Menimbang Usulan Dahlan Iskan Soal Cuti Hamil 2 Tahun

(foto by : Ajie Nugroho; from Album K, FB Grup Kampret)
Menteri BUMN yang selalu penuh ide segar dan gebrakan baru, Dahlan Iskan, rupanya akhir-akhir ini sedang berupaya mengapresiasi pekerja wanita di BUMN. Entah apa alasannya, Dahlan menilai wanita dianggap sosok yang mampu meningkatkan kinerja BUMN. Peran wanita dinilai mampu menyinkronkan pemikiran-pemikiran feminin. Itu sebabnya Dahlan galau jika banyak wanita mengundurkan diri dari BUMN karena melahirkan anak. Ia menilai biasanya perempuan yang baru memiliki anak secara tidak langsung fokus untuk mengurus anaknya dan berhenti bekerja. Seperti yang dikutip Kantor Berita Antara.
Dahlan menghimbau agar BUMN menyediakan ruang perawatan bayi. Gerakan ini untuk mempertahankan kinerja perusahaan supaya perempuan yang memiliki bayi dan bekerja di BUMN bisa terus bekerja sembari mengurus anak. (Sumber : Antara-1). Selain itu, Dahlan juga mempertimbangkan agar wanita karir yang bekerja di BUMN bisa mendapat cuti hamil selama 1 hingga 2 tahun, namun tanggungan sendiri. (Sumber : Antara-2).
Bagi anda yang belum mengetahui apa makna “tanggungan sendiri”, ada baiknya saya jelaskan agar tak menimbulkan miss-perception. Cuti Diluar Tanggungan Perusahaan (CDTP) adalah cuti yang dimungkinkan diberikan kepada pekerja karena beberapa alasan khusus. Cuti semacam ini diberikan kepada pekerja dengan beberapa persyaratan khusus. Misalnya telah bekerja di perusahaan tersebut selama kurun waktu tertentu – umumnya minimal 3 sampai 5 tahun terus menerus – dengan kondite yang tidak tercela dan prestasi kerja yang baik. Pekerja diperbolehkan cuti untuk jangka waktu yang cukup panjang, tetapi selama cuti perusahaan tidak membayarkan hak-haknya (meliputi gaji dan berbgaai tunjangan, termasuk tidak membayarkan premi Jamsostek, asuransi kesehatan dan iuran/premi dana pensiun).
Tidak sembarangan cuti ini diberikan. Alasannya haruslah tepat. Misalnya seorang pekerja wanita yang harus mengikuti suaminya yang pindah tugas ke kota/wilayah lain selama jangka waktu tertentu dan dipastikan akan kembali ke kota itu setelah penugasannya selesai. Atau seorang wanita yang hamil dan oleh dokter yang berkompeten dinyatakan mengalami “lemah kandungan” sehingga selama hamil harus bed rest total, maka cuti hamil dan melahirkan yang hanya 3 bulan tak akan mampu menutupi kebutuhan istirahatnya, maka istirahat bed rest selama hamil itu bisa dikompensasi menjadi CDTP. Atau seorang pekerja yang terpaksa harus merawat orang tuanya yang sakit parah dan dirawat di RS – ini salah satu syarat, sebab jika hanya di rawat di rumah sendiri, tidak bisa diajukan CDTP – boleh meminta ijin untuk CDTP.
Atau alasan lain, misalnya karena pekerja tersebut mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan dari lembaga lain (bukan perusahaan tempatnya bekerja), dimana tempat pendidikannya berada di kota lain atau bahkan di luar negeri, dia bisa mengajukan CDTP. Termasuk juga melanjutkan pendidikan atas biaya sendiri. Umumnya, CDTP ini berlaku di BUMN dan tidak di perusahaan swasta. Dikabulkan atau tidaknya permohonan CDTP sepenuhnya menjadi hak prerogatif perusahaan

