14 July 2017

AF "Ayah Rutiang" Pindah Tahanan
AF saat diamankan di Mapolsek Sungailimau. Foto: Nanda
Alai Gelombang -- AF (42), tersangka kasus pencabulan anak kandung sendiri di nagari Kuranji Hilir, Kecamatan Sungailimau, Padangpariaman akhirnya dipindahkan dari Rutan Polsek Sungailimau ke Rutan Polres Pariaman, Jumat (14/7/2017) siang.

Kapolres Pariaman, AKBP Bagus Suropratomo Oktobrianto, mengatakan pemindahan tersangka AF ke rutan Polres Pariaman untuk lebih memudahkan penjagaan saja.

Ia membantah, jika pemindahan tersangka AF disebabkan oleh kekhawatiran luapan amarah keluarga korban kepada tersangka.

"Pemindahan tersangka agar lebih optimal saja penjagaannya. Karena di Polres ruang tahanannya luas dan petugasnya lebih banyak, maka lebih optimal," ujarnya.

Kata dia, hingga saat ini situasi masyarakat di lingkungan tempat tinggal korban masih kondusif, tidak ada gejolak yang menonjol.

"Keluarga korban kesal, marah itu jelas tapi kondisinya masih kondusif," sebutnya.

Sebelumnya, AF diamankan pada Selasa (11/7) setelah dilaporkan istrinya atas dugaan pencabulan kepada DPS (18) yang merupakan anak kandungnya sendiri sejak korban berumur 15 tahun.

AF yang berprofesi sebagai petani itu resmi ditahan setelah ditetapkan menjadi tersangka oleh penyidik unit reskrim Polsek Sungailimau pada Kamis (13/7) lalu.

Nanda

22 June 2017

Diduga Dibunuh, ABG Ditemukan Tak Bernyawa di Fly Over Katapiang
Korban ditemukan dalam sudah dalam kondisi tak bernyawa. Foto: Nanda
Batang Anai -- Penemuan sesosok mayat remaja ABG di kawasan Fly Over Bandara Katapiang, Kecamatan Batang Anai, gemparkan warga setempat, Kamis (22/6/2017) dinihari.

Jenazah yang diketahui identitasnya bernama, Dayat Agustin, 15 tahun, merupakan warga Asam Jawa, Nagari Lubuak Aluang, Padangpariaman, ditemukan sekitar pukul 03.15 WIB.

Informasi dari Putra (bukan nama sebenarnya) salah satu rekan dari korban mengatakan, sebelum ditemukannya menjadi mayat, korban bersama rombongan sebanyak 5 sepeda motor pergi ke jembatan Fly Over untuk berfoto-foto. 

Sesampai di jembatan sekira pukul 02.30 WIB, korban dan temannya didatangi salah seorang pemuda yang tidak mereka kenal dan bertanya kepada rekan korban perihal asal korban dan kawannya.

"Dia orang yang datang itu nanyain kita anak mana, saya bilang kita anak Lubuak Aluang, setelah itu dia pergi dan beberapa saat kembali dengan kawan-kawannya dan mengejar kami. Kami, berpencar. Beberapa saat kemudian baru diketahui bahwa korban menghilang, setelah dicari, ditelpon malah aktif tapi tak diangkat," kisah salah seorang rekan korban yang engan disebut namanya.

Tidak berselang lama, pukul 03.15 WIB baru korban di temukan di ujung jembatan Fly Over di dalam semak-semak dalam kondisi tidak bernyawa. Usai ditemukan, rekan korban melapor ke pos polisi Fly Over.

"Pas ketemu, dia sudah sudah tidak bernyawa," jelasnya.

Kapolres Padangpariaman, AKBP Eri Dwi Heriyanto, mengatakan, pihaknya telah melakukan penyelidikan atas kematian korban yang diduga merupakan korban tindakan penganiayaan yang menyebabkan kematian.

Untuk keperluan penyelidikan, jenazah korban saat ini dibawa ke RS Bhayangkara Polda Sumatera Barat untuk dilakukan outopsi. Sedangkan pelakunya, ungkap dia, masih dalam penyelidikan kepolisian.

"Kita sudah lakukan outopsi untuk keperluan penyelidikan, namun hasilnya belum didapatkan. Pelakunya juga masih dalam lidik kami," ujarnya.

Nanda

10 June 2017

Polres Pariaman Periksa Kejiwaan Saksi Kunci Kasus Pembunuhan Zulbaidah
Jenazah Zulbaidah ditemukan terkapar di rumahnya. Foto: Nanda
Bungo Tanjuang -- Adrianto, 30 tahun, warga Desa Bungo Tanjuang, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, jalani proses observasi di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) RB Sa'anin, Padang, Sabtu (10/6/2017).

Adrianto merupakan saksi kunci kasus kematian Zulbaidah, 55 tahun, warga Desa Bungo Tanjuang yang diduga dibunuh oleh orang tidak dikenal.

