Penilaian Gerakan PKK Kota Pariaman ke Tingkat Provinsi Berlangsung Sukses
Ny Nevi Irwan Prayitno bersama Walikota Mukhlis dan Ny Reni Mukhlis hadiri penilaian Gerakan PKK tingkat Sumbar. Foto/Phaik.
Pariaman ----- Berbagai upaya telah dilakukan kader-kader PKK dalam rangka peningkatan ketahanan keluarga dan ketahanan pangan tingkat desa dan kelurahan. Upaya tersebut selalu mendapat dukungan dari Pemko Pariaman, apalagi walikota merupakan dewan pembina di PKK.

"Sebagai dewan pembina, kita memiliki kepentingan dan perhatian besar dalam memfasilitasi dan mendorong gerakan PKK agar terus tumbuh dan berkembang," ujarnya di Pariaman Selatan saat penilaian Gerakan PKK Tingkat Provinsi Sumatera Barat 2018 yang dihadiri langsung oleh Ketua PKK Sumbar Nevi Prayitno.

PKK menurutnya juga memiliki kontribusi dalam menyukseskan visi misi pembangunan, terlebih ketika pihaknya dihadapkan dinamika permasalahan yang berkembang di masyarakat yang harus diatasi secara stimulan.

"Dengan diadakannya penilaian gerakan PKK akan meningkatkan motivasi jajaran pemerintah daerah dan masyarakat untuk lebih giat lagi mengintegrasikan kegiatan pada gerakan PKK di Kota Pariaman," katanya.

Nevi Irwan Prayitno menyampaikan bahwa kunjungan dia tidak sebatas menilai gerakan PKK 2018, tetapi juga mempererat hubungan silaturahmi dan menciptakan rasa kebersamaan dengan sesama kader PKK dalam semua tingkatan.

Pelaksanaan kegiatan di setiap lokasi, kata Nevi, mesti mengacu kepada 10 program pokok PKK. Mulai dari kelembagaan dan administrasi PKK, sampai kepada kegiatan Pokja I, II, III, dan IV.

Penilaian yang dilakukan, imbuh Nevi, mencakup lima kategori. Yakni Lomba Tertib Administrasi PKK, Lomba Pola Asuh Anak dan Remaja dengan Penuh Cinta dan Kasih dalam Keluarga, Lomba Usaha  Peningkatan Pendapatan Keluarga, Lomba Hatinya PKK dan Lomba Pelaksanaan IVA Test .

Adapun nama-nama desa di Kota Pariaman yang masuk dalam penilaian Gerakan PKK tingkat Provinsi Sumbar di Kecamatan Pariaman Selatan meliputi Desa Simpang, Desa Rambai, Desa Batang Tajongkek. Untuk Pariaman Timur Desa Kaluaik dan Desa Balai Nareh untuk Kecamatan Pariaman Utara. (Phaik/OLP)
Desa Nareh Hilir Juara MTQ Tingkat Pariaman Utara
Kakankemenag Kota pariaman M.Nur menyerahkan piala bergilir kepada Kepala Desa Nareh Hilir Hilman Marjalis
Pariaman ----- Desa Nareh Hilir raih juara umum MTQ tingkat Kecamatan Pariaman Utara ke-8. Desa Nareh Hilir mampu mengalahkan 16 peserta dari 17 desa yang ada, posisi kedua diraih oleh Desa Sikapak Barat yang merupakan peraih juara tahun sebelumnya.

Dari 17 desa yang ada di Kecamatan Pariaman Utara, hanya satu desa yang tidak mengikuti dan mengirimkan perwakilannya yaitu Desa Ampalu.

Kemenag Kota Pariaman Muhammad Nur, mengatakan dari peserta pemenang akan dibawa ke tingkat MTQ yang lebih tinggi. Dari tingkat kota, provinsi, nasional, bahkan internasional.

"Tujuan MTQ adalah bagaimana anak-anak kita menjadi masyarakat yang qur'ani yang paham dan mengerti dengan Alquran," ujarnya, Senin (23/4).

Ia berkata, juara yang diraih peserta bukan tujuan paling utama. Menjadi juara jangan sampai menghilangkan pahala apalagi menjadi riya.

Camat Pariaman Utara Hilman Syura mengatakan, bagi desa yang tidak mengutus perwakilannya MTQ sama saja dengan membunuh generasi muda mereka terhadap pengetahuan agama.

