Listrik Padam dan Sirine: Cerita di Balik Gempa 6.2 SR
Koordinat gempa 6.2 SR Jumat dinihari pukul 00.06. Foto BMKG
Pariaman -- Gempabumi 6.2 SR yang mengguncang Pariaman dan daerah sekitarnya Jumat dinihari (1/9/2017) pukul 00.06 WIB menimbulkan kepanikan luarbiasa di masyarakat. Meski berselang sesaat pasca gempa BMKG telah mengeluarkan rilis gempa tidak berpotensi tsunami, sebagian masyarakat Pariaman terlanjur mengungsi ke daerah dataran tinggi.

"Begitu gempa yang bunyinya berderak listrik langsung padam, kami sekeluarga panik dan langsung keluar. Kita juga mendengar bunyi sirine kencang dan kami kira itu sirine tsunami, ternyata sirine mobil pemadam (damkar)," ujar Sur (50), warga Pariaman Tengah saat berbincang dengan wartawan usai salat Idul Adha, Jumat pagi.

Saat mengungsi di sekitaran wilayah Padusunan, Sur mengatakan banyak warga lain yang ikut mengungsi ke sana. Bahkan di antara pengungsi tersebut ada warga yang sempat jatuh dari motor saat mengungsi dari rumahnya di Kelurahan Lohong Pariaman Tengah, menuju Padusunan.

"Mereka lari boncengan di atas motor. Gonceng empat bersama istri dan dua anaknya. Di sana kan lagi ada proyek jalan (jalan arah Pasar Pariaman-Kampung Perak-Kampung Keling) ada material menumpuk di pinggir jalan. Karena panik mereka menabrak gundukan material bangunan tersebut dan jatuh. Saya lihat ada bekas luka lecet di siku bagian kirinya, motornya juga gores," ungkapnya.

Kepanikan masyarakat juga terpantau di sepanjang jalan jalur evakuasi. Dinihari itu, pengendara membunyikan klason sahut menyahut. Oleh klakson dan sirine, membuat masyarakat lainnya panik dan akhirnya ikut mengungsi.

Menaggapi hal itu, Anggota DPRD Kota Pariaman Fitri Nora mengatakan, kepanikan pasca gempa oleh masyarakat cukup beralasan karena gempa terjadi saat warga lagi tidur.

"Kemudian ditambah bunyi sirine pemadam kebakaran, mungkin dikira masyarakat sirine tsunami dari balaikota," ujarnya.

Ia membenarkan ada mobil damkar lewat bertepatan saat gempa terjadi. "Saya telpon kabarnya ada pondok pembuat tembok yang terbakar di Kajai (Sungai Rotan). Memang ada mobil damkar menuju ke sana," kata dia.

Namun demikian, calon pimpinan DPRD dan mantan anggota komisi III itu berharap kepanikan demikian tidak terjadi lagi. Ia menyebut lebih separuh desa/kelurahan yang ada di Pariaman sudah kerjasama dengan pihak BPBD terkait penanganan bencana. Hal itu juga mendapat dukungan anggaran dari DPRD untuk membentuk relawan tingkat desa dan kelurahan.

"Kita berharap hal ini dijadikan evaluasi ke depan. Pihak desa juga mesti bisa menenangkan warga dari kepanikan dengan memberikan informasi. Informasi itu bisa melalui pengeras suara masjid dan musala," sambungnya.

Ia menilai kepanikan warga dapat menimbulkan bencana lain. Karena panik, warga lupa mematikan kompor, mengunci rumah. Hal itu menurutnya harus jadi perhatian semua pihak karena penangan bencana tidak akan berhasil tanpa kesadaran dan dukungan masyarakat.

"Relawan siaga bencana desa mesti transfer ilmu siaga bencana ke masyarakat sekitar. Apa yang mesti dilakukan saat gempa dan pasca gempa. Kemudian memberitahukan informasi dari BMKG terkait gempa saat itu apakah berpotensi tsunami atau tidak," jelasnya.

Jika hal itu sudah dilakukan, kata dia, kepanikan masyarakat akan reda. Jika potensi gempa tidak menimbulkan tsunami dari BMKG, masyarakat harus diberitahukan tidak perlu mengungsi.

