Headlines News :

Berita Terpopuler

Pages Pariaman News

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan posting dengan label opini. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label opini. Tampilkan semua posting

Gugatan Pilpres ke MK dan Pembelajaran Demokrasi

Written By oyong liza on Senin, 18 Agustus 2014 | 19.48




Meski sudah 3 kali Republik Indonesia menggelar pemilihan Presiden secara langsung yang melibatkan partisipasi rakyat untuk memilih calon pemimpinnya, namun Pilpres kali ini memang terasa lain dibanding Pilpres 2004 dan 2009. Pilpres 2004 adalah Pilpres langsung pertama kali, kontestan pesertanya pun cukup banyak, ada 5 pasangan capres-cawapres yang berlaga – itu pun setelah sebelumnya KPU menggugurkan pasangan Abdurrahman Wahid dan Marwah Daud Ibrahim karena alasan tak lolos tes kesehatan. Dengan peserta 5 kontestan, tak pelak lagi sulit ada calon yang akan meraih suara 50%, sehingga perlu ada putaran kedua untuk menentukan pemenang. Pada Pilpres 2009, ada 3 pasangan calon yang menjadi kontestan dan Pilpres berlangsung satu putaran, meski saat itu tak sepi dari “tuduhan” telah terjadi kecurangan yang masif akibat apa yang disebut “penggelembungan DPT”.

Pada Pilpres kali ini, sejak awal hanya ada 2 pasangan capres-cawapres yang mendaftar ke KPU. Adanya 2 calon ini membuat masyarakat Indonesia seolah terbelah menjadi 2 kubu. Polarisasi dukungan pada kedua pasangan capres terasa lebih heboh dan lebih melibatkan emosi masyarakat jika dibandingkan dengan Pilpres 2004 putaran kedua yang juga hanya menyisakan 2 pasangan capres: Megawati Soekarnoputri–Hasyim Muzadi dan Susilo Bambang Yudhoyono–Muhammad Jusuf Kalla. Maraknya media sosial dan media warga, turut meramaikan fenomena dukung mendukung di ranah dunia maya. Sepuluh tahun yang lalu, saat Pilpres 2004, internet sudah masuk Indonesia, namun penggunanya masih terbatas. Media sosial pun belum marak saat itu.

Berbeda dengan Pilpres tahun ini, karena mengerucutnya polarisasi itu, sentimen dukung-mendukung di kalangan pengguna internet pun berdampak pada fenomena saling caci maki, hujat, bahkan pemutusan pertemanan di dunia maya. Jimly Asshiddiqy menilai hal ini wajar dan merupakan bagian dari proses belajar berdemokrasi bagi masyarakat kita. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang sudah lebih dari dua ratus tahun merdeka, sudah lama disana partai politik hanya ada 2 dan setiap kali pilpres calonnya selalu hanya ada 2 pasang dan biasanya relatif sama kuat. Seorang pengamat sosial pun menilai, fenomena ‘unfriend’ di media sosial, tidak terjadi di negara yang sudah matang demokrasinya. Sementara bagi masyarakat Indonesia yang baru kali ini menghadapi pilpres dengan 2 pasang calon saja, umumnya mereka juga lebih suka “harmoni”, yaitu hanya mendengar, melihat dan membaca apa yang ingin didengarnya saja, maka relatif tidak siap menghadapi kondisi seperti ini, hingga akhirnya ada yang memilih memutus pertemanan ketimbang melihat postingan yang berbeda dengan yang diinginkannya. Mungkin, kalau ke depan setiap kali pilpres kita hanya memiliki 2 pasangan capres saja, masyarakat kita akan mulai terbiasa, sehingga menyikapinya pun akan biasa saja, tak sampai terjadi permusuhan.

Banyak pula yang meramalkan, Pilpres 2014 jumlah golput akan menurun drastis karena tingginya animo masyarakat untuk memilih. Kedua pasangan calon sama-sama punya magnet kuat untuk membuat warga negara yang biasanya cuek dan apatis, kini terdorong untuk ikut datang ke TPS dan menggunakan hak pilihnya.

Usai Pilpres dan proses perhitungan suara di KPU, ada kubu pasangan capres yang tidak puas dengan hasil KPU, karena menduga ada indikasi kecurangan. Kubu Prabowo–Hatta Radjasa menilai telah terjadi beberapa kecurangan yang menyebabkan pihaknya dirugikan. Kemudian Prabowo-Hatta membawa masalah ini ke Mahkamah Konstitusi. Sebenarnya, proses gugatan ke MK ini adalah hal yang wajar dan konstitusional. Dalam berbagai ajang Pilkada di seluruh Indonesia, sudah tak terhitung hasil Pilkada yang digugat ke MK. Sebagian dari tuntutan tersebut ada yang dikabulkan MK, ada yang direkomendasikan untuk dilakukan PSU (Pemungutan Suara Ulang) di beberapa daerah yang diduga terjadi kecurangan, dll. Pilkada Gubernur Jawa Timur pada 2008 lalu, bahkan sampai terjadi 3 putaran karena ada beberapa daerah yang harus diulang. Dalam proses di MK, ada yang putusannya tetap memenangkan pasangan calon yang ditetapkan menang oleh KPUD, namun ada pula yang pemenangnya kemudian berubah.

Namun entah karena skalanya yang bersifat nasional atau karena pembentukan opini publik oleh media mainstream kebanyakan, gugatan hasil Pilpres ke MK oleh pasangan Prabowo-Hatta ini banyak yang beranggapan sebagai wujud “tidak legowo”. Padahal, sebenarnya pasangan capres tidak menerima hasil putusan KPU dan menggugat ke MK, itu sudah terjadi sejak Pilpres langsung pertama di tahun 2004. Waktu itu, pasangan Wiranto–Gus Sholah juga melayangkan gugatan hasil perhitungan suara pilpres ke MK yang didaftarkan pada Kamis 29 Juli 2004. Selain menggugat ke MK, Wiranto-Wahid juga mengajukan Judicial Review ke Mahkamah Agung, terkait keluarnya SK KPU No. 1151 Tahun 2004 tentang pengesahan kertas suara yang tercoblos ganda. Hal itu dilakukan kubu pasangan yang diusung partai Golkar dan PKB tersebut dengan alasan ada pelanggaran yang terjadi selama proses perhitungan suara yang menyebabkan pasangan Wiranto-Gus Sholah kehilangan suara yang signifikan sehingga gagal melaju ke putaran ke dua. Saat itu Wiranto menyatakan : “Saya menggugat bukan karena kalah atau tidak mau menerima hasil suara. Saya hanya mau meluruskan lewat jalur hukum,” kata Wiranto di Jakarta, Kamis 5 Agustus 2004. Wiranto juga menyatakan langkahnya membawa ke proses persidangan itu adalah upaya untuk menyelesaikan berbagai problem. “Paling tidak, saya sudah berani masuk dalam proses hukum yang benar,” katanya. sebagaimana dikutip oleh Tempo.co

Pada Pilpres 2009, kedua pasangan lain (yaitu Megawati–Prabowo dan Jusuf Kalla–Wiranto) bahkan sama-sama tak menerima hasil KPU dan menggugatnya ke MK. Jadi sebenarnya upaya Prabowo–Hatta membawa hasil Pilpres ke MK adalah hal yang biasa dan itu adalah bagian dari pembelajaran demokrasi. Bukankah memang seharusnya pihak yang mengatakan telah terjadi kecurangan berani membawanya ke jalur hukum, ketimbang hanya berteriak curang namun tak mau berproses di depan hukum?

Ketua Bidang Hukum DPP Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Syaiful Bakhri mengatakan bahwa gugatan itu dinilai positif untuk pembelajaran demokrasi di Indonesia agar kedepan demokrasi lebih matang dan dewasa. Dengan begitu, penyelenggara Pemilu akan belajar untuk bekerja secara lebih independen dan profesional. Mantan Komisioner KPU tahun 2009, I Gusti Putu Artha, dalam salah satu talk show di televisi mengatakan : “dahulu kami ‘dipecat’ secara politik oleh DPR hanya karena adanya pemilih yang menggunakan KTP saja sebanyak 450 ribu”. Artinya : jika sekarang terjadi penambahan signifikan pemilih dalam DPKTb (Daftar Pemilih Khusus Tambahan) yang tak memiliki Form A5 dan hanya menggunakan KTP saja di luar KTP setempat, sampai mencapai 2,9 juta pemilih (4,5 kali lipat dari 450 ribu), cukup layak untuk dipersoalkan. Ini bukan semata-mata hitung-hitungan suara, namun sudahkah penyelenggara Pemilu dari pusat sampai daerah mematuhi regulasi yang dibuat sendiri?

Jika kita cermati iklan sosialisasi KPU yang ditayangkan media TV, dengan bintang iklan Melanie Putria, sama sekali tak disebutkan bahwa pemilih yang belum terdaftar dalam DPT boleh memilih hanya berbekal KTP saja, kecuali warga setempat yang memiliki KTP setempat, itupun harus menunggu jam 12 siang, satu jam sebelum TPS ditutup, agar tak terjadi pengerahan pemilih hanya dengan bermodal KTP saja. Pemilih dari luar kota bisa memilih di tempat domisilinya sekarang, dengan cara mendaftar ke KPUD setempat untuk dicatat menjadi Pemilih Tambahan, seperti yang digambarkan dilakukan oleh bintang iklannya. Adapun pemilih yang mobile, bisa memilih di tempat lain dengan menggunakan formulir A5, Surat Keterangan Pindah Memilih. Jadi cukup janggal juga jika beberapa KPUD kemudian mengeluarkan Surat Edaran yang bertentangan dengan aturan KPU, yang justru membolehkan siapa saja, dari mana saja bisa memilih di TPS mana saja cukup dengan menunjukkan KTP atau keterangan domisili lainnya.

