Penilaian Gerakan PKK Kota Pariaman ke Tingkat Provinsi Berlangsung Sukses
Ny Nevi Irwan Prayitno bersama Walikota Mukhlis dan Ny Reni Mukhlis hadiri penilaian Gerakan PKK tingkat Sumbar. Foto/Phaik.
Pariaman ----- Berbagai upaya telah dilakukan kader-kader PKK dalam rangka peningkatan ketahanan keluarga dan ketahanan pangan tingkat desa dan kelurahan. Upaya tersebut selalu mendapat dukungan dari Pemko Pariaman, apalagi walikota merupakan dewan pembina di PKK.

"Sebagai dewan pembina, kita memiliki kepentingan dan perhatian besar dalam memfasilitasi dan mendorong gerakan PKK agar terus tumbuh dan berkembang," ujarnya di Pariaman Selatan saat penilaian Gerakan PKK Tingkat Provinsi Sumatera Barat 2018 yang dihadiri langsung oleh Ketua PKK Sumbar Nevi Prayitno.

PKK menurutnya juga memiliki kontribusi dalam menyukseskan visi misi pembangunan, terlebih ketika pihaknya dihadapkan dinamika permasalahan yang berkembang di masyarakat yang harus diatasi secara stimulan.

"Dengan diadakannya penilaian gerakan PKK akan meningkatkan motivasi jajaran pemerintah daerah dan masyarakat untuk lebih giat lagi mengintegrasikan kegiatan pada gerakan PKK di Kota Pariaman," katanya.

Nevi Irwan Prayitno menyampaikan bahwa kunjungan dia tidak sebatas menilai gerakan PKK 2018, tetapi juga mempererat hubungan silaturahmi dan menciptakan rasa kebersamaan dengan sesama kader PKK dalam semua tingkatan.

Pelaksanaan kegiatan di setiap lokasi, kata Nevi, mesti mengacu kepada 10 program pokok PKK. Mulai dari kelembagaan dan administrasi PKK, sampai kepada kegiatan Pokja I, II, III, dan IV.

Penilaian yang dilakukan, imbuh Nevi, mencakup lima kategori. Yakni Lomba Tertib Administrasi PKK, Lomba Pola Asuh Anak dan Remaja dengan Penuh Cinta dan Kasih dalam Keluarga, Lomba Usaha  Peningkatan Pendapatan Keluarga, Lomba Hatinya PKK dan Lomba Pelaksanaan IVA Test .

Adapun nama-nama desa di Kota Pariaman yang masuk dalam penilaian Gerakan PKK tingkat Provinsi Sumbar di Kecamatan Pariaman Selatan meliputi Desa Simpang, Desa Rambai, Desa Batang Tajongkek. Untuk Pariaman Timur Desa Kaluaik dan Desa Balai Nareh untuk Kecamatan Pariaman Utara. (Phaik/OLP)
Desa Nareh Hilir Juara MTQ Tingkat Pariaman Utara
Kakankemenag Kota pariaman M.Nur menyerahkan piala bergilir kepada Kepala Desa Nareh Hilir Hilman Marjalis
Pariaman ----- Desa Nareh Hilir raih juara umum MTQ tingkat Kecamatan Pariaman Utara ke-8. Desa Nareh Hilir mampu mengalahkan 16 peserta dari 17 desa yang ada, posisi kedua diraih oleh Desa Sikapak Barat yang merupakan peraih juara tahun sebelumnya.

Dari 17 desa yang ada di Kecamatan Pariaman Utara, hanya satu desa yang tidak mengikuti dan mengirimkan perwakilannya yaitu Desa Ampalu.

Kemenag Kota Pariaman Muhammad Nur, mengatakan dari peserta pemenang akan dibawa ke tingkat MTQ yang lebih tinggi. Dari tingkat kota, provinsi, nasional, bahkan internasional.

"Tujuan MTQ adalah bagaimana anak-anak kita menjadi masyarakat yang qur'ani yang paham dan mengerti dengan Alquran," ujarnya, Senin (23/4).

Ia berkata, juara yang diraih peserta bukan tujuan paling utama. Menjadi juara jangan sampai menghilangkan pahala apalagi menjadi riya.

Camat Pariaman Utara Hilman Syura mengatakan, bagi desa yang tidak mengutus perwakilannya MTQ sama saja dengan membunuh generasi muda mereka terhadap pengetahuan agama.

"Ilmu agama sangat penting ditanamkan bagi generasi muda," ungkapnya.

Ketua Panitia MTQ Pariaman Utara Amrizal mengatakan, MTQ tidak sebatas lomba membaca Alquran. Akan tetapi memaknai kandungan ajaran dalam Alquran itu sendiri untuk dijadikan pedoman hidup.

"Berjalan lurus dengan ajaran agama dapat menghindari pengaruh pergaulan remaja yang sangat buruk seperti narkoba, tindak asusila dan moralitas," kata dia. (Eri/OLP)
UNBK Tingkat SMP 100% di Kota Pariaman
Walikota Mukhlis Rahman dan Kepala Dinas Dikpora Kanderi meninjau UNBK di SMP 1 Pariaman. Foto/Eri Elfadri
Pariaman ---- Seluruh pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Pariaman sudah mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 ini. Hal tersebut dibenarkan oleh Walikota Pariaman Mukhlis Rahman saat meninjau pelaksanaan hari pertama UNBK tingkat SMP di SMP Negeri 1 Pariaman, Senin (23/4).

"Tahun 2017 lalu UNBK belum bisa dilaksanakan seratus persen karena keterbatasan sarana dan prasarana, namun tahun ini seluruh siswa SMP sudah mengikuti UNBK. Empat SMP melakukannya secara mandiri selebihnya kita tumpangkan ke sekolah-sekolah lain yang memiliki cukup komputer," ujarnya.

Ia mengungkapkan semua siswa yang mengikuti UNBK terlihat tenang karena mereka sudah akrab dengan komputer. Tidak gagap dan canggung lagi dengan ujian nasional.

"UNBK berjalan lancar dan mudah-mudahan tidak ada masalah hingga usai pelaksanaan UNBK. Kota Pariaman juga sudah menyurati PLN agar tidak memadamkan listrik selama UNBK," sambungnya.

Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Pariaman Rostina, menyatakan bahwa dalam UNBK tidak ada peluang kebocoran soal ujian.

"Karena secara serentak pada pukul 7.30 token soal baru dibagikan kepada peserta ujian," ujian.

Sebanyak 18 SMP dan 2.312 pelajar SMP di Kota Pariaman mengikuti UNBK. Sembilan SMP Negeri, dua SMP Swasta, tiga MTs Negeri dan empat MTs Swasta.

Sekolah yang telah ditunjuk sebagai pelaksana UNBK antara lain SMPN 1, SMPN 4, SMPN 5, SMPN 6, SMAN 1, SMAN 2, SMAN 6, SMA Manunggal Bakti, SMKN 1, SMKN 2, SMKN 3 dan SMKN 4 Pariaman. Sementara sekolah lainnya masih meminjam gedung labor di SMA ataupun SMK di Kota Pariaman.

Mata pelajaran yang diujikan pada UNBK tingkat SMP/MTS pada tanggal 23 April hingga 26 April 2018 terdiri dari bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris dan IPA. (Tim/OLP)
[Editorial] Menjaga Keseimbangan Alam Demi Kelanjutan Pariwisata Pariaman
Foto salah satu kegiatan aksi bersih bersih pulau dan penanaman terumbu karang. Foto/istimewa

Oleh Oyong Liza Piliang
Rasanya bisa disebut, susah mencari orang yang tidak mengenal Pulau Angsoduo Pariaman di "Jaman Now". Terutama mereka yang aktif di media sosial. Popularitas pulau seluas 1,8 hektare tersebut melejit sekitar 4 tahun belakangan seiring masifnya pembangunan infrastruktur di pulau berjarak 1,6 mil dari bibir Pantai Gandoriah itu.

Seiring perkembangan media sosial, jutaan foto Pulau Angsoduo telah menyebar di Facebook, Instagram, Twitter dan catatan segar para blogger. Pulau Angsoduo salah satu aset terbesar milik Pariaman di bidang kepariwisataan. Ia juga penggedor utama dan pengungkit sektor wisata lainnya.

