Tetanus dan Sepatu


Kebiasaan sebagian orang menunggu ide, barulah dituliskan. Bagi saya tidak demikian. Bagi saya, dengan menuliskannya terlebih dahulu akan melebar kemana-mana. Di sanalah ide bermunculan.

Di suatu ketika, saya diserang gatal teramat sangat di punggung telapak kaki sebelah atas kiri-kanan. Saking gatalnya, digaruk dengan tembok pun tak berasa sakit. Semakin digaruk makin nikmat rasanya. Kian digaruk dia menjadi amam (lunak). Timbul bintik-bintik merah kerair-airan.

Lama kelamaan bekas garutan tersebut menjadi merah lalu kering dan menghitam. Bekas garutan itu lalu mengelokak yang selalu meninggalkan gatal di pinggir-pinggirnya. Kebiasaan saya jarang berobat ke rumah sakit membuat saya tidak tahu apa nama penyakit tersebut. Acap saya perhatikan jika saya makan udang, akan terasa gatal di mana-mana. Mungkin saya alergi terhadap udang. Makan udang membuat saya bergitar-gitar.

Penyakit gatal di punggung telapak kaki itu sudah lama sembuh. Dia akan kambuh jika saya terlalu lama memakai sepatu terutama berbahan kulit. Alergi sepatu sempat terpikir oleh saya, tapi mana ada penyakit jenis macam tu.

Sudah kebiasaan, jika sakit saya akan membeli obat di apotek bukan ke dokter. Seingat saya, hanya dua kali pernah berobat ke rumah sakit karena takut teridap penyakit tetanus. Pertama saat kelas 6 SD, paha saya tertancap kawat duri berkarat ketika menyuruk ke rumah kawan. Entah apa gunanya dia pasang kawat berlapis di samping rumahnya yang juga dipagari pohon kerdil yang rapat.

Kedua sekitar lima tahun lalu saat kaki saya menginjak paku (paku labang) panjang besar berkarat. Masuknya hingga 2cm di telapak kaki meski saya sudah pakai terompah. Di dua kejadian tersebut saya mendapat suntikan anti tetanus. Tidak ada motivasi penting melatar-belakangi di dua peristiwa tersebut.

Penyakit tetanus menakutkan bagi saya karena seorang teman pernah meninggal oleh penyakit itu. Sebutlah dia bernama Tomas. Saya pernah berkelahi satu kali dengannya. Dia teman seumuran dan kami sama-sama tinggal di suatu kelurahan di Kota Pekanbaru akhir tahun 80-an.

Memasuki usia kenabian (40) ada kalanya saya berkata pada diri sendiri supaya melakukan medical check-up agar saya tahu apa saja yang rusak di badan saya. Apa saja penyakit yang patut diobati dan organ bagian mana yang harus saya perhatikan untuk dirawat. Hal itu mengingat pola hidup tak sehat yang saya jalani sepanjang hidup.

OLP
Tongkat Komando Kota V Abad



Mengikuti perkembangan pembangunan Kota Pariaman dari tahun ke tahun dapat kita lihat grafik peningkatannya. Kota dengan luas daratan 73 km² dengan panjang pantai ± 12,7 km serta luas perairan laut 282,69 km² berhadapan langsung dengan samudera Hindia ini memiliki penduduk sekitar 97.000 jiwa, mendapat belanja tiap tahun dari pemerintah pusat sekitar Rp600 milyar yang disebut APBD.

Syahdan, dengan APBD cukup besar dibanding skala jumlah penduduk, ditukuk PAD (pendapatan asli daerah), Kota Pariaman berakselerasi sejak menjadi daerah otonom pada 2 Juli 2002. Pariaman langsung bersolek di sana sini. Semua jalan diaspal hotmix, trotoar berkeramik.

Sejalan pembangunan infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi perhatian pemerintah. Sekolah digratiskan dari segala biaya sejak tahun 2010 selama 12 tahun belajar, berobat gratis pula dengan hanya menyodorkan bukti kepemilikan KTP. Masih banyak lagi pembangunan SDM di Pariaman yang mendapat sentuhan oleh pemerintah. Keberhasilan itu semua tentu berkat dukungan semua pihak termasuk warga Pariaman sendiri.

