Double Espresso di Keramaian Malam Gandoriah
Kopi double espresso. Foto/istimewa/internet
Sekira lima belas menit usai salat tarawih, satu urat di kepala saya berdenyut: pertanda minta diasup kafein. Selama bulan puasa, tak teratur saya minum kopi. Habis sahur langsung tidur, akan berjaga jika meminumnya. Pun usai berbuka, kedai kopi langganan tak pernah buka saya lihat. Ia hanya buka sesekali di saat saya tak melewati jalan di kedai itu.

Kafein kapsul yang saya beli di internet sudah lama habis. Kata orang kafein farmasi jauh lebih halus daripada kopi: zatnya. Bikin bertenaga tapi tak dapat aroma dan rasa. Kopi minuman kadang bikin badan saya lekas panas. Di usia empat puluhan, kondisi badan tentu tak sekuat dulu. Pernah beberapa kali pembuluh darah halus di hidung saya pecah mengeluarkan darah saking tingginya suhu badan oleh konsumsi kopi yang tak terkendalikan.

Sejak itu, saya coba hindarkan kafein dosis tinggi yang ada di kopi dan kapsul: beralih ke teh saja. Di saat kecemasan akan darah kembali keluar dari hidung hilang, saya biasanya kembali meminum kopi, keluar darah lagi, berhenti. Siklus itu berlangsung hingga kini.

Di sepanjang jalan di sekitaran Pantai Gandoriah bak pasar saja. Kendaraan yang lewat: mobil dan sepeda motor simpang siur, macet, usai tarawihan. Kawula muda memadati taman Tugu Asean, sebagian lagi hinggap di cafe-cafe ala Pulau Dewata. Pemandangan seperti ini kontras betul dengan Gandoriah empat tahun yang lalu. Pariwisata era Mukhlis-Genius tak terbantah maju pesat: hanya dalam empat tahun terakhir.

Kata si juru parkir, hingga ke ujung Pantai Kata, nyaris sama ramainya. Orang-orang pada merelakskan diri di cafe-cafe yang tumbuh bak cendawan di musim hujan seiring ramainya pantai Pariaman. Nuansa pantai selalu indah di malam hari.

Saya memarkirkan kendaraan di depan kedai kopi bernama Espresso Cafe, masuk ke dalam, memesan double espresso kesukaan saya. Saya minta dibungkus saja buat dibawa pulang menemani tontonan sinema di laptop. Film-film tersebut saya minta seorang teman mengunduhnya karena koneksi internet di tempatnya begitu cepat. Ia pakai indihome berbayar Rp600 ribu perbulan. Untuk mendownload sembilan film, tidak sampai dua jam saja.

Film barat terkini dan peratingan tertinggi Internet Movie Database biasa disingkat IMDb itu, kini bersarang dalam hardisk 160 GB Transcend. Situs IMDb rujukan bagi saya mencari film-film berkualitas sepanjang masa. Kecondongan saya akan film berdasarkan kisah nyata, dipermudah oleh beberapa situs internet unduhan gratis yang hingga kini terus berusaha diblokir oleh pemerintah. Kadang film tersebut produksi era tahuan 50-an semacam film 12 Angry Man yang dibintangi Henry Fonda. Film keluaran 1957 itu berisi dialog 12 juri di pengadilan Amerika yang akhirnya membebaskan tersangka pembunuh (pemuda kulit hitam) yang nyatanya memang dikriminalisasi. Dialog-dialog cerdas oleh 12 aktor kawakan di film itu, diganjar rating 8,9 oleh IMDb.

Cafe expresso malam itu ramai betul. Untunglah saya agak didahulukan, hingga lekas pulang ke rumah. Tiada tanda-tanda hujan di malam itu sebagaimana malam sebelumnya. Puasa tahun ini memang bermandikan hujan. Penjual pabukoan es-es-an berkeluh, pedagang pakaian kaki lima anjaksana anjaksini oleh hujan yang tiap sebentar teduh dan turun kembali. Acap kena pacak, lembablah pakaian dalam hanger mereka.

Ada kebanggaan besar dalam diri saya melihat ramainya aktivitas di sepanjang Pantai Pariaman saat malam itu. Bersurut era 90 dan awal 2000-an silam, sepanjang pantai tersebut dikenal miring. Apalagi malam harinya: tempat orang berjoget berteman inex, sabu, bercampur menghisap ganja sambil minum miras. Perempuan jalang bergabung pula.

