Kemendikbud Minta Padangpariaman Kaji dan Tetapkan Situs Cagar Budaya
Haryy Widianto dan Wabup Suhatri Bur terlibat diskusi penetapan situs cagar budaya
Padangpariaman ----- Direktorat Jenderal Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Republik Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Haryy Widianto, dorong masyarakat dan pemerintah daerah daftarkan cagar budaya di daerah kepada pemerintah pusat.

Ia mengatakan, cagar budaya di Indonesia masih banyak yang belum terdata. Selain disebabkan keengganan mendaftarkan melalui System Registrasi Nasional Cagar Budaya, hal itu juga disebabkan masih minimnya pemahaman masyarakat terhadap unsur yang termasuk cagar budaya.

“Jika sudah terdaftar pada System Registrasi Nasional Cagar Budaya, tentu kami di pusat dapat memberikan perhatian, khususnya untuk perawatan cagar budaya di daerah masing-masing,” ujar Dirjen Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Republik Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Haryy Widianto saat menjadi narasumber dalam diskusi Merajut Potensi Membangun Nagari di Padangpariaman, Senin (16/4).

Menurutnya, selama ini masyarakat menafsirkan cagar budaya sebatas bangunan ataupun benda. Padahal, cagar budaya memiliki banyak ragam, seperti struktur cagar budaya, kawasan cagar budaya dan situs cagar budaya.

“Bahkan ada juga masyarakat yang tidak tahu bahwa kawasan tempat dia tinggal adalah kawasan cagar budaya. Padahal sebagai daerah yang kaya peradaban, banyak potensi struktur cagar budaya, kawasan cagar budaya ataupun situs cagar budaya yang dimiliki. Namun belum didaftarkan,” ulasnya.

Ditambahkan Harry, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk melakukan kajian dan menetapkan status cagar budaya di daerah masing-masing. Undang-Undang yang dikenal dengan UU Cagar Budaya itu masih memberikan 14 kewenangan lain kepada pemerintah daerah.

“Pemerintah daerah bisa membentuk tim untuk mengkaji dan memberikan rekomendasi penetapan cagar budaya. Daerah bisa menetapkan status cagar budaya,” ujarnya.

Wakil Bupati Padangpariaman, Suhatri Bur mengatakan, keberadaan cagar budaya merupakan peluang pengembangan pariwisata di Padangpariaman. Cagar budaya seperti situs, kawasan dan bagunan, akan manjadi daya tarik bagi wisatawan jika dikelola dengan baik.

Ia mengatakan, saat ini tercatat 25 cagar budaya di Padangpariaman telah didaftarkan kepada pemerintah provinsi Sumatera Barat. Diperkirakan jumlah tersebut akan bertambah karena masih ada cagar budaya yang belum terdata di Padangpariaman.

Pelestarian cagar budaya harus dilakukan. Tidak hanya untuk sekadar merawat, namun pelestarian cagar budaya juga memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat.

Dikatakan Suhatri, Pemkab Padangpariaman telah menerbitkan regulasi berupa edaran pelestarian cagar budaya di Padangpariaman. Disamping itu, pelestarian juga ditempuh dengan upaya perawatan dan penambahan infrastruktur cagar budaya yang ada.

“Daerah diberikan kewenangan untuk pengelolaan dan pengembangan cagar budaya. Ini bisa dimanfaatkan untuk mendukung visi dan misi pariwisata Padangpariaman. Yang jelas pengelolaan harus melestarikan cagar budaya yang ada,” kata dia.

Salah satu cagar budaya di Padangpariaman yang banyak ditemui adalah bangunan surau ataupun masjid. Selain memiliki arsitekur unik, umur dan sejarah tentang bangunan surau yang ada juga amat panjang.

