18 August 2017

Veteran 45 Sedih Merah Putih Tak Banyak Berkibar di HUT RI

Lubuak Pandan -- Kurangnya perhatian masyarakat terhadap pemasangan bendera merah putih di halaman rumah, perkantoran dan gedung lainnya dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-72 tahun 2017, membuat pejuang kemerdekaan RI sangat prihatin.

"Kami berjuang mengusir bangsa penjajah Belanda dengan tetesan darah berwarna merah. Ribuan pejuang bercucuran darah hingga tewas akibat serangan tentara Belanda," ungkap salah seorang pejuang Kemerdekaan RI 1945 di Kabupaten Padangpariaman bernama Labai Burhan, Jumat (18/8/2017).

Burhan yang ditemani istrinya Rabaani, kini tinggal di Korong Badinah, Nagari Lareh Nan Panjang Barat, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padangpariaman.

Burhan mengaku sedih menyaksikan generasi sekarang yang seakan tidak menghargai apa yang sudah dilakukan para pejuang kemerdekaan terdahulu. Mereka harus berhadapan dengan bedil, senjata mortir dan tank tentara Belanda yang ingin menguasai Indonesia kembali dalam agresi Belanda membonceng Sekutu.

”Nyawa mereka dipertaruhkan. Tapi hari ini dengan memasang bendera merah putih sebagai simbol bangsa Indonesia di hari peringatan kemerdekaan saja, terlihat banyak yang tidak memasang. Hendaknya ini perlu menjadi perhatian para pemimpin di masyarakat,” kata Burhan.

Burhan juga menceritakan perjuangannya pada perang kemerdekaan tahun 1949. Ia berkata, suatu hari Komandan Pleton Abdulllah PO (dibaca pe o) di Pakandangan menyuruhnya menjemput peluru ke Sicincin.

Dengan seorang teman, berangkat ia ke Sicincin. Dalam perjalanan bertemu dengan 12 orang pasukan Belanda. Mereka sangat kuatir jika tentara Belanda menembakan senapan, pasti tewas.

Agar tidak menarik perhatian tentara Belanda, ia tetap berjalan tanpa menunjukkan akan melakukan perlawanan. "Nasib baik, tentara Belanda tidak melakukan penempakan,” kata Burhan yang kini sudah berumur 100 tahun, namun di KTP tertulis kelahiran 15 April 1929 karena alasan naik haji tahun 2007, tahun kelahirannya terpaksa dimajukan.

Menurut Burhan, meski turut berjuang membela dan mempertahankan kemerdekaan RI, dirinya tidak pernah menerima pensiun sebagai veteran.

"Dulu memang ada yang mau mengurusnya. Namun hingga kini tidak ada hasilnya. Sedangkan teman-teman dan anggota sesama pejuang di pleton 142 sudah lama wafat. Komandan Pleton Datuak Borong dan Wakilnya Buyung Gili, keduanya dari nagari Lubuk Pandan," jelasnya.

Bahkan kata dia, dalam mengurus pensiun veteran, ada pula yang mau mengurus status veterannya, tapi dimintai sejumlah emas sebagai imbalannya yang hingga kini tak jelas,” kata Burhan yang memiliki 4 isteri dan 18 orang anak.

Tokoh muda Padangpariaman Zeki Aliwardana, rendahnya perhatian masyarakat terhadap pemasangan bendera merah putih menunjukan rendahnya pemahaman nilai-nilai nasionalisme dan perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia. Generasi muda semakin tidak akrab dengan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan.

”Apalagi derasnya arus melalui media sosial, televisi dan media internet yang tidak sebanding dengan penyebaran nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan tersebut. Sinetron atau tayangan di televisi yang banyak digandrung masyarakat, terlihat lebih  banyak tidak menumbuhkan nilai-nilai semangat nasionalisme dan kebangsaan tersebut,” kata Zeki.

Menurut Ketua Ansor Padangpariaman itu, harus ditanamkan sejak dini nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan kepada anak-anak bangsa. Sekolah dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan tersebut. (Tim)
Laporan Haji: JCH Padangpariaman Laksanakan Umrah Sunnah

Mekkah -- Seusai tausiah, zikir dan doa untuk bangsa, jamaah calon haji (JCH) kelompok terbang (kloter) 15 embarkasi Padang, mulai melaksanakan umrah sunnah, Jumat (18/8/2017), di Makkah, Arab Saudi. Tegabung di sana JCH Padangpariaman.