Apalagi jika dikaitkan dengan kebijakan kelebihan surat suara di tiap TPS yang hanya diijinkan sebanyak 2% saja dari jumlah pemilih dalam DPT resmi. Misalnya di satu TPS jumlah DPT-nya ada 400 pemilih, maka kelebihan surat suara maksimal hanya 8 lembar saja, untuk mengganti apabila ada surat suara rusak atau pemilih dengan form A5. Namun faktanya, di beberapa TPS, jumlah pemilih dadakan yang dicatat dalam DPKTb jumlahnya bisa puluhan bahkan ratusan. Ambil contoh di TPS 23 Kecamatan Waru, Sidoarjo, Jatim, sebagaimana diakui oleh Nanang Haromi (anggota KPUD Sidoarjo, Jatim) yang bersaksi di MK, ada 130 pengguna DPKTb. Padahal, di TPS tersebut jumlah DPT-nya ada 493 pemilih. Artinya maksimal surat suara cadangan hanya ada 10 lembar. Bagaimana mungkin pengguna DPKTb yang mencapai 26,3% itu bisa memilih? Anggota KPUD itu sendiri bahkan bingung menjawabnya. Apakah KPUD sengaja mendistribusikan surat suara berlebih pada TPS-TPS tertentu? Apakah jumlah itu sesuai dengan jumlah golput? Apakah golput di TPS tersebut mencapai jumlah 25%an sehingga surat suara tak terpakai bisa dialihkan pada pemilih DPKTb?

Masalah lain lagi, kebijakan untuk mengijinkan pemilih tak terdaftar dalam DPT untuk menggunakan hak pilih dengan menunjukkan KTP saja, ternyata bersifat tidak merata, atau tebang pilih. Itu sebabnya penumpukan jumlah pemilih pada DPKTb terjadi di TPS-TPS tertentu, sehingga seolah ada konsentrasi pemilih tambahan mendadak di TPS-TPS tersebut. Salah satu kasus dialami keponakan teman saya, mahasiswi Unair, Surabaya. Karena masih menjalani UAS, ia baru sempat datang ke KPUD Kota Surabaya untuk mendaftar sebagai Pemilih Tambahan pada H-8 sebelum pencoblosan. Namun niatnya untuk mendaftar sebagai pemilih ditolak KPUD Surabaya, dengan alasan kesempatan untuk itu sudah ditutup sejak H-10. Padahal, iklan layanan masyarakat dari KPU tentang himbauan mendaftar DPTb, masih ditayangkan di televisi sampai H-3. Sebagai solusinya, KPUD Surabaya menyarankan keponakan teman saya itu untuk menunjukkan surat undangan memilih dari daerah asalnya, sebagai bukti bahwa ia telah terdaftar di daerah asal. 

Akhirnya, keponakan teman saya menghubungi keluarganya di Jakarta, untuk mengirim form C-6 (undangan memilih). Dua hari kemudian, form C-6 diterima. Berbekal form C-6, ia diantar teman saya datang ke PPS di Kelurahan setempat. Maksudnya ingin memberitahu bahwa pada 9 Juli nanti akan ikut mencoblos di TPS terdekat. Namun, sekali lagi Petugas PPS Kelurahan menolak. Alasannya : mereka hanya menerima form A5 saja, sesuai aturan KPU. Tanpa A5, tak ada dispensasi lain. Padahal, tak mungkin bagi keponakan teman saya itu untuk pulang ke Jakarta mengurus form A5.

Namun nasib berbeda dialami kerabatnya di kecamatan lain di Surabaya. Meski sama-sama mahasiswa perantauan, kerabatnya itu boleh mencoblos di TPS terdekat, cukup hanya menunjukkan KTP saja. Alasannya: si calon pemilih “kenal” dengan Pak RT-nya. Nah, kebijakan tebang pilih seperti inilah yang semestinya diluruskan lewat jalur hukum, agar ke depan, Pemilu demi Pemilu, KPU sebagai penyelenggara Pemilu tidak terus menerus mengulang kesalahan yang sama. Bukankah Pilpres 2009 dulu juga kisruh soal issu “penggelembungan” DPT? Kali ini, DPT juga diabaikan, dengan tingginya pemilih dalam DPKTb. Jika memang cukup bermodal KTP saja bisa mencoblos, untuk apa susah payah menyusun DPT?

Itulah salah satu hikmah yang bisa dipetik dengan adanya gugatan hasil dan proses Pilpres ke Mahkamah Konstitusi. Demokrasi tanpa Pemilu itu mustahil. Tapi Pemilu yang tidak demokratis, juga hanya akan menghasilkan pemerintahan demokratis semu. Selama kurun waktu Orde Baru, kita disuguhi demokrasi abal-abal. Pemilu selalu saja curang, namun tak ada yang bisa menggugat karena saluran untuk menggugat juga tak ada. Salah satu buah Reformasi adalah adanya lembaga Mahkamah Konstitusi. Di banyak negara, gugatan melalui MK di negara tersebut juga suatu hal yang wajar. Jadi, semestinya semua pihak bisa menilai gugatan lewat MK adalah upaya penegakan demokrasi, pembelajaran bagi penyelenggara pemilu sekaligus mendewasakan masyarakat pemilih agar bisa lebih dewasa dan disiplin mengikuti aturan dalam menyalurkan hak suaranya. Sebab, bukan rahasia lagi bahwa masyarakat kita banyak yang ogah/malas mengurus KTP, SIM, tapi maunya hak-haknya dipenuhi, termasuk hak memilih.

Catatan Ira Oemar

Tenang, Siapapun Presiden Terpilih Nanti Ituluh Utusan "Tuhan" Untuk Indonesia

Written By oyong liza on Kamis, 05 Juni 2014 | 20.10





Siapapun yang terpilih sebagai RI-1 dan RI-2 pada Pilpres 9 Juli mendatang itulah pemimpin terbaik yang dimiliki Indonesia di masa sekarang. Rakyat tidak pernah salah dalam memilih, suara rakyak adalah suara Tuhan. Anda boleh mempercayai teori yang saya sebutkan di atas. Amerika sudah puluhan Presidennya yang dipilih langsung, dan terbukti warga Amerika melahirkan pemimpin-pemimpin hebat di masanya.

Sistem pemilihan electoral atau dipilih langsung oleh rakyat, bukan oleh parlemen sangat menguntungkan bagi kita sebagai rakyat karena kita dengan cepat mengeliminasi para calon yang tidak pantas dipilih yang dibuktikan dengan survey elektabilitas. Hal itu berbeda jika para anggota parlemen yang memilihnya sebagaimana di Thailand, contoh dekatnya. Pemimpin yang dilahirkan oleh suara rakyat akan saling berikatan hati. Pemimpin yang dipilih rakyat, sejelek-jeleknya pasti akan memikirkan orang yang mengantarkannya ke kursi singasananya, dan hampir mustahil akan mengkhianati kepercayaan itu. Begitu juga dengan pemimpin yang dilahirkan oleh parlemen. Dia akan memikirkan para voternya di Parlemen ketimbang menjaring aspirasi rakyat. Disinilah kita patut bersyukur dengan sistem pemilihan Presiden era sekarang.

Dalam masa kampanye Pilpres RI 2014 ini memang suasana politik sedang berada di titik didih. Sesama tukang ojek saja sampai baku hantam karenanya. Dimana-mana orang membahasnya, berdialog hingga menggelegakkan darah di ubun-ubun kepalanya. Capres dialah yang terbaik, capres lawan apalah itu, dilecehkan dengan bahasa mengerdilkan.

Perang media tak terelakan. Metro-TV menjagokan Jokowi dan TV One menjagokan Prabowo dapat dilihat dengan tayangan-tayangan mereka yang kasar, menggiring opini, membuat pencitraan, dsb. Independen mereka sebagai media sudah tergadai memang demi tujuan politik para pemiliknya.

Sebagai masyarakat yang cerdas, Rakyat Indonesia tidak lagi mudah diarahkan oleh opini media. Apalagi isu-isu yang mereka hembuskan itu-keitu saja. Masyarakat Indonesia di era kini tidak lagi menjadikan media mainsteam sebagai kiblat. Media sosial semacam facebook, twitter dan blog sama pengaruhnya dengan kumpulan ratusan media mainstream dalam hal membangun opini dan pencitraan.

Catatan Oyong Liza Piliang

Pilpres Adalah Ujian Kecerdasan Rakyat





Baik langsung maupun melalui media visual, kita baru saja menyaksikan deklarasi dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden RI priode 2014-2019. Ini memberi makna bahwa “pertarungan” dua kekuatan besar di negeri ini segera dimulai. Dalam konteks ini, tentu kita ada baiknya mengetahui pula dibalik kedua pasangan yang berkompetisi diatas panggung politik nasional itu, terdapat dua kelompok orang dengan berbagai kepiawaian. Mereka inilah yang menyusun strategi dan taktik untuk memenangkan kandidatnya masing-masing. Siapa mereka itu? Tentunya mereka adalah orang-orang pilihan, cendikiawan, politisi ulung dan para ahli strategi.

Masing-masing kelompok tadi yang lazim dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai “Tim Pemenangan”, mereka mengemban tugas yang tidak ringan dan sangat detail dari mulai merancang tag line, pembentukan citra hingga menyusun bahan kampanye. Dan tidak hanya itu mereka juga berperan sebagai banper kampanye negatif dan kampanye hitam dilontarkan lawan politik terhadap pasangan kandidatnya.


Kita tentu melihat dengan jelas dan terang benderang, kini “perang udara” sudah berlangsung sengit, kedua pasangan kandidat didukung oleh media, terutama televisi, netralitas lembaga penyiaran seakan-akan sudah goyah berpihak hanya kepada salah satu pasangan kandidat saja, para pengamat pun ikut larut dalam kondisi ini, padahal sebagian besar para pengamat politik kondang yang wajahnya sudah begitu akrab di media umumnya adalah para akademisi yang menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan diharapkan memberikan analisa politik yang obyektif sesuai bidang kepakaran mereka.


