Lensa Piaman: Labuhan Pulau Kasiak

Secara alami sebuah jalur disela-sela karang yang mengelilingi bibir pantai Pulau Kasiak untuk dilewati perahu kecil terbentuk. "Labuhan" adalah istilah yang diberikan oleh nelayan lokal yang acap menepikan biduknya di halaman pulau yang terdapat penangkaran penyu alami milik Pemko Pariaman tersebut. Foto diambil dari atas menara mercusuar setinggi 40 meter. Pulau Kasiak memiliki luas 0,5 Hektare, ditumbuhi kelapa, pohon sukun, pepaya, dll.

Lensa Piaman: Tidur Pulas

Saat narasumber memberikan makalah di podium, beberapa hadirin terlihat menahan kantuk dan akhirnya tertidur pulas di aula utama Balaikota Pariaman dalam acara sarasehan tentang "Sejarah Pariaman dan kepahlawanan H. Bgd. Dahlan Abdullah" Senin, (25/8).

Lensa Piaman: "Lomba Melepas Anak Penyu"

Rombongan Ibu Bhayangkari Polda Sumbar terlihat memberikan semangat pada tukik (bayi penyu) yang hendak mereka lepas ke laut di pantai Konservasi Penyu, Desa Ampalu, Pariaman Utara, Kota Pariaman, Jumat, 22/8/2014.

Lensa Piaman: Potensi Wisata di Pulau Kasiak

Panorama di atas menara mercusuar pulau Kasiak (Kaslik) Pariaman terumbu karang terlihat jelas di kejernihan air laut. Kawasan pulau Kasiak adalah kawasan konservasi penyu secara nature milik pemko Pariaman dibawah dinas DKP dan dikelola secara penuh oleh UPTD Konservasi Penyu. Pulau Kasiak banyak di kunjungi nelayan lokal untuk memancing ikan karang, gurita dan berbagai biota laut lainnya. Akibat perburuan swallow laut beberapa tahun lalu membuat kondisi karang rusak parah. Pemko beberapa waktu lalu bersama mahasiswa pencinta terumbu karang melakukan penanaman terumbu karang di halaman pulau ini.

Headline News :

Berita Terpopuler

PU/Pimred Oyong Liza Piliang, PJW Iwan Piliang, Reporter, Nesya, Hendra, Angga, Nanda, Hendri, Reza. Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan posting dengan label minangkabau. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label minangkabau. Tampilkan semua posting

Korupsi dan Budaya Minang

Written By oyong liza on Selasa, 04 Desember 2012 | 15.35


Pariaman era kini beda betul dengan dulu. demikian kata beberapa tokoh masyarakat dipalanta Anih samping BPD. Perbedaan yang dimaksud adalah ihwal ke Adatan dan bernagari. hal tersebut tentu tak lepas dari kurangnya pendidikan rasa kedaerahan dan kecintaan budaya lokal yang ditanamkan dari dini melalui Kurikulum ekstrakulikuler misalnya kalau saya boleh berpendapat.pendidikan kebudayaan lokal sangat penting adanya untuk memperkuat Adat istiadat sekaligus meneruskanya kepada generasi turun temurun, sebagaimana Jepang yang budayanya semakin tinggi meskipun diera yang sangat Modern ini.

Mamak badagiang taba , kamanakan bapisau tajam bak pepatah kini sudah terdegradasi oleh alam. langgam demikian entah dimana menyusutnya, peran Niniak mamak juga acap diabaikan oleh warga dengan berbagai alasan semacam niniak mamak juga tidak memberikan tauladan yang baik serta bla bla bla..

Hal demikian, tatanan budaya kita seharusnya semakin kokoh bila segala lapisan masyarakat tau akan Tupoksinya, semacam datuak, hulubalang, Panungkek, Parik Paga serta Bundo kanduang sebagaimana yang telah diatur dalam Tambo Minangkabau.  beberapa daerah saya perhatikan masih kuat mempertahankan nilai-nilai demikian,namun prosentasenya tentu semakin mengecil bila kita bicara Ranah Minang secara umum

Hal begini, degradasi Budaya , musti kita bersama ,seluruh lapisan danPemerintah Daerah yang melestarikannya dengan Program pendidikan dini kepada Anak-anak kita. kenalkan mereka dengan Kearifan lokal sedari dini semacam Negara Jepang. Jika Budaya minang yang dikenal luhur itu sudah menjadi karakter daerah akan banyak hal positif yang kita dapat. diantaranya keluhuran Budi, Ibu dari sifat-sifat kebaikan.