Tepat pukul 08.15 waktu setempat, dari total 392 JCH, sebanyak 88 orang berangkat dari hotel menuju Miqat (tan'im) menggunakan mobil sewaan yang didampingi oleh petugas haji untuk melaksanakan Ihram (niat umrah).

12 orang diantaranya menggunakan kursi roda oleh keterbatasan fisik --kondisi fisik yang terbatas. Setiba di Tan'im, jamaah melakukan salat sunnah 2 rakaat dan mulai berniat Ihram.
 

"Selama perjalanan menuju Masjidil Haram, gema Talbiyah berkumandang, serasa hamba dan Tuhan amatlah dekat," ujar Afrinaldi Yunas Tim THPD Padangpariaman dalam surat elektroniknya yang diterima redaksi.

Di Baitullah, para jamaah melakukan Thawaf dan Sa'i, diakhiri dengan memotong rambut (tahalul).

Dalam rombongan tersebut terlihat Sekda Padangpariaman, Jon Priadi dan Staf Ahli Bupati, Taslim. Selesai mengerjakan serangkaian ibadah umrah, JCH kembali menuju hotel untuk beristirahat.

"Esok kegiatan jamaah calon haji adalah ibadah mandiri ke Baitullah," sebut Afrinaldi Yunas. (Tim)

17 August 2017

Mengenang Tragedi Berdarah Surau Batu Sintuak

Sintoga -- Peristiwa penembakan 40 orang anggota TRI/TNI,  pemuda pejuang kemerdekaan dan penduduk lainnya dari Nagari Sintuak Tobohgadang, Pakandangan, Kototinggi, Pauhkamba, Bintungantinggi dan sekitarnya oleh tentara Belanda, diperingati Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padangpariaman dengan menyelenggarakan upacara 17 Agustus 2017 di lokasi pembunuhan.

Peristiwa tersebut terjadi pada  Selasa 7 Juni 1949, yang dilakukan oleh serdadu Belanda. Pembina Upacara Peringatan HUT RI ke-72, Ketua GP Ansor Padangpariaman Zeki Aliwardana, menyebutkan, pelaksanaan upacara sengaja diselenggarakan di lokasi pembunuhan keji oleh tentara Belanda kepada TRI/TNI dan rakyat  untuk mengenang peristiwa yang dikenal dengan Tragedi Surau Batu Sintuak.

"Karena eksekusi pembunuhan tersebut dilakukan di dekat surau Batu, persisnya di pinggiran sungai Batang Tapakih. Kita ingin mengingatkan semua pihak bahwa di lokasi ini pernah terjadi pembunuhan puluhan orang akibat mempertahankan kemerdekaan RI dari serangan tentara Belada," kata dia.

Ia juga prihatin tidak adanya kepedulian pihak terkait terhadap pembangunan tugu yang dibangun untuk mengenang peristiwa tragis tersebut. Hingga kini tugu itu masih terbengkalai dan dipenuhi semak belukar. Karena dilaksanakan upacara peringatan 17 Agustus di tempat itu, lokasinya dibersihkan

Rangkaian sejarah perjuangan saat itu bermula dari gencarnya perlawanan pemuda dan pejuang TRI/TNI di Sintuak Tobohgadang sekitarnya membuat Belanda kalap dan melakukan serangan membabi buta.

Rakyat biasa, petani, saudagar jadi sasaran. Pagi 7 Juni 1949, satu kompi serdadu Belanda  melakukan penyisiran ke arah Barat dari Lubuak Aluang. Operasi dipimpin Kapten Backer Komando Markas Teritorial Belanda yang bergerak dari tiga jurusan, yaitu dari Selatan melalui Pungguangkasiak, dari Utara melalui Pakandangan dan Kototinggi serta dari Barat melalui Bintungan Tinggi, Pauhkamba, dan Tobohgadang.

Ketiga rombongan menyatu dan bertemu di pasar Sintuak, tepat di lapangan dekat stasiun kereta api Sintuak. Pada pukul 09.00 WIB, ketiga rombongan  membawa orang-orang tangkapannya. Tujuan penyisiran menangkap gerilya pemuda pejuang kemerdekaan dan anggota TNI. Namun, setiap laki-laki dewasa yang ditemui digiring.

