Berita Terekomendasi

KALAPAS IIB ASMAN TANJUNG SH MH

KALAPAS IIB ASMAN TANJUNG SH MH
Oyong Liza Piliang, Citizen Journalism, Dilindungi UU NO.9 TH 1998 PERPU NO.2 TH 1998 . Diberdayakan oleh Blogger.

Pages Pariaman News

Tampilkan posting dengan label opini. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label opini. Tampilkan semua posting

Tuan-Tuan Terhormat Apakabar?

Written By oyong liza on Minggu, 20 April 2014 | 10.50





Dari hasil rekapitulasi KPU tingkat Kota Pariaman terhadap hasil perolehan suara parpol dan DPD pada Pileg 2014, dapat kita ketahui bersama bahwa kecenderungan pemilih berjenjang pada tiap pilihannya, seperti mencoblos partai yang berbeda ditiap tingkatan semacam DPRD tingkat Kota/Kabupaten, DPRD Provinsi dan DPR RI. Untuk DPR RI, di Kota Pariaman dimenangkan secara mutlak oleh partai PPP yang mengusung Mahyudin, mantan Walikota Pariaman ke DPR RI. Namun demikian, meskipun mutlak menang di Kota Pariaman, untuk PPP secara keseluruhan dimenangkan oleh Hariadi yang dikabarkan melenggang elok ke senayan.

Demikian juga untuk calon DPD Leonardy Harmainy. Untuk Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman, Leonardy juga menang secara mutlak. Masyarakat Pariaman yang menganut kental paham kekerabatan dengan senang hati memberikan suaranya kepada menantu Almarhum Kolonel Anas Malik, Bupati Pariaman yang legendaris tersebut. Dari informasi yang kami terima dari tim pemenangan Leonardy untuk Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman, sangat besar kemungkinan calon DPD dengan nomor urut 11 tersebut mendapat jatah satu kursi DPD RI dari empat jatah yang diberikan untuk wilayah Sumatera Barat.

Sementara itu, dari hasil penetapan perolehan suara pada pemilu legislatif 9 April lalu, kita juga sudah dapat menyimpulkan siapa 20 caleg yang akan menduduki kursi DPRD Kota Pariaman untuk lima tahun ke depan. Begitu juga dengan tiga unsur pimpinan Dewan yang akan berkantor di Manggung nantinya.

Partai Golkar dengan total perolehan 7.528 suara sah sudah dipastikan akan mengantarkan salah satu kadernya menjadi Ketua DPRD Kota Pariaman yang dikenal dengan istilah BA 2 Pariaman. Mardison Mahyuddin, diprediksi punya kans sangat kuat yang akan menduduki kursi paling empuk di dewan tersebut.

Kemudian disusul oleh Partai Gerindra dengan perolehan 5.361 suara sah di posisi kedua perolehan suara terbanyak di Pileg Kota Pariaman. Gerindra, tidak bisa diganggu gugat dan dipastikan akan mengantarkan salah satu kadernya menjadi pimpinan DPRD Kota Pariaman. John Edwar, Ketua Gerindra Kota Pariaman punya kans sangat kuat untuk menduduki kursi empuk plus fasilitas istimewa pimpinan DPRD Kota Pariaman.

Posisi ketiga disabet oleh Partai Nadem si pendatang baru dalam percaturan politik nasional. Dengan perolehan suara 4.255 suara, menyisihkan PBB yang mengantongi 4.167 suara, juga sudah dipastikan mengantarkan salah satu kadernya sebagai pimpinan DPRD Kota Pariaman. Syafinal Akbar dan Jonasri diprediksi punya kans kuat untuk menduduki kursi empuk dan segala fasilitas istimewa pimpinan DPRD Kota Pariaman.

Sedangkan empat Parpol yang masing-masing memenuhi quota satu fraksi dengan perolehan tiga kursi adalah Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Nasdem dan PBB. 


Kepada 20 anggota DPRD Kota Pariaman terpilih YANG TELAH KAMI RILIS SEBELUMNYA tersebut itulah nantinya yang akan menentukan arah kebijakan pemerintahan Kota Pariaman bersama mitra sejajarnya Pemko Pariaman. 

Mari kita doakan mereka agar dapat mengemban amanah suci masyarakat ini dengan sebaik-baiknya. Jauhkan mereka dari perbuatan yang mengkhianati suara masyarakat setelah mereka duduk nantinya, Jangan biarkan mereka terlena dengan segala jabatan yang melekat didirinya. Tuntun Pikirkan mereka agar memperjuangkan kesejahteraan masyarakat dengan sungguh-sungguh demi kemajuan Kota Pariaman ke arah yang lebih baik.

Catatan Oyong Liza Piliang


Caleg Abrakadabra

Written By oyong liza on Rabu, 19 Maret 2014 | 21.37





Jelang pencoblosan 9 April mendatang yang menghitung hari, banyak para Caleg harap-harap cemas, apalagi bagi mereka para incumbent atau petahana, baik DPRD Kota dan Kabupaten maupun Provinsi dan Pusat. Berdoa, solat tahajud adalah salah satu ritual wajib musti dilakukan untuk memperkokoh sandaran spiritual masing-masing Caleg. Walau bagaimanapun kekalahan adalah sesuatu yang menyakitkan.

Dalam setiap perlagaan musti ada menang kalah. Dari sekian ratus Caleg untuk Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman ditukuk untuk tingkat Provinsi, hanya terhitung puluhan yang bakalan Goal menduduki kursi empuk Dewan. Selebihnya akan ditiban kekalahan setingkat diatas sial. Ada yang kalah dengan suara jauh telak dan adapula yang hanya berselisih seangin suara. Tipe Caleg kedua yang paling merasakan beban kekalahan tersebut. Mereka akan mengalami goncangan secara psikis. Caleg yang telah banyak menghamburkan uang juga demikian, apalagi sampai hutang-hutangan, menggadaikan rumah, jual aset dsb, untuk modal biaya sosialisasi dan kampanye yang relatif mahal.

Saya selalu membantin, Orang ini sangat tidak pantas, kenapa mencaleg? Dia tidak punya kapasitas, punya reputasi mengecewakan, ditambah tidak memasyarakat. Tak jarang mereka tipe demikian merasa sudah dibibir tepi cawan atau beranggapan kursi empuk dewan sudah di depan mata mereka. Orang tipe begini belum mengenal siapa dirinya dan lingkungan sekitarnya. Dia terbilang manusia yang tidak suka mengoreksi diri sendiri. Bolehlah mereka mencaleg setelah mereka berbenah-benah sikap, budi pekerti, kepekaan sosial, serta matang secara ekonomi. Jangan sekarang. Berkodak di baliho saja masih kaku, mata merah membelalak pula. Takut orang melihat, apalagi memilihnya.

Saya menjamin, dari sekian banyak Caleg sekarang, hanya dalam prosentase kecil yang maju atas azas ideologi. Kebanyakan mereka mencaleg untuk mengejar prestise, status sosial dan abrakadabra.

Negara kita sedang menuju bentuk Demokrasi idealnya. Begitu juga dengan karakteristik pelaku politisinya. Seiring masa, bentuk ideal tersebut akan terbentuk secara perlahan. Kemudian kokoh, dan karakter demokrasipun tercipta dengan sendirinya. Seiring pula dengan para Politisinya. Politisi busuk, masam, kalek, dipastikan akan tereliminasi dengan sendirinya.

Catatan Oyong Liza Piliang

Bedah Sejarah: Tabuik-Tabuik, Syiah-Syiah

Written By oyong liza on Kamis, 13 Februari 2014 | 21.03





Pesta Budaya Tabuik Piaman seharusnya jangan dikait-kaitkan dengan faham ajaran Syiah (hal ini dengan banyaknya komentar pro-kontra terkait rencana kerjasama bidang budaya pesta budaya tabuik Piaman 2014 dengan pemerintah Republik Islam Iran) . Tabuik Piaman adalah pesta Budaya seni yang ber-afiliasi dengan dunia ke-pariwisataan. Sedangkan rangkaian acara prosesi pembuatan tabuik, adalah mengenang ritual sejarah, bukan pula terkait-mengait dengan ajaran atau paham Syiah yang oleh sebagian orang beranggapan demikian.

Jika kita merunut kebelakang, Terlepas dari perdebatan tersebut, rentetan pengaruh Syiah dalam tradisi-tradisi keagamaan di Indonesia tak bisa dibantahkan. Tradisi kebudayaan dan keagamaan yang dijalankan di kalangan muslim Indonesia banyak di antaranya merupakan pengaruh ajaran Syiah.

Ritus-ritus (
bersifat seremonial dan tertata) Tabut di Bengkulu, dan Gerebek Sura di Yogyakarta serta Ponorogo adalah ritus teologi Syiah.

Jika disebut Tabuik Piaman ada hubungannya dengan sejarah Syiah, ada benarnya, namun sejarah syiah tersebut juga merupakan sejarah Islam sebagaimana termaktup dalam beberapa hadist.

Namun demikian, menurut Ustad Buya Bagindo Leter, Tabuik Piaman adalah murni kebudayaan yang sama sekali tidak mengait dengan ajaran atau aliran paham syiah. Beliau menambahkan, bahwa hingga sekarang ini, tidak satupun masyarakat Pariaman yang menganut paham syiah tersebut.