“Banyak bangunan surau yang menjadi cagar budaya. Ada yang berumur ratusan tahun, ada bangunan dan arsitekturnya yang unik,” pungkasnya. (Nanda)
[Basapa di Ulakan] Ribuan Peziarah Menyemut, Ratusan Kendaraan Tejebak Macet
Sejak sore hingga malam warga peziarah terus berdatangan. Terlihat polisi tengah mengatur arus lalulintas dan menyebarangkan para lansia. Foto/Nanda
Ulakan --- Arus lalulintas kendaraan bermotor sepanjang 200 meter di jalan Syeikh Burhanuddin, tepatnya depan kawasan makam Syekh Burhanuddin, Ulakan, merayap mengular. Dari pantauan wartawan dari sore hingga malam ini, ribuan peziarah terus berdatangan. Makin malam kian menyemut.

Merayapnya laju kendaraan disebabkan ramainya masyarakat dari berbagai wilayah Sumatera Barat dan luar provinsi yang berziarah ke makam Syeikh Burhanuddin di Ulakan di bulan "Sapa Gadang".

"Kendaraan dari arah Padang menuju Pariaman atau sebaliknya masih bisa melintas dengan kecepatan rata-rata 5 km/jam hingga 10 km/jam," ujar Kapolsek Nan Sabaris Iptu Pamudji, Rabu (8/11) malam.

Ia mengatakan, perlambatan kendaraan saat melintas akibat difungsikannya sebagian bahu jalan untuk parkir kendaraan dan dipadati pejalan kaki.

"Kantung parkir yang tersedia sudah penuh, banyak kendaraan diparkir menggunakan separuh badan jalan, belum lagi digunakan oleh pejalan kaki," ucapnya.

Kepadatan kendaraan di kawasan dan di jalan depan kawasan makam Syeikh Burhanuddin akan masih berlangsung hingga esok pagi.

"Ramainya masih sampai besok pagi, karena masih banyak peziarah yang zikir di kawasan makam hingga subuh," ulasnya.

Bagi pengguna jalan yang buru-buru, kata dia, dapat memutar ke arah Pauhkambar dan melanjutkan perjalanan ke Pariaman.

"Basapa" merupakan tradisi ziarah ummat Islam diberbagai daerah Sumatera Barat dan luar Sumatera Barat ke makam Syeikh Burhanuddin. Jika hari ini, dikenal dengan "Sapa Gadang".
Genius Umar Imbau Masyarakat Kembangkan Kearifan Lokal

Pariaman --- Pemerintah Kota Pariaman apresiasi Camat Pariaman Timur dan jajaran serta masyarakatnya, yang terus konsisten dan aktif menyelenggarakan pagelaran seni dan budaya dalam rangka mempromosikan eksistensi seni budaya bagi kalangan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Walikota Pariaman Genius Umar pada pembukaan pagelaran Festival Seni dan Budaya Daerah Kecamatan Pariaman Timur, di Kantor Desa Koto Marapak, Rabu (25/10).

"Dari 4 kecamatan yang ada, baru kecamatan Pariaman Timur yang sudah menggelar dan mengembalikan kearifan lokal di daerahnya, dengan menggelar Festival Seni dan Budaya Daerah untuk kali yang ketiga, sejak dimulai di tahun 2015 lalu," tuturnya.

Kepada camat yang lain Genius Umar mengimbau agar mengangkat kearifan lokal yang ada di daerah mereka masing-masing, dengan konsep yang berbeda, agar setiap kecamatan memiliki keberagaman sesuai ciri khas daerahnya masing-masing.

"Memiliki arti penting dan bermakna strategis dalam upaya menjaga, melestarikan dan sekaligus mewariskan seni dan budaya kepada generasi penerus," ungkap Genius Umar.

Ia berharap dengan digelarnya acara tersebut, hendaknya menyadarkan masyarakat sudah saatnya bangga dengan budaya dan kesenian yang dimiliki.

"Mari terus kita jaga seni dan budaya kita sebagai identitas bangsa, dan mempromosikannya dengan kegiatan seperti yang kita laksanakan hari ini. Jangan mau kalah dengan kebudayaan asing yang masuk. Kepada generasi muda agar membekali diri dengan kearifan lokal, agar tidak terjerumus dalam pergaulan negatif, " tutupnya.

Camat Pariaman Timur Hendri mengatakan, Festival Seni dan Budaya Daerah Kecamatan Pariaman Timur menggelar berbagai kesenian dan budaya daerah antara lain silek tradisional, cabur, gandang tasa, tari indang, dan barzanzi, serta kegiatan tambahan yaitu pertandingan tenis meja.

