17 July 2017

Istri Nelayan Nareh 1 Pariaman Terima Asuransi Rp160 Juta

Walikota Pariaman Mukhlis Rahman serahkan secara simbolis asuransi nelayan asal Desa Nareh 1, Pariaman Utara, Senin (17/7/2017) di Balaikota Pariaman. Syafril, penerima asuransi nelayan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, meninggal dunia akibat serangan jantung di RSUD Pariaman beberapa waktu lalu.

Asuransi sebesar Rp160 juta itu diterima oleh istri Syafri, Rospita. Sejak Syafril meninggal dunia pada 1 Mei 2017, DKP Kota Pariaman terus melakukan pendampingan. Klaim asuransi telah ditransfer langsung oleh PT Asuransi Jasa Indonesia ke rekening Rospita pada tanggal 16 Juni 2017 lalu.

"Diharapkan dengan adanya santunan ini, keluarga yang ditinggalkan dapat membuka usaha sendiri untuk mandiri dan bisa menunjang ekonomi keluarganya ke arah yang lebih baik," ujar Mukhlis.

Ia mengimbau agar dana yang telah diterima dikelola dengan baik untuk biaya pendidikan bagi anak-anak almarhum Syafril yang berjumlah sebanyak 7 orang.

"Saat ini sebanyak 243 nelayan Kota Pariaman telah mempunyai kartu asuransi nelayan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dengan masa pertanggungan periode Januari 2017 hingga Desember 2017," ungkap Mukhlis.

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Kota Pariaman, Zainal, menjelaskan santuanan asuransi akan didapat oleh ahli waris apabila melaksanakan aktivitas penangkapan ikan. Asuransi untuk kematian sebesar Rp200 Juta, cacat tetap maksimal Rp100 Juta dan biaya pengobatan maksimal Rp20 Juta rupiah.

"Untuk Santunan kecelakaan akibat selain aktivitas penangkapan ikan, untuk kematian Rp160 Juta, cacat tetap dan biaya pengobatan tetap Rp100 juta dan Rp20 juta," terangnya.

Premi asuransi tersebut adalah kali pertama diterima oleh nelayan Kota Pariaman. Rospita, adalah ahli waris pertama pula menerima santunan asuransi nelayan tersebut.

Juned/OLP

14 July 2017

Nelayan Pasir Baru Terima Alat Tangkap dan Pengolahan Ikan

Pasir Baru -- Wakil Bupati Padangpariaman, Suhatri Bur menyerahkan sertifikat tanah sekaligus bantuan alat tangkap dan pengolahan ikan kepada masyarakat Pasir Baru, Nagari Pilubang, Kecamatan Sungai Limau di aula lelang ikan PPI Pilubang, Kamis (13/7/2017).

Sertifikat yang diserahkan bernama Sertifikat Hak Atas Tanah Nelayan (Sehat). Sebanyak 96 persil untuk nelayan dan 10 persil untuk pembudidaya.

Bantuan lainnya berupa mesin tempel untuk 7 orang penerima, terdiri dari kapasitas mesin 15 PK sebanyak 6 unit, dan 5 PK sebanyak 1 unit. Kemudian bantuan sarana alat tangkap ikan jaring monofilamen sebanyak 14 paket untuk 14 orang penerima.

Untuk sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran ikan, Suhatri Bur serahkan 4 paket untuk 4 kelompok nelayan. Terdiri dari pengolahan ikan budu, pengolahan kerupuk ikan, pengolahan bakso ikan, rakik, sala lauak, nuget dan ikan kering.

Kepada nelayan yang menerima bantuan, Suhatri Bur berpesan tak lupa bersyukur kepada Allah SWT, karena dengan bersyukur ada harapan akan dapat tambahan bantuan.

"Janji Allah, siapa orang yang pandai bersyukur atas nikmat-Ku, akan ditambah dan siapa yang tidak pandai bersyukur, ingatlah azab-Ku lebih dahsyat,” ujar Suhatri Bur.

Dikatakan, penerima bantuan agar lebih terpacu untuk peningkatan ekonomi. Dengan bantuan tersebut para warga mendapatkan kemudahan dalam berusaha supaya lebih menghasilkan.

"Selama ini tidak pakai alat, kini telah ada alatnya. Mari kita gerakkan sektor nelayan untuk penunjang ekonomi demi tercapainya kesejahteraan," sebutnya.

Kelompok penerima bantuan terdiri dari kelompok wanita pengelola hasil tangkap ikan Sinar Laut, Wanita Sepakat dan kelompok Wanita Saiyo. Bantuan bersumber dari dana aspirasi DPRD Padangpariaman almarhum Zuardin dan Dwi Warman.

