Berita Terekomendasi

KALAPAS IIB ASMAN TANJUNG SH MH

KALAPAS IIB ASMAN TANJUNG SH MH
Oyong Liza Piliang, Citizen Journalism, Dilindungi UU NO.9 TH 1998 PERPU NO.2 TH 1998 . Diberdayakan oleh Blogger.

Pages Pariaman News

Tampilkan posting dengan label indra j piliang. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label indra j piliang. Tampilkan semua posting

Emil Salim: Beri Kesempatan Anak Saya Berjuang Untuk Bangsa

Written By oyong liza on Minggu, 06 April 2014 | 22.03





Sebelum kembali ke Jakarta, Keluarga Salim, yaitu, Prof. Dr. Emil Salim beserta Istri Roosmini Salim dan kedua putra putri mereka Amelia Salim dan Roosdinal Emil Salim melakukan temu ramah dengan keluarga besar Nangkodo Baha Institute (NBI), Alang Babega, Tim Sirangkak, dan pasukan motor, besutan Indra Jaya Piliang (IJP) di kawasan wisata alam Tirta Alami lembah anai Padangpariaman, Minggu 6/4/2014.

Keluarga Salim disambut puluhan relawan di pintu masuk pemandian tirta alami (atas dan bawah kiri) Roosmini dan Emil Salim (bawah kanan)

Hal itu dimaksudkan IJP untuk menjalin persaudaraan dan tali silaturahmi Tim dengan keluarga besar Salim yang telah berjasa untuk Republik Indonesia ini. Emil Salim adalah anak ke-6 dari almarhum pahlawan nasional Haji Agus Salim, tokoh besar masyarakat Minangkabau.




"Kalah menang kita tetap satu kesatuan, karena politik tidak mengenal titik akhir. Pak Emil Salim sudah banyak memberikan sumbangan untuk bangsa. Beliau sekarang adalah ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres dari zaman Gus Dur hingga Megawati dan SBY, sebelumnya menjadi mentri selama 22 tahun) yang di usia 84 tahun masih di amanahkan untuk menjabat," ujar IJP di hadapan ratusan relawan militannya tersebut.




Sebagaimana diketahui sebelumnya, IJP bersama tim dan relawannya bertekad untuk mengantarkan Roosdinal Emil Salim caleg DPR RI dari partai Golkar dengan Nomor urut 4 daerah pemilihan Sumbar II untuk merebut satu kursi di senayan. Hal itu dibuktikannya dengan upaya maksimal selain dengan jaringan tim dan relawannya selama di Pilkada Kota Pariaman 2013 lalu, juga dengan jaringan yang sudah lama dibinanya sejak Pemilu 2009. IJP pada Pemilu 2009 memperoleh lebih dari 25.000 suara. Dan yang perlu diketahui bahwa IJP menang di tingkat Mahkamah Agung untuk duduk di DPR RI dalam gugatannya, namun dengan pertimbangan tertentu IJP melepas kursi tersebut. 


 Amelia Emil Salim, Roosmini Emil Salim dan salah satu relawan Tim Sirangkak

Sekarang, pada Pemilu 2014 IJP tidak mencalonkan diri sebagai Anggota Legislatif, ia memfokuskan diri untuk memenangkan Partai Golkar di seluruh Indonesia untuk Pemilu dan Pilpres 2014.

    IJP, Emil Salim dan Fadli
 
"Pak Emil Salim adalah Tauladan bagi kami, medan pengabdiannya tidak terbatas. Sedangkan Roosdinal adalah sosok muda cerdas yang punya integritas. Ia adalah sosok ideal untuk menyalurkan aspirasi masyarakat Pariaman di DPR. Dinal (sapaan Roosdinal) menguasai bidang ekonomi dimana Sumatera Barat sangat memerlukan keterwakilan itu disaat ke kinian di DPR RI," lanjut IJP.

IJP juga berharap dalam waktu tinggal tiga hari lagi sebelum pencoblosan agar tim bekerja secara maksimal demi kemenangan Roosdinal Emil Salim.

Disaat yang sama, Roosdinal Emil Salim mengatakan bahwa IJP adalah sahabat dekatnya. IJP mengenal dengan baik siapa dirinya.

"Indra (IJP) adalah teman salapiak sakatiduran saya. Oleh karena itu terlepas menang dan kalah, komunikasi dengan saudara-saudara dan ibu-ibu semua tidak akan terputus, sebagaimana dengan Indra," ujar Dinal.

"Namun demikian kita usaha keras untuk mencapainya. Dukung saya ke DPR. Darah saya mengikuti keluarga. Saya ingin berbakti untuk negara. Kita musti ciptakan generasi baru," imbuh Dinal.

Dinal mengatakan, bahwa Politik sekarang mengharuskan dipilih terlebih dahulu untuk duduk di DPR RI bukan berdasarkan kualitas yang ditentukan oleh partai. Begitu juga di pemerintahan, baik sebagai Mentri, Direksi BUMN hingga Kepala Daerah, semua dominan ditentukan oleh orang politik, bukan atas dasar kemampuan dari orang tersebut.

"Sekarang saatnya saya merebut kursi DPR. Usia saya sekarang 47 Tahun, jika menunggu lima tahun lagi, kreatifitas akan berkurang," lanjut Roosdinal.

Dikesempatan itu, Emil Salim juga menceritakan tentang perkembangan Sumatera Barat.

"Pada tahun 1977, ketika umur Dinal 11 tahun saya ajak ke Pariaman. Kami dengan keluarga kecil tidur dalam rumah warga yang belum ada listrik dan air bersih. Waktu itu saya datang untuk kampanye Golkar pasca kekalahannya dari PPP di Sumatera Barat. Setelah itu Golkar menang kembali. Sekarang Pariaman jauh lebih baik," kata Emil Salim.

Menurut Emil Salim, 44% penduduk Sumbar adalah petani, 22% adalah pedagang, dan sekian persen lagi pengusaha. Orang Minang dikenal Intelek dan memiliki otak yang encer. Tokoh besar pendiri bangsa Indonesia sangat dominan orang Minang, seperti, Muhammad Hatta Wakil Presiden RI pertama, Sutan Syahril perdana mentri RI pertama, Haji Agus Salim dan masih banyak lagi contoh lainnya.

EMIL SALIM MINTA IJP JADI BUPATI


  Emil Salim Katakan IJP bisa buat kemajuan untuk Padangpariaman, untuk itu IJP pantas dijadikan Bupati Padangpariaman pada 2015 nanti

 

"Industri besar tidak ada di sini. Untuk itu kita musti berjuang. Kita musti dorong tokoh muda untuk memimpin. Masa usia 60 tahun sudah lewat, sekarang masanya usia 40 tahun untuk memimpin. Indra (IJP) pantas jadi Bupati. Padangpariaman musti berada digaris terdepan dalam pembangunan," kalimat Emil Salim bergetar.


Emil Salim: Hanya orang Minang yang garis keturunannya diambil dari garis Ibu di Indonesia.
 
Disamping itu, Emil Salim juga meminta agar Dinal diberi kesempatan untuk duduk di DPR RI untuk memperjuangkan kemajuan Sumatera Barat dan bangsa Indonesia. Emil menegaskan bahwa Dinal tidak akan pernah mengusung kepentingan pribadinya di parlemen.

"Hubungan dengan masyarakat musti dipelihara dengan baik demi menampung aspirasi untuk diperjuangkan," jelas Emil.

Disamping itu Emil Salim juga menekankan pentingnya bekal pendidikan untuk anak-anak agar bisa hidup mandiri.

"Kekayaan orang tua adalah untuk pendidikan anak. Sikap bagi generasi muda, ciptakan pekerjaan, jangan mencari-cari pekerjaan. Itulah semangat kita orang Minangkabau," nasehat Emil.

Dikatakan, kunci kemajuan untuk pemuda adalah dengan terus belajar.

"Jika kamu pintar wahai pemuda, kamu tidak akan mencari-cari pekerjaan. Tapi pekerjaan yang mencarimu," wejangnya.

Disamping mengajak pemuda untuk kreatif dan menciptakan hal-hal baru, Emil Salim juga menghimbau jangan ada yang golput pada pemilu 9 Aril mendatang.

"Jangan ada golput, jangan ada jual beli suara, jangan ada pemilihan dagang. Pertaruhkan hati nurani dalam pemilihan. Pilih calon usia kepala empat, jangan yang tua-tua," pungkas Emil Salim.

Catatan Oyong Liza Piliang

Sarapan Pagi Gratis Bersama Ratusan Warga di Damai FM, Ini Kata JKA dan IJP Tentang Kekayaan Kuliner Asli Piaman

Written By oyong liza on Minggu, 30 Maret 2014 | 15.27

H. Jhon Kenedy Azis bersalaman bersama warga (atas) Ima Syarief Abidin dan IJP (kiri bawah) JKA sedang menikmati Sate UK Nareh.


Sarapan pagi bersama di Minggu pagi (30/3/2014) di Radio Damai dengan masakan/cemilan tradisional asli Pariaman yang digelar oleh kru Radio Damai dan di suport oleh H. Jhon Kenedy Azis, SH (JKA), Caleg DPR RI dari Partai Golkar nomor urut 1 dapil Sumbar II berjalan sukses dan meriah. Acara yang dihadiri lebih kurang dari 500 warga dari seputaran Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman tersebut, juga dihadiri oleh Tokoh Intelektual Muda Pariaman yang berkiprah di tingkat Nasional Indra Jaya Piliang, S.Si, M.si, Ketua DPD Partai Golkar Kota Pariaman Drs. Mardison Mahyuddin, MM, Ketua RT Komplek Perumahan Jati Raya Indah Kamili, SH, Pengusaha muda bidang developer dan Restaurant Ir, Syafinal Akbar, MT, dan juga warga komplek perumahan Jati Raya Indah. 

Masakan dan cemilan tradisional asli Pariaman
 
Seluruh masakan dan cemilin dibuat oleh masyarakat Pariaman untuk di makan bersama-sama masyarakat pula. Hal ini dimaksudkan untuk melestarikan kekayaan kuliner yang ada di Pariaman yang beberapa item diantaranya mulai terancam punah. Peserta yang datang sebelumnya telah diberi kupon  kemudian di undi untuk mendapatkan 50 bingkisan hadiah menarik dari panitia dan pensuport acara Jhon Kenedy Azis.