Saya sepaham dengan pendapat Buya Bagindo Leter, apa yang dia katakan adalah sifatnya meluruskan agar kita jangan sampai terlalu jauh berdebat hal-hal yang tidak perlu yang dapat memecah belah persatuan kita sesama masyarakat Pariaman itu sendiri, sebab, masalah Agama adalah masalah sangat sensitif dan sangat mudah bergesek dan memicu kepada hal-hal lainnya yang tentunya sangat tidak kita inginkan bersama.

***

Lalu darimana asal muasal tradisi Tabuik ke Pariaman yang dikonotasikan dengan ajaran Syiah tersebut. Hal itu perlu pula kita kaji bersama. Pariaman dulu merupakan kota dagang, kota pelabuhan di pesisir barat Sumatera. Kota Pariaman lebih dulu ada ketimbang kota Padang.

Tradisi mengenang kematian cucu Nabi (Tabuik) ini menyebar ke berbagai negara dengan cara yang berbeda. Di Indonesia, selain Pariaman, di Bengkulu juga dikenal pesta tabuik atau tabot. Mengenai asal usul tabuik Pariaman, ada beberapa versi.

Versi pertama mengatakan bahwa tabuik dibawa oleh orang-orang Arab aliran Syiah yang datang ke Pulau Sumatera untuk berdagang. Sedangkan, versi lain (diambil dari catatan Snouck Hurgronje), tradisi tabuik masuk ke Indonesia melalui dua gelombang.

Gelombang pertama sekitar abad 14 M, tatkala Hikayat Muhammad diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu (saya pikir ini ada kaitannya dengan beberapa makam yang ada di pulau Angso Duo Pariaman yang juga menera abad 14 M). Melalui buku itulah ritual tabuik dipelajari Anak Nagari.

Sedangkan, gelombang kedua tabuik dibawa oleh bangsa Cipei/Sepoy (penganut Islam Syiah) yang dipimpin oleh Imam Kadar Ali. Bangsa Cipei/Sepoy ini berasal dari India yang oleh Inggris dijadikan serdadu ketika menguasai (mengambil alih) Bengkulu dari tangan Belanda (Traktat London, 1824).

Orang-orang Cipei/Sepoy ini setiap tahun selalu mengadakan ritual untuk memperingati meninggalnya Husein. Lama-kelamaan ritual ini diikuti pula oleh masyarakat yang ada di Bengkulu dan meluas hingga ke Painan, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidi, Banda Aceh, Melauboh dan Singkil.

Dalam perkembangan berikutnya, ritual itu satu-persatu hilang dari daerah-daerah tersebut dan akhirnya hanya tinggal di dua tempat yaitu Bengkulu dengan sebutan Tabot dan Pariaman dengan sebutan Tabuik. Di Pariaman, awalnya tabuik diselenggarakan oleh Anak Nagari dalam bentuk Tabuik Adat.

Dari versi diatas saya lebih condong pada versi KEDUA. Alasannya adalah penduduk asli pesisir Pariaman dahulunya memang kaum muslim India, dimana hingga kini berturun-temurun, Kampung Keling adalah salah satu fakta empiris bahwa mereka memang sejak lama sudah menghuni Pariaman ini. Disana dengan mudah dapat kita jumpai rumah-rumah yang sudah berusia sangat tuanya. Keturunan muslim India Pariaman berkembang hingga ke Kota Padang, Batusangkar dan Bukittinggi.

Dahulunya di Pariaman juga dikenal dengan ritual mistik Debus yang juga dilakoni oleh masyarakat Kampung Keling keturunan India.

Kesenian Debus yang sering dipertontonkan di antaranya:

    -Menusuk perut dengan tombak atau senjata tajam lainnya tanpa terluka.
    -Mengiris bagian anggota tubuh dengan pisau atau golok.
    Memakan api.
    -Menusukkan jarum kawat ke lidah, kulit pipi atau anggota tubuh lainnya hingga tebus tanpa mengeluarkan darah.
    -Menyiram tubuh dengan air keras hingga pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulit tetap utuh.
    -Menggoreng telur di atas kepala.
    -Membakar tubuh dengan api.
    -Menaiki atau menduduki susunan golok tajam.
    -Bergulingan di atas serpihan kaca atau beling.

Namun tidak semua item diatas yang dipertontonkan di Pariaman saat tradisi tersebut masih ada.

Debus dalam bahasa Arab berarti tongkat besi dengan ujung runcing berhulu bundar. Bagi sebagian masyarakat awam kesenian Debus memang terbilang sangat ekstrim. Pada masa sekarang Debus sebagai seni beladiri yang banyak dipertontonkan untuk acara kebudayaan ataupun upacara adat untuk menarik minat wisatawan di beberapa daerah, diantaranya Banten.

Kaum muslim India, menurut pendapat saya hanya membawa tradisi budaya semacam debus maupun tabuik ke Pariaman ini. Lain tidak. Bukan dari persia langsung yang selalu membawa ajaran Syiah menyertainya. Argumen saya diatas bisa dibuktikan melalui kajian akademis dan fakta ril tatanan beragama masyarakat Muslim Pariaman hingga sekarang ini.

Jadi, buat apa kita perdebatkan Tabuik dengan Syiah? Tabuik setahu saya dari dulu hingga sekarang, baik langsung maupun dengan menggali sejarahnya, belakangan ini bertujuan positif untuk memajukan dunia pariwisata Pariaman. Berapa perputaran uang dari tanggal 1 hingga 10 (Tabuik Piaman dihoyak pada 14) Muharam itu? Tabuik punya andil besar memperkenalkan Kota Pariaman ke Dunia Internasional. Bukankah Pariwisata itu sama artinya dengan Internasionalisasi?

Catatan Oyong Liza Piliang

Sudut Pandang

Written By oyong liza on Minggu, 09 Februari 2014 | 00.06





Harapan saya sebagaimana harapan tersirat warga sekampung tentu menginginkan ada perubahan kearah kemajuan untuk Kota Pariaman ini. Maju yang saya maksud tentu yang bersifat konstruktif, cakap dan membanggakan. Pariaman semenjak saya huni menetap tak beranjak ialah awal pernikahan saya April 2003. Sebelumnya saya suka berpindah tempat, baik itu ke Pekanbaru dimana saya dilahirkan, maupun sekedar berkunjung kerumah kakak sekandung di perantauannya, serta pulang kampung kembali. Tak betahnya saya dirantau karena sulitnya saya beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan yang selalu tidak pernah saya cocoki.

Pariaman sekarang belumlah kita boleh berbangga hati dengan banyaknya pembangunan jalan-jalan baru, kantor-kantor baru megah-mentereng. Pembangunan yang benar menurut penafsiran saya adalah pembangunan fisik yang sejalan dengan pembangunan peradabannya. Saya masih melihat masyarakat masih berpola pikir pragmatis dominan. Opini mereka terperangkap paham lama. Mereka menolak sesuatu yang baru tanpa paham akan apa yang dia tolak. Mereka terlalu percaya pada apa yang dikatakan kebanyakan orang tanpa pernah mau mencoba berpikir menurut sudut pandang mereka sendiri.

Logika akan tumpul jika kita terlalu mengikuti arus banyak (mainstream). Dulu Nokia sekarang Samsung. Dulu Datsun sekarang Toyota. Mainstream orang kita. Padahal, jika kita memakai Logika sedikit saja, dari produk diatas, dengan harga setara kita bisa dapati barang berkualitas dengan fitur lebih canggih merk lain, atau kita bisa dapatkan harga murah dengan fitur sekelas seumpama kita membeli merk lain pula.

Budaya arus banyak membudaya memang. Ingat saya dulu ketika merk baju CF, Hammer, kemudian celana Tira, Lea membumi. Saya tidak pernah membelinya, saya pilih jeans merk O2 yang tidak mudah dijumpai di pasaran, jika ada kawan bertanya berapa harganya, saya tinggal mengarangnya.

Sekarang saya menggunakan ponsel pintar merk Lenovo, merk global kenamaan meskipun China punya. Saya tahu Lenovo adalah produk berkualitas, mereka sanggup membeli perusahan IBM, raksasa perusahan komputer dunia sebagai pembuktian. Sementara seluruh orang merasa berduit menenteng Samsung. Dia tidak tahu bahwa Samsung yang masuk ke Indonesia juga berpabrik di China. Harga mahal adalah permainan penjual, dimana demam tinggi akan merk tersebut. Gadis cantik belum tentu Gadis pujaan. Sebuah mobil merk Toyota Kijang rakitan 1995 jauh lebih mahal ketimbang keluaran pabrik GM keluaran 2000 keatas kelas SUV mewah.

Saya suka mencemooh, Anda suka mencemooh, semua suka mencemooh. Itulah kita adanya orang Pariaman. Namun cemooh juga ada bertingkat-berlevel. Cemooh adalah kalimat stereotype setingkat diatas kritik. Hal itu lahir karena dialetika Pariaman boleh dikata paling sering terasah-bergesek dibanding daerah manapun di Indonesia ini. Karakter endemik.

Orang kita seakan semuanya ingin maju ketengah-kedepan. Egaliterisme mereka puncak sudah. Orang Pariaman hanya pernah tercatat tunduk pada gaya kepemimpinan Almarhum Anas Malik. Keras-keras lunak (kerasnya dua kali, lunaknya sekali).

Penertiban pasar bak kucing-kucingan antara Pol PP dan PKL. Sudut pandang antara pedagang dan pemerintah bertanda belum berada dalam satu kesatuan. Itu saja pokok persoalannya. Lain tidak.

