Mengenal Emil Penyandang Disabilitas Hafiz 4 Juzz Alquran
Emil didampingi ibunya, Lenggo Geni (jilbab hitam) ketika pemeriksaan kesehatan di poli anak RSUD.Sadikin Kota Pariaman. Foto/Eri Elfadri
Pariaman ---- Anak merupakan anugerah terindah titipan Tuhan kepada umatnya. Setiap orangtua pasti berharap buah hatinya lahir dengan tidak kurang suatu apapun. Namun, manusia hanya bisa berharap, Tuhan pula yang memutuskan takdir seseorang.

Seperti ketika seorang ibu bernama Lenggo Geni, wanita yang tinggal di Desa Kampung Baru, Kecamatan Pariaman Tengah ini, mendapat anugerah seorang anak yang menyandang disabilitas, Emil M. Kasidiq (13). Ia pun tidak putus asa untuk membesarkan anaknya tersebut.

Lenggo saat dijumpai di acara Hari Bakti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ke-110, di RSUD dr. Sadikin Kota Pariaman, kemaren Kamis (3/5), menceritakan kondisi yang dialami anaknya dan tidak sedikit pula yang mencemooh anaknya. Namun sampai saat ini beliau tetap kuat dan tidak pernah berhenti berharap.

Siswa kelas tujuh di MTSN 1 Pariaman ini memiliki prestasi yang luar biasa. Emil mendapat juara satu pada lomba MTQ tingkat Kecamatan Pariaman Tengah pada bidang tahfiz tilawah satu juzz yang diadakan baru-baru ini. Emil juga sudah hafal Alquran empat juzz.

"Emil belajar mengaji sejak umur empat tahun, ia saya dampingi terus untuk belajar mengaji," ucap Lenggo.

Lenggo mengatakan, setiap hari Emil dilatihnya. Selain itu Ia juga mengaji di Musala Muhajirin di Desa Kampung Baru bersama Ust Dahlan, belajar Tahfiz dengan Ust Syamsuardi dan guru tilawah dengan Ust Bas.

"Satu minggu sekali di Yayasan Darul Ma'arif," imbuhnya.

Lenggo mengatakan selain mendampingi dalam belajar Alquran, ia juga memacu Emil untuk mengulang-ulang pelajaran yang telah dipelajari di sekolah.

"Mengulang pelajaran di sekolah, pada malam harinya saya lalukan dengan Emil," tuturnya.

Ia berharap kepada orangtua yang lain agar tetap mendampingi anaknya terus menerus, memberikan motivasi dan perhatian yang lebih.

"Saya juga berharap kepada orangtua yang mengalami hal yang sama dengan saya untuk harus tetap berjuang. Terkadang ada ibu masih malu punya anak disabilitas, kita harus memotivasinya serta harus tahu kebutuhan anak sehingga memahami dimana kemampuannya agar dapat menyesuaikan dan menggali potensi yang ada pada dirinya," tutupnya mengakhiri. (Eri/OLP)
[Humaniora] Menengok Aktivitas Keseharian Juru Kunci Pulau Angsoduo
Buyuang Karani sedang membersihkan pulau Angsoduo. Foto/Eri Elfadri
Pariaman ----- Beralih profesi dari nelayan, Suryadi (48) dan Hasan Basri (46), menjadi penjaga Pulau Angsoduo Kota Pariaman. Dua lelaki ini bertugas menjaga aset daerah yang ada di pulau tempat bersemayamnya jenazah Katik Sangko tersebut.

Selain itu mereka juga berkewajiban menjaga kelestarian tumbuh-tumbuhan serta kebersihan yang ada di pulau kebanggaan masyarakat Pariaman ini. Bahkan tak jarang memandu wisatawan seperti menjelaskan sejarah pulau yang memiliki makam keramat sepanjang lebih dari 3 meter tersebut.

Sedari pagi kedua pria itu sudah asyik mengayunkan sapu lidinya di sepanjang pesisir pantai Pulau Angsoduo yang memiliki luas 1,8 hektare tersebut. Mereka tampak serius melakoni pekerjaan sebagai penjaga pulau. Sementara pengunjung pulau terus berdatangan ke pulau yang hanya berjarak sekitar 1,6 mil dari bibir Pantai Gandoriah dari hari ke hari.

“Saya mulai membersihkan sampah di pulau sejak pagi. Sampah organik biasanya saya kumpulkan pada suatu tempat untuk dikubur maupun dibakar. Sedangkan sampah plastik dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung untuk dibawa ke daratan,” ujar Suryadi.