Mengembalikan budaya Luhur menjadi karakter anak daerah tentu berdampak Positif bagi generasi yang akan datang. 

Mereka akan takut Korupsi,karena Korupsi=Maling. dan maling adalah sebuah Kosakata yang sangat memalukan dan Aib besar bagi kita Urang Minangkabau.

Nanti dikelak hari akan ada pameo.. Jikok Korupsi , antah kama muko kadiandok an, baiak elok barangkek jauah dari kampuang daripado sakaum manangguang malu..

catatan Oyong Liza Piliang

Kemenangan Jokowi Sudah Jauh Hari Diketahui Dalam Budaya Minang

Written By oyong liza on Sabtu, 29 September 2012 | 11.00


kebersamaan baik itu dalam sebuah Ormas maupun pertemanan, sepalanta, adalah hal yg lumrah diminangkabau ini, apalagi diranah piaman,pertemuaan acap kami lakukan dipalanta kedai kopi, kami membahas apa saja, baik itu politik, sosial ,hukum, budaya, proyek bahkan sampai pernikahan, sebagaimana yg barusan kami bahas dipalanta kedai kopi samping BPD kota Pariaman. jika anda ingin menjadi Sarjana Lapangan, belajarlah dari palanta-2 kedai kopi, bergaul dengan orang banyak, sebagaimana yg dikatakan Iwan Piliang tempo hari kepada saya "Doktor lapangan lebih bernilai dari Doktor text book" ujar beliau dg mimik tegas, sembari memberikan komparasi tokoh nasional yg Doktor text book dengan tokoh minim pendidikan, namun kaya ilmu sosial dilapangan, inilah diploma yg sesungguhnya kata Iwan Piliang kepada saya tempo hari.

dipalanta kedai kopi dakemong , dipelataran parkir pasar putih, dekat janjang 40 kota Bukittinggi, sayapun acap berlungguk bersama sahabat-2 dan senior-2, dakemong yg cina minang sudah macam saudara saja bagi kami, ia pintar menyeduh kopi cina, yg sering dilabeli kopi O, kopi seduhan dakemong adalah yg terbaik menurut lidah saya..

dalam jeda MUSWIL PEMUDA PANCASILA KE VI tgl 25/9/2012 di Bukittinggi tempo hari, H Trismon, Am Kartago, Wawako Sawahlunto, Faisal Arifin dan puluhan sahabat lainnya memenuhi palanta kedai kopi dakemong, kedai kopi tersebut amatlah sederhana, beratap traspal,gerobak, 3buah meja dan beberapa kursi plastik, semua kursi penuh terisi, semua yg datang termasuk saya mengenakan pakaian ciri khas Ormas kami, pesan kopi, pesan goreng ubi, kami bercengkrama.. tak ada yg kami bahas hal-2 yg menyangkut politik disini, perbincangan ringan , bagalak-2 , senda gurau dan reuni semacam tema yg terbentuk dg sendirinya bersebab beberapa nama yg saya sebutkan diatas sangat jarang bertemu satu sama lainnya dikarenakan kesibukan mereka, baik sebagai kepala pemerintahan,lawyer,politisi,pengusaha bahkan Akak balai..

saya berpendapat , menjernihkan hati,menganalogiskan pada sosok Jokowi ikhwal ilmu sosial lapangan yg tak ada kurikulumnya di fakultas manapun didunia ini. jokowi telah mencontohkan ini dalam cakupan yg luas, ia menguasai ilmu parewa pergaulan, jika dikomparasi dengan foke, saya berani memberi ponten 9 vs 5, dalam hal ini ilmu lapangan foke raportnya merah dimata saya, sedangkan jokowi mendekati sempurna, dalam artian lain Jokowi belajar dari alam, pengalaman, perjalanan hidup yg ia simpul dengan erat untuk ia bawa kejakarta untuk bertarung merebut kursi no.1 DKI. bak pepatah "banyak hiduik, banyaik dirasai,banyak bajalan ,banyak yg dicaliak, Alam takambang jadikan guru..mari belajar dari kehidupan..

