Puja, Bocah Mungil Penderita Tumor Leher dari Desa Rambai
Puja didampingi ayah bunda ingin lekas sembuh agar bisa kembali ke sekolah. Foto: Phaik
Pariaman - Siswi kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Desa Rambai, Pariaman Selatan, bernama Puja Maidewita, 10 tahun, menderita tumor leher yang sudah dideritanya sejak Februari 2018 lalu.

Awalnya, ayah Puja Afriandi, 43 tahun, mengatakan bahwa dulunya buah hatinya itu menderita pembengkakan pada leher hanya sebesar telur puyuh.

"Karena keterbatasan biaya maka anak kami hanya dibawa berobat tradisional saja," ungkap pria yang menafkahi keluarga dari upah menjadi sopir itu.

Setelah tiga bulan berlalu, bengkak di leher Puja makin membesar. Pertumbuhan tumor di leher anaknya tersebut membuat resah keluarga, apalagi ibu Puja, Afni, 34 tahun, yang sehari-hari hanya mengurusi rumah tangga.

Afni menuturkan sekitar bulan Mei, Puja dibawa berobat ke Puskesmas Kuraitaji, sampai akhirnya pihak Puskesmas pun merujuk Puja ke RSUD Pariaman untuk dirujuk ke RSUD M Djamil Padang.

Di RSUD M Djamil Padang Puja diperiksa di laboraturium. Namun, hasil pemeriksaan Puja, kata Afni, menyatakan bahwa tumor yang diderita Puja tersebut tidak kronis sehingga Puja kembali dibawa pulang pada 10 September 2018.

"Pihak rumah sakit memberi obat pengurang rasa sakit dan disuruh kembali 19 Oktober mendatang," kata Afni.

Afni mengakui ia memang tidak terlalu banyak menceritakan kondisi Puja kepada orang lain karena ia takut nantinya dikatakan tidak bertanggung jawab kepada anaknya dan hanya mengharap belas kasihan dari pihak lain. Namun karena tumor itu makin membesar membuat Puja malu dan minder berangkat ke sekolah.

Mengetahui penyakit Puja dan kondisinya makin menurun, anggota DPRD Kota Pariaman M Taufik yang juga berdomisili di Desa Rambai, mengambil tindakan bersama istrinya Irmadawani untuk segera melihat kondisi Puja.

M Taufik menghubungi Pimpinan BPJS Pariaman Sari Rusfa untuk meminta bantuan. Sari Rusfa langsung merespon.

Keluarga Puja merupakan keluarga miskin tentunya wajib mendapatakan perlindungan kesehatan dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang memang diperuntukan bagi warga tidak mampu.

Tidak hanya BPJS Pariaman, M Taufik juga menghubungi pihak Dinas Kesehatan Kota Pariaman yang juga direspon oleh Sekretaris Dinas Delri Soni. Delri bahkan menyambangi rumah orangtua Puja yang juga telah menerima bantuan pembangunan rumah dari dana Perkim Kota Pariaman.

Akhirnya, dari koordinasi tersebut diperoleh kesimpulan bahwa Puja akan dibawa ke Rumah Sakit Ropana Suri Padang esok hari 17 September untuk dilakukan operasi.

Selain pihak Dinkes Kota Pariaman, M Taufik dan BPJS Pariaman, Puja juga akan didampingi tim medis Puskesmas Kuraitaji dan Kepala Desa Rambai Arif Fuadi.

Kepala Desa Rambai Arif Fuadi menuturkan baru menerima laporan kondisi Puja pada Kamis lalu. Ia juga telah mengupayakan membuat proposal bantuan biaya kepada pihak Baznas Kota Pariaman.