Persoalan Pariaman hanya orang Pariaman yang bisa menyelesaikannya. Dengan cara jujur-sejujurnya, tidak iya-iya dimuka saja, dibelakang lain pula.

Catatan Oyong Liza Piliang

Kisah Nyata Seorang Mantan Anggota DPRD Sekaligus Caleg 2014

Written By oyong liza on Selasa, 04 Februari 2014 | 20.03

13914933481028252217
foto : koleksi pribadi

Kamis pagi pekan lalu, saya dikejutkan sebuah foto yang diposting salah satu teman di grup BBM alumni SMA saya. Dia memotret berita sebuah koran lokal tentang “Mantan Angggota DPRD Penadah Motor Curian”. Kebetulan teman saya tersebut seorang PNS yang di-BKO-kan ke KPUD setempat (bukan komisioner KPUD). Dia memberi judul foto itu “satu persatu dipreteli”. Saya tak paham apa maksud judul itu, apalagi foto pelaku tak jelas. Terlihat jelas pun belum tentu saya kenal karena sudah puluhan tahun saya tak lagi tinggal di kota itu.

Tak lama berselang, beberapa teman mengomentari foto itu. Saya yang tak tahu apa-apa hanya bertanya : siapa dia, dari partai apa, kok menjijikkan sekali kelakuannya. Seorang teman menjawab nama orang tersebut dan menyebut nama eks parpol yang dulu dia wakili di DPRD sebelum kemudian di PAW. Kini orang tersebut pindah ke partai lain dan mencalonkan diri kembali untuk ikut Pileg 9 April 2014 nanti. Innalillahi…!!!

Tak lama, salah satu teman yang tadi menjawab, mem-PING saya dan kami pun ngobrol. “Ira, aku tahu banyak tentang dia. Aduuuh, kasusnya banyak Ir, gak hanya itu, macem-macem pokoknya. Aku tahu pasti soalnya istrinya sering curhat sama aku”, teman saya nyerocos di BBM. Saya pun mencoba menjadi pendengar yang baik, sesekali bertanya kalau ada yang kurang jelas. Karena terlalu semangatnya teman saya cerita, alurnya melompat-lompat. Tampaknya teman saya ini sudah lama ingin bisa mengeluarkan uneg-uneg yang dia tahu. Hanya saja tak mungkin dia bicara pada sembarang orang. Teman saya itu memang ramah, gaul, menyenangkan dan teman ngobrol yang enak. Tak salah kalau banyak yang menjadikannya tempat curhat.

13914934401716915511
Anggota DPRD Ternate dari Partai Demokrat yang mabuk berat saat menghadiri sidang DPRD beberapa waktu lalu (foto : www.detiknews.com)

Baiklah saya rangkum saja kisah si mantan anggota DPR sekaligus caleg itu. Sebut saja namanya si X, awalnya X seorang Kades (kepala desa) dari Desa A, yang letaknya “pucuk gunung” – benar-benar di daerah pegunungan – di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Bukan Kades yang dipilih melalui pemilihan, namun dijabat secara turun temurun dari orang tua/keluarganya. Si X ini pendidikannya setingkat SMA, lulus dari situ ia dinikahkan dengan “gadis cilik” pilihan ortunya. Gadis cilik sebab memang si gadis sebenarnya masih di bawah umur, belum layak menikah. Namun karena ortunya “penguasa” di desanya, apalagi terjadi sekitar 25 tahun lalu, semua bisa diatur. 

Perjodohan antar keluarga seperti itu jamak terjadi di kampung, agar harta kekayaan keluarga tak lari kemana. Masih ada hubungan keluarga antara si X dengan gadis cilik yang dijodohkan dengannya.
Seiring berjalannya waktu, jabatan Kades pun tiba ‘giliran’nya dijabat si X. Ketika era euphoria multi partai pasca reformasi, X mencalonkan diri jadi caleg DPRD kabupaten tempat tinggalnya dari parpol yang didirikan oleh tokoh ulama yang jadi panutan mayoritas warga di sana. Si X terpilih, jabatan Kades “dihibahkan” kepada istrinya untuk melanjutkan. Sayangnya, si X yang memang berkelakuan buruk, semakin merajalela setelah jadi anggota dewan. Ia terlibat banyak kasus, mulai penggelapan dana bantuan sapi, penggelapan dana-dana bantuan lainnya, penipuan, penadah hasil curanmor sampai menjadi pemakai dan pengedar narkoba. Ironisnya, setiap ajang pesta demokrasi 5 tahunan, X selalu mencalonkan diri dan selalu terpilih. Maklumlah, sekampung masih terhitung keluarga dan kerabatnya semua. Soal partai, X pindah-pindah parpol, termasuk yang terakhir, Pemilu 2009 lalu ia bernaung di bawah parpol yang tak lolos parliamentary treshold secara nasional, namun kursinya di DPRD Kabupaten setempat masih terpenuhi.

13914935901701370079
Karena masih dalam pengaruh alkohol parah, sang anggota dewan sampai tak sanggup berdiri dan jatuh sempoyongan di Gedung Wakil Rakyat (foto : www.diamondtaxi.blogspot.com)

Bukan hanya kejahatan seperti itu saja, si X juga punya banyak selingkuhan. Hidupnya tak pernah sepi dari selingkuh. Inilah yang membuat istrinya kerap curhat pada teman saya. Saya tanya kenapa si istri tak memilih cerai saja. Kata teman saya “kondisi tak memungkinkan Ira, mereka kan masih ada hubungan keluarga, tinggalnya juga kumpul di situ semua, gak mungkinlah, kamu bisa bayangkan!” Saya pun paham kondisi tak memungkinkan yang dikatakan teman saya. Selingkuhan si X rata-rata masih seumuran anaknya yang SMA atau baru lulus SMA.

Kata teman saya, kerap putri pertama X melabrak selingkuhan bapaknya, karena meletakkan bong sabu sembarangan di jok mobil mereka, sehingga teman-teman putrinya X tahu. Anak perempuannya ini selepas SMA dimasukkan jadi PNS dengan jalan menyuap. Akhirnya ketahuan dan dikeluarkan, kini ia memilih kuliah. Sedangkan anak lelakinya, awalnya muak dengan kelakuan bapaknya yang suka selingkuh. Tapi lama kelamaan, anak lelaki ini jadi ikut kelakuan bejat bapaknya. Ketika masih SMP, anak lelaki X sudah terlibat video porno. Hanya saja karena mereka tinggal di kota kecil, tak terekspose media. Setelah SMA, anak lelaki ini sudah punya 2 anak, entah hasil hubungan di luar nikah atau dinikahkan resmi, saya tak menanyakan. Si anak sama sekali tak merasa malu, malah bangga menceritakannya pada teman saya, sahabat ibunya. Bukan hanya punya 2 anak, anak lelaki X ini sudah terbiasa melakukan seks bebas dengan siapa saja, termasuk dengan perempuan bule. Mungkin kelakuan itu wujud pemberontakannya pada sang ayah. Maklum, anak usia ABG hingga remaja yang sedang mencari jati diri, mendapat contoh buruk dari bapaknya.

Selingkuhan si X terkadang berani melabrak istri sah X, bahkan sampai menyatroni rumahnya dan memecahkan kaca segala. Rumah X sendiri terbilang megah, “istana megah yang tersembunyi di pucuk gunung”, kata teman saya. Meski X punya banyak selingkuhan dan hanya dijadikan teman kencan saja, namun ortu dari selingkuhan-selingkuhan X umumnya bangga anaknya dikencani anggota dewan, kaya pula. Salah satu selingkuhannya adalah anak penjual rujak langganan teman saya. Si ibu penjual rujak dengan bangga cerita anaknya jadi “pacar” si X, meski tahu si X orang bejat. Kini rumah ibu itu dibangun mentereng dan tanahnya diperluas. Maklum, selain dikencani, selingkuhannya itu disuruh merangkap jadi kurir narkoba, kaki tangan X. Bahkan rumah yang sudah dirombak itu kini jadi pangkalan orang yang bertransaksi narkoba. Pantas saja uangnya banyak.

13914936801087897490
Caleg perempuan yang membagi-bagikan narkoba pada calon pemilihnya di Jateng beberapa waktu lalu (foto : videoberita.blogspot.com)

Kini, istri sah X malah punya anak bayi. Kata teman saya, itu hanyalah cara X membuat istrinya tak bisa kemana-mana, di rumah terus, sibuk mengurus bayi, hingga tak bisa ke kota dan mendengar banyak kabar buruk soal kelakuan suaminya. Beberapa waktu lalu X di PAW, karena pindah parpol. Maklum parpol yang mengantarnya ke kursi DPRD Pemilu 2009 lalu, tak punya tiket untuk berlaga di Pileg 2014. Jadi X harus segera cari ‘tunggangan’ baru. “Capek aku ngitunginnya, Ira, pokoknya dia ganti-ganti partai terus tiap Pemilu”, kata teman saya.