Orang Pariaman dikenal memiliki semangat kedaerahan yang tinggi. Jiwa perkerabatan yang diikat tali matriakat (garis ibu) membuat orang Pariaman saling terhubung satu sama lain. Ada saja sejarah keterkaitan antar satu sama lain warga Pariaman asli jika ditelisik dengan seksama. Kalau tidak bersaudara, sepersukuan, sepergalaan. Sidi, Bagindo, Sutan.

Kota Pariaman memiliki sejarah panjang dalam peradaban pesisir barat pulau Sumatera. Sebagaimana ditulis oleh Tome Pieres, bangsawan Portugis dalam bukunya Suma Oriental pada tahun 1513, jauh sebelum Belanda menjajah tanah air, Pariaman adalah salah satu kota pelabuhan penting di pantai barat. Saudagar Arab, Cina, India dan Eropa menjadikan Pariaman sebagai kota pasar perdagangan emas dan rempah-rempah kala itu. Pariaman di abad 17 merupakan bagian dari Kesultanan Aceh.

Pariaman juga merupakan pintu gerbang masuknya agama Islam. Masuknya Agama Islam lewat Pariaman diyakini jauh sebelum Tome Pieres menggoreskan tinta penanya.

Sejarawan, penulis, novelis dan politisi Indra J Piliang menegaskan bahwa Pariaman sudah menjadi kota sejak lima abad silam. Pariaman tempo dulu sudah mensyaratkan disebut sebuah kota di mana terdapat kawasan komersial, residencial, pendidikan, industri dan masyarakatnya heterogen. Pelabuhan Pariaman kala itu dikenal sibuk oleh arus perdagangan. Arus bongkar muat silih berganti dan alat tukar modern (uang) sudah berlaku saat itu.

Di zaman kolonialis Belanda, Pariaman juga merupakan kawasan perkotaan, dibuktikan dengan dibangunnya tiga stasiun kereta api yakni stasiun Pariaman, Nareh dan Kuraitaji. Pariaman juga kawasan maritim yang dihuni para pelaut handal.

Hingga masuknya Jepang menjajah nusantara, Pariaman dijadikan kota benteng pertahanan oleh mereka. Banyak saksi hidup bagaimana ramainya tentara Jepang lalu lalang di Pariaman berpatroli kuda. Topi tentara Jepang yang berjumbai di belakangnya hingga kini masih ada ditemukan pada beberapa orang tua. Kehidupan zaman Belanda dan Jepang masih bisa ditanyakan kepada mereka, bahkan masih ada diantara mereka pasif berbahasa Jepang dan Belanda. Orang Jepang pantang melihat perempuan cantik, maka dari itu para dara Pariaman jelita disediakan kolong bawah rumah untuk bersembunyi.

Diceritakan, orang Jepang di zaman dulu dikenal pendek tapi kuat. Mereka memiliki fisik yang luarbiasa jika dibandingkan orang pribumi saat itu. Pernah diceritakan saat tentara jepang terjatuh di atas kuda saat melesat kencang karena kaki kuda tertungkai akar kayu. Secepat jatuh secepat itu pula dia bangkit lalu kembali menunggangi kudanya tanpa ekspresi kesakitan. Entah mana kuat orang Jepang dengan kuda.

Sedangkan di zaman Belanda diceritakan hukum berlaku sangat ketat. Membawa ayam dengan kepala ke bawah adalah melanggar hukum dan dikenakan denda. Cerita di atas bukti pribumi paham kehidupan di dua zaman tersebut. Tidak susah menggalinya jika kita rajin bertanya.

Bicara kekinian, Pilkada diambang mata. Mukhlis Rahman yang sudah menjabat dua periode oleh Undang-Undang dinyatakan tidak boleh lagi mencalonkan diri. Orang Pariaman sibuk mencari pengganti. Sejumlah nama mulai bermunculan, ada yang sudah beken ada yang baru memperkenalkan diri dengan baliho.

Pilkada Pariaman akan dihelat pada pertengahan tahun 2018, namun bias hangatnya sudah mulai terasa di tahun 2016. Hawa panas itu akibat adanya para calon kandidat memanaskan mesin, dan itu terdengar di oleh calon lainnya, lalu buru-buru melakukan hal yang sama.

