18 August 2017

Calon Haji Padangpariaman Doakan Negeri dari Tanah Suci

Mekkah -- Jika di Indonesia seluruh daerah memperingati HUT RI ke-72 melalui upacara bendera, jamaah calon haji (JCH) kelompok terbang (kloter) 15 embarkasi Padang yang sedang berada di tanah suci, juga memperingatinya dengan mengadakan taushiah, zikir dan doa bersama.

"Tema kegiatan yang diangkat oleh panitia adalah "Doa untuk Negeri, dari Tanah Suci" dilaksanakan di Hotel Asfar Plaza, sektor 7, berjarak sekitar 3,5 km dari Masjidil Haram," ujar Afrinaldi Yunas, Tim TPHD Padangpariaman melalui surat elektoniknya yang diterima redaksi, Jumat (18/8/2017). JCH Padangpariaman memang tergabung dalam kloter 15.

Diawali dengan arahan dan amanat dari Sekda Padangpariaman Jonpriadi, kegiatan dimulai lebih awal dari jadwal yang direncanakan, yaitu pukul 05.37 waktu setempat.

Pada kesempatan tersebut Jonpriadi berpesan agar jamaah ikut serta menjaga kebersamaan dalam membangun bangsa, negara, dan daerah melalui doa dari tanah suci.

"Saat berada di tempat mustajab agar jamaah ikut mendoakan negara dan daerah asal mereka," kata Jonpriadi.

Selanjutnya, jemaah mendengarkan tausiah yang disampaikan Ustadz Tuanku Baharudin. Baharudin dalam tausiahnya mengingatkan bahwa di antara asbab bisa sampai di tanah suci adalah karena negara Indonesia aman dan telah merdeka.

"Kemerdekaan yang diupayakan oleh segenap pahlawan bangsa," ujarnya.

Dalam doa yang dipanjatkan dengan khusyu oleh seluruh jamaah calon haji itu diperuntukan bagi negara, daerah dan keluarga. Jamaah berharap doa yang mereka panjatkan menjadi bagian (kado) kecil untuk negara mereka di ulang tahun yang ke-72. (Tim)

17 August 2017

Mengenang Tragedi Berdarah Surau Batu Sintuak

Sintoga -- Peristiwa penembakan 40 orang anggota TRI/TNI,  pemuda pejuang kemerdekaan dan penduduk lainnya dari Nagari Sintuak Tobohgadang, Pakandangan, Kototinggi, Pauhkamba, Bintungantinggi dan sekitarnya oleh tentara Belanda, diperingati Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padangpariaman dengan menyelenggarakan upacara 17 Agustus 2017 di lokasi pembunuhan.

Peristiwa tersebut terjadi pada  Selasa 7 Juni 1949, yang dilakukan oleh serdadu Belanda. Pembina Upacara Peringatan HUT RI ke-72, Ketua GP Ansor Padangpariaman Zeki Aliwardana, menyebutkan, pelaksanaan upacara sengaja diselenggarakan di lokasi pembunuhan keji oleh tentara Belanda kepada TRI/TNI dan rakyat  untuk mengenang peristiwa yang dikenal dengan Tragedi Surau Batu Sintuak.

"Karena eksekusi pembunuhan tersebut dilakukan di dekat surau Batu, persisnya di pinggiran sungai Batang Tapakih. Kita ingin mengingatkan semua pihak bahwa di lokasi ini pernah terjadi pembunuhan puluhan orang akibat mempertahankan kemerdekaan RI dari serangan tentara Belada," kata dia.

Ia juga prihatin tidak adanya kepedulian pihak terkait terhadap pembangunan tugu yang dibangun untuk mengenang peristiwa tragis tersebut. Hingga kini tugu itu masih terbengkalai dan dipenuhi semak belukar. Karena dilaksanakan upacara peringatan 17 Agustus di tempat itu, lokasinya dibersihkan

Rangkaian sejarah perjuangan saat itu bermula dari gencarnya perlawanan pemuda dan pejuang TRI/TNI di Sintuak Tobohgadang sekitarnya membuat Belanda kalap dan melakukan serangan membabi buta.

