya bagi para atlet dan official. Ini adalah suatu keuntungan bagi kita sebagi kota tujuan finish," kata Efendi Jamal.

Sambutan dan kepercayaan positif dari para atlet beserta para official itu, karena dinilainya Pariaman sudah menjadi kota yang siap menerima tamu dan memenuhi standar kota layak huni bagi berbagai kalangan dengan keberadaan lima buah hotel yang resperentatif.

"Hotel hunian telah disurvey sebelumnya mengedepankan standar tinggi dan mereka akhirnya setuju menginap di sini. Selain itu mereka juga akan menikmati berbagai objek pariwisata di kota kita," sebutnya.

Sementara itu, Walikota Pariaman Mukhlis Rahman mengakui bahwa TdS effect berdampak positif bagi Kota Pariaman terutama bagi pengembangan dunia pariwisata. Dengan kemajuan pariwisata dari tahun ke tahun itu, dirinya selaku kepala daerah memiliki komitmen untuk selalu terus berbenah.

"Dulu hanya ada satu hotel di Kota Pariaman, sekarang sudah ada lima buah hotel yang memenuhi standar," ungkap Mukhlis.

Disaat yang sama Wagub Sumbar Nasrul Abit menyatakan bahwa etape 5 menempuh jarak cukup panjang. Nasrul mengaku pihaknya selalu keliling daerah selama TdS untuk melihat geliat pariwisata di setiap daerah kota/kabupaten. TdS tahun 2016, ujar dia, Kabupaten Solok Selatan tidak ikut karena faktor jalan lintasan pembalap yang dinilai tidak memenuhi standar.

Disamping itu dia mengungkap, ada dua provinsi tetangga yang sudah menyatakan diri akan ikut bergabung di ajang TdS yakni dari Provinsi Jambi dengan Kabupaten Kerinci dan Provinsi Riau.

"Kita tentu akan pertimbangkan, kita lihat kondisi jalannya. Meskipun nanti TdS diikuti berbagai provinsi, namanya tetap kita pertahankan Tour de Singkarak karena sudah menjadi ikon bagi kita," ujarnya.

Nasrul Abit menambahkan, selama tahun 2016 terjadi perkembangan mengembirakan terhadap kunjungan wisatawan ke Sumatera Barat yang mencapai 1,6 juta pengunjung. Perkembangan tersebut Kota Pariaman ikut andil di dalamnya karena terus melakukan pembenahan.

"Kian hari Kota Pariaman kian indah pantainya. Yang perlu dibenahi adalah SOP (standar operasional prosedur) dan pengawasan keselamatan bagi pengunjung (wisata ke pulau)," ungkapnya.

Bagi pembalap sendiri merasakan sensasi pada etape 5 yang menguras energi karena wajib saling mendahului di trek mendatar. Sprint pertama dimulai pada kilometer 21,5 tepatnya di kawasan Pasar Tarusan (Pesisir Selatan). Trek memanjang ini ditutup dengan balapan menanjak (King of Mountain) di Bukit Lampu, menjelang masuk Kota Padang.

15 kilometer berikutnya, pebalap kembali sprint melintasi Kota Padang, hingga sprint terakhir di kilometer 126 memasuki Kota Pariaman.

Tour de Singkarak 2016 memperebutkan hadiah total Rp2,5 miliar. Sebanyak 120-an pebalap dari 30 negara ambil bagian dalam helatan tersebut. Pebalap peserta TdS 2016 akan melewati lintasan sepanjang 1.100 kilometer dalam 8 etape melewati 17 kabupaten dan kota di Sumatra Barat

Pengamanan finish TdS etape 5 Kota Pariaman mendapat pujian dari para atlet juga Wagub Sumbar Nasrul Abit. Sebelum TdS finish etape 5, Pemko Pariaman beserta pihak terkait telah mencatat 161 persimpangan jalan yang akan dilalui pembalap. Sebanyak 470 personil gabungan terdiri 250 personel Polri, 60 personel Kodim 0308, 100 anggota Satpol-PP, 20 tenaga medis dan 40 personil dari BPBD Kota Pariaman telah sukses mengamankan finish etape 5 TdS 2016 di Kota Pariaman.

TdS 2016 melintasi 8 etape di 17 kabupaten dan kota.

Berikut adalah etape yang akan dilintasi para peserta balap sepeda bergengsi di Indonesia itu pasca finish etape 5.

-Etape 6, Kamis 11 Agustus 2016, dari Pantai Tiram Kabupaten Padangpariaman dan finish di Taman Satwa Kandih Sawahlunto (149 kilometer)
   
-Etape 7, Jumat, 12 Agustus 2016, dari Gedung Pertemuan Pancasila, Sijunjung dan finish di Sport Centre Dharmasraya, (133,4 kilometer)
   
-Etape 8, Minggu 14 Agustus 2016, dari Istana Bung Hatta Bukittinggi dan finish di Tugu Perdamaian Kota Padang (146,5 kilometer).

OLP

Ikuti Jumbara di Sulawesi 3 PMR Pariaman Jadi Duta Wisata

Written By oyong liza on Wednesday, 20 July 2016 | 20:42




Walikota Pariaman Mukhlis Rahman terima kunjungan 3 pelajar asal Kota Pariaman yang akan mengikuti Jumbara (Jumpa gembira) PMR (Palang Merah Remaja) ke VIII tingkat nasional di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Provinsi Sulawesi Selatan tanggal 25 s/d 31 Juli mendatang bertempat di ruangan kerja walikota, Balaikota Pariaman, Rabu (20/7).

Tiga utusan itu adalah Zarma Hanifah dari SMAN 2 Pariaman, Annisa Nurul Islami dari SMPN 3 Pariaman dan Sri Aulia Ramadhini dari SMPN 6 Pariaman. Para siswi ditemani oleh kepala sekolah masing-masing, Ketua PMI Kota Pariaman Syahrul dan Kabag Humas Yalviendri.

Mukhlis, pada kesempatan itu mengatakan bahwa utusan pelajar tersebut adalah wakil Pariaman yang berbicara tingkat nasional dan membawa nama baik Kota Pariaman.