"Di desa juga ada pincalang yang bisa kerjasama dengan pengurus masjid dan musala untuk menyiarkan informasi tentang gempa. Kita yakin, jika prosedur itu dijalankan, masyarakat akan merasa terlindungi," tuturnya.

Ia berharap Pemko Pariaman ke depan lebih mensosialisasikan siaga bencana secara sederhana kepada masyarakat. Saat momen magrib mengaji, kata dia, hal itu bisa disampaikan langsung. (OLP)
Gempa 6.2 SR Tidak Berpotensi Tsunami, Warga Berhamburan
Foto BMKG
Pariaman -- Gempa bumi dengan guncangan kuat bangunkan warga Pariaman yang sedang terlelap tidur, Jumat dinihari pukul 00.06 WIB, (1/9/2017). Bahkan ada di antara warga spontan meninggalkan kediamannya untuk mengungsi.

BMKG mencatat, gempa berkekuatan 6.2 SR itu berlokasi 80 km timur laut Kepulauan Mentawai atau 87 km barat daya Kota Pariaman, berada di posisi 1.30 lintang selatan dan 99.66 bujur timur, dengan kedalaman 10 km. BMKG dalam rilisnya menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami.

Dalam pantauan wartawan di lapangan, sebagian warga yang terjaga akibat gempa masih mengidupkan lampu ruang tengah rumahnya. Mereka tetap siaga dan belum kembali tidur. Pintu rumah dibiarkan tetap terbuka.

"Kita siaga, mudah-mudahan tidak terjadi gempa susulan," ucap Rida (43), warga Jati Hilir, Pariaman Tengah.

Ia menceritakan, saat terjadi gempa dirinya sedang tidur lelap dan tiba-tiba terbangun akibat guncangan gempa disertai bunyi bergemuruh. Seisi rumahnya terasa terguncang.

"Kami dan anak-anak segera ke luar rumah. Gempa terasa cukup lama dan bunyi gemuruhnya sangat menakutkan," ujar ibu dua anak itu. (OLP)
BMKG- Potensi Gempa Megatrust Mentawai Diperkirakan Capai 9.1 SR



Walikota Pariaman Mukhlis Rahman mengimbau seluruh stakeholders bersinergi dalam mengurangi resiko dampak bencana alam di Pariaman.

Hal itu dia ungkapkan saat memimpin rapat tim koordinasi penanggulangan bencana dan perumusan anggaran dalam upaya penanggulangan bencana yang terkoordinir, terarah dan terukur, di Balaikota, Rabu (21/12).

Mukhlis menuturkan, berbagai dampak akibat bencana memerlukan penanganan bersifat komperehensif (tuntas/menyeluruh) melibatkan berbagai pihak-- terutama partisipasi warga.

"Dampak dari akibat bencana (alam) semuanya tidak mungkin bisa hanya ditangani oleh pemerintah saja. Partisipasi semua pihak sangat diperlukan," ujarnya.

Dia berharap kepada semua tim koordisasi penanggulangan bencana Kota Pariaman yang hadir dalam acara itu agar dapat mensosialisasikan materi kepada masyarakat dan keluarga mereka masing-masing.

Di saat yang sama Kepala Stasiun BMKG Padang Panjang Rahmat Triyono menyatakan perlunya bagi masyarakat memahami peringatan yang dikeluarkan oleh pihaknya.

Dia mengatakan di Sumatra Barat merupakan daerah rawan bencana gempa. Para peneliti menurutnya memperkirakan zona Mentawai Megatrust masih menyimpan potensi gempa diikuti tsunami dalam skala perkiraan 9.1 SR.

"Diperlukan sinkronisasi prosedur tingkat provinsi dengan kabupaten/kota untuk menyatukan langkah yang akan diambil untuk mengurangi resiko bencana yang akan timbul," ungkap dia.

Sementara itu Kepala BPBD Kota Pariaman Yaminurizal menambahkan, dari 10 potensi bencana yang mengancam Pariaman, paling tinggi resikonya adalah bencana banjir, gempa dan tsunami.

Proses penanggulangan bencana menurutnya terdiri atas tiga tahapan meliputi prabencana, tanggap darurat saat bencana dan pasca bencana.