Makin dekat ajang Pileg, rupanya ada yang membongkar borok-borok X. Entah kenapa, “kesaktiannya” sudah tak mandraguna lagi. Dimulai dari kasus penadahan motor curian yang dibongkar, kata teman saya, dia sudah dengar issu bahwa nanti kasus-kasus lainnya akan digeber. Bahkan mobil-mobil mewah buatan Eropa milik X, kemungkinan tak lama lagi dimilikinya, sebab semua mobil itu diperoleh dengan jalan menipu showroom/dealer. Teman saya kelihatannya lega akhirnya satu demi kejahatan X akan dibongkar. “Wes susah Ir, gak bisa lagi dinasehati, percuma”, keluhnya. Saya pun membesarkan hatinya bahwa orang seperti itu memang telah membutakan mata dan menulikan telinga, hatinya telah membatu, hanya Allah saja yang bisa memberinya pelajaran. Teman saya berdoa semoga X sadar kalau nanti jeruji penjara sudah mengungkungnya.

13914937971335336553
Caleg yang terlibat narkoba dan dijanjikan partainya akan dipecat, ternyata tetap bisa nyaleg (foto : regional.kompas.com)

========================================

Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun…, itu yang saya ucapkan setelah mendengar cerita teman saya. Benar-benar musibah bagi warga desa A punya Kades perilakunya seperti itu. Makin parah ketika mereka, orang sekampung dengan mudah diarahkan untuk memilih si X menjadi wakil mereka di DPRD. Celakanya lagi, kebodohan itu terus berulang setiap 5 tahun sekali, tak masalah meski si X jadi kutu loncat parpol. Lalu siapa yang salah? Masyarakat yang bodoh memang lahan empuk untuk terus dikerjain.

Tapi benarkah masyarakat sebodoh itu? Bukankah akses informasi kini sudah masuk sampai ke kampung? Orang kampungnya si X juga sudah banyak yang punya ponsel, semua punya televisi. Hanya saja, memang masyarakat kita mayoritas baru bisa dibilang “modern” dalam hal punya piranti simbul modernitas, namun belum pada pikirannya. Punya televisi tapi tayangan yang dipilih bukan yang menambah informasi, tapi sinetron dan hiburan yang membodohi dan melenakan. Punya ponsel pintar bisa akses internet, yang dicari bukan berita tapi video mesum di youtube atau berita gosip artis yang sensasional. Kalaupun punya uang lebih untuk beli koran dan majalah, yang dibeli tabloid gosip, klenik, atau majalah “dewasa”. Jadilah modernitas hanya sebatas kulit saja. Seolah melek informasi namun sebenarnya hanya tahu apa yang mereka ingin tahu tapi bukan apa yang seharusnya mereka tahu. Banyak orang kampung sudah cukup bangga punya piranti modern, meski tak tahu memanfaatkannya dengan optimal.

13914939491316872393
Caleg di Dapil Musirawas, Sumatera Selatan, yang menjadi otak perampokan bank di Tuban, jawa Timur, dengan alasan untuk biaya kampanye. Dia belum tahu apa arti kata reformis di balihonya (foto : www.tribunnews.com)

Iseng saya coba search di pustaka Mbah Google, dengan kalimat kunci seperti judul berita koran yang fotonya diunggah teman saya. Astaga!! Betapa terkejutnya saya, banyak sekali berita yang saya temukan. Kebanyakan berita yang sudah beberapa bulan bahkan tahun lalu, dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, yang melibatkan anggota dewan atau caleg dari berbagai parpol dalam kasus penadahan hasil curanmor. Keisengan saya berlanjut, kali ini search dengan kata kunci “caleg terlibat narkoba”, hasilnya juga cukup banyak. Bahkan caleg terlibat penjualan perempuan (human traficking) juga ada. Ada pula caleg terlibat perampokan, bahkan jadi dalangnya. Caleg terduga korupsi?! Wow, jangan ditanya, banyak sekali.

Kalau sudah seperti itu bahan bakunya, bisa dibayangkan seperti apa keluarannya. Garbage in garbage out, tak mungkin bisa garbage in gold out. Nazaruddin contohnya, bukankah rekam jejaknya menunjukkan ia ternyata sudah jadi pengusaha “nakal” sejak muda dulu? Di berbagai daerah, lebih banyak lagi anggota dewan yang rekam jejaknya buruk, awalnya profesinya preman, rentenir, yang kemudian alih profesi jadi “anggota dewan yang terhormat” karena punya cukup uang atau kekuatan massa untuk dilirik parpol.

Ironisnya, semestinya di daerah yang relatif kecil, issu kelakuan buruk seseorang dengan mudah terdengar dan jadi pembicaraan, alih-alih di-black list, orang seperti itu justru terus dipilih. Kalau sudah begini, siapa yang salah? Parpol menjual dagangan busuk, dari displaynya saja masyarakat sudah bisa lihat, tapi celakanya yang busuk itu pun tetap di”beli” dengan suara mereka. Sebenarnya, pemimpin atau wakil rakyat yang buruk adalah cerminan dari pemilih yang buruk. Mungkinkah masyarakat kita sebenarnya tidak atau belum siap punya pemimpin dan wakil yang bersih, lurus pada aturan, tak kenal kompromi, karena kita juga masih suka “berselingkuh” dengan aturan, masih suka main pat-gulipat, ngembat uang yang tak seberapa? Dari 250 juta rakyat Indonesia, sekitar 185 juta berhak pilih, berapapun yang benar-benar memilih nantinya, tetap akan diwakili 560 orang di parlemen pusat. Dan itulah cerminan pemilihnya.

Ira Oemar

'Ospek" Ala Warga Pada Caleg

Written By oyong liza on Sabtu, 01 Februari 2014 | 20.52





Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) merupakan momentum bersejarah bagi setiap siswa yang memasuki pintu gerbang perguruan tinggi. Ospek dengan seluruh rangkaian acaranya merupakan awal pembentukan watak bagi seorang mahasiswa baru. Dengan kata lain bahwa baik tidaknya kepribadian mahasiswa di sebuah perguruan tinggi sedikit banyak ditentukan oleh baik tidaknya pelaksanaan Ospek di perguruan tinggi tersebut.

Menurut Bratadharma, 2013, pada dasarnya, Ospek merupakan pintu ilmu bagi mahasiswa-mahasiswi. Pintu itu akan dibuka dan dicermati atau dipelajari secara seksama oleh mahasiswa-mahasiswi baru untuk memperdalam ilmunya. Bila dari pintunya saja sudah buruk, maka pola pikirnya bisa saja terus menduga bahwa di dalam pintu akan sama buruknya.

Lalu bagaimana dengan fenomena "Ospek" pada Politisi oleh masyarakat jelang Pemilu 2014? Saya pernah mendengar langsung kalimat tersebut dari salah seorang Caleg. Dia merasakan hal itu dalam sosialisasinya ke masyarakat. Bayangkan, menurutnya, hampir tiap hari dia ditawari kegiatan oleh warga, proposal, hingga diminta menyelempangkan spanduk dia di depan rumah. Semua hal tersebut tentu membutuhkan biaya tidak sedikit. Untuk spanduk, sebagai basa-basi si caleg tadi memberikan uang lelah dari kisaran Rp. 100-300 ribu, tergantung strategis tidaknya letak rumah tersebut. Harga tersebut hanya untuk satu rumah, bagaimana jika jumlah spanduk yang dibuatnya jumlahnya ratusan?

"Mohon dukungan dan bantu saya ya.. Kalau saya duduk Insya Allah saya tidak akan melupakan bapak-ibu sekalian," Biasanya kalimat tersebut paling acap terlontar dari mulut sang caleg.

"Insya Allah, kami se isi rumah ini saja 5 orang (misalnya) belum lagi rumah deretan belakang sana, semua warih kami," ujar warga tak kalah cerdiknya memberikan harapan.

Apakah dengan demikian sang caleg sudah merasa memiliki suara seisi rumah tersebut? Tunggu dulu. Ada cerita menariknya. Spanduk yang terselempang di rumah tersebut bukan jaminan akan terus terpasang hingga 9 April hari pencoblosan. Terkadang hanya hitungan hari dan minggu sudah copot. Dan yang lebih menyakitkan hati si caleg tersebut, di rumah tersebut kadang sudah berganti dengan spanduk caleg lain yang sedapil dengan dirinya tiga hari berselang.

Masyarakat masih menganggap pemilu adalah sebuah proyek yang musti di manfaatkan. Sangat jarang diantara mereka mendukung si calon dengan ideologi, kecuali dia adalah kerabat dekat calon tersebut.

Fenomena demikian terjadi ada sebab musababnya. Kita tentu tidak bisa menyalahkan masyarakat dalam hal ini. Trust publik memang sangat menipis pada pelakon politik saat ini.

Dalam sebuah acara perhelatan pemuda atau nagari saat musim pemilu ini, sangat mudah mendapatkan sponsor. Baik hadiah utama hingga seluruh dana penunjang terwujudnya perhelatan tersebut. Bahkan tak jarang meraup untung pula. Dalam acara itu, biasanya mereka mengundang para caleg sebanyak mungkin, melobinya sebagai sponsor, di undang pada acara pembukaan dan penutupan. Sasaran mereka umumnya para caleg yang dinilai tajir. Moderator yang lihai bersilat lidah dikampung tersebut biasanya di daulat untuk memberikan pujian lips service pada para caleg yang datang diatas panggung. Sanjungan mereka melelapkan.

Kita sering mendengar kalimat bahwa Pemimpin suatu daerah adalah cerminan warga pemilihnya terkadang ada juga benarnya. Jika para Caleg tersebut seandainya duduk dikursi legislatif, mereka tentu punya catatan kecil. Dia punya data rinci daerah mana kantong-kantong suaranya. Meskipun dia sudah duduk, terkadang rasa kekecewaan kepada kelompok warga yang sebelumnya telah banyak dibantu dan alhasil suara jauh dari harapan setelah pemilu menyemat dihatinya. Dia terkadang melabeli daerah tersebut dengan istilah "jalur gaza" nya politik. Banyak punah uang para caleg disana. Hehehe..