 Karena itu HRD harus punya “intel” untuk menelisik kebenaran alasannya. Saya pernah merekomendasikan Direktur kami untuk menolak permohonan CDTP dari seorang pekerja, karena kebetulan saya tahu alasannya untuk melanjutkan pendidikan hanya akal-akalan untuk mencari kerja di tempat lain, disamping itu saya memiliki banyak bukti dan catatan tentang track record disiplin dan kinerja karyawan tersebut yang amburadul.
13402546431195064324
(sumber foto : vemale.com)
Nah, kembali ke topik : cuti hamil 1 – 2 tahun bagi wanita karir di BUMN dengan tanggungan sendiri. Benarkah seserius itu sudah diperlukan? Kalau ia, sudah tepatkah diimplementasikan di negara kita yang mentalitas pekerjanya masih jauh dari negara lain yang memberikan previlege serupa? Mari kita kaji satu persatu.
Pengalaman saya bekerja di BUMN selama 17 tahun kurang 2 bulan dan sebagian besar saya habiskan di Divisi HRD, sepengetahuan saya sangat jarang karyawati yang mengundurkan diri usai melahirkan. Bahwa kemudian kinerja mereka menurun selama periode anaknya usia 0 -2 tahun, memang banyak yang begitu, sebab pada kurun waktu itu si bayi sering sakit dan biasanya ibunya kerap mengajukan cuti, bahkan sampai melebihi hak cuti tahunan yang hanya 12 hari. Bagi sebagian orang, bekerja di BUMN masih jauh lebih enak ketimbang di swasta, itu sebabnya tak mudah memutuskan berhenti hanya dengan alasan punya bayi.
Sebenarnya, cuti hamil yang dijamin oleh Undang-Undang Ketenagakerjaan selama 3 bulan itu mencakup cuti hamil dan melahirkan. Yaitu 1,5 bulan sebelum waktu melahirkan sesuai prediksi dokter dan 1,5 bulan pasca tanggal kelahiran. DI BUMN tempat saya bekerja dulu, aturan ini benar-benar dipatuhi. Tapi saya tahu di banyak perusahaan aturan ini diterapkan suka-suka. Banyak pekerja wanita yang baru mengambil cuti seminggu sebelum melahirkan atau bahkan 3 hari sebelum tanggal kelahiran. Alasannya supaya lebih lama mengurus bayinya. Padahal, filosofi dari cuti hamil dan melahirkan adalah memberikan istirahat yang cukup bagi wanita yang hamil tua. Bukankah wanita yang hamil 8 bulan sudah sangat kepayahan untuk dipaksa bekerja? Sayangnya, maksud baik ini justru di-salah kaprah-kan oleh kaum wanita sendiri.
Lalu bagaimana dengan usulan Pak DI untuk memberikan cuti hamil antara 1 – 2 tahun, meski dengan tanggungan sendiri? Apakah cukup efektif? Lalu bagaimana kalau setelah menjalani CDTP selama 2 tahun, kemudian kembali bekerja dan setahun kemudian hamil lagi anak berikutnya? Kalau hal ini terulang sampai anak ke-3, apakah pemberian CDTP ini bukannya malah menjadi kemanjaan dan justru tidak memicu kinerja?
1340254754188423806
(sumber foto : beritaonline.web.id)
Sebagai pembanding, saya akan berikan gambaran di Jepang. Sistem perundangan di Jepang sangat melindungi hak-hak wanita bekerja. Sejak April 1986 ada UU Kesetaraan Hak antara Pria dan Wanita dalam bekerja (Equal Employment Opportunity Law). Kebanyakan perusahaan Jepang merekrut pekerja wanita dalam suatu sistem yang terpisah dan menugaskan mereka sebagai asisten bagi pekerja pria. Sebab banyak pekerja wanita yang kemudian keluar/ berhenti bekerja selama beberapa tahun karena alasan menikah atau karena beberpa sebab lain.
Sebenarnya wanita bekerja di Jepang mendapat berbagai macam previlege yang tidak didapat pekerja pria. Begitu dinyatakan hamil oleh dokter, seorang pekerja wanita berhak atas ”diskon” jam kerja tanpa pengurangan upah sedikitpun. Diskon yang saya maksud : mereka boleh berangkat dari rumah selepas rush hour, karena naik kereta pada saat rush hour memang membahayakan bagi wanita hamil. Jadi kalau rush hour berakhir jam 9.00 sementara perjalanan dari rumah ke kantor butuh waktu 2 jam, maka wanita tersebut boleh tiba di kantor setelah jam 11.00. Pulangnya pun bisa 2 jam lebih awal agar tak terjebak rush hour petang harinya.
Cuti hamilnya sampai 6 bulan. Bahkan kalau sang bayi membutuhkan perawatan khusus, si Ibu bisa cuti sampai bayinya berumur setahun. Wanita yang memiliki anak usia balita, bisa mendapatkan berbagai macam hak cuti lainnya. Juga hak cuti untuk mendampingi anaknya memulai masuk sekolah pada saat si anak berusia 6 tahun. Bahkan di Jepang pun dikenal istilah cuti untuk merawat orang tua yang sudah lansia dan menderita sakit. Semuanya itu diberikan tanpa mengurangi gaji dan tunjangan lainnya. Wah, enak sekali ya jadi wanita bekerja di Jepang. Tapi kenapa mereka enggan memanfaatkannya dan justru memilih resign?