Memasuki masa kampanye ini, rakyat akan disuguhi janji-janji manis, mungkin lebih manis dari madu, rakyat disuguhi harapan yang indah-indah tetapi sebagai rakyat tentu kita bersikap kritis dan cerdas, tawaran-tawaran atau janji-janji tadi harus kita takar dengan rekam jejak kandidat yang bersangkutan, kita tidak boleh terbuai dengan orasi yang menggebu-gebu tetapi isinya adalah hampa belaka, kita tentu tidak mau kecewa dan penyelesalan. Pilpres ini adalah ujian kecerdasan rakyat untuk dapat memilih Presiden dan Wakil Presiden yang benar-benar amanah, satu kata dengan perbuatan, agar kita tidak kecewa nantinya.


(jonio Suharto)

Menunggu Tebasan Pedang Kajari Pariaman

Written By oyong liza on Rabu, 07 Mei 2014 | 21.51





Publik Pariaman tersentak setelah Kejaksaan Negeri Pariaman melakukan penahanan terhadap seorang anggota DPRD Padangpariaman dalam kasus dugaan korupsi dana bencana, kemudian disusul lagi dengan penetapan tersangka terhadap unsur pimpinan DPRD Padangpariaman berinisial EZ dkk dalam kasus dugaan korupsi makan minum fiktif. Siapakah EZ dkk tersebut? Sayang, Kajari Pariaman belum mau merilis nama-nama tersebut dengan alasan demi pengembangan penyidikan. Bahkan Kajari seakan memberi sinyal akan adanya penambahan jumlah tersangka dalam dua kasus tersebut.

Kajari Pariaman, Yulitaria, Wanita 50 Tahun, bahkan mengatakan korupsi yang terjadi di DPRD Padangpariaman dilakukan secara berjamaah. Dalam keterangan persnya, Kajari mengatakan bahwa penetapan tersangka terhadap EZ dkk, hanya dalam satu kasus makan minum saja yang hasil investigasi audit BPKP nya telah tuntas dan sudah berada ditangan Kejaksaan. Sedangkan kasus dugaan SPPD fiktif, perawatan mobil dinas, tiket pesawat, hasil audit BPKP nya belum tuntas. Jadi, kuat dugaan, yang dimaksud korupsi berjamah oleh Kajari tersebut untuk semua kasus dugaan korupsi diatas yang berdiri secara sendiri-sendiri yang melibatkan para anggota DPRD Padangpariaman dan sekretariat.

Kajari bahkan sempat menegaskan tindakan hukum terlepas dari semua kepentingan. Baik itu kepentingan politik, dan tekanan dari berbagai pihak. Kajari memastikan akan hati hati menagani kasus tersebut demi hasil maksimal pada pemberantasan korupsi di Pariaman ini. Targetnya bukan menghukum, tapi membersihkan. Mereka ingin membuktikan kesalahan mereka di pengadilan tipikor Padang nantinya. Kajari Pariaman ingin menjebloskan para koruptor tersebut ke penjara, karena disanalah tempat yang tepat untuk para pengkhianat konstitusi negara dan amanah rakyat tersebut.

Korupsi atau rasuah (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak. Mereka adalah penjahat kerah putih yang terkadang sangat humanis ditengah tengah masyarakat. Mereka adalah iblis-iblis bertopeng malaikat.

Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap pembangunan. Di dalam dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan proses formal.

Perilaku Koruptif bukanlah perilaku seorang negarawan. Perilaku koruptif adalah perilaku manusia tanpa adab dalam dunia demokrasi. Perilaku koruptif sama dengan mengangkangi kesucian bendera merah-putih. Perilaku koruptif "menginjak-injak" kitab suci Al Quran dimana sebelumnya mereka jujung di atas kepala saat dilantik. Kita pantas marah, karena uang yang mereka curi tersebut berasal dari kantong kita semua yang hakikatnya diperuntukan untuk kesejahteraan kita pula.

Sebagai masyarakat, tidak salah rasanya kita acap menyumpah serapahi lakon para pejabat yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi di televisi. Mereka tersenyum diatas melaratnya jutaan penduduk Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan. Mereka tanpa merasa menyesal merampok kekayaan negara kita dengan rakus. Mereka berlakon mewah, hedonis, tanpa merasa peduli atas lebarnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin di negara kita ini.

Korupsi, musti ditebas dengan pedang yang tajam. Yang sekali ayun, mempuntungkan. Untuk itulah para penegak hukum musti di isi oleh orang-orang ber-integritas tinggi. Karena merekalah para pemegang pedang-pedang tajam tersebut. 


Semoga mereka memegangnya dengan benar, sebab, menebas dengan punggung pedang tidak akan melukai apapun.

Catatan Oyong Liza Piliang


Politik Pariaman

Written By oyong liza on Selasa, 29 April 2014 | 21.26





Perpolitikan Pariaman patut kita cermati dalam satu dekade ini. Karena politik Pariaman sangat jauh berbeda dengan daerah lainnya di Provinsi Sumatera Barat ini. Pariaman sangat liberal. Seluruh metode survey yang pernah dilakukan disini termentahkan setelah melihat hasil faktual. Pariaman boleh dikatakan unik dan patut jadi bahan kajian bagi para pecandu akademisi sosial dan analis politik.

Orang Pariaman dikenal egaliter, senang menceritakan dirinya sendiri, termasuk kehebatannya. Orang Pariaman ketika di survey, dijamin banyak tidak jujur dalam memberikan pendapatnya. Orang Pariaman dikenal cerdik, alir, bak cubadak bagomok. Orang Pariaman suka hidup berkoloni dan berdialetika di kedai-kedai. Kedai, atau warung kopi yang ada di Pariaman adalah pusat informasi. Bisa mentah yang musti diolah dulu, bisa pula akurat.

Antara satu Desa dan Desa lainnya di Pariaman juga terdapat sedikit perbedaan, seperti dialek, profil sosial, hingga masakannya.

Terhadap even politik, semua masyarakat Pariaman seakan ingin melibatkan diri. Sebut saja saat Pilkada atau Pemilu lalu. Semua seakan menjadi tim sukses dan penasehat tim sukses, baik anak muda, kalangan tua, bahkan para gadis dan ibu rumah tangga. Di warung-warung, tema politik jadi perbincangan hangat saat itu. Kini pun masih demikian.

Kenapa orang Pariaman suka akan Politik? Bahkan hingga pelosok Desa sekalipun? Dari yang muda hingga yang tua? Semacam minat orang sicilia pada dunia mafia.
 

Orang Pariaman tidak suka bersikap frontal secara fisik, melainkan secara mental dan adu pemikiran serta urat syaraf yang tertumpah dari untaian kalimatnya. Jika mereka tidak senang dengan para pejabat seperti pejabat Kepolisian atau Kejaksaan dan instansi vertikal lainnya, mereka lebih senang melaporkan secara diam-diam itu pejabat kepada atasan mereka yang jauh lebih tinggi. Sebelum akhirnya pejabat tersebut di mutasikan mereka takan berhenti berusaha. Hal tersebut tak terlepas dari pola main politik.

Masyarakat Pariaman tidaklah menganggap para pejabat sebagai orang besar. Mereka meletakkan posisi mereka secara proposional dan terukur.

Cimeeh ala Pariaman adalah bukti ke egaliteran mereka yang menganggap semua orang berderajat sama. Peran pemuka masyarakat, tokoh adat hingga tokoh agama, terhadap pilihan politik, bagi masyarakat Pariaman, itu hanya sebagai bahan referensi saja. Dalam satu keluarga sekalipun sering ditemukan beda pilihan politik dan dukungan. Namun perbedaan tersebut tidak memecah belah mereka. Nah, menjelang pemilihan Bupati Padangpariaman tahun 2015, suasana sudah sudah mulai menghangat dikalangan masyarakatnya. Mereka sudah mulai memetakan kekuatan beberapa bakal calon yang di prediksi akan maju.

Catatan Oyong Liza Piliang



Politik Rusak

Written By oyong liza on Sabtu, 26 April 2014 | 20.55





Pileg 9 April 2014 sudah berakhir, nama-nama calon anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kota/Kabupaten periode 2014-2019 di ruang lingkup Sumbar juga sudah kita ketahui, baik via media, maupun dari hasil rekapitulasi tingkat Kota/Kabupaten dan Provinsi. Banyak caleg petahana berguguran, dan banyak pula caleg wajah baru bermunculan untuk menjadi wakil rakyat periode lima tahun ke depan.

Menjadi caleg ada banyak motivasi membeletarbelakangi. Hanya sedikit prosentase yang dilandasi ideologis. Hingga tidak heran jika kita disuguhkan kabar politik transaksional kian marak. Cara main seperti itu dianggap paling jitu dan punya akurasi tinggi dibanding sosialisasi kreatif simpatik menyuguhkan program kerja kepada calon pemilih, apalagi menyewa jasa dukun yang mustahil dapat memutar ribuan isi kepala calon pemilih agar menusuk itu nama si caleg.

Fenomena ini saya menyebutnya dengan istilah politik JITU TOGEL. Dalam permainan judi togel ada istilah JITU, dimana para petaruh hanya memasang satu angka saja yang keluar paling ujung. Untuk ini mereka tidak perlu rumus banyak. Modalnya hanya satu, yaitu uang. Dari pengalaman para petaruh togel disebutkan kemungkinan menang dalam main JITU prosentasenya diatas 25% hingga 50%. Ingat, judi togel di Pariaman masih banyak. Hanya para kelas pengecer yang dikandang situmbinkan, sementara bandar besar disinyalir di amankan oleh oknum tertentu asal rajin setor.

Jika peta politik ini merata di bumi Nusantara Pertiwi, berarti demokrasi yang tercipta sekarang seakan tumbuh menyimpang yang tentunya juga punya output menyimpang pula. Orang baik tak bermodal, para tokoh idelis yang ingin tampil ke depan berebut panggung dengan para penjudi politik yang tentunya lihai menyikut hingga menjadikan kepala sang idealis sebagai pijakan kakinya untuk meraih papan panggung.

Banyak yang mengatakan bahwa dalam politik transaksional masyarakat tidak boleh disalahkan karena memang tingkat kepercayaan publik kepada politisi sangat menipis (kata politisi dan pengamat di tivi yang takut berseberangan dengan publik). Bagi saya tidak demikian. Apapun yang terjadi, baik buruknya sebuah sistem pemerintahan, masyarakatlah yang paling patut disalahkan. Merekalah yang memilih. Suara mereka merupakan anak kunci pembuka pintu yang diberikan kepada orang yang tidak tepat. 