"Ilmu agama sangat penting ditanamkan bagi generasi muda," ungkapnya.

Ketua Panitia MTQ Pariaman Utara Amrizal mengatakan, MTQ tidak sebatas lomba membaca Alquran. Akan tetapi memaknai kandungan ajaran dalam Alquran itu sendiri untuk dijadikan pedoman hidup.

"Berjalan lurus dengan ajaran agama dapat menghindari pengaruh pergaulan remaja yang sangat buruk seperti narkoba, tindak asusila dan moralitas," kata dia. (Eri/OLP)
UNBK Tingkat SMP 100% di Kota Pariaman
Walikota Mukhlis Rahman dan Kepala Dinas Dikpora Kanderi meninjau UNBK di SMP 1 Pariaman. Foto/Eri Elfadri
Pariaman ---- Seluruh pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Pariaman sudah mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 ini. Hal tersebut dibenarkan oleh Walikota Pariaman Mukhlis Rahman saat meninjau pelaksanaan hari pertama UNBK tingkat SMP di SMP Negeri 1 Pariaman, Senin (23/4).

"Tahun 2017 lalu UNBK belum bisa dilaksanakan seratus persen karena keterbatasan sarana dan prasarana, namun tahun ini seluruh siswa SMP sudah mengikuti UNBK. Empat SMP melakukannya secara mandiri selebihnya kita tumpangkan ke sekolah-sekolah lain yang memiliki cukup komputer," ujarnya.

Ia mengungkapkan semua siswa yang mengikuti UNBK terlihat tenang karena mereka sudah akrab dengan komputer. Tidak gagap dan canggung lagi dengan ujian nasional.

"UNBK berjalan lancar dan mudah-mudahan tidak ada masalah hingga usai pelaksanaan UNBK. Kota Pariaman juga sudah menyurati PLN agar tidak memadamkan listrik selama UNBK," sambungnya.

Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Pariaman Rostina, menyatakan bahwa dalam UNBK tidak ada peluang kebocoran soal ujian.

"Karena secara serentak pada pukul 7.30 token soal baru dibagikan kepada peserta ujian," ujian.

Sebanyak 18 SMP dan 2.312 pelajar SMP di Kota Pariaman mengikuti UNBK. Sembilan SMP Negeri, dua SMP Swasta, tiga MTs Negeri dan empat MTs Swasta.

Sekolah yang telah ditunjuk sebagai pelaksana UNBK antara lain SMPN 1, SMPN 4, SMPN 5, SMPN 6, SMAN 1, SMAN 2, SMAN 6, SMA Manunggal Bakti, SMKN 1, SMKN 2, SMKN 3 dan SMKN 4 Pariaman. Sementara sekolah lainnya masih meminjam gedung labor di SMA ataupun SMK di Kota Pariaman.

Mata pelajaran yang diujikan pada UNBK tingkat SMP/MTS pada tanggal 23 April hingga 26 April 2018 terdiri dari bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris dan IPA. (Tim/OLP)
[Editorial] Menjaga Keseimbangan Alam Demi Kelanjutan Pariwisata Pariaman
Foto salah satu kegiatan aksi bersih bersih pulau dan penanaman terumbu karang. Foto/istimewa

Oleh Oyong Liza Piliang
Rasanya bisa disebut, susah mencari orang yang tidak mengenal Pulau Angsoduo Pariaman di "Jaman Now". Terutama mereka yang aktif di media sosial. Popularitas pulau seluas 1,8 hektare tersebut melejit sekitar 4 tahun belakangan seiring masifnya pembangunan infrastruktur di pulau berjarak 1,6 mil dari bibir Pantai Gandoriah itu.

Seiring perkembangan media sosial, jutaan foto Pulau Angsoduo telah menyebar di Facebook, Instagram, Twitter dan catatan segar para blogger. Pulau Angsoduo salah satu aset terbesar milik Pariaman di bidang kepariwisataan. Ia juga penggedor utama dan pengungkit sektor wisata lainnya.

Jika kita mengetik "pulau angso duo pariaman" di google, dalam 0,38 detik, sekitar 34.600 halaman siap menjadi sumber rujukan informasi. Jika kita klik google image, tiada yang bisa menahan hasratnya untuk selekas mungkin berkunjung ke sana.