Jika kita mengetik "pulau angso duo pariaman" di google, dalam 0,38 detik, sekitar 34.600 halaman siap menjadi sumber rujukan informasi. Jika kita klik google image, tiada yang bisa menahan hasratnya untuk selekas mungkin berkunjung ke sana.

Pulau Angsoduo kaya akan nilai-nilai sejarah dengan adanya 9 makam bernisankan tulisan Arab Melayu. Makam Panjang Katik Sangko bahkan melahirkan ragam aroma mistis. Keyakinan pulau dihuni dalam rentang waktu lama, dikuatkan dengan adanya sumur yang terbuat dari susunan kerang. Airnya jernih dan bahkan ada paranormal yang mengatakan jika mencuci muka dengan air sumur tersebut akan mudah rejeki dan penghilang sial. Mengenai hal berbau mistis tersebut, wallahualam.

Pulau Angsoduo telah menjadi studi pelbagai disiplin ilmu. Peneliti kebangsaan Irlandia Tom Corcoran, bersama Wiva dari Irlandia, Jered dari Amerika dan Mark dari Australia dalam ekspedisi National Geographic Explore, Januari 2015, melakukan penelitian di Pulau Angsoduo dan Pulau Kasiak.

Saat itu mereka meneliti dampak kerusakan terumbu karang oleh kegiatan nelayan yang tidak bertangungjawab seperti menggunakan bahan peledak. Tim saat itu melakukan dua sesi penyelaman: siang dan malam guna melihat aktivitas biota laut termasuk micro plankton. Penyelaman malam hari untuk meneliti reproduksi koral karena terumbu karang bereproduksi pada malam hari.

Di samping organisasi sekelas Natonal Geographic, tim ekspedisi Merah Putih Pariaman bersama Tabuik Diving Club juga melakukan hal yang sama. Penanaman terumbu karang mulai dilakukan. Turut pula korps Marinir. Puluhan penyelam marinir terlatih dikerahkan waktu itu.

Upaya penyelamatan pulau dengan kekayaan biota lautnya kadang tidak sejalan dengan eksploitasi wisata yang berlebihan di pulau tersebut. Banyak wisatawan yang belum menyadari pentingnya biota laut demi keseimbangan pulau. Tak jarang wisatawan mandi di kawasan terumbu dan menginjak-injak terumbu karang, membuang sampah ke laut dan mencabuti terumbu untuk di bawa pulang sebagai buah tangan.

Jika hal tersebut terus dibiarkan tentu saja kerugian besar siap menghadang Pemko Pariaman dan warganya. Kerusakan terumbu karang bukan perkara tidak serius. Butuh puluhan tahun untuk pemulihannya.

Peningkatan kesadaran dan partisipasi pengunjung perlu diintensifkan saat mengunjungi pulau. Dalam hemat kami, peranan itu bisa di awalai dengan membuat satgas pecinta terumbu karang yang di motori oleh Pemko Pariaman melibatkan aktivis yang sudah punya andil saat ini.

Di samping itu diperlukan pula sosialisasi sejak dini guna menanamkan arti dan manfaat terumbu karang bagi kelangsungan hayati warga pesisir sejak masa kanak-kanak bagi warga Pariaman. Dengan kesadaran warga yang tinggi, tentu akan diteruskan kepada setiap pengunjung pulau. Rasa memiliki oleh warga adalah formulasi terbaik dalam menjaga daerahnya.

Kemudian memperkuat koordinasi antar instansi yang berperan pada penanganan terumbu karang. Baik pengelola daerah, aparat keamanan, pemanfaat sumber daya dan pemerhati lingkungan. Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan rehabilitasi terumbu karang juga diperlukan untuk penanganan yang komprehensif dan berkesinambungan.

Di samping itu, aspek penegakan hukum juga diperlukan sebagai langkah akhir. Komponen ini dipandang sangat krusial guna mencapai tujuan rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang jangka panjang. Masyarakat memegang peranan penting sebagai pengamat terumbu karang atau reef watcher, di mana mereka berkewajiban meneruskan fakta pada penegak hukum tentang pelanggaran yang mengganggu kelangsungan hidup terumbu karang di daerahnya.

Semua hal tersebut tentu bukan perkara mudah menjalankannya. Perlu formulasi dan kesadaran bersama.

Menjual pariwisata dengan mengabaikan lingkungan adalah sebuah lelucon. Tidak akan bertahan lama. Hanya bersifat insidential yang lekas sirna. (***)
[Berita Utama] Angsoduo: Wisata, Sejarah, Ekotourism Berbagai Disiplin Ilmu
WalikotaMukhlis Rahman foto bersama dengan alumni Biologi FMIPA UNAND angkatan 78 di Dermaga Pulau Angso Duo. Foto/Eri Elfadri.
Pariaman --- Kota Pariaman selalu berbenah dalam meningkatkan kunjungan wisatawan--salah satunya dengan pengembangan konsep ecotourism. Acapkali berbagai studi bertemakan lingkungan hidup digelar di Pariaman oleh pelbagai tingkatan disiplin ilmu.

Sebanyak 200 mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Riau (UNRI), dan 40 alumni FMIPA UNAND angkatan 78-79 mengadakan aksi sosial bersih-bersih Pulau Angsoduo, Sabtu (21/4).

Selain aksi peduli lingkungan, rombongan ini juga melakukan penanaman dan pemberian nama mangrove di hutan mangrove Pariaman di kawasan Penangkaran Penyu.

Walikota Pariaman Mukhlis Rahman---salah satu Alumni FMIPA UNAND angkatan 78-79---mengatakan, ajang tersebut sekaligus dimanfaatkan ajang silaturahmi para alumni. Saat ini para alumni tentu telah menyebar di berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, kata Mukhlis, pihaknya mengapresiasi Universitas Riau yang telah menunjuk Kota Pariaman sebagai tempat praktek lapangan bagi mahasiswanya. "Hal itu akan menjadi kegiatan yang sarat akan nilai positif di samping kunjungan wisata," ucap Mukhlis.

Dalam upaya menjaga kebersihan pulau secara parsial, imbuh Mukhlis, ke depan pihaknya akan memberikan kantong plastik kepada setiap pengunjung pulau ketika akan berangkat dari dermaga Pantai Gandoriah.

"Sehingga pengunjung akan membawa kembali kantong plastik tersebut yang berisi sampahnya selama di pulau,” ungkapnya.

Peserta aksi bersih Pulau Angsoduo tampak menikmati seluruh rangkaian acara di pulau yang memiliki luas 1,8 hektare tersebut. Pulau hanya berjarak 1,6 mil laut dari bibir pantai Gandoriah.

Ketua Jurusan Biologi FMIPA UNRI yang juga Dosen Biologi Radit Mahatma, mengaku keindahan Pulau Angsoduo begitu memesona. Ia juga terkesan dengan bentang alam Pariaman saat dilihat dari gugus pulau tersebut.

“Pulau Angsoduo sudah amat terkenal di dunia maya. Siapa yang tak kenal Pulau Angsoduo di "jaman now". Dengan adanya dermaga, penataan yang rapi, keanekaragaman hayati yang terjaga, begitu mengesankan bagi saya," ucapnya.

Lain lagi dengan mahasiswa Biologi FMIPA UNRI Abrar Yusra. Ini adalah kunjungan perdana baginya. Abrar berkata, air yang jernih membuatnya menceburkan diri berenang sambil melihat biota laut yang ada. Ia juga menemukan karang lunak yang ia ambil sampelnya untuk diteliti.

“Kondisi ini harus terus dijaga. Penelitian nantinya dapat dijadikan solusi atau rekomendasi kepada Pemko Pariaman untuk menjaga terumbu karang yang ada di pulau sehingga timbul kesadaran para wisatawan dan pengunjung pulau untuk menjaga kebersihan dan keanekaragaman hayati yang ada," sebutnya.

Sampah yang dikumpulkan dalam kegiatan itu langsung diangkut ke darat menggunakan kapal wisata dibantu oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pariaman. Kapal BPBD juga andil dalam kegiatan tersebut. 