Rakyat biasa, petani, saudagar jadi sasaran. Pagi 7 Juni 1949, satu kompi serdadu Belanda  melakukan penyisiran ke arah Barat dari Lubuak Aluang. Operasi dipimpin Kapten Backer Komando Markas Teritorial Belanda yang bergerak dari tiga jurusan, yaitu dari Selatan melalui Pungguangkasiak, dari Utara melalui Pakandangan dan Kototinggi serta dari Barat melalui Bintungan Tinggi, Pauhkamba, dan Tobohgadang.

Ketiga rombongan menyatu dan bertemu di pasar Sintuak, tepat di lapangan dekat stasiun kereta api Sintuak. Pada pukul 09.00 WIB, ketiga rombongan  membawa orang-orang tangkapannya. Tujuan penyisiran menangkap gerilya pemuda pejuang kemerdekaan dan anggota TNI. Namun, setiap laki-laki dewasa yang ditemui digiring.

Di stasiun kereta api Sintuak, semua tangkapan dikumpulkan,  dibagi   tiga kelompok. Pertama, 20 orang dibawa ke Lubuak Aluang untuk diperiksa. Kedua,  35 orang disuruh pulang. Ketiga,  40 orang dibawa Belanda ke Surau Batu Sintuak. Kelompok ini  di halaman Surau  Batu mula-mula  disuruh duduk melingkar  mendengarkan tuduhan sebagai gerilya, ekstrimis, penghianat, perampok dan sebagainya.

Walaupun ada diantaranya  berteriak menyatakan bahwa ia petani, tidak tahu apa-apa,  tidak dihiraukan oleh serdadu Belanda. Kemudian digiring ke pinggir sungai Batang Tapakih berbaris  membelakangi kepada serdadu Belanda dan menghadapi aliran sungai. Tiga senapan mesin siap memuntahkan peluru.

Tiba-tiba terdengar komando tembak! Door… door….door. Sebanyak 37 orang tewas.  Mayatnya  dihanyutkan  Batang Tapakih yang waktu itu tengah banjir. 

Peristiwa berdarah itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Masyarakat setempat tidak ada yang menyaksikan langsung, hanya bunyi tembakan dari jauh.  Tiga orang  terhindar dari maut. Ketiganya,  saat letusan senjata api musuh terdengar, mereka  cepat terjun  ke  sungai. Lalu menghanyutkan diri bersama air banjir.

Masing-masing  Zakaria alias Buyuang Gati,  ditangkap  di  Tobohluaparik,  Tobohgadang. Setelah hari gelap,  baru berani  keluar dari sungai dan pulang. Kedua,  Hongkong yang dibangunkan ketika masih tidur pukul 05.30 WIB   di Bayua Kototinggi.  Ketiga, Nasir Labai Buyung Itik,  ditangkap tentara Belanda di Surau Buluah Apo Sawahmansi Tobohgadang, ketika selesai shalat Subuh.

Nasir Labai Itik malam harinya sampai di Balaiusang Sintuak. Ia menceritakan kejadian pada masyarakat setempat. Informasinya dengan cepat tersebar luas dan malam itu juga masyarakat Sintuak  bersama-sama membawa lampu petromak mencari korban.

Karena  Batang Tapakih  banjir, masyarakat kesulitan mencari jenazah korban. Tidak semua  korban dapat ditemukan. Hanya beberapa  korban  dapat ditemukan.  Enam  korban yang tidak dikenal dikuburkan di tepi Batang Tapakih.

Jenazah yang dikenal segera dibawa  keluarga  dan besoknya dikuburkan di pandan pekuburan masing-masing. Yang dikuburkan keluarga  Nazir, Mulek Dodok dan Yusuf Jalang. Namun dapat dicatat hanya 26 orang teridentifikasi. Tiga orang selamat, 6 orang dikuburkan secara massal dan 5 orang lagi tidak ditemukan.   (Tim)
Peringatan HUT RI di Pariaman Tampilkan Tari dan Drama Kolosal
Salah satu adegan dalam drama kolosal peringatan HUT RI ke-72 di Balaikota Pariaman. Foto: Junaidi
Pariaman -- Penampilan tarian kolosal 1.000 orang pelajar SD dan SMP se-Kota Pariaman meriahkan peringatan detik-detik Proklamasi HUI RI ke-72 tahun 2017 di Balaikota Pariaman, Kamis (17/8) pagi. Tak pelak, apiknya penampilan pelajar tersebut, berhasil memukau ribuan pasang mata peserta upacara.