Dia berharap selain meraih prestasi para siswa dapat mempromosikan potensi pariwisata Pariaman di kancah nasional. Mereka didaulat menjadi duta pariwisata.

"Ceritakan pariwisata dan kebudayaan yang kita miliki kepada rekan-rekan di sana sehingga mereka berkeinginan datang ke Kota Pariaman," ujar Mukhlis.

Dirinya juga berpesan kepada para utusan agar selalu menjaga kesehatan di ajang bergengsi tersebut.


Ketua PMI Kota Pariaman Syahrul menyatakan ada 30 orang utusan Provinsi Sumatera Barat kontingen Jumbara PMR. Tiga orang utusan asal Kota Pariaman sudah melalui ajang seleksi baik di tingkat kota maupun di tingkat provinsi.

“Jumbara PMR tingkat nasional dilakukan 4 tahun sekali. Kota Pariaman mengutus dari seleksi yang dilakukan sebanyak 3 orang, 2 di tingkat Madya (SMP) dan 1 di tingkat Wira (SMA),” jelasnya.

TIM

Pariwisata, Masa Depan Pariaman

Written By oyong liza on Saturday, 9 July 2016 | 22:19

Image by Genius Umar



Hari raya Idul Fitri 1437 Hijriyah/2016 hampir dipastikan di sejumlah objek wisata Pariaman dan Padangpariaman mengalami peningkatan pengunjung dari tahun sebelumnya, khususnya kawasan wisata bahari. Sebut saja pantai Pariaman yang membentang dari Desa Taluak hingga ujung muara Gandoriah. Puluhan ribu pengunjung silang siur terhitung sejak hari raya kedua saat Pesta Pantai digelar hingga hari ini.

Belum lagi pengunjung ke pulau. Tidak hanya Pulau Angsoduo saja jadi tujuan wisatawan tapi terlihat pula di Pulau Ujuang dan Pulau Kasiak menghiasi laman media sosial oleh capture wisatawan. Kodak-kodak itu akan diindeks google sepanjang masa. Sebuah kabar baik yang memiliki progress.

Di Padangpariaman seperti Pantai Arta Sungai Limau dan Pantai Tiram yang didaulat sebagai destinasi kuliner juga sangat ramai dikunjungi. Keramaian masif sekali setahun (insidentil) tersebut menimbulkan kemacetan di sepanjang pintu masuk zona wisata tersebut. Nasi yang dihidangkan selalu panas di Pantai Tiram. Ikannya baru-baru, bahkan ada yang dapat dan dimasak saat itu juga.

Keramain di Piaman saat lebaran disebabkan oleh dua faktor. Pertama, keramaian yang sudah menjadi tradisi oleh mereka sendiri (masyarakat Piaman). Orang Piaman di perantauan seakan mewajibkan diri pulang kampung sekali setahun. Jika tidak pulang, ada pula pameo di masyarakat seperti kenapa si anu tidak pulang dikaitkan dengan kemerosotan ekonomi dan berbagai argumen yang tidak sahih.

Kedua, karena Piaman memang sudah menjadi daerah destinasi wisata bahari paling potensial di Sumatera Barat akhir-akhir ini. Kemajuan pariwisata khususnya di Kota Pariaman sudah begitu viral hingga mulai dikenal dan menjadi tersohor. Sambutan pasar lumayan bagus akan citra Pariaman sebagai kota layak kunjung. Kecintaan masyarakat setempat dengan menjadi marketer pariwisata menandakan warganya memiliki semangat cinta daerah. Semangat cinta daerah juga menjadi nilai plus bagi calon pengunjung.

Kelebihan berwisata ke Pariaman di saat lebaran juga ditunjang oleh akses. Dari bandara (BIM) hanya 30 menit, dengan jarak tempuh sekitar 30 kilometer dan 1,2 jam dari Kota Padang dengan jarak tempuh 56 kilometer. Ada pula transportasi masal kereta api empat kali bolak balik dalam sehari. Akses internet yang cepat bahkan hingga di pulau juga menjadi nilai plus bagi wisatawan yang tidak bisa terpisah dari gadget yang terhubung ke internet saat berkunjung ke Pariaman.

Faktor perut (selera) juga penentu bagi wisatawan untuk menetapkan pilihannya berlibur ke Pariaman saat lebaran. Sebagai daerah dengan usia 450 tahun yang dulunya multi etnis, telah meninggalkan ragam jenis resep masakan dari bangsa India, Arab dan China disamping kebudayaan (Suma Oriental by Tome Pieres).

Apakah dengan demikian Pariaman sudah bisa dikatakan daerah destinasi wisata? Jika sepenuhnya tentu belum. Tepatnya daerah yang masih menuju ke arah itu. Tantangan-tantangan ke depan akan terus ada terutama di sektor sumber daya manusia (SDM).

Pariaman dengan 100 persen muslim ditambah adat istiadat bersendikan Islam tidak akan pernah menjadi kota wisata terbuka dan bebas sebagaimana Bali dan Lombok. Nafas Islam tidak akan pernah selaras dengan arus globalisasi pemuja kebebasan. Pariaman akan menjadi dirinya sendiri suatu kelak. Dia akan menjadi kawasan wisata yang memiliki jati diri sendiri. Kita hanya perlu menunggu waktu.

Secara tidak sengaja ada sekelompok wisatawan dari Kota Padang terdengar berbicara satu sama lain di Simpang Lapai Pariaman menjelang senja, Sabtu (9/7), menyatakan bahwa dia sengaja melewatkan keberangkatan kereta api dari Pariaman menuju Padang. Dia sepertinya dari Padang ke Pariaman naik kereta api.

"Baa lo ka pulang jam ampek (4), tantu ndak jadi ka pulau wak doh. Ka Pariaman ndak ka pulau ma lo sero (kenapa pula pulang jam empat sore tentu kita tidak jadi ke pulau. Ke Pariaman tidak ke pulau tidak asik)," kata mereka sambil tertawa-tawa. Dari gestur dan pakaiannya yang lembab ditambah tumit masih basah, dipastikan mereka sudah menginjakan kaki di pulau. Wajah mereka penuh kegembiraan.