Di stasiun kereta api Sintuak, semua tangkapan dikumpulkan,  dibagi   tiga kelompok. Pertama, 20 orang dibawa ke Lubuak Aluang untuk diperiksa. Kedua,  35 orang disuruh pulang. Ketiga,  40 orang dibawa Belanda ke Surau Batu Sintuak. Kelompok ini  di halaman Surau  Batu mula-mula  disuruh duduk melingkar  mendengarkan tuduhan sebagai gerilya, ekstrimis, penghianat, perampok dan sebagainya.

Walaupun ada diantaranya  berteriak menyatakan bahwa ia petani, tidak tahu apa-apa,  tidak dihiraukan oleh serdadu Belanda. Kemudian digiring ke pinggir sungai Batang Tapakih berbaris  membelakangi kepada serdadu Belanda dan menghadapi aliran sungai. Tiga senapan mesin siap memuntahkan peluru.

Tiba-tiba terdengar komando tembak! Door… door….door. Sebanyak 37 orang tewas.  Mayatnya  dihanyutkan  Batang Tapakih yang waktu itu tengah banjir. 

Peristiwa berdarah itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Masyarakat setempat tidak ada yang menyaksikan langsung, hanya bunyi tembakan dari jauh.  Tiga orang  terhindar dari maut. Ketiganya,  saat letusan senjata api musuh terdengar, mereka  cepat terjun  ke  sungai. Lalu menghanyutkan diri bersama air banjir.

Masing-masing  Zakaria alias Buyuang Gati,  ditangkap  di  Tobohluaparik,  Tobohgadang. Setelah hari gelap,  baru berani  keluar dari sungai dan pulang. Kedua,  Hongkong yang dibangunkan ketika masih tidur pukul 05.30 WIB   di Bayua Kototinggi.  Ketiga, Nasir Labai Buyung Itik,  ditangkap tentara Belanda di Surau Buluah Apo Sawahmansi Tobohgadang, ketika selesai shalat Subuh.

Nasir Labai Itik malam harinya sampai di Balaiusang Sintuak. Ia menceritakan kejadian pada masyarakat setempat. Informasinya dengan cepat tersebar luas dan malam itu juga masyarakat Sintuak  bersama-sama membawa lampu petromak mencari korban.

Karena  Batang Tapakih  banjir, masyarakat kesulitan mencari jenazah korban. Tidak semua  korban dapat ditemukan. Hanya beberapa  korban  dapat ditemukan.  Enam  korban yang tidak dikenal dikuburkan di tepi Batang Tapakih.

Jenazah yang dikenal segera dibawa  keluarga  dan besoknya dikuburkan di pandan pekuburan masing-masing. Yang dikuburkan keluarga  Nazir, Mulek Dodok dan Yusuf Jalang. Namun dapat dicatat hanya 26 orang teridentifikasi. Tiga orang selamat, 6 orang dikuburkan secara massal dan 5 orang lagi tidak ditemukan.   (Tim)

15 August 2017

Tiba di Lokasi Jembatan Ambruk, Ali Mukhni Keluarkan Instruksi

Sikabu -- Bupati Padangpariaman Ali Mukhni bersama Plh Sekda Padangpariaman Hanibal tinjau jembatan ambruk di Sikabu, Lubuk Alung. Ia juga ditemani oleh Kepala Dinas PU Budi Mulya di jembatan yang runtuh pada Senin sore (14/8), akibat kelebihan beban yang mengakibatkan 5 orang korban luka serius.

Ali Mukhni sendiri, saat peristiwa runtuhnya jembatan sedang dinas di luar daerah. Setiba di bandara BIM, ia langsung menuju lokasi tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu.

Ali Mukhni mengatakan pihaknya akan menangani segera pasca peristiwa tersebut. Pihaknya telah melaporkan secara tertulis kepada provinsi dan pemerintah pusat untuk pembangunan jembatan tersebut.

Sedangkan bagi anak sekolah yang setiap hari melintas di jembatan itu, akan diangkut dengan unit bus milik Pemkab yang disiagakan di lokasi tersebut.

"Anak sekolah yang biasanya menggunakan jembatan runtuh ini untuk ke sekolah, kita akan sediakan Bus Pemda dari Dinas Perhubungan untuk mengangkut anak anak ke sekolah dari daerah Sikabu menuju Lubuk Alung," ujar bupati.