Siang hari pun suram oleh stigma 'pondok baremohnya' yang akhirnya dirusak massa usai gempa besar berkesinambungan sepanjang 2006 hingga 2009.

Kini, 'pondok baremoh' itu telah disulap menjadi taman-taman. Tempat kawula muda dan keluarga berkumpul. Di sana kini rindang, hijau. Taman-taman ikonik dan arena bermain bikinan pemerintah, tak berbayar menikmatinya. Begitulah dahsyatnya evolusi wisata di sepanjang Pantai Pariaman saat ini. Rasanya, wajiblah kita bersyukur: kepada Tuhan, kepada pemerintah dan kepada masyarakat----yang tertolong ekonominya---dalam menjaga apa yang telah ada saat ini. Bersyukur pula tak ada tempat untuk mabok di sana. Mencari sebotol bir di cafe di sepanjang Pantai Pariaman saat ini sama dengan mencari ketiak ular.

Kemarin pewarta melaporkan banyak cafe-cafe di Pariaman bertemakan wisata menyuguhkan paket berbuka puasa. Cafe-cafe itu dilaporkan selalu ramai karena mampu menyuguhkan menu-menu enak dengan penamaan yang kreatif. Anak-anak muda hobi betul berbuka di sana sehingga tiga puluh menit jelang waktu berbuka, seluruh cafe-cafe tersebut tak menerima orang lagi karena semua tempat telah diduduki.

Kabar tersebut disebarkan melalui media siber, viral, dan membuat pembaca di rantau penasaran. Nama-nama cafe itu mereka catat untuk disinggahi saat lebaran. Itu selentingan kabar umpan balik yang saya baca di media sosial. Oh, tentu saja Pariaman bertambah ramai oleh perantau saat lebaran nanti. Lebaran adalah ajang 'pulang kampuang' rutin bagi suku Minang, apalagi 'Rang Piaman' di perantauan. Ihwal itu, sama sahihnya dengan terbitnya matahari di timur tenggelam di barat.

Kadang terpikir oleh saya: tiba-tiba orang Pariaman menjadi begitu kreatif. Saya perhatikan, dari puluhan cafe yang ada, coraknya berbeda-beda. Unik-unik dan mencengangkan. Mereka punya mesin penyeduh kopi yang tak kalah bagus dengan milik cafe-cafe di bandara Soekarno-Hatta. Dari mana mereka dapat ide membuatnya, hingga nyaris---pergi ke cafe di Pariaman---menyerupai cafe-cafe di Bali.

Terpikir juga oleh saya ada fasilitas ojek aplikasi ada di Pariaman guna memudahkan orang rumahan seperti saya memesan kopi dan beragam menu di cafe-cafe tersebut. Saya yakin hal itu akan terwujud dalam rentang beberapa tahun ke depan meski di awal ketibaannya nanti akan banyak ditentang. (OLP)
Imang dan Iming Ngobrol Jelang Imsakiyah
Ilustrasi/istimewa/internet
Bulan suci Ramadhan 1439 Hijriyah pada 2018 ini bertepatan dengan sejumlah besar agenda politik. Pilkada serentak 27 Juni 2018 dan pemilu legislatif sekaligus Pilpres pada 17 April 2019 juga telah memasuki berbagai tahapan.

Kasak-kasuk 'menggoreng' isu di media sosial---dalam bulan suci Ramadhan---intensitasnya belum secara drastis berkurang. Postingan-postingan bernada satir mengarah ke tokoh-tokoh politik tertentu, mudah ditemui. Selain melunturkan nilai ibadah bagi penganut muslim yang memostingnya, postingan tersebut juga bisa mempengaruhi emosi akun-akun lain yang saat itu juga sedang menjalankan ibadah puasa.

Belum meredanya 'perang siber' di media sosial pelbagai platform disebabkan oleh tiga agenda politik besar: Pilkada serentak 27 Juni 2018, Pileg dan Pilpres 17 April 2019. Di samping isu primer itu, sejumlah isu lain seperti terorisme, pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan pengesahaan Revisi Undang-Undang Terorisme ikut digoreng di lini masa.

Isu-isu parsial tersebut akan terus dimainkan selama 2018 dan 2019 hingga terpilihnya presiden dari hasil pemungutan suara rakyat.