Pada salah satu kesempatan kuliah tamu di sekolah saya, diundang praktisi HRD dari perbankan. Seorang teman saya bertanya : di negara lain umumnya pekerja bank didominasi wanita, kenapa di Jepang tidak? Manager HRD itu menjawab : umumnya wanita Jepang ”malu hati” dengan sendirinya kalau dimanjakan begitu. Mereka ”sungkan” menerima banyak hak istimewa, sementara kontribusinya tak lebih banyak dibanding pekerja pria. Tak ada yang menyuruh mereka keluar, tapi para wanita itu sendiri yang memilih mengundurkan diri, karena tahu diri bakal sering tidak masuk. Bahkan walaupun pihak perusahaan bersedia menerimanya kembali bekerja setelah melahirkan, mereka lebih memilih kembali bekerja setelah anak-anaknya bisa mandiri. Meski konsekwensinya hanya mendapatkan pekerjaan paruh waktu (part time) atau jadi pekerja kontrak saja.
1340254870306027921
(sumber foto : www.kehamilansehat.net)
Jadi selain faktor budaya dalam keluarga Jepang yang menempatkan ”wanita kodratnya melayani keluarga”, juga ada budaya ”malu” menerima hak lebih banyak kalau sekiranya tak bisa memberikan kontribusi lebih banyak. Jumlah wanita bekerja terbanyak ditempati oleh kelompok usia 25 -29 tahun, yang pada tahun 1975 hanya 42,6%, pada tahun 2003 telah meningkat menjadi 73,4%. Ini prosentase tertinggi dalam tingkat partisipasi wanita bekerja di semua kelompok umur. Bila dicermati, pada usia tersebut, seorang wanita telah menyelesaikan pendidikannya sampai tingkat sarjana dan umumnya mereka belum memasuki usia pernikahan bagi wanita Jepang modern.
Prosentase tersebut terus mengalami penurunan pada wanita kelompok usia 30 tahun ke atas dan grafiknya baru meningkat lagi pada kelompok usia 40 – 44 tahun (70,3%) dan kelompok usia 45 – 49 tahun (72,5%). Apabila rata-rata wanita Jepang modern baru memasuki gerbang rumah tangga pada usia 30 tahun, maka pada usia 45 tahunan anak-anak mereka sudah memasuki usia remaja dan sudah relatif mandiri, sehingga si ibu merasa aman untuk meninggalkan rumahnya dan kembali bekerja. Bahkan prosentase jumlah wanita paruh baya (di atas 50 tahun) yang bekerja jumlahnya mencapai 58,9%. Jumlah ini hampir sama dibanding prosentase rata-rata wanita bekerja di usia 30 – 39 tahun yang hanya berkisar 60%-an saja.
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa stereotype peran ibu sebagai “pengatur rumah tangga” dan tempatnya di dalam rumah, masih belum sepenuhnya pupus dalam norma keluarga Jepang modern. Meskipun banyak wanita Jepang sudah mengenyam pendidikan modern sampai tingkat pendidikan tinggi, namun berdasarkan data “Employment Status Survey” yang dikeluarkan oleh Ministry of Public Management. Home Affairs. Post and Telecommunications, menunjukkan komposisi wanita bekerja yang lulusan sarjana dan pasca sarjana hanya 12,3%. Hal ini jauh lebih kecil dibanding wanita lulusan sekolah diploma atau sekolah keahlian lainnya, yaitu 26,9%. Bahkan akan lebih kecil lagi bila dibandingkan dengan wanita bekerja lulusan SMA dan sederajat yang jumlahnya mencapai 48,4%. Bandingkan dengan komposisi pekerja pria yang lulusan sarjana dan pasca sarjana angkanya mencapai 31,5% - hampir 3 kali lipat prosentase pekerja wanita untuk tingkat pendidikan yang sama.
Dari fakta ini bisa disimpulkan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan wanita Jepang, tidak menjadi jaminan bahwa mereka akan menekuni karirnya di dunia kerja. Sebab umumnya mereka yang menyelesaikan studinya sampai jenjang sarjana dan pasca sarjana, maka tak  lama kemudian mereka akan memasuki gebang pernikahan, yang menuntut mereka menjadi ibu rumah tangga. Sedangkan wanita lulusan SMA masih punya peluang lebih panjang untuk bekerja sebelum mereka menikah.
13402549381666394410
(foto by : Arif Subagor; sumber : FB Grup Kampret)
Jika aturan semacam di Jepang diberlakukan di Indonesia – artinya wanita hamil dan melahirkan serta merawat anak mendapat begitu banyak previlege – apakah ada jaminan aturan itu tak diakali dan justru disalahgunakan? Misalnya, selama kurun waktu itu justru cari kerja sambilan dan niat untuk memberikan cuti agar fokus mengurus anak justru terabaikan. Masalahnya, mentalitas bangsa kita masih belum seperti bangsa Jepang yang tingkat rasa “malu”nya tinggi. Rasa malu itulah yang kemudian membuat mereka tahu diri untuk mundur meski diberi keistimewaan.
Ketimbang memberikan cuti sampai 1 -2 tahun, meski sifatnya CDTP, untuk saat ini saya lebih memilih mengusulkan agar BUMN membuka kesempatan bagi wanita usia di atas 35 tahun untuk kembali bekerja, melalui jalur rekrutmen