"Kita telah melaksanakan seluruh tahap tersebut setiap ada bencana yang terjadi di daerah kita," kata dia.

TIM
Gempa 6,5 SR Diiringi Gemuruh



Warga Komplek Perumahan Jati Raya Indah Pariaman sontak bangun dan berhamburan keluar rumah akibat guncangan gempa pada Kamis pagi (2/6) pukul 05.56 WIB. Gempa terasa cukup kuat.

"Sebelum gempa diiringi gemuruh. Gemuruhnya bukan gemuruh hujan tapi gemuruh gempa," kata Osri (43) warga komplek.

Badan meteorologi klimatologi dan geofisika (BMKG) di akun twitter resminya menyatakan gempa berkekuatan 6,5 SR terjadi pada pukul 05:56:01 WIB, di lokasi koordinat 2.29 lintang selatan, 100.46 bujur timur.

"79 km barat daya Pesisir Selatan, Sumbar, pada kedalaman 72 km," rilis resmi BMKG pusat. Pihak BMKG tidak merilis potensi tsunami pada gempa tersebut.

Hingga berita ini diturunkan belum ada laporan kerusakan oleh gempa tersebut, terutama di wilayah Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman.




OLP
Pakar Gempa Tsunami Jepang Sosialisasikan "Kamishibai" di Kota Pariaman



Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pariaman bekerjasama Embassy Of Japan menggelar seminar budaya terkait 11 tahun gempa dan tsunami Samudera Hindia dalam sosialisasi yang bertajuk cerita bergambar (kamishibai) terhadap siaga bencana, bertempat di Balairung Pendopo Rumah Dinas Walikota Pariaman, Sabtu (26/3).

Acara yang dibuka oleh Wakil Walikota Pariaman, Genius Umar didampingi Sekretaris BPBD Kota Pariaman, Kardinal, diikuti sejumlah SKPD dengan peserta ratusan siswa SMP dan SMA sederajad se Kota Pariaman itu, menghadirkan narasumber pakar gempa dan tsunami Jepang, Yoko Takafuji, peneliti Pusat Kajian Wilayah Asia, Rikkyo University, Jepang.

Pada kesempatan itu Genius menuturkan bahwa negara Jepang merupakan negeri maju dalam manajemen dan pengelolaan bencana tanpa meninggalkan nilai tradisionalnya.

"Hal inilah yang menjadi dasar metode sosialisasi ini dilakukan, dan berharap pihak Jepang mau membantu Pemko Pariaman dengan studi banding langsung ke Jepang," kata dia.

Menurutnya, di Jepang terdapat berbagai disiplin ilmu dalam hal penanggulangan bencana baik modern maupun tradisional yang berguna bagi masyarakat dan Pemko Pariaman yang daerahnya sama-sama kawasan ancaman megatrust gempa tsunami.

“Tujuan acara ini untuk memberikan pendidikan siaga bencana kepada kita karena kita menyadari pentingnya memahami bencana tsunami sejak dini yang didasari oleh keprihatinan pada ketidakpahaman masyarakat terhadap bencana,” tutupnya.

Sementara itu, Yoko Takafuji, menjabarkan sosialisasi Kamishibai, makna dari cerita bergambar ala Jepang menyikapi bencana.

Kamishibai merupakan salah satu kebudayaan Jepang yang menceritakan suatu hal dengan menggunakan media gambar. Dengan media gambar tersebut pesan atau informasi dalam cerita yang disampaiakan mudah dipahami dan ditangkap oleh banyak orang.

Diketahui, selain bekerjasama dengan UNP, Yoko Takafuji yang didanai oleh Japan Fondation juga berkerjasama dengan Universitas Andalas, Universitas Bung Hatta dan Pemko Pariaman.

Sosialisasi tersebut disambut antusias oleh peserta yang tampak dari munculnya beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Yoko Takafuji.


TIM/OLP
Pemkab Padangpariaman: Usut dan Tangkap Penyebar Isu Sesat Gempa dan Tsunami
Bantahan resmi BMKG



Pemerintah Kabupaten Padangpariaman mengutuk penyebar isu sesat dan meresahkan masyarakat terkait ancaman gempa dan tsunami yang disebarkan melalui broadcasting blackberry massenger dan di jejaring sosial lainnya.

