Lensa Piaman: Labuhan Pulau Kasiak

Secara alami sebuah jalur disela-sela karang yang mengelilingi bibir pantai Pulau Kasiak untuk dilewati perahu kecil terbentuk. "Labuhan" adalah istilah yang diberikan oleh nelayan lokal yang acap menepikan biduknya di halaman pulau yang terdapat penangkaran penyu alami milik Pemko Pariaman tersebut. Foto diambil dari atas menara mercusuar setinggi 40 meter. Pulau Kasiak memiliki luas 0,5 Hektare, ditumbuhi kelapa, pohon sukun, pepaya, dll.

Lensa Piaman: Tidur Pulas

Saat narasumber memberikan makalah di podium, beberapa hadirin terlihat menahan kantuk dan akhirnya tertidur pulas di aula utama Balaikota Pariaman dalam acara sarasehan tentang "Sejarah Pariaman dan kepahlawanan H. Bgd. Dahlan Abdullah" Senin, (25/8).

Lensa Piaman: "Lomba Melepas Anak Penyu"

Rombongan Ibu Bhayangkari Polda Sumbar terlihat memberikan semangat pada tukik (bayi penyu) yang hendak mereka lepas ke laut di pantai Konservasi Penyu, Desa Ampalu, Pariaman Utara, Kota Pariaman, Jumat, 22/8/2014.

Lensa Piaman: Potensi Wisata di Pulau Kasiak

Panorama di atas menara mercusuar pulau Kasiak (Kaslik) Pariaman terumbu karang terlihat jelas di kejernihan air laut. Kawasan pulau Kasiak adalah kawasan konservasi penyu secara nature milik pemko Pariaman dibawah dinas DKP dan dikelola secara penuh oleh UPTD Konservasi Penyu. Pulau Kasiak banyak di kunjungi nelayan lokal untuk memancing ikan karang, gurita dan berbagai biota laut lainnya. Akibat perburuan swallow laut beberapa tahun lalu membuat kondisi karang rusak parah. Pemko beberapa waktu lalu bersama mahasiswa pencinta terumbu karang melakukan penanaman terumbu karang di halaman pulau ini.

Headline News :

Berita Terpopuler

Redaksi

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan posting dengan label indra j piliang. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label indra j piliang. Tampilkan semua posting

Sinopsis Novel Indra J Piliang "Pinangan dari Selatan"

Written By oyong liza on Jumat, 02 Januari 2015 | 20.49




Di balik kehidupan yang terlihat biasa-biasa saja, terdapat kisah pertarungan hidup-mati. Bisa atas nama apapun: cinta dan kesetiaan, kejahatan yang membunuh kebaikan, kebaikan yang membunuh kejahatan, kebaikan yang membunuh kebaikan ataupun kejahatan yang membunuh kejahatan. Manusia selalu memiliki cara untuk mempertahankan rasnya, keturunannya, termasuk keluarga dekatnya, dengan cara apapun. 

Inilah kisah perjalanan hidup Tentra, Sisca dan sekumpulan perempuan (66 orang) yang dipimpin Cecillia Pacitani. Sebagian perempuan itu bekerja di dunia malam yang dipenuhi asap rokok, alkohol, ecstacy dan gemerincing uang. Dunia yang ternyata terhubung satu sama lain dalam sistem tersembunyi, dari satu diskotik ke diskotik lain, dari satu gadis ke gadis lain. 

Dalam novel ini terjadi perdebatan pemikiran para ikhwan yang dipimpin Ustad Noval (garis keras), Ustad Tarya (moderat), Ustad Agung (humanis) dan lain-lainnya. Inti perdebatan termasuk posisi perempuan dalam menghadapi dunia arsitektur Indonesia yang dibentuk dari Lingga-Yoni. Lingga-Yoni jadi lambang yang paling menonjol di Indonesia, terutama dalam bentuk Monumen Nasional. 

Tentra berada bersama barisan ikhwan ini, dalam posisi seorang mahasiswa Universitas Depok. Ia meminta izin Ustad Tarya untuk memasuki dunia malam, kehidupan yang dicerca oleh kalangan ikhwan garis keras. Tentra menyelidiki kematian Hendaru, pengikut Ustad Noval, di Diskotik Kurva oleh para preman pimpinan Novib. Perjalanan itu membawa Tentra pada kisah yang sudah berusia berabad-abad, bahkan sejak manusia pertama, Adam. Tentra meneruskan penyelidikannya setelah lulus kuliah, lalu bekerja sebagai analis di perusahaan minyak.  

Cecillia ditugaskan tetuanya dari Kaum Samun untuk mencari 65 gadis-gadis Selatan yang merupakan keturunan kelima Yang Mulia Dombu. Mereka dititahkan untuk membunuh 666 orang laki-laki dalam waktu 66 kali purnama penuh (5 tahun, 5 bulan). Jenis laki-laki yang dibunuh itu adalah manusia-manusia yang bersentuhan dengan kejahatan, berada pada lapisan atas, dengan beragam posisi kemasyuran duniawi. Tugas gadis-gadis Selatan adalah membalikkan keseimbangan hidup manusia, dengan cara menarik lagi kehidupan moderen kepada kehidupan yang dekat dengan alam. 

Mereka menguasai teknis-teknis membunuh tanpa jejak yang dipelajari dari kertas-kertas merang yang ditinggalkan Yang Mulia Dombu di dalam sebuah goa di Garut Selatan, selain memang memiliki bakat alamiah dari tanda-tanda lahir. 

Perkumpulan yang dipimpin Cecillia Pacitani didirikan oleh Yang Mulia Dombu. Silsilah awalnya terhubung dengan Iklima, anak Adam yang mencintai Habil. Namun, Habil dibunuh oleh kakaknya, Qabil, guna merebut Iklima, kembarannya. Iklima menyerahkan tubuhnya kepada Qabil, tetapi cintanya tetap kepada Habil yang sudah tiada. Sosok Labuda, kembaran Habil, disiratkan dalam novel ini juga menikah dengan Qabil dengan jiwa kosong. 

Dombu adalah suami Yang Mulia Kelela dan Yang Mulia Merpasi. Merpasi adalah kakak Kelela yang dinikahi Dombu, karena rahim Kelela kering, setelah Macana – suami Merpasi – hanyut dibawa banjir ke laut Selatan. Merpasi dan Kelela adalah anak perempuan Kumbana dan Kupuni, keluarga Kaum Samun yang hidup di tengah hutan Garut Selatan.  

Dombu melarikan diri ke Garut Selatan, pada akhir perang Diponegoro, setelah berlayar dari Pacitan, melewati Cilacap. Ia merupakan keturunan langsung Setyo Karsono, tangan kanan Sentot Alibasyah. Nama asli Dombu adalah William van Meyer. Ibunya, Elizabeth, adalah putri pengusaha Belanda yang berasal dari kaum Boer, Afrika Selatan. William berganti nama setelah menikah dengan Kaum Samun di tengah cahaya purnama. William lahir di atas kapal dalam perjalanan dari Batavia ke Cape Town. Ibunya mati ketika melahirkan.  

Setiap kali membunuh, kaum perempuan itu selalu meletakkan Bunga Sedap Malam sebagai tanda kematian. Mereka tersebar di seluruh Indonesia, dengan beragam profesi. Usia mereka masih sangat muda, antara 17 sampai 23 tahun. Mereka memiliki kemampuan yang tak biasa, serta terhubung dengan dunia gaib yang dikendalikan oleh Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan. 

Novel ini menjelajahi dunia aktivis, kampus, kehidupan malam, termasuk penggunaan narkoba, permainan judi dan seks bebas yang terjadi di kalangan orang-orang kaya dan berkuasa. Kehidupan yang lahir akibat pernikahan diam-diam, selingkuh, keluarga yang tidak harmonis, dendam atau cinta yang penuh kepura-puraan. Orang-orang yang berada di puncak kesuksesan duniawi, namun terjebak dalam sistem nilai yang mereka buat sendiri, diluar yang sudah digariskan oleh norma-norma resmi, termasuk agama. 

Novel ini bercerita tentang rahasia hidup masing-masing tokoh, di tengah persaingan politik, bisnis dan kekuasaan kontemporer, pada awal abad 21. Kehidupan yang memberi celah abu-abu bagi manusia untuk tak terikat lagi dalam nilai-nilai dasar keluarga yang selalu mereka katakan. Inilah novel yang tak terucap dibalik yang terucap, kehidupan yang tak tampak dari yang tampak. 

Kehidupan yang justru memberi warna terkuat dibalik setiap pengambilan keputusan. Kehidupan dibalik topeng yang dipanggungkan dan disiarkan. Kehidupan yang mewarisi dendam masa lalu.

Novel ini membongkar struktur bangunan atau lambang-lambang mitologis yang dibuat di Indonesia yang kuat unsur perempuannya. Tokoh yang paling mempengaruhi anak-anak malam dan tokoh-tokoh penting di Indonesia (termasuk Ir Soekarno) juga masuk dalam naskah ini, yakni Nyi Roro Kidul. Ia menjadi pengendali dari kelompok pembunuh yang dipimpin Cecillia, lewat jalur mistik. Ia memiliki Istana di bawah permukaan laut. 

Novel ini menyimpan rahasia cinta segiempat antara satu orang perempuan dengan tiga orang laki-laki kembar...


Tokoh-tokoh:

Cecillia Pacitani: Berprofesi sebagai mami. Ia mengembalai sejumlah perempuan malam, termasuk Uleta. Dibalik itu, ia mendapat tugas dari Yang Mulia Dombu dan para tetua untuk menjalankan sebuah misi: mengepalai 65 orang perempuan pembunuh Kaum Samun dari keturunan kelima Yang Mulia Dombu-Merpasi. Ia menyimpan rahasia hidup yang hanya ia sampaikan kepada Uleta dan Rabita Kisarana.  

Hendaru: Ksatria yang lebih banyak muncul menaiki Kuda Sembrani dalam mimpi Uleta. Semula, ia dilatih keberanian, ketahanan dan disiplin oleh Ustad Noval di pulau kosong Pantai Selatan. Ia mati pada malam serangan ke Diskotik Kurva. Ia begitu mencintai ibunya, Uleta dan adik perempuannya yang masih kecil. Sebaliknya, ia membenci kaumnya sendiri, laki-laki, sebagai penyebab dari dunia yang tidak ideal yang merendahkan martabat perempuan. 

Cheng Kok: Pemilik Diskotik Kurva. Ia menyimpan kisah pernikahan dengan perempuan pribumi. Kokoh menempuh hidup sebagai China Benteng yang miskin, menyembunyikan keluarganya. Ia mendirikan Diskotik Kurva sebagai cara untuk bertahan hidup bersama anak-anaknya. Sosok yang berada di belakang layar kehidupan dari kisah dalam novel ini. 