Lima menit kemudian naiklah sekelompok orang tadi ke atas bis yang memang silih berganti mangkal di sana. Terlihat bis-bis tersebut berangkat dengan semua bangku terisi.

Pulau Angsoduo dan Pantai Gandoriah memang magnetnya Kota Pariaman saat ini. Perkembangannya jauh diluar perkiraan. Di sepanjang pantai tersebut ragam atraksi dan cafe-cafe tersedia. Infrastruktur seperti taman dikemas apik memiliki ciri khas tersendiri yang nantinya akan membranding kota ini dengan sendirinya.

Bicara pariwisata, tentu tidak bicara saat ini saja melainkan bicara masa depan (future). Juga bicara pemimpin yang konsen penuh akan hal itu. Mempertahankan/merawat jauh lebih sulit dari pada membangun apalagi meningkatkannya. Masa depan itu akan terjawab jika SDM sudah terbangun dan pemerintah selalu memprioritaskannya.

Oyong Liza Piliang

Sambut Lebaran dan Pesta Pantai, Inilah Aturan Baru Pemko Pariaman

Written By oyong liza on Tuesday, 21 June 2016 | 11:28





Pemerintah Kota Pariaman dengan lintas SKPD-nya lakukan pembenahan/pengaturan/scedule di sejumlah kawasan wisata jelang Hari Raya Idul Fitri 1437H/2016 sekaligus dalam rangka menyambut Pesta Pantai Pariaman yang dihelat selama sepuluh hari dari tanggal 7 s/d 17 Juli 2016.

"Pihak kami akan buat denah dan pemetaan di sepanjang pantai. Kita buat space-space buat buayan kaliang, pedagang, area permainan anak dan berbagai sarana lainnya," kata Kabag Humas Kota Pariaman, Yalviendri, di Pariaman, Selasa (21/6).

Menurutnya hal itu dilakukan demi ketertiban dan kenyamanan pengunjung selama berlebaran di salah satu kawasan wisata pantai paling ramai di Sumbar saat ini.

Kemudian, tambah dia, pihaknya juga akan membuat papan penunjuk area wisata, seperti tempat penjualan tiket ke pulau, tempat pemberangkatan ke pulau, area parkir dan area posko pengaduan/keamanan.

"Terkait parkir, walikota sudah perintahkan dinas terkait lakukan reformasi. Tidak ada lagi tukang parkir pakai celana pendek. Semua berseragam rompi, pakai tanda pengenal dan topi juru parkir," ungkap Kabag Humas.

Tambahnya lagi, fungsi pengawasan juga dilakukan oleh pihaknya dengan menurunkan Satpol PP jika aturan tersebut tidak dijalankan sebagaimana mestinya.

"Satpol PP akan lakukan penindakan, pengawasan dan lakukan pantauan rutin. Untuk lebaran, seluruh SKPD terlibat demi menjaga marwah wisata Pariaman," pungkasnya.

OLP

Penutupan Festival Gandoriah: Di Tengah Terpaan Badai Lampaui Target 3 Kali Lipat Pengunjung

Written By oyong liza on Wednesday, 1 June 2016 | 19:38




Festival Pesona Gandoriah (FPG) 2016 raih pengunjung tiga kali lipat dari penyelenggaraan di tahun sebelumnya meski sempat diwarnai "insiden kapal" dan terpaan badai kencang. Iven yang menghelat perlombaan unik khas masyarakat pesisir Pariaman tersebut sukses menyedot wisatawan domestik hingga turis mancanegara. Lonjakan pengunjung terjadi di hari Sabtu dan Minggu saat lomba layang-layang kreasi dan lomba beruk memetik buah kelapa digelar.



Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Kadis Budpar) Kota Pariaman Efendi Jamal, di Pantai Gandoriah, Rabu (1/6), saat acara penutupan festival yang dihelat sejak 28 Mei lalu. Total pengunjung menurutnya terhitung mencapai sekitar 56.000 wisatawan.

"Tahun lalu 18.000. Target 50.000 pengunjung yang dicanangkan Walikota kita lampaui di Festival Pesona Gandoriah 2016. Puluhan bus pariwisata parkir silih berganti di Pariaman sejak hari pertama festival, kereta api juga penuh-penuh," ungkap Efendi Jamal.

Dia menuturkan, membludaknya pengunjung FPG 2016 tidak terlepas dari perlombaan unik yang diselenggarakan panitia ditambah promosi media dan masyarakat Pariaman di sosial media.

"Lomba beruk memetik buah kelapa bertepatan dengan cuaca buruk, tapi pengunjung tetap bertahan dan kian ramai hingga sore harinya," sebutnya.

Sementara itu Walikota Pariaman Mukhlis Rahman ungkapkan pihaknya akan terus berupaya meramaikan Pariaman dengan menggelar iven setiap bulannya, kecuali bulan suci Ramadhan. Saat ini Pemko Pariaman memiliki 10 kalender pariwisata tahunan tetap yang selalu ramai dikunjungi.

Di samping itu, kata dia, selaku kepala daerah dirinya akan terus mengembangkan berbagai destinasi baru untuk dikunjungi wisatawan seperti penambahan taman di sepanjang Pantai Pariaman hingga progress prestisius pembangunan objek wisata bahari di Pulau Tangah pada tahun 2017.

Kepada warga dia menghimbau agar menjadi masyarakat sadar wisata dengan sikap melayani tamu dengan ramah, berlaku bersih, membuang sampah pada tempatnya, pedagang yang jujur dengan menerakan tarif harga dan menjadi pelaku wisata yang taat aturan, sehingga Kota Pariaman memiliki branding positif sebagai daerah destinasi wisata.

"Oleh karena itu dalam membangun pariwisata dibutuhkan kerjasama semua pihak terutama masyarakat. Jika Pariaman ramai yang diuntungkan juga masyarakat," harapnya.

Kepada para calon investor takut dengan permasalahan tanah ulayat yang selalu menjadi isu di Sumatera Barat, pihaknya telah menyediakan lahan di tiga titik lokasi untuk dibangun hotel maupun resort.