Kabar bohong itu ada yang mengatasnamakan BMKG, menyebut air laut menyusut tanda-tanda tsunami dan mengatakan di Mentawai sudah dilanda tsunami dan sedang menuju ke Pariaman.

"Kita sangat mengutuk perbuatan penyebar isu tersebut yang membuat warga kita resah. Kita berharap kepada pihak kepolisian agar menyelidiki dan menangkap pelaku penyebar informasi sesat itu melalui bukti yang tersebar di jejaring sosial," kata Kabag Humas Padangpariaman, Hendra Aswara, Sabtu (5/3) melalui seluler.

Hendra menuturkan, saat gempa Mentawai 7,8 SR Rabu malam (2/3), Bupati Padangpariaman Ali Mukhni berada di pendopo rumah dinas, Karanaur, Pariaman, memantau langsung air laut dan perkembangan informasi di media sosial.

"Bupati tidak lari. Di media sosial bupati melihat langsung foto kemacetan saat lebaran dikatakan suasana mencekam gempa malam itu. Kebohongan informasi yang disebarkan itu membuat panik masyarakat, bahkan orang rantau," tutur Hendra.

Bupati Padangpariaman, kata Hendra akan segera memanggil seluruh jajaran terkait untuk melakukan koordinasi terkait penanganan tanggap darurat gempa, baik saat terjadi hingga sesudahnya.

"Dalam rakor itu nantinya juga dibahas penangan isu sesat serta penyebaran informasi yang benar oleh pemerintah bekerjasama dengan media dan tim di jejaring sosial tentang situasi sesungguhnya sesuai data dan fakta," imbuhnya.

Sejauh ini, kata dia, Pemkab sudah melakukan upaya tanggap darurat bencana melalui TRC di tiap nagari. Jalur-jalur evakuasi sudah lama di sosialisasikan melalui perangkat nagari dan korong. Pada gempa Rabu malam itu tidak ada korban jiwa dan kerusakan bangunan di Padangpariaman.

"Daerah kita memang zona gempa, diharapkan masyarakat bersahabat dengan suasana itu dengan sikap waspada dan segera mengungsi ke titik evakuasi yang telah ditentukan pemerintah di sepanjang wilayah pesisir pantai Padangpariaman. Jangan panik hingga menyebabkan kecelakaan lalulintas," pungkasnya.

Rahmi (27) warga Batang Anai mengaku syok saat mendengar kabar bohong terjadi tsunami di Mentawai pada gempa Rabu malam.

"Keluarga saya ada di Mentawai. Semoga ke depannya media hati-hati merilis berita, apalagi menyangkut bencana," kata dia, Rabu malam saat menanyakan kebenaran informasi tersebut kepada kami.

Dia menyebut, isu-isu saat bencana gempa terjadi yang meresahkan masyarakat jarang ditindaklanjuti oleh pihak berwajib.

"Saya berharap si penyebar isu itu tertangkap," katanya.

OLP
Isu Sesat Saat Gempa Dihembuskan Oleh Para Kriminal



Ketua DPRD Kota Pariaman, Mardison Mahyuddin, meminta masyarakat agar selalu waspada karena daerah Pariaman memang merupakan daerah rawan bencana gempa dengan ancaman tsunami.

"Kita tinggal di daerah rawan bencana gempa dan harus menerima hal itu dengan selalu waspada," kata Mardison, Jum'at (4/3) di Pariaman.

Menurut dia, langkah masyarakat yang mengungsikan diri saat sirine peringatan tsunami berbunyi saat gempa Mentawai 7,8 SR, Rabu malam (2/2) lalu adalah langkah yang tepat.

Kepada pihak terkait seperti BMKG, dia berharap memberikan informasi yang benar, jangan sampai salah sebagaimana informasi awal dikatakan 8,3 SR dan kemudian diralat menjadi 7,8 SR yang membuat bingung dan cemas publik.

Disamping itu, sebutnya, pihak BPBD Kota Pariaman agar cepat tanggap atasi isu yang ditiupkan orang tidak bertanggungjawab saat bencana gempa berlangsung.