Catatan Oyong Liza Piliang

Inilah Koleksi Pelat Nomor Mobil Mewah Wawan dan Keris Irjen Djoko

13910536221887974343
Sebagian dan mobil-mobil mewah Wawan yang kini parkir di KPK (foto : www.tempo.co)

Ada yang menarik dari penyitaan belasan mobil mewah milik Tubagus Chaery Wardana alias Wawan, adik kandung gubernur Banten, Atut Chosiyah. Bukan hanya garasi rumah Wawan di jalan Denpasar yang layaknya showroom mobil mewah karena banyaknya mobil yang terparkir di situ, tapi ada yang unik pada plat nomor mobil-mobil Wawan. Tampaknya bukan plat nomor sembarangan yang random, melainkan ada kekhasan tersendiri. Mari kita cermati.

Ada 2 buah Ferrari California merah bernomor polisi B 888 CNW dan B 888 GES, sebuah Lamborghini Aventador putih plat nomornya B 888 WHN, Nissan GT-R putih nomornya B 888 GAW, Rolls Royce Ghost hitam platnya B 888 CHW (mobil ini diperkirakan yang termahal, harga di negeri asalnya, Inggris, mencapai Rp 18 milyar. Entah berapa harganya setelah sampai di Indonesia). Lalu ada pula Camry hitam, Lexus hitam nomor polisinya B 888 ARD, Bentley Continental plat nomornya B 888 GIF, Land Cruiser hitam dengan nomor polisi B 888 TCW, dan Land Cruiser bernopol B 1978 RFR. Selain itu motor Harley Davidson B 3484 NWW, juga ada Fortuner, Pajero dan BMW 530i. Total sudah 17 mobil plus sebuah moge Harley Davidson yang disita KPK dari rumah Wawan dan rumah 2 orang kepercayaannya di Serang.

13910536971690908794
B 888 GAW dan B 888 ARD, Lexus milik Airin (foto : www.merdeka.com)

Uniknya plat nomor polisi mobil-mobil Wawan itu kebanyakan memakai angka 8 sebanyak 3 kali, 888. Kalau abjad TCW dan ARD diduga kuat initial nama Tubagus Chaery Wardana dan Airin Rachmi Diany, istrinya. Nomor lain abjad di belakangnya kebanyakan ada huruf “W”, mungkin inisial dari “Wardana”. Mungkinkah itu inisial nama anak-anak mereka? Ada pula yang bernomor B 888 WAN. Tampaknya Wawan dan Airin percaya pada “angka hoki 8”. Apa sebenarnya mitos di balik angka 888?

MITOS 888

Sejak zaman Babilonia kuno, angka 8 diyakini sebagai lambang para dewa, yang konon menghuni ruangan kedelapan di kuil Babilonia. Kebudayaan Tiong Hoa juga mempercayai 8 sebagai angka sempurna karena tidak putus saat ditulis. Pemaknaan ilmu Feng Shui pun mengartikan angka 8 sebagai kemakmuran. Jadi, jika dikombinasikan, angka 888 menggambarkan kekayaan dari segi langit, bumi, dan manusia. Itulah mengapa China menggelar Olimpiade Beijing pada 8 Agustus 2008, pukul 08:08:08. (sumber : disini)

Situs Indonesia Feng Shui Online Center menulis, praktek penggunaan angka yang dianggap hokky dalam Feng Shui bermula dari para praktisi di Hong Kong, yang mana setiap angka memiliki makna tertentu dihubungkan dengan dialek pengucapannya, seperti. Untuk angka 8 (delapan) dihubungkan dengan kekayaan. Banyak sekali praktek Feng Shui yang menggunakan angka urutan seperti 88 (kekayaan ganda) dan 888 (kaya dari segi langit, bumi, dan manusia-nya). Sejatinya hokky atau keberuntungan seseorang selalu ditentukan oleh 3 tipe keberuntungan, yaitu keberuntungan langit, bumi, dan manusia. Maka tak heran jika menderetkan angka 8 membawa kepercayaan tentang kekayaan yang meliputi 3 tipe keberuntungan itu.

1391053867143274404
B 888 WAN (foto : news.detik.com)

KERIS BERTUAH JENDRAL DJOKO

Besarnya kepercayaan Wawan terhadap mitos hokky angka 888 itu mengingatkan saya pada 200-an bilah keris yang dimiliki Irjen Djoko Susilo, terpidana kasus korupsi pengadaan alat simulator SIM. Beliau mengoleksi lebih dari 200-an keris pusaka peninggalan kerajaaan-kerajaan tua di seluruh Indonesia. Demi memperoleh keris pusaka, Djoko tak segan menukarnya dengan sebuah rumah berharga miliaran. Keris-keris itu ada orang yang diserahi untuk mengurusnya dan secara rutin “memandikan” dalam ritual khusus tiap malam 1 Suro. Menurut Indrajaya Februharyadi – sang juru rawat keris – harga keris itu tak satu pun yang di bawah ratusan juta rupiah. Ada keris yang harga belinya ditukar dengan rumah senilai Rp. 1,7 milyar. 

Ada pula yang dijual dengan harga Rp. 6,4 milyar. Konon salah satu keris ada yang memiliki kesaktian, apabila Djoko Susilo memegangnya maka dia tak akan mempan diapa-apakan. Bahkan tak sehelai rambutnya pun bisa dipotong.

Sayangnya, “paket” kesaktian keris kurang komplit, karena terbukti KPK bisa menahan Djoko, pengadilan tipikor bisa memvonisnya bahkan ketika mengajukan banding pun hukuman Djoko diperberat. Kesaktian 4 pengacara kondang pun tak mampu menolong. Entah karena Djoko tak memandikan sendiri keris-keris itu, atau karena ini jaman modern. Jaman dulu, para pendekar, jawara, preman, banyak yang berburu kesaktian agar tubuhnya tak mempan dibacok, ditusuk, dibakar, rambut tak bisa putus, dll. Itu dulu, ketika pertarungan antarmanusia masih sebatas adu fisik, orang harus menjadi superman yang kebal segala macam. Sekarang, KPK cukup mencari 2 alat bukti, keluarkan sprindik, jemput dan berikan selembar surat penahanan. Maka, 200 keris pun tak mampu menghalanginya. Namun, meski banyak asset Djoko yang disita KPK, 200 bilah keris itu tak disentuh KPK. Padahal, kalau keris-keris itu disita dan kelak dilelang pada kolektor benda antik, lumayan juga uangnya untuk negara.

13910539701943946598
foto : www.republika.co.id

===================================
PESUGIHAN ABAD XXI ?

Dulu, sampai sekitar tahun ’70-an, di tengah masyarakat dipercaya ada ritual pesugihan, yaitu cara cepat memperkaya diri. Ada yang disebut “babi ngepet”, memelihara tuyul, dan lakon pesugihan lainnya. Para pelaku babi ngepet misalnya, ada kerja sama antara suami dan istri, di mana ketika sang suami sedang berubah wujud menjadi babi ngepet yang mencuri harta kekayaan tetangga sekitarnya, maka si istri “melekan” atau tak tidur semalaman karena harus menjaga nyala obor agar tak sampai padam. Dipercaya kalau sampai api padam, maka penyamaran si babi ngepet akan terbongkar dan digebuki massa, sang suami pun akan celaka bahkan bisa jadi menemui ajal.

Ada pula kepercayaan pesugihan lainnya yang meminta “tumbal”. Tumbal yang diserahkan haruslah dari orang yang dicintai, entah istri/suami, anak, saudara, bahkan orang tua sendiri pun dikorbankan. Dalam film-film mistis biasanya digambarkan orang yang dijadikan tumbal akan mati dengan cara tragis. Setelah tumbal diserahkan, tak lama pelakon pesugihan akan menuai hasil: kekayaannya akan bertambah dengan cepat, dagangannya laris manis luar biasa.

Dalam pesugihan yang menggunakan babi ngepet atau tuyul, biasanya pelaku pesugihan menjadi kaya mendadak, sedangkan tetangga sekitarnya justru kehilangan harta milik mereka. Karena dipercaya memang caranya adalah menyerap kekayaan tetangga sekitarnya. Saya jadi teringat hukum kekekalan energi dari Einstein, di mana energi tak bisa diciptakan maupun dimusnahkan, ia hanya berubah wujud dan berpindah tempat. Tampaknya pesugihan ini pun berprinsip seperti itu. Harta kekayaan itu tidak diciptakan (to create, to produce) melainkan hanya memindahkan kekayaan orang lain, menyerap dari pihak lain, untuk dipindah ke pelaku pesugihan.