Dalam satu hari ia bisa mengumpulkan sampah hingga 50 kilogram hari biasa, dan 200 kilogram saat hari libur. Jumlahnya bisa naik dua kali lipat musim libur sekolah dan lebaran.

Suami Ramini ini mengaku sangat menikmati pekerjaan yang sedang dijalaninya saat ini, begitu juga dengan koleganya Hasan Basri. Pria yang akrab dipanggil Buyuang Karani ini juga bersukur dengan profesinya sekarang. Mereka tetap bisa menyekolahkan anak-anak mereka di kota Pariaman meski keseharian mereka di pulau itu. Anak-anak mereka tinggal di tepi (kota Pariaman) dan sesekali menemani mereka di pulau. Biasanya saat hari libur.

Petugas yang saling akrab itu membagi dua wilayah kerjanya. Suryadi bertugas membersihkan separuh wilayah Pulau Angso Duo arah selatan, sedangkan Buyuang Karani bertanggung jawab wilayah utara pulau. Selama menjaga pulau telah banyak perubahan-perubahan yang mereka rasakan. 


"Mulai dari dulunya tidak adanya penerangan listrik sekarang sudah ada pakai tenaga surya. Dari tidak adanya fasilitas umum seperti kamar mandi dan wc, sekarang semua lengkap. Dari tidak ada dermaga, sekarang punya dermaga apung," tutur Suryadi semangat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman Elfis Candra, mengatakan bahwa kedua petugas tersebut memiliki tugas pokok menjaga aset Pemko Pariaman yang ada di Pulau Angsoduo di samping menjaga kebersihan dan menjaga kelestarian biota di dalamnya.

Selain itu mereka juga bertugas mengontrol pengunjung yang ada di Pulau Angsoduo. Petugas tersebut akan mengingatkan pengunjung yang berada di pulau paling lama hingga pukul lima sore harus naik ke kapal wisata untuk diangkut ke tepi.

"Pak Suryadi dan Pak Buyuang Karani juga tinggal di pulau. Kita sediakan hunian dan transportasi perahu bermotor untuk ke tepi guna berbagai kebutuhan mereka pribadi dan pulau," kata Elfis di Pariaman, Sabtu (21/4).

Suryadi dan Buyuang Karani juga dikenal akrab dengan para nelayan singgah. Karena mereka menginap di pulau, keberadaannya sangat membantu nelayan yang kemalaman.

Para penjaga pulau tersebut selain menerima gaji dari Pemko Pariaman, juga diizinkan berjualan di pulau dengan tidak meninggalkan tugas pokok mereka sebagai juru kunci di pulau yang memiliki sumur berusia 300 tahun dari susunan kerang tersebut. (Eri/OLP)
Emily Princesty, Atlet Putri Berhijab di Pariaman Triathlon 2017
Alberd, Emily, Ernawati dan Alfred. Tiga orang anak pasangan Ernawati dan Hendri dikenal sebagai keluarga yang religius. Foto/OLP
Pantai Kata --- Pariaman Triathlon ke IV tahun 2017 dipusatkan di Pantai Kata Pariaman yang sebelumnya selalu dihelat di pantai Gandoriah. Ribuan pengunjung terlihat memadati pentas utama di depan panggung MTQ Sumbar yang digelar bulan lalu. 
Emily dalam keseharian berhijab, di setiap kejuaraan yang diikutinya tak pernah menanggalkannya. Foto/OLP


Pariaman Triathlon digelar selama dua hari yakni 2 dan 3 Desember 2017 dengan peserta dari tujuh negara: Jepang, Hungaria, Newzeland, Prancis, Spanyol, Portugal dan Indonesia.

Jika sebelumnya atlet triathlon putri identik dengan busana minim, tidak demikian dengan Emily Princesty (20). Kontingen Indonesia asal Kasang, Batang Anai, kabupaten Padangpariaman itu, merupakan satu-satunya atlet Triathlon putri yang mengenakan hijab saat mengikuti Pariaman Triathlon tahun 2017.

Putri pasangan Hendri RD dan Ernawati itu, mampu finish di kelas sprint distance. Emily sendiri merupakan atlet renang putri yang mewakili Sumatera Barat pada PON Jawa Barat 2016 lalu. Tidak tanggung-tanggung, Emily turun di kelas paling bergengsi yakni kelas open water 10.000 meter renang di laut Indramayu.

Ketika ditanya wartawan apakah berhijab akan mengganggu performa saat berlaga, putri pelatih renang Sumbar itu menjawab bahwa kekuatan dan stamina itu datangnya dari Allah.