Tarian kolosal yang melibatkan ribuan pelajar merupakan pertama kalinya digelar dalam peringatan detik-detik HUT RI di Kota Pariaman. Tarian itu membuat peringatan proklamasi menjadi berbeda dengan peringatan di tahun sebelumnya.

Pelajar SD dan SMP yang menggunakan seragam sekolah tampak melenggak lengggok sembari mengibarkan bendera merah putih mini yang ada di kedua tangannya.

Selain tarian kolosal, peringatan detik-detik proklamasi juga diikuti oleh gabungan personil TNI, Polri dan pelajar tingkat SMA di Kota Pariaman dengan menampilkan drama kolosal yang menceritakan kisah perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan.

Bermodalkan sebilah bambu runcing, para pahlawan Indonesia berhasil mengusir penjajah yang memiliki persenjataan modern lengkap. Apiknya akting pemain drama, seolah menghidupkan suasana haru dalam perjuangan merebut kemerdekaan yang terjadi rentang tahun 1945 silam itu.

Walikota Pariaman Mukhlis Rahman, mengatakan, peringatan detik-detik proklamasi tahun 2017 dilaksanakan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Penampilan drama dan tarian kolosal yang merupakan pertama kalinya digelar, diharapkan mampu menghadirkan kenangan kisah singkat perjuangan merebut kemerdekaan di Indonesia.

“Ini baru pertama kali kita gelar dengan maksud memberikan bayangan beratnya perjuangan pahlawan kala itu dan mempertegas semangat kita mengisi kemerdekaan,” ujar Mukhlis.

Dalam kesempatan itu, ia mengajak masyarakat Indonesia untuk mencontoh semangat juang yang diperlihatkan pejuang kemerdekaan Indonesia. Pengorbanan yang telah diberikan tanpa mengharapkan imbalan apapun, mesti diterapkan saat ini untuk kemajuan bangsa. (Nanda)

12 August 2017

'Merdeka Trabas' Ekspos Keindahan Alam Padangpariaman

Paritmalintang -- Berbagai kegiatan dapat dilakukan untuk meriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke-72. Di Padangpariaman misalnya, ratusan trail adventurer yang berasal dari berbagai daerah memperingatinya dengan menggelar Merdeka Trabas 2017 di Kantor Bupati Padangpariaman, Paritmalintang, Sabtu (12/8/2017) pagi.

Selain ajang silaturahmi sesama pecinta olahraga itu, aksi menjajal jalanan menanjak dan berlumpur sejauh puluhan kilometer, juga menunjukkan kekompakan TNI-Polri dan masyarakat di Padangpariaman. Kegiatan itu diinisiasi Kodim 0308/Pariaman, Polres Pariaman dan Polres Padangpariaman.

Dandim 0308/Pariaman Letkol ARH Hermawansyah, mengatakan, kegiatan trabas mengambil start di Kantor Bupati Padangpariaman dan akan finish di Nagari Sikabu, Kecamatan Lubuk Alung.

Dikatakannya, peserta trabas akan melewati beberapa spot atau titik yang memiliki keindahan alam yang luar biasa indahnya.

“Kita sekalian ekspos keindahan alam yang ada di rute perjalanan yang kita tempuh nanti,” ujarnya.

Bupati Padangpariaman Ali Mukhni mengapresiasi kegiatan Trabas Merdeka. Menurutnya, kegiatan itu dapat menjadi iven olahraga sekaligus promosi wisata Padangpariaman kepada wisatawan.

Ia berharap akan banyak dan sering lagi olahragara bermotor itu dilaksanakan di Padangpariaman.

“Kita berharap kedepan masih ada kegiatan seperti ini lagi, apalagi melibatkan Dandim dan Kapolres,” pungkasnya. (Nanda)