Jika dikemudian hari terdengar kabar para anggota dewan masuk bui gara-gara korupsi jangan pula kaget. Jika suatu ketika melihat seorang anggota dewan mendadak kaya jangan pula iri. Karena mereka semua merupakan kepanjangtanganan Anda, karena pemimpin terpilih adalah terciman orang yang memilihnya. Tak perlu menyesal. Nikmati saja.

Catatan Oyong Liza Piliang

Tuan-Tuan Terhormat Apakabar?

Written By oyong liza on Minggu, 20 April 2014 | 10.50





Dari hasil rekapitulasi KPU tingkat Kota Pariaman terhadap hasil perolehan suara parpol dan DPD pada Pileg 2014, dapat kita ketahui bersama bahwa kecenderungan pemilih berjenjang pada tiap pilihannya, seperti mencoblos partai yang berbeda ditiap tingkatan semacam DPRD tingkat Kota/Kabupaten, DPRD Provinsi dan DPR RI. Untuk DPR RI, di Kota Pariaman dimenangkan secara mutlak oleh partai PPP yang mengusung Mahyudin, mantan Walikota Pariaman ke DPR RI. Namun demikian, meskipun mutlak menang di Kota Pariaman, untuk PPP secara keseluruhan dimenangkan oleh Hariadi yang dikabarkan melenggang elok ke senayan.

Demikian juga untuk calon DPD Leonardy Harmainy. Untuk Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman, Leonardy juga menang secara mutlak. Masyarakat Pariaman yang menganut kental paham kekerabatan dengan senang hati memberikan suaranya kepada menantu Almarhum Kolonel Anas Malik, Bupati Pariaman yang legendaris tersebut. Dari informasi yang kami terima dari tim pemenangan Leonardy untuk Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman, sangat besar kemungkinan calon DPD dengan nomor urut 11 tersebut mendapat jatah satu kursi DPD RI dari empat jatah yang diberikan untuk wilayah Sumatera Barat.

Sementara itu, dari hasil penetapan perolehan suara pada pemilu legislatif 9 April lalu, kita juga sudah dapat menyimpulkan siapa 20 caleg yang akan menduduki kursi DPRD Kota Pariaman untuk lima tahun ke depan. Begitu juga dengan tiga unsur pimpinan Dewan yang akan berkantor di Manggung nantinya.

Partai Golkar dengan total perolehan 7.528 suara sah sudah dipastikan akan mengantarkan salah satu kadernya menjadi Ketua DPRD Kota Pariaman yang dikenal dengan istilah BA 2 Pariaman. Mardison Mahyuddin, diprediksi punya kans sangat kuat yang akan menduduki kursi paling empuk di dewan tersebut.

Kemudian disusul oleh Partai Gerindra dengan perolehan 5.361 suara sah di posisi kedua perolehan suara terbanyak di Pileg Kota Pariaman. Gerindra, tidak bisa diganggu gugat dan dipastikan akan mengantarkan salah satu kadernya menjadi pimpinan DPRD Kota Pariaman. John Edwar, Ketua Gerindra Kota Pariaman punya kans sangat kuat untuk menduduki kursi empuk plus fasilitas istimewa pimpinan DPRD Kota Pariaman.

Posisi ketiga disabet oleh Partai Nadem si pendatang baru dalam percaturan politik nasional. Dengan perolehan suara 4.255 suara, menyisihkan PBB yang mengantongi 4.167 suara, juga sudah dipastikan mengantarkan salah satu kadernya sebagai pimpinan DPRD Kota Pariaman. Syafinal Akbar dan Jonasri diprediksi punya kans kuat untuk menduduki kursi empuk dan segala fasilitas istimewa pimpinan DPRD Kota Pariaman.

Sedangkan empat Parpol yang masing-masing memenuhi quota satu fraksi dengan perolehan tiga kursi adalah Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Nasdem dan PBB. 


Kepada 20 anggota DPRD Kota Pariaman terpilih YANG TELAH KAMI RILIS SEBELUMNYA tersebut itulah nantinya yang akan menentukan arah kebijakan pemerintahan Kota Pariaman bersama mitra sejajarnya Pemko Pariaman. 

Mari kita doakan mereka agar dapat mengemban amanah suci masyarakat ini dengan sebaik-baiknya. Jauhkan mereka dari perbuatan yang mengkhianati suara masyarakat setelah mereka duduk nantinya, Jangan biarkan mereka terlena dengan segala jabatan yang melekat didirinya. Tuntun Pikirkan mereka agar memperjuangkan kesejahteraan masyarakat dengan sungguh-sungguh demi kemajuan Kota Pariaman ke arah yang lebih baik.

Catatan Oyong Liza Piliang


Caleg Abrakadabra

Written By oyong liza on Rabu, 19 Maret 2014 | 21.37





Jelang pencoblosan 9 April mendatang yang menghitung hari, banyak para Caleg harap-harap cemas, apalagi bagi mereka para incumbent atau petahana, baik DPRD Kota dan Kabupaten maupun Provinsi dan Pusat. Berdoa, solat tahajud adalah salah satu ritual wajib musti dilakukan untuk memperkokoh sandaran spiritual masing-masing Caleg. Walau bagaimanapun kekalahan adalah sesuatu yang menyakitkan.

Dalam setiap perlagaan musti ada menang kalah. Dari sekian ratus Caleg untuk Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman ditukuk untuk tingkat Provinsi, hanya terhitung puluhan yang bakalan Goal menduduki kursi empuk Dewan. Selebihnya akan ditiban kekalahan setingkat diatas sial. Ada yang kalah dengan suara jauh telak dan adapula yang hanya berselisih seangin suara. Tipe Caleg kedua yang paling merasakan beban kekalahan tersebut. Mereka akan mengalami goncangan secara psikis. Caleg yang telah banyak menghamburkan uang juga demikian, apalagi sampai hutang-hutangan, menggadaikan rumah, jual aset dsb, untuk modal biaya sosialisasi dan kampanye yang relatif mahal.

Saya selalu membantin, Orang ini sangat tidak pantas, kenapa mencaleg? Dia tidak punya kapasitas, punya reputasi mengecewakan, ditambah tidak memasyarakat. Tak jarang mereka tipe demikian merasa sudah dibibir tepi cawan atau beranggapan kursi empuk dewan sudah di depan mata mereka. Orang tipe begini belum mengenal siapa dirinya dan lingkungan sekitarnya. Dia terbilang manusia yang tidak suka mengoreksi diri sendiri. Bolehlah mereka mencaleg setelah mereka berbenah-benah sikap, budi pekerti, kepekaan sosial, serta matang secara ekonomi. Jangan sekarang. Berkodak di baliho saja masih kaku, mata merah membelalak pula. Takut orang melihat, apalagi memilihnya.

Saya menjamin, dari sekian banyak Caleg sekarang, hanya dalam prosentase kecil yang maju atas azas ideologi. Kebanyakan mereka mencaleg untuk mengejar prestise, status sosial dan abrakadabra.

Negara kita sedang menuju bentuk Demokrasi idealnya. Begitu juga dengan karakteristik pelaku politisinya. Seiring masa, bentuk ideal tersebut akan terbentuk secara perlahan. Kemudian kokoh, dan karakter demokrasipun tercipta dengan sendirinya. Seiring pula dengan para Politisinya. Politisi busuk, masam, kalek, dipastikan akan tereliminasi dengan sendirinya.

Catatan Oyong Liza Piliang

Bedah Sejarah: Tabuik-Tabuik, Syiah-Syiah

Written By oyong liza on Kamis, 13 Februari 2014 | 21.03





Pesta Budaya Tabuik Piaman seharusnya jangan dikait-kaitkan dengan faham ajaran Syiah (hal ini dengan banyaknya komentar pro-kontra terkait rencana kerjasama bidang budaya pesta budaya tabuik Piaman 2014 dengan pemerintah Republik Islam Iran) . Tabuik Piaman adalah pesta Budaya seni yang ber-afiliasi dengan dunia ke-pariwisataan. Sedangkan rangkaian acara prosesi pembuatan tabuik, adalah mengenang ritual sejarah, bukan pula terkait-mengait dengan ajaran atau paham Syiah yang oleh sebagian orang beranggapan demikian.

Jika kita merunut kebelakang, Terlepas dari perdebatan tersebut, rentetan pengaruh Syiah dalam tradisi-tradisi keagamaan di Indonesia tak bisa dibantahkan. Tradisi kebudayaan dan keagamaan yang dijalankan di kalangan muslim Indonesia banyak di antaranya merupakan pengaruh ajaran Syiah.

Ritus-ritus (
bersifat seremonial dan tertata) Tabut di Bengkulu, dan Gerebek Sura di Yogyakarta serta Ponorogo adalah ritus teologi Syiah.

Jika disebut Tabuik Piaman ada hubungannya dengan sejarah Syiah, ada benarnya, namun sejarah syiah tersebut juga merupakan sejarah Islam sebagaimana termaktup dalam beberapa hadist.

Namun demikian, menurut Ustad Buya Bagindo Leter, Tabuik Piaman adalah murni kebudayaan yang sama sekali tidak mengait dengan ajaran atau aliran paham syiah. Beliau menambahkan, bahwa hingga sekarang ini, tidak satupun masyarakat Pariaman yang menganut paham syiah tersebut.

Saya sepaham dengan pendapat Buya Bagindo Leter, apa yang dia katakan adalah sifatnya meluruskan agar kita jangan sampai terlalu jauh berdebat hal-hal yang tidak perlu yang dapat memecah belah persatuan kita sesama masyarakat Pariaman itu sendiri, sebab, masalah Agama adalah masalah sangat sensitif dan sangat mudah bergesek dan memicu kepada hal-hal lainnya yang tentunya sangat tidak kita inginkan bersama.

***

Lalu darimana asal muasal tradisi Tabuik ke Pariaman yang dikonotasikan dengan ajaran Syiah tersebut. Hal itu perlu pula kita kaji bersama. Pariaman dulu merupakan kota dagang, kota pelabuhan di pesisir barat Sumatera. Kota Pariaman lebih dulu ada ketimbang kota Padang.