Untuk Pilkada Pariaman sendiri, selama bulan puasa 'perang siber' di media sosial khususnya Facebook, cenderung menurun. Satu dua akun masih terpantau aktif 'menggoreng' isu, namun dalam porsi yang lebih kecil. Postingan lebih banyak ke menu buka puasa, berburu takjil, hingga buka bersama.

Politik Pariaman mencapai puncaknya saat hari pungut hitung 27 Juni. Tahapan sosialisasi oleh tiga pasang paslon Pilkada Pariaman terus jalan selama bulan suci Ramadhan. Mereka menghelat acara buka bareng bersama, bersafari Ramadhan hingga terus blusukan di siang hari.

Imang, 42 tahun, lagi menyeduh dua cangkir kopi kental sembari menunggu waktu imsakiyah. Pada pukul empat kurang sepuluh menit dini hari ia telah selesai makan sahur. Di saat istri dan kedua anaknya beringsut ke kamar tidur, dua cangkir kopi tadi ia bawa ke beranda rumahnya. Waktu imsakiyah ada beberapa menit lagi. Kelam masih bersipat. Lampu beranda temaram dan suara imbauan sahur bergema dari toa masjid-masjid terdekat.

Imang tidak sendirian. Setengah jam yang lalu ia telah menelepon Iming, 38 tahun, tetangga satu komplek perumahan yang telah ia anggap adik kandungnya sendiri. Iming sekonyong datang saat Imang baru mulai meneguk kopi yang ia dinginkan dalam tadahan.

"Postingan yang kamu share ini bisa merusak ibadah puasamu dan kamu bisa tersandung hukum," cetus Imang menunjukkan postingan Iming di media sosial Facebook yang ia posting tiga jam lalu.

"Sebelum terlanjur viral, sebaiknya kamu hapus sekarang juga," ujar Imang setengah memerintah.

Iming mangut. Ia mengeluarkan smartphone dari saku celananya dan duduk di samping Imang. Postingan dimaksud Imang, ia delete. Muka Iming merah padam meski ia tidak merasa canggung dinasehati orang yang telah ia anggap abangnya itu. Iming menerawang. Ia teringat pesan ibunya saat ia menumpang kos di kontrakan Imang saat menjadi mahasiswa baru di Padang.

"Kamu tinggal bersama Imang. Ibu telah titipkan kamu ke dia. Dia anak yang cerdas dan saleh yang tahu diuntung. Bersama dia, ibu tak cemas melepasmu karena ibu yakin ia akan mengarahkanmu agar terhindar dari pergaulan negatif mahasiswa kota besar. Kamu jangan berperangai nak, tenggang perasaan ibu dan ayahmu," kenang Iming akan nasehat ibunya.

"Tadi saya cuma iseng. Lagian cuma copy-paste postingan teman," Iming mencoba membela diri.

Imang menyalakan rokoknya. Asap pekat ia hembuskan mengepul ke udara. Kopi tadi kembali ia sesap. Kali ini langsung dari cangkirnya. Usai menghela nafas panjang Imang berkata, "Ming, jangan jadi orang yang ikut-ikutan. Postingan di media sosial persis seperti kita bertutur di dunia nyata yang perlu pertanggungjawaban. Kata-katamu akan mengungkap jati dirimu," kata Imang tenang.

"Sudah berapa banyak orang dipolisikan oleh postingannya di Facebook. Itu kamu camkan baik-baik agar tak menyesal nantinya," Imang melanjutkan.

Kepada adik lain ibu dan ayahnya itu Imang berpesan agar menggunakan media sosial dengan cerdas. "Saat ini," kata Imang, "Orang masih menganggap media sosial sebagai wahana iseng, ajang melampiaskan emosi dan curahan hati. Sanksi hukum diabaikan. Setelah meringkuk di tahanan, baru mewek."
 

Sembari membenarkan posisi kacamatanya Imang bertutur, media sosial memang sudah dijadikan medium promosi utama dalam segala hal. Perdagangan, pendidikan, kampanye politik, kaderisasi hingga doktrin-doktrin faham tertentu. Suguhan tersebut tiap hari terpampang di layar smartphone penggunanya.

"Selaku pengguna media sosial aktif sebaiknya kita manfaatkan media sosial untuk hal positif saja seperti ajang silaturahmi, mempromosikan kampung halaman dan menghindari perdepatan politik tak berujung dengan orang-orang yang punya kepentingan pilkada, pileg apalagi pilpres, kecuali kamu bagian dari tim sukses, anggota parpol. Ini, kamu PNS, sadari posisimu. Atau kamu mau berhenti jadi PNS?" Imang balik bertanya.