"Kita sudah bebaskan dan jamin. Pemerintah sudah memikirkan hal itu. Dari tiga lokasi yang kita sediakan, satu diantaranya sudah dibangun resort," ungkap Mukhlis.

Selama FPG 2016, dikatakan Kabid Promosi dan Kerjasama Dinas Budpar, Zahirma, panitia berhasil menghelat 10 dari 11 iven yang direncanakan.

"Lomba surving tidak jadi diselenggarakan karena faktor cuaca," kata dia.

Dia menjabarkan 10 iven yang digelar dari tanggal 28 Mei hingga 1 Juni adalah lomba layang kreasi diikuti 5 negara, lomba masak gulai kapalo lauak oleh 51 peserta, lomba beruk memetik buah kelapa 31 peserta, lomba music fiesta 20 group band, selaju sampan 20 peserta, lomba lagu minang anak-anak 40 peserta, lomba lagu minang untuk umum 60 peserta.

"Kemudian lomba video, foto bertema pariwisata diikuti 20 peserta dan lomba masak sala lauak yang diikuti oleh 40 peserta. Pada tahun lalu sala lauak Pariaman pecahkan record MURI," kata dia.

Acara penutupan yang dihadiri oleh Hendri Karnova dari Kementerian Pariwisata, Danlantamal II Padang, Forkopimda, Wakil Walikota Genius Umar, Anggota DPRD Sumbar Zalman Zaunit itu dihibur oleh penyanyi Sultan dan Zaky artis cilik berusia 11 tahun yang berhasil raih juara I pada lomba lagu minang kategori anak.

OLP

H2 Festival Gandoriah: Lomba Beruk Petik Kelapa Tontonan Lucu Ribuan Pasang Mata

Written By oyong liza on Sunday, 29 May 2016 | 16:19




Pantai Gandoriah Pariaman di hari kedua Festival Pesona Gandoriah (FPG) tahun 2016 kian ramai. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah penasaran ingin menyaksikan langsung lomba beruk memanjat kelapa, Minggu (29/5).

Lomba beruk memanjat kelapa diikuti oleh 31 peserta dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Tiga buah pohon pinang besar dimodifikasi puncaknya agar tandan buah kelapa menyangkut di atas. Penonton terlihat bersorak dan tertawa menyaksikan atraksi kelincahan beruk memilin jatuh buah kelapa dengan tangan dan kaki yang sama lincahnya. Ada pula beruk yang tidak mau memanjat meski diperintah tuannya berbagai cara. Mungkin beruk tahu batang pohon itu bukanlah pohon kelapa asli.





Animo masyarakat terlihat sangat tinggi pada perlombaan yang menggelitik pengunjung tersebut. Lomba beruk memanjat kelapa kerjasama antara Kodim 0308/Pariaman dengan pihak Pemko Pariaman.

Menurut Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Pariaman, Efendi Jamal, dalam perlombaan itu dewan juri akan menilai ketepatan waktu, cara berkomunikasi beruk dengan pemilik, kekompakan beruk dengan tuan, perlakuan pemilik terhadap beruk dan hasil buah yang dipetik oleh beruk. Beruk yang diperlakukan kasar oleh tuannya akan mendapat nilai rendah meski si beruk memetik kelapa dengan baik.

"Tukang baruak adalah suatu profesi masyarakat Pariaman yang hingga kini masih eksis. Profesi yang tidak bisa dipandang sebelah mata karena dari jerih payah beruk mampu menyekolahkan anak pemiliknya hingga lulus kuliah sebagaimana di Desa Taluak yang mana dengan profesi itu tiga anak mereka lulus kuliah. Sekarang lagi diliput Trans TV langsung ke rumahnya," ungkap dia.

Dikatakan Efendi Jamal, wisatawan yang datang ke Pariaman mayoritas dari Kota Padang yang menggunakan jasa transportasi kereta api. Kereta api selalu penuh sejak acara pembukaan festival yang dalam sehari tidak kurang mengangkut 5000 penumpang.

"Kemudian puluhan bus wisata, mobil pribadi dari berbagai daerah yang membuat parkiran di Gandoriah menjadi penuh. Selama masa festival kita optimis mampu lampaui target 50.000 pengunjung ke Gandoriah," sebut Efendi Jamal.

Festival Pesona Gandoriah akan dihelat hingga 1 Juni mendatang dengan menggelar 10 iven unik khas masyarakat pesisir pantai. 


Untuk hari kedua, ditambahkan Kepala Bidang Pemasaran dan Kerjasama Dinas Budpar Kota Pariaman, Zahirma, pihaknya selaku penyelenggara juga melakukan worshop (pelatihan) pada 200 anak-anak cara membuat dan mewarnai layang-layang yang diajarkan oleh tenaga ahli museum layang-layang nasional yang di datangkan langsung dari Jakarta.

"Untuk merangsang kreatifitas anak-anak ke arah yang positif. Tenaga ahli dari museum layang-layang nasional juga ajarkan cara mewarnai layangan dan membuat layangan kreasi seperti yang kita lihat saat ini. Usai dibuat langsung dimainkan oleh anak-anak," terang Zahirma.

Di samping itu, imbuhnya, dihari kedua juga digelar musik fiesta untuk menghibur wisatawan pengunjung festifal.

Terpisah, Kepala Seksi Promosi Dinas Budpar, Nesa Prima Dewi, menyatakan, Festival Pesona Gandoriah tiap hari dibuka dari pukul 08.00 hingga pukul 23.59 WIB.

"Dari sisi keamanan, selain Satpol PP, Festival Pesona Gandoriah juga dibantu 23 personil Polres Pariaman tiap hari. Selama acara berlangsung belum ada laporan kehilangan dan gangguan keamanan," kata Nesa.

OLP

Mardison: Warga Pariaman Turut Andil Majukan Pariwisata

Written By oyong liza on Saturday, 28 May 2016 | 19:05



Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyuddin akui pembangunan pariwisata berdampak positif pada peningkatan ekonomi masyarakat.