"Festival ini dilaksanakan seminggu kedepan dari tanggal 25 hingga 31 Oktober 2017, dan kami gelar dan pusatkan di Desa Koto Marapak. Untuk tahun-tahun selanjutnya akan digilir di desa yang ada di Kecamatan Pariaman Timur," sebutnya.

Dipusatkannya kegiatan di suatu desa, kata Hendri, agar masyarakat ikut berpartisipasi aktif dalam meramaikan dan menginisiasi kegiatan.

Acara Festival Seni dan Budaya Daerah Kecamatan Pariaman Timur dimulai dengan penampilan silat tradisional, sepak rago, tari dan nyanyi serta makan bajamba.

Terlihat hadir dalam acara itu Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyudin dan Anggota DPRD Kota Pariaman Reza Saputra. (Juned)
DPRD Akan Kembalikan Nama Daerah ke Bahasa Piaman Asli

Ketua DPRD Mardison Mahyuddin (kiri) saat berdiskusi dengan anggota DPD RI Leonardy Harmainy (kanan)
Santok --- DPRD Kota Pariaman akan mengembalikan keaslian nama-nama desa/wilayah melalui Peraturan Daerah (Perda). Nama-nama desa, saat ini dinilai telah melenceng dan jadi tidak bermakna dari makna aslinya sesudah dinasionalisasikan.

"Misalnya Punggung Lading, aslinya kan Pungguang Ladiang. Lading tidak ada artinya dalam bahasa Indonesia dan bahasa asli Pariaman. Begitu juga dengan nama Manggung, Naras dan banyak lagi nama-nama yang melenceng dari arti yang sesungguhnya," kata Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyuddin di kantor KPU Kota Pariaman, Senin (16/10).

Menurutnya, DPRD saat ini telah mendata semua nama-nama wilayah yang akan dikembalikan ke bahasa Pariaman asli. Nama-nama tersebut setelah data rampung, akan dibahas secepatnya bersama pihak eksekutif, selanjutnya dibuatkan Perdanya.

"Kita menunggu dari eksekutif sebenarnya. Namun setelah pengumpulan data rampung, jika pihak eksekutif belum juga mengajukannya, DPRD bisa mengajukan melalui Perda Inisiatif," sambungnya.

Ia mengatakan nama-nama desa dan kelurahan yang ada sekarang, dahulunya diubah menyesuaikan EYD (ejaan yang disempurnakan). Tapi setelah diubah, banyak masyarakat yang protes karena nama tersebut menjadi kehilangan makna.

Terpisah, Adek (46) warga Pariaman Tengah setuju dengan pengembalian ejaan nama nama daerah di wilayah kota Pariaman. Ia menilai langkah tersebut merupakan pelestarian nilai-nilai asli daerah.

"Memang ada bahasa daerah Minang tidak berubah makna setelah dinasionalisasikan, namun dalam beberapa kasus nama malah kehilangan artinya dan menjadi janggal setelah diubah ke bahasa Indonesia," kata dia.

Ia menilai pihak eksekutif dan legislatif benar-benar mendata secara keseluruhan nama-nama yang akan dikembalikan ke bahasa Pariaman agar tidak ada yang tercecer.

"Supaya tidak sampai merevisi lagi, kan?" pungkasnya. (OLP)
Jamba Maulid Nabi Bi'dah? Ini Kata Suhatri Bur



Wakil Bupati Padangpariaman Suhatri Bur hadiri sekaligus serahkan bantuan kepada panitia Maulid Nabi Muhammad SAW di Surau Pimpiang Korong Tanjuang Baliak, Nagari Lareh Nan Panjang Kecamatan VII Koto, Senin (23/01).

Mantan Ketua KPU Padangpariaman itu juga menyinggung tentang 'Jamba' yang sering dikritik sebagian kalangan sebagai hal yang mubajir saat Maulid Nabi. Menurut dia, Jamba yang dibuat oleh masyarakat adalah sebagai wujud syukur dan ucapan terima kasih kepada nabi junjungan yang telah berjasa merubah akhlak umat manusia.