Pulau Angsoduo selain ikon utama wisata Pariaman juga menjadi lokus berbagai disiplin ilmu. Di antaranya ilmu sejarah yang meneliti keberadaan makam dan peradaban pulau, ilmu parapsikologi yang mengkaji hal-hal mistik, hingga pakar ilmu alam yang dikirim langsung oleh National Geographic guna meneliti ragam biota laut di pulau itu.

Di Pulau Angsoduo, sebagaimana diketahui terdapat makam panjang Katik Sangko. Selain makam Katik Sangko juga terdapat sekitar 9 makam lagi yang dinisannya bertuliskan Arab Melayu merujuk abad ke-14.

Selain makam, di pulau tersebut terdapat satu sumur "keramat". Bagaimana tidak, sumur berair jernih itu dibuat dari susunan kerang yang belum diteliti secara pasti berapa umurnya.

Wakil Walikota Pariaman non aktif Genius Umar, suatu ketika pernah mengatakan bahwa peradaban Pulau Angsoduo erat kaitannya dengan perjuangan pengembangan agama Islam di pesisir Pulau Sumatera.

"Hal ini telah diteliti dan dipublikasikan secara luas oleh media nasional dan media televisi asing. Pulau Angsoduo bukanlah mitos, tapi bagian dari sejarah pengembangan agama Islam pertama di pesisir Sumatera," ungkapnya waktu itu. (Tim)
Perkenalkan "Sang Sura", Pagelaran Seni Budaya KPU Pariaman Berlangsung Sukses
Ketua KPU Kota Pariaman Boedi Satria perkenalkan maskot Pemilu serentak 2019 "Sang Sura"
Pariaman ---- Pagelaran seni dan budaya menyonsong tahun pemilu 2018 di Kota Pariaman berlangsung meriah.
         
Dalam pagelaran yang dipusatkan di Panggung Utama Pantai Gondariah ini, sejumlah kesenian tradisional Pariaman seperti indang dan kesenian gandang tasa bertemakan pemilu serentak 2019. Pagelaran ditutup lagu minang oleh artis minang Rayola.
         
Ketua KPU Kota Pariaman, Boedi Satria mengatakan pagelaran seni dilaksanakan secara serentak se Indonesia menyambut tahun pemilu serentak 2019 pada 17 April 2019 mendatang.
       
 "Diselenggarakan untuk menyonsong tahun pemilu serentak 2019," kata Boedi, Sabtu (21/4) siang.
         
Boedi berkata, berbagai tahapan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden pun telah dilakukan oleh KPU. Tahapan awal, penerimaan dan verifikasi parpol calon peserta pemilu selesai dilaksanakan. 16 parpol akhirnya ditetapkan sebagai peserta pemilu 2019.
          
Saat ini, kata dia, tahapan yang berlangsung adalah penyusunan data pemilih pemilu serentak 2019. Penyusunan data pemilih dilakukan dengan pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih. Berbeda dengan daerah lain, KPU Kota Pariaman tidak melakukan coklit, seperti yang dilakukan KPU lain.
       
"Kita sudah melakukan coklit dalam tahapan pilkada 2018. DPT pilkada yang telah kita tetapkan saat ini, akan dijadikan DPS pemilu serentak 2019," ulasnya.
         
Ia mengajak pihak terkait mensukseskan rangkaian kegiatan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden 2019 dengan mensosialisasikan secara luas tahapan pemilu serentak 2019.
         
"Keberhasilan penyelenggaraan tidak hanya menjadi tanggung jawab penyelenggara saja, namun perlu dukungan seluruh pihak," pintanya.
        
Dalam pagelaran itu, KPU Kota Pariaman juga memperkenalkan "Sang Sura" yang menjadi maskot Pemilu Serentak 2019, motto dan jingle pemilu 2019 yakni "pemilih berdaulat negara kuat" dan jingle berjudul "pemilih berdaulat negara kuat".
       
Asisten I Sekretariat Daerah Kota Pariaman Yaminu Rizal mengatakan jika pesta demokrasi 2019 bukan beban penyelenggara saja.
       
Apalagi kata dia penyelenggaraan pemilu serentak 2019 berat karena berisisan dengan tahapan pemilihan walikota dan wakil walikota Pariaman 2018.
      
"Seluruh pihak bertanggung jawab mensukseskan pemilu serentak ini. Ini adalah tahun politik, kita harus mendukung secara bersama-sama," katanya.
        
Ia menyebut, partisipasi politik masyarakat merupakan indikator peningkatan kualitas penyelenggaran pemilu. Namun hingga saat ini, partisipasi pemilih masih menjadi persoalan dalam setiap penyelenggaraan pemilu.
       
"Keterlibatan ataupun partisipasi menjadi permasalahan pada sejarah penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Untuk mengoptimalkan hal tersebut diperlukan dukungan seluruh pihak agar partisipasi masyarakat aktif," ujarnya.
        
Di samping itu, ia mengimbau parpol peserta pemilu 2019 melakukan pendidikan politik kepada masyarakat dan menjaga situasi agar kondusif selama pemilu berlangsung. Tidak saling hujat antar caleg atau pun ikut menyebar berita bohong terhadap lawan politik.
        
"Kampanye harus mendidik, jangan ada praktik kampanye hitam, karena yang jadi peserta adalah dunsanak kita juga," katanya. (Nanda)
[Humaniora] Menengok Aktivitas Keseharian Juru Kunci Pulau Angsoduo
Buyuang Karani sedang membersihkan pulau Angsoduo. Foto/Eri Elfadri
Pariaman ----- Beralih profesi dari nelayan, Suryadi (48) dan Hasan Basri (46), menjadi penjaga Pulau Angsoduo Kota Pariaman. Dua lelaki ini bertugas menjaga aset daerah yang ada di pulau tempat bersemayamnya jenazah Katik Sangko tersebut.

Selain itu mereka juga berkewajiban menjaga kelestarian tumbuh-tumbuhan serta kebersihan yang ada di pulau kebanggaan masyarakat Pariaman ini. Bahkan tak jarang memandu wisatawan seperti menjelaskan sejarah pulau yang memiliki makam keramat sepanjang lebih dari 3 meter tersebut.

Sedari pagi kedua pria itu sudah asyik mengayunkan sapu lidinya di sepanjang pesisir pantai Pulau Angsoduo yang memiliki luas 1,8 hektare tersebut. Mereka tampak serius melakoni pekerjaan sebagai penjaga pulau. Sementara pengunjung pulau terus berdatangan ke pulau yang hanya berjarak sekitar 1,6 mil dari bibir Pantai Gandoriah dari hari ke hari.

“Saya mulai membersihkan sampah di pulau sejak pagi. Sampah organik biasanya saya kumpulkan pada suatu tempat untuk dikubur maupun dibakar. Sedangkan sampah plastik dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung untuk dibawa ke daratan,” ujar Suryadi.

Dalam satu hari ia bisa mengumpulkan sampah hingga 50 kilogram hari biasa, dan 200 kilogram saat hari libur. Jumlahnya bisa naik dua kali lipat musim libur sekolah dan lebaran.

Suami Ramini ini mengaku sangat menikmati pekerjaan yang sedang dijalaninya saat ini, begitu juga dengan koleganya Hasan Basri. Pria yang akrab dipanggil Buyuang Karani ini juga bersukur dengan profesinya sekarang. Mereka tetap bisa menyekolahkan anak-anak mereka di kota Pariaman meski keseharian mereka di pulau itu. Anak-anak mereka tinggal di tepi (kota Pariaman) dan sesekali menemani mereka di pulau. Biasanya saat hari libur.

Petugas yang saling akrab itu membagi dua wilayah kerjanya. Suryadi bertugas membersihkan separuh wilayah Pulau Angso Duo arah selatan, sedangkan Buyuang Karani bertanggung jawab wilayah utara pulau. Selama menjaga pulau telah banyak perubahan-perubahan yang mereka rasakan. 