Di lain pihak, imbuh bupati, melalui Dinas PU pihaknya akan segera membangunkan jembatan darurat yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua di lokasi runtuhnya jembatan.

"Akan kita intruksikan untuk membangun Jembatan darurat yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua," pungkasnya.

Sebelumnya, jembatan Korong Kayu Gadang, Nagari Sikabu ambruk saat ramai dilalui oleh masyarakat. Saipul, 42 tahun, yang saat kejadian berada di lokasi ambruknya jembatan mengatakan, kejadian berawal saat dumtruk bermuatan sirtukil penuh menyeberangi jembatan dari arah Sikabu menuju BLKM.

Sedangkan 5 orang korban lainnya yang menggunakan sepeda motor datang berlawanan. Namun nahas, jembatan tersebut ambruk. Sebelumnya kata dia tanda-tanda jembatan ambruk telah terlihat.

“Sekitar pukul 15.30 WIB, dumtruk sarat muatan melintas, di depannya ada beberapa motor, saat truk bergerak mendekati ujung jembatan, saat itu jembatan ambruk. Pengendara sepeda motor juga ikut jatuh dengan sepeda motornya,” katanya. (Masrudi/Nanda)
Danrem Wirabraja Bawa Lamtera Untuk 'Menerangi' Padangpariaman

Pariaman -- Komandan Korem (Danrem) 032/Wirabraja, Brigjen TNI Bakti Agus Fadjari, sosialisasikan Program Lamtera (lampu lentera rakyat) di hadapan pejabat Pemkab Padangpariaman di rumah dinas Bupati di Pariaman, Selasa (15/8/2017).

Lamtera kata Danrem merupakan program yang telah menerangi 256.000 rumah di seluruh Indonesia. Lamtera bertujuan menghadirkan tentara di tengah masyarakat dengan bekerjasama bahu membahu menerangi daerah yang belum teraliri listrik.

"Lamtera diciptakan oleh Ujang Koswara seorang warga Garut, Jawa Barat, yang terinspirasi dari kondisi kampungnya sendiri yang belum mendapat aliran listrik untuk penerangan," papar Danrem.

Dia, lanjut Danrem, berusaha mencari jalan bagaimana supaya kampungnya memiliki listrik, mulai dari mikrohidro, air listrik, solar panel, namun masih membutuhkan banyak biaya dan highrisk.

Kemudian munculah niat bagaimana menciptakan lampu hemat biaya untuk rakyat yang terinspirasi dari lampu LED pada handphone.

"Lamtera ini tidak dikomersilkan namun melalui yayasan dan dibuat oleh para tentara serta ada yang dibuat di Lapas Sukamiskin, karang taruna, anak putus sekolah untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat putus sekolah," jelas Danrem.

Menurut Danrem, 1 lampu Lamtera digaransi selama10 tahun, 3 jam cas melalui genset maka dapat dipakai selama 1 bulan yang berbahan LED.

"Bisa, dengan daya 1 watt mampu terang 10 watt dan biaya cuma bayar Rp 2.000 sebulan. Semua itupun dibantu oleh Babinsa di lapangan untuk pemasangan dan pengecasan dibantu Babinsa memasang," tutur Danrem.

Di Padangpariaman, imbuh Danrem, sudah dipasang di Kecamatan Sungai Limau kepada sebanyak 100 kepala keluarga dan akan terus ditambah.

TNI kata dia, juga telah mengandeng PT Semen Padang untuk meluncurkan CSRnya bersama TNI dengan program Lamtera melalui MoU yang disepakati bersama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di tingkat pusat.

Ia mengatakan bahwa program itu diterapkan untuk daerah terpencil di Indonesia yang merupakan wujud kepedulian TNI kepada masyarakat agar juga dapat merasakan kemerdekaan dalam penerangan menjelang HUT RI ke-72.

Plh Sekda Padangpariaman Hannibal, mengungkapkan rasa haru dan bahagianya dengan dipilihnya Padangpariaman menerima program Lamtera.

"Saya begitu terharu dengan program dari Danrem ini. Inilah yang kita butuhkan untuk menerangi setiap pelosok Padangpariaman. Saya akan mengusulkan kepada Bupati dan Ketua DPRD agar program ini juga dilaksanakan oleh pemda, dan dimasukan dalam APBD Padangpariaman 2018," ungkapnya.