"Ini sebagai bentuk silaturahmi kita bersama. Kekayaan kuliner kita sangatlah banyak dan lezat yang tidak kalah dengan kuliner luarnegeri, mau pizza, hamburger dan sebagainya. Untuk itu perlu dilestarikan. Saya tertarik dengan konsep ini ketika kebetulan mendengar obrolan di Radio Damai yang membahas tentang masakan dan cemilan tradisional kita yang sudah mulai di lupakan ini. Lalu saya hubungi Ibu Ima, sehingga munculah ide seperti yang telah terealisasi sekarang ini," kata Jhon Kenedy Azis yang datang bersama Istri tercintanya Nita Azis.


JKA sedang berdialog dengan seorang ibu (atas) Ima Syarief Abidin sedang memandu acara (kiri bawah) Mardison dan IJP salam komando.

Menurut Ima Syarief Abidin, Dirut Damai Fm, sekaligus penanggungjawab acara ini mengatakan semua kuliner yang terhidang dibuat oleh dunsanak kita dan dinikmati oleh dunsanak pula.


JKA sedang mengambil nomor undian pemenang (atas) IJP silahturahmi dengan warga (bawah kiri) JKA dapat bingkisan kipang kacang dari adel pengusaha rumahan 
 
"Dari kita untuk kita. Kekayaan kuliner Piaman jangan sampai tergilas oleh zaman. Kita semua punya tanggungjawab untuk melestarikan, Ini bukan acara partai, karena Damai FM tidak berpartai, namun untuk hal ini (peduli kuliner), kita satu visi dengan Bapak Jhon Kenedy Azis yang dalam hal ini
ikut terpanggil  melestarikan kekayaan kuliner yang ada di Pariaman ini. Kita tidak ingin masakan leluhur kita yang lezat ini, tergilas dan dilupakan," ungkap Ima.

JKA dialog dengan Ajo Nareh pemilik usaha Sate UK (atas) Nita Azis, JKA, M Nur Abidin, Syafinal Akbar (bawah kiri) IJP sedang mengambil lima no undian

Dengan adanya acara ini, Ima menyimpulkan ternyata masakan dan cemilan Pariaman masih diminati. 


JKA bicara pentingnya melestarikan kekayaan kuliner (atas) IJP bersama simpatisan (kiri bawah) Nita Azis mencabut no undian untuk lima pemenang.
 
"Buktinya cemilan tradisional kita masih sangat di minati, semua yang dihidangkan habis, saya merasa plong. Saya berharap nantinya ada yang memfasilitasi kegiatan serupa, baik oleh pemerintah, atau lintas sektor yang menyediakan tempat khusus hidangan kuliner tradisional ini. Kemudian disana diterangkan kandungan gizi dari masing-masing jenis kuliner tersebut, seperti kandungan kalori, protein, dsb, agar masyarakat kita mulai terbiasa," imbuh Ima yang juga biasa disapa Uteh ini semangat.


JKA mengajak beberapa warga menikmati sate (atas) seorang ibu menanyakan kemana nantinya JKA bisa ditemui jika terpilih jadi anggota DPR RI untuk menyampaikan aspirasi (kiri bawah) Kamili, SH Ketua RT memberi kata sambutan.

Diantara masakan dan cemilan yang dibeli dari warga atau pedagang yang di hidangkan secara gratis untuk masyarakat yang hadir, adalah: 200 porsi Sate Piaman, 200 porsi katupek gulai paku, 100 porsi lontong pical, 100 porsi katupek gulai cubadak, 2000 buah sala lauak, 50 buah godok batinta, 50 buah ondeh-ondeh ubi, 200 buah ondeh-ondeh sipuluik, 100 buah kue katen, 50 buah mangkuak ubi ungu, 50 buah pinukuik bareh, 50 buah pinukuik tarigu, 100 buah kacimuih ubi kayu, 100 buah lapek bugih, 50 buah nasi lamak luo, 100 buah kue talam sarikayo, 50 buah paruik ayam, 50 buah incek salak, 50 buah lapek pisang, 100 buah goreng pisang, 200 buah kue belibis, 100 buah tahu isi, 100 buah kue putu ayu, 25 buah martabak tahu, 125 buah agar-agar, 25 buah bakwan, 50 bungkus ladu, dan 50 bungkus karupuak jangek.




Senada dengan Ima dan Jhon Kenedy Azis, Indra Jaya Piliang (IJP) mengatakan, salah satu keunggulan Piaman adalah kekayaan kulinernya yang terkenal lezat disamping keindahan pantai dan gugusan pulaunya.




"JK (Jusuf Kalla) pernah mengatakan, kalau mau makanan enak, datang ke Pariaman. Ini adalah bukti telah diakuinya kelezatan masakan kita disamping ke indahan pantainya," ungkap IJP.


Bingkisan menarik dari panitia

Dikatakan, Ia sangat mendukung sekali acara yang digagas oleh Radio Damai dan di suport oleh Jhon Kenedy Azis itu sebagai bentuk tulus kepedulian dan kecintaan mereka pada kekayaan kuliner Pariaman.

"Masakan kita terkenal enak. Yang harus dipikirkan bagaimana agar kekayaan kuliner ini dapat me-nasional dan bisa di eksport ke Luarnegeri. Kita musti memikirkan bagaimana caranya agar sala lauak tetap enak dimakan di Malaysia setelah dibawa dari sini," kata IJP.

Suasana meriah terjaga penuh keakraban antara warga, panitia dan caleg tersebut masih ramai hingga pukul 11.00 WIB sebelum berakhir pada pukul 12.00 WIB. Terlihat Jhon Kenedy Azis asyik bercengkrama dengan warga, Dia membaur dan sesekali mengajak warga untuk mencicipi hidangan-hidangan lainnya.

"Silahkan dicoba satenya. Saya makan sedikit-sedikit agar bisa mencicipi sebanyak-banyaknya. Jangan sungkan, mari kita kinyam makanan lainnya. Ini jarang ada lho," ajak Jhon pada salah seorang warga.

Sikap Jhon Kenedy Azis yang mudah dekat dengan warga, dikatakan Mardison, bahwa hal itu sudah melekat pada dirinya dan sudah menjadi kepribadiannya sehari-hari.

"Tidak bisa dibedakan jika Pak Jhon Kenedy Azis berada di tengah masyarakat. Ia terlihat serupa. Ini adalah contoh pemimpin yang baik dan perlu kita dukung untuk mewakili aspirasi kita bersama di DPR RI nanti. Untuk itu saya harapkan dukungan masyarakat untuk memilih beliau pada pemilu 9 April nanti," ujar Mardison yang juga caleg DPRD Kota Pariaman dari Partai Golkar ini mengajak.

Acara pengundian nomor penerima bingkisan dilakukan oleh Jhon Kenedy Azis, IJP, Mardison Mahyuddin, Syafinal Akbar, M Nur Abidin (Komisaris utama Damai FM), Nita Azis, Nyonya Mardison, Ajo Boneh dan Asmadi. Masing-masing mereka mengambil lima kupon yang telah digulung dalam box kaca. Masing-masing nomor kupon di umumkan langsung di depan warga yang hadir dengan pengeras suara. Bagi warga yang nomor kuponnya keluar, dipersilahkan mengambil langsung kado bingkisan yang telah disediakan panitia. Acara tersebut juga disiarkan secara langsung oleh Radio Damai 101.4 FM.

Catatan Oyong Liza Piliang


 

IJP: Saya Mendukung Semua Caleg Dari Partai Golkar. Tapi..

Written By oyong liza on Jumat, 28 Maret 2014 | 13.23





Banyak spekulasi muncul ditengah publik menduga Indra Jaya Piliang atau yang akrab disapa IJP mantan calon Walikota Pariaman periode 2013-2018 mendukung Roosdinal Emil Salim, Caleg DPR RI dengan nomor urut 4 dapil Sumbar II yang mana Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman termasuk wilayah pemilihannya. Dimana IJP di identikan dengan slogan Iko Jaleh Piaman yang menurut sebagian masyarakat seharusnya mendukung tokoh asal Pariaman ke DPR RI.

Menurut IJP, Kalimat mendukung sebenarnya tidak tepat.

"Saya pengurus DPP Partai Golkar, ya, mendukung semua caleg Partai Golkar. Siapapun," tulisnya via BBM.

Dengan seringnya turun bersama Roosdinal, bahkan sempat melakukan talkshow berdua di Radio Damai FM, menurut IJP itu masalah waktu saja karena caleg yang lain tidak pernah memintanya turun. Meski demikian, sebagian Tim sukses inti IJP-JOSS yang dibentuk IJP saat Pilkada lalu memang mendukung Roosdinal dengan agresif.

"Kalau turun sama Roosdinal, masalah waktu saja. Yang lain juga tidak minta saya turun kok," elaknya.

"Tim saya kerja untuk seluruh caleg," imbuhnya.

Namun demikian IJP menekankan bahwa pemilihan legislatif berbeda dengan pemilihan kepala daerah.

"Semua caleg perlu suara, dari Pariaman, Pasaman, Bukittinggi, 50 Kota, Payakumbuh. Ini bukan pemilihan walikota atau bupati, tapi figur yang paling pas untuk Sumbar di DPRI," pungkasnya.

Catatan Oyong Liza Piliang

Cerpen: Rumah Seribu Pintu

Written By oyong liza on Selasa, 25 Maret 2014 | 21.55





(Dalam film Titanic, pemeran Rose Calvert tua –Gloria Stuart — mengatakan: "Hati perempuan memiliki seribu pintu.." Lalu dia membuang the heart of the Ocean, kalung berlian berwarna biru, ke laut..)

RUMAH itu berpintu seribu, tertutup rapat oleh semak-semak. Berbenteng batu-batu karang dan balok-balok kayu. Tidak ada yang tahu, pada pintu mana orang-orang bisa masuk kedalamnya. Semakin keras ia diketuk, semakin hening suara didalam. 

Tapi, masing-masing pintu akan membuka sendiri, kalau rumah itu ingin ada orang yang masuk. Namun, juga tidak ada yang bisa menebak, pada musim apa pintu-pintu itu membuka sendiri. Pernah ada yang menanti setiap musim kura-kura betina bergegas mencari liang di pekarangan yang penuh pasir itu, lalu menimbun telor-telornya. Tetap saja pintu-pintu itu tak bersuara. 