13910543132079564416
Menurut KPK, asset berupa keris bukan barang yang layak sita (foto : nasional.inilah.com)

Wawan dan Djoko adalah figur yang hidup di jaman modern. Mereka memiliki kuasa, entah kuasa karena jabatannya atau kuasa karena jabatan kakaknya. Namun, meski mengaku Islam, keduanya punya kepercayaan pada selain Allah. Djoko Susilo percaya pada kesaktian keris, Wawan percaya pada hokky angka 888. Djoko percaya bahwa kedigdayaannya takkan berakhir, Wawan percaya bahwa kekayaannya akan komplit meliputi langit, bumi dan manusia serta tak terputus. Demi melanggengkan kepercayaan itu mereka rela merogoh kocek. Sayangnya, untuk membeli “tuhan” yang dipercaya itu, sumber uangnya pun tidak halal. Seolah kembali ke masa ketika manusia masih menganut animisme dan dinamisme, maka “tuhan” itu mengejawantah dalam benda tak bergerak (animisme) misalnya keris, atau benda bergerak (dinamisme) misalnya mobil yang sudah ditempeli plat nomor keberuntungan 888. Atut juga pernah dibentengi para “pendekar” yang konon sakti dan kan berbuat sesuatu jika KPK berani menahan Atut. Kini, sudah 40 hari Atut dititipkan di rutan Pondok Bambu, bercampur bersama pelaku kriminal lainnya, ternyata tak ada sesuatu yang terjadi pada KPK. 

Para pendekar itu pulang dengan bis sewaan ketika KPK menetapkan Atut ditahan.
Kini, pesugihan jaman modern telah bertransformasi menjadi korupsi. Tumbalnya adalah seluruh rakyat Indonesia. Mereka tidak seketika mati, tapi mati pelan-pelan karena kurang gizi, karena terkena runtuhan sekolah yang ambruk, mati karena tak ada biaya berobat ketika sakit. Intinya sama: menyerap harta benda milik orang lain (uang negara = uang milik rakyat) untuk diri sendiri, dengan menjadikan pihak lain sebagai tumbal yang mati mengenaskan.

Meski peradaban manusia telah maju, bulan sudah dijejak kaki-kaki manusia, planet lain sedang dieksplorasi untuk dijajagi kemungkinan adanya peluang kehidupan, teknologi sudah sedemikian canggih, namun terkadang manusia kembali ke insting primitif: serakah bin loba! Bukankah manusia bisa berkaca pada monyet, yang nyegir sambil terus berusaha menangkap apa pun makanan yang dilempar ke arahnya? Kedua tangan dan kaki sudah memegang makanan, tapi belum puas juga dan masih ingin menangkap kalau ada lagi yang melempari.

139105443783566580
B 888 GAW (foto : foto.liputan6.com)

Saya sesekali menonton National Geographic edisi binatang buas. Mereka berkompetisi di alam bebas, siapa cepat dia dapat mangsa. Namun satu hal, ketika mangsa itu didapat, mereka makan bersama kelompoknya, jika perut sudah tercukupi, mereka tinggalkan buruannya. Terkadang sisa buruan yang tak habis dimakan itu menjadi makanan bagi predator lain. Tak ada ceritanya mereka sembunyikan buruan dan menyimpannya untuk ditumpuk lagi dan lagi. Padahal, mereka tak punya jaminan nanti kalau perut lapar lagi, belum tentu ada binatang buruan lewat. Kalau begitu, manusia sejatinya bisa lebih buas, lebih tamak dari predator-predator di rimba belantara Afrika. Semua itu bisa terjadi, ketika manusia menuhankan materi, mabok materi dan tak pernah merasa puas, tak pernah bisa merasa cukup dengan apa yang sudah diperolehnya. Semoga saja kita tak jatuh menjadi manusia yang perilakunya lebih buas dari predator.

Ira Oemar

Caleg Artis Nomor Urut Atas Pasti Jadi?

Written By oyong liza on Selasa, 28 Januari 2014 | 20.51

13907928911583385045
Sebagian artis dan selebriti yang menjadi caleg berbagai partai politik pada Pemilu Legislatif 9 April 2014 (foto : kasakusuk.com)

Demi mengetahui Angel Lelga berada pada nomor urut 1 di Dapil Jateng V, banyak orang berkomentar di media sosial, “Waduh, pasti jadi tuh!” Apalagi melihat optimisme Angel yang seolah yakin pasti melaju ke Senayan. Benarkah demikian?

Ketika Najwa Shihab menelanjangi keawaman Angel Lelga soal wawasan politik, sebenarnya ada satu hal yang lupa ditanyakan Najwa padahal itu amat sangat mendasar bagi mereka yang akan terjun ke politik praktis dengan menjadi caleg. Meski sangat mendasar, belum tentu caleg paham. 

Pertanyaan itu adalah: apakah Angel Lelga sudah paham benar bagaimana mekanisme pencalegan, Pemilu/Pileg, perhitungan suara sah dan penetuan caleg terpilih? Apakah Angel Lelga paham apa itu prinsip “proporsional terbuka berdasarkan suara terbanyak”? Bukan hanya Angel Lelga, ribuan caleg dari 12 partai politik nasional yang berlaga pada Pileg 2014, wajib tahu soal itu.

Tahukah para caleg – terutama caleg partai kecil atau yang menurut survey elektabilitasnya rendah – apa itu parliamentary threshold (PT) dan berapa prosentase minimal yang harus diraih suatu parpol dari suara sah nasional? Sebab tanpa lolos PT, sebuah parpol tak akan dihitung sama sekali perolehan suaranya, meski di suatu Dapil parpol tersebut mampu mendulang suara 1 BPP atau setidaknya menempati urutan teratas saat perhitungan sisa suara. Sistem Pemilu kita memang tak menganut the winner takes all, di mana dalam satu distrik pemilihan parpol yang kalah dalam perhitungan suara maka suaranya akan hilang. 

Namun, dengan adanya ketentuan parliamentary threshold atau ambang batas parlemen, suatu parpol baru dapat mengantar calegnya ke Senayan jika keseluruhan perolehan suaranya secara nasional telah melebihi ambang batas parlemen.

Tahukah para caleg bagaimana tahapan mengonversi suara pemilih menjadi “kursi” DPR? Tahukah apa itu BPP (Bilangan Pembagi Pemilih) dan berapa perkiraan BPP di Dapil-nya? Mengertikah mereka apa yang dimaksud penghitungan tahap ke-II, yaitu perhitungan sisa suara? Apa yang dimaksud dengan sisa suara terbanyak? Sadarkah mereka bahwa dengan prinsip proporsional terbuka berdasar suara terbanyak, caleg nomor urut 1 sekali pun belum tentu lolos?!

Pemahaman akan hal-hal di atas sangat fatal, sebab tampaknya banyak caleg yang bahkan tak paham sistem pemilu dan perhitungan suara serta penentuan caleg terpilih. Ini tampak dari ketidaksiapan mereka jika ternyata tak terpilih. Mereka hanya berpikir bahwa dengan jor-joran menggelontorkan dana kampanye, atau membayar mahar besar kepada parpol agar mendapat nomor urut “topi”, sudah dijamin pasti jadi. Akibatnya, jika hasil perhitungan KPU/KPUD ternyata nama mereka tak lolos, mereka lalu mengamuk, menuduh pesaing berbuat curang, mengerahkan pendukung atau orang bayaran untuk bertindak anarkhis atau yang tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa stress berat dan berujung sakit jiwa. Saya menduga kuat, Angel Lelga dan ribuan caleg lainnya di seluruh Tanah Air, banyak yang belum paham benar prinsip perhitungan suara.

Parpol belum tentu memberikan pemahaman, bahkan terkadang pemberian nomor urut atas seolah jadi “hadiah hiburan” padahal namanya hanya dijadikan vote getter semata. Ada lagi trik parpol mengkadali caleg terkait affirmative policy yang mensyaratkan setiap parpol di tiap Dapil harus mencantumkan minimal 30% caleg perempuan. Direkrutlah perempuan seleb, diberi nomor urut “cantik” padahal ditempatkan di Dapil kering di mana parpol tersebut tak punya basis massa.

139079300623439239
Para artis dan selebriti yang diusung PKB pada Pileg 2014 (foto : acehterkini.com)

MENGKONVERSI SUARA MENJADI KURSI PARLEMEN

Jika di suatu Dapil kuota kursi DPR/DPRD ada 5 kursi, maka setiap parpol berhak mengajukan caleg maksimal sampai 2x (dua kali) jumlah kuota kursi DPR/DPRD, yaitu 10 caleg. Ini gengsi bagi sebuah parpol, apalagi bagi parpol yang dikenal sebagai parpol lama dan besar. Mereka akan jatuh gengsi kalau tak mengajukan caleg sejumlah maksimal, masa iya sih gak punya stock caleg? Dari 10 caleg itu, minimal 3-4 orang harus perempuan. Jadi, di Dapil tersebut, kursi DPR/DPRD yang hanya 5 kursi saja bisa diperebutkan oleh 10 caleg x 12 parpol = 120 caleg (maksimal). Dengan kata lain, secara statistik – dengan mengabaikan berbagai faktor lain – peluang seorang caleg untuk terpilih di Dapil itu hanyalah 5/120 atau 0,0417 alias tak sampai 5% saja.

Sebelum kursi dibagi ke para caleg, terlebih dulu parpol dilihat perolehan suara nasionalnya, mampukah menembus ambang batas parlemen (parliamentary threshold). Parpol tak lolos PT langsung tersingkir, suara pemilihnya hangus. Inilah perlunya para caleg satu parpol harus kompak bahu-membahu membesarkan partainya agar mampu menembus batas parlemen. Bukan saling menjatuhkan, sehingga akibat citra buruk salah satu atau sebagian caleg, maka caleg dari parpol tersebut tak dipercaya masyarakat.