 Jadi mereka yang memilih mengundurkan diri pasca melahirkan, silakan saja. Biarkan mereka fokus dan konsentrasi dulu mengurus anaknya. Bahkan kalau mau hamil lagi pun tak masalah. Kelak jika anak-anaknya sudah sekolah dan mereka tak merencanakan punya anak lagi, baru kembali melamar kerja. Selama bisa lulus tes kompetensi dan pengalaman kerja mereka di waktu lalu dinilai cukup menunjang, kenapa tidak? Menerima pekerja wanita melalui sistem rekrutmen yang fair, lebih tidak menimbulkan kecemburuan di kalangan pekerja, ketimbang memberikan hak istimewa cuti sampai 1 – 2 tahun. Semoga Pak Dahlan mempertimbangkan banyak faktor sebelum menjalankan gagasannya, termasuk masalah mentalitas.

catatan ira oemar freedom writers kompasianer
"cilalek manih" dan serba-serbi balai kuraitaji dan kebijakan PEMKO PARIAMAN

mimi elfita atau yg lebih dikenal dengan nama cilalek manih kemaren malewa ketempat saya.. dia sudah saya anggap kakak .. sudah puluhan tahun pula saya kenal dengannya. dibalai kuraitaji mustahil kiranya jika tak ada orang yg mengenal cilalaek manih ini.. cilalek manih yg sedari dulu saya kenal sangat aktif dalam hal kemasyarakatan dan kegiatan sosial lainnya . 

saya menggamparkan ia sebagai sosok wanita yg ulet , pekerja keras dan pekerja sosial tanpa pamrih.. boleh anda cek sendiri kebenaran kata2 saya diatas ini.. ketika kami mengobrol2 santai, sampai pula ota kami ketopik politik dan sosial yg sedang hangat2nya dibicarakan orang menjelang pilkada ini.. namun topik pembicaraan kami mengerucut kewilayah tempat mimi elfita ini berdomisili di balai kuraitaji.. 