Konon, ada seorang putri di dalam rumah itu. Putri yang dibuang. Bukan oleh silsilah dan tali darah, tetapi oleh sikapnya sendiri. 

Bagi yang pernah tahu, putri itu sembunyi berpedoman mimpi. Putri yang percaya pada rasi bintang, meteor jatuh dan ekor komet di malam-malam buta. 

*** 

SIANG itu guntur dan halilintar membelah langit. Padahal masih di bulan April. Pohon-pohon tumbang. Halimun bergerak, menyambar dan mencabut apa saja yang dilalui. Sudah lama halimun itu tidak datang. 

Kalau ia hadir, satu pertemuan sedang disiapkan, tanpa perjamuan. 

Binatang-binatang terliar dan terbinalpun takut pada halimun itu. Mereka bersembunyi pada liang-liang. Yang tergelap. Yang terdalam. Menyuruk bersama pasangan masing-masing.

Pada horison yang jauh, seorang kelana berjalan sendirian. Ia sedang mencari kudanya, berteman seekor rajawali. Mendung bergayut. Awan menggigil. Langit beku. 


“Tuan, masuklah. Selamilah. Datanglah.” 

Sang kelana mendengar panggilan yang berbisik. Tidak ada siapa-siapa. Ia menatap pada rumah itu, ketika satu pintu terbuka. Wangi kesturi menyeruak, menghapus segala lelah.

Sang kelana tertegun. Rajawali hinggap di bahunya. Ia tak siap untuk duduk dan berdiam diri. Langkahnya selalu ditaburi beling dan beliung, hingga ia harus berjalan tergesa untuk menghindari goresan. 


“Tuan, masuklah. Ada secangkir teh dan buah kiwi. Tuan pasti letih.” 

Suara itu lagi. Sang kelana menyerah. Ia melangkah, hati-hati. Pikirannya berkecamuk dan kacau. Tanpa kuda, bagaimana bisa ia meneruskan perjalanan? Tapi ia percaya, suara-suara itu datang dari lubuk hati. Ia tak kuasa menolak. 

Dalam ruang di balik pintu, ia lihat putri itu. Serasa beribu tahun ia pernah mengenalnya. Ia tak tahu pasti, bagaimana bisa putri itu ada, tiba-tiba, tanpa ia sadari. 

Alis mata putri itu menatapnya. Anggun. Tidak ada kesan jumawa. Alis itu berbaris rapi di atas matanya, meruncing kearah pinggir. Alis mata yang siap menikam jantung lelaki yang serakah.
Sang kelana tidak tahu harus berkata apa. Di perjalanan, ia memang mengumpulkan banyak kata. Namun, kali ini, kata-kata itu juga beku. Ia sering bertemu ratu dan raja, tetapi tidak tatapan seorang putri. Pikirannya tumpul. Tenggorokannya mati. 

Ia nyalakan rokoknya, tanpa minta izin. Rokok yang terbuat dari daun enau dan tembakau hutan itu menyiramkan bau asri. Membawa setiap orang yang menciumnya berilusinasi. 

“Tuan sedang mencari kuda tuan, bukan?” 

Putri itu tahu akan segala. Sang kelana hanya diam. Ia merasa tercekik. Ia seperti diawasi.
Tapi, ia juga tak bisa berdusta, sejak pertama. Suara yang keluar dari bibir ranum itu membuatnya percaya. 

Lelaki itu bersuara setengah berbisik. Dikeluarkannya segala sedak di kerongkongan. Dihamparkannya semua kisah tentang dirinya, serta perjalanannya. Diletakkannya semua kisah itu di atas meja. Ia ingin, putri itu akan membaca kembali kisah-kisah itu, tanpa ia harus menjelaskan berkali-kali. Sebuah kisah, sebagaimana selembar kitab, tidak perlu harus dikawal kedalam pikiran dan hati orang-orang. 

“Rajawali itu dulu hanya telur yang menetas tanpa induk. Ia ditemukan oleh kudaku pada liang seekor ular. Kudaku meringkik kencang, hingga ular itu tak berani mendesis. Racunnya tertelan sendiri. Aku membawanya, sampai kini,” ujar sang kelana. 

Rajawali yang ia tunjuk mengibaskan kedua sayap dekat perapian. Seakan setuju. 

“Tuan butuh teh lagi, kan?” 

Tanpa menunggu, sang putri mengambil cangkir teh, bertepatan dengan lelaki itu. Kelana merasa malu. Ia tak ingin dilayani dengan cara teramat terhormat itu. 

Aliran listrik terpancar, ketika kedua tangan itu saling menyentuh. Lelaki itu tersengat. Ada nyala api memancar membakar kekelaman. Sang putri tidak menunjukkan reaksi. Meski, lama ia tak pernah disentuh oleh lelaki. 

Mereka bertatapan. Senyum simpul tertukar. Hawa hangat saling tindih. Kehampaan hilang. Ada ruang yang terisi. 

“Mari kita cari kudamu..” 

Putri itu tidak lagi memanggilnya tuan. Ia senang. Itu nada perintah yang sangat halus.
Kelana berdiri. Ia buka satu pintu. Rajawali langsung mendahului. Kelana terpana, ketika pintu yang dibuka tidak menyingkap semak belukar, batu karang, lereng terjal dan debur ombak. Yang tampak adalah jalanan ramai sebuah kota. Sungguh, Kelana itu takut pada kota. Ia terlalu lama hidup dengan kesunyian, desir angin, gemericik air dan desau ombak. 


“Kelana, tunggu…” 

Putri meraih pundak lelaki itu. Kelana menurunkan tangan itu, lalu menggenggamnya.
Hampir saja sang Putri terjatuh, ketika sebutir kerikil terinjak kakinya. Kelana yang siap meraih pinggang sang putri menjadi serba salah, ketika putri bangkit dan berjalan teratur menuju jalanan.

Tak mereka sadari, cincin yang melingkari jari manis Putri menggelinding, masuk ke selokan, ketika hampir terjatuh itu. Keduanya hanya mendengar nyaring suara hati masing-masing.

Kelana melangkah seperti terseret. Mukanya tersipu. Matanya nanar melihat sekeliling. Ia sadar, lelaki dusun seperti dirinya terlalu mudah dikenali di kota yang penuh rasa ingin tahu ini. 


*** 

MEREKA menghentikan sebuah bendi. Ada kusir dan kuda, tetapi bukan kudanya. Berdua mereka duduk di bangku belakang. Rajawali bertengger pada terpal kusam di atas kepala keduanya. 

“Kelilingi kota ini, Pak. Datangi semua kuda!” 

Putri itu memang putri. Nada bicaranya adalah titah. 

Mendung yang menggantung menumpahkan isi. Air hujan datang seperti menari. Tempias masuk, menyentuh kulit bening sang putri dan jubah kumal sang kelana. Rajawali juga berteduh di sebelah sang kusir. 

Hujan pada sore itu memaksa keduanya saling merapat. Seperti aur dengan tebing, keduanya saling bersandar. Ketika minyak bertemu sumbu, ketika mesiu berjumpa api, udara meledak. Terang datang di dalam bendi itu. 

Mereka berpagutan. 

Berjam-jam, berhari-hari dan berminggu-minggu, bendi itu berputar pada seluruh pelosok kota. Tanpa putus asa. Tapi, kuda itu tetap tidak menunjukkan derapnya.  

“Pak, kembali!” 

Bendi itu memutar ke rumah seribu pintu. Putri menuntun Kelana pada pintu berwarna merah. 

“Aku suka warna merah,” ujar Putri. 

Kelana terperanjat. Ia ingat masa lalunya. Semua warna baginya merah. Kitab yang ia bawa dan pelajari juga berwarna merah. Merahnya merah. Kini, ia berbaju hitam. Sejak terang hilang di bumi ini, Kelana menghindari warna merah. 

“Hitam menyerap cahaya. Merah membakar jiwa,” gumam Kelana, nyaris tak terdengar.
Di balik pintu itu, Putri menyajikan lagi buah kiwi dan secangkir teh. Sekuntum mawar merah terhidang pada sebuah wadah berisi air bening. Kelana melepaskan jubah hitamnya. Ia mencuci muka. Air hujan selalu mengandung belerang, sejak gunung-gunung meletus dan lanun tsunami membawa jelaga di negeri ini. 

“Istirahatlah. Kisahkan lagi kisah-kisahmu,” ujar Putri, sambil mengelap muka Kelana dengan handuk hangat. Bunyi tetesan hujan melentingkan nada biola dengan dawai angin. Mereka berpelukan. 

Kelana tahu, Putri butuh kisah-kisah itu. Tentang kepedihan seorang pengembara. Tentang lelaki yang merindukan ibunya. Tentang ayah yang mengajarkan anaknya mendaki lereng gunung tinggi mengeja dunia. Tentang suami yang beristrikan cahaya pelangi. Juga kisah para Nabi yang lahir dalam usia tua. 

Seprai merah pada peraduan itu menjadi kusut oleh kisah-kisah sang Kelana. Mata berbinar Putri menerangi setiap kisah yang paling kelam sekalipun. Baju keduanyapun kusut, tetapi tetap terkancing erat. Kelana berkisah, Putri kadang mendesah memaknai kisah-kisah itu. 

“Putri, sudah malam. Bunda memberikan jam malam kepadaku,” ujar Kelana. 

“Ya, aku tahu, dari siluetmu di tepi sungai itu. Kamu harus pergi, kan?” 

Kelana tak menjawab. Ia hanya beranjak. Berkemas. Mengenakan lagi jubah hitamnya. Setiap jam malam tiba, Kelana selalu saja mendatangi pantai, menerjangi ombak, menatapi kelam dan kerlip bintang, membayangkan ibunya menadahkan tangan ke angkasa di seberang samudera sana, membangunkan ribuan malaekat yang terbang mengelilingi anak-anaknya. 

Kelana membuka lagi satu pintu. Putri meraih pinggang lelaki itu, melingkari dengan kedua tangannya, menyandarkan dukanya pada punggung Kelana. 

“Datanglah, kembalilah, besok. Kau tahu, ini rumahmu,” bisiknya. Satu kecupan menyentuh punggung tangan lelaki itu. 

*** 

KELANA pergi, bersama rajawali. Ia telusuri jejak-jejak malam. Ia endus setiap tapak seekor kuda tanpa pelana. Ia datangi setiap sabana dan perigi. Ia masuki lorong-lorong tanpa cahaya. Ia renangi kanal-kanal dalam. Ia takut, kudanya tersapu halimun, terbawa arus. Maka, pada pintu-pintu air penuh sampah, ia punguti dan selami. Tapi, tidak ada tanda-tanda kudanya ada. 

