Headlines News :

Berita Terpopuler

Pages Pariaman News

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan posting dengan label budaya. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label budaya. Tampilkan semua posting

Zulbahri: Tabuik Piaman Tidak Ada Kaitannya Dengan Ritual Agama (Syiah)

Written By oyong liza on Kamis, 21 November 2013 | 13.18





Sebelumnya Tokoh Ulama Sumbar Buya Bagindo Leter pernah menegaskan bahwa Pesta Budaya Tabuik Piaman adalah Murni Budaya, bukan mengikuti aliran atau ajaran Syiah sebagaimana yang kadang di salah artikan sebagian kalangan.

Pernyataan Buya Leter tersebut dipertegas oleh Walikota Pariaman Mukhlis Rahman pada Minggu 17/11/2013 kemarin dalam sambutan resminya di Lapangan Merdeka Pariaman saat Kedua Tabuik hendak di hoyak dan dibuang kelaut.

Mukhlis mengatakan Bahwa Tabuik adalah budaya seni yang tidak ada kaitannya dengan aliran Agama tertentu.

"Tabuik adalah murni pesta Budaya yang sudah berlangsung turun temurun. Tabuik adalah Pesta seni yang tidak ada kaitannya dengan Aliran Agama tertentu. Sangat keliru jika ada yang menuding dan mengait-ngaitkan ini dengan aliran kepercayaan Agama tertentu. Tabuik tidak akan mengubah Agama kita," Tegas Mukhlis.

Sementara itu terkait rencana sister city antara Pariaman dan Iran dalam bidang Kebudayaan, termasuk di dalamnya Tabuik, menurut beberapa kalangan hal tersebut dapat memasukan paham Syiah di Pariaman sebagaimana komentar di jejaring Sosial.

Untuk itu kami mencoba menghubungi beberapa Tokoh Masyarakat untuk mendiskusikannya. Dalam tanggapan mereka hal itu bukannya berdampak buruk, justru bahkan sebaliknya. Kerjasama bidang Kebudayaan akan menguntungkan Pariaman dalam berbagai Bidang, baik Pariwisata maupun Ekonomi.

Senada dengan pendapat diatas, Pengamat Pariwisata dan Budaya, Zulbahri, SH, juga berpandangan sama. Menurut Zulbahri Agama tidak boleh dikait-kaitkan dengan Budaya.

"Tabuik itu adalah Pesta Budaya tidak ada kaitannya dengan Agama. Sejak dari Zaman Anas Malik itu Tabuik Budaya, dulunya Tabuik itu ada Perang-perang batu," Kata Zulbahri.

Kemudian Zulbahri mengatakan tidak ada relevansinya antara Agama dan Budaya Tabuik yang sudah menjadi tradisi turun temurun.

"Tabuik Piaman adalah tetap Pesta Budaya, beda dengan Tabuik Bengkulu. Sama dengan Budaya Ngaben dan Nyepi di Bali,"

"Tabuik Piaman Tidak ada kaitannya dengan Ritual ke Islaman. Jika pun ada kaitannya ini memuliakan Bulan Muharam. Dan Kita Orang Islam wajib itu memuliakan Bulan Muharam sebagaimana peringatan 1 Syuro di Jawa," Tutup Zulbahri.

Catatan Oyong Liza Piliang

Ini Pariaman Bung !!

Written By oyong liza on Selasa, 12 November 2013 | 22.46





Sebaik-baiknya manusia adalah yang menelaah setiap Informasi sebelum melontarkan hujatan atau komentar skeptis, ketaatan Verifikasi demi mempertajam nalar musti dimiliki oleh setiap Manusia agar tidak terjerumus dalam su'uzan. Allah SWT dalam firmannya juga menegaskan bahwa akal dan fikiran yang akan menuntun manusia kejalan yang benar, serta hati yang bersih yang akan membawa manusia menuju Syurga.

Tabuik,, Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tidak ada satupun masyarakat Piaman yang menganut paham Syiah. Pasti dan sangat Empiris. Namun bagi sebagian kalangan memperdangkal paham Bahwa dengan Mengikuti Pesta Budaya Tabuik mereka sudah mengklaim semua Masyarakat Piaman mengikuti ajaran/paham Syiah. Miris Bukan?

Bagindo Buya Leter, Tokoh Masyarakat Piaman dengan tegas mengatakan bahwa sangat keliru jika ada sebagian kalangan menuding dengan menggelar Pesta Budaya Tabuik Masyarakat Piaman dikategorikan penganut paham Syiah. Rekaman Pernyataan Buya Leter barusan diputar di Pendopo Rumah Dinas Walikota Pariaman dalam acara Jamuan makan Malam dengan Atlit, Official dan Wasit Voli Pantai tingkat Nasional yang akan diadakan di Pantai Gandoriah Pariaman.

Pesta Budaya Tabuik Bagi Rang Piaman adalah Budaya turunan leluhur yang patut dilestarikan, disamping magnit Utama penarik Wisatawan berkunjung kedaerah ini. Perlu Anda Ketahui Bahwa Acara Tabuik Piaman (karena Tabuik Juga ada di Bengkulu) pernah diadakan di Istana Negara Republik Indonesia, Jerman, bahkan Amerika Serikat. Pesta Budaya Tabuik adalah aset terpenting masyarakat Piaman yang tidak SATUPUN dari Masyarakatnya menganut paham Syiah.

Begitu juga dengan diadakannya Oven Tournamen Voli Pantai Tingkat Nasional kelompok Umur PON di Kota Pariaman. Meskipun mereka sudah tahu bahwa peserta Putri tidak mengenakan Bikini, ada saja sebagian dari mereka yang memandang sinis hal ini. Mereka beranggapan menodai Kota Pariaman lah.. Nanti haram kalau ditonton karena tidak sopan,, Mau dijadikan apa Kota Pariaman,, Berbau Maksiat,,Mengaitkan lagi dengan Agama,, Wake Up,, yang benar saja Bung,, Lalu Apa yang akan di buat di Kota Pariaman buat menyenangkan hati Anda yang berpandangan Begini,, Ingat Ini Pariaman, Bukan Arab, dan Bangsa Arab pun juga punya atlit renang Putri, mereka tidak berjibab berenang Bung? Dan saya tidak dibayar Pihak Pemko sepeserpun dalam mereportase hal itu sebagaimana yang mungkin Anda Perkirakan.

Disini Saya hanya ingin mengatakan Buka Pikiran bukan sebaliknya. Jangan selalu mengait-ngaitkan segala sesuatunya dengan Nilai-nilai Kudus Ke Tuhanan. Bukankah kita dituntut Untuk memajukan diri dan Kaum Kita sendiri sebagaimana yang tersurat: "Tidak akan berubah nasib suatu kaum kalau tidak kaum itu sendiri yang berusaha merubahnya." Ini berlaku bagi perorangan, Daerah, bahkan Negara dan Dunia.

Dan saya ingin mengatakan bahwa Masyarakat Kota Pariaman berharap Kota ini menjadi Kota Destinasi Pariwisata tanpa mengabaikan nilai-nilai Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah. Dengan alasan demikian apakah tidak pada tempatnya menggelar Olahraga Voli Pantai dengan peserta Putri berpakaian Sopan? Yang benar saja Bung?

Catatan Oyong Liza Piliang

Korupsi dan Budaya Minang

Written By oyong liza on Selasa, 04 Desember 2012 | 15.35


Pariaman era kini beda betul dengan dulu. demikian kata beberapa tokoh masyarakat dipalanta Anih samping BPD. Perbedaan yang dimaksud adalah ihwal ke Adatan dan bernagari. hal tersebut tentu tak lepas dari kurangnya pendidikan rasa kedaerahan dan kecintaan budaya lokal yang ditanamkan dari dini melalui Kurikulum ekstrakulikuler misalnya kalau saya boleh berpendapat.pendidikan kebudayaan lokal sangat penting adanya untuk memperkuat Adat istiadat sekaligus meneruskanya kepada generasi turun temurun, sebagaimana Jepang yang budayanya semakin tinggi meskipun diera yang sangat Modern ini.

Mamak badagiang taba , kamanakan bapisau tajam bak pepatah kini sudah terdegradasi oleh alam. langgam demikian entah dimana menyusutnya, peran Niniak mamak juga acap diabaikan oleh warga dengan berbagai alasan semacam niniak mamak juga tidak memberikan tauladan yang baik serta bla bla bla..

Hal demikian, tatanan budaya kita seharusnya semakin kokoh bila segala lapisan masyarakat tau akan Tupoksinya, semacam datuak, hulubalang, Panungkek, Parik Paga serta Bundo kanduang sebagaimana yang telah diatur dalam Tambo Minangkabau.  beberapa daerah saya perhatikan masih kuat mempertahankan nilai-nilai demikian,namun prosentasenya tentu semakin mengecil bila kita bicara Ranah Minang secara umum

Hal begini, degradasi Budaya , musti kita bersama ,seluruh lapisan danPemerintah Daerah yang melestarikannya dengan Program pendidikan dini kepada Anak-anak kita. kenalkan mereka dengan Kearifan lokal sedari dini semacam Negara Jepang. Jika Budaya minang yang dikenal luhur itu sudah menjadi karakter daerah akan banyak hal positif yang kita dapat. diantaranya keluhuran Budi, Ibu dari sifat-sifat kebaikan.