"Mulai dari dulunya tidak adanya penerangan listrik sekarang sudah ada pakai tenaga surya. Dari tidak adanya fasilitas umum seperti kamar mandi dan wc, sekarang semua lengkap. Dari tidak ada dermaga, sekarang punya dermaga apung," tutur Suryadi semangat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman Elfis Candra, mengatakan bahwa kedua petugas tersebut memiliki tugas pokok menjaga aset Pemko Pariaman yang ada di Pulau Angsoduo di samping menjaga kebersihan dan menjaga kelestarian biota di dalamnya.

Selain itu mereka juga bertugas mengontrol pengunjung yang ada di Pulau Angsoduo. Petugas tersebut akan mengingatkan pengunjung yang berada di pulau paling lama hingga pukul lima sore harus naik ke kapal wisata untuk diangkut ke tepi.

"Pak Suryadi dan Pak Buyuang Karani juga tinggal di pulau. Kita sediakan hunian dan transportasi perahu bermotor untuk ke tepi guna berbagai kebutuhan mereka pribadi dan pulau," kata Elfis di Pariaman, Sabtu (21/4).

Suryadi dan Buyuang Karani juga dikenal akrab dengan para nelayan singgah. Karena mereka menginap di pulau, keberadaannya sangat membantu nelayan yang kemalaman.

Para penjaga pulau tersebut selain menerima gaji dari Pemko Pariaman, juga diizinkan berjualan di pulau dengan tidak meninggalkan tugas pokok mereka sebagai juru kunci di pulau yang memiliki sumur berusia 300 tahun dari susunan kerang tersebut. (Eri/OLP)
KPU Tetapkan Jumlah DPT Pilkada Pariaman
Pleno penetapan DPT Pilwako Pariaman 2018. Foto/Nanda
Pariaman ----- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pariaman tetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Walikota dan Wakil Walikota Pariaman 2018 sebanyak 59.245 pemilih.

Jumlah ini berkurang sebanyak 446 orang dibandingkan jumlah Daftar Pemilih Sementara Hasil Pemutakhiran (DPSHP) yang ditetapkan di tingkat kecamatan sebanyak 59.691 pemilih.
        
"Dari total 59.619 pemilih DPSHP tersebut, sudah termasuk 2.320 orang yang belum mempunyai KTP Elektronik (e-KTP), dengan rincian 1.916 orang sudah melakukan perekaman, termasuk sebanyak 717 pemilih pemula yang akan memasuki usia 17 tahun di tanggal 26 Juni 2018," jelas Ketua KPU Kota Pariaman, Boedi Satria usai rapat pleno penetapan DPT pemilihan walikota dan wakil walikota Pariaman 2018, Kamis (20/4).
         
Menurut Boedi, jumlah DPT untuk Kota Pariaman sebanyak 59.245 orang, merupakan hasil akhir dari data yang didapat dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Pariaman, dengan mencoret data pemilih yang ada di data SIAK yang tidak kunjung merekam data.
         
Pemilih tersebut dapat menggunakan hak pilih apabila telah melakukan perekaman data dengan menggunakan KTP elektronik di TPS sesuai alamat domisili.
         
“DPT Kota Pariaman sudah disepakati oleh Panwaslu Kota Pariaman dan Tim Paslon masing-masing kandidat. Bagi yang belum terdaftar pada DPT saat ini, jika telah merekam data atau memiliki KTP dapat menggunakan KTP untuk memilih," pungkasnya. (Nanda)
Sosialisasikan Pemilu, KPU Pariaman Gelar Pagelaran Seni Budaya Sabtu Besok

Pariaman ----- Pagelaran seni dan budaya membangun pemilih berdaulat guna mensukseskan pemilu serentak 2018 akan menampil sejumlah kesenian tradisional Pariaman.
     
Dalam pagelaran yang diselenggarakan pada Sabtu (21/4) besok, pengunjung akan dihibur dengan penampilan kesenian randai kreasi, gandang tasa, teatrikal pemilu 2019, salawaik dulang. Pengunjung juga akan dihibur Artis Minang Rayola.
      
Tidak hanya penampilan kesenian tradisonal dan musik saja, bagi pengunjung yang beruntung akan mendapatkan doorprize atau hadiah dari KPU Kota Pariaman.
      
Ketua KPU Kota Pariaman Boedi Satria mengatakan, pagelaran kesenian diselenggarakan KPU se Indonesia untuk menyambut satu tahun penyelenggaraan pemilu yang diselenggarakan pada tahun 2019 mendatang.
       
"Kita sekaligus sosialisasikan tentang pemilu 2019 mendatang kepada masyarakat," jelas Boedi Satria di Pariaman, Jumat (20/4).
      
Ditambahkan Boedi,  sebagai persiapan KPU Kota Pariaman telah melakukan koordinasi dengan kepolisian dan Pemko Pariaman. Beberapa kali rapat koordinasi dengan instansi terkait telah dilaksanakan.
      
"Beberapa kali sudah kita lakukan koordinasi, terakhir semuanya sudah siap untuk pelaksanaannya," ulasnya.
     
Ia memperkirakan, ribuan masyarakat akan hadir karena bersamaan denga long weekend di lokasi objek wisata utama Pariaman Pantai Gandoriah. (Nanda)
Menengok BUMDes Tampuniak Sejahtera di Cubadak Aie
Direktur BUMDes Tampuniak Sejahtera Ronal Ilham sedang berdiri di depan BUMDesnya. Foto/Eri Elfadri
Pariaman ----- Masyarakat Desa Cubadak Aie dan sekitarnya harus menempuh jarak minimal 1 kilometer bila ingin memfotocopy satu lembar dokumen saja dari desanya. Berangkat dari permasalahan tersebut, Kepala Desa Cubadak Aie Abdul Hamid beriinisiatif untuk membentuk Badan Usama Milik Desa (BUMDes) "Tampuniak Sejahtera".

BUMDes dengan unit usaha fotocopy dan percetakan ini sudah berjalan sejak 26 Desember 2017 lalu. Dengan modal penyertaan dari dana desa sebesar Rp50 juta, BUMDes Tampuniak Sejahtera memulai program kerja: dari mencari kedai, merenovasi, serta membeli peralatan fotocopy serta percetakan.

"Dari modal 50 juta tersebut kami pergunakan untuk merenovasi kedai, membeli mesin fotocopy, mesin percetakan dan alat tulis kantor," ungkap direktur BUMDes Tampuniak Sejahtera Ronal Ilham (32), Kamis (19/4) .

Setelah dua bulan usaha berjalan, kata Ronal, pihaknya menambah unit usaha BUMDes sehingga bisa melayani jasa berupa transfer, pembayaran tagihan listrik, telepon, PDAM, iuran BPJS,  penjualan pulsa, multifinance dan simpanan.

"Untuk usaha simpanan kami bekerjasama dengan Bank BNI. Kami juga menerima bila ada masyarakat yang menitipkan kerajinan tangan untuk dijual di sini," lanjut ayah satu anak ini.

Ronal mengatakan, permasalahan yang dihadapi sejauh ini adalah kurangnya minat masyarakat untuk menabung meskipun pengurus BUMDes telah berupaya untuk mempromosikannya. Selain itu, karena BUMDes baru berjalan beberapa bulan, pengurusnya belum punya honor.

"Kami sebagai pengurus bekerja di BUMDes ini bersifat sosial. Jika BUMDes sudah berjalan dan mendapat laba, baru bisa ditetapkan gaji/honor untuk pengurus. Makanya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saya masih bertani," terangnya.

Keberadaan BUMDes ini disambut baik oleh masyarakat. Ni Jus, salah seorang warga Dusun Baruah Kubu, Cubadak Aie, mengatakan biasanya ia mencari tempat fotocopy harus pergi ke Desa Manggung, Ampalu, bahkan sampai ke Pasar Pariaman hanya untuk menfotokopi satu lembar KTP.

"Tapi sekarang saya tidak perlu lagi jauh-jauh untuk mencari dan membeli perlengkapan alat tulis untuk kebutuhan anak-anak sekolah," ungkap dia.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Efendi Jamal, menargetkan seluruh desa di Kota Pariaman sudah memiliki BUMDes pada tahun 2019. Untuk itu pihaknya terus mensosialisakan dan memotivasi aparat desa maupun masyarakat secepatnya membentuk BUMDes sesuai dengan Permendes PDTT nomor 14 tahun 2014 tentang pendirian, pengurusan dan pengelolaan, dan pembubaran badan usaha milik desa yang diperkuat dengan Permendes PDTT nomor 19 tahun 2017 tentang penetapan prioritas penggunaan dana desa tahun 2018.