"Ini pertama kali saya ikut Triathlon. Allah berfirman setiap umat muslim perempuan wajib mengenakan hijab. Semua kekuatan datangnya dari Allah ya," ungkap Emili, di Pantai Kata Pariaman, Sabtu (2/12), yang sempat masuk putaran final di PON Jabar itu.

Sementara itu, Ernawati ibunya Emily menyebut, ia memiliki empat orang anak, tiga di antaranya atlet renang dan mengikuti Pariaman Triathlon 2017.

"Emili anak ketiga. Kakaknya Alfred dan Alberd juga ikut di Pariaman Triathlon. Semuanya dilatih bapaknya sedari kecil, bahkan Albert sudah bisa berenang sejak umur satu tahun," kata Ernawati yang memanejeri ketiga anaknya tersebut.

Perempuan yang bekerja di anjungan Sumatera Barat Taman Mini Indonesia Indah Jakarta itu, saat ini berdomisili di Kasang dan Jakarta. Ia terus memacu prestasi anak-anaknya dalam meningkatkan prestasi olahraga. (OLP)
Saat Ali Mukhni Ditodong Swafoto oleh Penjaga dan Tamu Minimarket
Bupati Ali Mukhni bersama karyawan dan warga usai berbelanja di salah satu minimarket di Pauh Kambar, Kamis (30).

Pauhkambar --- Dengan motto menjadi pelayan masyarakat menjadikan Bupati Padangpariaman Ali Mukhni sebagai kepala daerah yang dekat dengan warganya. Bupati yang menjabat periode kedua itu memang terkenal rendah hati dan tanpa protokoler.

Kamis sore (30/11), karyawan salah satu swalayan di wilayah Pauh Kambar, kaget dengan kedatangan orang nomor satu di Padangpariaman yang turun langsung untuk membeli air mineral tanpa kawalan ajudan.

"Terima kasih ya," kata Bupati Ali Mukhni usai berbelanja yang disambut antusias oleh segenap karyawan.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh karyawan dan warga setempat. Permintaan berfoto pun suatu hal yang menjadi keharusan.

"Pak, kami mau foto dengan Pak Bupati," ujar salah seorang karyawan dengan gembira.

Rini (24), warga pauh kambar, mengatakan Bupati Ali Mukhni telah berhasil memajukan nagarinya. Terutama bidang infrastruktur jalan.

"Lihatlah sekarang jalan Pauh Kambar - Pakandangan sudah lebar. Mobil tak perlu ngerem lagi jika berselisih. Katanya tahun depan dilanjutkan lagi dari Pakandangan ke Simpang Parit Malintang," ungkapnya.

Lain lagi dengan Wir (32), ia menilai mantan Wakil Bupati yang mendampingi Muslim Kasim pada periode 2005-2010 itu, berhasil dan komit melanjutkan kegiatan yang telah diprogramkan.

"Kalau Almarhum Bapak Muslim Kasim masih hidup, tentu ia juga bangga. Bahwa mantan Wakil Bupati  melanjutkan program-programnya," ujar Wir yang berprofesi sebagai pedagang itu. (HA)
Pramuka Tunarungu yang Keliling Indonesia Bertemu Walikota Mukhlis

Pariaman --- Walikota Pariaman Mukhlis Rahman menerima kunjungan dua orang Anggota Pramuka Luar Biasa (APLB) Cacat Tuna Rungu Indonesia yang mengadakan perjalanan keliling indonesia. Perjalanan APLB bertujuan untuk menambah pengetahuan dan wawasan akan keberagaman Indonesia.

Dua APLB cacat tuna rungu tersebut adalah Muhammad Rusli, kelahiran 21 Mei 1994 di Makassar yang sudah hampir 5 tahun mengadakan perjalanan keliling indonesia. Ia telah menjelajahi hampir keseluruhan wilayah Indonesia.

Kedua Robby Yahya, kelahiran 28 Januari 1993 di Padang, yang baru 5 bulan mengikuti jejak Muhammad Rusli. Robby sudah mengelilingi Aceh, Riau, Batam.

Mukhlis Rahman di ruang kerjanya, Rabu (15/11), mengapresiasi semangat dua remaja itu berkeliling Indonesia dengan keterbatasan mereka.

"Semangat yang mereka tunjukan seharusnya menjadi motivasi bagi generasi muda lainnya yang diberikan nikmat hidup normal," tuturnya.