"Tiap tahun ada peningkatan jumlah pengunjung berwisata ke Pariaman. Dampaknya sudah dirasakan masyarakat, terutama masyarakat yang bermukim di zona wisata. Kemudian masyarakat sudah mampu menjadi marketing pariwisata di sosial media," kata Mardison di Pantai Gandoriah saat hadiri acara pembukaan Festival Pesona Gandoriah 2016, Sabtu (28/5).

Dia menilai, masyarakat juga tidak tinggal diam. Mereka mulai menjadi pelaku pariwisata dengan lahirnya berbagai komunitas yang menjadi elemen penting dalam pembangunan pariwisata itu sendiri.


"Sekarang banyak dijual kaos ajakan ke Pariaman yang diproduksi oleh masyarakat kita sendiri. Hal ini perlu kita apresiasi," sebutnya.

Ke depan, dengan semakin meningkatnya jumlah wisatawan, pihaknya bersama eksekutif berencana akan menambah sejumlah fasilitas di sepanjang pantai Gandoriah, Cermin, Kata dan kawasan lainnya yang sudah diprogreskan.

Imbuhnya, sepanjang ini DPRD selalu mengesahkan anggaran terkait pembangunan kepariwisataan.

"Infrastruktur penunjang seperti lahan parkir, penambahan taman dan fasilitas lainnya tentu harus dibangun mengingat kian hari Pariaman makin ramai dikunjungi wisatawan," jelasnya.

Terpisah, Rini (25) warga Pariaman Utara, meminta pemerintah juga menjadikan pesisir pantai utara Pariaman sebagai zona wisata sebagaimana pantai Gandoriah, Cermin dan Kata yang terintegrasi di bagian selatan.

"Wilayah utara tak kalah indah pantainya, tinggal menyatukannya saja lagi," kata dia.

Dia menyebut, dengan dibangunnya jembatan baru yang menghubungkan pantai Gandoriah dan pantai Pauh, akan membuka akses yang luas ke wilayah pantai utara.

"Saya itu berpikirnya begini. Sepanjang garis pantai Pariaman adalah kawasan wisata bahari yang punya keunikan masing-masing, namun belum dikelola," ungkapnya.

OLP

Berita Utama: Festival Pesona Gandoriah Masuk Kalender Wisata Nasional

Written By oyong liza on Wednesday, 25 May 2016 | 19:59




Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman lakukan rapat koordinasi pemantapan jelang pagelaran akbar "Festival Pesona Gandoriah" tahun 2016 yang akan digelar selama lima (5) hari, dari tanggal 28 Mei hingga 1 Juni ke depan, di Ruang Rapat Walikota, Rabu (25/5).

Rapat koordinasi dipimpin oleh Wakil Walikota Genius Umar, didampingi Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata, Efendi Jamal beserta jajaran, Kabag Humas, Yalviendri, juga melibatkan belasan wartawan dari berbagai media sebagai elemen tidak terpisahkan dari tujuan pertemuan itu digelar. Hampir separoh dari 15 wartawan yang hadir datang dari forum wartawan peduli pariwisata piaman (FWP3).

Genius Umar menyebutkan, pihaknya selaku penyelenggara pemerintahan di Kota Pariaman akan terus berupaya mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan ke Pariaman dengan menggelar berbagai iven, termasuk Festival Pesona Gandoriah yang baru saja masuk kalender pariwisata nasional mendampingi pesta budaya Tabuik, dan Pariaman Triathlon.

Dia menambahkan, untuk membangun pariwisata mesti menerapkan strategi marketing jangka panjang, bukan spontanitas demi keuntungan sesaat.

"Setiap iven yang digelar kami selalu berpikir PDRB (produk domestik regional bruto) atau perputaran uang yang terjadi di tengah masyarakat dibanding PAD (pendapatan asli daerah). Dengan meningkatnya PDRB berarti kita sukses membawa uang dari luar masuk dan berputar ke Pariaman," ungkapnya.

Dia mencontohkan suksesnya PDRB dengan pembangunan dermaga Pulau Angsoduo yang menelan biaya Rp4.5 milyar. Rp4 milyar dari anggaran pusat dan Rp500 juta dari APBD Kota Pariaman.

"Coba kita hitung PDRB nya. Dalam 1 minggu, pengunjung ke pulau sekitar 3000 wisatawan. Kita ambil minimnya mereka habiskan Rp100 ribu perkepala untuk ke pulau dan belanja. Jika dikalikan Rp100.000x3000= Rp300.000.000 dalam seminggu, sama dengan Rp1,2 milyar sebulan."

"Dengan jumlah itu artinya, dalam setengah tahun kita bisa datangkan uang berputar melebihi modal yang kita belanjakan. Kita untung. Kemana uang itu? Tentu mengalir kepada masyarakat melalui jasa, produk perdagangan dan PAD tentunya," urai Genius.

Di samping kalkulasi PDRB, dia juga mengungkap pentingnya menggali budaya asli masyarakat pesisir Pariaman. Budaya yang telah lama terkubur adalah nilai jual, sounding partner dalam kepariwisataan.

"Dari masukan rekan-rekan wartawan kita menyimpulkan pentingnya menjadikan permainan dan budaya tradisional yang hampir punah untuk segera dibangkitkan melalui kegiatan pariwisata," imbuhnya.

Diantara permainan dan kesenian budaya yang perlu dibangkitkan dalam iven pariwisata ke depan adalah, permainan gasiang, cabur, patok lele, permainan galuak, semba lakon, dll.
Sedangkan olahraga dan seni tradisional antara lain, toraik ombak (surfing tradisional), rabab galuak, silek, indang, si marantang dan berbagai seni tradisional lainnya yang akan diiventarisir oleh Pemko nantinya.

Peneliti dari FWP3 Muhammad Zulfikar meminta pihak Pemko Pariaman bersinergis dengan Polres Pariaman saat Festival Pesona Gandoriah berlangsung karena bertepatan dengan Operasi Patuh Jaya pihak kepolisian secara nasional.