catatan Oyong Liza Piliang

KUMPULAN PEPATAH-PETITIH MINANGKABAU NAN ELOK

Written By oyong liza on Senin, 02 Juli 2012 | 20.46

 

oleh : Alm. Idrus Hakimy Dt Rajo Panghulu

1. Anak nalayan mambaok cangkua, mananam ubi ditanah darek. Baban sakoyan dapek dipikua, budi saketek taraso barek.
Beban yang berat dapat dipikul, tetapi budi sedikit terasa berat.

2. Anak ikan dimakan ikan, gadang ditabek anak tenggiri. Ameh bukan perakpun bukan, budi saketek rang haragoi.
Hubungan yang erat sesama manusia bukan karena emas dan perak, tetapi lebih diikat budi yang baik.

3. Anjalai tumbuah dimunggu, sugi sugi dirumpun padi. Supayo pandai rajin baguru, supayo tinggi naikan budi.
Pengetahuan hanya didapat dengan berguru, kemulian hanya didapat dengan budi yang tinggi.

4. Alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati.
Sifat seseorang yang tegas bertindak atas kebenaran dengan penuh bijaksana

5. Tarandam randam indak basah, tarapuang apuang indak hanyuik.
Suatu persoalan yang tidak didudukan dan pelaksanaannya dilalaikan.

6. Anyuik labu dek manyauak, hilang kabau dek kubalo.
Karena mengutamakan suatu urusan yang kurang penting hingga yang lebih penting tertinggal karenanya.

7. Anguak anggak geleng amuah, unjuak nan tidak babarikan.
Sifat seseorang yang tidak suka berterus terang dan tidak suka ketegasan dalam sesuatu.

8. Alua samo dituruik, limbago samo dituang.
Seorang yang mentaati perbuatan bersama dan dipatuhi bersama.

9. Alat baaluah jo bapatuik makanan banang siku-siku, kato nan bana tak baturuik ingiran bathin nan baliku.
Seseorang yang tidak mau dibawa kejalan yang benar menandakan mentalnya telah rusak.

10 Alang tukang binaso kayu, alang cadiak binaso Adat, alang arih binaso tubuah.Alat baaluah jo bapatuik makanan banang siku-siku, kato nan bana tak baturuik ingiran bathin nan baliku.
Seseorang yang tidak mau dibawa kejalan yang benar menandakan mentalnya telah rusak.

11. Alah bauriah bak sipasin, kok bakiek alah bajajak, habih tahun baganti musim sandi Adat jangan dianjak.
Walaupun tahun silih berganti musim selalu beredar, tetapi pegangan hidup jangan dilepas.

12. Adat biaso kito pakai, limbago nan samo dituang, nan elok samo dipakai nan buruak samo dibuang.
Yang baik sama dipakai, yang buruk sama ditinggalkan.

13. Anak-anak kato manggaduah, sabab manuruik sakandak hati, kabuik tarang hujanlah taduah, nan hilang patuik dicari.
Sekarang suasana telah baik, keadaan telah pulih, sudah waktunya menyempurnakan kehidupan.

14. Anggang nan datang dari lauik, tabang sarato jo mangkuto, dek baik budi nan manyam buik, pumpun kuku patah pauahnyo.
Seseorang yang disambut dengan budi yang baik dan tingkah laku yang sopan, musuh sekalipun tidak akan menjadi ganas.

15. Anjalai pamaga koto, tumbuah sarumpun jo ligundi, kalau pandai bakato kato, umpamo santan jo tangguli.
Seseorang yang pandai menyampaikan sesuatu dengan perkataan yang baik, akan enak didengar dan menarik orang yang dihadapi.

16. Atah taserak dinan kalam, intan tasisiah dalam lunau, inyo tabang uleklah tingga, nak umpamo langgau hijau.
Seseorang yang menceraikan istrinya yang sedang hamil, adalah perbuatan tidak baik.