Kelana menangis. Ia jarang menangis, kecuali untuk Bundanya. 

“Bunda, tanpa kuda, aku bisa apa? Ibu yang memberikan kuda itu, sejak aku baru belajar merangkak. Ibu yang memerintahkannya menemaniku, sepanjang jalan. Dimana ada aku, disana kuda itu hadir. Ibu, kemana kucari kuda itu?” 

Ia takut pada bundanya, cahayanya, pelanginya. Ibu bisa mendatangkan petir kapan saja, mengutuknya, menjadi batu. Ia tak ingin dianggap durhaka, kalau sampai menghilangkan kuda itu. Ia tak mampu melihat selarik kabut hinggap di mata ibunya yang buta itu. Kalau ibunya sampai menangis, ia akan hancurkan setiap karang yang menghadang. Ia akan hanguskan seluruh butir air, hingga airmata ibunya tidak pernah lagi mengalir. 

“Bunda tidak boleh menangis. Biar kukeringkan samudera untuk ibu!” teriaknya, berkali-kali.
Rajawali terbang tinggi menggapai bintang, ketika tahu Kelana itu mendamba bundanya. Mata rajawali setajam silet mengawasi setiap bahaya yang mengancam tuannya.
Kelana tertidur, pada sebuah batu. Ia begitu lelah. 

*** 

Satu kecupan hangat di kening dan bibir membangunkan lelaki itu. 

“Sudah pagi, Kelana. Kamu belum sarapan..” 

“Darimana Putri tahu, aku tidur disini?” 

“Degup jantungmu yang membawaku kesini. Aroma daun enau dan tembakau hutan menjadi penunjuk jalan.” 

Putri datang bersama kusir bendi, sepagi ini. Tentu, ia kurang tidur. Kembali, keduanya duduk beralaskan jerami, mengelilingi kota. Kota yang kusam itu kian temaram. Manusia-manusia yang ada berjalan seperti robot, laksana mesin, menuju sekrup kehidupan masing-masing, tak hirau pada lingkungan. Sebuah kota selalu terlihat bagai pusara bagi manusia di mata Kelana. 

Setiap jalan dipasangi portal. Bunyi sirene di waktu siang dan malam memecah gendang telinga. Kota ini menyesatkan setiap orang yang tidak punya tujuan. 

Tidak terdengar lagi ada ringkik kuda pada setiap lorong kota. Pohon-pohonpun meranggas, tumbang satu-satu. Asap kendaraan telah membunuhnya. Pemimpin yang menyerupai serdadu menjadikan pohon-pohon itu sebagai sasaran-sasaran peluru. 

Dengan alis mata, Putri memberi isyarat kepada kusir bendi. Kembali dan kembali lagi mereka ke rumah itu, menuju pintu berwarna putih. 

“Warna putih ini berasal dari selendang para malekat. Kamu tahu, aku melihatmu dari pintu ini. Kamu bisa melihat gelap yang terpekat, terang yang benderang. Gelap dan terang itu bisa membutakan matamu. Jubah hitammu pada siang yang diselimuti mendung itu memantulkan jiwa resahmu. Lihatlah ke segala penjuru. Mungkin kau temukan semua yang kau cari, di sini,” kata Putri itu, sambil mengecup lagi tangan sang Kelana. 

“Putri, jangan kecup tangan hamba. Tangan ini penuh lumpur dan jelaga..” 

“Tidak, kau adalah raja. Aku tahu sejak semula.” 

Kelana tercekat. Ia tak siap dengan semua kehormatan ini. Ia bisa mati diberlakukan seperti ini. Sebab, ia adalah kelana jelata. Tidak akan pernah ada mahkota di kepalanya. 

“Dari pintu ini, kau bisa temukan kudamu. Lihatlah. Tataplah. Bukalah. Masukilah..” ujar Putri itu, seperti berharap. 

Kelana tersihir. Ia buka semua pintu, sampai seribu. Ia tak temukan kudanya. Ia hanya melihat putri itu ada pada setiap pintu. Satu putri, seribu jumlahnya. Putri yang menanti. Putri yang menunggu. Bukan, ia bukan Putri yang memburu. 

“Putri, tak kulihat kudaku.” 

Kelana tafakur. Untuk pertama kalinya ia merasa putus asa. Ia ingin membalikkan dunia, juga rumah itu. Tanpa sengaja, ia raba gagang pedang di pinggang dengan gigi gemeretuk. 

“Sabarlah. Kau menatap terlalu jauh. Kau mencari di tempat yang salah. Tataplah aku. Percayalah. Hanya dengan nurani kamu bisa melihat kudamu..” 

Kelana terkesima. Ia pejamkan matanya. Ia tuntun segala gerak dengan nafas jiwa. Pelan, dengan mata tanpa mata, ia dengar nyanyian rajawali. Ia dengarkan ringkik kuda. Juga, gelak tawa anak-anak. Ia berjalan, dengan mata terpejam, menuju suara-suara itu. 

“Kesinilah, masuklah. Kami menunggumu. Sudah lama. Bertahun-tahun yang lalu..”

Ia buka matanya, ketika suara Putri terdengar lagi. Seekor kuda putih datang mengibaskan ekornya. Rajawali bertengger pada tangan seorang gadis kecil. Seorang putra duduk di atas kuda tanpa pelana itu. 


“Ayah, kesini. Kami rindu. Mengapa ayah sering pergi?” 

Sang gadis kecil, menyapa. Bersama anak kura-kura. 

Di belakang rumah seribu pintu itu, terhampar padang rumput sabana, beserta bunga-bunga mawar merah. Putri duduk disana, pada sebuah ayunan, ditemani kitab-kitab perjalanan. 

“Mereka anak-anakmu, Kelana. Kudamu yang menemukan, sebagaimana dulu ia menemukan rajawali. Sejak itu, ia tidak pernah mau beranjak, berhenti berpergian lagi denganmu. Putri itu, istrimu..” 

“Bundaaaaaaa…!” 

Kelana terpekik. Bundanya ada disana, bersama tongkat pemberiannya. 

“Selamat datang, Kelana..” 

“Putri, siapa namamu?” 

“Ariadne. Kamu?” 

“Thesus..” 

Mendung tak lagi ada. Halimun sudah lama pergi. 

Bandara Ngurah Rai-Talib III, 25-26 November 2007. 

Dari Wikipedia:

Dalam mitologi Yunani, Minotaurus (bahasa Yunani: Μινόταυρος, Minótauros) adalah monster berbentuk manusia yang berkepala sapi. Wujudnya ini adalah akibat dari kutukan Minos, Raja Kreta. Karena banteng yang harus dia berikan kepada Dewa Poseidon, ia sembunyikan.


Sehingga Poseidon menjatuhkan kutukan kepada istri Minos.Istri Minos dibuat jatuh cinta kepada banteng tersebut.Dengan meminta bantuan dari Daedalus,untuk dibuatkan tiruan banteng betina.Dia kemudian masuk ke dalam banteng tiruan, untuk bercinta dengan banteng tersebut.Maka dia mengandung bayi dari hubungannya dari banteng tersebut,yaitu Minotaurus.Monster ini tinggal di tengah labirin yang rumit yang dirancang oleh arsitek Daedalus untuk menyimpan sang Minotaurus. 

Setiap tahun, penduduk Athena mengirim tujuh pemuda dan tujuh gadis sebagai korban supaya tidak diserang oleh Minotaurus. Monster ini akhirnya dibunuh oleh Thesus, pahlawan Yunani yang menyamar menjadi salah satu korban. Sebelumnya, Thesus jatuh cinta pada Ariadne, putri Raja Kreta, yang memberinya pedang dan segulung benang. Thesus menggunakan benang itu untuk menyelusuri kembali jejaknya supaya bisa keluar dari dalam labirin yang rumit.

Indra Jaya Piliang

IJP: Legislator Layak Laga

Written By oyong liza on Minggu, 16 Maret 2014 | 20.43





Pemilu 09 April 2014 tinggal menghitung hari. Berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga, peta kekuatan politik sepertinya bergeser. PDI Perjuangan dan Partai Golkar berada di papan atas, diikuti oleh Partai Gerindra atau Partai Demokrat. Di luar itu, partai-partai lain masih bersaing untuk mendapatkan suara, minimal lolos dari Parliamentary Threshold sebesar 3,5% dari total pemilih. Persaingan di papan tengah dan papan bawah berlangsung ketat, baik antara partai lama ataupun partai baru.  

Persaingan juga terjadi di kalangan calon anggota legislatif. Kampanye tertutup sudah digelar, lalu diikuti kampanye terbuka. Masing-masing calon legislatif ini mencoba mendapatkan suara yang lebih dari kandidat yang lain. Beragam cara dilakukan, baik yang mengikuti aturan atau tidak. Penyelenggara dan pengawas pemilu juga bekerja keras, guna mendapatkan pemilu yang berkualitas, sekaligus hasil yang sesuai dengan pilihan rakyat. 

Guna memenuhi kuota calon anggota legislatif, tidak semua calon memiliki kemampuan yang baik. Tinggal rakyat yang memilih di antara para calon itu. Apakah mereka layak atau tidak? Kemampuan itu diukur dari banyak hal, mengingat masa jabatan yang diemban adalah lima tahun. Selain harus menguasai aturan perundang-undangan terkait dengan tugasnya sebagai anggota legislatif, caleg yang bersangkutan juga perlu mengenal dan dikenal di daerah pemilihannya. Saling kenal-mengenal itu terutama dari aspek pemerintahan, di pelbagai bidang, selain tentunya kehidupan penduduknya.