"Pihak kepolisian harus dilibatkan dalam acara iven tersebut. Kita berharap pihak kepolisian tidak melakukan razia di zona pariwisata. Tentu harus ada regulasi antara Pemko dan Polres karena kedua pihak punya kewenangan masing-masing yang diatur oleh Undang-Undang," kata dia.

Di saat yang sama, koordinator advokasi FWP3 Oyong Liza Piliang meminta pihak penyelenggara memberikan akses yang luas kepada masyarakat atau wisatawan yang hendak menyaksikan iven tersebut dengan membuat manajemen pengunjung melalui akses keluar masuk yang mudah ke lokasi iven.

"Masyarakat harus tahu di mana akses keluar masuk yang mudah serta tempat memarkirkan kendaraan yang aman. Hal kecil ini jika luput dari perhatian, peristiwa Pariaman Triathlon 2015 akan kembali terulang di mana banyak calon pengunjung balik kanan karena sejumlah jalan masuk di palang," katanya.

Masih kata dia, dalam setiap iven sedapat mungkin kurangi kegiatan yang buang-buang waktu seperti seremonial pemberian kata sambutan yang silih berganti.

"Cukup satu atau dua pidato sambutan pendek saja, lalu langsung ke acara. Jika banyak-banyak, masyarakat jadi bosan. Sekarang zamannya to the point," pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Festival Pesona Gandoriah adalah festival bahari original masyarakat pesisir yang di tahun sebelumnya bernama "festival pesisir".

Festival Gandoriah 2016 akan memperlombakan 10 iven unik khas masyarakat pesisir pantai selama festival berlangsung.

Pada tanggal 28-29 akan diperlombakan festival layang-layang kreasi yang diikuti oleh lima negara yakni, Indonesia, Swedia, Amerika, Thailand dan Singapura. Layang-layang akan tetap mengudara pada malam hari dengan lampu kelap-kelip di tubuhnya.

Pada Festifal Pesona Gandoriah 2016 masih diperlombakan beruk memanjat kelapa, lomba masak gulai kepala ikan, lomba masak sala lauak, lomba lagu minang. Sedangkan perlombaan baru adalah olahraga surfing di pantai Mangguang, Pariaman Utara.

Festival Pesona Gandoriah juga bertabur hadiah untuk setiap pemenang lomba senilai total Rp115 juta. Acara yang didanai oleh APBD dengan nilai Rp554 juta tersebut dinilai berbagai kalangan akan mampu menarik puluhan ribu pengunjung selama hampir sepekan iven itu dilangsungkan.

OLP

Pariwisata Budaya, Membudayakan Pariwisata

Written By oyong liza on Friday, 20 May 2016 | 11:35





Pariwisata dan budaya adalah dua elemen tidak terpisah bak sisi mata uang. Pariwisata dan budaya adalah perkawinan abadi atau monogami.

Menjual pariwisata tanpa budaya adalah sesuatu yang sulit terwujud. Orang ingin ke Paris, Roma, Jepang, Bali karena ingin melihat kebudayaan setempat, baik dari sisi arsitektur, kesenian tradisional, religiun, kearifan lokal di samping keindahan alam.

Untuk Kota Pariaman sendiri begitu banyak potensi budaya dan kearifan lokal. Meski Pariaman bagian dari Minangkabau, spesifikasi sebagai masyarakat pesisir dan topografi ditambah sejarah yang melatar belakangi, punya keunikan tersendiri yang tidak dimiliki daerah lain selingkaran alam Minangkabau.

Potensi-potensi itu sekarang muncul kembali ke permukaan setelah sekian lama terkubur oleh pengaruh budaya luar. Masyarakat menyadari budaya mereka adalah sebuah kekayaan. Mereka berfikir buat apa meniru budaya global yang bukan jati diri mereka. Orang-orang bergaya ke barat-baratan mulai dipandang kolot, sok modis dan KMS (ka ma salamoko).

Sekarang di Jawa orang zamannya memakai blankon, bukan pamer rambut metal dangdut, belakang gondrong depan cepak, atau talmet, belakang gondrong depan Adi Bing Slmet (depan berponi).

Di Pariaman, anak-anak mulai bermain patok lele, cabur, semba lakon, gasiang. Itu permainan seru yang diwariskan turun temurun oleh leluhur rang Piaman.

Olahraga beladiri mereka kembali ke silat. Silat atau silek banyak alirannya, sebut saja silek harimau, ulu ambek, kumango, silek tuo, silek sunua, dan aliran lainnya. Pesilat asli bisa menangkap pisau dengan giginya, bisa membunuh sekali pukul. Silek Piaman adalah silek baradaik, semakin tinggi ilmu sileknya makin rendahlah hatinya. Gabungan filosi dan beladiri.

Suatu ketika ada seorang teman dari Riau satu sekolahan dengan saya dulunya di Pekanbaru. Dia teman karib dari SD hingga SMP. Datanglah dia ke Pariaman lebaran tahun 2015. Kekaguman dia adalah adanya stasiun kereta api aktif peninggalan Belanda di Pariaman menghadap pantai Gandoriah pula.

"Coba kawan cari stasiun kereta api mana di Indonesia yang menghadap pantai?," tanya dia waktu itu.

Dari pertanyaannya saja sudah membuat saya bangga. Langsung kembang lobang hidung saya. Sesaat kemudian saya ceritakan sejarah awal mula kereta api di Pariaman dibangun.
 

Saya ceritakan kereta api ganefo dulunya yang selalu minum di stasiun Pariaman meski saya sendiri belum pernah menyaksikannya. Perihal kereta api minum, Walikota Mukhlis paling banyak tahu. Menyaksikan kereta api minum salah satu tontonan menarik baginya semasa kecil. Penuturan itu dia ceritakan dengan perasaan mendalam di hadapan publik suatu ketika.

Sang karib, saya bawa ke makam Syekh Burhanuddin, melihat beberapa benteng peninggalan Jepang di Pariaman, mengunjungi makam panjang dan sumur tua di Pulau Angsoduo. Selebihnya berwisata kuliner. Dua hari dia di Pariaman saya inapkan di sebuah hotel yang saya nilai paling bersih. Bersama istri dan dua anaknya dia kembali ke Riau membawa salah satu momen terbaik dalam hidupnya.