Mengembalikan budaya Luhur menjadi karakter anak daerah tentu berdampak Positif bagi generasi yang akan datang. 

Mereka akan takut Korupsi,karena Korupsi=Maling. dan maling adalah sebuah Kosakata yang sangat memalukan dan Aib besar bagi kita Urang Minangkabau.

Nanti dikelak hari akan ada pameo.. Jikok Korupsi , antah kama muko kadiandok an, baiak elok barangkek jauah dari kampuang daripado sakaum manangguang malu..

catatan Oyong Liza Piliang

Menuju Generasi Biru Pariaman

Written By oyong liza on Senin, 03 September 2012 | 14.36


pembangunan berbasiskan SDM (sumber daya manusia) mustilah mutlak diaplikasikan dikota pariaman dan kab pd pariaman ini mengingat minimnya SDA (sumber daya alam). sektor pendidikan musti menjadi prioritas utama dipiaman (kota dan kab pariaman) dengan mengalokasikan dana dan program-2 yg kompatibel dgn budaya minang sehingga generasi yg akan datang jauh lebih unggul dari kekinian (generasi biru). dengan SDM yg unggul mereka yg nantinya pemegang estafet masadepan pariaman ini akan cakap menggali potensi yg ada didaerah ini untuk digarap dengan maksimal tentunya dg terapan ilmu yg mumpuni.

begitu juga dengan budaya kearifan lokal minangkabau yg bila digali dan dimatangkan akan ditemui konsep-2 kemapanan (ekonomi) , spiritual , etika dan demokrasi.ini musti diestafetkan kegenerasi kekinian sebelum terdegradasi oleh budaya barat dengan cara mengembalikan peran niniak mamak , cadiak pandai dan tokoh adat sebagai pembina generasi dengan memberikan contoh teladan yg baik atau bisa juga melalui workshop dengan tema budaya minangkabau. maka dari itu semustinya tokoh adat hendaknya jangan terjun kedunia politik praktis.

sepulang dari kantor SAMSAT pariaman untuk membayar pajak kendaraan roda empat seorang sahabat datang ketempat saya menyampaikan pentingnya peran media alternatif independent untuk sosial kontrol dipariaman ini,lanjut ia menjelaskan media yg independensinya terjaga kelak tentunya akan jadi acuan bagi masyarakat untuk memperoleh berita objektif ketimbang oknum media yg loyal dengan humas pemerintahan tukuknya, ia berharap banyak kepada pariamantoday.com katanya lagi. saya menjawab InsyaALLAH hingga saat ini saya masih diberi otak yg bersih oleh ALLAH SWT sehingga tahan akan godaan amplop sembari mencontohkan beberapa kasus yg saya alami dilunakan dg berbagai cara termasuk godaan materi.

teringat saya ketika berdiskusi dgn sekdakab pd pariaman bpk mawardi samah diacara patang mambungkuih alek keponakan dewi (ketua dpd partai NasDem) di RM PAUH RAYA semalam. mawardi samah yg sempat juga gerah dg ancaman wartawan bodrex ini berujar bahwa peran media sangat dibutuhkan dalam sistem pemerintahan bersebab media adalah pilar demokrasi ke-4. "benar katakan benar salah katakan salah sehingga pemerintah bisa berbenah dan mengkaji ulang dalam setiap kebijakannya. bukannya mencari-2 kesalahan" tukuk mawardi sambil makan jagung rebus muda . mawardi samah tentulah sangat mengenal saya bersebab kami dalam gempa th 2009 bahu membahu menangani tanggap darurat diposko induk balaikota pariaman.mawardi juga berujar wacana pemindahan aktifitas pemerintahan kekantor bupati baru diparit malintang tgl 15 oktober dibatalkan.

dilain kesempatan Ahmad Yani SE MM pernah berkata pada saya bahwa konsep pondasi pembangunan dipariaman ini adalah sektor pendidikan " itu yg utama" katanya. " sebab minimnya SDA musti dibalance dg SDM, tentu dengan menitik beratkan sektor pendidikan.. dan itu musti gratis dalam artian yg sebenarnya selama 12 tahun" kata ketua YPAB (Yayasan Pendidikn Anak Bangsa)  yg juga pernah jadi anggota legislatif termuda (26 tahun).

saya berkesimpulan pembangunan berbasiskan SDM dipariaman ini musti ditopang oleh semua lini, mari kita saling bahu membahu, niniak mamak, ulama, cadiak pandai dan para tokoh adat agar bersinergis dengan pemerintahan agar kedepannya generasi kita berjaya.. berilmu, berbudaya, ulet,militan dan yg tak kalah pentingnya punya kecintaan yg tinggi pada daerahnya.. sehingga kelak generasi muda pariaman kedepan menjadi "generasi biru"..

catatan oyong liza piliang

Budaya Sunat Dari Masa Kemasa

Written By oyong liza on Rabu, 25 Juli 2012 | 12.43




Dulu waktu saya sunatan, selamatan cukup diadakan di rumah. Itu dilaksanakan tahun 1941 ketika saya berusia 11 tahun. Satu tahun sebelum Jepang masuk ke Indonesia, empat tahun sebelum proklamasi kemerdekaan. Yang hadir paling banter keluarga dekat, tetangga dekatdan kawan dekat yang punya hajatan, yaitu orang tua saya sendiri. Yangmenyunat saya bukan dokter, tapi seorang dukun merangkap kiayi di
kampungnya. Tapi Ayah sudah siap dengan obat bius lokal yang membuat
saya samasekali tidak merasakan sayatan pisau Pak dukun, karena sudah
diolesi obat bius lokal itu tadi. Sang dukun/kiayi sempat terperangah
karena belum pernah menggunakan obat semacam itu. 


Walhasil, semuaberjalan lancar, dan saya tinggal berbaring menunggu orang datang
memberi uang. Istilahnya di Bandung adalah "nyicip" yang disunat dan
nyicip makanan kecil ala kadarnya hasil yang disiapkan Ibu di
dapur.Cukup banyak uang terkumpul : F. 25,- (gulden zaman Belanda).Dengan uang itulah saya membeli sepeda, yang masih sempat dipakai
untuk sekolah dan "ngelencer" sore-sore. Itu dulu. Sekarang bagaimana ?


Kemarin kami sempat menghadiri acara sunatan model sekarang.
"Selamatan" tidak lagi dilakukan di rumah, tapi di poolside Club Villa
Delima tidak jauh dari tempat kami tinggal. Yang mengadakan selamatn
adalah tetangga. Rumahnya memang tidak seberapa besar. Jadi dapatlah
dimengerti apabila mereka memilih mengadakan selamatan di tempat umum
(tapi cukup private) ketimbang di rumah. Di tempat umum orang mudah
memarkir mobil, ruang selamatan juga luas dan lapang. 


Apalagi suasana bertambah semarak karena diadakan di poolside kolam renang yang cukup besar pula. Ada tenda utama tempat "sang pengantin = anak yang
disunat" dipajang didampingi papa & mamanya. Ada pula kotak besar
berlapis kain satin putih yang ditebar dengan aneka accessories,
dengan celah diatasnya untuk orang memasukkan uang (tentu dalam amplop
supaya terasa private dan tidak "vulgar"). Di dalam tenda itu juga
tersedia beberapa deret kursi, yang juga dibalut kain satin putih. Di
bagian lain dari poolside itu ada pula tenda tempat panggung band,
yang juga terbungkus satin putih. Ada pula tenda makanan (juga pakai
kelambu satin putih). 


Dan juga ada beberapa tenda lain (juga terbungkus satin putih) yang kurang jelas fungsinya untuk apa. Saya sempat ternganga melihat gaya yang jauh sekali berbeda dari apa yang dulu pernah saya alami. Ketika menyalami yang punya hajatan, saya
sempat berbisik memuju ideanya yang cemerlang. Dia menjawab "Ah Pak
Arifin, ini 'kan sederhana sekali…". Saya tersenyum kecut. Kalau
gaya begini disebut sederhana, tentulah ada gaya lain lagi yang
mungkin "tidak begitu sederhana". Yang mungkin agak mewah, atau malah
mewah sekali.


Dan ternyata kamilah rupanya yang "ketinggalan zaman" : Selamatan
dalam rangka perkawinan sudah lumrah diadakan di hotel-hotel
berbintang. Birthday parties yang beberapa tahun y.l. masih diadakan
di cafe-cafe, sekarang sudah beranjak ke….hotel-hotel berbintang.
Dan sunatan pun sudah dilakukan dengan gaya yang sama : di hotel-hotel
berbintang. Berapa banyak uang dihambur-hamburkan, hanya untuk
sunatan ? Jadi mungkin saja statement tetangga saya tadi yang berucap
bahwa "…ini mah sederhana saja Pak…." ada benarnya juga.
Sederhana. SEDERHANA with capital letters.