Tradisi mengenang kematian cucu Nabi (Tabuik) ini menyebar ke berbagai negara dengan cara yang berbeda. Di Indonesia, selain Pariaman, di Bengkulu juga dikenal pesta tabuik atau tabot. Mengenai asal usul tabuik Pariaman, ada beberapa versi.

Versi pertama mengatakan bahwa tabuik dibawa oleh orang-orang Arab aliran Syiah yang datang ke Pulau Sumatera untuk berdagang. Sedangkan, versi lain (diambil dari catatan Snouck Hurgronje), tradisi tabuik masuk ke Indonesia melalui dua gelombang.

Gelombang pertama sekitar abad 14 M, tatkala Hikayat Muhammad diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu (saya pikir ini ada kaitannya dengan beberapa makam yang ada di pulau Angso Duo Pariaman yang juga menera abad 14 M). Melalui buku itulah ritual tabuik dipelajari Anak Nagari.

Sedangkan, gelombang kedua tabuik dibawa oleh bangsa Cipei/Sepoy (penganut Islam Syiah) yang dipimpin oleh Imam Kadar Ali. Bangsa Cipei/Sepoy ini berasal dari India yang oleh Inggris dijadikan serdadu ketika menguasai (mengambil alih) Bengkulu dari tangan Belanda (Traktat London, 1824).

Orang-orang Cipei/Sepoy ini setiap tahun selalu mengadakan ritual untuk memperingati meninggalnya Husein. Lama-kelamaan ritual ini diikuti pula oleh masyarakat yang ada di Bengkulu dan meluas hingga ke Painan, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidi, Banda Aceh, Melauboh dan Singkil.

Dalam perkembangan berikutnya, ritual itu satu-persatu hilang dari daerah-daerah tersebut dan akhirnya hanya tinggal di dua tempat yaitu Bengkulu dengan sebutan Tabot dan Pariaman dengan sebutan Tabuik. Di Pariaman, awalnya tabuik diselenggarakan oleh Anak Nagari dalam bentuk Tabuik Adat.

Dari versi diatas saya lebih condong pada versi KEDUA. Alasannya adalah penduduk asli pesisir Pariaman dahulunya memang kaum muslim India, dimana hingga kini berturun-temurun, Kampung Keling adalah salah satu fakta empiris bahwa mereka memang sejak lama sudah menghuni Pariaman ini. Disana dengan mudah dapat kita jumpai rumah-rumah yang sudah berusia sangat tuanya. Keturunan muslim India Pariaman berkembang hingga ke Kota Padang, Batusangkar dan Bukittinggi.

Dahulunya di Pariaman juga dikenal dengan ritual mistik Debus yang juga dilakoni oleh masyarakat Kampung Keling keturunan India.

Kesenian Debus yang sering dipertontonkan di antaranya:

    -Menusuk perut dengan tombak atau senjata tajam lainnya tanpa terluka.
    -Mengiris bagian anggota tubuh dengan pisau atau golok.
    Memakan api.
    -Menusukkan jarum kawat ke lidah, kulit pipi atau anggota tubuh lainnya hingga tebus tanpa mengeluarkan darah.
    -Menyiram tubuh dengan air keras hingga pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulit tetap utuh.
    -Menggoreng telur di atas kepala.
    -Membakar tubuh dengan api.
    -Menaiki atau menduduki susunan golok tajam.
    -Bergulingan di atas serpihan kaca atau beling.

Namun tidak semua item diatas yang dipertontonkan di Pariaman saat tradisi tersebut masih ada.

Debus dalam bahasa Arab berarti tongkat besi dengan ujung runcing berhulu bundar. Bagi sebagian masyarakat awam kesenian Debus memang terbilang sangat ekstrim. Pada masa sekarang Debus sebagai seni beladiri yang banyak dipertontonkan untuk acara kebudayaan ataupun upacara adat untuk menarik minat wisatawan di beberapa daerah, diantaranya Banten.

Kaum muslim India, menurut pendapat saya hanya membawa tradisi budaya semacam debus maupun tabuik ke Pariaman ini. Lain tidak. Bukan dari persia langsung yang selalu membawa ajaran Syiah menyertainya. Argumen saya diatas bisa dibuktikan melalui kajian akademis dan fakta ril tatanan beragama masyarakat Muslim Pariaman hingga sekarang ini.

Jadi, buat apa kita perdebatkan Tabuik dengan Syiah? Tabuik setahu saya dari dulu hingga sekarang, baik langsung maupun dengan menggali sejarahnya, belakangan ini bertujuan positif untuk memajukan dunia pariwisata Pariaman. Berapa perputaran uang dari tanggal 1 hingga 10 (Tabuik Piaman dihoyak pada 14) Muharam itu? Tabuik punya andil besar memperkenalkan Kota Pariaman ke Dunia Internasional. Bukankah Pariwisata itu sama artinya dengan Internasionalisasi?

Catatan Oyong Liza Piliang

Sudut Pandang

Written By oyong liza on Minggu, 09 Februari 2014 | 00.06





Harapan saya sebagaimana harapan tersirat warga sekampung tentu menginginkan ada perubahan kearah kemajuan untuk Kota Pariaman ini. Maju yang saya maksud tentu yang bersifat konstruktif, cakap dan membanggakan. Pariaman semenjak saya huni menetap tak beranjak ialah awal pernikahan saya April 2003. Sebelumnya saya suka berpindah tempat, baik itu ke Pekanbaru dimana saya dilahirkan, maupun sekedar berkunjung kerumah kakak sekandung di perantauannya, serta pulang kampung kembali. Tak betahnya saya dirantau karena sulitnya saya beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan yang selalu tidak pernah saya cocoki.

Pariaman sekarang belumlah kita boleh berbangga hati dengan banyaknya pembangunan jalan-jalan baru, kantor-kantor baru megah-mentereng. Pembangunan yang benar menurut penafsiran saya adalah pembangunan fisik yang sejalan dengan pembangunan peradabannya. Saya masih melihat masyarakat masih berpola pikir pragmatis dominan. Opini mereka terperangkap paham lama. Mereka menolak sesuatu yang baru tanpa paham akan apa yang dia tolak. Mereka terlalu percaya pada apa yang dikatakan kebanyakan orang tanpa pernah mau mencoba berpikir menurut sudut pandang mereka sendiri.

Logika akan tumpul jika kita terlalu mengikuti arus banyak (mainstream). Dulu Nokia sekarang Samsung. Dulu Datsun sekarang Toyota. Mainstream orang kita. Padahal, jika kita memakai Logika sedikit saja, dari produk diatas, dengan harga setara kita bisa dapati barang berkualitas dengan fitur lebih canggih merk lain, atau kita bisa dapatkan harga murah dengan fitur sekelas seumpama kita membeli merk lain pula.

Budaya arus banyak membudaya memang. Ingat saya dulu ketika merk baju CF, Hammer, kemudian celana Tira, Lea membumi. Saya tidak pernah membelinya, saya pilih jeans merk O2 yang tidak mudah dijumpai di pasaran, jika ada kawan bertanya berapa harganya, saya tinggal mengarangnya.

Sekarang saya menggunakan ponsel pintar merk Lenovo, merk global kenamaan meskipun China punya. Saya tahu Lenovo adalah produk berkualitas, mereka sanggup membeli perusahan IBM, raksasa perusahan komputer dunia sebagai pembuktian. Sementara seluruh orang merasa berduit menenteng Samsung. Dia tidak tahu bahwa Samsung yang masuk ke Indonesia juga berpabrik di China. Harga mahal adalah permainan penjual, dimana demam tinggi akan merk tersebut. Gadis cantik belum tentu Gadis pujaan. Sebuah mobil merk Toyota Kijang rakitan 1995 jauh lebih mahal ketimbang keluaran pabrik GM keluaran 2000 keatas kelas SUV mewah.

Saya suka mencemooh, Anda suka mencemooh, semua suka mencemooh. Itulah kita adanya orang Pariaman. Namun cemooh juga ada bertingkat-berlevel. Cemooh adalah kalimat stereotype setingkat diatas kritik. Hal itu lahir karena dialetika Pariaman boleh dikata paling sering terasah-bergesek dibanding daerah manapun di Indonesia ini. Karakter endemik.

Orang kita seakan semuanya ingin maju ketengah-kedepan. Egaliterisme mereka puncak sudah. Orang Pariaman hanya pernah tercatat tunduk pada gaya kepemimpinan Almarhum Anas Malik. Keras-keras lunak (kerasnya dua kali, lunaknya sekali).

Penertiban pasar bak kucing-kucingan antara Pol PP dan PKL. Sudut pandang antara pedagang dan pemerintah bertanda belum berada dalam satu kesatuan. Itu saja pokok persoalannya. Lain tidak.

Persoalan Pariaman hanya orang Pariaman yang bisa menyelesaikannya. Dengan cara jujur-sejujurnya, tidak iya-iya dimuka saja, dibelakang lain pula.

Catatan Oyong Liza Piliang

Kisah Nyata Seorang Mantan Anggota DPRD Sekaligus Caleg 2014

Written By oyong liza on Selasa, 04 Februari 2014 | 20.03

13914933481028252217
foto : koleksi pribadi

Kamis pagi pekan lalu, saya dikejutkan sebuah foto yang diposting salah satu teman di grup BBM alumni SMA saya. Dia memotret berita sebuah koran lokal tentang “Mantan Angggota DPRD Penadah Motor Curian”. Kebetulan teman saya tersebut seorang PNS yang di-BKO-kan ke KPUD setempat (bukan komisioner KPUD). Dia memberi judul foto itu “satu persatu dipreteli”. Saya tak paham apa maksud judul itu, apalagi foto pelaku tak jelas. Terlihat jelas pun belum tentu saya kenal karena sudah puluhan tahun saya tak lagi tinggal di kota itu.