“Atas nama Pemerintah Desa Rambai saya ucapkan terimakasih kepada para pihak yang mau membantu untuk mengobati Puja. Semoga Puja bisa kembali pulih,” kata Arif. (Phaik/OLP)
Ernawati, Wanita Tangguh Penjual Air Laut di Pasir Karanaur
Ernawati sedang mengabil air laut dan mengumpulkannya di tepi pantai. Foto/Eri
Pariaman – Menyusuri pantai di belakang Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Kelurahan Karanaur, Pariaman Tengah, terhampar pepohona cemara di sepanjang pantai. Begitu teduh dan memesona. Namun, ada pemandangan menarik lainnya ketika melihat seorang wanita sedang mengambil air laut kemudian menyusun puluhan ember di bibir pantai tersebut.

Ia adalah Ernawati (39), seorang wanita tangguh yang nampak hilir mudik membawa ember berisi air laut penuh di kedua tangannya. Istri dari Asrulchan (51) ini sudah mengambil air laut dengan ember sejak pukul 11 siang tadi, Selasa (4/9).

Satu per satu ember berisi air laut tadi disusunnya dengan rapi di bibir pantai. Menjelang sore Ernawati akan membawa lagi ember-ember berisi air laut itu ke rumahnya yang berjarak 100 meter dari bibir pantai untuk disatukan ke dalam bak penampungan yang lebih besar. Menjelang magrib pekerjaannya baru usai. Betapa besar kalori yang terbakar oleh kegiatan yang ia lakoni saban hari tersebut.

Air laut yang telah ia kumpulkan tadi akan dijual oleh Ernawati kepada pedagang-pedagang ikan yang membeli ikan di TPI Karanaur pada keesokan harinya. Pekerjaan ini dilakoninya sejak 2009 silam. Biasanya Ernawati bekerja menjual air laut dari pukul 6 pagi hingga pukul 10 pagi.

Setiap hari Ernawati bisa menjual air laut itu kepada pedagang ikan hingga 40 ember. Dan jika tangkapan ikan sedang banyak bisa terjual hingga 100 ember per hari. Setiap ember ia mematok harga Rp2 ribu.

“Hasil saya berjualan air laut ini bisa menambah penghasilan keluarga. Suami saya seorang nelayan, penghasilannya tidak menentu sementara dapur harus tetap mengepul,” ungkap Ernawati.

Lurah Karan Aur Eri Gustian menerangkan bahwa pekerjaan menjual air laut kepada pedagang ikan tersebut telah berlangsung lama di kelurahannya.

“Sekarang ada tiga orang berprofesi sama seperti Ernawati di TPI Karan Aur. Namun saat tahun 90-an banyak ditemui pelajar-pelajar yang menjual air laut. mereka berjualan untuk mencari uang belanja untuk sekolah, namun kini memang dijadikan sebagai mata pencaharian,” tuturnya. (Ira/Eri)

Kisah Supirman Pedagang Sandwich dan Polisi Baik
Bripka Syafril Efendi foto bersama gerobak sandwich Supirman dan Ernita. Foto/Nanda
Pariaman ----- Pelaksanaan rangkaian upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-72 tingkat Polres Pariaman, Rabu (11/7) telah berakhir. Undangan dan peserta upacara yang dipimpin Kapolres Pariaman AKBP Andry Kurniawan mengikuti rangkain upacara dengan khidmat.
       
Dalam suasana khidmat penyelenggaraan upacara, dua sosok warga biasa tiba-tiba menjadi perhatian peserta dan undangan upacara. Sosok yang menunggu di gerobak motor sandwich bakar di sudut sebelah kiri lapangan Polres Pariaman.
      
Mereka adalah Supirman, 43 tahun dan Ernita, 37 tahun. Keduanya merupakan pasangan suami-istri warga Desa Bato Kecamatan Pariaman Timur, yang menjadi penerima manfaat bantuan motor gerobak sandwich bakar dari Bhabinkamtibmas Polres Pariaman, Bripka Syafril Efendi.
      
Pagi itu, Supirman terlihat berkaca-kaca. Sesekali air matanya menetes. Dengan istri, Supirman berjalan ke depan lapangan upacara, saat protokol upacara memanggil namanya untuk berdiri di depan peserta dan undangan upacara.
      
