"Asmara Subuh" hingga Berburu Takjil di Awal Ramadhan
Suasana buka puasa hari pertama di salah satu rumah warga di bilangan Jati Hilir Pariaman. Foto: OLP
Memasuki awal Ramadhan 1439 Hijriyah sebagaimana bulan puasa sebelumnya, sejumlah masjid dan musala di Kota Pariaman terbilang ramai oleh para jamaah. Di Pasir Pauh Desa Pauh Barat contohnya. Tua muda, bugar dan dalam kondisi sakit tertentu, terlihat khusyuk menunaikan salat tarawih di Musala Al Irsyad. Di antara para jamaah terlihat satu orang menunaikan salat dengan cara duduk. Dia tak kalah khusyuk.

Sehabis tarawihan sebagian dari jamaah itu berkumpul di warung. Teh telor ia pesan. Sarapan wajib penambah stamina yang tak sempat ia konsumsi pagi, ia balaskan selepas tarawih. Kepulan asap rokok ke mana-mana. Di luar kedai, para bocah juga terlihat riang. Sebaya, mereka bermain-main. Suasana malam itu menghadirkan nuansa ceria khasnya Ramadhan.

Terdengar seorang bocah laki-laki kisaran umur 7 tahun minta uang jajan kepada ayahnya yang kebetulan duduk di samping saya. "Lanjo wak Yah (jajanan saya Ayah)," sang Ayah merogoh saku memberi Rp3 ribu kepada anaknya. Si anak yang cerdik menyela. "Lanjo pagi?" Si Ayah geleng-geleng kepala, mengambil kembali Rp3 ribu tadi menggantinya dengan satu lembar Rp5 ribu. Si anak bergegas pergi dengan gembira.

Ihwal penuhnya masjid dan musala di awal Ramadhan di Pariaman oleh para jamaah, tak ingin saya menyebutnya tradisi. Dari pengamatan saya tahun ke tahun, makin ke ujung Ramadhan rumah ibadah makin sepi---lalu tinggal kalangan tua bin uzur saja yang hadir menunaikan ibadah salat tarawih. Saya menyebutnya "mereka para jamaah tetap masjid dan musala di hari-hari biasa."

Jatuhnya 1 Ramadhan 1439 Hijriyah di Pariaman dengan Padangpariaman serupa tapi tak sama. Pariaman nyaris 100 persen Muhammadiyah dan mulai puasa sejak Kamis (17/5) sebagaimana ketetapan pemerintah pusat. Sedangkan warga Padangpariaman (sebagian) Jamaah Tarekat Syattariyah mengawali 1 Ramadhan pada Jumat (18/5). Lain lagi Jamaah Tarekat Naqsabandiyah di Padang yang lebih dulu lagi pada Selasa (15/5) dan telah melaksanakan salat tarawih sejak Senin (14/5) malam. Jamaah Tarekat Naqsabandiyah yang lebih dulu berpuasa dipastikan pula akan berhari raya di saat mayoritas masih menjalankan puasa.

Selama bulan suci Ramadhan di Pariaman dan Padangpariaman ada dua fenomena yang telah membudaya di tengah masyarakat. Paling dinanti-nanti tentunya. Ia adalah "Asmara Subuh" selepas sahur dan berburu takjil menjelang masuknya waktu buka puasa di "Pasar Pabukoan."

"Asmara Subuh" secara harfiah merupakan kegiatan yang dilaksanakan tanpa koordinir oleh warga Pariaman--khususnya kalangan muda---selepas salat subuh di masjid atau musala. Sepanjang Pantai Pariaman akan dipenuhi oleh warga. Mereka umumnya berjalan kaki dari masjid dan musala masing-masing ke pantai-pantai menghirup segarnya udara pagi. Terapi gratis menyehatkan bagi jantung dan paru-paru, tentunya.

Di pantai-pantai akan terlihat pemandangan di mana perangkat salat seperti sarung dan peci masih dikenakan oleh para pria sebagaimana mukena oleh para wanita. Pemandangan tersebut menciptakan nuansa religi. Momen seperti ini menghadirkan nuansa memoritis yang akan selalu indah untuk dikenang.

Berburu takjil di Pasa Pabukoan di Pariaman dan Padangpariaman tak kalah seru. Pasar Pabukoan selalu ramai bahkan di saat krisis moneter 1998 sekalipun. Pasar Pabukoan Pariaman dan Pasar Pabukoan Kuraitaji yang legendaris, makin macet jelang masuknya waktu berbuka.

Segala menu berbuka puasa dengan harga murah tersedia di sana. Mulai dari gulai-menggulai, samba-menyamba, hingga aneka menu pelega buka puasa seperti es kelapa muda, jus aneka buah, sala lauak/sala bulek, dll. Tak jarang pula menu sahur sekaligus dibeli saat itu. Yah! Piaman memang sumber dari sekalian makanan yang lezat-lezat (setingkat di atas enak).