"Sudah ada tujuh desa yang memiliki BUMDes dari dana desanya. Sedangkan 21 desa lagi sedang mempersiapkan BUMDesnya dan 29 desa lagi masih terus dimotivasi untuk segera membentuk BUMDes," kata dia.

Ketujuh BUMDes tersebut, kata Efendi Jamal yakni di Desa Batangtajongkek, Palak Aneh, Toboh Palabah, Cubadak Aie, Sungai Rambai, Sungai Pasak dan Cubadak Aia Selatan.
"Sedangkan Desa Aia Santok dan Cubadak Mentawai membentuk BUMDes bersama yang dibiayai oleh dana dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi," sebutnya. (Tim)
"Supernya Kewenangan Panwaslu" Elmahmudi: Jika Tak Kami Jalankan Akan Kena Sanksi
Ketua Panwaslu Kota Pariaman Elmahmudi. Foto/Nanda Eko Putra
~Pelanggaran yang terjadi pun kadang disebabkan ketidaktahuan pelaku pelanggaran. Di sisi lain, minimnya pemahaman kadang menimbulkan anggapan arogansi penyelenggara.

~Lima temuan dan laporan dugaan pelanggaran telah diproses. Terdapat 1 dugaan pelanggaran pidana pemilihan telah diteruskan kepada kepolisian, 2 pelanggaran netralitas ASN telah diteruskan kepada KASN Indonesia, dan 2 pelanggaran administrasi diteruskan ke KPU Kota Pariaman.

Pariaman ---- Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Pariaman, Elmahmudi di Pariaman, Kamis (19/4) mengatakan, pergantian regulasi kepemiluan membawa perubahan besar bagi tatanan pemilu di Indonesia. Sayangnya, masih banyak elemen masyarakat belum mengikuti dan memahami perubahan aturan ini.

Koordinator Divisi Penindakan Pelanggaran Pemilu Panwaslu Kota Pariaman Riswan. Foto/Nanda Eko Putra


Elmahmudi berkata, setidaknya sejarah perubahan regulasi perbaikan sistim pemilu ditandai dengan penerbitan peraturan. Dimulai dari lahirnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah yang mengembalikan pemilihan kepada daerah dilakukan langsung oleh rakyat, bukan melalui anggota DPRD. Itu pun adalah perbaikan sistim pilkada. 


Anggota Panwaslu Kota Pariaman Zaiyar. Foto/Nanda Eko Putra


Regulasi tersebut kembali diperbaharui dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota, Perppu Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota.

Tidak hanya sampai di situ, erbaikan sistim dan penyelenggaraan pemilu kembali dilakukan dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang 8 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang.

"Terakhir Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang," sebutnya.

Elmahmudi didampingi anggota Panwaslu Zaiyar dan Riswan mengatakan, perubahan regulasi, kongkritnya terlihat dari pengaturan kepada hal berkaitan pemilu dan pilkada. Hal yang dulunya kosong dan tidak diatur, sekarang diatur. Dulunya bebas dan bahkan liar, sekarang dibatasi dan dikontrol. Dulunya tidak dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran, tetapi sekarang diatur ada sanksinya.

"Tak ayal, pelanggaran yang terjadipun kadang disebabkan ketidaktahuan pelaku pelanggaran. Di sisi lain, minimnya pemahaman ini, kadang menimbulkan anggapan lain terhadap penyelenggara. Bahkan, Panwaslu dianggap "over action", sembarang tindak, bahkan arogan," sambungnya.

Padahal, kata dia, pembatasan dan penindakan yang dilakukan oleh Panwaslu adalah menjalankan perintah perundang-undangan. Jika tidak melaksanakan kewenangan yang diberikan, berarti Panwaslu telah melakukan pelanggaran. Komisioner Panwaslu pun bisa di DKPP kan dan dijatuhi sanksi atas pelanggaran etik. 

"Dahulu pengaturan netralitas para pihak yang dilarang terlibat dalam kampanye sangat lemah, tetapi sekarang aturannya diperkuat dan ketat. Dahulu kewenangan penyelenggara dibatasi, sekarang diperluas. Perubahan besar inilah yang membuat keterkejutan bagi sebagian peserta pemilihan dan elit politik kota Pariaman, apalagi oleh masyarakat grassroot (akar rumput)," kata Elmahmudi.

Menurut Elmahmudi, perubahan terlihat pada regulasi antara penyelenggaraan pemilihan kepada daerah tahun 2013 jauh berbeda jika disandingkan dengan pilkada 2018 ini.
Rentangnya sangat jauh. Dicontohkannya, seperti pengadaan Alat Peraga Kampanye (APK) dan Bahan Kampanye (BK). Pada aturan pilkada sebelumnya, APK dan BK tidak dilakukan pembatasan. Pencetakan dan pemasangan diserahkan kepada masing-masing pasangan calon dan tim sukses. Berbeda pada aturan pilkada 2018 ini, APK dan BK dibatasi dan difasilitasi oleh KPU. Pembuatan dan pemasangan tidak lagi dilakukan oleh pasangan calon.

"Perubahan regulasi pilkada saat ini dengan pilkada 2013 yakni perubahan aturan tentang iklan sosialisasi pemerintah dalam bentuk baliho, umbul. Pada pilkada 2013 silam, tidak diatur. Sedangkan pada penyelenggaraan pilkada 2018, tidak diperbolehkan," sambungnya.

Dampak lain, perubahan regulasi adalah memperkuat kelembagaan penyelenggara pemilu. Jika status Panwaslu pada awal berdirinya hanyalah lembaga ad hoc. Terbentuk hanya pada saat tahapan pemilu saja. Dengan regulasi baru, kurun 2007 hingga 2011, Bawaslu RI, Bawaslu Provinsi telah menjadi lembaga penyelenggara pemilu permanen.

Kini, di 2018, Panwaslu di kabupaten dan kota menunggu dipermanenkan. Selain penguatan lembaga pengawas pemilu, penguatan kewenangan juga diberikan kepada pengawas pemilu.

"Misalnya pada pilkada 2013, sangketa proses pilkada dilakukan ditingkat Bawaslu Provinsi saja. Kini, Panwaslu di kabupaten dan kota bisa memproses dan memutus sangketa proses. Misalnya pada sangketa proses pencalonan, Panwaslu kabupaten dan kota bisa membatalkan pencalonan peserta pilkada. Inilah salah satu bentuk penguatan kewenangan yang diberikan oleh regulasi," sebutnya.

Supaya tidak menimbulkan keterkejutan dari masyarakat dan peserta pada pemilihan kepala daerah 2018 atas perubahan regulasi pada Pilwako tahun 2018, Panwaslu Kota Pariaman semaksimal mungkin melakukan sosialisasi, menyampaikan imbauan, membangun koordinasi, menyurati pihak-pihak terkait.

"Memaksimalkan ini, Panwaslu Kota Pariaman juga telah membentuk Lapau Pengawasan Partisipatif di 71 desa dan kelurahan di Kota Pariaman. Keberadaannya sebagai media pendidikan dan transpormasi informasi kepemiluan dan kepengawasan kepada masyarakat. Lapau Partisipatif ini salah satu bentuk penerapan kewenangan baru Panwaslu, mengembangkan strategi pengawasan partisipatif untuk mencegah tindakan pelanggaran pemilu, sekaligus instrumen pendidikan kepada masyarakat atau pemilih secara luas," imbuhnya.

Sementara terkait hasil pengawasan pemilihan walikota dan wakil walikota Pariaman 2018, terang Elmahmudi, 5 temuan dan laporan dugaan pelanggaran telah diproses. Terdapat 1 dugaan pelanggaran pidana pemilihan, telah diteruskan kepada kepolisian, 2 pelanggaran netralitas ASN telah diteruskan kepada KASN Indonesia, dan 2 pelanggaran administrasi diteruskan ke KPU Kota Pariaman.