Sangkurun Ngajungu: Seorang polisi berpangkat Komisaris Besar yang bekerja di Badan Narkotika Nsional (BNN). Ia kekasih Rabita Kisarana, mami yang menggantikan Cecillia di Diskotik Kurva. Ia berasal dari suku Ngaju, Dayak. Kakeknya pernah terlibat dalam konflik etnis di Kalbar, bunuh diri ke Sungai Kahayan, masuk mulut buaya. Sangkurun bisa memanggil Panglima Kumbang dan Panglima Burung untuk membantunya dalam tugas mengejar gadis-gadis Selatan. 

Sisca: Istri Ustad Tarya. Pernah sebangku dengan Tentra di SMA. Ia berpindah sekolah ke Medan, mengikuti ayahnya yang menjadi anggota TNI. Satu dosa dia lakukan, memperlihatkan tahi lalat di pahanya kepada Tentra. Ia terus terikat dengan Tentra, dalam doa setiap malam dan i’tikaf. Perempuan taat yang tak bisa melupakan teman sebangkunya. Ia melahirkan dua anak laki-laki.  

Tentra: Penulis. Ikhwan moderat sejak di kampus yang tidak berani mencintai perempuan, akibat kepergian sosok-sosok perempuan yang dekat dengannya di bangku sekolah. Ia belajar dari alam. Ia masuk ke dunia malam untuk mengetahui jejak pembunuhan Hendaru di Diskotik Kurva. Di luar itu, ia berhubungan dengan Ustad Tarya, suami dari perempuan yang pernah meninggalkannya di bangku sekolah, Sisca. Perjalanan itu  membawanya dekat dengan Cecillia, Uleta, Anonina dan lain-lain. 

Uleta Garuti: Perempuan malam. Ia jadi anak angkat di usia 5 tahun. Ia kelaparan sejak kecil. Trauma menjelang dewasa terus memburunya. Hendaru, anak ibu angkatnya, dibunuh di Diskotik Kurva oleh preman bayaran, pada malam Uleta ulang tahun ke-15. Ia bertekad membalas dendam, menyingkirkan jenis laki-laki yang membuat Hendaru terbunuh, kakak angkat sekaligus cinta pertamanya. Ia melacak jejak pembunuh Hendaru.  

Umangi Siberuti: Gadis Mentawai yang hidup dalam bayang-bayang Tentra. Ia mengaku sebagai adik Tentra, akibat ibu kandungnya menemukan kelapa yang dililit ari-ari Tentra yang dihanyutkan ketika lahir. Umangi bekerja di lingkungan Istana Negara sebagai pengawal Ibu Negara, terlatih sebagai intel perempuan lulusan Akademi Kepolisian.  

Indra Jaya Piliang, S.Si, M.Si

Indra J Piliang: Moratorium Konflik

Written By oyong liza on Minggu, 28 Desember 2014 | 20.55




Konflik yang terjadi dalam tubuh Partai Golkar adalah konflik terbesar sepanjang sejarah. Kalaupun terjadi konflik sebelumnya yang berujung kepada pendirian partai politik baru, hanya bersifat perseorangan. Partronase politik membuat jaringan kepartaian lebih mudah dibuat, dalam konflik yang bersifat perseorangan. Sekarang, masing-masing pihak tidak mau keluar dari Partai Golkar, lebih memilih bertahan. Hubungan lintas personal juga terjadi, termasuk melibatkan pelbagai generasi.

Salah satu fungsi partai politik adalah mengelola konflik. Konflik adalah bagian tak terpisahkan dari kehadiran partai politik yang demokratis dan egaliter. Setiap individu yang menjadi anggota partai politik pastilah memiliki ide-ide individual, kelompok, faksi ataupun kepentingan. Kepentingan dalam partai bukanlah hal yang tabu. Malahan, kepentingan-kepentingan itulah yang menjadi daya penguat partai, apabila dikelola dengan baik dan bersama-sama. 

Masalahnya, konflik yang terjadi belakangan ini terlalu besar. Konflik yang semula hanya berlangsung di lingkaran elite partai, sudah merembet kepada kepengurusan di tingkat provinsi, kabupaten dan kota. Apabila konflik ini berlangsung terus, bukan tidak mungkin terjadi pembelahan secara vertikal. Otomatis, kekuatan partai akan melemah dengan sendirinya. Apalagi kalau proses di pengadilan lama selesainya, bakal menuai pelbagai persaingan yang tidak sehat. 

Kerugian demi kerugian bakal dialami Partai Golkar, apabila konflik merambah ke parlemen. Suara Golkar tidak akan bisa dihitung, mengingat fraksi memiliki hak untuk menentukan agenda-agenda penting di parlemen. Walau kedaulatan anggota partemen masih bisa dipertahankan, kepentingan fraksi juga ada dalam tata tertib parlemen. Sehingga, konflik bisa memicu kekusutan dalam pengambilan keputusan. 

Belum lagi dalam pemilihan langsung kepala daerah yang bakal dilaksanakan pada tahun 2015. Partai Golkar bakal kesulitan untuk mengusung calon-calonnya, terutama apabila ada dua kepengurusan yang saling klaim keabsahan. Kerugian Partai Golkar akan langsung terasa, yakni kesulitan untuk mengusung calon-calon kepala daerah yang bisa dinominasikan untuk menjadi calon-calon pemimpin nasional di masa depan. partai Golkar perlu berhitung secara sangat detil menyangkut konflik di daerah ini. 

Guna mencegah kerugian lebih besar, Partai Golkar perlu melakukan moratorium konflik. Moratorium dilaksanakan dengan cara menetapkan status quo kepada daerah-daerah yang mengadakan pemilihan kepala daerah. Namun, status quo itupun perlu melewati pintu kedua kepengurusan yang sama-sama diakui oleh Kementerian Hukum dan HAM. Caranya adalah kedua kepengurusan memberikan mandat yang sama kepada calon gubernur, calon bupati atau calon walikota yang diusung oleh Partai Golkar. Dengan cara seperti ini, dukungan berkampanye juga datang dari kedua kepengurusan, sehingga memperbesar peluang untuk menang. 

Tentu sebelum proses itu terjadi, proses perdamaian lain dijalankan. Salah satunya adalah merehabilitasi kepengurusan yang dibekukan atau dipecat oleh masing-masing kubu. Rehabilitasi juga berlangsung di kepengurusan pusat, guna menggapai proses perdamaian berikutnya. Walau jalan masih panjang guna menuju rekonsiliasi yang bersifat menyeluruh, langkah-langkah seperti ini membantu partai dalam menyelesaikan perselisihan yang terjadi. 

Partai Golkar adalah aset nasional yang sudah berusia 50 tahun. Apabila konflik ini bisa diselesaikan dengan baik, Partai Golkar dipercaya mampu menjadi partai terbesar dalam pemilu 2019. Sebaliknya, kalau gagal, Partai Golkar akan menghadapi kesulitan guna memenangkan pemilu 2019, termasuk dalam pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung. 

Indra Jaya Piliang, S.Si, M.Si

Parlemen Halang Rintang

Written By oyong liza on Senin, 03 November 2014 | 21.43





Aslinya, parlemen dibentuk oleh kaum borjuis. Tujuannya untuk mempengaruhi proses pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh kaum bangsawan (darah biru) dan kaum feodal (pemilik tanah). Kaum borjuis merasa hanya berfungsi untuk mencari kekayaan dalam berbisnis. Namun, sama sekali tidak diberikan hak apapun untuk menentukan haluan negara (kerajaan). Demokrasi hadir pada tingkat ini.
Sistem kepartaian di Indonesia belum mapan. Praksisnya terlalu singkat, yakni dalam sistem kabinet parlementer sejak pemilu 1955-1959. Sebelum itu, perwakilan politik di kabinet hanya berdasarkan jatah-jatahan, tanpa pemilu. Dalam masa yang panjang, yakni sejak 1959 sampai 1999, sistem kepartaian timpang. Pengaruh negara terlalu kuat. Perwakilan politik di parlemen tak ubahnya dengan perwakilan kepentingan penyelenggara negara. 

Baru sejak 1999 perwakilan partai politik di parlemen menjadi lebih murni (puritan). Warna sistem multipartai begitu kuat. Walau partai-partai politik terus berdiri, ikut pemilu, atau hilang, kendalinya tetap berada di bawah sejumlah partai politik, terutama PDI Perjuangan dan Partai Golkar. Kedua partai ini memiliki jangkar dan akar politik yang relatif lebih kuat, dibandingkan dengan partai-partai politik lain. Walau Partai Demokrat pernah menang pemilu pada 2009, tetap saja tidak mampu untuk bertahan pada 2014.

Fenomena yang kini mulai muncul adalah parlemen mengalami posisi yang saling mengunci. Keterbelahan begitu nyata, yakni antara Koalisi Merah Putih (KMP) berhadapan dengan Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Sampai sekarang, dua pimpinan parlemen dibentuk, disertai alat kelengkapan masing-masing. Publik sama sekali tidak menyukai fenomena ini. Sentimen negatif begitu terasa. Dua koalisi yang saling kunci itu disertai dengan munculnya mosi tidak percaya. Padahal, kalau diperhatikan, mosi tidak percaya adalah fenomena dalam sistem parlementer, bukan presidensial.

Keberadaan KMP dan KIH sebetulnya kurang menggambarkan kedaulatan anggota DPR itu sendiri. Yang berdaulat adalah partai politik masing-masing. Anggota tinggal mengikuti kemauan dari pimpinan fraksi masing-masing. Hal ini bisa berakibat kepada politik yang kian elitis, tidak lagi berdasarkan aspirasi anggota. Sebulan setelah dilantik, parlemen masih berada dalam “ruang politik pilpres”, yakni perseteruan antara kelompok yang berada pada pihak Jokowi-JK atau Prabowo-Hatta dalam pilpres lalu. Padahal, para elite politik di masing-masing pihak sudah sering bertemu secara terbuka. 

Padahal, tantangan yang dihadapi parlemen semakin berat, seiring dengan bangkitnya ranah social media sebagai batu ujian pertama peristiwa-peristiwa politik. Parlemen memerlukan legitimasi lebih, tidak lagi sekadar pengkritik pemerintah. Soalnya, sejak survei menjadi bagian penting dari proses pengambilan keputusan politik, kedudukan parlemen selalu lemah di mata publik. Kalau keadaan ini terus berlangsung, bukan keseimbangan politik yang tercapai, melainkan ketimpangan politik. Pemerintah menjadi lembaga yang kuat, akibat parlemen lebih sibuk dengan dirinya ketimbang berbincang tentang agenda-agenda publik yang luas. 