Di Pasar Pabukoan Pariaman, seorang ibu muda terlihat menjinjing kantong plastik besar berwarna hitam. Agaknya penuh setengahnya. Ia gantungkan di candel yang ada di bawah stang sepeda motornya. Ia sedang menunggu es kelapa muda yang ia pesan. Saya hadir dalam antrian itu yang kebagian lebih dulu darinya.

Ibu muda berhijab warna krem itu saya ajak bicara. Ia ramah. Penasaran, saya tanyakan apa saja yang ia beli dan habis berapa duit saat itu.

"Tak sampai seratus ribu udah sekalian menu sahur. Tadi saya beli sala (sala lauak) Rp10 ribu, lima jenis menu untuk sambal berbuka sekaligus sahur Rp65 ribu, es kelapa muda, es campur, totalnya keseluruhannya ga sampai Rp100 ribu," ujar ibu dua anak bernama Dina (36) warga Pariaman Tengah itu.

Berhubung masih pukul 17.30 WIB, saya bertolak menuju Pasa Pabukoan Kuraitaji. Pusat kuliner lainnya di Pariaman.

Di Pasar Kuraitaji yang tentu saja kini megah pasca dibangun, tak kalah ramai dengan Pasar Pariaman. Jejeran pedagang kuliner tertata rapi. Tak susah mengakses dari satu lapak ke lapak lainnya. Ihwal rasa, kuliner Kuraitaji tak usah dipertanyakan.

Helen (48) ibu empat anak warga Pariaman Timur memilih belanja pabukoan di Pasar Kuraitaji karena lebih dekat dari rumahnya.

Dari Helen saya tahu betapa beruntungnya membeli sajian daripada memasaknya sendiri. Helen memperlihatkan isi kantong plastik hitam besar yang nyaris penuh. Ada belasan bungkus kantong plastik bening dalam kantong hitam tersebut. Kata Helen, jika ia membuat sendiri apa yang dibelinya (beragam menu) untuk berbuka dan sahur, nominal uang yang diperlukan pasti melebihi dari jumlah yang ia belanjakan.

"Selain menghemat waktu, juga menghemat uang. Soalnya yang kita beli kan beragam. Bahan bakunya juga macam-macam. Jika dibuat, pasti lebih mahal. Ini cara paling praktis, kita tinggal pilih menu sesuai selera, di rumah tinggal menanak nasi," ujarnya.

Tingginya daya beli kuliner oleh masyarakat selama bulan puasa, tentu berkah bagi pedagang di Pasar Pabukoan. Penghasilan menjual aneka pabukoan bisa diandalkan mereka untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadhan plus lebaran. Dari sekian jumlah pedagang kuliner yang saya ajak bicara ada yang mengaku meraih keuntungan bersih kisaran Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per hari.

"Jika cuaca bagus, omset kita mencapai Rp1 juta lebih. Untung bersih sekitar Rp300 ribuan lah," tutur salah seorang pedagang yang minta namanya ditulis Buyung, di Pasar Pariaman.

Buyung pun mengajak serta anak dan istrinya melayani pembeli di lapaknya. Sebelum pukul 17.00 WIB penjual es buah campur/teler itu, sibuk memasukkan ragam buah ke dalam cup. Dengan begitu ia tinggal memasukan santan dan es, saat dipesan pembeli.

Melihat aktivitas di Pasar Pabukoan saya melihat citra optimisme dari sorot mata para pedagang. Penghasilan mereka selama Ramadhan saya pikir lebih dari cukuplah menyambut datangnya lebaran nanti.

Catatan Oyong Liza Piliang
Pariaman Jamin Ketersediaan Pangan Hewan Selama Ramadhan
Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pariaman pantau ketersediaan pangan hewan selama bulan suci Ramadhan. Foto/Fadli
Pariaman ------ Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pariaman lakukan pemantauan ketersediaan pangan dan bahan pangan asal hewan (BPAH) menjelang Ramadhan 1439 Hijriyah. Mulai dari ternak sapi, kambing dan kerbau termasuk lokasi penjualan daging yang tersebar di Kota Pariaman, Rabu (16/5).

Kepala Bidang Peternakan dan Pangan Zuswati Safitri mengatakan jaminan ketersediaan pangan asal hewan dari pemerintah akan memberikan rasa aman dan perlindungan bagi konsumen. Pihaknya juga memastikan setiap konsumen akan mendapatkan produk pangan hewani yang aman, sehat, utuh dan halal.

"Walaupun ada beberapa komoditi yang fluktuatif tapi ketersediaan cukup aman, semoga daya beli tidak terlalu berbeda dengan tahun yang lalu," ungkap Zuswati.

Untuk menjaga kualitas daging yang diolah, kata Zuswati, maka pihaknya akan memperhatikan pemrosesan hewan: mulai pemotongan, penyimpanan dan pengolahan.

"Semua tahapan proses harus meminimalkan adanya kontaminasi dan perkembangbiakan bakteri, hewan yang dipotong pun harus terbebas dari penyakit yang bersifat menular ke manusia," lanjutnya. (Phaik/OLP)
Pariaman Akan Gelar Razia Warung Selama Ramadhan
Mukhlis bersalaman dan bermaaf-maafan dengan ASN menjelang Ramadhan. Foto: Eri Elfadri
Pariaman ---- Walikota Pariaman Mukhlis Rahman mengingatkan empat hal kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemko Pariaman menjelang datangnya Ramadhan 1439 Hijriyah.