Turut hadir pada kesempatan itu Kepala Dinas Perikanan Padangpariaman Alfian, Kabag Humas dan Protokol Andri Satria Masri, Kepala ATR/BPN Padangpariaman, Camat Sungai Limau Defriatos, Sekretaris Kecamatan Sungai Limau Anton Wira Tanjung dan tokoh masyarakat beserta warga setempat.

TIM

18 January 2017

243 Nelayan Pariaman Terima Kartu Asuransi

Bentuk wujud kepedulian negara untuk mensejahterakan nelayan, dibuktikan dengan telah disahkannya Undang-Undang nomor 7 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam.

Di dalamnya disebutkan salah satu upaya pemerintah untuk melakukan perlindungan bagi nelayan maupun keluarganya adalah melalui kegiatan pemberian bantuan premi asuransi.

Berkenaan dengan hal tersebut, Wakil Walikota Pariaman Genius Umar menyerahkan premi asuransi kepada sebanyak 243 nelayan Kota Pariaman yang diserahkan di Dinas Perikanan Kota Pariaman.

"Asuransi nelayan bertujuan untuk memberikan jaminan perlindungan atas resiko yang dialami oleh nelayan dalam bekerja," ujarnya.

Kata dia, sudah saatnya sektor perikanan menjadi urat nadi bagi kedaulatan pangan.  Kedaulatan pangan yang tak sekadar berporos pada pemenuhan pangan dalam negeri, tetapi juga mensejahterakan para pelakunya, yaitu nelayan.

"Hal ini telah kita buktikan dengan tingginya tingkat konsumsi ikan di Kota Pariaman di tahun 2015 yang  mencapai 35,5 kilogram perkapita/tahun. Sedangkan target konsumsi ikan yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat hanya sebesar 34 kilogram perkapita/tahun," ungkapnya.

Kepala Dinas Perikanan kota Pariaman Dasril menambahkan, asuransi nelayan berlaku efektif selama 1 tahun dan di tahun berikutnya akan  dilakukan registrasi ulang kembali.

Besaran santunan yang diberikan pemerintah, sebut dia meliputi kecelakaan aktifitas penangkapan ikan. Apabila meninggal Rp200 juta, cacat maksimal Rp100 juta, biaya pengobatan maksimal Rp20 juta.

"Serta santunan kecelakaan akibat selain melakukan aktifitas penangkapan ikan. Untuk meninggal dunia Rp160 juta, cacat maksimal Rp100 juta, dan pengobatan maksimal Rp20 juta," jelasnya.

Dari sebanyak 268 nelayan yang diajukan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan RI untuk memperoleh Premi Asuransi Nelayan, sambung dia, sebanyak 243 nelayan yang menerima asuransi.

"Dan sisanya 25 nelayan akan kita upayakan dari daerah dan kita ajukan lagi untuk tahun berikutnya," tutup Dasril.

TIM

10 November 2016

Pintar 'Marendo', Istri Nelayan Marunggi Kembangkan Ekonomi Alternatif



Wakil Walikota Pariaman Genius Umar memahami kehidupan masyarakat pesisir, khususnya bagi kaum nelayan. Dalam mengarungi laut, kata Genius, nelayan dihadapkan berbagai kondisi alam dan tantangan yang susah diprediksi.

"Aktifitas masyarakat pesisir tak lepas dari kehidupan nelayan yang hidup mengarungi lautan luas untuk bertahan hidup, kadang-kadang cuaca tak bersahabat, namun masih ada yang melaut menantang maut," ujar Genius saat meninjau aktifitas nelayan di Desa Marunggi, Rabu (9/11).

Memahami kondisi tersebut, Genius mengaku pihaknya telah memikirkan solusi ekonomi alternatif untuk menambah penghasilan para nelayan.

"Salah satu ekonomi alternatif bagi masyarakat pesisir adalah keterampilan merajut bagi anak dan isteri nelayan, sehingga dapat menambah penghasilan. Saya akan membelinya beberapa unit pada pengrajin di Binasi hari ini," ujar Genius sambil melihat koleksi hasil kerajinan warga.

Nova (22), warga dusun Binasi di Desa Marunggi menyebutkan, keterampilan merajut renda (marendo) telah ia lakukan untuk menambah penghasilan keluarga. Jasanya dalam hal marendo sedikit banyak mampu menambah uang belanja.

"Untuk rajutan alas meja bisa diselesaikan satu minggu, sarung tisue hanya satu hari," tutur Nova yang sudah menggeluti kerajinan rajutan sejak kelas 4 SD.

Terpisah, Kepala Dinas Koperindag Kota Pariaman Gusniyeti Zaunit, menyebut usaha rajutan di Kota Pariaman digeluti sekitar 200 orang. Sebagian pengrajin ada yang sudah memiliki counter di tempatnya masing-masing.

"Pengusaha rajutan telah memasarkan produknya sampai ke Singapura dan Malaysia. Pemasaran bahkan dilakukan secara online," ujarnya.

TIM