Rasa haru jelas terpancar di wajah Supirman, saat merima kunci simbolis bantuan sepeda motor gerobok. Sama halnya dengan istrinya, Ernita, terlihat meneteskan air mata. Dalam pertemuan singkat itu, Supirman menyempatkan berbagi kisah pertemuannya dengan Bripka Syafril Efendi.
      
Sejak menderita patah tulang kaki sebelah kiri oleh kecelakaan pada 2015 silam, Supirman tidak bisa beraktivitas. Seluruh aktivitas ia lakukan di atas kasur. Mandi, makan dan hal lain sambil tidur. Dalam musibah kecelakaan itu, tulang kakinya hancur. Selama 3 tahun penyembuhan, Supirman tidak bekerja.
        
Untuk menyambung hidup, istri Supirman Ernita yang bekerja. Ernita bekerja serabutan. Kadang membantu pekerjaan tetangga mengurus rumah tetangga. Kadang pula Ernita bekerja sebagai petani di sawah orang lain.
      
"Selama saya penyembuhan sakit patang tulang, istri yang bekerja. Dengan bekas patah tulang, sulit untuk bekerja yang berat-berat," ujarnya.
        
Baginya, pertemuan dengan sang "Kapolri Desa" pada awal April 2018, begitu berarti. Supirman berkisah, pertemuan singkat dengan Syafril Efendi, kala ia mengurus Surat Keterangan Kurang Mampu (SKTM) di Kantor Desa Bato.
      
Kala itu, Syafril Efendi sempat menanyakan latar belakang dan kondisi keluarga Supirman. Usai berkisah, sang polisi merespon. Syafril Efendi mendatangi kediamannya.
       
"Saat kami mengurus SKTM, bertemu dengan pak babin (nama panggilan Bripka Syafril Efendi). Beliua tanya tentang kondisi saya dan keluarga. Esok hari setelah ketemu, dia datang ke rumah," imbuh Supirman.
         
Beberapa ia kali dibantu dalam bentuk uang oleh sang polisi. Namun ia kaget, saat Bripka Syafril Efendi didampingi keluarga datang. Syafril mengantarkan sepeda motor gerobak sandwich ke rumah Supirman. Kini, kendaraan itu ia gunakan untuk berjualan sandwich bakar. Selain sepeda motor gerobak, Supirman juga dibantu modal untuk membeli bahan baku sandwich, seperti roti, mentega, telur dan bahan lain.
      
Kini, omset minimal Rp500 ribu bisa Supirman peroleh setiap harinya. Jika sedang ramai, ia bisa membawa uang Rp700 ribu. Setelah berjualan sandwich bakar menggunakan sepeda motor gerobak, istrinya tidak lagi bekerja.
      
"Saya mulai jualan dua hari setelah lebaran. Alhamdulillah penghasilannya mencukupi kebutuhan 6 orang anak saya. Kini, istri saya cukup fokus mengasuh anak-anak di rumah," kata dia.
      
Supirman menyebut jika pertemuan dirinya dengan Bripkan Syafril Efendi telah diatur Allah. Setelah sembuh dengan kondisi kaki tidak sempurna sulit untuknya bekerja. Bantuan gerobak motor sandwich sangat membantu.
       

Tidak sampai disitu, lebaran lalu Bripka Syafril Efendi sempatkan mengunjungi keluarga Supirman. Tidak banyak harapan dari Supirman. Setelah menerima bantuan gerobak motor, ia berharap bisa menafkahi keluargnya. Begitu pula untuk Bripka Syafril, Supirman berharap sang polisi selalu diberikan kesehatan, kemudahan urusan, pekerjaan dan karir. 
       
"Terharu kami pak, pak Il datang dan keluarga silaturahmi dengan kami," tutupnya.
       