Pertama, selaku ASN Pemko Pariaman tetap meningkatkan kenerja karena bulan puasa adalah bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan.

"Artinya dari sisi duniawi kinerja kita meningkat dan disisi akhirat juga mendapat pahala yang berlipat. Jangan jadikan puasa sebagai alasan ASN untuk menunda pekerjaan" katanya, Senin (14/5).

Kedua, ASN agar bisa menjadi motivator meramaikan masjid dan musala. ASN kata dia, mesti bisa jadi contoh bagi lingkungannya.

Ia berkata, selaku ASN harus bisa menjadi contoh dan tauladan bagi masyarakat dalam melaksanakan dan menghormati bulan puasa. Pemko Pariaman juga akan menggelar razia terhadap warung-warung yang menjual makanan pada siang hari.

"Jangan sampai ada ASN Pemko Pariaman yang terjaring dalam razia tersebut," katanya. (Eri)
Jelang Ramadhan Harga Bahan Pokok Stabil di Pariaman
Mukhlis didampingi Kadis Perindagkop dan UMKM Gusniyeti Zaunit memantau harga kebutuhan pokok di Pasar Pariaman. Foto: Eri Elfadri
Pariaman ----- Memasuki bulan suci Ramadhan 1439 Hijriyah, Walikota Pariaman Mukhlis Rahman didampingi oleh Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Kota Pariaman Gusniyeti Zaunit pantau harga kebutuhan pokok di Pasar Pariaman dan Pasar Kuraitaji, Senin (14/5).

Berdasarkan pemantauan di lapangan, Walikota Mukhlis menyebut bahwa harga kebutuhan pokok di dua pasar tersebut masih dalam batas wajar.

"Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap harga kebutuhan pokok di Kota Pariaman karena sampai saat ini harga masih wajar," ungkapnya.

Dari pantauan wartawan saat itu, harga beras masih stabil sedangkan harga bawang dan cabai masih berfariasi karena barangnya ada yang datang dari Sumbar dan ada dari luar Sumbar sehingga mempengaruhi harga jual di tiap pedagang. Harga cabai berkisar dari Rp32 ribu hingga Rp40 ribu per kilonya, tergantung kualitas dan sumber cabenya.

"Fenomena harga seperti ini selalu berlangsung tiap tahunnya menjelang bulan puasa karena ada hukum pasar bila permintaan banyak harga cenderung naik," sambung Mukhlis.

Namun kata dia, secara keseluruhan harga kebutuhan pokok di Pasar Pariaman dan Pasar Kuraitaji masih stabil.

"Untuk itulah hari ini kami memantau harga kebutuhan pokok menjelang bulan puasa karena besok akan ada rapat di Provinsi Sumbar yang membahas masalah ini," tutupnya. (Eri/OLP)
Jelang Ramadhan, Padangpariaman Gelar Thaharah Serentak
Thaharah serentak dimulai dari Masjid Agung Syech Burhannudin. Foto: Andri
Tapakis ----- Padangpariaman canangkan Gerakan Thaharah serentak di Masjid Agung Syech Burhannudin di Kecamatan Ulakan Tapakis, Minggu (13/5). Thaharah artinya membersihkan kotoran, baik kotoran yang berwujud maupun yang tak berwujud. Kemudian secara istilah, thaharah artinya menghilangkan hadas, najis, dan kotoran---dari tubuh yang menyebabkan tidak sahnya ibadah lainnya---menggunakan air atau tanah yang bersih.

Wakil Bupati Padangpariaman Suhatri Bur mengatakan Thararah tepat dilakukan memasuki bulan suci Ramadhan 1439 H. Thaharah, kata dia, merupakan salah satu ibadah yang disyariatkan sebelum melakukan ibadah yang lain.

"Thaharah hanya dilakukan dengan sesuatu yang suci dan dapat menyucikan. Thaharah juga menunjukan bahwa sesungguhnya Islam sangat menghargai kesucian dan kebersihan sehingga diwajibkan kepada setiap muslim untuk senantiasa menjaga kesucian dirinya, hartanya serta lingkungannya," ungkapnya.

Anggota DPR Jhon Kenedi Aziz yang turut hadir dalam acara itu mengatakan agar umat muslim memperbanyak ibadah dan terus meningkatkan ilmu pengetahuan untuk menghadang pertarungan hidup yang kian sulit dan komplek.

"Pengaruh budaya asing kalau tidak diimbangi dengan pengetahuan keagamaan bisa merusak generasi berikutnya dalam masyarakat," ujar dia.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Padangpariaman Helmi mengatakan Thaharah merupakan miftah atau alat pembuka pintu untuk memasuki ibadah salat.

"Tanpa thaharah pintu tersebut tidak akan terbuka. Artinya tanpa thaharah, ibadah salat, baik yang fardhu maupun yang sunah, tidak sah," kata dia. (Tim)