Memilih Walikota Pariaman, jika merujuk sejarah panjang daerah itu, kita sama saja memilih simbol daerah yang pernah jaya di beberapa masa. Siapa yang terpilih memimpin Pariaman ke depan, dia akan mematrikan dirinya sebagai pemegang tongkat komando kota berumur lima abad.

Catatan Oyong Liza Piliang



Catatan: Energi Momentum




Hemat saya, kritik massif adalah energi momentum luarbiasa perubahan

Dalam fisika, teori momentum diperlukan untuk penambah daya dari energi dasar. Dengan energi yang sama, daya yang dikeluarkan dengan momentum berkali lipat jadinya.

Mobil xenia dan avanza keluaran pertama nyata benar tiap dindingnya minim momentum. Dengan ketebalan plat tidak lebih 0,8mm jika mendapat tekanan akan langsung remuk. Ruang datar pada mobil itu disebut ruang tanpa momentum. Akan berlipat kekuatannya jika di dindingnya dibuat momentum berupa lipatan (sending). Lipatan-lipatan akan menjadi momentum penguat tekanan meski ketebalannya tetap.

Maksud di atas saya tulis untuk memahami pentingnya energi momentum dalam setiap elemen kehidupan. Kesuksesan adalah momentum saat kesiapan bertemu kesempatan. Untuk mencapai sukses dengan energi momentum diperlukan rangkaian-rangkaian persiapan (disebut energi momentum).

Bulan suci puasa dalam agama Islam adalah momentum besar bagi umatnya untuk meningkatkan ketaqwaan, keimanan, kejernihan hati sekaligus simulasi mentalitas.

Momentum dalam dunia politik adalah segala daya upaya agar terciptanya energi besar guna menempati posisi dalam strata politik. Dalam berpolitik, momentum tidak boleh terputus. Saham politik di alam demokrasi pemilihan langsung berkaitan erat dengan ilmu sosial kemasyarakatan. Masyarakat adalah investasi utama.

Berpolitik dengan gabungan ilmu sosial dan teori falsafat fisika merupakan rumus terbaik. Semuanya terkalkulatif, akurat dan tidak akan meleset.

Jelang Pilkada Pariaman, saya melihat jarang sekali para calon yang menciptakan energi momentum kecuali petahana yang secara tidak langsung adalah orang yang masih mengurus masyarakat. Mereka tiap hari membuat momentum secara tidak sengaja.

Oyong Liza Piliang
Catatan: Keseimbangan



"Bumi mampu menghidupi seluruh makhluk, tapi tidak untuk kerakusan"

Panas! Ucapan bernada keluhan tersebut saya dengar dari masyarakat di hari pertama bulan suci puasa. Puasa perdana ibarat masuk gigi/torsi satu pada kendaraan bermotor atau akselerasi awal. Hari pertama memang terasa sedikit berat, bahkan kadang kita tidak sadar ketika haus hendak pergi minum serasa hari biasa saja.

Hari pertama puasa kemarin (Senin 6/6), tidak seluruh masyarakat Piaman (Kota Pariaman/Padangpariaman) yang melaksanakannya. Prosentase cukup besar terutama di wilayah Ulakan dan Sungai Sariak. Kedai-kedai masih buka, aktifitas seperti biasa.


Masyarat Ulakan dan Sungai Sariak terkenal relijius dan menjunjung tinggi hierarki kepada tokoh/pemuka agama setempat. 1 Ramadhan dilaksanakan setelah ditetapkan oleh ulama dengan upacara maniliak bulan yang dikatakan sebagian orang cukup kontroversial di zaman modern.

"Menghargai perbedaan merupakan kualitas sosial di suatu peradaban"

Jika pemuka agama sudah tetapkan 1 Ramadhan, masyarakat di dua wilayah itu khusuk menjalankan ibadah Ramadhan, baik berpuasa, tarawih hingga tadarus. Bahkan hingga kini pun masih ditemui pedagang asal dua wilayah itu libur di hari Jumat. Jika kita menemui kedai/bengkel tutup setiap Jumat di hari biasa (bukan saat Ramadhan), hampir dipastikan pemiliknya orang Sungai Sariak. Itu berlaku di tanah perantauan sekalipun.