17. Aia diminum raso duri, nasi dimakan raso sakam.
Seseorang yang sedang menanggung penderitaan bathin.

18. Adaik rang mudo manangguang rindu, adaik tuo manahan ragam.
Sudah lumrah seorang pemuda mempunyai suatu idaman, dan lumrah seorang yang telah tua menahan banyak karena umurnya.

19. Alah limau dek mindalu, hilang pusako dek pancarian.
Kebudayaan asli suatu bangsa dikalahkan oleh kebudayaan lain.

20. Adat dipakai baru, jikok kain dipakai usang.
Adat Minang Kabau kalau selalu diamalkan dia merupakan ajaran yang bisa berguna sepanjang zaman.

21. Basuluah mato hari, bagalanggang mato rang banyak.
Suatu persoalan yang sudah diketahui oleh umum didalam suatu masyarakat.

22. Baribu nan tidak lipuah, jajak nan indak hilang.
Satu ajaran yang tetap berkesan, yang diterima turun temurun.

23. Bariak tando tak dalam, bakucak tando tak panuah.
Seseorang yang mengaku dirinya pandai, tetapi yang kejadiannya sebaliknya.

24. Bajalan paliharolah kaki, bakato paliharolah lidah.
Hati-hatilah dalam berjalan begitu juga dalam melihat, sehingga tidak menyakiti orang lain.

25. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.
Setiap pekerjaan yang dikerjakan secara bersama.

26. Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi.
Suatu pengetahuan yang tanggung dipelajari tidak lengkap dan cukup, kurang bisa dimanfaatkan.
27. Bakato bak balalai gajah, babicaro bak katiak ula.
Suatu pembicaraan yang tidak jelas ujung pangkalnya.
28. Bapikia kapalang aka, ba ulemu kapalang paham.
Seseorang yang mengerjakan sesuatu tanpa berpengetahuan tentang apa yang dikerjakannya.
29. Bak kayu lungga panggabek, bak batang dikabek ciek.
Suatu masyarakat yang berpecah belah, dan sulit untuk disusun dan diperbaiki.
30. Batolan mangko bajalan, mufakat mangko bakato.
Dalam masyarakat jangan mengasingkan diri, dan bertindak tanpa mufakat.
31. Bak kancah laweh arang, bapaham tabuang saruweh.
Seseorang yang besar bicaranya, dan tidak bisa merahasiakan yang patut dirahasiakan.
32. Bak balam talampau jinak, gilo ma-angguak-anguak tabuang aia, gilo mancotok kili-kili.
Seseorang yang sifatnya terlalu cepat mempercayai orang lain, tanpa mengetahui sifat orang lain tersebut.
33. Bakarih sikati muno, patah lai basimpai alun ratak sabuah jadi tuah, jikok dibukakpusako lamo, dibangkik tareh nan tarandam lah banyak ragi nan barubah.
Karena banyaknya yang mempengaruhi kebudayaan kita yang datang dari luar, kemurnian kebudayaan Adat istiadat mulai kabur dari masyarakat.
34. Batang aua paantak tungku, pangkanyo sarang sisan, ligundi disawah ladang sariak indak babungolai. Mauleh jokok mambuku, mambuhua kalau manggasan, kalau budi kelihatan dek urang, hiduik nan indak baguno lai.
Seseorang dalam masyarakat yang telah kehilangan kepercayaan, karena tindakannya yang kurang teliti dalam suatu hal. Sehingga kehilangan kepercayaan terhadap dirinya.
35. Basasok bajarami, bapandam pakuburan, soko pusako kalau tadalami, mambayang cahayo diinggiran.
Kalau ajaran adat dapat didalami dan difahami, serta diamalkan oleh masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi tinggi mutunya.
36. Basasok bajarami, bapandam pakuburan.
Adalah syarat mutlak bagi satu nagari di Minang Kabau
37. Bapuntuang suluah sia, baka upeh racun sayak batabuang, paluak pangku Adat nan kaka, kalanggik tuah malambuang.
Kalau ajaran Adat Minang Kabau benar-benar dapat diamalkan oleh anggota masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi masyarakat yang tinggi peradabannya dan kuat persatuannya.
38. Bajalan batolan, bakato baiyo, baiak runding jo mufakat. Turuik panggaja urang tuo, supayo badan nak salamaik.
Hormati dan turuti nasehat Ibu Bapak dan orang yang lebih tua umurnya dari kamu, Insya ALLAH hidupmu akan selamat.
39. Barakyat dulu mangko barajo, jikok panghulu bakamanakan. Kalau duduak jo nan tuo pandai nan usah dipanggakkan.
Sewaktu duduk bersama orang tua, baiak orang tua umurnya dari kita, janganlah membanggakan kepandaian kita sendiri.
40. Bakato bapikiri dulu, ingek-ingek sabalun kanai, samantang kito urang nan tahu, ulemu padi nan kadipakai.
Seseorang yang pandai dalam hidup bergaul, dia selalu umpama padi berisi, makin berisi makin tunduk, bukan membanggakan kepandaian.
41. Banyak diliek jauah bajalan, lamo hiduik banyak diraso. Kalau kito dalam parsidangan marah jo duko usah dipakai.
Didalam duduk rapat dalam suatu persidangan, tidak boleh berhati murung, dan tidak boleh bersifat marah.
42. Biopari kato ibarat, bijaksano taratik sopan, pacik pitaruah buhua arek, itu nan ijan dilupokan.
Nasehat yang baik jangan dilupakan, pegang erat-erat untuk diamalkan.
43. Barieh balabiah limo puluah, nan warieh bajawek juo, kaganti camin gujalo tubuah, paukua baying-bayang maso.
Ajaran Adat kalau didalami dia akan dapat menjadi ukuran kemajuan zaman dibidang moral manusia.
44. Baitu barieh balabiahnyo, dari luhak maso dahulu, kok tidak disigi dipanyato, lipuah lah jajak nan dahulu.
Tentang Adat Minangkabau sebagai kebudayaan daerah kalau tidak dibina dan dikembangkan, maka hilanglah kebudayaan yang asli di Minang Kabau, karena di pengaruhi kebudayaan asing.
45. Buruak muko camin dibalah.
Seseorang yang membuat kesalahan karena kebodohannya, tetapi yang disalahkannya orang lain atau peraturan.
46. Banggieh dimancik, rangkiang disaliangkan.
Marah kepada satu orang tetapi semua orang yang dimusuhi.
47. Barajo Buo Sumpu Kuduih tigo jo rajo Pagaruyuang, Ibu jo bapak pangkanyo manjadi anak rang bautang.
Kesalahan seorang anak, akan banyak tergantung kepada didikan kedua ibu bapaknya.
48. Bak cando caciang kapanehan, umpamo lipeh tapanggang.