 "Hasil pengawasan dan laporan yang kami proses, sudah kita limpahkan. Ada dugaan pelanggaran berkaitan netralitas ASN, pidana pemilihan dan pelanggaran administrasi," tutupnya. (Nanda)
Ivana Juarai Lomba Cerita Anak Tingkat Kota Pariaman
Staf Ahli Definal rfoto bersama dengan peserta lomba bercerita anak. Foto/Eri Elfadri
Pariaman ----- Ivana Flora Harumi, raih juara satu lomba bercerita anak tingkat SD/MI se-Kota Pariaman.

Murid kelas lima SDN 05 Air Santok, Kecamatan Pariaman Timur ini, berhasil menyingkirkan sepuluh peserta lomba lainnya. Sedangkan juara kedua diraih oleh Aril Rahma Adinda murid SDN 12 Naras I dan juara ketiga jatuh kepada siswa SDN 07 Kampung Jawa II, Arnes Syaputra.

Lomba tersebut rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei mendatang. Lomba bercerita anak adalah upaya menumbuhkembangkan minat dan budaya gemar membaca di kalangan anak-anak. Lomba tersebut diprakarsai oleh Bagian Kearsipan dan Perpustakaan Pemko Pariaman di Pentas Seni Pantai Gandoriah, Rabu (18/4).

Staf Ahli Setdako Pariaman Definal mengatakan bahwa upaya penanaman nilai moralitas pada anak melalui dongeng atau bercerita. 

"Dengan mendongeng diharapkan anak-anak kita memiliki kesempatan untuk bersosialisasi, sekaligus mengalihkan perhatian mereka terhadap televisi dan game. Karena menurut penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), hampir 70 persen tayangan yang disuguhkan televisi-televisi Indonesia merupakan kategori tidak aman untuk dikonsumsi anak-anak," tuturnya.

Ia juga berharap dengan adanya Lomba Bercerita Anak, bisa mencegah mereka dari perilaku negatif dan kenakalan remaja.

Kepala Bagian Kearsipan dan Perpustakaan Nen Marni, menjelaskan bahwa pemenang lomba akan diikutkan dalam perlombaan tingkat provinsi dan nasional di Jakarta. Peserta Lomba Bercerita Anak tingkat SD/MI se-Kota Pariaman terdiri dari siswa-siswi kelas 5 SD. Baik negeri maupun swasta dan MI di wilayah Kota Pariaman.

Materi lomba yang ditetapkan adalah cerita rakyat yang berasal dari daerah Pariaman sendiri yakni Anggun Nan Tongga.

Kepala Sekolah SDN 05 Air Santok, Mis ELis, menyampaikan bahwa sekolah yang dipimpinnya dalam tiga tahun terakhir selalu mendapatkan juara lomba bercerita anak se-Kota Pariaman.

"Kami akan mempersiapkan anak untuk lomba tingkat Provinsi Sumbar yang akan digelar pada bulan Juli mendatang, mudah-mudahan bisa mewakili Kota Pariaman pada tingkat nasional nanti," harapnya. (Tim)
Ketika Keluarga Besar Walikota Pariaman Pertama Bicara Pilkada
Mantan walikota Pariaman almarhum  Nasri Nasar bersma istri Ny Syafrita Nasar. Foto/Nanda
Pariaman ----- Dukungan terhadap pasangan calon walikota dan wakil walikota Pariaman nomor urut 3, Genius Umar dan Mardison Mahyuddin terus mengalir. Kali ini, keluarga besar almarhum Nasri Nasar yang merupakan mantan walikota Pariaman (kota otonom) pertama, menyatakan dukungan kepada paslon yang disingkat GEMA.

Istri almarhum Nasri Nasar, Syafrita Nasar mengatakan, dukungan tersebut didasarkan berbagai bertimbangan logis. Pilihan dukungan bukan dipengaruhi faktor pertemanan ataupun emosial hubungan tertentu. Namun, gagasan dan rekam jejak dari pasangan wakil walikota Pariaman dan ketua DPRD Kota Pariaman, tepat dijadikan alasan dukungan.

 “Kami mendukung Genius Umar dan Mardison Mahyuddin bukan pengaruh emosional hubungan kekebaratan atau berteman. Dukungan ini karena visi dan misi yang diusung keduanya saya nilai cocok dan realistis untuk diterapkan jika terpilih pada pilkada 2018 ini,” terang perempuan yang akbrab disapa Ita ini.

Sebagai istri mantan orang nomor satu di Kota Pariaman kala itu, ia mengaku memahami sedikit banyaknya tentang program pembangunan Kota Pariaman. Arah pembangunan di bidang pariwisata yang juga digagas kala itu oleh almarhum Nasri Nasar, tegas akan dilanjutkan oleh pasangan Genius dan Mardison.

“Komitmen mereka berdua jelas, bahwa program pembangunan yang telah berjalan dengan baik saat ini, akan dilanjutkan. Bahkan pada sektor-sektor yang dinilai masih kurang, malah ditingkatkan. Sektor yang belum terakomodir, akan didukung dengan program baru,” jelasnya.

Kata dia, alhamarhum Nasri Nasar merupakan walikota Pariaman pertama dalam sejarah berdirinya Kota Pariaman. Kala itu, Nasri Nasar didampingi Mahyuddin sebagai wakil walikota yang saat ini merupakan calon walikota Pariaman 2018.

“Ini soal pilihan, kami menilai bahwa Genius dan Mardison sangat layak dan potensial memajukan Kota Pariaman. Kami sudah lihat makan tangan kedua angkatan muda ini,” kata nenek yang masih energik ini.

Sementara itu, calon wakil walikota Pariaman Genius Umar menyambut baik dukungan politik yang dinyatakan keluarga besar mantan walikota Pariaman itu. Dukungan tersebut, kata dia, akan menambah semangat dan terus meningkatkan kepercayaan pihaknya untuk bergerak optimal memenangkan Pilkada 2018 ini.

Ia menilai, Nasri Nasar memiliki kontribusi besar dalam sejarah perkembangan Kota Pariaman. Sebagai walikota pertama, almarmum berhasil meletakkan pondasi arah dan pembangunan Kota Pariaman selanjutnya.

“Tugas kami adalah melanjutkan pondasi pembangunan yang dimulai almarhum. Dan yang belum ada akan kami tingkatkan dan akomodir,” sebut Genius. (Nanda)
Kecolongan Terima Honorer Pengguna Narkoba? Indra Sakti: Kita Berlakukan Tes Urine Berkala
Polisi amankan dua tersangka usai pesta sabu. Satu di antaranya pegawai honorer di Pemko Pariaman. Foto/Nanda
Pariaman ----- Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Pariaman Iptu Suhardi, mengatakan sedang melakukan pengembangan pasca penangkapan IR, oknum tenaga honorer Dinas Lingkungan Hidup Kota Pariaman pada Selasa (17/4) silam.

Oknum tenaga honorer IR diamankan bersama satu orang rekan lainnya saat mengkonsumsi shabu-shabu.

"Kita sedang kembangkan hasil dari kedua tersangka ini. Pemasoknya sedang kita lacak," jelasnya di Pariaman, Rabu (18/4).

Keterlibatan oknum tenaga honorer dalam perkara narkoba di Polres Pariaman, kata dia, merupakan perkara kesekian kalinya. Setidaknya, 3 orang oknum tenaga honorer di lingkungan Pemko Pariaman tersangkut penyalahgunaan narkotika rentang 2017-2018.

Ia meminta agar pemerintah setempat melakukan pemeriksaan urine ASN dan tenaga honorer di lingkungan Pemko Pariaman.

"Perlu dilakukan pemeriksaan urine periodik bagi pegawai sebagai pencegahan penyalahgunaan narkotika," pungkasnya.

Terpisah, Sekretaris Daerah Kota Pariaman Indra Sakti mengaku belum menerima laporan perkara penyalahgunaan narkoba yang melibatkan oknum tenaga honorer Dinas Lingkungan Hidup.

"Belum ada laporan resminya, ini baru dapat informasi saat konfirmasi oleh media," ujarnya.

Pihaknya akan melakukan pemeriksaan urin periodik kepada seluruh ASN dan tenaga honorer di lingkungan Pemko Pariaman. Selain itu, pemko Pariaman akan menerapkan pemeriksaan urine pada penerimaan ASN atau pun tenaga honorer.