Publik masih dalam masa bulan madu dengan terbentuknya pemerintahan baru. Tetapi masa bulan madu selalu lebih singkat, dibandingkan dengan masa-masa untuk bekerja keras mempertahankan apa yang sudah ada. Dari sini, parlemen yang muncul sebagai halang rintang justru bakal memicu krisis politik yang liar. Krisis itu, kalau kita perhatikan, bisa kearah delegitimasi parlemen. Panggung politik tidak lagi berada di dalam sistem ketatanegaraan, melainkan diluarnya, dalam wujud parlemen jalanan. 

Semoga parlemen bisa menyadari ini sedini mungkin dan terus berusaha untuk memperbaiki kondisi yang tidak ideal sekarang... 

Indra Jaya Piliang

Kebangkitan "Partycracy"

Written By oyong liza on Senin, 29 September 2014 | 14.57




RUU Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) sudah ditetapkan menjadi UU dalam Sidang Paripurna DPR. Satu pasal yang mengundang polemik dan menyita perhatian, yakni pilkada lewat DPRD atau langsung dipilih rakyat, telah diambil keputusannya melalui mekanisme pemungutan suara yang dimenangi kubu pemilihan lewat DPRD. Mayoritas publik mengecam keputusan ini. Berbagai hasil survei tidak lagi menjadi acuan dalam pengambilan keputusan di DPR.

Dalam debat publik, plus-minus pemilihan lewat DPRD atau langsung sudah banyak digelar. Beberapa argumen terjebak dalam persoalan kapital. Misalnya, pembiayaan pilkada langsung atau kasus korupsi kepala-kepala daerah. Apabila diperhatikan, argumen itu sama sekali tidak berkaitan langsung dengan mekanisme pilkada. Sebagian argumen itu lari ke arah UU Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah serta Dana Alokasi Umum yang dikirimkan ke daerah. Belum lagi gaji kepala daerah yang tidak sebanding dengan beban kerjanya.

Masalahnya, debat-debat substantif itu sama sekali bukan bagian dari proses politik. Kebanyakan malah masuk pada pertarungan politik segi tiga antara kubu pendukung Jokowi-JK, Koalisi Merah Putih, dan SBY (Partai Demokrat). Kubu-kubuan itu terbentuk akibat proses politik selama pemilihan presiden dan wakil presiden lalu. Terpecahnya suara Partai Golkar memberikan fakta yang paling terang benderang di luar sikap yang dimunculkan sebagian anggota DPR dari Partai Demokrat. Kepentingan setiap kubu terlihat dominan yang sama sekali terlepas dari upaya memperbaiki sistem demokrasi.

Fenomena yang paling anyar adalah kebangkitan partycracy (kedaulatan di tangan partai) ketimbang demokrasi (kedaulatan di tangan rakyat). Keputusan politik sama sekali berlandaskan kesepakatan dari sejumlah elite yang terbatas ketimbang dilandasi suara rakyat. Partycracy menjadi bangkit akibat kegagalan sejumlah elite untuk meraih posisi politik di pemerintahan, yakni dikalahkan dalam panggung elektoral.

Populisme yang terjadi akibat praksis pemilihan langsung ternyata tak sesuai dengan posisi politik dari tokoh-tokoh yang merasa memiliki kemampuan lebih. Pemimpin partai-partai politik bertumbangan, padahal merasa sudah membesarkan partai masing-masing selama lima tahun.

Partycracy menjadi kuat di Indonesia akibat mandat yang diberikan UUD 1945 hasil amendemen. Kalau dulu dikenal sebutan mandataris MPR untuk presiden, kini yang terjadi adalah mandataris konstitusi untuk partai politik. Ulasan soal ini sudah banyak. Seorang presiden yang mungkin saja dipilih 90 persen rakyat sama sekali tidak akan berdaya apabila berseberangan dengan DPR. Desain ketatanegaraan yang begitu pro pad partai-partai politik ini makin disadari kalangan politisi. Kecuali dilakukan amendemen terhadap konstitusi, sama sekali tidak ada celah untuk melemahkan kedudukan partai politik.



Perlu Diasah

Dari dua kekalahan yang diderita kubu pendukung Jokowi-JK, yakni pengesahan UU tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3) dan UU tentang Pilkada ini, sudah terbukti kelemahan yang dihadapi. Sense of politics Jokowi-JK perlu kian diasah. Jangankan Jokowi-JK yang didukung partai-partai politik minoritas di DPR, bahkan SBY-Boediono yang didukung kekuatan mayoritas tetap saja menghadapi tantangan yang sulit.

Terbukti Sekretariat Gabungan yang dipimpin SBY sendiri kurang bisa mengendalikan DPR dalam isu Bank Century, Pajak, dan kenaikan harga bahan bakar minyak. SBY berkali-kali dikecewakan partai-partai politik yang sebagian pemimpinnya justru menjadi anggota kabinet.

Bisa dibayangkan kesulitan yang dihadapi Jokowi-JK karena lebih sedikit didukung partai-partai politik di DPR. Paradigma sebagai orang profesional atau orang partai benar-benar menghadapi ujian. Apakah profesionalisme betul-betul menjadi pilihan tepat atau hanya menjadi kelompok yang bisa dikendalikan penuh politisi? Partycracy memungkinkan pengendalian atas minimal dua lembaga, yakni kepresidenan (termasuk kepala-kepala daerah) dan parlemen (baik nasional atau lokal). Dua lembaga itu memiliki hak konstitusional, mulai dari regulasi sampai implementasi, termasuk perekrutan sumber daya manusia.

Menguatnya partycracy membawa pengaruh pada melemahnya civil society. Yang juga disaksikan adalah kembar siam antara partycracy (political society) dan kelompok bisnis (business community). Antara politik dan bisnis tidak lagi dipisahkan mengingat pemimpin partai politik berasal dari kelompok bisnis yang memiliki sumber pembiayaan otonom.

Apalagi satu unsur civil society juga ikut dimasuki, yakni media massa. Pola segi tiga antara civil society, political society, dan business community tidak lagi berjarak, melainkan saling berimpit. Dari kembar dua menjadi tiga? Sungguh berita buruk.

Bagi mereka yang hidup di pengujung era Orde baru, tentu sangat menyadari betapa Kamus Bahasa Orde Baru perlu dipelajari lagi. Sejak pemilu legislatif, pemilu presiden, sampai perdebatan di DPR, bahasa sejenis kian dipakai. Padahal, Orde Baru adalah rezim yang sama sekali tidak percaya pada partai-partai politik. Periode ini dimulai sejak Dekrit Presiden Soekarno pada 5 Juli 1959. Masalahnya, kamus itu justru dipakai petinggi-petinggi partai politik. Artinya? Wajah Orde Baru seolah demokratis, tetapi sesungguhnya tidak. Monopoli berubah menjadi oligopoli.

Bibit-bibit partycracy yang berkecambah dan bercabang-cabang ini tidak muncul dengan sendirinya. Ia datang dari proses lama. Terdapat persoalan psikologi politik, bahkan arkeologi politik, dalam perseteruan para elite. Ada masalah yang tidak selesai di masa lalu, termasuk berkaitan dengan orang tua tiap-tiap elite. Masalah ini jarang dibicarakan, tetapi selalu hadir dalam setiap bisik-bisik di belakang layar.

Bangsa dan negara hanya ornamen bagi perebutan pengaruh dan kepentingan. Selera dan penilaian pribadi mengalahkan kepentingan lebih luas. Walau politik aliran dianggap sudah berakhir, warna politik identitas justru kian terlihat dan terbaca. Celakanya, politik identitas menjadi sangat personal, menyangkut persaingan sejumlah keluarga politik di Tanah Air.

Perebutan hegemoni ini tentu tak menghasilkan rakyat sebagai pemenang. Seluruh elite politik sadar betapa lahan berkembangnya demokrasi masih terlalu kering. Dua syarat masyarakat demokratis belum terpenuhi, yakni lapisan kaum terpelajar yang tebal dan kaum menengah ekonomi yang kuat.

Mayoritas masyarakat Indonesia berpendidikan rendah dan berpenghasilan minim. Kondisi seperti itu menyibukkan mereka untuk mencari penghidupan yang layak ketimbang memikirkan persoalan-persoalan besar secara mendalam.

Partycracy adalah sebuah rezim. Ketika feodalisme masih kuat, kaum borjuis mengendalikan demokrasi, dan para pembangkang berjumlah minoritas. Partycracy adalah buah busuk yang dipetik dari tanah kering dan hama yang banyak akibat kemiskinan ilmu pengetahuan. Mau tidak mau, suka tidak suka, Indonesia berada dalam fase yang pernah dihadapi Amerika Serikat pada tahun 1930-an. Apa kita menyerah? Tidak!


Indra Jaya Piliang

Demokrasi Yang Kasim




Arah perubahan UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dalam RUU Pilkada kian jelas, yakni penolakan pemilihan kepala daerah secara langsung. Alih-alih memperbaiki politik biaya tinggi yang sebetulnya bisa diantisipasi, mayoritas partai politik malah mendukung pemilihan kepala daerah via DPRD. Padahal, proses pemilihan via DPRD sudah terjadi sejak zaman Orde Baru, termasuk lewat UU No 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah yang direvisi menjadi UU No 32/2004. 

Lalu, apa motif utama dari perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah ini? Dipandang dari sisi UUD 1945 hasil amandemen, memang tidak ada aturan yang menyebut bahwa kepala daerah dipilih secara langsung. Pasal 18 ayat 4 berbunyi: “Gubernur, bupati, dan wali kota masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis”. Ketentuan inilah yang ditafsirkan bahwa pemilihan langsung ataupun via DPRD memenuhi syarat sebagai pemilihan secara demokratis. Apalagi dikaitkan dengan demokrasi Pancasila yang luas itu, bahkan pemilihan Presiden secara langsung bisa saja dianggap terlalu liberal. 

Perubahan ini terkesan mendadak, hanya bagian dari pertarungan kekuasaan, bukan berlandaskan keinginan untuk memperbaiki demokrasi di tingkat lokal. Garis besar pertarungan itu adalah efek kekalahan koalisi partai-partai politik pengusung Prabowo-Hatta. Penetapan UU MD3 yang baru dan revisi UU Pilkada ini ada dalam mata rantai penguatan Koalisi Merah Putih (KMP) di DPR RI dan pemerintahan daerah. Artinya, pengaruh kekuasaan Jokowi-JK hanya dibatasi pada lingkup pemerintahan pusat semata, yakni dari jabatan presiden, wakil presiden sampai menteri di kabinet.

Potret ini juga menunjukkan bahwa KMP bukan murni sebagai partai oposisi, apalagi sebagai penyeimbang pemerintah. KMP justru memperlihatkan ambisi kekuasaan di level pemerintahan daerah secara mutlak. Prosentase kemenangan di DPR RI dikapitalisasi menjadi prosentase kemenangan di daerah-daerah. PDI Perjuangan dan partai-partai pengusung Jokowi-JK hanya mungkin bertahan di daerah-daerah basis utama. Jadi, ada usaha untuk melokalisir kekuatan Jokowi-JK di basis-basis tertentu saja.