Seseorang yang tidak mempunyai sifat ketenangan, tetapi selalu keluh kesah dan terburu buru.
49. Bak lonjak labu dibanam, umpamo kacang diabuih ciek.
Seseorang yang mempunyai sifat angkuh dan sombong, sedang dia sendiri tidak tahu ukurannya dirinya.
50. Bak ayam manampak alang, umpamo kuciang dibaokkan lidieh.
Seseorang yang sangat dalam ketakutan, sehingga kehidupannya kucar kacir.
51. Bak caro tontoang diladang, umpamo pahek ditokok juo barunyo makan, urang-urang ditanggah sawah digoyang dulu baru manggariek.
Seseorang yang tidak tahu kepada tugas dan kewajibannya sehingga selalu menunggu perintah dari atasan, tidak mempunyai inisiatif dalam kehidupan.
52. Bak sibisu barasian, takana lai takatokan indak.
Seseorang yang tidak sanggup menyebut dan mengemukakan kebenaran, karena mempunyai keragu-raguan dalam pengetahuan yang dimiliki.
53. Bak baruak dipataruahkan, bak cando kakuang dipapikekkan.
Seseorang hidup berputus asa, selalu menunggu uluran tangan orang lain, tidak mau berusaha dan banyak duduk bermenung.
54. Bak manjamua ateh jarami, jariah abieh jaso tak ado.
Pekerjaan yang dikerjakan tanpa perhitungan, sehingga menjadi rugi dan sia sia.
55. Bak balaki tukang ameh, mananti laki pai maling.
Menunggu suatu yang sulit untuk dicapai, karena kurang tepatnya perhitungan dan harapan yang tak kunjung tercapai.
56. Baulemu kapalang aja, bakapandaian sabatang rokok.
Seseorang yang tidak lengkap pengetahuan dalam mengerjakan sesuatu, atau kurang pengetahuannya.
57. Bunyi kecek marandang kacang, bunyi muluik mambaka buluah.
Seseorang yang besar bicara tetapi tidak ada memberi hasil.
58. Baguno lidah tak batulang, kato gadang timbangan kurang.
Pembicaraan yang dikeluarkan secra angkuh dan sombong, tidak memikirkan orang lain akan tersinggung.
59. Bak bunyi aguang tatunkuik, samangaik layua kalinduangan.
Seseorang yang tidak bisa bicara karena banyak takut dan ragu dalam pendirian.
60. Bak itiak tanggah galanggang, cando kabau takajuik diaguang.
Seseorang yang sangat tercegang dan takjub dengan sesuatu, sehingga tidak sadarkan diri sebagai seorang manusia.
61. Bungkuak saruweh tak takadang, sangik hiduang tagang kaluan.
Seseorang yang tidak mau menerima nasehat dan pendapat orang lain, walaupun dia dipihak yang tidak benar sekalipun.
62. Bumi sampik alam tak sunyi, dio manjadi upeh racun.
Biasanya orang yang disebut dalam no.61 diatas menyusah dan menjadi batu penarung.
63. Bak umpamo gatah caia, bak cando pimpiang dilereng, iko elok etan katuju.
Sifat seorang laki-laki atau perempuan yang tidak mempunyai pendirian dan ketetapan hati dalam segala hal.
64. Basikelah anggan kanai, basisuruak jikok kanai, tasindoroang nyato kanai.
Sifat yang harus dihindarkan, seorang yang tidak mau bertanggung jawab atas segala perbuatannya.
65. Budi nan tidak katinjauan, paham nan tidak kamaliangan.
Seseorang yang tidak mau kelihatan budi, dan selalu hati-hati dalam berbuat bertindak dalam pergaulan.
66. Bak basanggai diabu dingin, bak batanak ditungku duo.
Suatu pekerjaan yang sia-sia dan kurang mempunyai perhitungan.
67. Bak taratik rang sembahyang, masuak sarato tahu, kalua sarato takuik.
Seseorang yang mengerjakan sesuatu dengan penuh ketelitian dan menguasai segala persoalannya.
68. Bak galagak gulai kincuang, bak honjak galanggang tingga.
Seseorang yang berlagak pandai dalam sesuatu, tetapi yang sebenarnya kosong belaka.
69. Bak ayam lapeh malam, bak kambiang diparancahkan.
Seorang yang kehilangan pedoman hidup serta pegangan, berputus asa dalam sesuatu.
70. Bak balam talampau jinak, gilo maangguak tabuang aia, gilo mancotok kili kili.
Seseorang yang mudah dipuji sehingga kalau telah dipuji bisa terbuka segala rahasia.
71. Bagai kabau jalang kareh hiduang, parunnyuik pambulang tali, tak tantu dima kandangnyo.
Seseorang yang keras kepala tak mau menerima nasehat orang lain, sedangkan dia sendiri tak memahami tentang sesuatu.
72. Bak umpamo badak jantan, kuliek surieh jangek lah luko, namun lenggok baitu juo.
Seorang yang tidak tahu diri, sudah tua disangka muda, ingin kembali cara yang muda.
73. Bak ma eto kain saruang, bak etong kasiak dipantai.
Suatu persoalan yang tidak berujung berpangkal dan tidak ada keputusannya dalam masyarakat.
74. Barundiang siang caliak-caliak, mangecek malam agak-agak.
Berbicaralah dengan penuh hati-hati dan jangan menyinggung orang lain.