Jenazah Zulbaidah ditemukan Rabu (7/6) dinihari oleh saksi kunci tersebut. Observasi itu dilakukan untuk memastikan kondisi kejiwaan Andrianto sebelum diambil keterangannya atas penyelidikan peristiwa nahas itu. Dalam peristiwa itu, ia merupakan orang yang pertama kali menemukan jenazah korban dalam kondisi tidak bernyawa dan bersimbah darah.

Kepala Kepolisian Resor Pariaman, AKBP Bagus Suropratomo Oktoberianto, Sabtu (10/6/2017) di Mapolres Pariaman mengatakan, observasi yang dilakukan kepada Adrianto sangat diperlukan untuk memastikan kejiwaannya sebelum diambil keterangan. Diketahui, Andrianto sebelumnya juga pernah menjalani perawatan di RSJ atas penyakit yang ia derita.

"Keterangan saksi itu ada nilainya, kalo yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa, maka nilai keterangannya nol sehingga observasi ini begitu penting untuk langkah penyelidikan ke depannya. Apalagi saksi memiliki latar pernah menjalani perawatan akibat gangguan jiwa," ujarnya.

Selain Adrianto, penyidik juga telah mengambil keterangan dari beberapa saksi lainnya. Setidaknya lebih dari 5 orang telah diperiksa penyidik atas peristiwa tersebut.

"Tidak hanya saksi kunci ya, beberapa saksi lainnya juga sudah dimintai keterangannya," ulasnya.

Dikatakan Bagus, kejelian penyidik mengungkap kasus pembunuhan tersebut membuahkan fakta-fakta baru peristiwa pembunuhan korban.

"Hasil labfor ternyata pelakunya menghabisi nyawa korban bukan menggunakan parang yang kita temukan di TKP, namun menggunakan cangkul yang kita temukan di dekat TKP," rincinya.

Bagus sendiri menarget, penungkapan kasus pembunuhan Zulbaidah akan segera ditingkatkan pada tahapan penyelidjkan untuk menentukan atau menetapkan tersangka.

"Penyidik tentu sudah punya gambaran tentang pelakunya karena sudah mulai terarah penyelidikannya dan bukti-bukti juga sudah mengarahkan kepada pelaku peristiwa pidana ini. Namun sejumlah pembuktian tentu harus kita perkuat untuk dasar penetapan tersangka. Kita targetkan penyelesaian kasus dengan cepat," pungkasnya.

Nanda

8 June 2017

Polisi Padangpariaman Tangkap Pengguna Sabu dan Ganja di Bulan Puasa
Polisi perlihatkan barang bukti yang disita dari tersangka. Foto: Nanda
BH (27), warga Korong Padang Toboh, Kecamatan Ulakan Tapakis, Padangpariaman, terancam berlebaran dibalik jeruji besi Polres Padangpariaman, setelah ia tertangkap tangan menyimpan narkoba jenis sabu, Rabu (7/6/2017) pukul 00.15 WIB.

Kasat Resnarkoba Polres Padangpariaman, Iptu Gusnedi didampingi Kasubag Humas Polres Padangpariaman, Iptu Irwan Sikumbang menuturkan, tersangka BH ditangkap di pinggir jalan Pasar Kampung Galapung-Ulakan Tapakis saat hendak melakukan transaksi narkoba dengan pengguna lainnya.

Petugas yang mendapatkan informasi terlebih dahulu dari masyarakat tentang adanya transaksi narkoba, kata dia langsung melakukan pengintaian gerak-gerik tersangka.

“Begitu mendapatkan informasi dari masyarakat tentang adanya aktivitas transaksi narkoba, kita lakukan pengintaian gerak-gerik tersangka, hingga saat tersangka dalam perjalanan untuk melakukan transaksi, langsung kita hentikan dan geledah. Betul adanya informasi yang kita dapatkan dan ditemukan barang bukti narkoba dari tersangka,” tuturnya.

Dari tersangka BH, polisi mengamankan barang bukti 1 (satu) paket kecil diduga narkotika jenis sabu yang dibungkus dengan plastik bening dan 1 (satu) unit telepon genggam.

Kini, tersangka BH, terancam hukuman maksimal 12 tahun kurungan penjara karena melanggar pasal 112 ayat (1) Jo Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang no.35 tahun 2009 tentang narkotika.

Dipaparkan Iptu Gusnedi, sehari sebelumnya Satresnarkoba Polres Padangpariaman juga menangkap AA (35), warga Sungai Pinang, Nagari Kasang, Batang Anai, Padangpariaman. AA ditangkap di rumahnya saat akan melakukan transaksi narkoba jenis ganja.

“Dari tersangka polisi menyita barang bukti, berupa 1 (satu) paket kecil diduga narkotika jenis ganja berbungkus kertas buku dan 1 (satu) unit telpon genggam," ungkapnya.

Kini, AA terancam mendekam 12 tahun kurungan penjara atas perbuatannya melanggar pasal 111 ayat (1) Jo Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-undang no.35 tahun 2009 tentang narkotika.

Dikatakannya, perang terhadap narkoba tidak berhenti meskipun pada bulan Ramadhan. Meski menjalankan rutinitas puasa, tim opsional akan terus melakukan tugas penindakan terhadap penyalahgunaan narkoba secara optimal.