Usaha yang bersifat politik murni itu tentu sah-sah saja. Namun, dalam sistem presidensial dan sekaligus konsep negara kesatuan, sulit untuk melihat skema politik yang seperti itu. Walau bukan menjadi “bawahan” langsung dari Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, kepala-kepala daerah memiliki kewenangan otonom yang sudah diatur UUD dan UU. Untuk daerah-daerah tertentu, malahan kepala daerahnya memiliki kewenangan khusus, seperti Papua, Aceh, Jakarta dan Yogyakarta. Secara umum, Gubernur adalah wakil pemerintahan pusat di daerah. 

Artinya, akan sia-sia saja usaha membelah-belah daerah menjadi bagian dari dioorama pengelompokan politik. Sistem multipartai hanyalah bagian dari kepesertaan dalam pemilu, tetapi bukanlah arus yang masuk dalam pemerintahan. Indonesia bukanlah negara federal yang menyebabkan satu daerah dikuasai oleh partai oposisi di pusat, lalu daerah lain dikuasai partai pemerintah di pusat. Seorang kepala daerah juga tidak murni sebagai perwakilan partai politik, mengingat status yang disandang macam-macam, termasuk sebagai Pegawai Negeri Sipil ataupun berasal dari kalangan perseorangan. Sejak awal, tempat yang disediakan bagi partai-partai politik adalah DPR dan DPRD (serta DPD RI). 

Contoh nyata sudah ada, yakni koalisi partai-partai politik yang dibentuk oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Sekalipun mayoritas di DPR dan daerah, serta ikut masuk ke kabinet, tetap saja pelaksanaan pemerintahan tidak berjalan secara efektif. Seorang gubernur bahkan tidak bisa dengan mudah mengundang bupati atau walikota menghadiri rapat koordinasi. Gubernur bukan atasan langsung dari bupati atau walikota, walau menjadi wakil pemerintah pusat di daerah. Otonomi daerah juga membawa konsekuensi persaingan antar daerah, sehingga menciptakan otonomi politik. Bentuk paling nyata sepuluh tahun lalu adalah portal-portal pungutan liar di batas-batas daerah berdasarkan Peraturan Daerah. 

Argumen-argumen untuk mendukung pemilihan via DPRD juga sumir. Hampir tidak ada yang baru, malahan diluar apa yang diperdebatkan. Soal biaya politik, sejak awal memang demokrasi itu mahal. Demokrasi juga berasal dari kaum borjuis, bukan dari kalangan rakyat proletar. Penyiasatan biaya pilkada juga sudah banyak terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, pihak yang terpilih menjadi kepala daerah juga bukan yang paling kaya raya atau yang mengeluarkan uang paling banyak. 

Begitu juga dengan kasus korupsi yang melibatkan kepala daerah, bukan berasal dari ekses pemilihan langsung. Para kepala daerah memang memiliki sumber keuangan yang terbatas, bahkan minim. Dengan gaji yang sedikit, kepala daerah tinggal berharap dari prosentase Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diterima. Masalahnya, PAD masing-masing daerah juga tidak sama, mengingat kekayaan daerah berlainan. Ada daerah yang sangat tergantung kepada pusat, ada yang bisa memberikan kontribusi kepada pusat. Indonesia adalah keberagaman, bukan keseragaman. 

Apalagi, UU Pemerintahan Daerah satu paket dengan UU Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Apabila perimbangan keuangan ini tidak menemukan formulasi yang tepat, kita akan terus melihat kepala-kepala daerah yang tajir, sebaliknya juga dengan kepala-kepala daerah yang tiris kantongnya. Belum lagi masih ada sekitar 188 daerah tertinggal di Indonesia. Dari namanya saja, daerah-daerah ini sebetulnya tidak sanggup membiayai diri sendiri guna mencapai nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang baik. Daerah-daerah itu perlu dibantu dengan dana-dana khusus. Demokrasi berlangsung di daerah-daerah yang miskin, bahkan beberapa di antaranya mengalami busung lapar. Lalu, apa yang sebetulnya terjadi? Pengebirian atau pengkasiman atas demokrasi di daerah. 

Demokrasi yang sama sekali tidak bisa membuahi lagi. Demokrasi yang diakibatkan kelalaian partai-partai politik dalam melakukan edukasi. Demokrasi yang tidak memberi, tetapi hanya mengambil. Daulat rakyat hanya diartikan sebagai angka-angka dukungan dalam setiap kali kontestasi. Justru ketika harapan partisipasi mulai muncul menggantikan mobilisasi, demokrasi substantif mulai pelan-pelan bicara, sistem pemilihan kembali disembunyikan di ruang-ruang karantina yang jauh dari persoalan-persoalan rakyat. Akankah kita diam saja? 

Indra Jaya Piliang

Lelaki bermata Dedemit

Written By oyong liza on Kamis, 25 September 2014 | 20.34




(Alam selalu punya misteri. Kelahiran, kematian, pertemuan, perpisahan. Pujian, hinaan, juga benci, cinta. Tidak ada yang aneh. Semua menjadi biasa, apabila ditatap dalam mata hati).
 
Pada bulir padi itu ada keringat dan air mata para dewi. Bulir yang dibuahi dengan cinta, harapan, larik-larik doa dan tanda-tanda cuaca yang terpendar dari kerlip bintang.
Perempuan itu tahu, sebutir bulir itu akan menganyam lagi tikar hidup anak-anaknya. Ia merawat bulir itu sama dengan ia menggembala anak-anaknya. 

Ah, andai lelaki itu tidak menghilang, maka ia akan lebih mudah menjalani hidup. Lelaki yang ia kira mencintainya. Lelaki yang sudah menanamkan bulir cinta pada tanah rahimnya, lebih dari sekali. 

*** 

Malam itu, ia datang menuju dangau. Tanpa dayang-dayang yang selalu menemaninya. Ia selalu punya alasan untuk menghilang, tanpa dayang-dayang. Sebagai putri, ia berhak melakukan itu.

Dari kerlip mata, lelaki yang berpapasan di surau tadi membisikkan isyarat: temui aku di dangau itu.
Mereka berdua tahu, dangau itu tidak berpenghuni, jauh dari pemukiman penduduk, apalagi dari surau dan lapau. Dangau itu dikelilingi telaga dangkal, hingga kecepak kaki siapapun akan segera memberi tanda untuk waspada. Ia buka terompah kayunya, mengangkat kebayanya, sambil melilitkan selendang berenda di lehernya, memasuki telaga itu. 

Jangkrik malam dan cericit tikus hutan memberi irama pada langkahnya.

Ia berani datang ke dangau itu atas dasar suka. Bukan, bukan cinta, karena kata itu terlalu banyak dilumuri nafsu. Ia hanya suka, energi yang dimunculkan oleh alam, dibawa masuk menelusuri pori-porinya, berselancar pada alirah darahnya, mempercepat laju degup jantungnya.

Ia jarang suka kepada orang-orang, apalagi lelaki. Para lelaki di kampungnya hanyalah kumpulan para betina yang lebih banyak bergosip, daripada bersikap. Lelaki yang berbusa mulutnya, berbau alkohol, nikotin dan air soda. Lelaki yang belum pantas disebut lelaki, tetapi kebetulan saja berkumis atau berjakun. 

Namun, satu lelaki ini menarik keingintahuannya. Lelaki yang nyaman membakar diri pada terik panas matahari. Lelaki berpunggungkan bukit, berurat belukar dan berdada lembah. Lelaki bermata panah. Beralis sembilu. 

Ya, ia takut memandang mata lelaki itu, sejak semula. 

“Disana ada dedemit,” kata Bundanya, ketika ia tanyakan tentang makna mata lelaki itu.
Bunda selalu benar. Tapi ia adalah perempuan yang ingin seperti bundanya, bukan pelaksana perintah atau saran bundanya. Ia lebih ingin menatap dedemit itu, sendiri, seperti bunda yang bisa melihatnya.

Komat-kamit, ia membaca ayat-ayat Qursi yang diajarkan oleh ustadnya. Ia masuki dangau itu, dengan kaki bergetar. Ia tahu, dedemit takut pada lengking suara perempuan. Ia akan berteriak sekuatnya, kalau memang ada dedemit di dangau itu. 

Tapi ia terpana. Di dangau itu hanya ada keharuman. Keharuman lelaki, seperti ayahnya.

Tidak, lebih harum dari ayahnya. Yang ada, ia hanya ingin ada dalam kehangatan pelukan lelaki itu, perlindungan lelaki itu, bahkan dari dedemit yang ada di mata lelaki itu. 

Ia serahkan dirinya, pada malam itu. Juga malam-malam selanjutnya. Pada banyak dangau, tepian sungai, padang-padang ilalang, ceruk-ceruk bukit, lubang-lubang goa perlindungan para peladang. Ia tak tahu, apakah ia benar-benar hanya ingin berlindung dari dedemit di mata lelaki itu, atau ia terlalu takut pada malam-malam yang mengumbar sepi. Barangkali, ia takut pada cerita tentang banyak drakula di malam purnama yang bersembunyi pada siang hari, nun di atas bukit sana, melirik pada leher jenjang setiap perempuan. Entahlah, ia hanya ingin lelaki itu. 

Sejak malam itu, ia adalah pencinta. Ia menyerahkan diri pada cinta. Ia tidak pernah berpikir apakah lelaki itu mencintainya. Ia tidak pernah bertanya. Ia tahu, rangkulan lelaki itu adalah cinta. Ia tidak pernah mau tahu apakah ada rasa cinta dalam jiwa lelaki itu. Ia hanya ingin menyatu. Satu.

Ada bekas yang tertinggal di tubuhnya. 

“Bukan bekas, tetapi berkah. Angin yang meniupnya kesana,” ucap lelaki itu, sebelum pergi dan tak kembali. 


*** 

Seekor pianggang ia lihat ada pada bulir padi itu. Pianggang adalah musuh para petani. Kalau ia bunuh seekor pianggang itu, bau sangit dari lendirnya akan mengundang ribuan dan jutaan pianggang lain. Kalau ia tangkap, pianggang itu tetap bisa mengundang pianggang-pianggang lain untuk membebaskannya. 

Terpaksa ia gali tanah dibawah rumpun padi itu. Ia tidak mau pianggang itu terbang atau terusik. Pelan, tanpa gesekan, ia pindahkan rumpun padi itu dengan dekapannya. Ia seberangi sungai yang sedang banjir itu. Ia pastikan, rumpun padi itu tertanam pada lumpur pinggir seberang sungai itu. 

“Ratuuuuuuuuuu!” 