Lalu berapa “harga” sebuah kursi? Dalam arti berapa suara yang harus dikumpulkan seorang caleg untuk bisa ditukar sebuah kursi. Ini disebut BPP, yaitu jumlah penduduk berhak pilih (tercatat pada DPT) di dapil tersebut dibagi dengan jumlah kuota kursi yang tersedia. Namun angka BPP itu bisa turun drastis jika banyak golput dan suara rusak/tidak sah. Angka BPP akhir yang dipakai untuk membagi kursi adalah jumlah suara sah dibagi jumlah kuota kursi. Itu sebabnya rakyat tak pernah bisa menghukum parpol dengan golput sekalipun. Sebab, meski angka golput nasional ekstrim mencapai 60% misalnya, jatah kursi DPR RI tetap saja 560. Harga kursi justru akan murah, sebab untuk menebus satu kursi jumlah suara yang diperlukan tak sebanyak seharusnya. Misalnya jumlah pemilih dalam DPT 200.000 orang, jumlah kursi 5, maka BPP = 40.000 suara. Namun setelah perhitungan suara ternyata suara sah hanya 60% atau 120.000 suara, maka nilai BPP menjadi 24.000 suara saja. Nah, itulah jumlah suara yang harus diraih si caleg untuk bisa langsung terpilih.

13907931592130550002
Beberapa artis caleg 2014 (foto : www.pemiluindonesiaku.blogspot.com)

Dalam satu Dapil, dilihat mana caleg yang memperoleh suara senilai 1 BPP atau lebih. Jika ada, caleg tersebut otomatis ditetapkan terpilih. Namun ini sulit sekali. Jika jumlah suara yang didapat caleg itu lebih dari 1 BPP, maka sisa suaranya (setelah dikurangi BPP) akan menjadi hak parpol. Jika tak ada caleg yang berhasil meraih suara 1 BPP, maka dlihat keseluruhan pengumpulan suara dari parpol tersebut. Perlu diketahui pemilih : anda boleh mencontreng hanya tanda gambar/nomor urut parpol saja tanpa mencontreng nama caleg, maka suara anda akan dihitung sebagai suara parpol dan nanti akan dihibahkan pada caleg yang memperoleh suara terbanyak di internal parpol itu jika tak mencapai 1 BPP. 

Anda juga boleh mencontreng tanda gambar parpol sekaligus nama calegnya dan suara anda akan dihitung sebagai suara untuk caleg yang anda pilih. Sebaliknya, jika anda hanya mencontreng nama caleg saja tanpa tanda gambar parpol, maka suara anda dianggap tidak sah. Sebab suara untuk caleg hakikatnya suara untuk parpol pengusungnya.

Jika tak ada caleg maupun parpol yang perolehan suaranya mencapai 1 BPP di Dapil tersebut, maka prioritas pembagian kursi dilakukan untuk parpol yang memiliki sisa suara terbesar secara berturut-turut. Kursi parpol tersebut diberikan pada caleg yang memperoleh suara terbanyak. Begitu seterusnya, sampai sisa suara habis terbagi. Pemilu kali ini sisa suara haruas habis dibagi di Dapil dan tak boleh dibawa ke Dapil lain.

Cukup rumit perhitungannya? Memang! Bahkan sengketa di MK menjadi sesuatu yang tak bisa dihindari. Kita ingat kasus yang pernah dicuatkan Mahfud MD perihal Andi Nurpati pernah dilaporkan mengubah putusan MK soal caleg terpilih. Kini yang sedang hangat dan ramai dibincangkan di twitter bahkan pernah dikupas Metro TV adalah soal “kursi haram” Ahmad Muzani, Sekjen Gerindra yang kini sudah duduk di DPR RI, yang dianggap perolehan suaranya digelembungkan saat perhitungan suara secara nasional di Hotel Borobudur.

1390793280531583553
Caleg dari Hanura, Golkar dan PPP bersama ibu Siti Zuhro (foto : www.merdeka.com)

DEMOGRAFI PEMILIH DAN BASIS MASSA PEMILIH

Memperebutkan suara pemilih dalam suatu Dapil dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain faktor keterkenalan caleg dan parpol pengusungnya, juga issu-issu aktual yang bisa mendongkrak atau justru memurukkan peluang parpol dan caleg dalam mendulang suara. Faktor lain adalah basis massa yang dimiliki suatu parpol. Ada parpol yang karena faktor historis atau kultural, memiliki keterikatan secara tradisional dengan masyarakat di suatu daerah tertentu. Semisal di Jawa Timur dikenal istilah daerah “tapal kuda” yang merupakan basis warga Nahdliyyin (pengikut NU). Ini merupakan ladang bagi parpol Islam yang punya keterkaitan sejarah dengan NU, misalnya PKB dan PPP. Wilayah Pulau Madura misalnya, dulu di masa Orba saat kharisma Kyai Alawy Muhammad sangat disegani, nyaris mutlak suara Madura menjadi “milik” PPP. Sedangkan di bagian selatan Jatim, seperti Malang selatan, Blitar, dulu dikenal sebagai basis massa PDI. Sekarang menjadi lumbung suara PDIP sebagai reinkarnasi PDI. Daerah Pacitan punya keterikatan psikologis dengan SBY dan tentu jadi lumbung bagi Demokrat.

Setiap wilayah bisa dipetakan karakter masyarakatnya secara historis, kultural dan sosial ekonomi kira-kira jadi basis massa bagi parpol apa. Jadi, seorang caleg yang ditempatkan di Dapil dimana suatu parpol tak memiliki basis massa, meski diberi nomor urut teratas, si caleg harus bekerja ekstra keras untuk bisa terpilih. Mulai dari mengenalkan dirinya dan parpolnya, membangun kedekatan dengan warga setempat sampai memastikan dia memiliki calon pemilih loyal yang akan tetap memilihnya meski ada serangan fajar. Ini jelas bukan persoalan mudah. Apalagi bagi caleg DPR RI dan DPRD Propinsi yang Dapilnya terdiri dari beberapa Kabupaten/Kota. Sedangkan caleg DPRD Kabupaten/Kota dapilya hanya beberapa kecamatan saja. Namun tetaplah bukan urusan mudah mengumpulkan ribuan suara pemilih di tengah kondisi masyarakat yang skeptis bahkan sinis dan apatis pada politik dan tingkat ketidakpercayaan yang tinggi pada parpol.

===========================================

13907936461444400167
Yang penting happy! (www.depoknews.com)

Angel Lelga sesungguhnya korban parpol. Ia ditempatkan di Dapil kering, dapil dimana PPP belum memiliki kursi satu pun. Klaten, Boyolali dan sekitarnya bukanlah basis massa PPP. Seorang penggiat hak perempuan pernah mengkritisi strategi parpol menempatkan caleg perempuan sekedar pemenuh kuota saja. Caleg-caleg itu dipasang hanya agar DCS parpol tak ditolak KPU, asal memenuhi syarat komposisi 30% perempuan. Padahal, para caleg perempuan itu ditempatkan di Dapil yang mereka tak kenal karakter masyarakatnya, tak paham bahasa daerahnya, bagaimana akan menyerap aspirasi? Jika sebuah parpol belum pernah meraih kursi di Dapil tertentu, itu artinya parpol tersebut tak punya basis massa disana. Bagaimana bisa caleg yang tanpa kemampuan sosial-kemasyarakatan, tanpa pengalaman organisasi, tanpa ilmu manajemen massa, bisa membangun basis massa loyal yang kelak akan memilihnya?

Nah para caleg seleb dan bintang sexy, jangan bangga dulu bahwa kalian dilirik parpol dan diajak nyaleg. Siapa tahu itu hanya strategi parpol untuk menutup kekurangan caleg demi memenuhi kuota 30% perempuan dan popularitasnya sekedar dijadikan vote getter saja. Sutiyoso, Ketum PKPI – di Metro TV dalam segmen khusus Metro Malam Akhir Pekan perihal kontroversi caleg seksi – menyatakan bahwa jika tak mencalegkan Destiara Talita, seluruh caleg partainya akan gugur 1 Dapil karena perempuannya kurang dari 30%. Kebetulan di Dapil itu yang siap hanya Destiara Talita jelang deadline penyerahan DCS ke KPU. Nah lho! Ternyata kejar setoran 30% kuota caleg perempuan dan kejar tayang sebelum pendaftaran ditutup KPU.

Ira Oemar

Sang Camat

Written By oyong liza on Senin, 27 Januari 2014 | 21.17





Pesan dan amanat yang disampaikan Genius saat melantik 2 Camat, yaitu Camat Pariaman Utara dan Camat Pariaman Timur hendaknya diaplikasikan oleh pejabat bersangkutan. Camat sebagai koordinator pembangunan tingkat kecamatan dituntut membaur dengan masyarakat selain dengan SKPD terkait. Selain itu Genius juga berpesan, seorang Camat juga musti memiliki sifat rendah hati agar mudah beradaptasi dengan warga yang dia pimpin. Arti kata adalah membangun jembatan hati.

Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1998 tentang Kecamatan, "Camat atau sebutan lain, adalah pemimpin dan koordinator penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kerja kecamatan yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan kewenangan dari Bupati/Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah, dan menyelenggarakan tugas umum pemerintahan".