Pulau Angsoduo kaya akan nilai-nilai sejarah dengan adanya 9 makam bernisankan tulisan Arab Melayu. Makam Panjang Katik Sangko bahkan melahirkan ragam aroma mistis. Keyakinan pulau dihuni dalam rentang waktu lama, dikuatkan dengan adanya sumur yang terbuat dari susunan kerang. Airnya jernih dan bahkan ada paranormal yang mengatakan jika mencuci muka dengan air sumur tersebut akan mudah rejeki dan penghilang sial. Mengenai hal berbau mistis tersebut, wallahualam.

Pulau Angsoduo telah menjadi studi pelbagai disiplin ilmu. Peneliti kebangsaan Irlandia Tom Corcoran, bersama Wiva dari Irlandia, Jered dari Amerika dan Mark dari Australia dalam ekspedisi National Geographic Explore, Januari 2015, melakukan penelitian di Pulau Angsoduo dan Pulau Kasiak.

Saat itu mereka meneliti dampak kerusakan terumbu karang oleh kegiatan nelayan yang tidak bertangungjawab seperti menggunakan bahan peledak. Tim saat itu melakukan dua sesi penyelaman: siang dan malam guna melihat aktivitas biota laut termasuk micro plankton. Penyelaman malam hari untuk meneliti reproduksi koral karena terumbu karang bereproduksi pada malam hari.

Di samping organisasi sekelas Natonal Geographic, tim ekspedisi Merah Putih Pariaman bersama Tabuik Diving Club juga melakukan hal yang sama. Penanaman terumbu karang mulai dilakukan. Turut pula korps Marinir. Puluhan penyelam marinir terlatih dikerahkan waktu itu.

Upaya penyelamatan pulau dengan kekayaan biota lautnya kadang tidak sejalan dengan eksploitasi wisata yang berlebihan di pulau tersebut. Banyak wisatawan yang belum menyadari pentingnya biota laut demi keseimbangan pulau. Tak jarang wisatawan mandi di kawasan terumbu dan menginjak-injak terumbu karang, membuang sampah ke laut dan mencabuti terumbu untuk di bawa pulang sebagai buah tangan.

Jika hal tersebut terus dibiarkan tentu saja kerugian besar siap menghadang Pemko Pariaman dan warganya. Kerusakan terumbu karang bukan perkara tidak serius. Butuh puluhan tahun untuk pemulihannya.

Peningkatan kesadaran dan partisipasi pengunjung perlu diintensifkan saat mengunjungi pulau. Dalam hemat kami, peranan itu bisa di awalai dengan membuat satgas pecinta terumbu karang yang di motori oleh Pemko Pariaman melibatkan aktivis yang sudah punya andil saat ini.

Di samping itu diperlukan pula sosialisasi sejak dini guna menanamkan arti dan manfaat terumbu karang bagi kelangsungan hayati warga pesisir sejak masa kanak-kanak bagi warga Pariaman. Dengan kesadaran warga yang tinggi, tentu akan diteruskan kepada setiap pengunjung pulau. Rasa memiliki oleh warga adalah formulasi terbaik dalam menjaga daerahnya.

Kemudian memperkuat koordinasi antar instansi yang berperan pada penanganan terumbu karang. Baik pengelola daerah, aparat keamanan, pemanfaat sumber daya dan pemerhati lingkungan. Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan rehabilitasi terumbu karang juga diperlukan untuk penanganan yang komprehensif dan berkesinambungan.

Di samping itu, aspek penegakan hukum juga diperlukan sebagai langkah akhir. Komponen ini dipandang sangat krusial guna mencapai tujuan rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang jangka panjang. Masyarakat memegang peranan penting sebagai pengamat terumbu karang atau reef watcher, di mana mereka berkewajiban meneruskan fakta pada penegak hukum tentang pelanggaran yang mengganggu kelangsungan hidup terumbu karang di daerahnya.

Semua hal tersebut tentu bukan perkara mudah menjalankannya. Perlu formulasi dan kesadaran bersama.

Menjual pariwisata dengan mengabaikan lingkungan adalah sebuah lelucon. Tidak akan bertahan lama. Hanya bersifat insidential yang lekas sirna. (***)
[Berita Utama] Angsoduo: Wisata, Sejarah, Ekotourism Berbagai Disiplin Ilmu
WalikotaMukhlis Rahman foto bersama dengan alumni Biologi FMIPA UNAND angkatan 78 di Dermaga Pulau Angso Duo. Foto/Eri Elfadri.
Pariaman --- Kota Pariaman selalu berbenah dalam meningkatkan kunjungan wisatawan--salah satunya dengan pengembangan konsep ecotourism. Acapkali berbagai studi bertemakan lingkungan hidup digelar di Pariaman oleh pelbagai tingkatan disiplin ilmu.