Katakanlah jumlah tamu yang dundang 100 orang. Plus anak, cucu,
menantu, orang tua, opa & oma, mungkin akan membengkak menjadi
katakanlah 200 orang. Dengan biaya catering yang "sederhana" sebesar
katakanlah Rp 75.000,- per orang maka anggaran untuk catering saja
sudah menuntut biaya sebesar Rp. 15 juta (minimal). belum lagi hiasan-
hiasan, tenda-tenda berkelambu satin putih, kursi-kursi satin putih,
band, dll. Katakanlah semua itu ditata dengan cara yang "sederhana" :
mungkin perlu biaya tambahan paling tidak Rp. 5 – 10 juta lagi.
SEDERHANA man ! Really sederhana. Berapa biayanya kalau diadakan di
hotel berbintang ? Sudahlah. It is their money. They can afford it.
They can even burn it, if they wish. Peduli amat dengan rakyat miskin
yang belum tahu bisa cari makan hari ini atau tidak………..Ini mah
SEDERHANA saja Pak……..


Mungkin perlu dipasang balihoo yang cukup BESAAAAR di lokasi-lokasi
yang strategis dimana orang dianjurkan kembali hidup SEDERHANA with
capital letters, with BIG letters, supaya terbaca dari kejauhan. BIG
man. BIG….


catatan arifin abubakar the indonesian freedom writers

Budaya Sogok Menyogok Dari Lahir Sampai Keliang Lahat







Menyogok sekarang dilakukan dengan biasa oleh masyarakat luass, dan luaaass sekali.


Sejak bayi lahir sampai orang meninggal.


Masa ?? 


Iya !!


Bayi lahir membutuhkan surat lahir.


Dalam sehari-harinya, dalam masa prosesnya akan dapat diurus sendiri atau diserahkan atau meminta jasa “baik” orang lain. Yang disebut orang lain itu bisa saja petugas yang memang sudah biasa mengurus hal ini mulai dari Surat Rukun Tetangga, Rukun Warga dan Kelurahan dan Kecamatan atau Catatan Sipil dan petugas Kotamadya dan mungkin ada pihak lain yang belum dapat disebut dan dituliskan disini.


Mungkin di Rumah sakit dimana bayi dilahirkan ada petugas Rumah Sakit yang bisa dan “patut” diberi uang jasa dan bersedia menerimanya.


Orang mati.


Masa ??


Iya !!


Di sebuah Tempat Pemakaman terkenal di Jakarta bukan rahasia lagi apabila menghendaki daerah tertentu yang agak “bergengsi” , maka hampir ada kepastian ada uang yang diberikan dan diterima untuk meng”iya”kan keinginan tadi.




Mari kita simak yang dapat diungkapkan berikut ini.


Sekolah.


Masa ??


Iya !!


Murid menyogok guru ? Bukan aneh dan tidak dapat dibantah lagi. Mau angka bagus, mau naik kelas, mau jadi juara kelas sekalipun atau mengikuti lomba ilmiah tertentu, segala daya upaya akan digunakan dengan tidak memperdulikan etika, sopan santun dan melanggar rasa malu, yang sebenarnya sudah disuarakan oleh bathinnya sendiri. Guru menyogok guru lain ?? Bukan tidak mungkin !!


Pegawai Negeri


Masa ??


Iya !!


Sejak testing, menjadi Pegawai Negeri sudah ada proses sogok. Untuk bisa ikut saja sudah ada hal sogok.


Sudah ikut saja, kepingin lulus dan ditempatkan, sogok itu entah muncul dari mana, tetapi ada.


Sudah luluspun masih memilih tempat/lokasi kerja, ada lagi unsur sogok.


Sekarang, sudah menjadi Pegawai Negeri ada keinginan tertentu, pasti embel-embelnya adalah hal yang sama. Mau naik pangkat dan jabatan, biasaaaa.


Sungguh menyedihkan.


Militer dan Polisi


Masa ??


Iya !!


Teman saya waktu itu (tiga puluh tahun lalu) berpangkat Letnan di dalam Angkatan Laut.


Dia menerima pemberitahuan dari koleganya sesama anggota Laut yang memberitahukan kepadanya bahwa pengangkatannya sebagai Kapten sedang disiapkan. Dia diminta menyiapkan uang sebesar tiga ratus ribu Rupiah untuk memproses kenaikan pangkatnya.


Apa jawab teman saya itu ??


Teman saya itu menjawab : “Biar saja saya tetap Letnan karena saya tidak punya uang sebanyak itu”


Yang tidak saya dengar, kalau saja dia mempunyai uangnya, maukah membayar jumlah itu atau tidak ?? Tetapi karena dia ini seorang yang mempunyai kepandaian lebih, apalagi dia sudah sarjana strata satu, saya dengar dia minta berhenti dari Angkatan Laut dan berhasil mendapatkan pekerjaan lain, diluar negeri. Saya dengar kemudian dia dapat hidup sejahtera.


Pada awal 1980-an saya sedang naik Kereta Api dari Kuala Lumpur menuju Singapura, melihat diantara penumpang-penumpang bule yang kelihatannya orang Inggris ada tiga orang berbaju batik. Pasti Melayu, itu sebutan umum pada waktu itu untuk orang Indonesia diluar negeri. Setelah saya buka percakapan dan berkenalan, ternyata mereka itu tediri dari seorang Kapten dan dua orang Letnan Angkatan Darat negeri kita, Indonesia.


Pak Kapten bercerita bahwa mereka beberapa lama dan baru menyelesaikan bertugas di Malaysia.


Ceritanya: seorang Kapten didalam Tentara Diraja Kerajaan Malaysia, hidup lebih sejahtera dan akan malu bila mengendarai kendaraan dinas Militer pulang kerumahnya, apalagi tidak mempunyai/memiliki mobil sendiri secara pribadi. Atasan Tentara Diraja ini akan bertanya, mengapa kapten ini tidak memiliki mobil pribadi? Apakah dia seorang penjudi ataukah apakah dia mempunyai istri kedua? Dengan tertawa, kapten Angkatan darat kita ini menambahkan dengan mengatakan:


“Lha, kalau saya mempunyai mobil pribadi, apa kata atasan saya, ya? Dari mana saya bisa dan mampu untuk mendapatkan uang membelinya ?”


saya mendapat konfirmasi dari seseorang bahwa adik kandungnya yang telah lulus dari Akademi Kepolisian dan menjadi Perwira Polisi, dahulu, telah menyogok untuk dapat masuk ke Akademi Keposlisian sebesar seratus juta Rupiah. Siapa butuh bukti dari kisah seperti ini, karena sekarang sudah biasa beredar cerita bahwa angka uang sogoknya malah sudah melambung lima puluh persen. Wallahualam bisawab. Kepada siapakah, kami orang sipil, dapat meminta perlidungan dengan wajar dari aparat hukum ??? Bukankah mereka yang menjadi aparat keamanan dan merupakan alat perangkat hukum, telah memulai karirnya dengan menyogok diantara mereka sendiri ??


dulu th 2005 seru sekali dibicarakan korupsi di Komisi Pemilihan Umum. Bagi saya sendiri, telah merasakan dan mengalami serta mengetahui dengan mata kepala sendiri. Seorang kenalan saya yang bekerja di Komisi Pemilihan Umum, pada tahun 1980-an, kaya rayanya bukan main main-main.


Dia itu dulu belajar di negeri lain dalam bidang tekik, insinyurlah dia itu. Dia bukan akuntan, dia bukan ahli hukum dan dia tidak pernah belajar di Ilmu Pemerintahan apapun. Dia bisa menjadi pegawai KPU ini sungguh mengherankan saya dan teman-teman lainnya. Dia memiliki sebuah rumah besar di daerah Pondok Indah dengan puluhan kamar dan memiliki rumah yang bagus sekali di sebuah komplek real estate di Jakarta Barat. Dua rumah ini adalah dua dari sekian banyak rumah lain lagi. Saya sudah pernah duduk dan berbincang-bincang dengan teman-teman lain dirumah itu dan amat kagum dan berdecak-decak. Wah. Wah.


Jadi di KPU itu, adalah bukan barang baru didalam masalah korupsi ini ?


Iya !!. Itu termasuk sudah kuno !!


Seorang Pegawai negeri dari Palangka Raya naik pesawat terbang ke Jakarta bertemu rekannya yang sedang membawa sekopor uang tunai.


Untuk apa sih, bawa-bawa uang tunai segala ??


Jawabnya untuk diberikan kepada pegawai Bappenas !! Pantas ada Project Sawah Sejuta Hektar kandas ditelan Lahan Gambut !!