75. Bak manungkuih tulang didaun taleh, bak manyuruakan durian masak.
Suatu perbuatan jahat walaupun bagaimana dia pandai menyembunyikannya, lambat laun akan diketahui orang lain juga.
76. Bilalang indak manjadi alang, picak-picak indak jadi kuro-kuro. Walau disapuah ameh lancuan, Kilek loyang kan tampak juo.
Setiap penipuan yang dilakukan dan ditutup dengan kebaikan, dia akan kelihatan juga kemudian.
77. Bak mandapek durian runtuah, bak mandapek kijang patah.
Seseorang yang mendapat keuntungan dengan tiba-tiba, yang tidak dikira pada mulanya.
78. Bagai sipontong dapek cicin, bak mancik jatuah kabareh.
Nikmat yang diperdapat sedang orang yang bersangkutan lupa dari mana asal mulanya,dan menjadikan dia lupa diri.
79. Bak kabau dicucuak hiduang umpamo langgau di ikua gajah.
Seseorang yang selalu menurut kemauaan orang lain, tanpa mengeluarkan pendapat hatinya.
80. Bak mamaga karambia condong, bak ayam baranak itiak.
Pengetahuan seseorang yang tidak dapat dimamfaatkan dan berfaedah bagi dirinya, tetapi menguntungkan kepada orang lain.
81. Bak mangantang anak ayam, umpamo basukek baluik hiduik.
Suatu masyarakat karena kurang keahlian sulit untuk disusun dan dikoordinir.
82. Bak mahambek aia hilia, bak manahan gunuang runtuah.
Mengerjakan suatu pekerjaan berat yang harus dikerjakan bersama, dikerjakan sendirian, dan tidak mempunyai keahlian pula tentang itu.
83. Bak mancari jajak dalam aia, bak mancari pinjaik dalam lunau.
Mencari sesuatu yang mustahil didapat, walaupun sesuatu itu ada.
84. Bak manatiang minyak panuah, bak mahelo rambuik dalam tapuang.
Suatu pekerjaan yang dikerjakan dengan hati-hati dan teliti, karena memikirkan akibatnya.
85. Bak aia didaun kaladi, bak talua diujuang tanduak.
Sesuatu yang sulit menjaganya dalam pergaulan, kalau hilang atau jatuh hilang semua harapan, seperti kehilang budi dari seseorang.
86. Bak manggadangkan anak ula, umpamo mamaliharo anak harimau.
Seseorang yang didik dari kecil dengan ilmu pengetahuan, tetapi kelak setelah dia besar dibalas dengan perbuatan yang jahat.
87. Bak aia jatuah ka kasiak, bak batu jatuah ka lubuak.
Sesuatu persoalan yang diajukan, tetapi dilupakan buat selamnya, yang seharusnya perlu lu ditekel dengan segera.
88. Bak bagantuang di aka lapuak, bak bapijak didahan mati.
Seseorang yang mengantungkan nasib pada orang yang sangat lemah ekonomi dan pemikirannya.
89. Bak ayam indak ba induak, umpamo siriah indak ba junjuang.
Suatu masyarakat atau anak-anak yang tidak ada yang akan memimpin atau memeliharanya.
90. Bak malapehkan anjiang tasapik, bak mangadangkan anak harimau.
Seseorang yang ditolong dengan perbuatan baik diwaktu dia dalam kesempitan tetapi setelah dia terlepas dari kesulitan, dia balas dengan kejahatan.
91. Bak api didalam sakam, aia tanang mahannyuikkan.
Seseorang yang mempunyai dendam diluar tidak kelihatan, tetapi setelah terjadi kejahatan saja baru diketahui.
92. Bak tapijak dibaro angek, bak cando lipeh tapanggang.
Seseorang yang sifatnya tergesa-gesa, berbuat tanpa memikirkan akibat.
93. Bak maungkik batu dibancah, bak manjujuang kabau sikua.
Suatu pekerjaan yang sukar dikerjakan, dan kalau dikerjakan menjadi sia-sia, bahkan menimbulkan kesulitan.
94. Baban barek singguluang batu, kayu tapikua dipangkanyo.
Suatu pekerjaan yang dikerjakan tetapi tidak ada keuntungan materil yang diharapkan (sosial)
95. Bak kudo palajang bukik, umpamo gajah paangkuik lado.
Suatu pekerjaan bersama-samalah seorang dari orang yang berjasa dalam pekerjaan itu tidak diberi penghargaan sewajarnya.
96. Bak banang dilando ayam, bak bumi diguncang gampo.
Suatu kerusuhan dan kekacauan yang timbul dalam suatu masyarakat yang sulit untuk diatasi.
97. Bak baluik di gutiak ikua, bak kambiang tamakan ulek.
Seseorang yang mempunyai sifat dan tingkah laku yang kurang sopan dan tidak memperdulikan orang lain yang tersinggung karena perbuatannya.
98. Babana ka ampu kaki, ba utak ka pangka langan.
Seseorang yang mudah tersinggung dan mudah berkelahi karena hal kecil.
99. Baumpamo batuang tak bamiyang, bak bungo tak baduri.
Seseorang yang tidak mempunyai sifat malu dalam hidup, baik laki -laki dan perempuan.
100. Basilek dipangka padang, bagaluik diujuang karieh, kato salalu baumpamo, rundiang salalu bamisalan.
Pepatah, petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam Adat Minang Kabau, selalu mempunyai arti yang tersurat dan tersirat (berkias).