"Kerjasama dengan media elektronik seperti radio, portal online dan postingan di facebook tentang kondisi terkini. Kita tidak ingin masyarakat panik karena isu air laut surut sementara faktanya tidak, hingga mereka tidak mau pulang ke rumah."


"Bisa saja isu tersebut dimanfaatkan untuk tujuan kriminal seperti mencuri di rumah yang ditinggalkan penghuninya," ungkap Mardison.

Dia juga mengatakan agar masyarakat lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

"Jadikan musibah gempa sebagai peringatan dari Allah SWT untuk ikhtibar dan evaluasi diri dari perbuatan yang dilarang," sebutnya.

Meski gempa 7,8 SR lalu bukan megatrust namun dengan posisi geografis pesisir Pariaman tetap sebagai zona dampak megatrust Mentawai. Dia menghimbau agar masyarakat tingkatkan kebersamaan dan kekompakan agar saling menjaga satu sama lain.

"Semoga daerah kita dijauhkan dari segala marabahaya dan musibah oleh Sang Pemilik Alam Semesta," pungkasnya.

OLP

Tips-tips Praktis Siap Siaga Menghadapi Gempa (bencana yg tidak kita inginkan)

(foto : blog.akhirzaman.blogspot.com)

Bersyukur akhirnya PVMBG mencabut peringatan siaga tsunami. Petang tadi,, sesak rasanya dada ini melihat pemandangan memilukan, pasien-pasien di Rumah Sakit dirawat di ruang terbuka. Kaum wanita ketakutan dan kesemrawutan warga yang simpang siur di jalanan mencari temoat menyelamatkan diri. Sejak gempa pertama jam 15.38 WIB yang magnitude-nya 8,5 SR, PVMBG sudah mengeluarkan peringatan dini tsunami. Apalagi kemudian disusul gempa-gempa berikutnya hampir tiap jam setidaknya sampai sekitar jam 6 petang.

Sementara nonton tayangan berita gempa, di daerah saya turun hujan makin lama makin deras dan anginnya kencang sekali. Sejam kemudian, petir dan kilat menyambar sekeras-kerasnya, sampai saya terlompat dari kasur. TV langsung saya matikan dan lampu darurat saya pasang, khawatir ada pemadaman listrik. Dalam tempo 10 – 15 menit, ada 3x petir besar yang seolah menyambar di atas kepala.

Perasaan saya sejak semula tak enak, mungkin terpengaruh emosi prihatin saat melihat tayangan gempa di Aceh. Apalagi menurut running text di TV, peringatan tsunami itu berlaku di Aceh, Sumut, Sumbar sampai Lampung. Wah, Lampung kan dekat dengan Cilegon, hanya dipisahkan Selat Sunda. Mendadak saya ingat briefing yang pernah saya dapat akhir tahun 2010 ketika Gunung Anak Krakatau menampakkan tanda-tanda aktivitas kegempaan ribuan kali dalam sehari, yang dikhawatirkan bisa memicu tsunami di Selat Sunda. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi, siapa tahu suatu saat ada gunanya buat pembaca yang punya saudara, kerabat, sahabat di daerah-daerah yang berpotensi gempa dan tsunami.

IDENTIFIKASI ZONA BAHAYA DAN BENDA BERPOTENSI BAHAYA

Ini langkah awal yang perlu disiapkan sebelum ada gempa bahkan di saat-saat tenang, tak ada salahnya mencoba mengidentifikasi rumah dan lingkungan anda.

1. Kenali dengan baik lingkungan di sekitar rumah anda, dimana tempat yang lapang atau setidaknya agak jauh dari bangunan tinggi atau tiang listrik.

2. Kenali dengan baik jalan terdekat dan mudah menuju zona aman tersebut.
3. Jauhkan benda menggantung atau benda menempel (misalnya pigura foto/lukisan, lampu hias, lampu kristal, dll.)

4. Periksa kabel listrik atau selang gas, perbaiki jika ada yang terkelupas.

5. Jangan menyimpan benda berat di atas lemari. Umumnya orang sering meletakkan koper-koper dan barang-barang berat lainnya di atas lemari. Mulai sekarang, singkirkan benda berat itu sebab jika terjadi gempa, benda-benda di atas lemari itu bakal runtuh pertama kali dan bukan tak mungkin menimpa anda.