"Iman pilar utama diantara tiga pondasi kehidupan. Kecerdasan intelektual (IQ) kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ/iman)"

Dalam pandangan iman, saya meyakini setiap masyarakat sudah dituntun makna puasa sesungguhnya. Menahan haus dan lapar menyebabkan kurangnya pasokan oksigen ke otak. Kurangnya pasokan oksigen membuat konsentrasi menurun, emosi tidak stabil. Puasa hakikatnya melatih keseimbangan IQ dan EQ. IQ+EQ=SQ. Artinya dengan berpuasa kita dilatih aktifkan tiga sensor di otak yakni Alpha, Gamma dan Tetha= Pengendalian emosional dan pikiran melalui kecerdasan spiritual/iman.

Saya tidak banyak menghafal Alquran. Bersikeras hal itu saya akui. Tapi saya belajar tujuan kitab suci itu diturunkan untuk memperbaiki akhlak, integritas, moral dan kepekaan sosial. Saya menyerap nilai-nilai kebaikan/luhur kitab suci dan berusaha mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dengan amat sukarnya.

"Iman memperbaiki logika, sebaliknya logika cemerlangkan iman"
Seorang filsuf berkata, hidup itu keras maka dari itu harus ditundukan. Bagi saya rumus ini untuk perang melawan kehidupan dalam berbagai bentuk. Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan itu. Bagi saya dengan hidup saja sebuah anugerah teramat besar. Saya percaya akan persepsi. Kita harus melihat kehidupan dari persepsi positif. Jika kita melihat dari persepsi positif, semua wajah akan terlihat tersenyum, dedaunan tampak menghijau, alam akan bersahabat dengan kita.

"Hidup dan mati dua sisi mata uang"

Jika kita benar merasa hidup lakukanlah hal terbaik bagi kehidupan itu sendiri meskipun dalam ruang lingkup terkecil sekalipun. Sesuai dengan jalan hidup yang kita pilih. Luruskan dulu niat. Orang yang memandang sukses identik dengan kekayaan, kemewahan hingga tidak mengabdi bagi kehidupan, ibarat melihat diri sendiri dalam gelap. Dibutakan oleh unsur material.

Nabi Muhammad, Aristoteles, Plato hingga Abraham Lincoln dan Muhammad Hatta, tidak kaya secara materi/hidup mewah yang akan dikenang sepanjang peradaban. Siapa yang ingat orang kaya raya sebelum Masehi kemudian abad 5,6,7 hingga seterusnya dibandingkan tokoh besar yang saya sebut di atas? Orang kaya tidak berguna bagi masyarakat tidak akan dikenang dalam peradaban, dia tidak mewarnai kehidupan yang notanene teramat singkat. Dia bagai abu yang larut ditiup angin. Qarun, simbol manusia kaya serakah yang tercatat dalam sejarah peradaban.

"Benar, uang bukanlah segala-galanya, tapi segala-galanya memerlukan uang"

Kutipan di atas adalah kesimbangan materi bagi kehidupan. Kutipan itu jangan dibagi dua. Carilah uang sebanyak-banyaknya dengan cara yang benar lalu gunakan untuk kemaslahatan umat.

Catatan Oyong Liza Piliang



Catatan: Ramadhan Situasional Bintang Lima


Memasuki bulan suci Ramadhan 1437 Hijriah/2016 sejumlah tradisi/kearifan lokal dihelat sakral oleh masyarakat Piaman. Seperti tradisi maniliak bulan untuk menentukan 1 Ramadhan oleh masyarakat di Ulakan yang sudah berjalan ratusan tahun lamanya, ritus-ritus Pawai Obor dan Ratik Tulak Bala di Sungai Sariak serta tradisi "balimau" yang tidak kalah seru.

Kearifan lokal jangan diperdebatkan. Helenisme (paham awam) mewarnai kehidupan umat beragama hampir di seluruh wilayah Indonesia/dunia. Warna-warni tersebut adalah keindahan corak ragam di kanvas budaya ibu pertiwi.

1 Ramadhan di Pariaman ada yang mengikuti kalender nasional, banyak pula mengikuti kalender yang ditentukan oleh pengamatan tiliak bulan sehingga 1 Ramadhan tidak pernah dilakukan secara serentak. Begitu pun 1 Syawal. Kearifan lokal wajib dihormati. Menghormati perbedaan adalah kualitas sosial di suatu peradaban.