“Kita akan ungkap dan tindak terus pelaku penyalahgunaan narkoba, puasa-puasa tetap semangat,” tutupnya.

Nanda
Kasus Pembunuhan Zulbaidah, Polisi Susun Kronologis Guna Mencari Pelaku
Jasad Zulbaidah ditemukan bersimbah darah di kamar rumahnya. Foto: Nanda
Alai Galombang -- Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Pariaman, AKBP Bagus Suropratomo Oktobrianto, mengatakan bahwa ia dan penyelidik kasus akan melakukan analisa dan evaluasi (anev) tertutup atas dugaan pembunuhan terhadap Zulbaidah, 55 tahun, di Desa Bungo Tanjuang, Kecamatan Pariaman Timur, Pariaman.

Anev tersebut, ujar Bagus, merupakan rangkaian penyilidikan yang dilakukan penyelidik untuk memperjelas fakta-fakta terkait kematian korban, menyusun kronologis dan mengarahkan pada kemungkinan pelaku.

"Kita baru akan gelar anev tertutup penyelidik yang menangani perkara ini untuk menyusun kronologis dan mempertegas fakta-fakta kematian korban," sebutnya di Mapolres Pariaman, Kamis (8/6/2017).

Bagus berkata pihaknya hingga saat ini masih menunggu hasil autopsi yang telah dilakukan oleh dokter forensik RS Bhayangkara Polda Sumatera Barat untuk memastikan penyebab kematian korban.

"Kita masih menunggu hasil autopsi korban, sementara hasil visum bagian luar memperlihatkan ada luka robek bekas senjata tajam dan luka pada bagian sikutnya," ungkap Bagus.

Sebagaimana dikabarkan sebelumnya, warga Desa Bungo Tanjung digemparkan dengan penemuan tubuh bersimbah darah Zulbaidah dalam kondisi tidak bernyawa di kamar rumahnya, Rabu (7/6) pukul 05.30 WIB.

Zulbaidah diduga menjadi korban pembunuhan setelah beberapa barang bukti berupa parang diamakankan di lokasi oleh pihak kepolisian.

Nanda

7 June 2017

Temukan Parang di TKP Bungo Tanjuang Berdarah, Polisi Turunkan Anjing Pelacak
Zulbaidah ditemukan bersimbah darah di rumahnya. Foto: Nanda
Bungo Tanjuang -- Polisi Resor (Polres) Pariaman masih melakukan penyelidikan penyebab kematian Zulbaidah (55), warga Dusun Mudiak, Desa Bungo Tanjuang, Kecamatan Pariaman Timur.

Sebelumnya, warga Dusun Mudiak, Desa Bungo Tanjuang, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, digemparkan dengan penemuan jenazah Zulbaidah, alias Ijun bersimbah darah di dalam kamar tidurnya, Rabu (7/6/2017) pukul 05.30 WIB.

Korban pertama kali ditemukan oleh keponakannya, Adrianto (29), sebelum azan subuh. Usai mendapati korban, saksi langsung melaporkan kepada ibunya yang merupakan adik kandung korban.

Kapolres Pariaman, AKBP Bagus Suropratomo Oktobrianto, di TKP menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pengambilan keterangan dan olah TKP di rumah korban dan beberapa rumah sekitar rumah korban, usai mendapatkan laporan penemuan jenazah dari masyarakat di SKPT Polres Pariaman pukul 07.00 WIB.

Dari hasil visum bagian luar tubuh korban diketahui terdapat luka-luka pada bagian pipi kanan, sikut kanan pada jasad korban yang diduga akibat benda tajam. Untuk memperjelas fakta tentang kematin jezanah, Polres Pariaman dibantu Unit K-9 Direktorat Shabara Polda Sumatera Barat menggunakan dua ekor anjing pelacak.

Dari TKP, polisi telah mengamankan beberapa barang bukti yang mungkin terkait dengan fakta kematian korban. Beberapa barang bukti, berupa sebilah parang, kain, ikut diamankan polisi dari TKP dan mengambil keterangan saksi-saksi.

“Usai mendapatkan informasi melalui SPKT, kita langsung mendatangi TKP dan melakukan pengambilan keterangan dan olah TKP,” sebutnya.

Dari pantauan wartawan, kepolisian terlihat membawa adik kandung korban, bersama anaknya Adrianto ke kantor Polres Pariaman untuk diambil keterangan lengkap terkait peristiwa tersebut.

Usai dilakukan oleh TKP, jenazah langsung dibawa ke RS Bhayangkara Polda Sumatera Barat untuk dilakukan autopsi.

Sementara itu, Devi (26), salah seorang tetangga korban mengatakan, korban mengalami gangguan jiwa, namun tidak menganggu orang lain. Korban yang memiliki seorang putera itu diketahui bekerja serabutan sebagai tukang pembersih cabai di Pasar Pariaman.

“Orangnya tidak ada mengganggu orang lain, dia sibuk sendiri,” kenangnya.

Nanda