Ia mendengar teriakan. Oh, tidak. Itu suara yang dikenalnya. Panggilan yang ia tak sukai.
Hanya karena yang mengucapkan dia, ia jadi terbiasa. 

Ia tak ingin menoleh. Ia konsentrasi menjejakkan kaki pada batu-batu sungai. Arus makin kuat. Ia paham cara menyeberangi sungai itu, dengan berjinjit, seperti tarian balet yang ia lihat di layar televisi tetangganya. Tidak boleh kaki menghunjam terlalu keras, karena arus air akan membongkarnya. 

Ia melangkah, cepat dan teratur, kaki kiri mengikuti kaki kanan. Bergantian. Berdekatan. Mempertahankan keseimbangan pada irama kedua kaki. Apabila tenaga bertumpu pada satu kaki saja, ia pasti hanyut. 

“Ratuuuuuu!” 

Suara itu kembali hadir, lebih keras. Ia tercekat. Rumpun padi di tangannya agak bergoyang. Pianggang pada bulir padi terlihat menggerakkan sungutnya. 

“Tidurlah.. Tidurlah..,” bisiknya, pada pianggang itu, sambil memejamkan mata. Ia tahu, kalau pianggang itu terjaga dan terbang, maka ia akan membawa teman-temannya, kembali ke sawahnya, memamahnya, tidak menyisakan sebutir-padipun untuk anak-anaknya. 

“Ratu! Hamba selalu disisimu! Hamba pergi, karena hamba bukan pangeran…!” 

Begitu dekat suara itu, seperti keluar dari jiwa dan telinganya sendiri. Konsentrasinya buyar.
Ia menoleh. 

Ia lihat dedemit pada mata lelaki yang menggunakan sampan itu. Ia begitu takut bisa melihatnya dengan jelas. Sesuatu yang lama ingin ia lihat, sekalipun tidak pernah ia harapkan dedemit itu benar-benar ada. 

Lelaki itu kini berambut putih, sama seperti dia. Waktu telah membilasnya, juga menciptakan kerut pada seluruh tubuhnya. 

“Maafkan aku, Bunda!” jeritnya. 

Pusaran arus sungai menelan tubuh reot itu. Rumpun padi masih tergenggam di tangannya. Pianggang terbang menjelajah langit. 

Dedemit di mata lelaki itu juga terbang, secepat lelaki itu menyelam ke air. Dedemit, selalu takut pada air, disamping pada suara perempuan. 

Sungai berair keruh itu mendekap erat kedua tubuh tua dan ringkih itu… 

Indra Jaya Piliang

Surau: Masjid kecil milik suku.
Lapau: warung.
Terompah: sendal.
Pianggang: hama serangga.

Seputar Peran Golkar

Written By oyong liza on Selasa, 16 September 2014 | 20.02




Partai Golkar sebentar lagi berusia 50 tahun, tepatnya tanggal 20 Oktober 2014 yang bersamaan dengan pelantikan Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI 2014-2019. Usia emas di tengah dua kekalahan dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden/wakil presiden. Usia emas tanpa piala emas. Paling banter, Partai Golkar mendapatkan kursi Ketua DPR RI. Itupun dengan dua syarat: Mahkamah Konstitusi menolak gugatan terhadap UU MD3 (MPR, DPR RI, DPD RI dan DPRD) dan Koalisi Merah Putih (KMP) tetap kompak. 

Kalau skenario itu tidak berhasil, Partai Golkar menderita kelumpuhan jangka menengah, berupa kehilangan kekuatan di DPR RI, ketiadaan kader di eksekutif dan sekaligus juga kehilangan pesona sebagai partai politik moderen. Ditambah dengan pemecatan tiga kader Partai Golkar, fungsi pengelolaan konflik kurang berjalan, mengingat kader-kader partai politik lain yang menyeberang ke kubu koalisi Pilpres sama sekali tidak dipecat. Ada sejumlah nama yang memang digeser dari posisinya, seperti Rachmawati di Partai Nasdem atau Reza Syarif di Partai Hanura. Hanya saja, tidak mengalami kisruh sedalam Partai Golkar.

Lambatnya proses konsolidasi dan rekonsiliasi dalam tubuh Partai Golkar pasca Pilpres juga membawa kelelahan dalam tubuh partai. Komunikasi berlangsung hanya via media massa atau pertemuan-pertemuan terbatas. Tanpa ada upaya pihak yang memiliki kewibawaan untuk menjembatani perbedaan pendapat di dalam tubuh partai, bisa memicu persaingan yang tidak sehat yang hanya berdasarkan rumor. Partai mengalami penggerogotan dari dalam, akibat perbedaan makin tajam dan memunculkan friksi yang kian menular kemana-mana. 

Bahasa-bahasa kekuasaan yang ditunjukkan oleh otoritas DPP Partai Golkar juga memunculkan sikap yang berjarak. Bukan malah mencoba merangkul atau mengajak kembali pihak-pihak yang berbeda pendapat selama Pilpres, malahan DPP Partai Golkar menebarkan ancaman, baik berupa pemecatan atau pencopotan dari jabatan. Bahkan pihak yang menginginkan Munas dilaksanakan pada Oktober 2014 dianggap sebagai anarkis. Padahal, tidak ada satupun bentuk kekerasan yang terjadi, selain perbedaan pendapat. 

Kocar-Kacir

Golkar juga terlihat “larut dalam kekalahan”, bahkan tetap menjadikan kekalahan dalam pilpres sebagai bentuk dari ketidak-becusan penyelenggaraan. Sikap ini berbeda dengan pemilu legislatif. Bahkan, ketika partai-partai politik lain sudah mulai melunak sikapnya, terutama Partai Demokrat, PPP dan PAN, Golkar terlihat masih berada pada posisi yang sama dengan Gerindra dan PKS. Padahal, momentum untuk melakukan evaluasi sudah datang, sebagaimana terjadi dengan PKB dan Partai Nasdem. 

Kondisi ini menyebabkan para kader terlihat kocar-kacir. Sebagian kader sudah terlihat “merapat” kepada pemerintahan Jokowi-JK, sebagian lain terus melakukan kritikan. Mayoritas kader berada dalam posisi tanpa suara (silent majority). Sejumlah pertemuan yang digelar kader-kader Partai Golkar, baik secara tertutup ataupun terbuka, terus melakukan komunikasi intensif dengan penyikapan yang beragam. Sama sekali tidak ada forum yang lebih kondusif guna mengatasi beragam perbedaan pendapat yang muncul. 

Padahal, agenda-agenda politik dan pemerintahan terus berjalan. Antara lain pelantikan anggota DPRD, baik kabupaten, kota, maupun provinsi. DPP Partai Golkar memang memiliki kewenangan untuk menunjuk pimpinan DPRD, terutama di tingkat provinsi. Bagi kader yang terpilih menjadi legislator, kesibukan terlihat dalam mengikuti beragam pelatihan, terutama yang dilakukan lembaga-lembaga pemerintah. Artinya, kader-kader Partai Golkar itu sudah diberikan wawasan dan pemahaman yang lebih sebagai penyelenggara negara di pelbagai tingkatan. 

Ditinjau dari sisi opini, tidak banyak yang bisa dipetakan. Diskusi masih seputar rencana pencopotan jabatan sejumlah kader, posisi di dalam atau penyeimbang pemerintah, kedudukan di KMP, juga jadwal pelaksanaan Munas antara 2014 atau 2015. Sejumlah nama calon Ketua Umum Partai Golkar juga terus mengapung, seperti Agung Laksono, MS Hidayat, Agus Gumiwang Kartasasmita, Priyo Budi Santoso, Airlangga Hartarto, Mahyuddin dan Azis Syamsuddin. Paling banter adalah sejumlah diskusi yang dihelat oleh kaum muda partai, namun terbatas tempatnya. 

Arah Pemerintahan

Padahal, inilah saatnya bagi Partai Golkar untuk menggiring arah pemerintahan, baik berada di luar atau di dalam. Apalagi, terdapat program-program baru yang dicoba ditawarkan pemerintahan Jokowi-JK, seperti upaya menekan subsidi bahan bakar fosil, perampingan kabinet, pemberdayaan sektor maritim, mengatasi kelangkaan pangan, sampai pemodalan yang lebih bersahabat kepada pelaku usaha kecil dan menengah. Sebagai party of ideas, selayaknya Golkar berbicara lebih banyak dan terbuka soal ini, ketimbang hanya bicara masalah-masalah internal. 

Peranan politik partai tidak selalu berada di pemerintahan atau memenangkan pemilu. Dalam sejarah kepartaian di Indonesia, terdapat partai-partai politik pra dan pasca kemerdekaan yang selalu menjadi bahan perbincangan, sekalipun kecil secara elektabilitas. Bahkan ada partai yang tidak berhasil masuk pemerintahan. Sementara, Partai Golkar menempatkan diri sebagai partai terbesar kedua dengan sebaran kader dari pusat ke daerah yang mewarnai jalannya pemerintahan. 

Sudah saatnya Partai Golkar melakukan lagi inventarisasi ulang terhadap para kader yang dimiliki, sembari terus mengemukakan pandangan-pandangan visioner guna kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Pada gilirannya nanti, masyarakat akan mencatat bahwa kontribusi Partai Golkar tidak hanya ketika memenangkan kompetisi politik, bahkan juga ketika kalah. Terlalu larut dengan bahasa komunikasi politik yang tendensius, negatif, bahkan intimidatif, justru membawa konsekuensi kepada berkurangnya simpati dan empati publik. 

Terlepas dari kapan Munas diselenggarakan ataupun posisi Partai Golkar nantinya, keunggulan ide dan gagasan yang dimiliki patut terus diapungkan, begitu juga dengan kader-kader potensial yang dimiliki. Masalah terbesar Partai Golkar bukan terletak pada siapa yang akan duduk di kabinet atau pimpinan legislatif, tetapi memberdayakan sejumlah kader yang gagal meraih kursi parlemen dalam pemilu 2014 lalu. Nama-nama yang disegani, berpengalaman, berpengetahuan serta sudah kenyang dengan asam garam politik. Memaksimalkan peran mereka adalah bagian dari upaya penguatan Partai Golkar, sekaligus memberikan peran yang baik bagi bangsa dan negara.

 Indra Jaya Piliang

IJP: Mazhab Pemerintahan




Ketika rencana pembentukan Tim Transisi oleh presiden terpilih Joko Widodo disusun, saya menyampaikan sejumlah kritikan dan masukan di twitter. Intinya adalah agar pemerintahan baru lebih mengedepankan school of thought (doktrin atau tradisi pemikiran) yang berbeda dengan pemerintahan lama. Upaya ini diperlukan guna memberikan warna yang benar-benar memberi harapan bagi publik. Apakah harapan-harapan itu akan terpenuhi atau tidak, tentu juga memerlukan keahlian dalam pelaksanaan nanti. 