Pengenalan itulah yang diformulasikan dalam bentuk program, terutama terkait dengan kerja di legislatif. Tapi, masih banyak caleg yang menawarkan program, seolah mau duduk di kursi eksekutif. Misalnya, pengadaan infrastruktur, barang dan jasa. Idealnya, caleg menjelaskan apa kerja di legislatif, agar harapan publik tidak terlalu tinggi. Janji-janji kampanye juga perlu realistis, misalnya membawa aspirasi warga ke dalam rapat-rapat yang terkait dengan anggaran pemerintah. Rapat-rapat itu terutama dalam masa penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Kalau hanya mengandalkan gaji sebagai wakil rakyat, tentulah tidak ada anggaran yang bisa digunakan untuk rakyat. Bagaimanapun, kebutuhan sebagai anggota legislatif juga tinggi, termasuk dan terutama sebagai anggota partai politik. Rata-rata partai politik di Indonesia – dan luar negeri – memotong gaji seorang anggota legislatif. Pemotongan itu digunakan untuk membiayai kewajiban partai politik dalam mengelola kantornya, termasuk juga para staf tetap dan honorer yang digaji. Partai politik sedikit sekali dapat anggaran dari negara, sehingga kebutuhan anggaran itu dimintakan kepada anggota legislatifnya.

Kualitas Legislator


Persepsi masyarakat masih bias terhadap anggota legislatif. Rakyat menganggap, jalur legislatif adalah jalur mobilitas vertikal (naik status). Bagi para caleg yang dianggap tidak memiliki pekerjaan, jadi anggota legislatif dipersepsikan sebagai cara untuk menerima penghasilan bulanan. Bisa jadi ada motif seperti itu, tetapi motif itu harus dihilangkan. Kalaupun ada caleg yang berasal dari kalangan ekonomi lemah, tentu mereka memiliki formulasi yang akurat menyangkut peningkatan ekonomi. Pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah. Artinya, sebagai suara publik murni, para legislator yang berasal dari kalangan yang tidak berpunya bisa menjadi kekuatan perubahan sistem penganggaran. 


Kualitas legislator kita memang masih kurang, dibandingkan dengan kompetensi yang diinginkan. Rata-rata sumber daya manusia yang berkualitas sudah terlebih dahulu memilih menjagi pegawai negeri sipil, pekerja profesional atau aktif sebagai wiraswasta. Makanya, terdapat sejumlah pensiunan pejabat atau pegawai pemerintah yang kemudian terjun ke dunia politik praktis. Dengan pengalaman yang mereka dapatkan, serta pengetahuan yang dimiliki, mereka berharap bisa semakin memperbaiki keadaan. Bagi saya, tidak ada masalah dari-manapun asalnya para legislator ini. Yang penting mereka memiliki nyali yang besar guna menghadapi kalangan eksekutif yang lebih kuat dan terlatih.

Diluar kualitas legislator yang rendah, partai politik juga memiliki keterbatasan dalam melatih dan mendidik mereka. Partai politik sudah dibebani dengan tugas-tugas yang diberikan undang-undang, mulai dari sarana, prasarana, pendidikan politik, sampai tugas-tugas yang ada di legislatif dan juga kader di eksekutif. Struktur organisasi partai politik hampir sama dengan struktur pemerintahan. Anggaran dari publik dan pemerintah terbatas. Partai politik mengandalkan anggaran dari pengurus, terutama pengurus di tingkat pusat, diluar pungutan yang dibebankan kepada anggota legislatif terpilih dan anggaran dari negara dalam jumlah kecil. Sementara, pendidikan politik jelas memakan anggaran besar. 

Legislator juga memiliki keterbatasan. Selain kurang didukung oleh jaringan tenaga ahli yang ideal, guna mengikuti perkembangan sesuai dengan bidang tugasnya, legislator memiliki beban lain terhadap konstituen. Negara memberikan anggaran untuk kegiatan yang terkait dengan daerah pemilihan, yakni dana reses. Hanya saja, anggaran itu tidak bisa dipakai sesuai dengan kehendak sang legislator ataupun kehendak konstituen. Anggarannya dikemas dalam bentuk kegiatan tatap muka, sosialisasi aturan perundangan, sampai seminar publik tentang empat pilar kebangsaan.  Bantuan langsung berupa dana jelas terbatas hanya kepada isi kantong sang legislator. 

Sebaliknya dengan pegawai negara. Sebagian malahan sudah diberikan beasiswa sejak jenjang pendidikan formal. Lalu seluruhnya mendapatkan hak pensiun. Mau disebut sebagai pegawai pusat, ataupun pegawai daerah, tetap saja yang namanya pegawai negeri mendapatkan hak pensiun. Pelbagai tunjangan juga diberikan. Belum lagi beasiswa pendidikan, tanpa harus mengundurkan diri sebagai pegawai negeri. Tidak heran kalau gaji dan belanja pegawai negeri mencapai angka 60 % - 70% dari total APBD. Bandingkan dengan anggaran yang diperoleh partai politik yang tak sampai 1%-nya.

Nyali Legislator


Legislator layak laga jelas dibutuhkan untuk bangsa ini ke depan. Apalagi politik kian mengarah kepada individu, ketimbang kepada partai politik. Figur jauh lebih berpengaruh dari partai politik. Padahal, keseimbangan politik diperlukan guna mendekatkan antara figur dengan partai politik. Pengorganisasian politik kian dibutuhkan, dengan manajemen yang makin moderen. Anggaran partai politik juga perlu dibuat transparan, tetapi tentunya dengan memasukkan anggaran publik. Ironi demokrasi hari ini adalah semua pihak merasa berhak memeriksa dan menilai partai politik, sementara mereka sama sekali tidak mau berkontribusi kepada partai politik. 


Sementara, legislator masih didominasi oleh kekuatan pribadi dan keluarga, ketimbang organisasi. Legislator harus mengurus banyak hal sekaligus secara bersamaan. Di samping menguasai bidang tugasnya di parlemen, legislator juga berusaha meraih dukungan dari publik di daerah pemilihannya. Di luar itu, legislator juga harus memiliki kontribusi kepada partai politik pengusungnya. Apabila sikap legislator itu bertentangan dengan pimpinan partai politik, bisa saja ditarik setiap saat dari kursi legislatif. Absensi juga diawasi publik, termasuk tatkala tertidur sebentar di dalam rapat yang terbuka untuk umum. 

Legislator layak laga untuk kursi nasional juga diperlukan guna menghadapi globalisasi. Artinya, legislator-legislator ini perlu mengubah dirinya sebagai diplomat ketika berhadapan dengan pejabat-pejabat atau kepentingan-kepentingan negara lain. Penciuman legislator ini harus tajam, guna melihat kepentingan asing yang bermain dalam kebijakan-kebijakan nasional. Setiap saat, ketika ada masalah yang terkait dengan kerugian Indonesia dalam percaturan politik internasional, legislator nasional ini perlu memberikan peringatan. Tentu penguasaan bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris, juga menjadi penentu bagi daya jelajah legislator jenis ini. 

Diluar itu? Nyali sebagai legislator. Nyali itu penting, mengingat hambatan-hambatan yang dimiliki legislator dalam kiprahnya. Bukan hanya legislator itu berani berseberangan dengan seorang presiden yang dianggap lebih tinggi posisinya, melainkan juga terkadang perlu berbeda pendapat dengan pimpinan partainya sendiri. Legislator sebetulnya tidak perlu terlalu takut kepada pihak lain, mengingat publik pada gilirannya menjadi penentu tepat atau tidaknya pilihan yang diambil. Perseberangan dengan pihak lain justru bisa dihargai publik, dengan cara mengusung lagi untuk jabatan yang sama atau berbeda sama sekali. 

Legislator layak laga adalah legislator yang memiliki nyali. Dalam posisi yang lebih moderen, tentunya legislator yang bisa mengumpulkan dana kampanye dan suara dari publik. Ke depan, legislator ini juga perlu membina komite-komite pemilih yang terus menyeberangkan aspirasi ke meja sang legislator. Komite-komite pemilih inilah yang bekerja di akar rumput, guna mengawal kerja seorang legislator, sekaligus juga memastikannya terpilih lagi. Bukan saatnya lagi uang memegang kendali dalam kontestasi politik, melainkan kemampuan yang benar-benar dimiliki oleh sang legislator.

Indra J Piliang

Pemilukada Bakal Serentak?

Written By oyong liza on Selasa, 04 Februari 2014 | 19.29





Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia telah mengeluarkan putusan bahwa pemilihan umum presiden dan wakil presiden, serta pemilihan umum legislatif, dilakukan serentak. Putusan MK itu dilaksanakan pada tahun 2019 nanti. Polemik seputar pelaksanaan waktu pemilu serentak pada tahun 2019 sudah mengemuka. Pandangan penulis, pemilu 2014 dan pilpres 2014 tetap sah, mengingat landasan konstitusionalnya sudah termaktub dalam putusan MK. Ketika MK memberikan angka tahun 2019 sebagai waktu pelaksanaan pemilu serentak, lebih terkait dengan alasan teknis perundangan, betapa kalender pemilu 2014 sudah berjalan.

Di luar itu, kontroversi terjadi menyangkut pembacaan putusan MK. Berdasarkan informasi, Rapat Permusyawaratan Hakim MK sudah mengambil putusan pada bulan Maret 2013 lalu. Kalau dibacakan bulan itu, masih ada waktu untuk merevisi dan menyesuaikan sejumlah undang-undang terkait amar putusan itu. Soalnya, kalender pemilu 2014 ini dimulai pada tanggal 09 April 2013 lalu, tepat setahun sebelum pemilu 2014 dilaksanakan. Taruhlah pemilu serentak dilaksanakan pada bulan Juli 2014 ini, masih ada waktu selama tiga bulan untuk menyiapkan sejumlah undang-undang terkait, yakni bulan April, Mei dan Juni 2013 lalu. “Misteri” keterlambatan pembacaan putusan inilah yang belum sepenuhnya terjawab.

Walau tidak ada dalam materi gugatan, putusan pemilu serentak itu dengan sendirinya juga membawa konsekuensi kepada pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) secara serentak. Sejak kewenangan Mahkamah Agung (MA) diambil alih MK untuk menyidangkan sengketa pemilihan langsung kepala daerah (pilkada), maka pilkada sudah masuk kepada rezim pemilu. Pilkada bukan lagi rezim yang terpisah atau berada di bawah pemilu. Istilah pilkadapun diganti menjadi pemilukada. Kewenangan MK melakukan sidang gugatan sengketa pemilukada ini menunjukkan bahwa pemilukada dan pemilu berada dalam level yang sama. Pemilu tidak lebih tinggi dari pemilukada, begitupun sebaliknya.