Bulan suci Ramadhan atau bulan puasa sangat dinanti-nanti. Di bulan penuh berkah itu sektor ekonomi sektoril masyarakat mengalami peningkatan. Sebut saja pedagang yang menggelar dagangan di pasar pabukoan hingga di depan rumahnya masing-masing. Membeli kuliner jauh lebih hemat daripada memasaknya sendiri. Hemat waktu hemat uang.

Peadagang di pasa pabukuon Piaman banyak yang sudah punya nama (branding). Kualitas masakannya telah teruji lidah masyarakat. Pedagang beginian ketiban durian runtuh di bulan suci. Meraka panen uang.

Jelang 1 Ramadhan tahun ini, kearifan lokal masyarakat pesisir secara tidak langsung dan menyadari/melarang nelayan melaut karena cuaca ekstrim sesuai pertanda alam yang mereka baca. Dalam bahasa rakyat disebut dengan istilah patamuan bintang kalo dengan bintang kuniang yang menyebabkan angin kencang/badai/ombak besar.

Aktifitas melaut oleh nelayan sengaja dihentikan oleh kemauan mereka sendiri. Jangan bicara ramalan cuaca laut/ombak kepada mereka meski Anda sendiri dari BMKG. Untuk ramalan cuaca di laut mereka pantas menyombongkan diri. Jika tidak ada warga yang ingatkan pemilik layangan kreasi diturunkan di Festival Gandoriah beberapa hari lalu sebelum badai tiba, mungkin layangan mereka pulang sendiri ke negaranya.

Dari kearifan lokal pula, seusai patamuan bintang disertai badai tersebut-- bertepatan dengan jatuhnya 1 Ramadhan-- ikan di laut akan berlimpah sekitar dua tiga hari setelahnya. Nelayan akan menuai rejeki pasca hampir sebulan tak melaut. Cadangan protein masyarakat oleh ikan yang kaya omega tersedia di bulan suci.

Syahdan, di bulan puasa masyarakat cukup royal dalam penyajian menu berbuka keluarga. Ragam kuliner tersebut semuanya bisa dibeli secara instan di pasa pabukoan yang lokasinya telah disediakan oleh pemerintah, pun menu untuk sahur sesuai selera.

1 Ramadhan biasanya mesjid dipenuhi warga guna ibadah sholat tarawih. Biasanya di awal hingga 10 Ramadhan saja, makin keujung makin sedikit bak ekor tikus yang kian halus ke ujung. Fenomena demikian acapkali kita dengar dari mulut masyarakat kita sendiri.

Bulan Ramadhan nyata/fakta bulan penuh berkah bagi siapapun. Bulan intropeksi diri, berserah diri kepada Yang Esa, saling berbagi, merenung dan saling menabur kebaikan di muka bumi. Bulan suci adalah penghapusan dosa, pembuka pintu tobat dan gerbang menuju pintu sorga.

Bulan suci saat berpuasa juga melatih kontrol emosi. Ilmiah disebut emotional control to spiritual control, berguna bagi keselaran jiwa dan mental.

Bulan suci Ramadhan adalah situasional umat muslim yang tidak bisa dikritik, baik oleh sains, para penganut atheis, serta agama lainnya. Bulan puasa penuh sanjungan berbagai disiplin ilmu. Bulan puasa umat Islam mendapat bintang lima dalam ilmu kedokteran demi kesehatan. Stephen Hawking sendiri konon mengagumi hal tersebut.

Catatan Oyong Liza Piliang
Pariwisata Budaya, Membudayakan Pariwisata




Pariwisata dan budaya adalah dua elemen tidak terpisah bak sisi mata uang. Pariwisata dan budaya adalah perkawinan abadi atau monogami.

Menjual pariwisata tanpa budaya adalah sesuatu yang sulit terwujud. Orang ingin ke Paris, Roma, Jepang, Bali karena ingin melihat kebudayaan setempat, baik dari sisi arsitektur, kesenian tradisional, religiun, kearifan lokal di samping keindahan alam.