"Tentu.. ten...ten..tu tidak..." Iming tergagap.

Iming termenung. Ia menyadari belakangan ia begitu mudahnya terpancing oleh postingan di medsos dan cenderung ikut berkomentar. Ia memang condong pada salah satu paslon dan ikut anti pada tokoh politik nasional tertentu. Bahkan di saat-saat emosinya memuncak, ia membagikan postingan provokatif yang belum tentu ia yakini kebenarannya. Bahkan lewat akun anonimnya, ikut pula menyerang tokoh tertentu dengan agresif.

"Gila, saya bahkan ikut-ikutan membenci presiden. Padahal selaku PNS ia adalah pimpinan tertinggi kami. Dan siapa yang terpilih nanti menjadi walikota dan wakil walikota tetap akan menjadi atasan saya. Saya mestinya memposisikan diri netral di pilkada," Batin Iming menyadari.

Tiba-tiba kerongkongan Iming terasa amat kering. Secangkir kopi yang dihidangkan Imang di hadapannya ia sesap sekali teguk.

Sejurus kemudian sirine imsakiyah berdengung. Dari rumah Imang, mereka berdua gegas menuju musala komplek guna menunaikan salat subuh. Diiringi kokokan Ayam jantan komplek peliharaan Pak Imung, usai salat, mereka menuju rumahnya masing-masing.

Media sosial diciptakan sebagai ranah virtual guna bersosialisasi tanpa membatasi jarak dan waktu oleh para penggunanya. Seiring perkembangannya, medsos berbagai platform tumbuh besar dan penggunanya pun ketergantungan olehnya. Syahdan, media sosial telah menjadi kebudayaan baru ala zaman modern.

Di media sosial kita bisa menemukan beragam informasi dari pelbagai media massa siber kredibel yang viral. Di media sosial kita juga bisa menemukan postingan provokatif dan kabar bohong yang diviralkan oleh oknum-oknum tertentu lewat media abal-abal.

Untuk itu, perlu verifikasi oleh diri kita sendiri dalam memfilter setiap informasi yang tiap hari lalu-lalang di layar gawai. Saringannya itu, adalah diri kita sendiri. Makanya anak-anak di bawah umur 18 tahun sebaiknya diawasi oleh para orangtua dalam penggunaan media sosial. Mereka yang dalam tahap pencarian jati diri, akan gampang kena imbas konten negatif media sosial. (OLP)
Padangpariaman Smart City, Mungkinkah?
Oleh : Asrul Khairi (Tenaga Ahli TIK Dinas Kominfo Padang Pariaman)
Selama ini cenderung langkah-langkah orientasi pembangunan ibarat memadamkan api dalam sekam. Kita baru akan sibuk bertindak setelah terjadinya suatu persoalan.

Kita sadar rendahnya bahkan sangat lemahnya upaya manajemen pendeteksian persoalan. Ditambah dengan gaya pembangunan dan penanganan persoalan yang cendrung sektoral, sehingga persoalan tidak terintegrasi dan sulit dimonitor. Hal ini dikarenakan juga kurang tersedianya akses data/fakta terukur dan rendahnya pemanfaatan teknologi tepat guna untuk memberikan support pekerjaan.

Sementara zaman terus bergerak. Hidup di zaman globalisasi ibarat menaiki tangga eskalator turun di mana arus informasi berjalan cepat mengalahkan kemampuan memori otak untuk menangkap dan mecernanya. Percepatan pertumbuhan era digital akhir-akhir ini memiliki peran penting dalam menumbuh kembangkan peradaban dunia digitalisasi. Salah satunya target Smart City.

Perencanaan Smart City secara harfiahnya disebut sebagai kota pintar: adalah bagian dari agenda global sebagai respon konseptual dan praktis terhadap berbagai krisis perkotaan di dunia. Kompleknya persoalan di berbagai daerah diyakini oleh berbagai kalangan sudah berada di level “sangat mengkhawatirkan”, mengembalikan hubungan konektivitas antara manusia, manusia dengan alamnya, ruang binaan dan ruang alami yang lebih harmonis, sehingga tidak saling menyakiti.

Melalui Smart City, tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan dapat dicapai secara sistematis dan bertahap dengan perspektif jangka panjang. Konsep pembangunan kota digital bukan hanya sekedar menghadirkan segala fasilitas utilitas tools teknologi, melainkan diperisapkan lebih jauh menuju kota yang ramah dan menyenangkan, kota yang terbuka memberikan ruang akses informasi publik.

