Genius, Replika Ka'bah Akan Dibangun di Masjid Terapung Pariaman



Wakil Walikota Pariaman Genius Umar hadiri Grand Opening Al Madinah Group yang bekerjasama dengan PT. Multazam Wisata Agung, Medan, di hotel Almadinah Pariaman, Minggu (19/3/2017).

Al Madinah Group merupakan kantor cabang untuk biro travel umroh PT. Multazam Wisata Agung yang telah mengantongi izin Kementerian Agama RI dengan No.D/373/Kemenkumham/RI/2016, dan telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

"Biro kita memberangkatkan tamu Allah yang akan umroh seminggu sekali dari kantor cabang yang tersebar di seluruh Indonesia," ungkap pemilik PT. Multazam Wisata Agung, Safi'i.

Saat ini, imbuh ustad lulusan S3 Timur Tengah itu, banyak travel umroh nakal dan tak jarang hingga menelantarkan membernya. Ia tak ingin hal tersebut sampai terjadi di Pariaman.

Sementara itu Genius Umar dalam sambutannya menyatakan, biro umroh harus memberikan pelayanan prima kepada setiap member mereka. Biro umroh berkriteria baik menurutnya yang tepat waktu, memiliki kepastian harga dan kepastian pendamping.

Genius mengapresiasi ditunjuknya Al Madinah Group sebagai kantor cabang Multazam di Sumbar. Ia berharap akan banyak member yang akan mendaftar di biro tersebut nantinya dan ikut meramaikan Pariaman.
 

Lanjut Genius, saat ini pihaknya sedang giat komitmen jadikan Pariaman destinasi wisata halal, salah satunya dengan mulai akan dibangunnya Masjid Terapung Pariaman di tahun 2017 ini.

“Masjid Terapung akan dilengkapi replika Ka'bah untuk manasik haji nantinya. Selain itu juga dilengkapi dengan Islamic Centre," sambungnya.

TIM
Kenapa DPRD Beri Tanda "Bintang" Anggaran Masjid Terapung Pariaman?



DPRD Kota Pariaman menyatakan legislatif pada dasarnya setuju saja akan dibangunnya masjid terapung di Pantai Pariaman, asalkan melalui kajian yang matang.

DPRD sendiri sudah mengesahkan anggaran sebesar Rp8 milyar untuk tahap awal pembangunan masjid tersebut pada APBD tahun 2017-- yang sudah disahkan menjadi Perda pada tanggal 30 November 2016 lalu.

Pengesahan anggaran pembangunan masjid terapung, ungkap Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyuddin, di Pariaman, Senin (27/2), disetujui dengan tanda 'bintang'.

"Pemberian tanda bintang untuk anggaran pembangunan tahap awal masjid terapung disebabkan karena pihak eksekutif belum menyelesaikan Amdal dan perencanaan yang komperehensif saat anggaran tersebut akan disahkan," kata Mardison.

Kajian yang dimaksudkan pihaknya sebut Mardison, adalah Amdal, surat pernyataan dari ahli struktur bangunan, ahli gelombang laut dan ahli gempa.

"Sebab pembangunan dilakukan di atas laut tentu harus ada pernyataan ahli-ahli. Jika ahli menyatakan boleh dibangun, silahkan dibangun, bahkan DPRD akan kembali menganggarkannya untuk tahun 2018," sambung Mardison.

Namun jika para ahli menyatakan pembangunan mesjid di atas laut Pariaman membahayakan, imbuh Mardison, DPRD tidak menyetujui pembangunan tersebut meskipun sudah disahkan dalam APBD.

"Maka dari itu jauh hari kita buat kesepakatan dengan pihak eksekutif. Oleh sebab itu anggarannya kita beri tanda bintang," ucapnya.

Terpisah, Wakil Walikota Pariaman Genius Umar sebelumnya menyatakan, pembangunan masjid terapung merupakan visi misi pemerintah daerah

Masjid terapung direncanakan berlokasi bersebelahan dengan Muara Pariaman tepatnya di Pantai Pasir Pauh, Desa Pauh Barat. Kajian perencanaan pembangunan masjid terapung menurutnya sudah dilakukan pihaknya sejak lama.

"Kini kita sedang menyelesaikan Amdalnya, setelahnya langsung dilakukan pembangunan karena anggarannya sudah tersedia," ujar Genius.

Pembangunan masjid terapung sambung Genius, sekaligus simbol bagi Kota Pariaman sebagai destinasi wisata berbasis Islami (religius).
 

Sementara itu warga Desa Pauh Barat, Arlina (52), mendukung langkah pemerintah membangun masjid terapung di desanya. Ia berpendapat keberadaan masjid tersebut nantinya akan mengubah drastis wajah Pariaman.

"Keberadaan masjid terapung membuat Pariaman makin indah, sekaligus simbol wisata Islami di sepanjang Pantai Pariaman," kata dia.
 

OLP
DPRD Belum Sepenuhnya Setujui Pembangunan Mesjid Terapung



Konsep wisata nuansa islami yang dicetuskan eksekutif dengan membangun mesjid terapung di atas laut Pantai Pariaman, belum sepenuhnya disetujui oleh DPRD Kota Pariaman.

Menurut Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyuddin didampingi Wakil Ketua John Edwar, sejauh ada kajian mendalam disertai amdal akan baik buruknya mesjid terapung dibangun di atas air laut, pihaknya akan menyetujui anggaran pembangunannya.

"Kita mendukung program pemerintah membangun mesjid terapung, buktinya sudah kita sahkan anggaran perencanaan pembangunannya," ujar Mardison di Gedung DPRD Kota Pariaman, Manggung, Selasa (7/2/2017).