insting jurnalis saya loading dg sendirinya.. saya teringat akan anggaran dana 2milyar untuk peremajaan balai kuraitaji ini.. sebagai catatan saja buat pembaca.. balai kuraitaji ini punya sejarah panjang.. diera th 70-80an balai kuraitaji yg dikenal dgn balai sinayan ini jadi pusat perdagangan tersangat ramai diera itu untuk kawasan pariaman.. pedagang2 dari luar pariaman selalu aktif menggelar lapak dagangannya setiap hari pekan senin.. sebut saja dari bukittinggi,pd panjang, b.sangkar ,apalagi untuk wilayah pariaman ini sendiri.. balai kuraitaji terkenal sebagai balai yg sangat rami..

polemik pemko dan pedagang semasa itu bermula ketika dana 2milyar itu cair dari kementrian perdagangan untuk rehabilitasi berat pasar. dan pemko ketika itu dengan "sekenanya" hendak mengalokasikan dana tersebut untuk los lambuang yg jadi ikon balai kuraitaji.. tentu saja hal ini ditentang oleh ninik mamak dan pedagang.. kemudian pemko menurut mimi mencoba membidik pasa batingkek kuraitaji.. dan ini dapat tentangan juga dari masyarakat dan pedagang.. alasannya sangat masuk akal..


 kemana mereka akan dipindahkan?ujar mimi.. pemko ketika itu mengatakan dipindahkan saja kelos pasar.. sedangkan dipasar tradisional tersebut sudah berpunya semua, dan menurut mimi ada sekitar 100 lebih.. tentu pedagang2 yg ada dilos pasar yg punya kedai2 amat sederhana ini merasa terancam dan dirugikan pula.. manusia sekali pemikiran2 seperti itu disaat traumatis pasca gempa 2009, yg mana kondisi ekonomi masyarakat kala itu sangat belum pulih.. tukuk mimi..

sementara area pertokoan sederhana yg paling hancur akibat gempa 2009 tersebut yg terletak didepan mesjid balai kuraitaji yg seharusnya musti didulukan dan sangat tepat sasaran jika ditilik dari sumber dana yg diperuntukkan oleh kementrian perdagangan untuk rehalibitasi berat pasar diabaikan saja oleh pemko.. sehingga pada akhirnya pemilik toko2 jua yg merehab tempat periuk nasinya tersebut dengan uang mereka pribadi menurut mimi. dan hingga kini polemik antara pemko dan pedagang serta ninik mamak dibalai kuraitaji belum menemukan titik temu.. 


dan dana yg 2milyar tersebut ketika saya tanyakan dimana sekarang kepada mimi.. dia menjawab tidak tau.. dan ia mengira mungkin sudah dikembalikan kepusat..sangat disayangkan sekali.. sementara menurut mimi pedagang disana sangat ingin pasar kuraitaji ini dijadikan pasar reguler semi modern , namun untuk menuju kearah sana tentu tidak boleh adanya pihak2 pedagang lama yg dirugikan.. kebijakan hendaklah tepat sasaran.. 

jika pedagang disana berjumlah 100 misalnya jgn dibuat 120 dan jangan sampai ada kedai titipan.. dan menurut mimi jika seandainya suatu saat planing ini terealisasi kedepannya. hendaknya jika pasar reguler semi modern tersebut jadi dibangun jangan ada yg bermain. dan pedagang yg didepan dulunya musti didepan juga ditaruh kedainya, begitu juga sebaliknya.. hal ini saya amini.. tak satupun orang dimuka bumi ini yg ingin dirugikan dimana menyangkut haknya.. 

dan hendaknya sang pengambil kebijakan melakukan sosialisasi terbalik jika hendak melakukan sesuatu yg menyangkut hajat hidup orang banyak..ketika hal ini saya konfirmasi pada wako mukhlis rahman melalui bbm dan sms , hingga kini belum dibalas.. dan ketika saya telpon nomor hp beliau ternyata tidak aktif-aktif..

apa keinginan pedagang? apa uneg2nya? lalu kaji secara profesional dan "manusiakan" mereka dengan kebijakan yg pada akhirnya menguntungkan semua pihak.. baik pedagang..masyarakat kuraitaji dan para niniak mamak disana.. saya salut melihat jokowi disolo sana.. hal yg dianggap orang rumit dalam relokasi pasar berhasil ia wujudkan tanpa ada gejolak..

apa sebab? karena jokowi dengan sungguh2 mengadakan pendekatan emosional kepada pedagang.. dan ia benar2 memikirkan pedagang tanpa ada motif lain selain itu.. dan yg tak kalah penting jokowi berhasil "memanusiakan" pedagang2 disana .. dan kini jangan ditanya umpan baliknya dari masyarakat pedagang sana pada sosok jokowi..