Untuk Kota Pariaman sendiri begitu banyak potensi budaya dan kearifan lokal. Meski Pariaman bagian dari Minangkabau, spesifikasi sebagai masyarakat pesisir dan topografi ditambah sejarah yang melatar belakangi, punya keunikan tersendiri yang tidak dimiliki daerah lain selingkaran alam Minangkabau.

Potensi-potensi itu sekarang muncul kembali ke permukaan setelah sekian lama terkubur oleh pengaruh budaya luar. Masyarakat menyadari budaya mereka adalah sebuah kekayaan. Mereka berfikir buat apa meniru budaya global yang bukan jati diri mereka. Orang-orang bergaya ke barat-baratan mulai dipandang kolot, sok modis dan KMS (ka ma salamoko).

Sekarang di Jawa orang zamannya memakai blankon, bukan pamer rambut metal dangdut, belakang gondrong depan cepak, atau talmet, belakang gondrong depan Adi Bing Slmet (depan berponi).

Di Pariaman, anak-anak mulai bermain patok lele, cabur, semba lakon, gasiang. Itu permainan seru yang diwariskan turun temurun oleh leluhur rang Piaman.

Olahraga beladiri mereka kembali ke silat. Silat atau silek banyak alirannya, sebut saja silek harimau, ulu ambek, kumango, silek tuo, silek sunua, dan aliran lainnya. Pesilat asli bisa menangkap pisau dengan giginya, bisa membunuh sekali pukul. Silek Piaman adalah silek baradaik, semakin tinggi ilmu sileknya makin rendahlah hatinya. Gabungan filosi dan beladiri.

Suatu ketika ada seorang teman dari Riau satu sekolahan dengan saya dulunya di Pekanbaru. Dia teman karib dari SD hingga SMP. Datanglah dia ke Pariaman lebaran tahun 2015. Kekaguman dia adalah adanya stasiun kereta api aktif peninggalan Belanda di Pariaman menghadap pantai Gandoriah pula.

"Coba kawan cari stasiun kereta api mana di Indonesia yang menghadap pantai?," tanya dia waktu itu.

Dari pertanyaannya saja sudah membuat saya bangga. Langsung kembang lobang hidung saya. Sesaat kemudian saya ceritakan sejarah awal mula kereta api di Pariaman dibangun.
 

Saya ceritakan kereta api ganefo dulunya yang selalu minum di stasiun Pariaman meski saya sendiri belum pernah menyaksikannya. Perihal kereta api minum, Walikota Mukhlis paling banyak tahu. Menyaksikan kereta api minum salah satu tontonan menarik baginya semasa kecil. Penuturan itu dia ceritakan dengan perasaan mendalam di hadapan publik suatu ketika.

Sang karib, saya bawa ke makam Syekh Burhanuddin, melihat beberapa benteng peninggalan Jepang di Pariaman, mengunjungi makam panjang dan sumur tua di Pulau Angsoduo. Selebihnya berwisata kuliner. Dua hari dia di Pariaman saya inapkan di sebuah hotel yang saya nilai paling bersih. Bersama istri dan dua anaknya dia kembali ke Riau membawa salah satu momen terbaik dalam hidupnya.

Itulah kebudayaan yang selalu tidak lepas dengan sejarah. Kehausan akan sejarah akibat manusia zaman kini sudah jengah dengan alam modern. Orang berwisata berburu ke Afrika menyaksikan kehidupan alam liar di Padang Khalahari. Menyaksikan perkasanya singa dan ceetah sebagai makhluk tercepat di darat dalam berburu.

Orang mulai mengunjungi gua-gua pra sejarah di pedalaman Amazon menyaksikan painting manusia purba di dinding gua. Mereka mulai menggali budaya nenek moyang dengan ilmu sejarah.

Di Kota Pariaman, nilai-nilai budaya belum tergerus zaman terlalu dalam. Sangat mudah dibangkitkan. Pariaman adalah sebuah kota yang memiliki jati diri karena sejarah panjangnya sebagai kota tua maritim. Di sini ada kuburan Belanda dan kuburan Cina yang benar-benar orang Belanda dan Cina dimakamkan di sana. Ada banyak sejarah dan budaya mewarnai perjalan Pariaman dari abad ke abad.

Itulah dia wisata dan budaya. Pariaman memiliki keduanya.

Oyong Liza Piliang