Camat diangkat oleh bupati/walikota atas usul sekretaris daerah kabupaten/kota dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Untuk itu, Seorang Camat jangan jadi "bapak dibelakang meja". Camat musti tahu dan melihat sendiri fakta ril yang terjadi dilapangan atau di wilayah teritorialnya. Camat yang hanya menerima laporan lisan/tulisan dari lurah atau kepala desa dibanding melihat langsung kondisi ril dilapangan dijamin punya kebijakan yang berbeda. Camat yang melihat langsung kondisi ril dilapangan akan melakukan terobosan sesuai dengan apa yang dia lihat, sedangkan Camat yang hanya mendapat laporan dari bawahan, tentu saja kebijakannya berbeda dengan di atas. Kebijakannya sesuai dengan apa yang diberitahukan kepada dia.

Media sangat jarang memberikan perhatian/pressure kepada Camat dibanding Kepala Daerah. Media menilai Camat tidak "Darling" dimata publik sebagaimana Kepala Daerah dan Tokoh Politik. Padahal Tupoksi para Camat sangat menentukan dalam setiap pembangunan di Daerah tersebut.

Hingga kini saya tidak pernah mendengar seorang Camat yang Populer dimata Publik, baik dalam skala Nasional maupun skala Daerah. Lurah Susan (lenteng agung) di Jakarta yang rajin blusukan, jauh lebih populer daripada Walikota Jakarta Selatan sekalipun.

Catatan Oyong Liza Piliang

Angel Lelga Tak Sendiri di Pileg 2014

Written By oyong liza on Minggu, 26 Januari 2014 | 22.56

13905583432058895145
foto : www.merdeka.com

Angel Lelga ketiban apes! Itulah yang terjadi pada Rabu malam pekan lalu, ketika didaulat tampil di ajang Mata Najwa. Saya termasuk penyuka acara ini. Najwa Shihab sebagai ‘tuan rumah’ Mata Najwa, selalu mengajukan sederet pertanyaan tajam, menelisik dan menguliti. Hanya beberapa point pertanyaan yang disiapkan dalam script, selebihnya Najwa lebih mengandalkan “mengejar” jawaban tamunya. Satu jawaban akan ditelusur sampai ke hulunya atau dijajaki sampai ke hilirnya. Jadi, acara ini memang hanya bagi mereka yang siap menjawab dengan baik, berani adu argumentasi serta mampu mempertanggungjawabkan setiap jawabannya. Bukan hanya pada Angel Lelga saja Najwa bersikap seperti itu, Pak Marzuki Alie dan Roy Suryo pun diperlakukan sama.

Justru itulah uniknya Mata Najwa. Publik kerap disuguhi informasi mengejutkan berkat kemampuan Najwa menguliti narasumber. Di acara Mata Najwa pula, Wa Ode Nurhayati membuka tabir soal “penjahat anggaran” di Banggar DPR, meski akhirnya WON sendirilah yang jadi tumbal, sementara para pimpinan Banggar tak tersentuh. Bahkan di salah satu episode berjudul “Jual Beli Demokrasi” – saat itu menghadirkan Bambang Soesatyo, Fadli Zon dan Anas Urbaningrum (masih menjadi Ketum Demokrat) – kita dibuat terbelalak bahkan merinding. Betapa tidak, demi biaya kampanye ada orang yang tega menjual kehormatan istrinya, berikut sederet kisah memilukan lainnya dari mereka yang gagal terpilih dalam ajang Pileg atau Pilkada, padahal sudah banyak uang digelontorkan. Mulai masuk bui, stress berat hingga sakit jiwa, bahkan mati gantung diri, dilakukan para petarung gagal itu. 

Berkat kejelian Najwa mengorek nara sumber, di episode itu publik disuguhi informasi berapa dana yang harus disiapkan untuk berlaga di ajang politik, mulai yang “Paket Nekad” berbiaya ‘hanya’ belasan milyar, atau “Paket Hemat” yang hampir menyentuh angka 200 milyar, hingga “Paket Komplit” yang nilainya nyaris setengah triliun! Komplit dengan fitur “serangan fajar” segala. Bambang Soesatyo menyebut angka Rp. 500 juta untuk sekali menggelar kampanye terbuka (panggung hiburan plus pengerahan massa). Mengerikan!

CALEG TAK QUALIFIED BUKAN HANYA ANGEL LELGA

Angel Lelga apes! Dia seleb yang selama ini dikenal berkat issu kontroversial atau perseteruannya dengan artis lain. Karena itu, Najwa mengundangnya jadi tamu untuk dikuliti sejauh mana kapabilitasnya sebagai caleg. Padahal, di luar sana, dari banyak partai, di berbagai Dapil untuk berbagai tingkatan (caleg DPR RI, DPRD Propinsi, DPRD Kabupaten/Kota) orang dengan kualitas tak lebih baik dari Angel Lelga bisa jadi cukup banyak. Dari hampir 7000-an caleg yang namanya tercantum di situs KPU/KPUD, berapa banyak yang kita kenal? Jangan-jangan yang tak dikenal sama sekali malah lebih parah dari Angel. Kalaupun ada anak pejabat, apa dijamin ia mumpuni di bidang politik? Anak seorang Gubernur yang jadi anggota DPR RI tahun kemarin diduga jadi pemeran video mesum bersama mantan pacarnya, yang tak pernah disanggah secara tegas.

13905584301068807913
Rasanya dia lebih pantas jadi duta tas Hermes dengan dandanan seperti ini (foto : kapanlagi.com)

Kemarin saya dikejutkan sebuah berita di ciricara.com, seorang model majalah pria dewasa yang kerap berpose seksi, tercatat sebagai caleg PKPI untuk Dapil Jawa Barat VIII. Caleg seksi dari partainya Bang Yos (mantan Gubernur DKI Sutiyoso) ini kabarnya sudah berkampanye di akun twitter pribadinya dengan kicauan “Jangan lupa dicoblos”. Destiara Talita (nama aslinya Destiya Purna Panca) mengatakan : “Pengen segera keluar dari dunia permodelan secepatnya”. Ungkapan inilah yang membuat saya makin kaget. Dari kalimat yang diucapkannya itu, kita bisa meraba misinya menjadi caleg tak lain alih profesi. Menjadi anggota legislatif adalah profesi berikutnya yang dipilihnya karena sudah jenuh di dunia model. Kalau Destiara memang serius ingin menghentikan kiprahnya di dunia model majalah dewasa, kenapa tidak dari dulu atau sekarang saja? Kenapa harus menunggu terpilih jadi aleg? Situs kabar24.com bahkan memuat foto sang caleg yang berpose seksi di sebuah kalender terbitan majalah pria dewasa.

Oya, jangan lupa, pengacara “kondang” Farhat Abbas pun tercatat sebagai Caleg dari Partai Demokrat di Dapil DKI Jakarta III lho! Bersanding dalam satu Dapil dengan Pak Marzuki Alie di nomor urut 1, Farhat mendapat nomor urut 4. Bagaimana pendapat anda tentang pengacara kontroversial yang belum lama ini berantem dengan 2 ABG anak Ahmad Dhani di twitter? Layakkah Farhat jadi caleg? Pengacara yang terkenal dengan slogan “sumpah pocong”nya ini juga pernah menjadi tamu di acara Mata Najwa, dicecar dengan pertanyaan seputar kiprahnya yang dulu pernah mencalonkan diri jadi Presiden, lalu Walikota/Bupati dan terakhir nyaleg.

13905586331802118438
foto : www.kabar24.com

Tak terbayangkan gedung parlemen di Senayan kelak banyak diisi para pesohor industri hiburan yang rata-rata sudah mulai pudar bintangnya di jagad entertainment. Mereka harus mengubah paradigma berpikir dari seorang pelakon hiburan, hanya tinggal membaca skenario dan menhafalkannya, hidup di dunia gemerlap dan tuntutan untuk tampil glamour, memikirkan kelangsungan popularitasnya, kini mendadak harus menjadi bagian penting dari pengambilan keputusan untuk hajat hidup orang banyak. Tak ada skenario, tak ada aba-aba “take!” dan “cut!”, semua mengalir begitu saja dan dinamikanya bisa berubah detik per detik. Mereka yang terbiasa gaul dengan kalangan sesama artis, kini harus bisa menyelami apa kebutuhan rakyat banyak yang rata-rata masih jauh dari sejahtera. Satu hal yang mungkin sama : harus mampu berpura-pura. Chantal Della Conchetta, mantan news anchor Metro TV yang kini beralih menjadi host acara bincang-bincang dewasa, pernah berujar saat di wawancarai di acara Just Alvin : “menjadi politisi itu harus punya wajah ‘poker’, mampu berpura-pura”, jawabnya saat ditanya kenapa akhirnya tak jadi masuk dunia politik.

13905586931661001243
Farhat bersama elite Partai Demokrat Andi Nurpati dan Hinca Panjaitan (foto : m.okezone.com)

Nah, apakah itu sebabnya banyak parpol merekrut artis untuk jadi caleg? Kalau Farhat Abbas dilantik menjadi anggota DPR, mungkin dia memilih untuk disumpah pocong saat akan disumpah jabatan. Hubungan eksekutif dan legislatif mungkin akan kembali harmonis, jika Angel Lelga duduk di DPR dan Rhoma Irama jadi Presidennya. Bahkan PPP mungkin akan berkoalisi dengan PKB. Lalu, si sexy model majalah pria dewasa, apa yang akan diusulkannya kepada Pemerintah atas inisiatif RUU dari DPR? Alangkah lucunya negeri ini!

Ira Oemar

Trending Topik Bulan Ini

Super Trending Topik

postingan terdahulu