Target menuju kota digital ini menjadi tantangan sendiri bagi Kabupaten Padangpariaman sebagai wilayah pesisir Sumatera yang terbentang luas membujur hingga bukit barisan. Secara demografi wilayah-wilayahnya tersebar mulai dari dataran rendah, lembah, lereng-lereng hingga mencapai ketinggian diatas 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl).

Dalam hal regulasi, lahirnya Surat Keputusan Bupati Padangpariaman Tentang Pembentukan Dewan Smart City merupakan langkah awal bukti keseriusan pemerintah Padangpariaman menju era kota digital.

Dewan itu terdiri dari kolaborasi Organisasi Perangkat Daearah (OPD) hingga melibatkan para pakar dan akademisi. Dewan Smart City akan mengkaji desain rencana strategis jangka panjang pengembangan kawasan Smart City di Padangpariaman. Tentu saja menarik kita tunggu hasil kerja keras mereka.

Secara global Smart City memiliki 6 dimensi: Smart Goverment (pemerintahan pintar), Smart Economy (ekonomi pintar), Smart Live (hidup pintar), Smart Living (lingkungan pintar), Smart People (masyarakat pintar) dan Smart Mobility (mobilitas pintar).

PR besar percepatan hadirnya Smart City di Padangpariaman menjadi tanggung jawab Dinas Kominfo Padangpariaman selaku leading sector yang akan menahkodai target luar biasa ini. Perlahan Dinas Kominfo terus melakukan penataan dan terobosan; mulai dari langkah awal penyediaan struktur jaringan hingga ke pelosok nagari, membuat blueprint, kolaborasi lintas sektoral, menyiapkan SDM berbasis IT, merangkul akademisi, pihak peduli teknologi, hingga mendorong lahirnya regulasi yang jelas sebagai acuan payung hukum pelaksanaan.

Percepatan di bidang infra struktur Information and Communication Technologies (ICT) yang menjadi urat nadi dari kota digital, tantangan besar bagi Dinas Kominfo membuka titik jalur infra struktur sebanyak mungkin. Dengan kontur wilayah Padangpariaman yang tergolong luas, curam dan sulit, Dinas Kominfo dituntut terus bekerja keras menghadirkan sebanyak mungkin akses aliran internet ke daerah.

Hasilnya, di semester akhir 2017 lalu, Dinas Kominfo sudah memulai sekaligus memastikan hadirnya titik akses jaringan internet di seluruh kecamatan yang ada. Akses internet yang di suplay sudah ke 17 kecamatan yang ada dengan kecepatan rata-rata 10 Mbps, melebihi kecepatan rata-rata internet global yang hanya di kisaran angka rata-rata 7 Mbps. Kerja nyata yang luar biasa.

Sedangkan untuk mempercepat teralisasinya penyebaran target akses internet di wilayah-wilayah yang lebih dalam lagi, Dinas Kominfo menggandeng kemitraan dengan salah satu vendor ternama penyedia jasa internet service profider (ISP) karena pada 2018 Dinas Kominfo akan berekspansi ke seluruh nagari, 103 nagari di anataranya sudah terakses titik jaringan internet.

Sejalan percepatan di bidang lain, sebagai tindak lanjut dari penyediaan infra struktur jaringan TIK yang berkelanjutan, Dinas Kominfo juga tengah menggagas hadirnya ruangan komando (comand center). Ruangan komando ini digadang-gadang akan menjadi ruang digital masa depan. Sebagai ruang trafik center, video converence, pengawasan bersama terpadu, guna memantau berbagai macam pergerakan aktivitas.

Mulai dari pengawasan lalu lintas dengan pengawasan CCTV di wilayah-wilayah keramaian strategis, ruang interaksi masyarakat dan layananan pengaduan via call center atau aplikasi mobile lainnya.

Hadirnya ruangan Comand Center ke depan tentu saja tidak lepas dari upaya membangun kolaborasi sistem. Berbagai elemen akan tergabung dalam satu jendela, mulai dari mengintegrasikan masing-masing SKPD, pelibatan POLRI, TNI, badan, lembaga publik lainnya hadir bersamaan dalam satu sistem pelayanan public secara digital.