Masalahnya, materi gugatannya belum diajukan ke MK. Pemerintah dan DPR malah sedang melakukan revisi atas UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Revisi itu berupa akan dibuatnya UU tentang Pemilihan Kepala Pemerintahan Daerah (UU Pemilukada). Materinya masih berupa perdebatan lama, apakah kepala daerah dipilih langsung atau dikembalikan kepada DPRD. Padahal, jauh lebih baik diuji dulu azas konstitusionalitas dari pemilukada yang selama ini berlangsung. Kalau pemilukada konstitusional, maka tidak ada jalan mengembalikan lagi kepada DPRD. Apabila UU itu telanjur disahkan, lalu muncul gugatan di MK, ada kemungkinan dibatalkan lagi oleh MK.

Pemilukada Serentak

Sejak UU Nomor 22/2004 tentang Pemerintahan Daerah disahkan, sudah ada upaya agar pilkada/pemilukada dilakukan secara serentak secara bertahap. Namun, usaha itu belum menampakkan hasil. Bukan berarti upaya itu tidak berjalan. Hanya saja masih berada dalam lingkup terbatas dan berdasarkan kesepakatan antara KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota dengan pihak pemerintahan daerah. Bagaimanapun, pembiayaan pilkada/pemilukada dibebankan kepada anggaran daerah. Upaya ini masih berupa terobosan, bukan berdasarkan sistem perundang-undangan. Inisiatif lebih banyak dilakukan oleh penyelenggara pemilu di daerah, bersama pemerintahan daerahnya masing-masing.

Pemerintah pusat juga sudah menggeser agenda pilkada/pemilukada untuk tidak dijalankan selama tahun pemilu. Hal ini juga tidak berhasil, mengingat ada sejumlah pemilukada yang dilakukan tahun 2014 ini, yakni pemilihan walikota dan wakil walikota Padang putaran kedua atau pemungutan suara ulang dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur di Maluku Utara. Bahkan, bisa jadi pemilihan gubernur dan wakil gubernur Lampung juga dilakukan tahun ini. Tidak adanya landasan konstitusi dan aturan perundang-undangan menyebabkan proses itu terus berjalan. Seandainya tidak ada gugatan hasil pilwako di Padang pada putaran pertama lalu, barangkali sebelum tahun 2014 walikota dan wakil walikota Padang terpilih sudah ada.

Pemilukada serentak lebih memberi kepastian bagi pelaksanaan program pemerintah secara bersamaan. Hampir tidak ada satupun wilayah pemerintahan yang berbatasan dengan wilayah pemerintahan lain yang tidak memerlukan kerjasama. Ketika jalanan rusak di satu kabupaten, namun merupakan bagian dari jalan provinsi, maka diperlukan kerjasama dengan kabupaten atau kota tetangganya. Bayangkan kalau salah satunya sedang sibuk dengan pemilukada.

Banjir Jakarta 2014 ini memperlihatkan upaya kerjasama antara tiga pemerintahan provinsi: Jakarta, Jawa Barat dan Banten, berikut level pemerintahan kota (Tangerang, Tangerang Selatan, Bogor dan Depok) dan kabupaten (Bogor, Bekasi dan Tangerang). Memang, di wilayah ini tidak ada pemilukada. Tetapi bayangkan kalau banjir berlangsung pada saat pemilukada.

Terdapat kurang lebih 33 kewenangan yang sudah didesentralisasikan ke daerah, baik di bidang pendidikan, kesehatan, sampai pertanian. Apabila terjadi serangan hama secara serentak di area pertanian yang bersifat lintas daerah, sementara pemilukada sedang berlangsung di salah satu daerah itu, bisa jadi akan menjadi serangan politik. Coba kalau pemilukada serentak, bisa dipastikan setiap kontestan akan mengajukan gagasan terbaik guna menanggulangi hama itu.

Dengan pemilukada serentak, program yang disusun juga bisa menjadi lebih seragam antar kontestan yang berasal dari partai (koalisi) yang sama. Belum lagi akan terbentuk koalisi yang bersifat hampir seragam di seluruh Indonesia. Kecil kemungkinan Partai X koalisi dengan Partai Y di daerah A, sementara di daerah B yang berdekatan Partai X koalisi dengan Partai Z melawan Partai Y.

Pemilu Lokal

Pilihan lain bisa tersedia, kalau landasan konstitusionalnya sudah dirumuskan. Salah satunya, pemilu serentak bisa saja ditafsirkan hanya untuk pemilihan anggota DPR RI, DPR RI dan Presiden/Wakil Presiden. Sementara, pemilu anggota DPRD provinsi, kabupaten dan kota, serta Gubernur, Bupati dan Walikota, dilakukan secara terpisah. Yang terjadi adalah pemisahan antara pemilu nasional yang serentak dengan pemilu lokal yang juga serentak. Celah untuk menggugat lagi ke MK masih tersedia, mengingat UUD 1945 hasil amandemen membedakan antara pemerintahan nasional dengan pemerintahan daerah.

Muara pemisahan itu sudah jelas, yakni anggota DPRD sama sekali tidak memiliki kedudukan yang setara dengan anggota DPR. Anggota DPRD tidak ditempatkan sebagai pejabat publik yang berhak mendapatkan pensiun, misalnya, sebagaimana halnya dengan anggota DPR. Perbedaan perlakuan antara anggota DPRD dan anggota DPR juga terjadi, menyangkut sejumlah hak yang diterima. Padahal, anggota DPRD jauh lebih dekat dengan konstituen di daerah, dibandingkan dengan anggota DPR yang berkedudukan di ibukota negara. Kecuali untuk DPRD DKI, tunjangan yang diterima anggota DPRD lain sama sekali jauh lebih kecil dibandingkan dengan anggota DPR RI.

Berdasarkan pasal-pasal dalam UUD 1945 hasil perubahan dan praktek kenegaraan selama ini, penulis lebih meyakini bahwa pemisahan pemilu nasional dengan pemilu lokal lebih konstitusional, dibandingkan dengan pemilu serentak yang melibatkan pemilihan anggota DPRD. Makanya, perlu ada yang melakukan gugatan ke MK menyangkut pasal-pasal konstitusionalitas pemilukada dan bahkan DPRD. Apabila MK menolak mengakui bahwa hak anggota DPRD sama dengan anggota DPR, argumentasi hukum penolakan itu bisa dijadikan landasan untuk memisahkan DPRD sebagai bagian dari pemilu (nasional) yang serentak.

Mumpung diskusi soal pemilu serantak masih hangat, lalu aturan teknisnya belum dibuat, sebaiknya ada kelompok masyarakat yang mengajukan gugatan ke MK menyangkut soal ini. Kalau perlu, waktu gugatannya dilayangkan sebelum pemilu 2014 ini, mengingat agenda persidangan MK akan sangat padat pasca pemilu. Waktu yang lain adalah pasca sengketa pilpres 2014 disidangkan MK, sebelum tahun 2014 ini berakhir. MK memiliki masa yang lumayan luang, sebelum tahun 2015 yang dipenuhi dengan agenda-agenda sengketa pemilukada.

Indra Jaya Piliang

Penanggulangan Bencana

Written By oyong liza on Rabu, 29 Januari 2014 | 23.09






Robert Fogel, seorang sejarawan, meraih penghargaan Nobel di bidang ekonomi setelah menerbitkan karya tentang pengaruh jalan kereta api bagi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada abad ke-19. Jarang ada sejarawan bisa meraih hadiah Nobel Ekonomi. Ia meraihnya pada 1993, jauh setelah karya-karyanya diterbitkan pada 1964. Fogel dilahirkan pada 1926 dan meninggal dunia dalam usia 86 tahun pada 11 Juni 2013.

    Fogel menghitung dampak pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat akibat pengaruh jalan kereta api. Pendapatnya mengundang kontroversi luas, yakni ekonomi AS jauh lebih berkembang lagi apabila jalan kereta api tidak dibangun. Ia menyebut keberadaan jalur dan alat transportasi lain, seperti kanal, gerobak, dan jalur air alami lain. Artinya, apabila Amerika membangun lebih banyak kanal, gerobak angkut ataupun perahu, dengan biaya yang lebih murah, ekonomi USA lebih berkembang lagi.

    Apa yang mau kita katakan atas karya Fogel itu? Dalam konteks Indonesia, kita lebih banyak menggunakan sarana transportasi yang berbahan impor. Contoh kasus, Jakarta. Terdapat 13 sungai (kali) yang melewati Jakarta. Yang terjadi, sungai itu malah centang perenang, mengirimkan air dalam debit yang lebih, lalu banjir ke seantero Jakarta dan sekitarnya.

    Jarang kita dengar ada kendaraan air yang digunakan sebagai jalur transportasi alternatif melewati sungai-sungai itu. Beragam bangunan berada di sisi kiri dan kanan sungai, membelintang di atasnya, termasuk berbagai jenis kabel dan pipa untuk menjadikannya sebagai bagian dari daratan.

    Indonesia kini jadi negara dengan beragam bencana. Banjir menjadi langganan, di luar gempa bumi, tanah longsor, sampai gunung meletus. Belum lagi bencana akibat kecelakaan mobil, kereta api, kapal laut, dan kapal udara. Setiap peristiwa perayaan hari besar agama, terutama Lebaran, kita tinggal menghitung seberapa banyak korban yang tewas di jalanan. Padahal, dari sejarawan kita juga bisa belajar tentang moda transportasi lain yang sudah teruji, ketika sejumlah kerajaan besar di Pulau Jawa dan Sumatera menjadikan maritim sebagai area penaklukan.

    Belum lagi daftar kerajaan menengah dan kecil yang berada di muara atau pinggiran sungai dan juga laut. Jarang yang berada di pegunungan. Yang lebih banyak kita persoalkan dan percakapkan adalah pergantian raja-raja, konflik di sekitarnya, bukan bagaimana menata pemerintahan dan membangun negara berdasarkan keadaan zamannya.

    Kita lebih menyukai jatuh-bangunnya dinasti-dinasti politik ketimbang bagaimana dinasti-dinasti itu menggunakan ilmu pengetahuan guna kepentingan kerajaan dan rakyatnya.

    Menjelang Pemilu 2014, kita menyaksikan kian berkembangnya nalar politis dibanding nalar akademis. Nalar politis masuk ke ruang-ruang pribadi kita. Beragam serangan dan pembelaan muncul, baik atas pribadi maupun atas kelompok, termasuk partai politik. Sementara, akibat-akibat dari bencana (yang juga masih berlangsung) perlu penanggulangan segera. Ini untuk tanggap darurat. Di luar itu, pengembangan infrastruktur menjadi prioritas guna mengantisipasi kejadian yang sama pada waktu mendatang.