Tak lama berselang, beberapa teman mengomentari foto itu. Saya yang tak tahu apa-apa hanya bertanya : siapa dia, dari partai apa, kok menjijikkan sekali kelakuannya. Seorang teman menjawab nama orang tersebut dan menyebut nama eks parpol yang dulu dia wakili di DPRD sebelum kemudian di PAW. Kini orang tersebut pindah ke partai lain dan mencalonkan diri kembali untuk ikut Pileg 9 April 2014 nanti. Innalillahi…!!!

Tak lama, salah satu teman yang tadi menjawab, mem-PING saya dan kami pun ngobrol. “Ira, aku tahu banyak tentang dia. Aduuuh, kasusnya banyak Ir, gak hanya itu, macem-macem pokoknya. Aku tahu pasti soalnya istrinya sering curhat sama aku”, teman saya nyerocos di BBM. Saya pun mencoba menjadi pendengar yang baik, sesekali bertanya kalau ada yang kurang jelas. Karena terlalu semangatnya teman saya cerita, alurnya melompat-lompat. Tampaknya teman saya ini sudah lama ingin bisa mengeluarkan uneg-uneg yang dia tahu. Hanya saja tak mungkin dia bicara pada sembarang orang. Teman saya itu memang ramah, gaul, menyenangkan dan teman ngobrol yang enak. Tak salah kalau banyak yang menjadikannya tempat curhat.

13914934401716915511
Anggota DPRD Ternate dari Partai Demokrat yang mabuk berat saat menghadiri sidang DPRD beberapa waktu lalu (foto : www.detiknews.com)

Baiklah saya rangkum saja kisah si mantan anggota DPR sekaligus caleg itu. Sebut saja namanya si X, awalnya X seorang Kades (kepala desa) dari Desa A, yang letaknya “pucuk gunung” – benar-benar di daerah pegunungan – di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Bukan Kades yang dipilih melalui pemilihan, namun dijabat secara turun temurun dari orang tua/keluarganya. Si X ini pendidikannya setingkat SMA, lulus dari situ ia dinikahkan dengan “gadis cilik” pilihan ortunya. Gadis cilik sebab memang si gadis sebenarnya masih di bawah umur, belum layak menikah. Namun karena ortunya “penguasa” di desanya, apalagi terjadi sekitar 25 tahun lalu, semua bisa diatur. 

Perjodohan antar keluarga seperti itu jamak terjadi di kampung, agar harta kekayaan keluarga tak lari kemana. Masih ada hubungan keluarga antara si X dengan gadis cilik yang dijodohkan dengannya.
Seiring berjalannya waktu, jabatan Kades pun tiba ‘giliran’nya dijabat si X. Ketika era euphoria multi partai pasca reformasi, X mencalonkan diri jadi caleg DPRD kabupaten tempat tinggalnya dari parpol yang didirikan oleh tokoh ulama yang jadi panutan mayoritas warga di sana. Si X terpilih, jabatan Kades “dihibahkan” kepada istrinya untuk melanjutkan. Sayangnya, si X yang memang berkelakuan buruk, semakin merajalela setelah jadi anggota dewan. Ia terlibat banyak kasus, mulai penggelapan dana bantuan sapi, penggelapan dana-dana bantuan lainnya, penipuan, penadah hasil curanmor sampai menjadi pemakai dan pengedar narkoba. Ironisnya, setiap ajang pesta demokrasi 5 tahunan, X selalu mencalonkan diri dan selalu terpilih. Maklumlah, sekampung masih terhitung keluarga dan kerabatnya semua. Soal partai, X pindah-pindah parpol, termasuk yang terakhir, Pemilu 2009 lalu ia bernaung di bawah parpol yang tak lolos parliamentary treshold secara nasional, namun kursinya di DPRD Kabupaten setempat masih terpenuhi.

13914935901701370079
Karena masih dalam pengaruh alkohol parah, sang anggota dewan sampai tak sanggup berdiri dan jatuh sempoyongan di Gedung Wakil Rakyat (foto : www.diamondtaxi.blogspot.com)

Bukan hanya kejahatan seperti itu saja, si X juga punya banyak selingkuhan. Hidupnya tak pernah sepi dari selingkuh. Inilah yang membuat istrinya kerap curhat pada teman saya. Saya tanya kenapa si istri tak memilih cerai saja. Kata teman saya “kondisi tak memungkinkan Ira, mereka kan masih ada hubungan keluarga, tinggalnya juga kumpul di situ semua, gak mungkinlah, kamu bisa bayangkan!” Saya pun paham kondisi tak memungkinkan yang dikatakan teman saya. Selingkuhan si X rata-rata masih seumuran anaknya yang SMA atau baru lulus SMA.

Kata teman saya, kerap putri pertama X melabrak selingkuhan bapaknya, karena meletakkan bong sabu sembarangan di jok mobil mereka, sehingga teman-teman putrinya X tahu. Anak perempuannya ini selepas SMA dimasukkan jadi PNS dengan jalan menyuap. Akhirnya ketahuan dan dikeluarkan, kini ia memilih kuliah. Sedangkan anak lelakinya, awalnya muak dengan kelakuan bapaknya yang suka selingkuh. Tapi lama kelamaan, anak lelaki ini jadi ikut kelakuan bejat bapaknya. Ketika masih SMP, anak lelaki X sudah terlibat video porno. Hanya saja karena mereka tinggal di kota kecil, tak terekspose media. Setelah SMA, anak lelaki ini sudah punya 2 anak, entah hasil hubungan di luar nikah atau dinikahkan resmi, saya tak menanyakan. Si anak sama sekali tak merasa malu, malah bangga menceritakannya pada teman saya, sahabat ibunya. Bukan hanya punya 2 anak, anak lelaki X ini sudah terbiasa melakukan seks bebas dengan siapa saja, termasuk dengan perempuan bule. Mungkin kelakuan itu wujud pemberontakannya pada sang ayah. Maklum, anak usia ABG hingga remaja yang sedang mencari jati diri, mendapat contoh buruk dari bapaknya.

Selingkuhan si X terkadang berani melabrak istri sah X, bahkan sampai menyatroni rumahnya dan memecahkan kaca segala. Rumah X sendiri terbilang megah, “istana megah yang tersembunyi di pucuk gunung”, kata teman saya. Meski X punya banyak selingkuhan dan hanya dijadikan teman kencan saja, namun ortu dari selingkuhan-selingkuhan X umumnya bangga anaknya dikencani anggota dewan, kaya pula. Salah satu selingkuhannya adalah anak penjual rujak langganan teman saya. Si ibu penjual rujak dengan bangga cerita anaknya jadi “pacar” si X, meski tahu si X orang bejat. Kini rumah ibu itu dibangun mentereng dan tanahnya diperluas. Maklum, selain dikencani, selingkuhannya itu disuruh merangkap jadi kurir narkoba, kaki tangan X. Bahkan rumah yang sudah dirombak itu kini jadi pangkalan orang yang bertransaksi narkoba. Pantas saja uangnya banyak.

13914936801087897490
Caleg perempuan yang membagi-bagikan narkoba pada calon pemilihnya di Jateng beberapa waktu lalu (foto : videoberita.blogspot.com)

Kini, istri sah X malah punya anak bayi. Kata teman saya, itu hanyalah cara X membuat istrinya tak bisa kemana-mana, di rumah terus, sibuk mengurus bayi, hingga tak bisa ke kota dan mendengar banyak kabar buruk soal kelakuan suaminya. Beberapa waktu lalu X di PAW, karena pindah parpol. Maklum parpol yang mengantarnya ke kursi DPRD Pemilu 2009 lalu, tak punya tiket untuk berlaga di Pileg 2014. Jadi X harus segera cari ‘tunggangan’ baru. “Capek aku ngitunginnya, Ira, pokoknya dia ganti-ganti partai terus tiap Pemilu”, kata teman saya.

Makin dekat ajang Pileg, rupanya ada yang membongkar borok-borok X. Entah kenapa, “kesaktiannya” sudah tak mandraguna lagi. Dimulai dari kasus penadahan motor curian yang dibongkar, kata teman saya, dia sudah dengar issu bahwa nanti kasus-kasus lainnya akan digeber. Bahkan mobil-mobil mewah buatan Eropa milik X, kemungkinan tak lama lagi dimilikinya, sebab semua mobil itu diperoleh dengan jalan menipu showroom/dealer. Teman saya kelihatannya lega akhirnya satu demi kejahatan X akan dibongkar. “Wes susah Ir, gak bisa lagi dinasehati, percuma”, keluhnya. Saya pun membesarkan hatinya bahwa orang seperti itu memang telah membutakan mata dan menulikan telinga, hatinya telah membatu, hanya Allah saja yang bisa memberinya pelajaran. Teman saya berdoa semoga X sadar kalau nanti jeruji penjara sudah mengungkungnya.

13914937971335336553
Caleg yang terlibat narkoba dan dijanjikan partainya akan dipecat, ternyata tetap bisa nyaleg (foto : regional.kompas.com)

========================================

Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun…, itu yang saya ucapkan setelah mendengar cerita teman saya. Benar-benar musibah bagi warga desa A punya Kades perilakunya seperti itu. Makin parah ketika mereka, orang sekampung dengan mudah diarahkan untuk memilih si X menjadi wakil mereka di DPRD. Celakanya lagi, kebodohan itu terus berulang setiap 5 tahun sekali, tak masalah meski si X jadi kutu loncat parpol. Lalu siapa yang salah? Masyarakat yang bodoh memang lahan empuk untuk terus dikerjain.

Tapi benarkah masyarakat sebodoh itu? Bukankah akses informasi kini sudah masuk sampai ke kampung? Orang kampungnya si X juga sudah banyak yang punya ponsel, semua punya televisi. Hanya saja, memang masyarakat kita mayoritas baru bisa dibilang “modern” dalam hal punya piranti simbul modernitas, namun belum pada pikirannya. Punya televisi tapi tayangan yang dipilih bukan yang menambah informasi, tapi sinetron dan hiburan yang membodohi dan melenakan. Punya ponsel pintar bisa akses internet, yang dicari bukan berita tapi video mesum di youtube atau berita gosip artis yang sensasional. Kalaupun punya uang lebih untuk beli koran dan majalah, yang dibeli tabloid gosip, klenik, atau majalah “dewasa”. Jadilah modernitas hanya sebatas kulit saja. Seolah melek informasi namun sebenarnya hanya tahu apa yang mereka ingin tahu tapi bukan apa yang seharusnya mereka tahu. Banyak orang kampung sudah cukup bangga punya piranti modern, meski tak tahu memanfaatkannya dengan optimal.