"Kita sudah rencana dalam waktu dekat akan kita laksanakan," kata dia. (Nanda)

Lagi Asyik Pesta Sabu, Tenaga Honorer Pemko Pariaman Ditangkap Polisi
Dua tersangka (tengah) saat diamankan di Mapolres Pariaman. Foto/Nanda
Pariaman ----- IR alias I, 23 tahun, merupakan tenaga honorer di Dinas Lingkungan Hidup Kota Pariaman itu, diamankan di rumahnya di Desa Taluak Kecamatan Pariaman Selatan Kota Pariaman, Selasa (17/4) sekira pukul 21.00 WIB saat pesta shabu-shabu.

IR diamankan bersama pelaku lainnya, yakni AK alias A, 31 tahun, warga Desa Sungai Pasak Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman.    

Penangkapan berawal dari laporan masyarakat tentang aktivitas pesta narkoba yang kerap dilakukan kedua pelaku.

Berbekal informasi itu, tim 3CN (curas, curat, curanmor dan narkoba) Pegasus Polres Pariaman melakukan pendalaman. Pengintain gerak gerik kedua pelaku pun dilakuan. Penyelidikan akhirnya membuahkan hasil. Kedua pelaku yang diduga sedang pesta shabu-shabu berhasil dibekuk.

"Menurut informasi dari masyarakat kedua tersangka yang telah kita amankan ini seringkali menggelar pesta shabu. Laporan ini pun kita dalami, kami lakukan penyelidikan dan benar saja keduanya didapat memiliki dan menyimpan barang tersebut," jelas Kapolres Pariaman, AKBP Bagus Suropratomo Oktorianto di Pariaman, Rabu (18/4).

Dari kedua pelaku, petugas mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu paket kecil shabu-shabu, 2 unit telepon seluler, satu unit sepeda motor dan seperangkat alat hisap shabu.

Saat ini, kedua pelaku telah diamankan ke Mapolres Pariaman untuk pemeriksaan lebih lanjut.                                  

Menurutnya, tim masih melakukan pengembangan untuk mengungkap sumber pasokan shabu yang dimililiki kedua tersangka.

"Keduanya masih dalam penyidikan, kita akan usahakan bisa mengungkap hingga ke sumber pemasoknya," pungkasnya.

Tertangkapnya oknum tenaga honorer Kota Pariaman dalam kasus penyalahgunaan narkotika merupakan kasus kesekian kalinya.

Sebelumnya rentang 2017 hingga 2018, setidaknya 3 orang tenaga honorer Pemko Pariaman terlebih dahulu mendekam di balik jeruji besi dengan kasus yang sama. Terakhir, kasus serupa terjadi pada oknum honorer di Damkar dan Satpol PP Kota Pariaman. (Nanda)
KPU Pariaman: Wajib KTP Terdata di SIAK Bisa Masuk Daftar DPT Pilkada
KPU Pariaman dan Panwaslu hearing dengan Disdukcapil Kota Pariaman. Foto/Nanda
Air Santok ----- Koordinator Divisi Perencanaan Program dan Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pariaman, Alfiandri Zaharmi mengatakan, wajib KTP yang terdata pada Sistim Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dapat didaftarkan dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Wajib KTP ini tetap didaftarkan dalam DPT meskipun belum melakukan perekaman data. Penetapan DPT, dijadwalkan pada 19 April 2018 di Aula Hotel Almadinah, Kota Pariaman.

Menurut Alfiandri, sesuai dengan surat Mendagri Nomor 471.13/6398/DUKCAPIL tertanggal 6 April 2018, wajib KTP yang akan diinputkan kedalam DPT harus disertai dengan surat keterangan (suket) dari Disdukcapil Kota Pariaman yang menegaskan jika wajib KTP akan didaftarkan, benar terdata pada SIAK.

"Ada 907 orang wajib KTP yang belum melakukan perekaman data. Namun datanya ada pada SIAK. Sesuai dengan surat Mendagri, Disdukcapil Kota Pariaman dapat menerbitkan suket bersifat kolektif untuk kita inputkan dalam DPT," jelas Alfiandri usai rapat koordinasi terkait data pemilih Formulir AC KWK pada pemilihan walikota dan wakil walikota Pariaman 2018, Selasa (17/4).

Menurut Alfiandri, suket itu diterbitkan hanya bagi wajib KTP berstatus pemilih pemula, yakni berusia 17 tahun pada November 2017 atau akan berusia 17 tahun pada 26 Juni 2018. Sedangkan bagi wajib KTP yang non pemilih pemula yang terdaftar pada SIAK, tidak dapat diterbitkan suketnya dan akan dicoret dari DPT.

"Wajib KTP non pemilih pemula yang datanya ada pada SIAK tetap kami hapus dari DPT. Namun jika setelah penetapan DPT mereka melakukan perekaman data, dapat mencoblos menggunakan KTP Elektronik. Selain itu, KPU juga akan mencoret data pemilih yang duplikat, pemilih pindah domisili," pungkasnya.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Pariaman, Syafirman melalui Adminstrator Data Base Disdukcapil Kota Pariaman, Parida, mengatakan bahwa pemilih pada Pilkada Kota Pariaman tidak banyak menggunakan suket. Pasalnya, kini masyarakat yang melakukan perekaman data, langsung mendapatkan KTP Elektroniknya.

"Penerbitan suket adalah sebagai pengganti KTP. Suket diterbitkan karena blanko KTP tidak mencukupi. Blanko saat ini telah tersedia, bagi yang telah melakukan perekam bisa menggunakan KTP untuk memilih. Namun untuk wajib KTP yang berstatus pemilih pemula dapat kita terbitkan suketnya secara kolektif untuk keperluan pendaftaran pada DPT," jelasnya.

Pihaknya, telah menurunkan 2 tim perekaman data KTP Elektronik ke desa dan kelurahan di Kota Pariaman untuk mengoptimalkan perekaman data pemilih. Tim ini pun akan terus melakukan perekaman hingga H-1 pemungutan dan penghitungan suara.

"Perekam data sebarnya tidak lama. Yang menjadi kendala adalah kesadaran masyarakat yang rendah akan pentingnya perekaman KTP Elektronik ini," pungkasnya. (Nanda)
Marak LGBT, Kominfo Sumbar Gelar Diseminasi Informasi di Pariaman
Walikota Mukhlis berikan sambutan dalam acara diseminasi infromasi. Foto/Eri Elfadri
Pariaman ---- Sebagaimana hasil survei yang disampaikan oleh Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit sebelumnya, sebanyak 19% remaja di Sumbar telah melakukan perilaku seksual yang beresiko. Selain itu, Nasrul Abit juga mengatakan bahwa Sumbar adalah daerah terbanyak kelompok LGBT di Indonesia.
 

“Fakta ini membuat kita prihatin, oleh karena itu melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan perilaku negatif dan menyimpang sudah menjadi keharusan,” ujar Walikota Pariaman Mukhlis Rahman saat membuka acara Diseminasi Informasi dengan bertajuk Revolusi Mental Menuju Kota Pariaman Bebas Prilaku Negatif dan Menyimpang di Balairung Pendopo Rumah Dinas Walikota Pariaman, Selasa (17/4).

Acara yang dimotori oleh Dinas Kominfo Sumbar itu juga membahas masalah sosial lainnya yang marak terjadi akhir-akhir ini.

Mukhlis mengatakan upaya pencegahan tidak sebatas sosialisasi saja, namun harus terjun langsung ke seluruh kelompok berisiko: baik risiko rendah dan risiko tinggi disertai aksi nyata.

“Dengan melakukan penyadaran dan pemahaman tentang perilaku negatif dan menyimpang kepada mansyarakat risiko rendah dan tindakan medis serta pendekatan bagi kelompok risiko tinggi yang dilakukan secara paralel,” sebutnya.

Mukhlis berkata, Pemerintah Kota Pariaman melalui Komisi Penanggulangan AIDS Daerah  (KPAD) dan forum HIV/AIDS telah berupaya merangkul seluruh elemen untuk berperan  dalam upaya pencegahan  dan penanggulangan HIV/AIDS serta perilaku negatif dan menyimpang.