    Negara dan bencana kian akrab di keseharian kita. Tinggal bagaimana kita lebih sungguh-sungguh lagi memikirkan penanggulangannya dalam jangka menengah dan panjang. Kalau perlu, dalam hitungan abad. *** 


Indra Jaya Piliang

Kuasa Nalar, Kuasa Intelektual

Written By oyong liza on Rabu, 15 Januari 2014 | 21.12






Dalam sistem parlementer, hari pemilu ditetapkan oleh Perdana Menteri. Biasanya, pemilu diadakan ketika ekonomi membaik atau pemerintahan sedang stabil. Kecuali ada gugatan dari pihak oposisi yang menginginkan pemilu dipercepat, sebagaimana terjadi di Thailand. Pemerintah bisa saja menunda pemilu, apabila diprediksi akan memberikan kerugian secara politik. Tujuannya tentu agar partai pemerintah bisa memenangkan pemilu.

Masalahnya, Indonesia menganut sistem presidensial. Ada banyak istilah yang dipakai, baik presidensial yang lemah atau presidensial yang kuat. Sebelum amandemen UUD 1945, sistem presidensial kita begitu kuat. Hasilnya adalah pemerintahan Presiden Sukarno selama 20 tahun dan pemerintahan Presiden Soeharto selama 30 tahun lebih. Presiden bisa dipilih berkali-kali. Pembatasan masa jabatan presiden selama dua periode mengurangi kelanggengan sistem presidensial itu. Belum lagi beragam hak yang semula menjadi prerogatif presiden, kemudian dialihkan atau dibagi ke lembaga legislatif. 

Bentuk pemerintahan yang sentralistis, juga menjadi desentralistis. Kekuasaan lembaga kepresidenan kian terbagi ke daerah-daerah, baik provinsi, kabupaten ataupun kota. Hadirnya sejumlah lembaga negara atau komisi negara barupun mendapatkan legitimasi dari parlemen. Artinya, sulit berharap kalau seorang presiden saja bisa menyelesaikan masalah-masalah besar di Indonesia, apalagi kalau ruang lingkupnya masuk kewenangan pemerintahan daerah atau lembaga lain itu. Sekuat apapun seorang presiden, tetap saja memiliki keterbatasan menurut konstitusi dan aturan perundangan lainnya. 

Sayangnya, kurangnya pendidikan kewarga-negaraan menyebabkan sedikit sekali upaya untuk memahaminya di kalangan penyelenggara negara, apatah lagi masyarakat banyak. Padahal, di tengah kontestasi dan kompetisi politik sekarang, pemahaman ini amat diperlukan guna menjaga ekspektasi publik. Sejumlah survei persepsi publik menunjukkan lonjakan perhatian kepada figur calon presiden, ketimbang mencoba melihat persoalan secara lebih utuh. Begitu pula amat mudah melemparkan tanggungjawab persoalan tertentu ke lembaga kepresidenan, ketimbang menyelesaikan berdasarkan kewenangan yang dimiliki oleh pihak lain. Figur kini kian dilirik, sementara struktur kelembagaan yang menyokong figur itu sama sekali kurang digali.

Geliat Oposisi

Dalam banyak survei juga terlihat kian lemahnya kinerja pemerintahan pusat secara umum. Publik mengalami ketidak-puasan yang nyata atas kondisi hari ini. Melambungnya harga kebutuhan pokok menjadi perhatian utama publik, ketika kinerja di sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan dirasakan kian baik. Perhatian publik juga terjadi ke sektor lapangan kerja. Kian banyaknya angkatan kerja tidak diimbangi oleh ketersediaan lapangan kerja. 


Akibatnya, jumlah angka pengangguran membengkak, rata-rata di Pulau Jawa. Bahkan, janji pertumbuhan ekonomi sebesar 7% yang disampaikan pasangan SBY-Boediono dalam debat Pilpres 2009 sama sekali sulit dicapai. 

Akibat paling terasa dari lemahnya kinerja pemerintah ini adalah berkurangnya secara drastis dukungan publik terhadap partai-partai pendukung pemerintah. Hanya Partai Golkar yang mampu berada di atas batas psikologisnya, yakni di atas perolehan suara dalam pemilu 2009. Partai-partai koalisi pemerintah lain rata-rata turun sampai 50%, bahkan lebih. Partai-partai yang menyebut diri sebagai “oposisi” menggeliat, bahkan meraup angka elektabilitas signifikan, terutama PDI Perjuangan, Partai Gerindra dan Partai Hanura. Masyarakat langsung memberikan hukuman kepada pihak yang dianggap mengemudikan perjalanan kapal besar Indonesia ini. 

Padahal, kalau mau dilihat, bahkan partai-partai yang menyebut diri sebagai “oposisi” juga memiliki kepala-kepala pemerintahan di daerah, baik provinsi, kabupaten atau kota. DKI Jakarta dan Jawa Tengah, misalnya, dipimpin kader PDI Perjuangan. Sementara Jawa Timur memang dipimpin kader Partai Demokrat, Jawa Barat dipimpin kader Partai Keadilan Sejahtera, sementara Banten dipimpin kader Partai Golkar sebelum dijadikan tersangka. Publik sama sekali belum bisa membagi-bagi reward and punishment berdasarkan kewenangan pemerintahan, melainkan terus melihat pada titik puncak penguasa negara. Hal ini tentu tidak terlepas dari cengkraman informasi yang hinggap dalam kepala masyarakat. Desentralisasi kekuasaan belum dengan sendirinya membuahkan desentralisasi informasi dengan skala yang sama-sama masifnya. 

Kalangan Ahli

Ke depan, diperlukan lebih banyak kalangan ahli untuk memasuki lapangan politik praktis, baik di pemerintahan, lagislatif ataupun komisi-komisi negara. Selama ini ada yang sudah memiliki keahlian seperti itu, tetapi kurang memberikan kontribusi kepada khalayak ramai. Bagi yang biasa berpikir politis, mereka dimasukkan ke dalam kategori orang-orang yang “bermain aman”. Tetapi bagi mereka sendiri, itulah contoh kerja profesional. Tanpa bermaksud memberikan arahan, sebaiknya mereka menulis buku usai bekerja di lingkungan yang masuk kategori politik praktis itu. Banyak negarawan menjadi negarawan, justru setelah mengakhiri masa tugasnya. Tulisan-tulisan Mohammad Hatta tentang ekonomi ataupun AH Nasution tentang militer, misalnya, ditulis setelah tidak lagi memiliki jabatan di pemerintahan dan militer. 

Tetapi, diluar itu, jangan sampai pemahaman publik melenceng selama perjalanan pemerintahan. Karena itu diperlukan penjelasan lebih dalam, walau hanya sekilas, setiap kali satu persoalan muncul. Penjelasan ini perlu berkali-kali. Setiap orang yang merasa dirinya sebagai intelektual, mau berada di lingkungan manapun, sebetulnya memiliki kewajiban intelektual untuk menjelaskan soal-soal ini kepada publik. Apalagi, kebebasan media begitu besar. Jangan sampai persepsi keliru telanjur terbentuk, sehingga siapapun yang berikutnya berada di lingkungan kekuasaan harus menjelaskan ulang. Semakin banyak yang memiliki pemahaman yang sama, semakin mudah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul. 

Di sinilah diperlukan nalar intelektual di setiap aliran kekuasaan. Nalar intelektual itu berupa sikap kritis dan skeptis atas apapun yang dikerjakan, apalagi ketika menggenggam kekuasaan. Di harian ini saya pernah ulas tentang sejumlah intelektual yang menjadi terpidana kasus-kasus korupsi. Bukan makin berkurang, melainkan jumlah kaum intelektual atau minimal dalam pengertian yang mencapai jenjang akademis tertinggi malah bertambah. Barangkali, orang masih menganggap “wajar” ketika politisi menjadi terpidana kasus korupsi. 

Tetapi apakah demikian dengan mereka yang mendapat status terhormat sebagai kaum intelektual? Politisi saja sangat tak wajar menjadi terpidana, apatah lagi kaum intelektual. 

Lagipula, apa yang mau dikejar lewat kekuasaan yang terbatas itu? Tidak ada kekuasaan yang benar-benar absolut sekarang. Keterbatasan bisa dalam artian kewenangan, anggaran, juga waktu. Belum tentu keterlibatan dalam kekuasaan itu satu atau dua periode, bisa saja setengah periode. Nalar intelektual yang benar diperlukan, guna memperbaiki pengaruh negatif kekuasaan itu. Nalar itu bukan hanya ketika berkuasa, melainkan terus-menerus setelah tak lagi berkuasa. Usia manusia dibandingkan dengan usia negara bisa saja lebih panjang, terutama di negara-negara baru. Tetapi ketika usia panjangpun ada masalah yang menunggu: kepikunan dalam berpikir. 

Kewajiban kaum intelektuallah untuk menghentikan kepikunan ini. Tentu dengan nalar yang terus dipakai, apalagi ketika berkuasa..

Indra Jaya Piliang

IJP: Selamat Bertapa, Cak Anas!

Written By oyong liza on Sabtu, 11 Januari 2014 | 20.23





Mari aku ceritakan kisah kita, dari generasi 1990-an. 20 tahun lalu aku bertemu denganmu di acara LK II HMI Cabang Depok. Aku jadi peserta, kau jadi pembicara. Tahun 1994 kalau tidak salah, hari, tanggal dan bulannya aku lupa. Kau waktu itu menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI). Aku tidak pernah berencana masuk HMI, asal kau tahu. Semula aku diundang menjadi pembicara LK I HMI oleh Nusron Wahid (kini dia Ketua Umum Pemuda Ansyor). Kebetulan aku datang cepat, mengikuti paparan MS Ka’ban (kini Ketua Umum Partai Bulan Bintang). Lalu aku mengisi acara. Oleh Panitia LK I, aku diberi sertifikat kelulusan sebagai kader HMI, karena mengikuti sesi paling penting, yakni Nilai Identitas Kader.

Lalu aku mengikuti sedikit proses di tubuh HMI. Aku jadi pengurus komisariat, lalu cabang. Ketika kawanku Rifky Mochtar terpilih sebagai Ketua Badko HMI Jabar, aku baru tahu bagaimana HMI. Jabatan kawanku dicopot. Berikutnya aku makin tahu HMI, ketika proses pencalonanku sebagai Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia (SMUI) ternyata tidak didukung oleh PB HMI yang waktu itu dipimpin oleh Taufik Hidayat. Aku malah dianggap terlalu ikhwan untuk ukuran HMI. Sebaliknya, aku dianggap terlalu HMI oleh para ikhwan. Ya, sudah.