Ada anggota Kadin memberitahu saya bagaimana besarnya dan banyaknya uang tunai, berkarung-karung secara kontan diberikan kepada utusan-utusan dari daerah dari Partai Tertentu untuk membeli suaranya dalam memilih Ketua Umumnya. 


“Ini uang siapa ?” tanya saya.


Uang Negara kan tidak mungkin dan uang pribadi calon Ketua Umum kah ?? 


Masa ??


Kali ini saya tidak akan menjawab iya karena mungkin orang Kadin ini memang gemar gossip !! Ha, haa, haaaa …. .


Apa penyebab kebobrokan ini? Akhlak ? Moral ? Ekonomi jelek ? Pemimpin bodoh ?


Atau jangan-jangan, semua kita ini memang bodoh ?? Bukankah banyak Professor dan Doktor-Doktor didalam Kabinet, didalam Dewan Perwakilan Rakyat ??


Para pakar, para Professor dan pendidik banyak yang meninggalkan habitatnya, agar dapat bekerja dilingkungan Politik dan Pencari Kedudukan di Pemerintahan dengan harapan “memperoleh” penghasilan ekstra diluar gaji resmi dan menjadi orang yang kayaaaa sekali ??


catatan Anwari Doel Arnowo the indonesian freedom writers

Indahnya Permainya Alam Baduy.. dan Disa'at Kami Tersesat Dipedalamanya

Written By oyong liza on Selasa, 03 Juli 2012 | 08.34






 
                                         foto koleksi pribadi
Melihat topik Freez minggu ini soal “tersesat di jalan” saya jadi senyum-senyum sendiri. Masalahnya, saya termasuk orang yang tak mudah hapal jalan, apalagi kalau hanya diberi ancer-ancer yang tak begitu jelas. Kalau cuma tersesat karena salah naik kendaraan/salah jurusan, solusinya gampang : tinggal turun lalu naik kendaraan arah sebaliknya, kembali ke titik awal berangkat. Kalau tersesat di jalan besar yang banyak billboar dan papan nama toko, perusahaan, kantor, yang bisa kita baca alamatnya atau banyak orang yang bisa ditanya, tentu tak terlalu repot. Tapi bagaimana kalau kita tersesat sendiri di tengah “hutan”, tak ada satupun orang yang bisa ditanya, bahasa penduduk setempat tak kita pahami dan sebaliknya mereka tak paham bahasa kita, sementara ada kemungkinan binatang buas muncul? Saya pernah mengalaminya,

EKSPEDISI WISATA KE BADUY DALAM

Dua tahun lalu – tepatnya tanggal 1 & 2 Mei 2010 – saya ikut acara ekspedisi wisata ke Baduy Dalam, yang diadakan oleh teman-teman kantor. Saat itu saya baru tepat 2 bulan pindah ke Banten. Semula acara itu akan diadakan bulan April, tapi karena cuaca masih tak bersahabat – sering turun hujan deras dan angin kencang – panitia menunda sampai bulan Mei. Karyawan boleh mengajak serta keluarga atau teman, asal membayar biaya kontribusi yang ditetapkan panitia. Mendengar saya akan jalan-jalan ke Baduy Dalam, Marnie, teman Facebook saya yang baru saya kenal beberapa hari sebelum pindah ke Banten, tertarik untuk ikut. Begitu pula Kiki, sahabatku di Surabaya yang kebetulan sedang berada di rumah kakaknya di Tangerang, langsung ingin ikut karena tujuannya sampai ke Baduy Dalam. Ia sudah pernah sampai di Baduy Luar, tapi belum pernah ke Baduy Dalam.

13365134491789275979
Tugu Desa Ciboleger, desa terakhir sebelum masuk Kampung Kanekes - Baduy Luar

Singkat cerita, rombongan kami berangkat dari Cilegon dan tiba di desa Ciboleger – desa terakhir sebelum masuk ke Baduy Luar – sekitar jam 12 siang. Setelah istirahat sholat Dhuhur dan makan siang, kami mulai naik sekitar jam 1 siang. Di desa Ciboleger sudah menunggu sekumpulan orang Baduy Dalam yang siap menjemput pengunjung dan rela menyediakan jasa memanggul barang bawaan kami, dengan upah tertentu. Kami semua sepakat men-sub-kan urusan membawa ransel-ransel kami yang beratnya minta ampun, kepada pemuda-pemuda Baduy itu. Sebab perjalanan ke Baduy Dalam diperkirakan mencapai 4 jam bagi pemula yang belum pernah ke sana, dengan kondisi jalan menanjak dan naik turun.

1336513517716026429
Sebelum berangkat mejeng dulu bersama orang-orang Baduy Dalam (ditandai pakaian putih-putih dan ikat kepala putih). Mereka menjadi penunjuk arah dan sekaligus membawakan barang-barang kami.

Pada 30 menit pertama, rombongan kami masih bisa menjaga kekompakan. Maklum usia peserta sangat beragam, ada yang masih awal 20-an tahun, 30-an tahun sampai lewat 40-an tahun. Jadi tanpa terasa peserta berkelompok-kelompok sesuai kecepatan jalan kakinya. Semula, kelompok yang paling cepat sesekali menunggu kami yang di belakang. Tapi lama kelamaan mereka berjalan terus, sedang siapa saja yang kelelahan silakan berhenti sejenak untuk istirahat. Alhasil, saya, Kiki, Marnie dan 1-2 teman kantor saya tertinggal jadi “kloter” terakhir. Sejak awal berangkat, sebenarnya sudah terlihat kalau Kiki agak kurang bisa mengejar ketertinggalan. Saya dan Marnie harus berkali-kali berhenti menunggu dia.

Ketika sudah lewat setengah perjalanan, hutan makin lebat, jalanan makin licin dan terjal, sampai-sampai ada seorang pria Baduy yang baru pulang dari desa di Baduy Luar, ketika melihat Kiki, dia tak tega dan atas inisiatif sendiri dia bersedia mendampingi kami. Alasannya dia kuatir kalau kami kemalaman di hutan, keburu macan keluar, katanya. Singkat kata, kami akhirnya tiba juga di kampung Baduy Dalam sebagai 3 peserta terakhir. Waktu tempuh kami 4 jam lebih, sementara teman-teman saya rata-rata 4 jam bahkan peserta pertama yang tiba di sana kurang dari 4 jam. 

Oya, kami menginap di perkampungan Baduy Dalam yang di atas, dimana lokasinya se-area dengan rumah Pu’un (Kepala Suku). Dua rumah yang kami jadikan tempat menginap kira-kira 50 meter saja dari rumah Pu’un yang jadi zona terlarang untuk didekati kecuali oleh orang Baduy Dalam yang berkepentingan.

13365136411444593616
Difoto dari atas : seorang Ibu Baduy Dalam membawa serta 3 anaknya yang masih kecil ke ladang. Ini rutinitas keseharian mereka.

Karena yang akan saya ceritakan soal tersesat, maka cerita perjalanan menuju ke Baduy Dalam dan selama menginap di sana tak akan banyak saya singgung. Esok paginya, kami memutuskan pulang sekitar jam 8 pagi, dengan pertimbangan kondisi fisik kami masih segar, udara belum panas, mentari belum terik. Sedang rutenya diputuskan berbeda dengan rute berangkat kemarin. Sebab menurut pimpinan rombongan kami, jalan yang kami lalui kemarin adalah jalur yang terjauh dan relatif tidak terlalu terjal. Sedang jalanan yang akan kami tempuh nanti lebih singkat tapi lebih curam.

 Tapi karena perjalanan pulang lebih banyak menurun, panitia memutuskan tak apalah lebih curam, karena menuruni jalanan lebih mudah ditempuh ketimbang menaiki tanjakan seperti kemarin. Tentu saja kami tetap dikawal serombongan pemuda Baduy yang membawakan ransel kami, sekaligus jadi penunjuk jalan.

13365137722024373617

Seorang bocah cilik Baduy memikul sebatang bambu besar utuh. Sementara saya cuma membawa sebatang tongkat kecil yang dibekali dari Ciboleger. jangan tanya siapa yang jalannya lebih cepat.

Perjalanan pulang lebih sulit lagi menjaga kekompakan rombongan. Maklum kami bukanlah rombongan pecinta alam yang punya kode etik dalam menjaga kekompakan rombongan. Kondisi sebagian peserta yang sudah kelelahan kemarin sore, membuat sebagian dari kami makin sering berhenti sejenak untuk istirahat. Kali ini, Kiki pun tak ubahnya kemarin, tetap jadi peserta paling bontot. Saya dan Marnie berkali-kali terpaksa berhenti lama untuk menunggunya, khawatir dia kehilangan jejak kami. Lama kelamaan, kami berpikir juga : kalau kami berdua sama-sama menunggu Kiki, bisa-bisa kami bertiga kehilangan jejak dan tersesat.