Pada kenyataannya, Tim Transisi malahan terlihat berbeda pendapat dengan pemerintahan menyangkut hal-hal yang tidak substantif. Pertemuan-pertemuan yang dilakukan terkesan hanya seremonial belaka, yakni guna menyamakan persepsi menyangkut sejumlah kebijakan yang sudah dan akan berjalan. Rasa-rasanya, pekerjaan di pemerintahan memang terkesan bersifat protokoler. Padahal, jauh di balik itu semua, harapan publik dititipkan berupa pilihan dalam pemilu lalu.

Terlepas dari itu, Tim Transisi sudah mencoba melakukan sesuatu yang bukan kebiasaan, yakni mengenali sejumlah program yang hendak ditempuh pemerintahan Jokowi-JK, memeriksa beban-beban yang ditinggalkan pemerintahan SBY-Boediono, serta mencari postur kabinet yang pas agar seluruh program utama bisa berjalan. Walau yang terlihat hanya aspek seremonial semata, tentu Tim Transisi sudah memiliki platform pemerintahan baru, berikut uraian masalah dan sekaligus solusinya ketika pemerintahan baru berjalan secara efektif. 

Hanya saja, masyarakat belum mengetahui secara luas. Waktu pelaksanaan Pilpres, masyarakat juga tidak mendapatkan sosialisasi yang masif menyangkut visi-misi pemerintahan Jokowi-JK. Debat-debat yang dilakukan terbatas dari sisi waktu, begitu juga sosialisasi lewat iklan atau kampanye terbuka dan tertutup. Serangan kampanye negatif dan kampanye hitam begitu deras. Pilpres 2014 memang menjadi Pilpres terhebat sepanjang sejarah Pilpres di Indonesia. Bangsa Indonesia hampir saja terbelah dua dalam sikap. Bahkan pascapilpres, sebagian masyarakat belum mampu keluar dari sikap pro dan kontra berdasarkan pilihan masing-masing. 

Pentingnya school of thought adalah bagian dari upaya memperkuat sistem presidensial. Sebuah sistem menjadi kuat, apabila disangga pemikiran yang juga kuat. Jumlah pendukung bisa saja berkurang atau bertambah, namun apabila pemikiran yang dimajukan terus dikembangkan dan disampaikan, pada gilirannya masyarakat mempersiapkan diri dengan lebih baik lagi. Dengan pembatasan periode pemerintahan sekarang, program pemerintah bisa saja berganti. Tetapi apabila school of thoughtnya sama, irama program-program itu bisa disesuaikan. 

Proses pemilihan dan pengaruh lembaga survei yang bersifat kuantitatif, mengurangi pemikiran yang lebih dalam bagi sebuah kebijakan. Untuk itu, tersedia cukup waktu guna mencari sandaran yang lebih kuat lagi ke depan. Dalam potret yang lebih luas, bukan hanya school of thought saja yang diperlukan, tetapi juga mazhab pemikiran sebuah pemerintahan. 

Sebagai bagian dari pemerintahan di Republik Indonesia, tentulah yang pertama mendapatkan tempat adalah khazanah pemikiran yang pernah berkembang di Indonesia. Apalagi, globalisasi bagai hantaman gelombang yang bisa mengombang-ambingkan bangsa Indonesia di antara beragam pilihan yang berbeda. 

Sudah saatnya Indonesia menunjukkan diri sebagai bangsa besar dengan cara melahirkan mazhab tersendiri dalam pemerintahan. Dengan cara itu pula kita bisa menegakkan kepala di tengah “kemajuan demi kemajuan” yang sudah dicapai oleh bangsa-bangsa lain, namun berbeda dalam banyak hal dengan bangsa kita.

Indra Jaya Piliang

IJP: Simpang Jalan Golkar

Written By oyong liza on Senin, 01 September 2014 | 11.58




Meskipun sudah ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi, Partai Golkar belum mengucapan selamat kepada Jokowi-JK. Sikap ini secara etika politik bermasalah. Golkar sudah terbiasa kalah atau menang dalam kontestasi politik. Apalagi dalam kampanye pilpres, termasuk yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum, terdapat upaya tersirat dan tersurat agar masing-masing pasangan dan pendukung mengakui kemenangan lawan. Ketiadaan ucapan selamat itu menandakan kemunduran etika politik dari Golkar.

Golkar mengalami gejolak yang hebat sejak lima tahun terakhir. Keadaan ini terjadi akibat kekalahan dalam pemilu legislatif 2014. Walau mengalami peningkatan jumlah pemilih sebesar 3,4 Juta, jumlah kursi di DPR RI justru berkurang dari 106 kursi menjadi 91 kursi. Artinya, Golkar kehilangan 15 kursi dalam pileg 2014, dibanding pileg 2009. 

Sebagai juara kedua dalam Pileg 2009 – sama dengan pileg 2014 --, Jusuf Kalla bisa maju sebagai Calon Presiden 2009 dengan menjadikan Wiranto sebagai Calon Wakil Presiden. Hal ini berbeda dengan 2014, Golkar tak berhasil memajukan Aburizal Bakrie sebagai calon presiden. Padahal, sejak Rapimnas 2012, ARB adalah satu-satunya calon presiden yang diusung Golkar. 

Keberhasilan ARB adalah menjadi Ketua Koalisi Merah Putih (KMP) yang bersifat “permanen” sampai 2019. Komunikasi yang dibangun ARB menempatkan Golkar sebagai partai penyeimbang. Terdapat sinyalemen ARB akan maju menjadi Ketua Umum Golkar periode 2015-2020. Kalau tidak, posisi politik Ketua KMP bisa saja diubah oleh Ketua Umum Golkar yang baru. 

Sekalipun jadwal Musyarawah Nasional belum jelas, posisi ARB masih kuat dalam mengendalikan Golkar di daerah-daerah. Bagi penganut paham konstitusionalitas, jadwal Munas disesuaikan dengan Anggaran Dasar pasal 30 : “Musyawarah Nasional adalah pemegang kekuasaan tertinggi partai yang diadakan sekali dalam 5 (lima) tahun”. Munas terakhir terjadi bulan Oktober 2009, berarti Munas berikutnya bulan Oktober 2014. 

Namun, terdapat klausulan dalam Munas VIII Riau 2009 bahwa masa jabatan kepengurusan bisa diperpanjang sampai tahun 2015. Klausulan itu hanya berupa rekomendasi yang belum memiliki kekuatan hukum. Idealnya, kalau memang klausulan itu diterima sebagai Keputusan Munas VIII, akan masuk ke dalam “aturan peralihan” dalam Anggaran Dasar. Faktanya, klausulan itu sama sekali tidak ditandatangani pimpinan sidang, berbeda dengan dokumen-dokumen lainnya. Pernyataan politik Partai Golkar saja, ikut ditanda-tangani oleh pimpinan sidang. 

Kalau hanya sekadar unjuk kekuatan, perbedaan pendapat soal Munas 2014 atau 2015 ini berakibat fatal bagi Golkar. Yang diperebutkan adalah suara DPD I guna menggelar Munas Luar Biasa. Kalau ini yang terjadi, Golkar bisa saja memiliki kepengurusan kembar yang masing-masing berpegang pada AD-ART. Padahal, bukan zamannya lagi untuk memecah Golkar yang setiap lima tahun “melahirkan” partai-partai baru. Golkar sudah terbiasa dengan konflik keras, bahkan berujung pada perpecahan. 

Munas 2015 lemah secara hukum dan politik. Klausulan itu untuk menghadapi Pilpres yang diikuti kader yang diusungi Golkar, baik putaran pertama, apalagi putaran kedua. Dalam Pilpres 2009, tokoh-tokoh utama Golkar bukan kosentrasi pada Pilpres, melainkan pada penggalangan dukungan suara untuk menjadi Ketum Golkar dalam Munas 2009. Mesin Golkar tak berjalan maksimal guna memenangkan JK-Wiranto. Dalam Pilpres 2014, kader Golkar yang maju hanyalah JK dan berlangsung satu putaran. 

KMP sudah menyatakan sebagai penyeimbang pemerintahan Jokowi-JK.  Dengan diketuai oleh ARB, KMP berarti dipimpin Golkar. ARB akan kehilangan legitimasinya, begitu juga KMP, apabila tidak lagi menjadi Ketum. Sasaran pertama KMP tentulah Ketua DPR RI, Ketua MPR RI dan lain-lainnya. Dengan UU MD3 (MPR, DPR, DPD dan DPRD) yang baru, KMP dengan mudah bisa mengambil pucuk-pucuk pimpinan di lembaga legislatif.

Soliditas KMP bisa dicatat sebagai yang terbaik, dibandingkan dua pilpres sebelumnya. KMP tetap tak bergeming untuk mengalihkan dukungan terhadap pemerintahan Jokowi-JK, setelah MK mengetuk palu. Beberapa parpol disebut bakal bergabung dengan koalisi yang dipimpin oleh PDI Perjuangan, namun baru sebatas wacana. 

Perkembangan terakhir ditunjukkan oleh Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono. SBY memberikan sinyal sebagai poros ketiga. Padahal, dalam sepuluh tahun terakhir, Golkar yang berada di posisi itu, yakni menjadi partai tengah guna menyeimbangkan poros kiri (oposisi) dan kanan (pemerintah). Dalam masalah pengurangan subsidi bahan bakar fosil, terlihat sekali Jokowi-JK memerlukan dukungan SBY, ketimbang KMP. 

Bakal terjadi “permainan” segitiga poros politik dalam lima tahun ke depan. Konsentrasi penuh Jokowi-JK menjalankan pemerintahan, dihadapkan dengan tiga kekuatan politik di DPR RI. Jangan lupa, MPR RI juga akan mendapatkan peranan lebih besar. Sinyalemennya sudah tampak, yakni mendelegitimasikan rezim Jokowi-JK. Walau tidak akan sampai pada tindakan pemakzulan, seperti era Presiden Abdurrahman Wahid, namun kekuatan MPR RI bisa lebih banyak digunakan untuk menekan Jokowi-JK. 

Tinggal ketangguhan kepemimpinan Jokowi-JK yang ditunggu, baik dari sisi kekompakan, maupun dukungan dari partai-partai politik pengusung, relawan, maupun individu-individu yang berkarakter kuat dan sekaligus berani. Pilihan prioritas kebijakan akan sangat menentukan bagi dukungan publik terhadap rezim Jokowi-JK. Apabila pilihan-pilihan itu ternyata memunculkan sentimen negatif, KMP dengan mudah mendapatkan panggung politik dengan segala armadanya yang sudah dipersiapkan dengan rapi. 