Waktu peristiwa 1998, aku berada di jalanan, bersama barisan mahasiswa dan alumni Keluarga Besar Universitas Indonesia (KBUI). Aku sempat bermalam di Gedung MPR-DPR pada tanggal 19-20 Mei 1998. Setelah itu aku bekerja di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pramita, Tangerang (sekarang Universitas Pramita). Aku melihat kiprahmu di layar televisi, yakni menjadi tim ini dan tim itu, termasuk melakukan revisi terhadap paket undang-undang bidang politik. Ada nama Rama Pratama juga dijejerkan dengan namamu. Aku kenal lama dengan Rama, dia mantan manajer kampanyeku di FEUI dalam Pemira SMUI 1995.

Ketika aku bekerja sebagai peneliti dan analis di Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS), kita kembali bertemu. Malah, lebih sering bertemu. Apalagi aku sering ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), tempatmu berkantor. Aku mengisi acara-acara yang diadakan di Media Center KPU. Ketika para wartawan kesulitan menemuimu, aku dengan senang hati menghubungimu, lalu kemudian kau memberikan informasi yang mereka butuhkan. 


Namamu kembali muncul waktu ada kritikan soal mobil dinas yang dipakai oleh para komisioner KPU. Terlalu mewah. Kawan-kawan KAHMI Pro sepakat agar kau kembalikan mobil itu. Mereka saweran. Aku tak tahu detilnya, apakah ada kawan yang meminjamkan mobilnya untuk kau pakai.

***

Usai Pemilu 2004 yang berhasil itu, satu demi satu komisioner KPU diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI. Aku kebetulan akrab dengan pimpinannya. Bahkan, salah satu Wakil Ketua KPK RI, Erry Rijana Hardja Pamengkas, hadir dalam pernikahanku pada tahun 2002, lalu memberikan sambutan atas nama keluarga istriku. Aku ikut alur kepindahan kantor KPK RI ke Jalan Veteran III dari kantor pertamanya, saking seringnya kesana, berdiskusi dengan komisioner-komisionernya. Di gudang dataku, masih banyak tumpukan makalah-makalah, disain, CD sampai blue print KPK RI yang dikirimkan kepadaku, guna aku baca-baca.

Beberapa komisioner KPU ditahan KPK RI, sebagai prestasi pertama. Ah, kaum cendekiawan, rata-rata. Mereka menyebut namamu dan nama Valina Sinka Subekti juga, dua orang anggota KPU yang akrab denganku. Kalian berdua sama sekali “lolos” dari lubang maut. Dalam saat yang tidak baik buat kariermu itu, aku dan kau jadi pembicara diskusi di Blora Center, satu lembaga yang memenangkan SBY sebagai Presiden 2004-2009. Ada Johan Silalahi dan almarhum kawan kita, Yon Hotman. Aku lupa, apakah Jusuf Rizal juga ada di acara itu. Yang jelas, ketika ada Kongres Partai Demokrat di Bali pada 2005, aku ikut kesana bersama Jusuf Rizal dan Hendri Sitompul. Kongres akhirnya memilih Hadi Utomo sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Aku masih ingat diskusi itu. Di sana, aku mendorong dan menantangmu untuk membuka karier baru, yakni menjadi politisi. Nama partainya langsung aku sebut: Partai Demokrat. Pesanku jelas, politisi sipil harus mulai masuk pasar politik. Para jenderal yang membentuk partai politik di era reformasi, perlu didampingi dan dilapisi oleh politisi sipil yang memiliki keahlian dan kemampuan. Tentu aku tahu, bukan hanya aku yang kau dengarkan saran-sarannya. Yang jelas, aku dan kawan-kawan itu yang kemudian “menjerumuskan”-mu ke kancah politik, di tengah gemuruh angin perubahan.

Dan lewatmu juga – serta Andi Alifian Mallarangeng – aku menitipkan sejumlah kawan yang ingin menjadi politisi Partai Demokrat. Ya, aku sering bertemu Andi Mallarangeng di sebuah kedai kopi di seberang Istana Negara. Sejak Gus Dur tak lagi jadi presiden, aku jarang ke Istana Negara. Di era Gus Dur jadi presiden, aku sempat bekerja di dalamnya selama tiga bulan, menjadi bagian dari Tim Asistensi Presiden Bidang Ekonomi yang dianggotai Faisal H Basri, M Nawir Messi dan almarhum Arif Arryman PhD. Beberapa kali aku ke Istana, untuk duduk-duduk saja dan menikmati suasananya yang begitu terbuka untuk umum.

***

Seingatku, ketika aku kemudian memutuskan kembali menjadi politisi, tepatnya tanggal 6 Agustus 2008, kau menitipkan pesan. Ya, apalagi kalau bukan agar aku juga masuk Partai Demokrat. Tapi entahlah, aku merasa lebih baik bersahabat denganmu, ketimbang berada dalam satu perkawanan di satu partai politik. Aku ingat candaan Ja’far Hafsah, ketika mengantarkan berkas caleg Partai Demokrat ke KPU: “Indra, kamu sudah kami siapkan nomor urut satu di Sumbar II. Kenapa kamu malah ke Partai Golkar?” Beberapa kawanku memang menganjurkan aku masuk Partai Demokrat, tapi ayahku sudah memberikan satu garisan: “Kamu boleh masuk partai politik, asal kamu masuk Partai Golkar”.

Makanya, kita akhirnya menjadi dua orang yang saling memberi pesan, baik via senyuman atau candaan. Hampir tak pernah ada debat panas antara aku denganmu, ketika kita beradu argumen di layar televisi. Bahkan, kita sms-an pas debat rehat. Aku tetap memandang kau sebagai senior yang mengisi LK II-ku di HMI Cabang Depok itu. Tergigit lidahku, apabila aku bersitegang denganmu di layar kaca, sepanas apapun materi debat yang kita hadapi. Begitupula sampai debat pilpres digelar, kita tak sungguh-sungguh berdebat panas.

Sebuah lembaga mengganjar penampilan kau, Fadli Zon dan aku dengan Charta Politica Award 2009 sebagai Komunikator Terbaik Tiga Pasang Capres. Kau mendapatkannya untuk SBY-Boediono, Fadli mendapatkannya untuk Mega-Prabowo dan aku mendapatkannya untuk JK-Wiranto. Jejak jasamu jelas untuk kemenangan Partai Demokrat dan SBY-Boediono.

Ketika kau maju menjadi Calon Ketua Umum Partai Demokrat, akupun mendukungmu. Aku pasang foto kita berdua di laman facebook, lalu hadir dalam acara Pidato Kebudayaanmu di Jakarta Theater. Bahkan, aku ikut menelepon beberapa pengurus Partai Demokrat di daerah-daerah, menegaskan dukunganku. Aku menyaksikan kemenanganmu via televisi dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Waktu itu ada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalteng, Partai Golkar dan Partai Demokrat berkoalisi. Sejak saat itulah namamu menjulang, salah satunya sebagai Calon Presiden yang akan menggantikan SBY. Kau ada di urutan teratas.

Dan kisah selanjutnya kemudian publik tahu. Sengkuni sudah kau tulis dalam status bbm-mu sejak survei itu diumumkan. Lalu kau jadi tersangka kasus gratifikasi sebuah mobil yang terkait dengan perusahaan pemenang proyek Hambalang. Entah mengapa, untuk kedua kalinya kau bermasalah dengan mobil, setelah kasus pengembalian mobil KPU itu. Ah, Cak, kenapa kau tak naik sepeda saja? Bukan hanya kau, sebelumnya Nazaruddin, orang yang tidak aku kenal riwayatnya, sudah lebih dahulu ditangkap di Cartagena, Kolombia, negara tempat banyak kartel obat bius. Yang aku kaget, Anggelina Sondakh – kawanku juga – ikut jadi tersangka. Berikutnya menyusul Andi Alifian Mallarangeng. 


KPK Jilid I yang memenjarakan komisioner-komisioner KPU tak bisa menjeratmu. KPK Jilid II sama sekali menuai masalah internal. KPK Jilid III yang bahkan ikut kau pilih sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, malah menjeratmu.

Aku bersyukur kita masih punya satu momen pertemuan, yakni ketika aku maju sebagai Calon Walikota Pariaman dari jalur perseorangan. Dalam statusmu sebagai tersangka, aku kirim direct message ke akun twittermu @AnasUrbaningrum: “Cak, mau makan sate di Pariaman?” Ya, aku tidak punya nomor ponselmu, seperti sebelumnya. Semula, aku mengundang Fahmi Idris, tetapi ada acara wisuda putrinya. Dan kaupun membalasnya, cepat. Kau bahkan mengubah jadwalmu di Jambi. Kita memang tidak sempat makan sate Pariaman, saking padatnya jadwalku sejak pag sampai malam harii. Tapi setahuku, kau ke makam Syech Burhanuddin di Ulakan, makan durian di Kayu Tanam, lalu makan Sate Mak Syukur di Padang Panjang. Kau memang maestro kuliner Nusantara, Cak. Ada stafku yang ikut.

Selamat bertapa, Cak Anas. Sejak 1998 kau sudah di jalur atas seluruh pergerakan politik negeri ini. Kau lewati tiga kali pemilu dengan indah. Kau menang jadi Ketua Umum PB HMI, terpilih jadi Komisoner KPU, menang Pemilu 2009, menang Pilpres 2009, lalu menang lagi sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Jarang kau kalah, apalagi menyerah.

Untuk pemilu keempat ini, 09 April 2014, kau mungkin menggunakan hak suaramu di penjara. Ataukah juga kau menggunakan hak suaramu untuk Pilpres, 09 Juli 2014, di penjara? Yang jelas, ketika kau merayakan HUT ke-45, 16 Juli 2014, mudah-mudahan aku hadir di sisimu, bersamamu, entah di penjara, entah di mana. Kita tidak hanya merayakan HUT-mu yang 45. Kita merayakan terpilihnya Presiden Republik Indonesia ke-7 bersama-sama kawan-kawan sebarisan..


Catatan Indra Jaya Piliang

Trending Topik Bulan Ini

Super Trending Topik

postingan terdahulu