 Akhirnya saya putuskan kami “estafet”. Marnie saya persilakan jalan duluan dan menjaga jarak dengan teman saya di depan kami, agar dia masih tetap bisa melihat teman kami sebagai penunjuk arah. Saya akan menyusul Marnie sambil sesekali menunggu Kiki, dengan tetap menjaga jarak agar saya tetap bisa melihat Marnie sekaligus juga  tetap terlihat oleh Kiki. Marnie setuju dan dia pun mendahului saya yang masih menunggu Kiki.

13365154301366353669
Rumah-rumah adat masyarakat Baduy Dalam

KEHILANGAN JEJAK ESTAFET DAN MULAI TERSESAT SENDIRI
Semula skenario estafet ini berjalan baik. Sesekali saya mempercepat langkah agar tetap bisa melihat sosok Marnie, tapi sering pula saya menoleh ke belakang sambil meneriaki Kiki apa dia masih bisa melihat atau mendengar saya. Sampai suatu ketika, saya tak lagi bisa melihat Kiki dan saat saya teriaki pun dia tak menjawab. Saya putuskan berhenti untuk menunggunya. Kejadian ini sempat terjadi 2-3 kali dan yang terakhir saya terpaksa menunggunya lama sekali sampai-sampai tak lagi bisa melihat Marnie. Saya tetap berusaha menunggu Kiki, sampai lama tetap tak ada tanda-tanda ia muncul. Saya mulai khawatir, sementara saya sendiri pun sudah kehilangan jejak Marnie.

13365154971587563847
Jembatan bambu gantung semacam inilah yang harus kami seberangi

Akhirnya saya putuskan untuk mempercepat langkah agar bisa segera mengejar Marnie dan teman-teman lain, barulah nanti saya laporkan soal “hilang”nya Kiki. Kalau saja ada sinyal ponsel, tentu komunikasi mudah, tapi begitu masuk Baduy Dalam sudah tak ada sinyal sama sekali. Satu-satunya jalan saya harus ngebut. Dengan kondisi lelah, saya berusaha mempercepat langkah, tapi sosok Marnie tetap tak terlihat. Saya makin putus asa, rasa sepi mulai mengelayuti. Tak satu pun rombongan pengunjung lain yang saya temui, seperti di awal-awal berangkat tadi. Semua sudah jauh meninggalkan saya. Rasa ngeri mulai mencekam dan ketakutan menguasai pikiran saya.

1336515565789541627
Saat menyeberangi sungai pertama, rombongan kami masih kompak dan komplit anggotanya, belum tercerai berai

Akhirnya sampailah saya di tikungan. Kalau sepanjang jalan tadi yang saya lalui hanya 1 jalur, saya yakin tak salah jalan. Kini, di hadapan saya ada sebuah belokan ke kiri dan sebuah jalan yang sedikit lurus dan berkelok ke kanan. Sejenak saya lihat jalan yang belok ke kiri lebih sempit dan sedikit gelap. Saya ikuti insting saja, pasti jalan yang lebih lebar ini yang dilewati pengunjung. Sambil terus berdoa, saya putuskan memilih jalan itu. Dan benarlah, makin lama jalannya makin lebar dan dikejauhan saya lihat seorang bocah Baduy bermain sendiri. Kali ini, kembali saya bertemu tikungan 2 arah, dua-duanya lebar. Saya sempat bingung, mau bertanya pada bocah Baduy Dalam –  yang saya taksir usianya sekitar 9 tahunan – saya tak yakin dia bisa berbahasa Indonesia.

Saya coba panggil dia “Dik, Dik”. Bocah itu melihat saya dengan tatapan tak mengerti. Rupanya ia paham saya ingin berbicara dengannya. Lalu dengan bahasa “Tarzan”, saya memberi isyarat tanya jalan mana yang harus saya tempuh. Ia menunjukkan salah satu jalan. Lalu saya mencoba bertanya dengan bahasa isyarat tangan, apakah ia melihat orang lain sebelum saya lewat situ. Ia mengangguk. Merasa berhasil berkomunikasi, saya coba bertanya apakah ia melihat seorang wanita dengan perawakan seperti saya dan mengenakan jilab (sambil menunjuk pada jilbab saya). Ternyata lagi-lagi bocah itu mengangguk. Saya lega, berarti Marnie belum lama juga lewat sini. Saya ucapkan terimakasih pada anak kecil itu dengan mengacungkan jempol dan menganggukkan kepala.

1336515671549886556
Di hutan bambu dan semak seperti inilah saya tersesat sendiri

Saya mempercepat langkah dengan harapan bisa mengejar Marnie. Tapi lagi-lagi setelah sekian lama berjalan, saya menemukan tikungan. Kali ini malah ada 3 persimpangan jalan. Kondisinya tak lagi seperti hutan, tapi lebih berupa padang dengan rumput tinggi-tinggi. Posisi saya di titik tikungan itu agak tinggi, jalanan berikutnya menurun. Tapi saya tak bisa melihat ada orang di bawah. Tiba-tiba rasa takut dan sedikit panik menyergap saya, bagaimana kalau ada macan yang keluar dari semak-semak? Belum lagi kalau saya salah arah, saya harus kembali ke puncak bukit ini dan masih ada 2 jalan yang harus saya pilih. Duh.., saya benar-benar putus asa! Akhirnya saya bersimpuh sejenak dan berdoa, kemudian memutuskan untuk menuruni bukit memilih salah satu jalan yang saya yakini benar.

Karena jalanan kali ini tak sesulit tadi, saya lebih bisa bergegas. Tak lama saya mulai mendengar suara orang tertawa-tawa. Ternyata serombongan anak muda – saya perkirakan mahasiswa – dari candaannya saya yakin mereka orang dari Jakarta. Saya pun menyapa mereks. Semula mereka kaget melihat saya sendirian. Setelah saya jelaskan, mereka mengajak saya gabung. Katanya tadi mereka sempat melihat Marnie – cirinya perawakan setinggi saya dan berjilbab hitam – bersama seorang teman laki-laki. Bahkan katanya sempat istirahat bersama, hanya saja Marnie lebih dulu melanjutkan perjalanan. Saya pun bisa berlega hati, kini ada teman perjalanan, tak tanggung-tanggung : 11 anak muda, pria dan wanita. Hanya saja, mereka ini benar-benar santai dan tanpa target jam berapa harus sampai di desa.

13365157501688751026
Foto kenangan saya bersama para mahasiswa yang menemani 

Sepanjang jalan mereka terus ber-haha-hihi, sebentar-sebentar berhenti untuk berfoto ria, terkadang melihat apa-apa yang mereka anggap menarik. Ketika ada pancuran air dari atas yang sangat jernih, mereka samperin meski harus berbelok dari arah yang seharusnya. Salah seorang mencicipi airnya, katanya itu mata air yang masih murni dan bersih, jadi sangat aman untuk diminum. Mereka mengisi botol air minumnya dengan air dari mata air itu. Saya pun ikut mengisi botol air minum saya yang sudah kosong sejak tadi. Saya pikir, soal nanti sakit perut biarlah toh nanti juga sudah sampai di kota, daripada dehidrasi di tengah hutan. Tapi ternyata airnya memang benar-benar bening, bersih dan segar. Belum pernah saya cicipi air sesegar ini di kota.

Bersama dengan 11 mahasiswa ini sudahkah selesai masalah yang saya hadapi? Belum, sebab mereka tak bisa diajak buru-buru, sehingga saya harus mencari teman perjalanan lainnya. Nantikan kelanjutannya di bagian 2 kisah tersesat ini.

catatan ira oemar freedom writers kompasianer

KUMPULAN PEPATAH-PETITIH MINANGKABAU NAN ELOK

Written By oyong liza on Senin, 02 Juli 2012 | 20.46

 

oleh : Alm. Idrus Hakimy Dt Rajo Panghulu

1. Anak nalayan mambaok cangkua, mananam ubi ditanah darek. Baban sakoyan dapek dipikua, budi saketek taraso barek.
Beban yang berat dapat dipikul, tetapi budi sedikit terasa berat.

2. Anak ikan dimakan ikan, gadang ditabek anak tenggiri. Ameh bukan perakpun bukan, budi saketek rang haragoi.
Hubungan yang erat sesama manusia bukan karena emas dan perak, tetapi lebih diikat budi yang baik.

3. Anjalai tumbuah dimunggu, sugi sugi dirumpun padi. Supayo pandai rajin baguru, supayo tinggi naikan budi.
Pengetahuan hanya didapat dengan berguru, kemulian hanya didapat dengan budi yang tinggi.

4. Alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati.
Sifat seseorang yang tegas bertindak atas kebenaran dengan penuh bijaksana

5. Tarandam randam indak basah, tarapuang apuang indak hanyuik.
Suatu persoalan yang tidak didudukan dan pelaksanaannya dilalaikan.

6. Anyuik labu dek manyauak, hilang kabau dek kubalo.
Karena mengutamakan suatu urusan yang kurang penting hingga yang lebih penting tertinggal karenanya.