13914939491316872393
Caleg di Dapil Musirawas, Sumatera Selatan, yang menjadi otak perampokan bank di Tuban, jawa Timur, dengan alasan untuk biaya kampanye. Dia belum tahu apa arti kata reformis di balihonya (foto : www.tribunnews.com)

Iseng saya coba search di pustaka Mbah Google, dengan kalimat kunci seperti judul berita koran yang fotonya diunggah teman saya. Astaga!! Betapa terkejutnya saya, banyak sekali berita yang saya temukan. Kebanyakan berita yang sudah beberapa bulan bahkan tahun lalu, dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, yang melibatkan anggota dewan atau caleg dari berbagai parpol dalam kasus penadahan hasil curanmor. Keisengan saya berlanjut, kali ini search dengan kata kunci “caleg terlibat narkoba”, hasilnya juga cukup banyak. Bahkan caleg terlibat penjualan perempuan (human traficking) juga ada. Ada pula caleg terlibat perampokan, bahkan jadi dalangnya. Caleg terduga korupsi?! Wow, jangan ditanya, banyak sekali.

Kalau sudah seperti itu bahan bakunya, bisa dibayangkan seperti apa keluarannya. Garbage in garbage out, tak mungkin bisa garbage in gold out. Nazaruddin contohnya, bukankah rekam jejaknya menunjukkan ia ternyata sudah jadi pengusaha “nakal” sejak muda dulu? Di berbagai daerah, lebih banyak lagi anggota dewan yang rekam jejaknya buruk, awalnya profesinya preman, rentenir, yang kemudian alih profesi jadi “anggota dewan yang terhormat” karena punya cukup uang atau kekuatan massa untuk dilirik parpol.

Ironisnya, semestinya di daerah yang relatif kecil, issu kelakuan buruk seseorang dengan mudah terdengar dan jadi pembicaraan, alih-alih di-black list, orang seperti itu justru terus dipilih. Kalau sudah begini, siapa yang salah? Parpol menjual dagangan busuk, dari displaynya saja masyarakat sudah bisa lihat, tapi celakanya yang busuk itu pun tetap di”beli” dengan suara mereka. Sebenarnya, pemimpin atau wakil rakyat yang buruk adalah cerminan dari pemilih yang buruk. Mungkinkah masyarakat kita sebenarnya tidak atau belum siap punya pemimpin dan wakil yang bersih, lurus pada aturan, tak kenal kompromi, karena kita juga masih suka “berselingkuh” dengan aturan, masih suka main pat-gulipat, ngembat uang yang tak seberapa? Dari 250 juta rakyat Indonesia, sekitar 185 juta berhak pilih, berapapun yang benar-benar memilih nantinya, tetap akan diwakili 560 orang di parlemen pusat. Dan itulah cerminan pemilihnya.

Ira Oemar

'Ospek" Ala Warga Pada Caleg

Written By oyong liza on Sabtu, 01 Februari 2014 | 20.52





Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) merupakan momentum bersejarah bagi setiap siswa yang memasuki pintu gerbang perguruan tinggi. Ospek dengan seluruh rangkaian acaranya merupakan awal pembentukan watak bagi seorang mahasiswa baru. Dengan kata lain bahwa baik tidaknya kepribadian mahasiswa di sebuah perguruan tinggi sedikit banyak ditentukan oleh baik tidaknya pelaksanaan Ospek di perguruan tinggi tersebut.

Menurut Bratadharma, 2013, pada dasarnya, Ospek merupakan pintu ilmu bagi mahasiswa-mahasiswi. Pintu itu akan dibuka dan dicermati atau dipelajari secara seksama oleh mahasiswa-mahasiswi baru untuk memperdalam ilmunya. Bila dari pintunya saja sudah buruk, maka pola pikirnya bisa saja terus menduga bahwa di dalam pintu akan sama buruknya.

Lalu bagaimana dengan fenomena "Ospek" pada Politisi oleh masyarakat jelang Pemilu 2014? Saya pernah mendengar langsung kalimat tersebut dari salah seorang Caleg. Dia merasakan hal itu dalam sosialisasinya ke masyarakat. Bayangkan, menurutnya, hampir tiap hari dia ditawari kegiatan oleh warga, proposal, hingga diminta menyelempangkan spanduk dia di depan rumah. Semua hal tersebut tentu membutuhkan biaya tidak sedikit. Untuk spanduk, sebagai basa-basi si caleg tadi memberikan uang lelah dari kisaran Rp. 100-300 ribu, tergantung strategis tidaknya letak rumah tersebut. Harga tersebut hanya untuk satu rumah, bagaimana jika jumlah spanduk yang dibuatnya jumlahnya ratusan?

"Mohon dukungan dan bantu saya ya.. Kalau saya duduk Insya Allah saya tidak akan melupakan bapak-ibu sekalian," Biasanya kalimat tersebut paling acap terlontar dari mulut sang caleg.

"Insya Allah, kami se isi rumah ini saja 5 orang (misalnya) belum lagi rumah deretan belakang sana, semua warih kami," ujar warga tak kalah cerdiknya memberikan harapan.

Apakah dengan demikian sang caleg sudah merasa memiliki suara seisi rumah tersebut? Tunggu dulu. Ada cerita menariknya. Spanduk yang terselempang di rumah tersebut bukan jaminan akan terus terpasang hingga 9 April hari pencoblosan. Terkadang hanya hitungan hari dan minggu sudah copot. Dan yang lebih menyakitkan hati si caleg tersebut, di rumah tersebut kadang sudah berganti dengan spanduk caleg lain yang sedapil dengan dirinya tiga hari berselang.

Masyarakat masih menganggap pemilu adalah sebuah proyek yang musti di manfaatkan. Sangat jarang diantara mereka mendukung si calon dengan ideologi, kecuali dia adalah kerabat dekat calon tersebut.

Fenomena demikian terjadi ada sebab musababnya. Kita tentu tidak bisa menyalahkan masyarakat dalam hal ini. Trust publik memang sangat menipis pada pelakon politik saat ini.

Dalam sebuah acara perhelatan pemuda atau nagari saat musim pemilu ini, sangat mudah mendapatkan sponsor. Baik hadiah utama hingga seluruh dana penunjang terwujudnya perhelatan tersebut. Bahkan tak jarang meraup untung pula. Dalam acara itu, biasanya mereka mengundang para caleg sebanyak mungkin, melobinya sebagai sponsor, di undang pada acara pembukaan dan penutupan. Sasaran mereka umumnya para caleg yang dinilai tajir. Moderator yang lihai bersilat lidah dikampung tersebut biasanya di daulat untuk memberikan pujian lips service pada para caleg yang datang diatas panggung. Sanjungan mereka melelapkan.

Kita sering mendengar kalimat bahwa Pemimpin suatu daerah adalah cerminan warga pemilihnya terkadang ada juga benarnya. Jika para Caleg tersebut seandainya duduk dikursi legislatif, mereka tentu punya catatan kecil. Dia punya data rinci daerah mana kantong-kantong suaranya. Meskipun dia sudah duduk, terkadang rasa kekecewaan kepada kelompok warga yang sebelumnya telah banyak dibantu dan alhasil suara jauh dari harapan setelah pemilu menyemat dihatinya. Dia terkadang melabeli daerah tersebut dengan istilah "jalur gaza" nya politik. Banyak punah uang para caleg disana. Hehehe..

Catatan Oyong Liza Piliang

Inilah Koleksi Pelat Nomor Mobil Mewah Wawan dan Keris Irjen Djoko

13910536221887974343
Sebagian dan mobil-mobil mewah Wawan yang kini parkir di KPK (foto : www.tempo.co)

Ada yang menarik dari penyitaan belasan mobil mewah milik Tubagus Chaery Wardana alias Wawan, adik kandung gubernur Banten, Atut Chosiyah. Bukan hanya garasi rumah Wawan di jalan Denpasar yang layaknya showroom mobil mewah karena banyaknya mobil yang terparkir di situ, tapi ada yang unik pada plat nomor mobil-mobil Wawan. Tampaknya bukan plat nomor sembarangan yang random, melainkan ada kekhasan tersendiri. Mari kita cermati.

Ada 2 buah Ferrari California merah bernomor polisi B 888 CNW dan B 888 GES, sebuah Lamborghini Aventador putih plat nomornya B 888 WHN, Nissan GT-R putih nomornya B 888 GAW, Rolls Royce Ghost hitam platnya B 888 CHW (mobil ini diperkirakan yang termahal, harga di negeri asalnya, Inggris, mencapai Rp 18 milyar. Entah berapa harganya setelah sampai di Indonesia). Lalu ada pula Camry hitam, Lexus hitam nomor polisinya B 888 ARD, Bentley Continental plat nomornya B 888 GIF, Land Cruiser hitam dengan nomor polisi B 888 TCW, dan Land Cruiser bernopol B 1978 RFR. Selain itu motor Harley Davidson B 3484 NWW, juga ada Fortuner, Pajero dan BMW 530i. Total sudah 17 mobil plus sebuah moge Harley Davidson yang disita KPK dari rumah Wawan dan rumah 2 orang kepercayaannya di Serang.

13910536971690908794
B 888 GAW dan B 888 ARD, Lexus milik Airin (foto : www.merdeka.com)

Uniknya plat nomor polisi mobil-mobil Wawan itu kebanyakan memakai angka 8 sebanyak 3 kali, 888. Kalau abjad TCW dan ARD diduga kuat initial nama Tubagus Chaery Wardana dan Airin Rachmi Diany, istrinya. Nomor lain abjad di belakangnya kebanyakan ada huruf “W”, mungkin inisial dari “Wardana”. Mungkinkah itu inisial nama anak-anak mereka? Ada pula yang bernomor B 888 WAN. Tampaknya Wawan dan Airin percaya pada “angka hoki 8”. Apa sebenarnya mitos di balik angka 888?