Hanya sebelum masuk ke tahap pembangunan, imbuh Mardison, diperlukan kajian yang matang mengingat wilayah Pariaman merupakan zona mitigasi gempa. Pihaknya perlu ada jaminan dari pihak BMKG yang menyatakan membangun di atas air laut aman bagi keselamatan.

"Jika sudah ada kajian yang melibatkan BMKG yang menyatakan itu aman, diikuti amdal, maka akan kita anggarkan, kita bangun," sambungnya.

Ia menambahkan, niat DPRD dan eksekutif sama dalam membangun Pariaman sebagai kota bernuansa islami yang ditunjang pula dengan pariwisata yang menonjolkan islami.

"Wujudnya ke arah itu kita dukung. Contohnya magrib mengaji, kita apresiasi penuh. Magrib mengaji yang dicetus walikota merupakan langkah ke arah sana," ujarnya.

Sementara itu Wakil Ketua DPRD John Edward berpendapat berbeda. Ia meminta pemerintah perlu melakukan pengkajian akan biaya perawatan jika mesjid terapung jadi dibangun.

"Perlu dikaji dengan matang. Yang kita takutkan APBD nantinya akan tersedot oleh biaya pemeliharaan mesjid terapung. Perlu digaris bawahi, kita di DPRD tidak mengganjal, tapi mengingatkan," sebutnya.

OLP
Sayembara Mesjid Agung "Terapung" Kota Pariaman, Umumkan 4 Pemenang



Dari hasil penilaian oleh para dewan juri yang terdiri atas pakar arsitek ITB (Institute Tekhnologi Bandung), USU (Universitas Sumatera Utara) dan IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) serta satu dewan juri dari kalangan ahli ilmu Agama Islam, ditetapkanlah empat tim (4) finalis yang harus mempresentasikan dahulu gagasan pradisain Mesjid Agung Kota Pariaman atau Mesjid Terapung Kota Pariaman dihadapan para hadirin di Aula Utama Balaikota Pariaman, Rabu, (24/12) sebelum diumumkan sebagai pemenang sayembara.

Dalam acara yang dibuka langsung oleh Walikota Pariaman Mukhlis Rahman dan dihadiri oleh Wakil Walikota Genius Umar, Ketua DPRD Mardison Mahyuddin, Wakil Ketua DPRD Syafinal Akbar dan Jhon Edward, Anggota DPRD, DPP PKDP, Sekdako Armen, Ketua MUI, Ketua PKK dan GOW, Dandim 0308, para Kepala SKPD, Camat, Kades/Lurah se Kota Pariaman, beserta ke empat para finalis itu, disebutkan bahwa sebelumnya 28 tim peserta dari seluruh Indonesia ikut serta dalam sayembara lomba disein Mesjid Agung Kota Pariaman. Artinya, dari 28 peserta lomba disein, hanya empat diantaranya yang lolos ke empat besar final.

Menurut Mukhlis, 12 tahun sejak Kota Pariaman menjadi Kota Otonom namun belum memiliki sebuah Mesjid Agung. Keberadaan Mesjid Agung, kata Mukhlis, tidak hanya untuk menampung jumlah jemaah skala besar, akan tetapi juga untuk menjadi ikon dari sebuah kota, destinasi wisata, pusat ekonomi, dan pusat pengembangan Agama Islam.

Menurutnya, langkah pasti untuk membangun sebuah Mesjid Agung Kota Pariaman sudah semakin jelas dengan diadakannya sayembara merancang disein Mesjid Agung yang lokasinya harus berada di pinggir pantai (Mesjid Terapung), seperti di Pantai Gandoriah, Pantai Cermin dan Pantai Kata. Terkait lokasi pastinya, kata Mukhlis, tergantung hasil kajian dari para ahli tekhnis rancang bangun yang telah dipersiapkan.

"Saya sangat gembira karena semua pimpinan DPRD Kota Pariaman dan Anggota DPRD sangat banyak yang menghadiri acara ini. Semoga dengan kehadirannya ini, berlanjut dengan menyetujui dan mendukung kebijakan pembangunan Mesjid Agung," kata Mukhlis.

Mukhlis menuturkan, ide pembangunan Mesjid Agung sudah ada sejak tahun 2010 silam dimasa periode pertama kepemimpinannya sebagai walikota. Jika pembangunan Mesjid Agung tersebut terlaksana, lanjutnya, maka Kota Pariaman akan menjadi salah satu daerah tujuan wisata religi, belum lagi Pariaman sudah dikenal sebagai basis syiar Agama Islam di Sumatera Barat.

Disamping itu Mukhlis juga mencontohkan keberhasilan negara Malaysia dalam mengelola Mesjid Agung Putra Jaya sebagai salah satu destinasi wisata yang sangat ramai dikunjungi wisatawan, baik oleh umat muslim sendiri maupun oleh non muslim.

"Dengan adanya Mesjid Agung Kota Pariaman ini, kita juga ikut berdakwah, melalui leafleat, brosur, maupun souvenir bernuansa islami," pungkasnya.

Usai presentasi oleh ke-empat finalis, para dewan juri akhirnya mengumumkan para juara lomba disein Mesjid Agung Kota Pariaman. Juara I diraih oleh Sudarmaidi yang berhak menerima hadiah uang tunai sebesar Rp 75 juta, Juara II Syahlan Syukri Nasution (Rp 50 juta), juara III Eldin (25 juta) dan juara pavorit Asmardi yang langsung dapat cash sebesar Rp 15 juta.


OLP