Mukhlis juga memberikan sedikit uang saku kepada mereka untuk bekal dalam perjalanan keliling Sumbar nantinya. Walaupun agak sedikit kurang memahami dengan apa yang mereka terangkan, karena tidak bisa berbicara---hanya dengan isyarat tangan saja---Mukhlis menangkap kepercayaan diri dan semangat mereka dalam menjelajah nusantara.

"Jangan takut untuk mengejar mimpi dengan kemampuan dan keterbatasan yang kita miliki. Karena dengan berani mendobrak apa yang orang lain bilang tidak bisa, kita akan lebih punya semangat untuk mengejar mimpi tersebut," ungkapnya.

Selepas dari Kota Pariaman, mereka berencana akan ke Kabupaten Padangpariaman dan daerah lainya yang ada di Sumbar. Untuk perjalanan antar provinsi, APLB menggunakan transportasi umum udara/darat, sedangkan dalam provinsi menggunakan sepeda motor yang ia sewa. (Juned)
[Humaniora] Safari Inn Hotel, Investasi Nazmi Untuk Pariaman yang Mulanya Ditentang
Keluarga James Nazmi bangga jadi orang Pariaman/Foto. OLP
~"Persiapkan anak-anak Anda dari dini sesuai dengan bakat mereka. Arahkan, tuntun mereka sebaik mungkin dalam pengembangan diri, untuk mencapai tujuannya. Jangan pernah berkata bohong kepada mereka walau sekalipun dan dalam bentuk apapun." (James Nazmi)
 

Hasil tidak akan pernah mengkhianati upaya. Keputusan bulat James Nazmi merantau ke Australia di banding kuliah kedokteran di Jakarta, tidak pernah ia sesali sedikitpun. Kerja keras, niat lurus dan cerdik melihat peluang, modal sukses Nazmi dalam membangun bisnis keluarga dari nol.

James Nazmi adalah pemilik usaha bidang perhotelan dan restoran di bawah bendera Safari Group. Hotel Safari Inn Resort Family yang berlokasi persis di area wisata Pantai Kata Pariaman, salah satu bisnis yang ia kelola bersama ketiga orang putranya. Bisnis lainnya membentang dari Australia, Jakarta, Pangandaran Jawa Barat dan Jambi.

Nazmi, asli putra Kuraitaji Pariaman kelahiran 1954. Sedari kecil suamai Rose Nazmi (57) ini, biasa berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya mengikuti orangtuanya yang saat itu merupakan tokoh penting Masyumi. Ayah Nazmi, selepas menjabat Kanwil Departemen Agama Sumatera Utara, terpilih sebagai anggota DPR RI dari fraksi Masyumi.

Nama James di depan nama Nazmi---pemberian orangtuanya---ia semat saat merantau di negara persemakmuran Inggris Raya tersebut. Nama James yang berarti Buyung dalam literasi Inggris, membuat Nazmi lebih percaya diri dan membaur dengan warga Australia yang mayoritas ras kulit putih. Ia terhindar dari bully. Prinsip penggunaan nama, kelak ia terapkan kepada tiga orang putranya Paul Nazmi, Daniel Nazmi dan Andrew Nazmi.

Safari Restoran Sidney

Bisnis Nazmi berawal di jantung kota Sidney. Di awal tahun 80an, Australia sudah tergolong negara maju. Banyak imigran selain Indonesia yang sukses berbisnis di sana. Awalnya ia membuka restoran kecil masakan Western, Indonesia---khususnya Padang---sebagai langkah awal. Restoran yang kelak dinamai Safari tersebut, seiring waktu berkembang. Masakan Nazmi cocok dengan lidah masyarakat sana yang terdiri dari banyak suku bangsa.

Nama Safari diambil karena mudah dilafazkan dan diingat. Rencananya Nazmi memberi nama restoran berciri kampung halaman dengan nama "Nelayan". Namun atas saran orangtua angkatnya seorang Yahudi tulen, menasehati, berilah nama usaha yang mudah diingat. Nasehat itu ia turuti.

Nama Safari lumrah dipakai di pelbagai bisnis usaha. Restoran Penekuk Belanda di Australia juga bernama Safari. Nazmi yang sudah kepincut menginginkan nama tersebut untuk restorannya menemui pemilik restoran Belanda tersebut. Ia yang semula ingin membeli nama Safari, oleh si Belanda, dikasih gratis saja.

"Silahkan Anda gunakan, tidak usah bayar. Siapapun boleh menggunakan nama Safari," tutur Paul Nazmi (36) sulung James Nazmi, saat menjamu wartawan di Hotel Safari Inn Pariaman, Senin malam (13/11). Sejak itu nama Safari digunakan Nazmi dalam setiap bidang usahanya: hotel, restoran dan cafe.