Sebanyak 200 mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Riau (UNRI), dan 40 alumni FMIPA UNAND angkatan 78-79 mengadakan aksi sosial bersih-bersih Pulau Angsoduo, Sabtu (21/4).

Selain aksi peduli lingkungan, rombongan ini juga melakukan penanaman dan pemberian nama mangrove di hutan mangrove Pariaman di kawasan Penangkaran Penyu.

Walikota Pariaman Mukhlis Rahman---salah satu Alumni FMIPA UNAND angkatan 78-79---mengatakan, ajang tersebut sekaligus dimanfaatkan ajang silaturahmi para alumni. Saat ini para alumni tentu telah menyebar di berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, kata Mukhlis, pihaknya mengapresiasi Universitas Riau yang telah menunjuk Kota Pariaman sebagai tempat praktek lapangan bagi mahasiswanya. "Hal itu akan menjadi kegiatan yang sarat akan nilai positif di samping kunjungan wisata," ucap Mukhlis.

Dalam upaya menjaga kebersihan pulau secara parsial, imbuh Mukhlis, ke depan pihaknya akan memberikan kantong plastik kepada setiap pengunjung pulau ketika akan berangkat dari dermaga Pantai Gandoriah.

"Sehingga pengunjung akan membawa kembali kantong plastik tersebut yang berisi sampahnya selama di pulau,” ungkapnya.

Peserta aksi bersih Pulau Angsoduo tampak menikmati seluruh rangkaian acara di pulau yang memiliki luas 1,8 hektare tersebut. Pulau hanya berjarak 1,6 mil laut dari bibir pantai Gandoriah.

Ketua Jurusan Biologi FMIPA UNRI yang juga Dosen Biologi Radit Mahatma, mengaku keindahan Pulau Angsoduo begitu memesona. Ia juga terkesan dengan bentang alam Pariaman saat dilihat dari gugus pulau tersebut.

“Pulau Angsoduo sudah amat terkenal di dunia maya. Siapa yang tak kenal Pulau Angsoduo di "jaman now". Dengan adanya dermaga, penataan yang rapi, keanekaragaman hayati yang terjaga, begitu mengesankan bagi saya," ucapnya.

Lain lagi dengan mahasiswa Biologi FMIPA UNRI Abrar Yusra. Ini adalah kunjungan perdana baginya. Abrar berkata, air yang jernih membuatnya menceburkan diri berenang sambil melihat biota laut yang ada. Ia juga menemukan karang lunak yang ia ambil sampelnya untuk diteliti.

“Kondisi ini harus terus dijaga. Penelitian nantinya dapat dijadikan solusi atau rekomendasi kepada Pemko Pariaman untuk menjaga terumbu karang yang ada di pulau sehingga timbul kesadaran para wisatawan dan pengunjung pulau untuk menjaga kebersihan dan keanekaragaman hayati yang ada," sebutnya.

Sampah yang dikumpulkan dalam kegiatan itu langsung diangkut ke darat menggunakan kapal wisata dibantu oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pariaman. Kapal BPBD juga andil dalam kegiatan tersebut. 

Pulau Angsoduo selain ikon utama wisata Pariaman juga menjadi lokus berbagai disiplin ilmu. Di antaranya ilmu sejarah yang meneliti keberadaan makam dan peradaban pulau, ilmu parapsikologi yang mengkaji hal-hal mistik, hingga pakar ilmu alam yang dikirim langsung oleh National Geographic guna meneliti ragam biota laut di pulau itu.

Di Pulau Angsoduo, sebagaimana diketahui terdapat makam panjang Katik Sangko. Selain makam Katik Sangko juga terdapat sekitar 9 makam lagi yang dinisannya bertuliskan Arab Melayu merujuk abad ke-14.

Selain makam, di pulau tersebut terdapat satu sumur "keramat". Bagaimana tidak, sumur berair jernih itu dibuat dari susunan kerang yang belum diteliti secara pasti berapa umurnya.

Wakil Walikota Pariaman non aktif Genius Umar, suatu ketika pernah mengatakan bahwa peradaban Pulau Angsoduo erat kaitannya dengan perjuangan pengembangan agama Islam di pesisir Pulau Sumatera.