Itulah kebudayaan yang selalu tidak lepas dengan sejarah. Kehausan akan sejarah akibat manusia zaman kini sudah jengah dengan alam modern. Orang berwisata berburu ke Afrika menyaksikan kehidupan alam liar di Padang Khalahari. Menyaksikan perkasanya singa dan ceetah sebagai makhluk tercepat di darat dalam berburu.

Orang mulai mengunjungi gua-gua pra sejarah di pedalaman Amazon menyaksikan painting manusia purba di dinding gua. Mereka mulai menggali budaya nenek moyang dengan ilmu sejarah.

Di Kota Pariaman, nilai-nilai budaya belum tergerus zaman terlalu dalam. Sangat mudah dibangkitkan. Pariaman adalah sebuah kota yang memiliki jati diri karena sejarah panjangnya sebagai kota tua maritim. Di sini ada kuburan Belanda dan kuburan Cina yang benar-benar orang Belanda dan Cina dimakamkan di sana. Ada banyak sejarah dan budaya mewarnai perjalan Pariaman dari abad ke abad.

Itulah dia wisata dan budaya. Pariaman memiliki keduanya.

Oyong Liza Piliang

Padangpariaman Siapkan Konsultan Buat Masterplan Pariwisata

Written By oyong liza on Friday, 13 May 2016 | 13:25

Wabup Suhatri Bur mengenalkan Pantai Tiram sebagai pusat destinasi pariwisata di Ulakan Tapakis, Jumat (13/5).
Sektor pariwisata mesti menjadi prioritas pembangunan di Padangpariaman ke depan. Sebab Padangpariaman memiliki potensi destinasi pariwisata yang menjanjikan.

"Apalagi didukung dengan keberadaan bandara internasional minangkabau (BIM). Bila dikelola dengan tepat, maka akan mendatangkan keuntungan terhadap pendapatan asli daerah (PAD)," ungkapkan Wakil Bupati Suhatri Bur usai meninjau kawasan wisata bahari Pantai Tiram di Ulakan, Jumat (13/5).

Kata dia, saat ini pihaknya berkomitmen kuat untuk memajukan pariwisata Padangpariaman. Di Ulakan Tapakis saja, imbuh dia, wisatawan menikmati dua destinasi wisata sekaligus, yakni wisata religius di makam Syekh Burhanuddin dan wisata kuliner di zona Pantai Tiram yang teduh.

Dia menuturkan, Pemkab Padangparaiaman saat ini sedang siapkan masterplan kawasan wisata bekerjasama dengan konsultan sesuai khas daerah. Kemudian memperkuat marketing untuk promosi atau pemasaran ke luar.

"Kita perlu strategi pemasaran pariwisata, tidak perlu meniru-niru apa yang dibuat daerah lain. Fokus pada ke khasan dan potensi daerah," ungkapnya.

Hal yang tak kalah penting untuk memajukan pariwisata, kata Suhatri Bur, yaitu kesiapan sarana dan prasarana dan kesiapan masyarakat. Artinya, infratruktur di objek-objek wisata harus dibenahi seperti jalan, toilet, tempat sampah dan lain sebagainya.

"Masyarakat pun harus dilibatkan untuk menjaga infrastruktur yang telah dibangun. Contoh, toilet yang ada di Ulakan ini harus benar-benar bersih dan jangan sampai kotor. Ini bisa menganggu kenyamanan wisatawan," kata putra Pakandangan itu.

Sinergitas antara pemerintah daerah, media, akademisi, pengusaha dan penggiat pariwisata didorong untuk pemberdayaan masyarakat dan edukasi terhadap pariwisata.

"Pemda tidak bekerja sendiri memajukan pariwisata. Perlu sinergitas stakeholders untuk konsisten meningkatkan daya saing destinasi wisata," pungkasnya.


HA/OLP

FWP3 Dibentuk: Produser Net TV Sebut Wartawan Piaman Pelopor Pewarta Kemajuan Daerah

Written By oyong liza on Monday, 18 April 2016 | 20:11



Forum Wartawan Peduli Pariwisata Piaman (FWP3) resmi dibentuk dengan 16 orang anggota di Kantor PWI Pariaman, Jl. SB. Alamsyah, Kp. Belacan, Pariaman Tengah, Senin (18/4).

Menurut Ketua PWI Pariaman, Ikhlas Bakri, salah satu inisiator FWP3, menyebut, pada prinsipnya tujuan forum sudah dijalankan jauh hari sebelumnya, tapi belum terorganisir.

"Pada Pesta Budaya Tabuik 2015 kita menjamu dan menemani wartawan dari seluruh nusantara untuk meliput agenda pariwisata terbesar Pariaman disamping para anggota forum mempublikasikan potensi wisata yang ada selama ini," kata Ikhlas saat menerima kunjungan Kabag Humas Kota Pariaman Yalviendri dan staf Asrif Damrah.

Dia menuturkan dengan adanya FWP3 pihaknya menginginkan terbentuknya sinergitas antara pemerintah, pelaku pariwisata dan forum demi kemajuan daerah. FWP3 akan dikukuhkan di Pulau Angso Duo setelah koordinator dan peneliti di FWP3 dirampungkan oleh anggota forum dalam waktu dekat.
 

Untuk mendukung terciptanya penyelenggaraan pariwisata berkualitas maksimal di Pariaman, pihaknya akan fokus pada pengembangan pembangunan yang menunjang sektor pariwisata sekaligus kritis jika pembangunan yang dilakukan punya dampak kepada lingkungan.


"Sebagai seorang wartawan kami akan tetap kritis dan menjalani tugas pokok jurnalistik yang taat kode etik," pungkasnya.

Sementara itu, produser senior NET TV, Febry Arifmawan (35), di Jakarta, saat dihubungi via seluler mengatakan, wartawan Piaman dia nilai punya semangat dalam mendukung kemajuan dunia pariwisata di daerahnya.

Feby yang pernah meliput potensi budaya dan wisata selama beberapa hari di Kota Pariaman, dengan berdirinya FWP3, kata dia, wartawan Piaman adalah pelopor pewarta kemajuan daerah.