7. Anguak anggak geleng amuah, unjuak nan tidak babarikan.
Sifat seseorang yang tidak suka berterus terang dan tidak suka ketegasan dalam sesuatu.

8. Alua samo dituruik, limbago samo dituang.
Seorang yang mentaati perbuatan bersama dan dipatuhi bersama.

9. Alat baaluah jo bapatuik makanan banang siku-siku, kato nan bana tak baturuik ingiran bathin nan baliku.
Seseorang yang tidak mau dibawa kejalan yang benar menandakan mentalnya telah rusak.

10 Alang tukang binaso kayu, alang cadiak binaso Adat, alang arih binaso tubuah.Alat baaluah jo bapatuik makanan banang siku-siku, kato nan bana tak baturuik ingiran bathin nan baliku.
Seseorang yang tidak mau dibawa kejalan yang benar menandakan mentalnya telah rusak.

11. Alah bauriah bak sipasin, kok bakiek alah bajajak, habih tahun baganti musim sandi Adat jangan dianjak.
Walaupun tahun silih berganti musim selalu beredar, tetapi pegangan hidup jangan dilepas.

12. Adat biaso kito pakai, limbago nan samo dituang, nan elok samo dipakai nan buruak samo dibuang.
Yang baik sama dipakai, yang buruk sama ditinggalkan.

13. Anak-anak kato manggaduah, sabab manuruik sakandak hati, kabuik tarang hujanlah taduah, nan hilang patuik dicari.
Sekarang suasana telah baik, keadaan telah pulih, sudah waktunya menyempurnakan kehidupan.

14. Anggang nan datang dari lauik, tabang sarato jo mangkuto, dek baik budi nan manyam buik, pumpun kuku patah pauahnyo.
Seseorang yang disambut dengan budi yang baik dan tingkah laku yang sopan, musuh sekalipun tidak akan menjadi ganas.

15. Anjalai pamaga koto, tumbuah sarumpun jo ligundi, kalau pandai bakato kato, umpamo santan jo tangguli.
Seseorang yang pandai menyampaikan sesuatu dengan perkataan yang baik, akan enak didengar dan menarik orang yang dihadapi.

16. Atah taserak dinan kalam, intan tasisiah dalam lunau, inyo tabang uleklah tingga, nak umpamo langgau hijau.
Seseorang yang menceraikan istrinya yang sedang hamil, adalah perbuatan tidak baik.

17. Aia diminum raso duri, nasi dimakan raso sakam.
Seseorang yang sedang menanggung penderitaan bathin.

18. Adaik rang mudo manangguang rindu, adaik tuo manahan ragam.
Sudah lumrah seorang pemuda mempunyai suatu idaman, dan lumrah seorang yang telah tua menahan banyak karena umurnya.

19. Alah limau dek mindalu, hilang pusako dek pancarian.
Kebudayaan asli suatu bangsa dikalahkan oleh kebudayaan lain.

20. Adat dipakai baru, jikok kain dipakai usang.
Adat Minang Kabau kalau selalu diamalkan dia merupakan ajaran yang bisa berguna sepanjang zaman.

21. Basuluah mato hari, bagalanggang mato rang banyak.
Suatu persoalan yang sudah diketahui oleh umum didalam suatu masyarakat.

22. Baribu nan tidak lipuah, jajak nan indak hilang.
Satu ajaran yang tetap berkesan, yang diterima turun temurun.

23. Bariak tando tak dalam, bakucak tando tak panuah.
Seseorang yang mengaku dirinya pandai, tetapi yang kejadiannya sebaliknya.

24. Bajalan paliharolah kaki, bakato paliharolah lidah.
Hati-hatilah dalam berjalan begitu juga dalam melihat, sehingga tidak menyakiti orang lain.

25. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.
Setiap pekerjaan yang dikerjakan secara bersama.

26. Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi.
Suatu pengetahuan yang tanggung dipelajari tidak lengkap dan cukup, kurang bisa dimanfaatkan.
27. Bakato bak balalai gajah, babicaro bak katiak ula.
Suatu pembicaraan yang tidak jelas ujung pangkalnya.
28. Bapikia kapalang aka, ba ulemu kapalang paham.
Seseorang yang mengerjakan sesuatu tanpa berpengetahuan tentang apa yang dikerjakannya.
29. Bak kayu lungga panggabek, bak batang dikabek ciek.
Suatu masyarakat yang berpecah belah, dan sulit untuk disusun dan diperbaiki.
30. Batolan mangko bajalan, mufakat mangko bakato.
Dalam masyarakat jangan mengasingkan diri, dan bertindak tanpa mufakat.
31. Bak kancah laweh arang, bapaham tabuang saruweh.
Seseorang yang besar bicaranya, dan tidak bisa merahasiakan yang patut dirahasiakan.
32. Bak balam talampau jinak, gilo ma-angguak-anguak tabuang aia, gilo mancotok kili-kili.
Seseorang yang sifatnya terlalu cepat mempercayai orang lain, tanpa mengetahui sifat orang lain tersebut.
33. Bakarih sikati muno, patah lai basimpai alun ratak sabuah jadi tuah, jikok dibukakpusako lamo, dibangkik tareh nan tarandam lah banyak ragi nan barubah.
Karena banyaknya yang mempengaruhi kebudayaan kita yang datang dari luar, kemurnian kebudayaan Adat istiadat mulai kabur dari masyarakat.
34. Batang aua paantak tungku, pangkanyo sarang sisan, ligundi disawah ladang sariak indak babungolai. Mauleh jokok mambuku, mambuhua kalau manggasan, kalau budi kelihatan dek urang, hiduik nan indak baguno lai.
Seseorang dalam masyarakat yang telah kehilangan kepercayaan, karena tindakannya yang kurang teliti dalam suatu hal. Sehingga kehilangan kepercayaan terhadap dirinya.
35. Basasok bajarami, bapandam pakuburan, soko pusako kalau tadalami, mambayang cahayo diinggiran.
Kalau ajaran adat dapat didalami dan difahami, serta diamalkan oleh masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi tinggi mutunya.
36. Basasok bajarami, bapandam pakuburan.
Adalah syarat mutlak bagi satu nagari di Minang Kabau
37. Bapuntuang suluah sia, baka upeh racun sayak batabuang, paluak pangku Adat nan kaka, kalanggik tuah malambuang.
Kalau ajaran Adat Minang Kabau benar-benar dapat diamalkan oleh anggota masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi masyarakat yang tinggi peradabannya dan kuat persatuannya.
38. Bajalan batolan, bakato baiyo, baiak runding jo mufakat. Turuik panggaja urang tuo, supayo badan nak salamaik.
Hormati dan turuti nasehat Ibu Bapak dan orang yang lebih tua umurnya dari kamu, Insya ALLAH hidupmu akan selamat.
39. Barakyat dulu mangko barajo, jikok panghulu bakamanakan. Kalau duduak jo nan tuo pandai nan usah dipanggakkan.
Sewaktu duduk bersama orang tua, baiak orang tua umurnya dari kita, janganlah membanggakan kepandaian kita sendiri.
40. Bakato bapikiri dulu, ingek-ingek sabalun kanai, samantang kito urang nan tahu, ulemu padi nan kadipakai.
Seseorang yang pandai dalam hidup bergaul, dia selalu umpama padi berisi, makin berisi makin tunduk, bukan membanggakan kepandaian.
41. Banyak diliek jauah bajalan, lamo hiduik banyak diraso. Kalau kito dalam parsidangan marah jo duko usah dipakai.
Didalam duduk rapat dalam suatu persidangan, tidak boleh berhati murung, dan tidak boleh bersifat marah.
42. Biopari kato ibarat, bijaksano taratik sopan, pacik pitaruah buhua arek, itu nan ijan dilupokan.
Nasehat yang baik jangan dilupakan, pegang erat-erat untuk diamalkan.
43. Barieh balabiah limo puluah, nan warieh bajawek juo, kaganti camin gujalo tubuah, paukua baying-bayang maso.
Ajaran Adat kalau didalami dia akan dapat menjadi ukuran kemajuan zaman dibidang moral manusia.
44. Baitu barieh balabiahnyo, dari luhak maso dahulu, kok tidak disigi dipanyato, lipuah lah jajak nan dahulu.
Tentang Adat Minangkabau sebagai kebudayaan daerah kalau tidak dibina dan dikembangkan, maka hilanglah kebudayaan yang asli di Minang Kabau, karena di pengaruhi kebudayaan asing.
45. Buruak muko camin dibalah.
Seseorang yang membuat kesalahan karena kebodohannya, tetapi yang disalahkannya orang lain atau peraturan.
46. Banggieh dimancik, rangkiang disaliangkan.
Marah kepada satu orang tetapi semua orang yang dimusuhi.
47. Barajo Buo Sumpu Kuduih tigo jo rajo Pagaruyuang, Ibu jo bapak pangkanyo manjadi anak rang bautang.
Kesalahan seorang anak, akan banyak tergantung kepada didikan kedua ibu bapaknya.
48. Bak cando caciang kapanehan, umpamo lipeh tapanggang.
Seseorang yang tidak mempunyai sifat ketenangan, tetapi selalu keluh kesah dan terburu buru.
49. Bak lonjak labu dibanam, umpamo kacang diabuih ciek.
Seseorang yang mempunyai sifat angkuh dan sombong, sedang dia sendiri tidak tahu ukurannya dirinya.
50. Bak ayam manampak alang, umpamo kuciang dibaokkan lidieh.
Seseorang yang sangat dalam ketakutan, sehingga kehidupannya kucar kacir.
51. Bak caro tontoang diladang, umpamo pahek ditokok juo barunyo makan, urang-urang ditanggah sawah digoyang dulu baru manggariek.
Seseorang yang tidak tahu kepada tugas dan kewajibannya sehingga selalu menunggu perintah dari atasan, tidak mempunyai inisiatif dalam kehidupan.
52. Bak sibisu barasian, takana lai takatokan indak.
Seseorang yang tidak sanggup menyebut dan mengemukakan kebenaran, karena mempunyai keragu-raguan dalam pengetahuan yang dimiliki.
53. Bak baruak dipataruahkan, bak cando kakuang dipapikekkan.
Seseorang hidup berputus asa, selalu menunggu uluran tangan orang lain, tidak mau berusaha dan banyak duduk bermenung.
54. Bak manjamua ateh jarami, jariah abieh jaso tak ado.
Pekerjaan yang dikerjakan tanpa perhitungan, sehingga menjadi rugi dan sia sia.
55. Bak balaki tukang ameh, mananti laki pai maling.
Menunggu suatu yang sulit untuk dicapai, karena kurang tepatnya perhitungan dan harapan yang tak kunjung tercapai.
56. Baulemu kapalang aja, bakapandaian sabatang rokok.
Seseorang yang tidak lengkap pengetahuan dalam mengerjakan sesuatu, atau kurang pengetahuannya.
57. Bunyi kecek marandang kacang, bunyi muluik mambaka buluah.
Seseorang yang besar bicara tetapi tidak ada memberi hasil.
58. Baguno lidah tak batulang, kato gadang timbangan kurang.
Pembicaraan yang dikeluarkan secra angkuh dan sombong, tidak memikirkan orang lain akan tersinggung.
59. Bak bunyi aguang tatunkuik, samangaik layua kalinduangan.
Seseorang yang tidak bisa bicara karena banyak takut dan ragu dalam pendirian.
60. Bak itiak tanggah galanggang, cando kabau takajuik diaguang.
Seseorang yang sangat tercegang dan takjub dengan sesuatu, sehingga tidak sadarkan diri sebagai seorang manusia.
61. Bungkuak saruweh tak takadang, sangik hiduang tagang kaluan.
Seseorang yang tidak mau menerima nasehat dan pendapat orang lain, walaupun dia dipihak yang tidak benar sekalipun.
62. Bumi sampik alam tak sunyi, dio manjadi upeh racun.
Biasanya orang yang disebut dalam no.61 diatas menyusah dan menjadi batu penarung.
63. Bak umpamo gatah caia, bak cando pimpiang dilereng, iko elok etan katuju.
Sifat seorang laki-laki atau perempuan yang tidak mempunyai pendirian dan ketetapan hati dalam segala hal.
64. Basikelah anggan kanai, basisuruak jikok kanai, tasindoroang nyato kanai.
Sifat yang harus dihindarkan, seorang yang tidak mau bertanggung jawab atas segala perbuatannya.
65. Budi nan tidak katinjauan, paham nan tidak kamaliangan.
Seseorang yang tidak mau kelihatan budi, dan selalu hati-hati dalam berbuat bertindak dalam pergaulan.
66. Bak basanggai diabu dingin, bak batanak ditungku duo.
Suatu pekerjaan yang sia-sia dan kurang mempunyai perhitungan.
67. Bak taratik rang sembahyang, masuak sarato tahu, kalua sarato takuik.
Seseorang yang mengerjakan sesuatu dengan penuh ketelitian dan menguasai segala persoalannya.
68. Bak galagak gulai kincuang, bak honjak galanggang tingga.
Seseorang yang berlagak pandai dalam sesuatu, tetapi yang sebenarnya kosong belaka.
69. Bak ayam lapeh malam, bak kambiang diparancahkan.
Seorang yang kehilangan pedoman hidup serta pegangan, berputus asa dalam sesuatu.
70. Bak balam talampau jinak, gilo maangguak tabuang aia, gilo mancotok kili kili.
Seseorang yang mudah dipuji sehingga kalau telah dipuji bisa terbuka segala rahasia.
71. Bagai kabau jalang kareh hiduang, parunnyuik pambulang tali, tak tantu dima kandangnyo.
Seseorang yang keras kepala tak mau menerima nasehat orang lain, sedangkan dia sendiri tak memahami tentang sesuatu.
72. Bak umpamo badak jantan, kuliek surieh jangek lah luko, namun lenggok baitu juo.
Seorang yang tidak tahu diri, sudah tua disangka muda, ingin kembali cara yang muda.
73. Bak ma eto kain saruang, bak etong kasiak dipantai.
Suatu persoalan yang tidak berujung berpangkal dan tidak ada keputusannya dalam masyarakat.
74. Barundiang siang caliak-caliak, mangecek malam agak-agak.
Berbicaralah dengan penuh hati-hati dan jangan menyinggung orang lain.
75. Bak manungkuih tulang didaun taleh, bak manyuruakan durian masak.
Suatu perbuatan jahat walaupun bagaimana dia pandai menyembunyikannya, lambat laun akan diketahui orang lain juga.
76. Bilalang indak manjadi alang, picak-picak indak jadi kuro-kuro. Walau disapuah ameh lancuan, Kilek loyang kan tampak juo.
Setiap penipuan yang dilakukan dan ditutup dengan kebaikan, dia akan kelihatan juga kemudian.
77. Bak mandapek durian runtuah, bak mandapek kijang patah.
Seseorang yang mendapat keuntungan dengan tiba-tiba, yang tidak dikira pada mulanya.
78. Bagai sipontong dapek cicin, bak mancik jatuah kabareh.
Nikmat yang diperdapat sedang orang yang bersangkutan lupa dari mana asal mulanya,dan menjadikan dia lupa diri.
79. Bak kabau dicucuak hiduang umpamo langgau di ikua gajah.
Seseorang yang selalu menurut kemauaan orang lain, tanpa mengeluarkan pendapat hatinya.
80. Bak mamaga karambia condong, bak ayam baranak itiak.
Pengetahuan seseorang yang tidak dapat dimamfaatkan dan berfaedah bagi dirinya, tetapi menguntungkan kepada orang lain.
81. Bak mangantang anak ayam, umpamo basukek baluik hiduik.
Suatu masyarakat karena kurang keahlian sulit untuk disusun dan dikoordinir.
82. Bak mahambek aia hilia, bak manahan gunuang runtuah.
Mengerjakan suatu pekerjaan berat yang harus dikerjakan bersama, dikerjakan sendirian, dan tidak mempunyai keahlian pula tentang itu.
83. Bak mancari jajak dalam aia, bak mancari pinjaik dalam lunau.
Mencari sesuatu yang mustahil didapat, walaupun sesuatu itu ada.
84. Bak manatiang minyak panuah, bak mahelo rambuik dalam tapuang.
Suatu pekerjaan yang dikerjakan dengan hati-hati dan teliti, karena memikirkan akibatnya.
85. Bak aia didaun kaladi, bak talua diujuang tanduak.
Sesuatu yang sulit menjaganya dalam pergaulan, kalau hilang atau jatuh hilang semua harapan, seperti kehilang budi dari seseorang.
86. Bak manggadangkan anak ula, umpamo mamaliharo anak harimau.
Seseorang yang didik dari kecil dengan ilmu pengetahuan, tetapi kelak setelah dia besar dibalas dengan perbuatan yang jahat.
87. Bak aia jatuah ka kasiak, bak batu jatuah ka lubuak.
Sesuatu persoalan yang diajukan, tetapi dilupakan buat selamnya, yang seharusnya perlu lu ditekel dengan segera.
88. Bak bagantuang di aka lapuak, bak bapijak didahan mati.
Seseorang yang mengantungkan nasib pada orang yang sangat lemah ekonomi dan pemikirannya.
89. Bak ayam indak ba induak, umpamo siriah indak ba junjuang.
Suatu masyarakat atau anak-anak yang tidak ada yang akan memimpin atau memeliharanya.
90. Bak malapehkan anjiang tasapik, bak mangadangkan anak harimau.
Seseorang yang ditolong dengan perbuatan baik diwaktu dia dalam kesempitan tetapi setelah dia terlepas dari kesulitan, dia balas dengan kejahatan.
91. Bak api didalam sakam, aia tanang mahannyuikkan.
Seseorang yang mempunyai dendam diluar tidak kelihatan, tetapi setelah terjadi kejahatan saja baru diketahui.
92. Bak tapijak dibaro angek, bak cando lipeh tapanggang.
Seseorang yang sifatnya tergesa-gesa, berbuat tanpa memikirkan akibat.
93. Bak maungkik batu dibancah, bak manjujuang kabau sikua.
Suatu pekerjaan yang sukar dikerjakan, dan kalau dikerjakan menjadi sia-sia, bahkan menimbulkan kesulitan.
94. Baban barek singguluang batu, kayu tapikua dipangkanyo.
Suatu pekerjaan yang dikerjakan tetapi tidak ada keuntungan materil yang diharapkan (sosial)
95. Bak kudo palajang bukik, umpamo gajah paangkuik lado.
Suatu pekerjaan bersama-samalah seorang dari orang yang berjasa dalam pekerjaan itu tidak diberi penghargaan sewajarnya.
96. Bak banang dilando ayam, bak bumi diguncang gampo.
Suatu kerusuhan dan kekacauan yang timbul dalam suatu masyarakat yang sulit untuk diatasi.
97. Bak baluik di gutiak ikua, bak kambiang tamakan ulek.
Seseorang yang mempunyai sifat dan tingkah laku yang kurang sopan dan tidak memperdulikan orang lain yang tersinggung karena perbuatannya.
98. Babana ka ampu kaki, ba utak ka pangka langan.
Seseorang yang mudah tersinggung dan mudah berkelahi karena hal kecil.
99. Baumpamo batuang tak bamiyang, bak bungo tak baduri.
Seseorang yang tidak mempunyai sifat malu dalam hidup, baik laki -laki dan perempuan.
100. Basilek dipangka padang, bagaluik diujuang karieh, kato salalu baumpamo, rundiang salalu bamisalan.
Pepatah, petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam Adat Minang Kabau, selalu mempunyai arti yang tersurat dan tersirat (berkias).