Indra Jaya Piliang

IJP: Geliat dan Gairah Pilpres 2014

Written By oyong liza on Selasa, 19 Agustus 2014 | 21.05




Pilpres 2014 adalah pilpres terpanas, terhebat dan terbanyak kampanye hitamnya. Belum pernah sebelumnya Pilpres begitu menyita perhatian pemilih begitu besar, dibandingkan dengan pilpres 2014 ini. Walau angka partisipasi lebih rendah sebesar 1,5% dari pilpres 2009 (71,17% menjadi 69,58%), tetap saja pilpres 2014 memberi nuansa tersendiri. Dinamika yang terjadi tentu perlu dikompilasi menjadi bagian dari pembelajaran bagi pilpres berikutnya, sekalipun perkembangan yang akan terjadi tidak sepenuhnya bisa diantisipasi. Kemajuan teknologi media dan perubahan perilaku pemilih akan memberikan tantangan tersendiri dalam lima tahun ke depan. 

Perkembangan yang terjadi dalam lima tahun ini menunjukkan bahwa pilpres bukan hanya persoalan kekuasaan semata yang terjadi di kalangan elite, melainkan sudah masuk menjadi masalah individu. Setiap orang yang berpartisipasi dalam pilpres mengambil bagian bagi kepentingan dirinya sendiri. Gabungan dari kepentingan individu inilah yang sering disebut sebagai kepentingan publik. Dari sini terbentuk relawan-relawan swadaya dan swadana yang tidak merupakan bagian dari partai politik. Apalagi, menurut banyak survei, party id turun terus sepanjang lima tahun ini. Angkanya malah kurang dari 20%. Itu artinya, warga yang merasa dirinya terbebas dari partai politik kian meningkat, lebih dari 80%. 

Mayoritas pemilih ini dikenal sebagai pemilih independen, tanpa orientasi kepartaian.
Ada dua faktor yang mendukung perkembangan ini, yakni pilkada yang terjadi sejak 2005 dan penggunaan suara terbanyak dalam pemilu legislatif sejak 2009. Publik tidak lagi merasa terikat dengan partai politik, melainkan dengan figur yang diajukan, baik dalam pemilu legislatif maupun pilkada. Keduanya berujung kepada pilpres yang menjadi puncak bagi kontestasi politik di Indonesia. Sekalipun partai-partai politik berkoalisi, tetap saja yang dilihat dan didukung adalah figur yang diusung, bukan partai politik pengusungnya. Begitu juga pengaruh dari figur-figur “bayangan”, yakni orang-orang yang merasa menjadi tokoh masyarakat, baik formal maupun informal, semakin kecil. Organisasi sosial kemasyarakatan juga bukan batu penjuru arah pilihan publik. Pemilih benar-benar menjadi otonom, sampai di tingkat keluarga batih. 

Di luar itu, derasnya pemberitaan media massa juga menjadi faktor yang dominan memberikan pengaruh. Apalagi media tidak lagi hanya sebatas televisi, radio ataupun koran dan majalah, melainkan merambah kepada media online dan media sosial. Para pengguna telepon selular, smartphone, iphone dan blackberry dengan mudah mendapatkan informasi yang bersiliweran setiap saat di genggaman mereka. Komentar-komentar panas di media sosial meningkat tajam selama pilpres berlangsung, bahkan pasca pilpres. Tak kalah seru, media online yang tidak jelas sumber informasinya juga disukai oleh para pendukung fanatik dari kedua pasangan capres dan cawapres yang bersaing. Kampanye berlangsung di dalam genggaman tangan, menembus dinding-dinding rumah, domisili dan status sosial. 

Kreatifitas para relawan juga mencapai puncaknya dalam Pilpres 2014. Setiap hari kita menemukan gambar-gambar baru yang terkait dengan kedua pasangan, termasuk dalam bentuk komik. Upaya memelintir ucapan lawan atau membesar-besarkan kesalahan lawan menjadi hal yang biasa. Batas-batas kampanye hitam dan kampanye negatif menjadi hilang, saking sulitnya memberikan klarifikasi terhadap isu-isu yang bergiliran muncul. Peredaran tabloid Obor Rakyat maupun tabloid-tabloid lainnya, menunjukkan seriusnya “perang isu” yang terjadi. Mobilisasi massa berkurang, kecuali dalam kampanye terbuka yang resmi. Sebaliknya, perang isu dan gagasan bertambah. Setiap kali debat antar capres, cawapres atau berpasangan dilakukan, istilah-istilah yang teknis diperbincangkan oleh pelbagai lapisan masyarakat. Ada pembelajaran yang cepat atas masalah-masalah yang diperdebatkan, walau dengan modal pengetahuan yang minim. 

*** 

Media massa termasuk pihak yang mendapatkan sorotan maksimal, terutama yang diketahui memiliki afiliasi politik dengan pemilik medianya. Kalangan intelektual dengan mudah bisa dipetakan, mana yang argumen-argumennya condong ke kandidat A, mana yang ke kandidat B. Mereka dikenal sebagai spin doctor. Persaingan dukungan sejumlah stasiun televisi juga berarti persaingan di kalangan kaum “intelektual” yang dihadirkan sebagai narasumber. Publik dengan cepat mengambil kesimpulan bahwa media XYZ atau pengamat ABC adalah pihak yang condong ke capres-cawapres tertentu. Persepsi yang dengan cepat terbentuk itu memunculkan sinisme terhadap media yang dianggap terlalu bermusuhan dengan kandidat yang mereka usung. 

Yang juga sangat bergairah dalam memberikan dukungan adalah kalangan yang seyogianya lebih banyak berurusan dengan sesuatu yang bersifat transendental, bukan malah politik praktis. Mereka berasal dari kalangan agamawan yang secara terbuka menjadi pendukung salah satu pasangan. Secara etika politik, mengingat siapapun yang menjadi presiden atau wakil presiden terpilih, sikap seperti ini menyebabkan makin tergerusnya ketokohan para agamawan itu. Sikap serupa juga ditunjukkan oleh para kepala daerah beserta wakilnya. Padahal, akibat lanjutannya tidak diperhatikan, yakni siapapun yang terpilih akan menjadi atasan langsung dari kepala dan wakil kepala daerah itu. 

Khusus untuk pasangan Jokowi-JK, apresiasi layak diberikan kepada para relawan yang tumbuh subur di mana-mana. Aktivitas relawan ini diakui sebagai salah satu faktor kemenangan Jokowi-JK, terutama konser dua jari di Gelora Bung Karno menjelang hari terakhir kampanye, begitu juga dukungan selebritis yang selama ini dikenal apatis dan apolitis. Sumbangan dana besar ke rekening Jokowi-JK juga layak dicatat sebagai satu bentuk kemajuan dalam demokrasi di Indonesia. 

Sementara, untuk pasangan Prabowo-Hatta, apresiasi juga patut dilayangkan dari sisi konsolidasi di kalangan elite partai-partai pendukung. Tingginya tingkat kenaikkan elektabilitas kedua pasangan ini sejak diresmikan sampai hari pelaksanaan Pilpres, belum pernah terjadi sebelumnya dalam pilpres 2004 ataupun pilpres 2009. 

Bahkan, kekompakan koalisi pengusung pasangan Prabowo-Hatta juga terjadi pasca pilpres, tentu terkecuali individu-individu politisi yang berani memberikan dukungan terbuka kepada pasangan Jokowi-JK. Masalah yang terjadi pasca pilpres sebetulnya bertumpu kepada dua hal, yakni kinerja penyelenggara pemilu dan pengawas pemilu (KPU, Bawaslu dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu) dan kinerja Mahkamah Konstitusi. Dari sisi penyelenggaraan dan sengketa hasil Pilpres, kedua lembaga ini mengalami kemajuan. Belum pernah sebelumnya data C-1 bisa diakses oleh siapapun, termasuk diverifikasi kebenarannya. Butuh alat-alat bukti yang valid guna memenangkan permohonan hasil pilpres ini. 

Terlepas dari kekurangannya, Pilpres 2014 sudah memberikan data dan fakta yang semakin terang benderang, betapa demokrasi tumbuh mekar di Indonesia. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim yang terbesar di dunia, demokrasi menemukan sandarannya di Indonesia. Bisa dikatakan betapa demokrasi kompatibel dengan dunia Islam dalam bentuk toleransi dan keterbukaan. Walau bahasa-bahasa agama juga muncul, tetap saja mayoritas masyarakat Indonesia memiliki sudut pandang tersendiri dalam mengusung dan mendukung pasangan capres dan cawapresnya. Dengan kondisi seperti ini, Indonesia sudah layak masuk ke dalam peta dunia, sebagai salah satu sumber bagi perkembangan di bidang ilmu politik dan ilmu-ilmu lainnya. 

Indra Jaya Piliang

Indra J Piliang: Bukan Surat terbuka untuk Partai Golkar

Written By oyong liza on Senin, 04 Agustus 2014 | 20.43




Bagi saya, Pilpres 2014 sudah selesai. Memang masih ada sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi. Namun sulit rasanya menghadirkan bukti-bukti atas terjadinya kecurangan Pilpres secara masif, terstruktur dan sistemik. 

Pertama, Joko Widodo dan Jusuf Kalla bukannya incumbent. Jokowi hanya sosok yang sedang diberhentikan sementara (cuti) sebagai Gubernur DKI, sementara JK merupakan anggota biasa Partai Golkar yang bahkan tidak didukung oleh Partai Golkar. 

Kedua, justru Partai Demokrat yang diketuai oleh Susilo Bambang Yudhoyono berada di pihak Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Walau keterlibatan aparatur negara sama sekali tidak terjadi, namun dalam gestur politik dukungan dari partai penguasa itu menjadi penting. 

Ketiga, dari lima partai politik yang mengusung Jokowi-JK, hanya PKB yang berada di pemerintahan, yakni Muhaimin Iskandar dan Helmy Faisal. Tetapi keduanyapun merupakan pembantu Presiden SBY. Jauh lebih banyak menteri lagi yang mendukung pasangan Prabowo-Hatta.
Keempat, penyelenggara Pilpres, yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) mendapatkan pengawasan dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Diluar itu, keduanya juga diawasi oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Bahkan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan pengawasan intensif terhadap penyelenggara Pilpres itu. 

Kelima, bukti-bukti yang diajukan oleh pasangan Prabowo-Hattalah yang nantinya akan menjadi pokok perkara sengketa Pilpres ini. Tetapi bukti-bukti itu harus melampirkan perubahan suara yang jaraknya 8,4 Juta lebih. Artinya, sengketa hasil hanya akan terjadi, apabila jumlah suara Jokowi-JK berkurang sekitar 4,4 Juta, lalu dialihkan menjadi suara Prabowo-Hatta. Tampaknya, angka inilah yang diincar, mengingat Prabowo-Hatta menyatakan unggul 50,25%, ketimbang Jokowi-JK yang 49,75% dengan selisih suara 700ribuan. 