Dia menyebut, meskipun Pariaman belum kota destinasi wisata, tapi punya potensi besar jika konsentrasi membangun pariwisata berbasis maritim.

"Bersama FWP3 saya optimis hal itu akan terwujud. Wartawan Pariaman yang saya kenal orangnya baik-baik dan sangat antusias melihat potensi daerahnya," sebutnya.

Inisiator FWP3 lainnya, praktisi media Oyong Liza Piliang mengatakan bahwa profesi wartawan tidak hanya sekedar pekerja pers saja.

"Jika ingin menapak selangkah lagi, wartawan adalah pelaku sejarah yang sejalan dengan karier kejurnalistikannya," kata dia.

Menurutnya, seorang wartawan punya kewajiban untuk mengangkat potensi daerah di setiap wilayah peliputannya.


"FWP3 adalah wadah positif bagi wartawan," tandasnya.

TIM

Lipsus: Puteri Indonesia dan Puteri Indonesia Pariwisata Pulang Kampung ke Pariaman

Written By oyong liza on Saturday, 16 April 2016 | 13:57

HUT IBI Ke-65 dihadiri Puteri Indonesia dan Puteri Indonesia Pariwisata 2016


Puteri Indonesia 2016 Kezia Roslin Cikita Warouw dan Puteri Indonesia Pariwisata 2016 Intan Aletrino berkunjung ke Kota Pariaman dalam lawatan pertamanya sejak menyandang ratu nusantara, Sabtu (16/4). 

Keke dan Intan disambut siriah carano


Kunjungan pertama "duo ratu" tersebut anugrah bagi Kota Pariaman karena merupakan ayunan langkah perdana lawatan mereka selama menyandang mahkota tersebut ke seluruh pelosok tanah air sejak dinobatkan 19 Februari 2016 lalu.



Diiringi sejumlah rombongan dari Yayasan Puteri Indonesia Jakarta, Puteri Indonesia bersama Putri Pariwisata tersebut ke Pariaman dalam rangka hadiri seminar ilmiah HUT Ikatan Bidan Indonesia cabang Kota Pariaman ke-65 di aula utama Balaikota Pariaman.




Disamping itu mereka juga kampanyekan gerakan anti narkoba dan pelopor keselamatan berlalu lintas inisiator Kapolres Pariaman AKBP Rico Junaldy dan Kepala BNK Kota Pariaman Genius Umar.


Dua Puteri dukung perang narkoba dan selamat berkendara


Walikota Pariaman Mukhlis Rahman didampingi Sekdako Armen, sejumlah Kepala SKPD, Ketua T-PKK Reny Afdal MR dan Ketua GOW Lucy Genius merasa bangga atas kedatangan dua puteri tersebut ke Pariaman apalagi Puteri Pariwisata Indonesia Intan Aletrino adalah urang awak yang pernah menyabet duta wisata Pariaman tahun 2010 dalam ajang Cik Uniang Cik Ajo.




"Kota Pariaman adalah kota kecil dengan jumlah penduduk 95.000 jiwa dan panjang garis pantai 12,6 km. Bukan kota kaya sumber daya alam. Menyadari hal itu kami gencar lakukan berbagai kegiatan agar orang ramai berkunjung ke Pariaman yang kaya potensi wisata dan budaya," kata Mukhlis.




Dia menuturkan, disamping mewujudkan Pariaman sebagai kota wisata pihaknya juga menjadikan Pariaman sebagai kota sehat dibuktikan berbagai program di bidang kesehatan telah ditelurkan sejak lama seperti Jaminan Kesehatan Sabiduak Sadayuang yang memastikan setiap warganya berobat gratis hanya dengan memperlihatkan KTP.

"Bidan punya peran besar dalam hal ini," ungkapnya.

Intan Aletrino, dara kelahiran Venlo, Belanda 30 Juni 1993 yang notabene runner up Puteri Indonesia 2016 peraih setengah lusin award di bidang modeling itu, meyebut kedatangannya ke Pariaman ibarat pulang kampung saja.

Kata dia, pariwisata Pariaman dengan hastag #Ayokepariaman adalah strategi marketing luarbiasa yang dilakukan di media sosial secara massif, baik oleh pemerintah maupun masyarakat Pariaman sendiri di seluruh pelosok nusantara.

"Bagi saya tanpa diminta pasti akan tetap mempromosikan pariwisata Kota Pariaman karena saya adalah mantan duta wisatanya Kota Pariaman tahun 2010," kata Intan tersenyum.

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas itu mengatakan, bidang kesehatan dan pendidikan kunci utama kemajuan suatu daerah.

"Orang yang sehat dan cerdas akan memancarkan kecantikan dari dalam. Kecantikan tubuh tidak abadi," ungkap dia bijak.

Sementara itu, Puteri Indonesia Kezia Roslin Cikita Warouw yang sebentar lagi akan mengikuti ajang Miss Universe 2016, menyebut kedatangannya ke Pariaman adalah sesuatu yang besar dan disyukurinya.

"Disamping menemani teman saya Intan pulang kampung," ungkap dara asal Sulawesi Utara kelahiran Jakarta pada 18 April 1991 ini.

Pemilik tinggi 183cm yang hobi membaca, nonton, travelling dan catwalk itu berharap kepada seluruh warga Pariaman bangga memiliki daerahnya yang dikarunia alam dan budaya sangat kaya.

"Semua orang Pariaman harus menikmati Pariaman. Kunjungi seluruh objek wisata Pariaman. Dengan rasa memiliki dan menikmati kita akan takut kehilangan," ujar Keke karib ia disapa.

Disamping itu, ajak dia, sebagai orang Pariaman juga wajib menggunakan produk asli daerahnya dengan rasa bangga.

"Seperti gaun indah yang saya kenakan ini asli buatan Pariaman," ujarnya meyakinkan.

Acara yang berlanjut hingga kompoi sepeda motor itu diakhiri dengan sesi foto bersama dan rangkaian seremonial lainnya.

OLP

Topik Terhangat

postingan terdahulu