email kiriman rahmad putra chaniago ke pariaman.news@yahoo.co.id

kearifan lokal budaya minang pencetak SDM unggul harus kita kembalikan

Written By oyong liza on Jumat, 01 Juni 2012 | 15.44


adat minangkabau yang sangat kuat fondasi religinya sebagaimana terucap "adaik basandi sarak, sarak basandi ka kitabullah" . sangat kokoh dan kuat , saling sangga menyangga ,antara agama islam dan kearifan lokal yang tertuang dalam tambo diminangkabau. rasa tanggung jawab urang minang yang tinggi terhadap kampung, dan kamanakan diurai jelas dalam pepatah dan petitih kearifan lokal yang sangat bijaksana. budaya minangkabau sudah berdemokrasi semenjak zaman dahulu kala, dengan pepatah dan petitih yang sangat sarat dan kuat maknanya, tidak salah dizaman penjajahan hingga awal kemerdekaan republik ini, orang minang kabau sangat dominan dipentas politik nasional, bahkan presiden pertama singapura asli urang MINANGKABAU !

itulah fakta.. bila kita kembali kepada kearifan lokal dan budaya kita saya jamin SDM unggul akan muncul dan tentu lebih bisa dan hebat lagi daripada pendahulu2 kita.. namun sangat disayangkan degradasi yang acap kita dengar dikalangan cadiak pandai, bahkan yang bergelar datuak gelar tertinggi dan sangat terpandang diminangkabau ini. sudah sekedar simbolis dan formalis saja demi i mengejar ambisi politik, jika para tetua dan kalangan bergelar terpandang diminangkabau ini kembali pada domainnya niscaya tongkat estafet budaya dan kearifan lokal kita akan sambung menyambung terus dari generasi kegenerasi. rumah gadang yang sangat kita agungkan sampai "ditembak patuih" karena gelar datuak diperjual belikan dan dipolitisasi,, hal ini sempat membuat berang salah seorang datuak yang sangat terpandang diminangkabau ini. disebuah koran harian beliau sangat menyesalkan sebagian datuak2 yang sangat "mudah dibeli". disinilah degradasi kearifan lokal kita berawal..ucapnya ketika itu.

hal ini tidak boleh kita biarkan berlarut2.. semua peran yang melekat pada satu sosok yang telah dilabeli gelar adat harus menyadari dan kembalilah kepada titahnya.. jika masih ingin melihat urang minangkabau ini untuk generasi yang akan datang "baradaik". kita jangan pula mengkritisi anak2 dan keponakan kita yang berperilaku diluar norma2 kearifan lokal kita, sementara kita sendiri tidak pernah menanamkannya pada generasi dibawah kita, kita tidak lagi dipandang tentu ada sebabnya jangan pula berang.. pikirkan saja sendiri.. minangkabau yang dahulunya dikenal pencetak generasi SDM unggul harus kita angkat kembali dengan kembali pula pada nilai2 adat dan budaya kita yang sangat unggul dan demokratis, dengan memberikan contoh teladan yang baik kepada generasi muda , dan kembali kepada amanah gelar adat yang kita sandang..niscaya kelak akan lahir generasi2 baru dengan SDM yang unggul dan sesuai dengan perkembangan zaman.

catatan oyong liza piliang

Topik Terhangat

postingan terdahulu