Bagi Bhabinkamtibmas Polsek Pariaman, Bripka Syafril Efendi, bantuan yang disalurkan kepada Supirman datang tiba-tiba. Ia terenyuh melihat kondisi Supirman dan keluarga. Setelah mendengar kisah Supirman ia bertamu, sekedar memastikan jika cerita yang ia dengar benar adanya. Pilu, itulah yang ia rasakan saat datang ke rumah Supirman.
        
"Setelah melihat langsung kondisi pak Supirman, saya terenyuh. Sejak itu, saya berfikir bagaimana untuk membantunya," sebut Syafril.
       
Awal-awal tiap berkunjung ke rumah Supirman, ia titipkan sejumlah uang. Namun, setelah konsultasi dengan pimpinan, solusi diberikan. Ide bantuan gerobak motor sandwich berawal dari dorongan Kapolsek.

"Memberi pancing lebih bermanfaat dari pada hanya memberi ikan. Makanya muncul ide membuatkan gerobak jualan ini. Dengan gerobak dan isinya, pak Supirman bisa berjualan untuk menafkahi keluarganya," sebutnya.
       
Menurutnya, gerobak tersebut bukan murni dari dirinya sendiri. Banyak pihak yang ikut membantu, mulai dari keluarga hingga pemiliki bengkel tempat ia membeli sepeda motor.
      
Bagi Syafril, pertemuan dengan Supirman memberikan nilai positif. Kegigihan Supirman untuk sembuh dan bekerja, menanamkan sikap kegigihan padanya.
      
"Sepeda motor itu saya beli dari tukang bengkel langganan. Awalnya dia jual motor Rp5 juta. Namun setelah saya ceritakan peruntukan sepeda motor untuk keluarga Pak Supirman, dia memberikan potongan harga. Dia ikut membantu keluarga Supirman," kenangnya. (Nanda)
 Mengenal Emil Penyandang Disabilitas Hafiz 4 Juzz Alquran
Emil didampingi ibunya, Lenggo Geni (jilbab hitam) ketika pemeriksaan kesehatan di poli anak RSUD.Sadikin Kota Pariaman. Foto/Eri Elfadri
Pariaman ---- Anak merupakan anugerah terindah titipan Tuhan kepada umatnya. Setiap orangtua pasti berharap buah hatinya lahir dengan tidak kurang suatu apapun. Namun, manusia hanya bisa berharap, Tuhan pula yang memutuskan takdir seseorang.

Seperti ketika seorang ibu bernama Lenggo Geni, wanita yang tinggal di Desa Kampung Baru, Kecamatan Pariaman Tengah ini, mendapat anugerah seorang anak yang menyandang disabilitas, Emil M. Kasidiq (13). Ia pun tidak putus asa untuk membesarkan anaknya tersebut.

Lenggo saat dijumpai di acara Hari Bakti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ke-110, di RSUD dr. Sadikin Kota Pariaman, kemaren Kamis (3/5), menceritakan kondisi yang dialami anaknya dan tidak sedikit pula yang mencemooh anaknya. Namun sampai saat ini beliau tetap kuat dan tidak pernah berhenti berharap.

Siswa kelas tujuh di MTSN 1 Pariaman ini memiliki prestasi yang luar biasa. Emil mendapat juara satu pada lomba MTQ tingkat Kecamatan Pariaman Tengah pada bidang tahfiz tilawah satu juzz yang diadakan baru-baru ini. Emil juga sudah hafal Alquran empat juzz.

"Emil belajar mengaji sejak umur empat tahun, ia saya dampingi terus untuk belajar mengaji," ucap Lenggo.

Lenggo mengatakan, setiap hari Emil dilatihnya. Selain itu Ia juga mengaji di Musala Muhajirin di Desa Kampung Baru bersama Ust Dahlan, belajar Tahfiz dengan Ust Syamsuardi dan guru tilawah dengan Ust Bas.

"Satu minggu sekali di Yayasan Darul Ma'arif," imbuhnya.

Lenggo mengatakan selain mendampingi dalam belajar Alquran, ia juga memacu Emil untuk mengulang-ulang pelajaran yang telah dipelajari di sekolah.