 jokowi dilepas dengan isak tangis dan derai airmata pedagang,ketika ia mengemban amanah partainya untuk diusung berlaga dipilgub DKI . dan masyarakat pedagang yg sangat menyayanginya dengan kemauan hati sendiri menggalang dana buat modal kampanye jokowi.. tidak usah kita hitung besar nominalnya, namun kita lihat dari sisi kacamata sosial dan hubungan timbal balik emosional antara jokowi dan masyarakat pedagang disana... contohlah jokowi ini.. 

sosok sederhana yg benar2 memikirkan rakyatnya.. dan sudah diakui masuk jajaran sebagai walikota tersukses tingkat dunia..dan kini ia masih tetap sederhana dan rendah hati..


catatan oyong liza piliang

money oriented , budaya baru di negeri ini

hal ini bisa terjadi dimana saja. money oriented atau segala sesuatunya diukur dengan uang, baik dikalangan birokrasi, politisi , masyarakat, bahkan ormas2 dan lsm. kita bicara fakta saja.. hal ini sangat mencolok sekali dimata kita, seperti dibertakan republika bagaimana bobroknya sistem birokrasi dinegara ini, uang pelicin yang dalam bahasa hukumnya termasuk suap dan korupsi begitu mudah kita temui disetiap instansi 2 pemerintahan dan aparatur negara. apakah hal ini bagi mereka yang menjabat tidak menyadari perilaku demikian sama artinya dengan merusak dan menghancurkan negara secara sistematis dari dalam? ada yang tau dan ada juga yang tidak.. mereka sama2 memicingkan mata ! 




berapa banyak diskusi dan seminar yang membahas topik ini di indonesia, dan bahkan tak jarang pula mengundang pejabat2 sentral dinegara ini, mereka mendengar, ikut membahas dan memberi jalan keluar. namun tiba diaplikasi? tidak usah ditanya.. habis seminar itu , habis pula mereka memikirkan hal yang baru saja dibahasnya. dan tak jarang juga beberapa saat kemudian mereka dituding rekan2nya yg terlibat kasus korupsi mengatakan bahwa "sipolan" tersebut tadi sipemakan suap! koruptor ! kacau.. munafik bin "cingauak baroda" tipe pejabat demikian. tampilan luarnya malaikat ternyata didalamnya "sarang jin iprit".






untuk negara yang sehat harus dibuat sistem yang kuat. gampang saja.. kita ambil darimana segala sumber permasalahan ini terjadi, money oriented yang berujung pada perilaku koruptif. lalu kita buat sebuah sistem ditingkat pusat yang sangat menjerakan mereka.. bukankah itu gampang ! dalam ilmu psikologis analisis. otak manusia didisein dengan dua pola pikir, yang pertama gampang.. bila sesuatu hal dan permasalahan meskipun rumit bila pola ini diterapkan jadi gampang. yang kedua rumit, meskipun segala sesuatunya atau permasalahan itu mudah diatasi akan jadi rumit bila kita memakai kajian cara kerja otak manusia dalam psikologis analisis ini. bagi saya gampang saja untuk memajukan negara ini.. berlakukan hukuman mati untuk para koruptor ! efek bola saljunya akan besar. dan akan mengubah sistem ketatanegaraan dan birokrasi itu sendiri.. dan tanpa disadari akibat efek domino yang diberlakukan tersebut akan terbuat sebuah sistem ketatanegaraan dan birokrasi yang sehat.. siapa sih yang tidak takut dihukum mati dinegara ini ??

catatan oyong liza piliang
jangan pesimis.. pariaman pasti bisa maju !