MITOS 888

Sejak zaman Babilonia kuno, angka 8 diyakini sebagai lambang para dewa, yang konon menghuni ruangan kedelapan di kuil Babilonia. Kebudayaan Tiong Hoa juga mempercayai 8 sebagai angka sempurna karena tidak putus saat ditulis. Pemaknaan ilmu Feng Shui pun mengartikan angka 8 sebagai kemakmuran. Jadi, jika dikombinasikan, angka 888 menggambarkan kekayaan dari segi langit, bumi, dan manusia. Itulah mengapa China menggelar Olimpiade Beijing pada 8 Agustus 2008, pukul 08:08:08. (sumber : disini)

Situs Indonesia Feng Shui Online Center menulis, praktek penggunaan angka yang dianggap hokky dalam Feng Shui bermula dari para praktisi di Hong Kong, yang mana setiap angka memiliki makna tertentu dihubungkan dengan dialek pengucapannya, seperti. Untuk angka 8 (delapan) dihubungkan dengan kekayaan. Banyak sekali praktek Feng Shui yang menggunakan angka urutan seperti 88 (kekayaan ganda) dan 888 (kaya dari segi langit, bumi, dan manusia-nya). Sejatinya hokky atau keberuntungan seseorang selalu ditentukan oleh 3 tipe keberuntungan, yaitu keberuntungan langit, bumi, dan manusia. Maka tak heran jika menderetkan angka 8 membawa kepercayaan tentang kekayaan yang meliputi 3 tipe keberuntungan itu.

1391053867143274404
B 888 WAN (foto : news.detik.com)

KERIS BERTUAH JENDRAL DJOKO

Besarnya kepercayaan Wawan terhadap mitos hokky angka 888 itu mengingatkan saya pada 200-an bilah keris yang dimiliki Irjen Djoko Susilo, terpidana kasus korupsi pengadaan alat simulator SIM. Beliau mengoleksi lebih dari 200-an keris pusaka peninggalan kerajaaan-kerajaan tua di seluruh Indonesia. Demi memperoleh keris pusaka, Djoko tak segan menukarnya dengan sebuah rumah berharga miliaran. Keris-keris itu ada orang yang diserahi untuk mengurusnya dan secara rutin “memandikan” dalam ritual khusus tiap malam 1 Suro. Menurut Indrajaya Februharyadi – sang juru rawat keris – harga keris itu tak satu pun yang di bawah ratusan juta rupiah. Ada keris yang harga belinya ditukar dengan rumah senilai Rp. 1,7 milyar. 

Ada pula yang dijual dengan harga Rp. 6,4 milyar. Konon salah satu keris ada yang memiliki kesaktian, apabila Djoko Susilo memegangnya maka dia tak akan mempan diapa-apakan. Bahkan tak sehelai rambutnya pun bisa dipotong.

Sayangnya, “paket” kesaktian keris kurang komplit, karena terbukti KPK bisa menahan Djoko, pengadilan tipikor bisa memvonisnya bahkan ketika mengajukan banding pun hukuman Djoko diperberat. Kesaktian 4 pengacara kondang pun tak mampu menolong. Entah karena Djoko tak memandikan sendiri keris-keris itu, atau karena ini jaman modern. Jaman dulu, para pendekar, jawara, preman, banyak yang berburu kesaktian agar tubuhnya tak mempan dibacok, ditusuk, dibakar, rambut tak bisa putus, dll. Itu dulu, ketika pertarungan antarmanusia masih sebatas adu fisik, orang harus menjadi superman yang kebal segala macam. Sekarang, KPK cukup mencari 2 alat bukti, keluarkan sprindik, jemput dan berikan selembar surat penahanan. Maka, 200 keris pun tak mampu menghalanginya. Namun, meski banyak asset Djoko yang disita KPK, 200 bilah keris itu tak disentuh KPK. Padahal, kalau keris-keris itu disita dan kelak dilelang pada kolektor benda antik, lumayan juga uangnya untuk negara.

13910539701943946598
foto : www.republika.co.id

===================================
PESUGIHAN ABAD XXI ?

Dulu, sampai sekitar tahun ’70-an, di tengah masyarakat dipercaya ada ritual pesugihan, yaitu cara cepat memperkaya diri. Ada yang disebut “babi ngepet”, memelihara tuyul, dan lakon pesugihan lainnya. Para pelaku babi ngepet misalnya, ada kerja sama antara suami dan istri, di mana ketika sang suami sedang berubah wujud menjadi babi ngepet yang mencuri harta kekayaan tetangga sekitarnya, maka si istri “melekan” atau tak tidur semalaman karena harus menjaga nyala obor agar tak sampai padam. Dipercaya kalau sampai api padam, maka penyamaran si babi ngepet akan terbongkar dan digebuki massa, sang suami pun akan celaka bahkan bisa jadi menemui ajal.

Ada pula kepercayaan pesugihan lainnya yang meminta “tumbal”. Tumbal yang diserahkan haruslah dari orang yang dicintai, entah istri/suami, anak, saudara, bahkan orang tua sendiri pun dikorbankan. Dalam film-film mistis biasanya digambarkan orang yang dijadikan tumbal akan mati dengan cara tragis. Setelah tumbal diserahkan, tak lama pelakon pesugihan akan menuai hasil: kekayaannya akan bertambah dengan cepat, dagangannya laris manis luar biasa.

Dalam pesugihan yang menggunakan babi ngepet atau tuyul, biasanya pelaku pesugihan menjadi kaya mendadak, sedangkan tetangga sekitarnya justru kehilangan harta milik mereka. Karena dipercaya memang caranya adalah menyerap kekayaan tetangga sekitarnya. Saya jadi teringat hukum kekekalan energi dari Einstein, di mana energi tak bisa diciptakan maupun dimusnahkan, ia hanya berubah wujud dan berpindah tempat. Tampaknya pesugihan ini pun berprinsip seperti itu. Harta kekayaan itu tidak diciptakan (to create, to produce) melainkan hanya memindahkan kekayaan orang lain, menyerap dari pihak lain, untuk dipindah ke pelaku pesugihan.

13910543132079564416
Menurut KPK, asset berupa keris bukan barang yang layak sita (foto : nasional.inilah.com)

Wawan dan Djoko adalah figur yang hidup di jaman modern. Mereka memiliki kuasa, entah kuasa karena jabatannya atau kuasa karena jabatan kakaknya. Namun, meski mengaku Islam, keduanya punya kepercayaan pada selain Allah. Djoko Susilo percaya pada kesaktian keris, Wawan percaya pada hokky angka 888. Djoko percaya bahwa kedigdayaannya takkan berakhir, Wawan percaya bahwa kekayaannya akan komplit meliputi langit, bumi dan manusia serta tak terputus. Demi melanggengkan kepercayaan itu mereka rela merogoh kocek. Sayangnya, untuk membeli “tuhan” yang dipercaya itu, sumber uangnya pun tidak halal. Seolah kembali ke masa ketika manusia masih menganut animisme dan dinamisme, maka “tuhan” itu mengejawantah dalam benda tak bergerak (animisme) misalnya keris, atau benda bergerak (dinamisme) misalnya mobil yang sudah ditempeli plat nomor keberuntungan 888. Atut juga pernah dibentengi para “pendekar” yang konon sakti dan kan berbuat sesuatu jika KPK berani menahan Atut. Kini, sudah 40 hari Atut dititipkan di rutan Pondok Bambu, bercampur bersama pelaku kriminal lainnya, ternyata tak ada sesuatu yang terjadi pada KPK. 

Para pendekar itu pulang dengan bis sewaan ketika KPK menetapkan Atut ditahan.
Kini, pesugihan jaman modern telah bertransformasi menjadi korupsi. Tumbalnya adalah seluruh rakyat Indonesia. Mereka tidak seketika mati, tapi mati pelan-pelan karena kurang gizi, karena terkena runtuhan sekolah yang ambruk, mati karena tak ada biaya berobat ketika sakit. Intinya sama: menyerap harta benda milik orang lain (uang negara = uang milik rakyat) untuk diri sendiri, dengan menjadikan pihak lain sebagai tumbal yang mati mengenaskan.

Meski peradaban manusia telah maju, bulan sudah dijejak kaki-kaki manusia, planet lain sedang dieksplorasi untuk dijajagi kemungkinan adanya peluang kehidupan, teknologi sudah sedemikian canggih, namun terkadang manusia kembali ke insting primitif: serakah bin loba! Bukankah manusia bisa berkaca pada monyet, yang nyegir sambil terus berusaha menangkap apa pun makanan yang dilempar ke arahnya? Kedua tangan dan kaki sudah memegang makanan, tapi belum puas juga dan masih ingin menangkap kalau ada lagi yang melempari.

139105443783566580
B 888 GAW (foto : foto.liputan6.com)

Saya sesekali menonton National Geographic edisi binatang buas. Mereka berkompetisi di alam bebas, siapa cepat dia dapat mangsa. Namun satu hal, ketika mangsa itu didapat, mereka makan bersama kelompoknya, jika perut sudah tercukupi, mereka tinggalkan buruannya. Terkadang sisa buruan yang tak habis dimakan itu menjadi makanan bagi predator lain. Tak ada ceritanya mereka sembunyikan buruan dan menyimpannya untuk ditumpuk lagi dan lagi. Padahal, mereka tak punya jaminan nanti kalau perut lapar lagi, belum tentu ada binatang buruan lewat. Kalau begitu, manusia sejatinya bisa lebih buas, lebih tamak dari predator-predator di rimba belantara Afrika. Semua itu bisa terjadi, ketika manusia menuhankan materi, mabok materi dan tak pernah merasa puas, tak pernah bisa merasa cukup dengan apa yang sudah diperolehnya. Semoga saja kita tak jatuh menjadi manusia yang perilakunya lebih buas dari predator.

Ira Oemar

Topik Terhangat

Paling Banyak Dibaca

postingan terdahulu