Maulid dan Jamba, sambung dia adalah budaya asli Padangpariaman yang harus dilestarikan. Jamba juga sebagai media perekat silaturahim antar jemaah yang hadir.

"Pada hari biasa kita jarang berjumpa dan bercerita dengan saudara, saat maulid lah silaturahim kembali dirajut dan ditingkatkan sehingga tali persaudaraan semakin kuat. Saat itu juga kita saling bertukar kabar. Dengan budaya ini, kita dapat membudayakan meramaikan dan memakmurkan surau, masjid dan mushalla," kata dia.

Ia menambahkan, saat ini budaya mendatangi mesjid kadang dianggap tidak modern oleh sebagian kalangan sehingga mereka malas datang di acara kebesaran umat muslim di surau-surau.

"Kalau memang pahamnya tidak merayakan silahkan saja kita tidak mempersoalkan. Begitu juga dengan yang memiliki paham bahwa Maulid Nabi harus dirayakan maka tidak boleh juga orang lain melarang atau mempermasalahkan," tegasnya.

Ia menyatakan pihaknya selalu mendukung setiap perayaan Maulid Nabi yang dihelat oleh masyarakat. Pihaknya juga perlu menjelasakan bahwa Maulid Nabi yang diselenggarakan masyarakat bukan bi'dah.

"Jika ada yang mengatakan itu bid'ah maka bisa dikatakan orang tersebut tidak mau bersyukur dan mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Nabi Besar Muhammad SAW semasa hidupnya," pungkasnya.

Turut hadir saat itu Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Ali Amran dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Zahirman. Kedatangan Suhatri dan rombongan disambut hangat oleh walinagari dan masyarakat setempat.

ASM/OLP
GOW Pariaman Lestarikan Tradisi Barzanji Riwayat Rasul SAW



Wakil Walikota Pariaman Genius Umar buka lomba Barzanji di Balairung Pendopo Walikota Pariaman, Minggu (18/12). Acara tersebut sedianya digelar di lapangan parkir Gandoriah sebelum hujan deras mengguyur tempat tersebut.

Barzanji ialah suatu doa-doa, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad SAW yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada yang biasa dilantunkan ketika kelahiran, khitanan, pernikahan dan maulid Nabi Muhammad.

"Melantunkan Barzanji adalah bersalawat kepada rasul, budaya ini harus diteruskan kepada generasi muda," ujar Genius.

Dia mengimbau budaya religius wajib untuk dilestarikan agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Semua komponen masyarakat punya tanggungjawab untuk hal tersebut, termasuk Barzanji.

"Kitab Al Barzanji ditulis dengan tujuan untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan meningkatkan gairah umat. Dalam kitab itu, riwayat Nabi Muhammad SAW dilukiskan dengan bahasa yang indah dalam bentuk puisi, prosa dan kasidah yang sangat menarik," ucapnya.

Sejarah Barzanji, ungkap Genius tidak lepas dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang pertama digelar oleh Sultan Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi-- dalam literatur sejarah Eropa dikenal dengan nama Saladin. Saladin menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa seindah mungkin.

"Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji, yang merupakan penulis kitab Barzanji ini," tutur Genius menceritakan.

Dia meneruskan, peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan oleh Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali dibuatnya.

Pada tahun 1099 Masehi, terus Genius, tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem dapat direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali sampai hari ini.

Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Pariaman Lucy Genius mengatakan, Barzanji dilaksanakan juga dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-88 tingkat Kota Pariaman, sekaligus memperkuat ukhuwah antar organisasi wanita yang ada.

Acara ini diikuti oleh delapan (8) Kelompok BKMT. Masing-masing kecamatan mengutus 2 kelompok. Lomba Barzanji kali pertama digelar di Kota Pariaman.

"Tahun depan acara ini diharapkan lebih besar dengan menyertakan masyarakat luas beserta generasi muda, guna mengenalkan hakekat Barzanji sekaligus melestarikannya di tengah masyarakat Pariaman," ucap Lucy.

TIM