Di samping itu hadirnya fasilitas video converence diharapkan dapat memangkas jarak dan waktu, sehingga dalam kondisi tertentu pimpinan bisa melaksanakan konferensi/meeting dengan berbagai OPD tanpa kendala ruang dan waktu.

Di sisi lain harapan kedepannya untuk mendukung percepatan lahirnya kota pintar secara menyeluruh, didukung dengan taman digital dengan layout Telkom conferece di setiap ruang terbuka publik. Ruang itu berfungsi sebagai imbauan dan penyebaran informasi.

Pun tidak kalah penting dari itu semua adalah perlunya sosialisasi secara aktif dan masif secara bersama-sama tentang pendayagunaan internet positif dan ekonomis.

Pernah menonton film Hollywood Minority Report yang disutradai oleh Steven Spielberg. Film ber-genre science fiction itu sukses memperlihatkan kepada penonton kecanggihan teknologi kota di masa depan. Sekarang bagaimana kalau kota masa depan yang diangkat dalam kisah fiksi itu bukan lagi mustahil. Sudah siapkah kita? (***)
Sejarah May Day dan Vakumnya Hari Buruh Indonesia di Rezim Orba
Ilustrasi Mayday. Istimewa/internet/Pelita Banten
                                 Oleh Edi Junaidi

May Day, siapa yang tidak kenal dengan ungkapan tersebut, May Day atau Hari Buruh Sedunia yang bertepatan dengan tanggal 1 Mei, merupakan sebuah hari dimana terdapat sejarah kelam kerasnya kehidupan para buruh di seluruh dunia, pada kala itu.

Sejarah May Day terjadi atas peristiwa memilukan yang terjadi pada tanggal 1 Mei 1886. Demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh sekitar 400.000 buruh Amerika yang mengusung tuntutan pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari yang saat itu buruh bekerja selama 19 - 20 jam sehari. Tidak tanggung - tanggung, aksi demonstrasi berlangsung selama 4 hari, dimulai sejak 1 Mei hingga 4 Mei 1886.

Aksi 4 Mei 1886, para buruh melakukan pawai besar - besaran. Tetapi yang terjadi sungguh nahas. Polisi Amerika malah menembaki para demonstran secara membabi - buta. Para pemimpin aksi demonstrasi ditangkap dan dihukum mati. Ratusan orang tewas bersimbah darah tertembus timah panas. Peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa Haymarket, karena terjadi di Bundaran Lapangan Haymarket.

Sebagai penghormatan terhadap para martir atau buruh yang tewas dalam aksi demonstrasi itu, Kongres Sosialis Dunia di Paris pada Juli 1889 menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Sedunia (May Day). Hal ini memperkuat keputusan Kongres Buruh Internasional di Jenewa 1886. Sejak itulah, 1 Mei, di seluruh dunia diperingati sebagai Hari Buruh.

Nah, bagaimana di Indonesia. Hari buruh di Indonesia sendiri pertama kali diperingati pada 1920. Namun, sejak pemerintahan masa Orde Baru, hari buruh 1 Mei, tidak lagi diperingati. Hal ini lantaran aksi itu oleh Orde Baru dihubungkan dengan gerakan dan paham komunis. Semenjak peristiwa G30SPKI pada tahun 1965, aksi ini menjadi ditabukan di Indonesia.

Setelah masa Orde Baru berakhir, tanggal 1 Mei kembali menjadi peringatan hari buruh di Indonesia. Di 2013, pemerintah telah menetapkan 1 Mei sebagai Hari libur Nasional mulai 2014.

Selamat Hari Buruh Sedunia, May Day untuk kita bersama. Semoga kesejahteraan buruh di Indonesia akan semakin baik lagi ke depannya. Semoga para pengusaha dan pemerintah, dapat mewakili kaum buruh Indonesia memperoleh hak-haknya yang semakin hari tergerus dengan Tenaga Kerja Asing.

Jangan sampai kita menjadi penonton di negara kita sendiri di saat tingkat pengangguran memuncak tinggi. Ironis memang tatkala pemerintah malah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing. Semoga negeri gemah ripah loh jinawi ke depannya akan memberikan kesejahteraan bagi segenap warganya. (***)
Dampak Nikah Siri bagi Perempuan dan Anak
Oleh : Angga Perdana
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UNAND angkatan 2016
Program beasiswa Kem Kominfo
~Nikah siri menjadi isu besar dan menjadi pemberitan media nasional beberapa hari belakangan.