Menurut Hanibal, masih banyak daerah di pelosok Padangpariaman yang belum beruntung mendapatkan aliran listrik.

Untuk itu, Hanibal berharap program serupa akan diterapkan oleh Pemkab Padangpariaman untuk menerangi Kabupaten Pendidikan di Sumbar itu.

Sosialiasi Lamtera turut dihadiri Dandim 0308 Pariaman, Direktur Utama PT Semen Padang, Kapolres Pariaman, Wakil Ketua DPRD Mothia Azis, Kepala BKPSDM Anwar, Kepala Penanaman Modal Pelayanan Terpadu dan Perindustrian Hendra Aswara, dan pejabat di lingkungan Pemkab Padangpariaman. (Vandu)

14 August 2017

Efektifkan Pengawasan, BPOM MoU dengan Pemda se Sumbar

Paritmalintang -- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) adakan kesepakatan bersama atau MoU dengan pemerintah provinsi serta kabupaten/kota se-Sumatera Barat, sebagai bentuk mengimplementasikan Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2017 tentang Peningkatan Efektifitas Pengawasan Obat dan Makanan, Minggu (13/8/2017) di hall IKK Paritmalintang.

Kepala BPOM RI, Penny Kusumastuti Lukito menyatakan, seluruh pihak harus bertanggung jawab secara efektif dalam pengawasan keamanan, manfaat, serta mutu obat dan makanan.

Katanya, Inpres itu memang ditujukan kepada Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, Menteri Pertanian, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Komunikasi dan Informatika, Kepala Badan POM, para Gubernur, serta Bupati dan Walikota di seluruh Indonesia.

Penny menjelaskan, dalam Inpres itu peningkatan efektivitas pengawasan obat dan makanan, akan berjalan hingga lintas sektor dan lintas pemda. Untuk itu, dia berharap dukungan penuh dari pemerintah daerah dalam pengawasan obat dan makanan tersebut.

Salah satu bentuknya yaitu menindaklanjuti rekomendasi BPOM. Katanya, tindak lanjut dapat dilakukan jika menemui satu pelanggaran terkait aspek keamanan, mutu, dan manfaat dari pangan, obat-obatan, obat tradisional dan kosmetik di daerah yang beresiko merugikan masyarakat.

“Selama ini sinergi antara pemda dengan BPOM telah ada, tetapi dalam porsi kecil. Jadi dengan dukungan pemerintah, pemda akan memiliki komitmen lebih besar untuk menindaklanjuti berbagai pelanggaran yang terjadi," tandasnya.

Sedangkan Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno mengatakan, bahwa pihaknya akan sangat mendukung upaya BPOM dalam menindaklanjuti Inpres No 3 tahun 2017. Dia bahkan berpesan agar pihak BPOM menyampaikan daerah yang belum melakukan MoU.

“Informasi ini sangat penting bagi masyarakat. Telebih dalam upaya pengawasan obat dan makanan. Jadi sangat kami dukung penuh,” ujar Irwan.

Turut membenarkan, Bupati Padangpariaman Ali Mukhni mengatakan, bahwa pihaknya merasa mendapat kehormatan menjadi tuan rumah dalam MoU tersebut. Terlebih menyangkut obat dan makanan yang tentunya penting bagi kesehatan masyarakat.

Untuk itu, Ali Mukhni memastikan bahwa Padangpariaman menjadi daerah yang sangat mendukung instruksi presiden tersebut.

“Permasalahan kesehatan serta keamanan obat dan makanan yang akan dikonsumsi masyarakat, memang sangat penting dicermati. Sebab berawal dari obat dan makanan tersebutlah kenyamanan dan ketenangan hati diperoleh masyarakat dalam mengonsumsinya,” ujar Ali Mukhni.

Kendati demikian, imbuh Ali Mukhni, masih banyak masyarakat yang kurang memahami dan mengetahui produk obat dan makanan yang aman dikonsumsi. Hal itu menyebabkam sering terjadinya gangguan kesehatan penggunanya.

Dia juga menilai, bahwa masih ditemukan adanya produk obat dan makanan yang tidak memenuhi syarat mutu dan keamanan.

“Untuk itu kami sangat mendukung kegiatan yang diadakan Balai Besar POM ini. Harapan kami, pengawasan obat dan makanan lebih ditingkatkan lagi dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat dari obat dan makanan yang tidak memenuhi ketentuan,” tandasnya. (Tim)