"Hal ini telah diteliti dan dipublikasikan secara luas oleh media nasional dan media televisi asing. Pulau Angsoduo bukanlah mitos, tapi bagian dari sejarah pengembangan agama Islam pertama di pesisir Sumatera," ungkapnya waktu itu. (Tim)
Perkenalkan "Sang Sura", Pagelaran Seni Budaya KPU Pariaman Berlangsung Sukses
Ketua KPU Kota Pariaman Boedi Satria perkenalkan maskot Pemilu serentak 2019 "Sang Sura"
Pariaman ---- Pagelaran seni dan budaya menyonsong tahun pemilu 2018 di Kota Pariaman berlangsung meriah.
         
Dalam pagelaran yang dipusatkan di Panggung Utama Pantai Gondariah ini, sejumlah kesenian tradisional Pariaman seperti indang dan kesenian gandang tasa bertemakan pemilu serentak 2019. Pagelaran ditutup lagu minang oleh artis minang Rayola.
         
Ketua KPU Kota Pariaman, Boedi Satria mengatakan pagelaran seni dilaksanakan secara serentak se Indonesia menyambut tahun pemilu serentak 2019 pada 17 April 2019 mendatang.
       
 "Diselenggarakan untuk menyonsong tahun pemilu serentak 2019," kata Boedi, Sabtu (21/4) siang.
         
Boedi berkata, berbagai tahapan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden pun telah dilakukan oleh KPU. Tahapan awal, penerimaan dan verifikasi parpol calon peserta pemilu selesai dilaksanakan. 16 parpol akhirnya ditetapkan sebagai peserta pemilu 2019.
          
Saat ini, kata dia, tahapan yang berlangsung adalah penyusunan data pemilih pemilu serentak 2019. Penyusunan data pemilih dilakukan dengan pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih. Berbeda dengan daerah lain, KPU Kota Pariaman tidak melakukan coklit, seperti yang dilakukan KPU lain.
       
"Kita sudah melakukan coklit dalam tahapan pilkada 2018. DPT pilkada yang telah kita tetapkan saat ini, akan dijadikan DPS pemilu serentak 2019," ulasnya.
         
Ia mengajak pihak terkait mensukseskan rangkaian kegiatan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden 2019 dengan mensosialisasikan secara luas tahapan pemilu serentak 2019.
         
"Keberhasilan penyelenggaraan tidak hanya menjadi tanggung jawab penyelenggara saja, namun perlu dukungan seluruh pihak," pintanya.
        
Dalam pagelaran itu, KPU Kota Pariaman juga memperkenalkan "Sang Sura" yang menjadi maskot Pemilu Serentak 2019, motto dan jingle pemilu 2019 yakni "pemilih berdaulat negara kuat" dan jingle berjudul "pemilih berdaulat negara kuat".
       
Asisten I Sekretariat Daerah Kota Pariaman Yaminu Rizal mengatakan jika pesta demokrasi 2019 bukan beban penyelenggara saja.
       
Apalagi kata dia penyelenggaraan pemilu serentak 2019 berat karena berisisan dengan tahapan pemilihan walikota dan wakil walikota Pariaman 2018.
      
"Seluruh pihak bertanggung jawab mensukseskan pemilu serentak ini. Ini adalah tahun politik, kita harus mendukung secara bersama-sama," katanya.
        
Ia menyebut, partisipasi politik masyarakat merupakan indikator peningkatan kualitas penyelenggaran pemilu. Namun hingga saat ini, partisipasi pemilih masih menjadi persoalan dalam setiap penyelenggaraan pemilu.
       
"Keterlibatan ataupun partisipasi menjadi permasalahan pada sejarah penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Untuk mengoptimalkan hal tersebut diperlukan dukungan seluruh pihak agar partisipasi masyarakat aktif," ujarnya.
        
Di samping itu, ia mengimbau parpol peserta pemilu 2019 melakukan pendidikan politik kepada masyarakat dan menjaga situasi agar kondusif selama pemilu berlangsung. Tidak saling hujat antar caleg atau pun ikut menyebar berita bohong terhadap lawan politik.
        
"Kampanye harus mendidik, jangan ada praktik kampanye hitam, karena yang jadi peserta adalah dunsanak kita juga," katanya. (Nanda)