~Terlabih dengan munculnya sebuah aplikasi kontroversial nikahsirri.com dengan motto “Mengubah Zina Jadi Ibadah”


Sesuai namanya, aplikasi itu menyediakan layanan proses nikah siri--bawah tangan--yang lebih hebatnya lagi juga menawarkan lelang perawan dan kawin kontrak yang spontan menjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat termasuk pakar agama dan hukum.

Bicara legalitas hukum, nikah siri tidak tercatat secara administrasi di Kantor Urusan Agama sebagaimana lazimnya pernikahan sah yang diatur oleh negara, walaupun dalam agama konteksnya ada yang mengatakan pencatatan dari KUA bukanlah syarat sah sebuah pernikahan.

Meski secara agama dan adat istiadat nikah siri dianggap sah, namun perkawinan yang di selenggarakan di luar pengetahuan dan pengawasan pencatatan nikah tidak memiliki kekuatan hukum dan dianggap tidak sah di mata hukum yang berlaku di Indonesia yang tidak mengenal istilah kawin siri dan semacamnnya.

Hal ini lah yang harus diingatkan kepada kaum perempuan agar menghindari terjadinya pernikahan siri. Dampak negatif nikah bawah tangan menghantui perempuan dan keturunannya apabila suatu ketika terjadi permasalahan dalam hubungan rumah tangga pasangan nikah sirri. Hukum negara tidak akan bisa melindungi. Akan merugikan kaum perempuan, begitu juga dengan anak dari hubungan tersebut tidak akan bisa mendapatkan status hukum terhadap ayahnya sesuai undang-undang perkawian.

Sementara itu nikah siri yang kerap dilakukan dengan diam-diam, secara sosial istri akan sulit bersosialsasi dan diterima keberadaannya dalam lingkungan masyarakat. Ia cenderug dianggap sebagai satatus hubungan yang terlarang, terlebih di hampir semua derah di Indonesia memegang teguh adat istiadat yang masih kental dimana mengatur tentang sakralnya aturan pernikahan.

Penulis mencontohkan salah satu kasus nikah sirri yang dilakukan oleh seorang publik figur yang pernah melakun pernikahan siri dengan salah seorang pejabat negara di zaman orde baru Macica Mochtar.

Pengakuan Macica mochtar dalam sebuah tayangan stasiun televisi swasta nasional beberapa hari yang lalu, mulai dari prosesi ijab kabul yang diselenggrakan dengan sembunyi-sembunyi yang hanya diketahui oleh keluarga sebelah pihak, sampai dia dianugrahi keturunan dari hasil pernikahan sirinya.

Macica menilai ada kejanggalan dalam hubungan rumah tangganya, puncaknya pada usia perkawinan yang berjalan di umur lima tahun, Macica berusaha untuk melegalkan status pernikahannya secara hukum negara ke Mahkamah Konstitusi, begitu juga dengan status anak dari hasil pernikahannya. Pada akhirnya dalam pokok perkara di pengadilan, menolak gugatan Macica Mochtar untuk seluruhnya.

Mengambil pelajaran dari contoh kasus ini, tentunya semua kerugian akibat pernikahan siri akan dibebankan kepada perempuan atau istri siri dan anak-anak jika menghasilkan keturunan dari buah kawin bawah tangan itu.

Sedangkan bagi laki-laki atau suami, hampir tidak ada kerugian atau dampak yang mengkhawatirkan. Bahkan sebaliknya justru menguntungkan kaum adam itu karena bisa bebas menikah lagi karena perkawinan sebelumnya dianggap tidak sah di mata hukum.

Oleh karena itu sebagai warganegara yang telah terikat oleh peraturan dan undang-undang kita harus mematuhi aturan yang telah ditetapkan negara. Pernikahan yang diselenggarakan dengan jalur yang sah memberikan keuntungan kepada pihak perempuan dan keturunannya sebagaimana yang telah di atur dalam UU No 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan.
Para Penumpang Biduk ke Hilir Pilkada Pariaman
Surat suara Pilkada Pariaman 2013. Foto: Dok Pariamantoday
Pengalaman mendewasakan. Kalimat tersebut juga berlaku dalam konteks demokrasi. Lihatlah saat awal-awal reformasi, semua orang latah berpolitik. Banyak kalangan mendirikan partai, dari hanya sekedar berpartai agar terlihat eksis, hingga yang betul-betul serius mengusung ideologis. Banyak partai itu tumbang sekali pemilu dan tidak bangkit lagi, ada juga merger dengan partai lain yang sama ideologinya.

