Jika Tak Emas, Tembaga Lah Awak..




Emas Lantjung tak perlu disepuh, kilat tembaga tampak jua,, demikian kutipan kalimat Buya Hamka di buku karangannya yang berjudul Pribadi yang beliau karang medio 1950. Buya Hamka adalah sosok Ulama Modern dimasanya. Ia mengidolakan Syekh Muhammad Abduh, Tokoh Ulama Revolusioner Mesir. Buya Hamka boleh disebut Bapak Ulama Modern Indonesia, Ia adalah Pendiri Majelis Ulama Indonesia. Buya yang Hobi mengoleksi Tongkat ini juga terkenal paling banyak meng-Islamkan Non Muslim. Buya Hamka juga terkenal sebagai penceramah ulung yang bermain diranah Logika, tak heran jika Mesjid Al Azhar Kebayoran Lama saat itu dipenuhi oleh kalangan Gedongan yang sebelumnya malas mendengarkan ceramah Agama.

Buya Hamka meninggal dunia pada tahun 1981 setelah beberapa saat pengundurun dirinya sebagai Ketua MUI. Banyak spekulasi beredar Buya tidak sepakat dengan Presiden Soeharto tentang Kontroversi Natal Bersama, sehingga Ia lebih memilih mundur sebagai Ketua MUI sembari memberikan Fatwa Tegas, bahwa Umat Muslim tidak boleh merayakan Natal bersama Nasrani. Disini kita bisa melihat Karakter Buya Hamka, meskipun Ia dikenal berpandangan Modern, namun jika menyangkut Aqidah, bagi beliau adalah Harga Mati, Pokok Padang yang tak bisa ditawar.

Selain dikenal sebagai Ulama besar Buya juga dikenal sebagai Penulis, Jurnalis bahka Politisi. Buya banyak melahirkan karya tulis. Romannya yang terkenal adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, sedangkan Tafsir Al Azhar Ia rampungkan semasa beliau di penjara Suka Miskin Rezim Soekarno.

Membaca Buku karangan Buya Hamka adalah suatu momen penting bagi saya. Dulu, disaat masih lajang saya sempat di cemooh kawan-kawan mengunjungi Gramedia saat Mabuk., Kenapa? Dalam keadaan Mabuk saja saya Hobi Membaca, apalagi sadar. Saya memang bukan kutu Buku, namun akan membaca buku-buku bermutu. Saya dapat menilai sebuah Buku akan laku atau tidak dengan membaca 5 Halaman isinya saja.

Hobi membaca ditularkan oleh kakak perempuan saya semasa masih tinggal di Pekan baru, bacaannya dulu Majalah Kartini dan Intisari. Itu Medio tahun 1990 an.

Sedangkan Menulis saya tidak pernah mempelajarinya, namun siap di kritik. Kritikan terbaik Ihwal menulis saya dapatkan dari Iwan Piliang, Ia kakak Angkat.

Iwan Piliang pernah mengatakan Menulis adalah membaca. Artinya dengan rajin membaca kita punya banyak bahan Untuk menulis disamping menambah Ilmu.

Saya bukanlah Jurnalis yang pernah bersekolah reportase, namun saya selalu belajar bagaimana cara mereportase yang bagus, dan akan terus menerus. Bagi saya Reportase adalah Mengabarkan Maksud sehingga didapat Output.

Karena Tulisan dinilai terlalu berani, suatu ketika, Ketua Saya (Ormas Pemuda Pancasila Sumatera Barat), Bang Leonardy Harmainy sempat mengkhawatirkannya. Ia tanpa setahu saya meminta seorang Pengacara mendampingi jika suatu saat saya terseret ke ranah Hukum. 


Leonardy juga seorang Pembaca dan Penulis, Ia bahkan mengkoleksi Buku Buya Hamka lama yang sekarang susah dijumpai di rak Buku Gramedia. Mungkin Ia lebih baik meminjamkan Uang daripada meminjamkan Buku Karangan Buya Hamka koleksinya, menurut saya.

"Kalau Buku Buya Hamka dipinjamkan, Dia tidak akan dikembalikan Yong," Ujarnya suatu saat.

Minat membaca kepada generasi Muda yang akan datang adalah tanggungjawab kita bersama, agar terlahir generasi kritis, bukan pragmatis. Taman Bacaan, Rumah Bacaan, Pustaka, musti dan Harus adanya, Begitu juga dengan tersedianya Bacaan Buku bermutu di pustaka tersebut. Buku adalah Jendela Ilmu.

Emas Lantjung Tidak perlu disepuh, Kilat Tembaga tampak Jua,, Jika pun tak (Generasi) Emas, sekurangnya Tembaga lah,, Dia bikin Berkilat Juga lah (Generasi) Awak..

Catatan Oyong Liza Piliang