"Mengulang pelajaran di sekolah, pada malam harinya saya lalukan dengan Emil," tuturnya.

Ia berharap kepada orangtua yang lain agar tetap mendampingi anaknya terus menerus, memberikan motivasi dan perhatian yang lebih.

"Saya juga berharap kepada orangtua yang mengalami hal yang sama dengan saya untuk harus tetap berjuang. Terkadang ada ibu masih malu punya anak disabilitas, kita harus memotivasinya serta harus tahu kebutuhan anak sehingga memahami dimana kemampuannya agar dapat menyesuaikan dan menggali potensi yang ada pada dirinya," tutupnya mengakhiri. (Eri/OLP)
[Humaniora] Menengok Aktivitas Keseharian Juru Kunci Pulau Angsoduo
Buyuang Karani sedang membersihkan pulau Angsoduo. Foto/Eri Elfadri
Pariaman ----- Beralih profesi dari nelayan, Suryadi (48) dan Hasan Basri (46), menjadi penjaga Pulau Angsoduo Kota Pariaman. Dua lelaki ini bertugas menjaga aset daerah yang ada di pulau tempat bersemayamnya jenazah Katik Sangko tersebut.

Selain itu mereka juga berkewajiban menjaga kelestarian tumbuh-tumbuhan serta kebersihan yang ada di pulau kebanggaan masyarakat Pariaman ini. Bahkan tak jarang memandu wisatawan seperti menjelaskan sejarah pulau yang memiliki makam keramat sepanjang lebih dari 3 meter tersebut.

Sedari pagi kedua pria itu sudah asyik mengayunkan sapu lidinya di sepanjang pesisir pantai Pulau Angsoduo yang memiliki luas 1,8 hektare tersebut. Mereka tampak serius melakoni pekerjaan sebagai penjaga pulau. Sementara pengunjung pulau terus berdatangan ke pulau yang hanya berjarak sekitar 1,6 mil dari bibir Pantai Gandoriah dari hari ke hari.

“Saya mulai membersihkan sampah di pulau sejak pagi. Sampah organik biasanya saya kumpulkan pada suatu tempat untuk dikubur maupun dibakar. Sedangkan sampah plastik dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung untuk dibawa ke daratan,” ujar Suryadi.

Dalam satu hari ia bisa mengumpulkan sampah hingga 50 kilogram hari biasa, dan 200 kilogram saat hari libur. Jumlahnya bisa naik dua kali lipat musim libur sekolah dan lebaran.

Suami Ramini ini mengaku sangat menikmati pekerjaan yang sedang dijalaninya saat ini, begitu juga dengan koleganya Hasan Basri. Pria yang akrab dipanggil Buyuang Karani ini juga bersukur dengan profesinya sekarang. Mereka tetap bisa menyekolahkan anak-anak mereka di kota Pariaman meski keseharian mereka di pulau itu. Anak-anak mereka tinggal di tepi (kota Pariaman) dan sesekali menemani mereka di pulau. Biasanya saat hari libur.

Petugas yang saling akrab itu membagi dua wilayah kerjanya. Suryadi bertugas membersihkan separuh wilayah Pulau Angso Duo arah selatan, sedangkan Buyuang Karani bertanggung jawab wilayah utara pulau. Selama menjaga pulau telah banyak perubahan-perubahan yang mereka rasakan. 


"Mulai dari dulunya tidak adanya penerangan listrik sekarang sudah ada pakai tenaga surya. Dari tidak adanya fasilitas umum seperti kamar mandi dan wc, sekarang semua lengkap. Dari tidak ada dermaga, sekarang punya dermaga apung," tutur Suryadi semangat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman Elfis Candra, mengatakan bahwa kedua petugas tersebut memiliki tugas pokok menjaga aset Pemko Pariaman yang ada di Pulau Angsoduo di samping menjaga kebersihan dan menjaga kelestarian biota di dalamnya.