"Namun yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah memang sangat terbatas, dan akan lebih tidak berarti sama sekali apabila masyarakat yang juga tidak bergerak dalam aktivitas ini," sambungnya.

Pihaknya berharap dalam kegiatan tersebut akan dapat menggalang kesamaan sikap dan kesatuan langkah dalam melenyapkan segala praktek-praktek berjangkitnya kasus perilaku negatif dan menyimpang di Kota Pariaman.

“Bagi semua pihak terkait perlu memberikan dukungan yang tidak terputus dan lebih serius untuk melawan dan memerangi munculnya prilaku seks negatif dan menyimpang,” pungkasnya.

Kepala Bidang Layanan Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumatera Barat Nurfitrisman, menyampaikan bahwa tujuan kegiatan diseminasi informasi adalah ingin memberikan informasi yang jelas dan tepat tentang perilaku menyimpang.

"Peserta diharapkan dapat mendiseminasikan pengetahuan yang didapat kepada keluarga maupun orang lain," kata dia.

Acara tersebut menghadirkan narasumber Guru Besar Universitas Islam Negeri Imam Bonjol, Duski Samad, Yuni S Johan dari Lembaga Psikologi Progresive Reflection (LP2R) serta Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Pariaman, Nazifah. (Rika/OLP)


Armaizal: Nasyiyatul Aisyiyah Aset bagi Pariaman
Kabag Kesra Armaizal membuka acara Peresmian Gerakan Hari Ber-Nasyiyatul Aisyiyah (HariNA) tingkat Provinsi Sumatera Barat di Masjid Sejarah Muhammadiyah Kuraitaji, Minggu (15/4).
Pariaman ----- Dalam upaya peningkatan kinerja organisasi dan amal usaha Nasyiyatul Aisyiyah, Kabag Kesra Armaizal membuka acara Peresmian Gerakan Hari Ber-Nasyiyatul Aisyiyah (HariNA) tingkat Propinsi Sumatera Barat di Masjid Sejarah Muhammadiyah Kuraitaji, Minggu (15/4).

Armaizal dalam pidato menyampaikan bahwa keberadaan setiap pergerakan kepemudaan termasuk Nasyiyatul Aisyiyah senantiasa dipandang sebagai salah satu aset yang dapat mempercepat laju perubahan ke arah yang lebih baik di Kota Pariaman.

"Karena perjalanan sejarah perserikatan Muhammadiyah dan Aisyiyah telah memberikan peran dan andil dalam setiap perkembangan pembangunan daerah, terutama dalam bidang keagamaan, pendididkan, kesehatan dan penanggulangan masalah sosial," katanya.

Nasyiyatul Aisyiyah merupakan salah satu gerakan organisasi otonom putrinya Muhammadiyah yang senantiasa dituntut berdiri paling depan dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat, terutama remaja putri.

Ia berharap kepada angkatan muda Muhammadiyah agar mampu mengambil perannya yang strategis, tidak hanya di daerah namun juga sampai ke pusat dalam rangka memberikan kontribusi terbaiknya.

Dalam kesempatan yang sama, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pariaman fakrul Razi mengatakan, bahwa Nasyiyatul Aisyiyah merupakan kader atau bibit dari penerus Aisyiyah.

"Tidak hanya bentuk pengkaderan tetapi sebagai pembinaan mental atau spiritual untuk kepentingan agama, organisasi, dan masyarakat ke arah sumber daya manusia yang berkualitas," kata dia.

Ia juga mengingatkan, sebagai penerus organisasi, harus bisa menunjukan keunggulan berbagai bidang. Baik pendidikan, kesehatan maupun keagaamaan. Harus bisa mengelola dan berinovasi dengan sebaik-baiknya agar tidak hanyut dengan kemajuan teknologi.

Acara tersebut juga dihadiri Pimpinan Pusat Nasyiyatul Aliyah (PPNA) Elyusra Muallimin, Pimpinan Wilayah Sumatera Barat (PWNA) Elfia Yusra, Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Pariaman Trimurti. (Rika)
Silek Harimau Lalok Cubadak Aie Masih Lestari
Mukhlis Rahman sedang menyaksikan peragaan silek harimau lalok. Foto/Komonfo Pariaman
Pariaman ----- Kesenian tradisional Silek Harimau Lalok di Kanagarian Sikarek Ulu, Desa Cubadak Aie Utara, Pariaman Utara, peragakan silat tradisional di Laga-laga Desa Cubadak Aie Utara, Sabtu malam (14/4).

"Atas nama perguruan pencak silat Pariaman maupun Padangpariaman sudah ada kesepakatan bahwa sekali 15 hari diadakan silaturahmi antar perguruan Harimau Lalok. Setiap perguruan akan mengundang perguruan yang lain," ungkap Aminusin Lempa ketua panitia di acara tersebut.

Aminusin menyebut saat ini giliran pihaknya mengundang seluruh perguruan silat se Pariaman dan Padangpariaman silaturahmi guna melestarikan seni budaya silek. Selama ini kata dia, banyak kesenian tradisional yang telah hilang seperti randai (simarantang), ulu ambek, tari piriang dan indang.

Pria yang menjadi Kapalo Mudo Silek Harimau Lalok Sikarek Ulu itu juga menjelaskan bahwa untuk melestarikan kesenian tradisional tersebut, perlu regenerasi kepada generasi muda agar mengenal kesenian tradisional Silek Harimau Lalok.

Walikota Pariaman Mukhlis Rahman berharap melalui acara tersebut ke depannya pelatihan kesenian tradisional di daerah Cubadak Aie Utara dapat diteruskan dan dilestarikan. Salah satunya Silek Tradisional Harimau Lalok.

"Ini perlu terus dilestarikan sehingga tidak hilang digerus zaman. Kegiatan seperti ini juga dapat meminimalisir permasalahan remaja," tutupnya. (win)
Pariaman Tingkatkan Kompetensi Pendidik PAUD
-Walikota Pariaman Mukhlis Rahman didampingi oleh Kadis Dikpora Kanderi beserta peserta pendidik PAUD se-Kota Pariaman di Aula BP-PAUD dan Dikmas Rawang. Foto/Eri Elfadri
Pariaman ---- Walikota Pariaman Mukhlis Rahman mengatakan masa depan anak perlu dipersiapkan sejak dini melalui berbagai pemenuhan hak-haknya sebagaimana diamanatkan Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Penjaminan pemenuhan hak-hak anak menjadi tanggung jawab orang tua, keluarga dan masyarakat. Hal ini diungkapkannya ketika membuka acara pengembangan karakter bagi pendidik PAUD se-Kota Pariaman tahun 2018 di Aula BP-PAUD dan Dikmas Sumbar, Rawang Kota Pariaman, Senin (16/4).

Tingkat kesadaran masyarakat terhadap pemberian layanan pendidikan bagi anak usia dini, kata Mukhlis, untuk saat ini terbilang masih relatif rendah. Dari data yang ada jumlah layanan pendidikan usia dini di Kota Pariaman tercatat sebanyak 103 satuan pendidikan (TK/KB/SPS), namun jumlahnya tidak merata.

"Bahkan ada satu desa yang memiliki lima lembaga PAUD dan ada juga desa lain yang tidak memilikinya sama sekali," katanya.

Ia meminta kepada OPD terkait untuk mengevaluasi dan mendata kembali keberadaan lembaga pendidik di Kota Pariaman, baik yang telah dibantu oleh pemerintah maupun swadaya masyarakat.

Ia juga berharap kepada para pengajar atau pendidik PAUD yang mengikuti kegiatan itu agar mengikutinya dengan sebaik-baiknya.

Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Non Formal (PNF), Pria Sapta Mulia, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) guru dan pendidik PAUD di bidang penguatan pendidikan karakter.

"Serta untuk mewujudkan bangsa yang berbudaya melalui penguatan nilai-nilai religius jujur toleran dan disiplin. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari mulai tanggal 16 hingga 18 April 2018," kata dia.

Acara tersebut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Pariaman Kanderi, dengan narasumber Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sumbar Yenita Irawati. (Tim)