6. Jauhkan benda yang mudah terbakar dari api

7. Identifikasi area yang cepat runtuh dan jangan berada di sekitarnya

13341571981738135459
(foto : darmayusa.files.wordpress.com)

PERSIAPAN KESIAP-SIAGAAN

1. Tentukan zona aman yang mudah dijangkau, dimana anda dan keluarga sepakati bersama. Ini penting, sebab jika gempa terjadi siang/sore hari ketika anggota keluarga sedang tidak berkumpul di rumah, maka penentuan lokasi aman yang disepakati ini akan memudahkan keluarga untuk berkumpul di sana.

2. Pastikan anak-anak, pembantu, dan orang tua semua paham dengan kesepakatan ini.

3. Pintu penyelamatan diri harus mudah di buka dengan cara menempatkan kunci pada tempat yang tetap dan mudah di jangkau. Sepakati bersama keluarga, jika misalnya terkjadi gempa malam hari saat sedang tidur, saat terjaga semua harus menuju ke pintu keluar yang mana. Pilih pintu yang paling mudah dibuka dan arahnya menuju ke ruang terbuka.

4. Pastikan seluruh anggota keluarga tahu dimana kuncinya disimpan. Jangan panik saat membuka pintu, sebab saat gempa Jogja tahun 2006, ada pasutri pengantin baru yang justru terkuci di dalam kamar, karena berebut kunci dan saat kunci dimasukkan ke lubang kunci, justru patah karena keduanya panik.

5. Siapkan senter atau lampu darurat.

6. Siapkan tas siaga. Usahakan ukurannya sedang, tak terlalu besar, bahannya tak mudah basah. Usahakan semua benda berharga masuk ke dalam tas ini : dompet, kartu-kartu identitas, ATM kartu kredit, buku tabungan, passport, uang tunai, charger HP dan kitab suci (jika anda menganggap ini penting).

7. Jika masih mungkin, bawa pakaian seadanya atau sekedar makanan. Tentunya tas ini sudah disiapkan di saat tenang, sebelum ada gempa.

8. Latih anak-anak untuk menyelamatkan diri dan mengingat nama orang tua serta alamat tempat tinggal.

9. Tentu saja yang terpenting banyak-banyak berdoa (plus dzikir dan istighfar bagi yang beragama Islam).

Semua tips di atas mungkin perlu bagi mereka yang tinggal di daerah berpotensi gempa. Jika gempa terjadi tiba-tiba dan anda tak punya waktu untuk menyelamatkan diri, cobalah merunduk di bawah meja yang terbuat dari kayu yang kokoh. Untuk yang berada di gedung bertingkat tinggi dan tidak mungkin turun menggunakan tangga biasa – jangan gunakan lift, sangat berbahaya – berdirilah dekat tiang-tiang utama. Sebab tiang penyangga utama biasanya konstruksinya paling kokoh dan ditopang oleh baja dan beton.

Dulu saya sempat tinggal di Tokyo, seperti kita tahu hampir semua daerah di Jepang rawan gempa. Jadi sejak awal kami mengurus kartu identitas tinggal sementara di kantor Balaikot, kami sudah mendapatkan 1 set buku pedoman penyelamatan diri saat gempa dan titik-titik evakuasi terdekat. Saya berkali-kali mengalami gempa saat malam hari atau siang saat masih di sekolah. Umumnya kami tak panik, karena guru-guru kami sudah sangat menguasai keadaan.

Sekolah saya berada di pusat kota Shibuya yang sangat lively dan ramai, penuh gedung pencakar langit. Saat itu kaki saya sedikit pincang karena sesuatu hal, jadi kalau gempa saat saya di sekolah, biasanya saya malah tak ikut turun, sebab sudah pasti kalah bersaing berdesakan di tangga darurat. Biasanya saya hanya menerapkan tips yang saya dapat sambil terus berdoa sampai kondisi membaik. Tidak panik, itulah kunci utama. Atasi dengan doa dan usahakan anda yakin dengan apa yang anda ucapkan. Semoga negeri kita tercinta dijauhkan dari segala bencana dan malapetaka. Amin.

catatan ira oemar freedom writers kompasianer