Di telusuri ke bawah dalam konteks pileg dan pilkada langsung secara nasional, sama bunyi gendangya. Di awal pileg dan pilkada, orang nekat banyak maju. Ajang itu dianggap laga sabung ayam saja. Konteks pileg dan pilkada dianggap untung-untungan. Hasilnya, penuh rumah sakit jiwa. Banyak rumahtangga porakporanda. Tentu bagi yang kalah. Kabar hal aneh pasca kekalahan calon, menghiasi laman humaniora media massa daerah dan nasional.

Pilkada Pariaman tahun 2008, merupakan masa euforia politik praktis di Pariaman. Banyak para kandidat mengedepankan ilusional di bandingkan rasional. Dalam pentas demokrasi 2008 tersebut, lembaga survey belum dijadikan alat ukur. Modal keras hati lebih mendominasi.

Berlanjut ke Pilkada Pariaman 2013, juga tak ubah. Konstitusi menjamin siapapun boleh berpartisipasi. Alhasil ada tujuh (7) pasang calon, naik ranking jumlah peserta dari Pilkada 2008 yang hanya lima (5) pasang kontestan.

Dari hasil pengamatan sejak tahun 2015 hingga 2016, euforia pilkada sedikit mulai surut. Pertimbangan logika mulai diperturutkan. Para calon kandidat mesti punya alasan kuat dahulu, baru berani mencalonkan diri. Contoh konkrit bisa dilihat saat Pilkada Padangpariaman 2015 dihelat. Kembarannya kota Pariaman.

Masih dari pengamatan, pertimbangan rasional calon kandidat Pilkada Pariaman 2018---yang beberapa bulan lagi dihelat---hingga masuk tahapan KPU, masih bertahan. Jika dalam dua pilkada sebelumnya, banyak pasangan calon sudah mendeklarasikan diri, saat ini para bakal calon lebih banyak pasang spion. Lihat kiri-kanan-depan-belakang, sosialisasi jalan terus. Bahkan di antara mereka, telah menyiapkan anggaran 'hilang' jika suatu saat ia tidak jadi mendaftar sebagai pasangan calon ke KPU. Pagar badan bernama rasional itu, sudah terpasang erat di sabuk pinggang masing-masing nama bakal calon yang beredar hingga saat ini.

Ingin Berpasangan dengan Calon Pemenang

Setidaknya, dari bocoran hasil lembaga survey prapilkada, ada tiga nama potensial. Tiga nama tersebut sudah menjadi rahasia umum di kalangan publik Pariaman. Jika disebut juga, mereka bukan nama baru. Ia Genius Umar, Mahyuddin dan Mardison Mahyuddin. Mardison dan Mahyuddin, sedikit di bawah Genius Umar dalam peringkat survey.

Lapisan kedua dari tiga nama tersebut, hampir ada sepuluh nama. Dari sekian nama, baru Azwin Amir yang menegaskan diri sebagai chalenger/penantang bagi tiga nama populer di atas. Selain nama Azwin, selebihnya mengincar kursi wakil walikota, berharap menumpang biduk ke hilir.

Tiga nama populer itulah yang sering didatangi oleh calon penumpang biduk ke hilir. Mereka membawa pendayung dan bekal, berharap sama-sama berjuang membawa sampan ke pulau seberang yang telah tersedia satu paket kursi. Bernama walikota dan wakil walikota Pariaman.

Fenomena saat ini merupakan evolusi dari dua kontestasi pilkada sebelumnya. Para calon telah banyak belajar dari pengalaman yang sudah-sudah. Pengalaman mendewasakan mereka.

Banyak kalangan menyebut Pilkada Pariaman 2018 tidak akan lebih dari tiga (3) pasangan calon. Sependapat betul saya dengan analisa tersebut. Jalur perseorangan yang disediakan oleh penyelenggara pemilu, hingga saat ini lapaknya masih kosong. Tidak ada tanda-tanda akan berpenghuni.

Syahdan, demokrasi Pariaman menapaki kedewasaan. Pun terlihat pula bagi calon pemilih. Jika dulu (dua pilkada sebelumnya) banyak berdiri posko-posko pemenangan--bahkan hingga ke tingkat dusun--saat ini posko induk pun belum terlihat. Terpacak masyarakat tak mau melarutkan diri, macam dulu. 

Penulis: Ikhlas Bakri
Editor: Ikhlas Bakri