sikap pesimis dikalangan masyarakat khususnya kota pariaman akhir2 ini saya perhatikan semangkin memprihatinkan, semua memang beralasan selain PAD kita yang kecil program2 yang sebenarnya kalau dijalankan dengan perencanaan yang matang dan tanpa ada unsur lain dan hanya semata2 demi kemajuan masyarakat kota ini, niscaya program2 itu akan berdampak positif,namun fakta berkata lain, bukan masyarakatnya yang tidak mau menuruti kemauan pemko, tapi pihak pemko lah yang tidak mempertimbangkan aspek emosional masyarakat. hal ini dibuktikan masih tidak dihuninya toko2 dalam program relokasi pedagang ke terminal jati. disini masyarakat tidak salah..campur tangan KKN sudah tercium sebelum bangunan ini selesai, sehingga masyarakat lebih memilih berdagang ditempat2 mereka yang lama , "daripada makan hati" demikian kata salah seorang calon pedagang yang tidak dan enggan pindah kesana.

hal kedua yang jadi sorotan masyarakat adalah pecah kongsinya
untuk memajukan pariaman kedepan perlu "LOMPATAN QUANTUM" pemimpinnya dituntut seorang yang penuh ide2 dan terobosan2 besar

coba kita perjauh pandangan kedunia luar sebentar.. lompatan besar yang sangat cepat (lompatan quantum) selalu ada pada pemimpin2 yang agresif dan penuh ide2 kreatif.lihat beda cina sekarang dan tahun 80an, dulu negara mereka korupsinya lebih parah dari kita. ekonominya pun jauh dibawah kekuatan ekonomi mereka sekarang ini. perlu pembaca ketahui bahwa china adalah negara dengan cadangan devisa terbesar didunia, mengalahkan amerika dan negara2 maju lainnya, begitu juga dengan gebrakan anti korupsinya. tak peduli siapapun yang korupsi mau mentri, pejabat militer bahkan presidennya sendiri menyiapkan peti mati untuk dirinya sendiri bila ia korupsi. hukuman tembak setelah divonis hakim bersalah langsung dieksekutor SAAT ITU JUGA ! ini namanya lompatan QUANTUM DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI. begitu juga sektor ekonomi china yang bersinergis dengan sindikasi2 perantau mereka yang ada diseluruh dunia, semua barang produksi masyarakat china sudah di kop oleh pemerintahnya untuk dipasarkan keseluruh dunia melalui sindikat2 pasar mereka. dalam sekejap china jadi kekuatan terbesar dari sektor ekonomi didunia. politik yang stabil dan ekonomi yang kuat juga berdampak pada sektor2 lainnya.. mereka JUARA1 OLIMPIADE DUNIA. yang selama ini selalu dimenangi amerika. siapa yang mengubahnya?? siapa pula yang membuat LOMPATAN QUANTUM itu??dia adalah HU JIN TAO. itulah pilihan yang diambilnya,,

MEMBANGUN JATI DIRI SEBUAH KOTA DIMULAI DARI PIMPINANNYA DAN SELURUH ELEMEN MASARAKAT SERTA BIROKRASI YANG TERMENEJ DENGAN BAIK DAN BEBAS "UANG BASA BASI"

jati diri suatu bangsa selalu identik dengan siapa yang mengomandaninya, amerika ketika kepemimpinan GEORGE BUSH JR. membuat citra amerika sangat buruk dimata dunia, khususnya negara2 muslim. belum lagi ekonomi negaranya merosot tajam akibat kebijakan luarnegerinya yang lebih mengutamakan ekspansi militer daripada diplomasi praktis. di zimbabwe juga demikian, diktator rezim yang hingga kii masih berkuasa ROBERT MUGABE telah menghancurkan ekonomi negaranya, mata uangnya yang terkecil didunia, untuk sebutir telur anda harus merogoh kocek 150.000.000 dolar zimbabwe. si MUGABE ini tetap ditampuknya dengan pola hidup mewah tanpa menghiraukan nasib rakyatnya yang kelaparan. dia diktator yang sangat kejam tanpa toleransi terhadap lawan2 politiknya.


ditingkat daerah juga demikian, identitas suatu kota identik sengan siapa pimpinan no 1 nya, bagaimana dia mengelola keuangan daerahnya, menertipkan birokrasi serta memberi contoh kepada masyarakat dengan pola kepemimpinan bebas KKN dan uang basa basi dibirokrasi. jokowi disolo telah memberi contoh teladan buat para pimpinan daerah2 lainnya.. didalam hati lawan2 politik jokowi sangat mengakui kepiawaian serta kepemimpinannya yang humanis, namun dalam statemen politik tak jarang kita lihat bahasa munafik yang keluar.