email kiriman rahmad putra chaniago ke pariaman.news@yahoo.co.id

tradisi basapa dan wisata rohani dimakam syekh burhanudin ulak'an



Kegiatan basapa tidak asing lagi bagi masyarakat Pariaman, Ulakan khususnya. Setiap tahun, setelah tanggal 10 Syafar masyarakat Pariaman selalu memperingati meninggalnya Syheh Burhanuddin yang dikenal dengan sebutan basapa. Di namakan dengan basapa karena kegitan ini hanya dilaksanakan pada bulan safar tahun hijriyah.


Kegiatan basapa ke Ulakan ialah subuah kegiatan mengunjungi makan seorang guru yang bertempat di Nagari Ulakan Kecamatan Ulakan-Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman. Prosesinya di awali dengan berdo’a di makam Syeh dengan tujuan orang yang berdo’a mendapatkan redho dari Allah subahanahu wataala. Kemudian dilanjutkan dengan sholat berjamaah dan ditutup dengan zikir bersama.


Kegiatan basapa dilakukan ialah sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih terhadap syeh Burhanuddin, atas keberhasilannya mengembangkan ajaran Islam di Minangkabau. Ajaran Sataryah yang dia bawa mendapat tempat di hati masyarakat pada masa itu, sehingga berkembanglah agama Islam di Ranah Minang. Pada saat itu, Syeh Burhanuddinlah satu-satunya orang yang pertama kali membuka tempat pendidikan agama islam secara formal, pesantren istilah sekarang (Duski Samad, 2003). Hal ini dapat di buktikan di surau pertamanya di Tanjuang Medan, di sekeliling surau tersebut sudah terdapat rumah-rumah kecil sebagai tempat tinggalnya santri-santri beliau selama menuntut ilmu agama. Untuk mengenang jasa-sjasa beliau dilakukanlah ziarah kubur oleh murid-murid dan masyarakat yang mewarisi ajaran Sataryah tersebut.


Kegitan basapa ini tidak hanya dilakukan oleh masayarakat Pariaman, masyarakat dari darekpun tidak ketinggalan. Pada saat sapa gadang contohnya, penziarah banyak yang berasal dari daerah darek, yang terdiri dari 3 luhak. Setelah ziarah dilakukan, masyarakat tersebut melakukan ritual keagamaan seperti di atas. Ada pula yang masyarakat melaksanakannya di dalam surau yang dibangun di sekitar makam. Contohnya masyarakat Toboh Gadang, dan Tanah Datar mempunyai surau tersendiri untuk melaksanakan ritual tersebut.


Sapa di kenal oleh masyarakat dengan 2 sebutan: Pertamaa Sapa gadang (safar besar), ke dua Sapa ketek (safar keci)l Pada saat Sapa gadang Nagarai Ulakan mulai diramaikan oleh penziarah . setelahnya dianggap sebagai puncak dari kegiatan bersafar, karena hari kamis pagi penziarah sudah mulai meninggalkan Ulakan guna menuju kampung halaman mereka masing-masing.


 Dinamakan dengan sapa gadang, karena kesempatan ini diperuntunkan untuk masyarakat dari daerah Darek. Jumlah penziarah pada saat ini berkisar hingga ribuan orang, sehingga menutup badan-badan jalan di Nagari ulakan. Dengan kondisi yang penuh sesak ini seakan menambah semangat dan keyakinan penziarah untuk melaksanakan ritual keagamaan basapa. Selama 3 hari inilah daerah ulakan yang berdekatan dengan pantai selalu ramai oleh penziarah dan pengunjung.

Lian pula halnya dengan muda-mudi, mereka merayakan basapa di sepanjang pantai Ulakan. Moment ini, mereka gunakan sebagai ajang perkencanan, memadu kasih hingga pagi menjelang. Namun, masyarakat Ulakan tetap mempunyai konsekwensi dan aturan yang cukup tegas, bagi muda mudi yang kedapatan melakukan hal yang tidak senonoh atau samapai melakukan zinah, pasangan tersebut dinikahakan oleh tokoh masayarakat setempat. Masyarakat tidak peduli apakah orangtua mereka setuju atau tidak. Tapi entah kebetulan atau apa, setelah kegiatan bersapa gadang selesai tepatnya hari kamis pagi, Nagari ulakan selalu di guyur hujan. Bisa jadi hujan yang turun dapat dianggap sebagai pembersih noda yang di tingalkan muda-mudi di Nagari ulakan tersebut. Kejadian seperti ini berlaku pula pada saat sapa ketek (sapa kecil) nantinya.


Sapa ketek dilaksanakan pada  minggu ke 2 setelah sapa gadang. Pada saat ini pengunjung lebih ramai dari pada Sapa gadang, karena umumnya pengunjung berasal dari daerah pariaman dan juga pengunjung pada Sapa Gadang juga melakukan ziarahnya untuk ke dua kalinya. Oleh karena itu, dinamakanlah sapa ini dengan sapa ketek, sebab hanya diperuntunkan untuk masyarakat Pariaman, tapi tidak tertutup kemunggkinan bagi masyarakat dari Darek, sehingga penziarah lebih ramai dari pada Sapa Gadang.


Ritual  prosesinya di awali dengan sholat zuhur hingga pagi harinya. Sementara kegiatan yang dilakukan sama seperti yang dilakukan pada saat sapa gadang baik penziarah maupun pengunjung yang didominsi oleh muda mudi.


Tapi sungguh disayangkan, kegiatan basapa ini telah jauh melenceng dari ketentuan yang ditetapkan oleh Guru Sataryah terdahulu. Jika sidang pembaca melongok ke areal pemakaman, akan terlihat orang yang sedang berdo’a di samping makam Syeh sudah mendekati hal-hal yang berbau syirik. Sebagian orang terlihat sedang berebutan untuk mengambil pasir kuburan syeh, mereka percaya pasir tersebut mujarab dijadikan obat.


 Begitu pula dengan air di dalam kerang yang diletakan berdekatan dengan Batu hampa (batu landasan yang digunakan ketika memukul kemaluannya) Syeh Burhanuddin, penziarahpun berrebutan untuk mendapatkan air tersebut. Sekarang air itu telah dibungkus dengan plastik kecil yang telah diisi dengan sayatan-sayatan limau (jeruk nipis), dengan catatan orang tersebut memberi infak sebesar Rp1000. Air ini dipercaya sebagai obat, seperti penambah kepintaran jka air tersebut diusapkan ke kepala.

Tidak hanya itu, di sekeliling makam dapat diperhatikan belasan orang terlihat Siak sedang mengobral do’a. Syaratnya bagi orang yang meminta dido’akan harus bersedia memberikan infak kepada orang siak dengan jumlah yang tidak ditentukan. Ditambah lagi tingkah laku muda mudi di sepanjang pantai Ulakan. Itulah kenyataan yang terjadi selama bersapa ke Ulakan.


kiriman email dari mirwan ke pariaman.news@yahoo.co.id

Topik Terhangat

Paling Banyak Dibaca

postingan terdahulu