Dilihat dari kasus-kasus sebelumnya, sulit membuktikan tuduhan yang berakibat munculnya sengketa Pilpres itu. Sebagai contoh, pasangan JK-Wiranto juga mengklaim kemenangan mencapai 39% dalam Pilpres 2009, namun angka realnya hanya 12% lebih. Kenyataannya, tuntutan yang diajukan oleh JK-Wiranto – dan juga Mega-Prabowo—dimentahkan oleh hakim konstitusi. Pasangan SBY-Boediono tetap sah sebagai pemenang Pilpres 2009. Bayangkan, dalam Pilpres 2009, Prabowo sebagai Cawapres sudah dinyatakan kalah oleh MK, bagaimana nantinya usai MK mengambil keputusan? 

888

Bagaimana dengan Partai Golkar? Seyogianya Partai Golkar sama sekali menarik diri dari proses terakhir ini. Toh Partai Golkar sudah berpengalaman dengan Pilpres 2009 dan ratusan sengketa pilkada lainnya yang diputuskan MK. Apabila putusan MK tetap memenangkan pasangan Jokowi-JK, Partai Golkar kembali mencatatkan diri dalam sebuah dokumen tentang kekalahan secara hukum. Betul, langkah hukum adalah langkah terakhir. Namun langkah hukum idealnya juga memerlukan pengkajian tentang manfaat taktis dan strategisnya. 

Secara psikologi politik, Golkar dinyatakan kalah berkali-kali, baik dalam Pileg 2014, sengketa pileg 2014 yang diajukan ke MK, Pilpres 2014 dan terakhir sengketa Pilpres yang diajukan ke MK. Putusan sengketa Pileg 2014 lalu idealnya menjadi bahan bagi Partai Golkar untuk dikaji, tentang sulitnya memenangkan perkara di MK. 

Hal ini melengkapi apa yang terjadi dengan Partai Golkar. Keputusan DPP Partai Golkar untuk mengusung pasangan Prabowo-Hatta telah menuai selisih pendapat di internal partai. Buahnya adalah pemecatan terhadap tiga kader penting, yakni Nusron Wahid, Agus Gumiwang Kartasasmita dan Poempida Hidayatullah. Partai Golkar juga tidak menunjukkan diri sebagai partai kader, yakni sama sekali tidak ikut mengusung kadernya, yakni JK sebagai Cawapres. Pukulan psikologis lahir, ketika ternyata hasil perhitungan resmi KPU menyatakan Jokowi (kader PDI Perjuangan) dan JK (kader Partai Golkar) yang memenangkan Pilpres 2014 ini. 

Kengototan kader-kader utama Partai Golkar di kubu Prabowo-Hatta juga terlihat, ketika dengan penuh percaya diri masih menyatakan Prabowo-Hatta sebagai pemenang, jauh setelah hasil quick count diumumkan dan hasil real count juga sudah masuk dari tingkat PPS, PPK dan bahkan KPU Kabupaten dan Kota. Beberapa elite Partai Golkar masih bersuara bahwa perhitungan PKS masih menunjukkan kemenangan Prabowo-Hatta. Akibatnya, publik melihat kader-kader utama Partai Golkar itu sama sekali tidak cakap dalam membaca situasi dan seakan tak paham dengan metode penyelenggaraan Pilpres. Ada banyak nama yang bisa disebut, antara lain Marwah Daud Ibrahim, Musfihin Dahlan, Ali Mochtar Ngabalin, Tantowi Yahya dan Idrus Marham.

Padahal, selama lima tahun terakhir, Partai Golkar bahkan mengeluarkan semacam daftar hitam lembaga-lembaga survei yang tidak kredibel, sehingga sama sekali tidak dipakai oleh Partai Golkar dalam pilkada. Dua di antaranya: Puskaptis dan Lembaga Survei Nasional (LSN). Bagaimana bisa kedua lembaga survei ini tiba-tiba menjadi begitu berkualitas dan kredibel, dalam quick count Pilpres yang jauh lebih mudah daripada survei? Saya tidak tahu, kenapa Partai Golkar yang begitu besar di mata publik, dengan mudah memberikan penilaian betapa Puskaptis dan LSN adalah lembaga yang kredibel, sementara selama lima tahun berada dalam daftar hitam? Apa yang dipertaruhkan Partai Golkar, sehingga menyorongkan diri sebagai tameng bagi lembaga survei yang “ilmiah” – namun kelihatan tak mengerti metodologi survei dan quick count – itu? 

Seolah, sistem yang sudah lama dibangun oleh Partai Golkar tiba-tiba saja dengan mudah bisa tembus oleh dua lembaga survei yang sama sekali tak kredibel. Sebagai Ketua Pelaksana Badan Penelitian dan Pengembangan DPP Partai Golkar, saya mengikuti dari dekat perkembangan seluruh lembaga survei. Bahkan, tiap kali ada lembaga survei yang merilis hasilnya, saya selalu mewakili Partai Golkar untuk mengecek dan sekaligus mengomentari hasil-hasilnya. Saya sama sekali tidak pernah diundang oleh Puskaptis ataupun LSN, karena mereka sendiri tahu tentang kredibilitas lembaganya dihadapan para ahli survei yang juga dimiliki oleh DPP Partai Golkar. 

888 

Tentu ada banyak catatan lain, termasuk bagaimana hanyutnya Partai Golkar dengan deru kampanye Prabowo-Hatta. Satu yang paling ironis menurut saya adalah pemakaian simbol Garuda Merah. Jelas sekali simbol yang menyerupai lambang negara itu tidak boleh dipakai sembarangan, bahkan oleh Tim Nasional Sepakbola. Garuda Merah yang sama sekali tak berisikan Pancasila itu, tiba-tiba menjadi lambang yang menguasai aura Partai Golkar, bahkan mengalahkan simbol Beringin. Padahal, saya memimpikan, bahwa ketika pelantikan Presiden dan Wakil Presiden tanggal 20 Oktober 2014 nanti, simbol Beringin Emaslah yang keluar. Kenapa? Waktu pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI itu bertepatan dengan Ulang Tahun Emas Partai Golkar yang ke-50! 

Garuda Merah ternyata lebih diminati oleh petinggi-petinggi Partai Golkar, ketimbang Beringin Emas. 

Koalisi Merah Putih yang juga ditandatangani oleh petinggi Partai Golkar menjadi bukti akan tidak taktis dan strategisnya posisi Partai Golkar. Bagaimana bisa Partai Golkar terus-menerus terseret langkahnya dalam peta pertarungan politik Pilpres 2014, sementara tahun terus berjalan menuju Pilpres 2019? Walau saya tidak tahu isi dari dokumen Koalisi Merah Putih, secara tidak langsung publik membaca bahwa Prabowo-Hatta akan diusung lagi oleh Partai Golkar pada Pilpres 2019. Artinya, proses pengkaderan di Partai Golkar tiba-tiba menjadi macet dan mati. Partai Golkar sudah kalah sebelum bertarung, yakni tidak mengusung kader terbaiknya untuk menjadi Capres dan Cawapres dalam Pilpres 2019.

Mumpung masih ada waktu, sebaiknya langkah-langkah yang menurut saya tidak taktis dan tidak strategis bagi Partai Golkar itu dievaluasi kembali. Apalagi Pilpres 2019 bersamaan waktunya dengan Pileg 2019. Artinya, masing-masing partai politik bisa mengusung Capres dan Cawapresnya sendiri, sehingga Koalisi Merah Putih dengan sendirinya hancur di tengah jalan. Sangat tidak rasional partai-partai politik yang bergabung dalam Koalisi Merah Putih untuk hanya mengandalkan Prabowo-Hatta, dengan sama sekali menyimpan tokoh-tokoh partainya sendiri untuk maju sebagai Capres dan Cawapres. Ataukah memang politik menjadi irrasional, sehingga ambisi masing-masing partai politik sama sekali tumpul, demi keutuhan Koalisi Merah Putih? 

Jalan penyelamatan partai sudah disuarakan oleh pelbagai kalangan. Saya merasa skeptis, apakah jalan itu yang hendak ditempuh. Partai Golkar seolah mengalami kemunduran puluhan tahun, ketika sama sekali tak berani mengajukan Capres dan Cawapres dari kalangan sendiri, bahkan setelah MK membuka jalan lewat Pilpres dan Pileg secara serentak tahun 2019. Padahal, dengan mengingat perjalanan politik sejak reformasi, Partai Golkar justru mengandalkan sumberdaya internal, ketimbang mendorong sumberdaya eksternal. Soalnya, Partai Golkar dengan bangga terus menyebut diri sebagai penghasil politisi jempolan yang kemudian menyebar di banyak partai politik lain.
Bagi saya, tidak masalah Partai Golkar berada di luar pemerintahan. Tetapi, sejumlah hal perlu dilakukan, yakni merevisi Keputusan Munas Partai Golkar 2009 yang menyatakan bahwa Partai 

Golkar adalah partai pemerintah, walau tetap bersikap kritis. Saya masih ingat bagaimana Presiden SBY berpidato di Istana Negara, di bawah sebuah pohon, guna mengomentari perkembangan Munas Partai Golkar di Pekanbaru yang nampaknya ingin menjadi partai oposisi. Justru pandangan agar Partai Golkar menjadi oposisi itu datang dari Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla, ketika membuka Munas VIII Partai Golkar. 

Sekarang, keadaan justru terbalik, JK berpegang kepada putusan Munas yang kemudian memungkinkan Partai Golkar bergabung dengan pemerintahan SBY-Boediono itu. Pihak-pihak yang dulu menolak Partai Golkar menjadi partai oposisi malah sebaliknya, menginginkan partai ini menjadi oposisi resmi via Koalisi Merah Putih. 

Jalan terbaik menurut saya adalah menggelar Munas IX Partai Golkar. Saya tidak ingin terjebak dengan sebutan Munas Dipercepat atau Munas Biasa atau Munaslub. Yang penting, dokumen-dokumen resmi harus dihasilkan, agar arah perjalanan partai memiliki pijakan kuat, tidak hanya berdasarkan sentimen sesaat dan penilaian subjektif pengurus DPP Partai Golkar. Kalau memang ada dokumen yang menyatakan bahwa Partai Golkar menjadi “partai oposisi”, sebaiknya dokumen itulah yang dijadikan landasan. Sayangnya, dokumen itu sama sekali tidak ada, tak pernah ada, tak pernah disebut. Sehingga, sebelum dokumen itu ada dan benar-benar ada, seluruh langkah politik untuk menjadikan Partai Golkar sebagai partai oposisi adalah jalan inkonstititusional. Wallahu ‘Alam.

Jakarta, 26 Juli 2014, Indra Jaya Piliang

Topik Terhangat

postingan terdahulu