Selain itu mereka juga bertugas mengontrol pengunjung yang ada di Pulau Angsoduo. Petugas tersebut akan mengingatkan pengunjung yang berada di pulau paling lama hingga pukul lima sore harus naik ke kapal wisata untuk diangkut ke tepi.

"Pak Suryadi dan Pak Buyuang Karani juga tinggal di pulau. Kita sediakan hunian dan transportasi perahu bermotor untuk ke tepi guna berbagai kebutuhan mereka pribadi dan pulau," kata Elfis di Pariaman, Sabtu (21/4).

Suryadi dan Buyuang Karani juga dikenal akrab dengan para nelayan singgah. Karena mereka menginap di pulau, keberadaannya sangat membantu nelayan yang kemalaman.

Para penjaga pulau tersebut selain menerima gaji dari Pemko Pariaman, juga diizinkan berjualan di pulau dengan tidak meninggalkan tugas pokok mereka sebagai juru kunci di pulau yang memiliki sumur berusia 300 tahun dari susunan kerang tersebut. (Eri/OLP)
Emily Princesty, Atlet Putri Berhijab di Pariaman Triathlon 2017
Alberd, Emily, Ernawati dan Alfred. Tiga orang anak pasangan Ernawati dan Hendri dikenal sebagai keluarga yang religius. Foto/OLP
Pantai Kata --- Pariaman Triathlon ke IV tahun 2017 dipusatkan di Pantai Kata Pariaman yang sebelumnya selalu dihelat di pantai Gandoriah. Ribuan pengunjung terlihat memadati pentas utama di depan panggung MTQ Sumbar yang digelar bulan lalu. 
Emily dalam keseharian berhijab, di setiap kejuaraan yang diikutinya tak pernah menanggalkannya. Foto/OLP


Pariaman Triathlon digelar selama dua hari yakni 2 dan 3 Desember 2017 dengan peserta dari tujuh negara: Jepang, Hungaria, Newzeland, Prancis, Spanyol, Portugal dan Indonesia.

Jika sebelumnya atlet triathlon putri identik dengan busana minim, tidak demikian dengan Emily Princesty (20). Kontingen Indonesia asal Kasang, Batang Anai, kabupaten Padangpariaman itu, merupakan satu-satunya atlet Triathlon putri yang mengenakan hijab saat mengikuti Pariaman Triathlon tahun 2017.

Putri pasangan Hendri RD dan Ernawati itu, mampu finish di kelas sprint distance. Emily sendiri merupakan atlet renang putri yang mewakili Sumatera Barat pada PON Jawa Barat 2016 lalu. Tidak tanggung-tanggung, Emily turun di kelas paling bergengsi yakni kelas open water 10.000 meter renang di laut Indramayu.

Ketika ditanya wartawan apakah berhijab akan mengganggu performa saat berlaga, putri pelatih renang Sumbar itu menjawab bahwa kekuatan dan stamina itu datangnya dari Allah.

"Ini pertama kali saya ikut Triathlon. Allah berfirman setiap umat muslim perempuan wajib mengenakan hijab. Semua kekuatan datangnya dari Allah ya," ungkap Emili, di Pantai Kata Pariaman, Sabtu (2/12), yang sempat masuk putaran final di PON Jabar itu.

Sementara itu, Ernawati ibunya Emily menyebut, ia memiliki empat orang anak, tiga di antaranya atlet renang dan mengikuti Pariaman Triathlon 2017.

"Emili anak ketiga. Kakaknya Alfred dan Alberd juga ikut di Pariaman Triathlon. Semuanya dilatih bapaknya sedari kecil, bahkan Albert sudah bisa berenang sejak umur satu tahun," kata Ernawati yang memanejeri ketiga anaknya tersebut.

Perempuan yang bekerja di anjungan Sumatera Barat Taman Mini Indonesia Indah Jakarta itu, saat ini berdomisili di Kasang dan Jakarta. Ia terus memacu prestasi anak-anaknya dalam meningkatkan prestasi olahraga. (OLP)