Pulang ke Indonesia

Semua putra Nazmi besar di Australia. Ketiganya bersekolah hingga kuliah di sana. 33 tahun merantau di sana, pada tahun 2003 James Nazmi memutuskan pindah ke Indonesia. Ia berdomisili di Jakarta. Safari Restoran di Sidney saat ini dikelola oleh keluarga mereka yang masih menetap di sana, namun masih di bawah kontrol James Nazmi.

Di Indonesia, Nazmi membuka Safari Cafe di Kebayoran Baru. Cafe berkonsep western---tanpa menjual alkohol---ramai dikunjungi. Di cafe tersebut tersedia kuliner ala barat dengan resep memanjakan selera. Hingga kini, Safari Cafe Jakarta merupakan salah satu cafe western yang paling banyak dikunjungi warga muslim yang pengen mencicipi hidangan western yang halal.

Usaha yang kian maju di bidang kuliner, keluarga Nazmi mulai melebarkan sayap. Safari Inn Hotel di Pangandaran Jawa Barat berdiri di tahun 2006. Safari Inn Pangandaran bertema resort yang nyaman bagi keluarga. Tak jarang para tamu menginap hingga satu minggu sekali kedatangan mereka. Safari Inn Pangandaran maju pesat. Sebagai keluarga Muslim yang taat, Nazmi punya aturan khusus di hotelnya: pihaknya tidak menjual alkohol dan menolak tamu yang menginap untuk bermesum ria.

Dari penuturan Paul Nazmi, pertama kali ia pulang kampung ke Pariaman di tahun 2003, ia terkesima dengan bentang alam Pariaman. Pariaman sebagai daerah pesisir yang memiliki pantai yang menakjubkan, belum dikelola dengan baik saat itu, tetap mencengangkannya.

"Ia (Pariaman) bagai berlian yang belum diasah," kata Paul serius.

Di samping Paul, Daniel Nazmi (32), putra kedua James Nazmi, ikut terlibat dalam perbincangan. Ia mengatakan sedari kecil, bersama adik kakaknya, sudah membantu orangtua di Restoran Safari Sidney Australia. Mulai dari cuci piring hingga melayani di kasir telah mereka lakoni.

Pengalaman berbinis telah ditanamkan oleh orangtua mereka sedari kecil yang kelak mereka teruskan dengan menggali ilmu di bangku kuliah yang tak jauh dari ilmu manajemen dan kepariwisataan.

Daniel yang saat ini merupakan direktur di Safari Inn Hotel Pangandaran mengungkap alasan ayahnya membuka Safari Inn Pariaman yang banyak ditentang keluarga besarnya saat itu. Belum lagi oleh sesama rekan bisnisnya. Cinta ayahnya untuk kampung halaman tidak bisa dinilai dengan uang.

"Ini kehendak papa. Uang bagi kami nomor dua dalam segala hal," ujar Daniel membuka pembicaraan.

Safari Inn Resort Family Pariaman

Safari Inn Pariaman berdiri di atas lahan seluas 1 hektare. Tanah tersebut dibeli tahun 2014 dan mulai dibangun bertahap. Hingga saat ini resort tersebut telah memiliki 37 kamar dari 45 kamar yang ditargetkan. Penggunaan bambu, pohon kelapa dalam material bangunan menyaru suasana tropis ala Hawaii.

Bangunan-bangunan yang terpisah dengan kamar lapang dilengkapi AC, terlihat apik dengan penataan taman ditambah penempatan cahaya. Jika melihat bangunan Safari Inn yang didesain langsung oleh James Nazmi, dapat dilihat resort tersebut menghadirkan suasana yang romantis. Cocok untuk menggelar party, perayaan ulangtahun dan kegiatan kantor dan korporasi.

"Saat ini kita sedang tambah jumlah kamar dan bangun dua kolam renang. Satu kecil satunya lagi 8x15 meter. Targetnya selesai tahun 2018 dan setelahnya kita grand opening," kata Daniel.

Sebuah panggung seni terlihat unik di posisi tengah berbagai bangunan Safari Inn. Panggung 5x4 meter itu terbuat dari bambu yang menyemat tanpa satu pun paku. Rangkaian bambu itu bertudung rumbia. Terlihat anak-anak Desa Taluak menari pasambahan diiringi hentak gendang tasa. Malam itu bertepatan dengan ulang tahun putra bungsu Nazmi, Andrew Nazmi yang ke-30 tahun.

Lima meter ke belakang terliahat sebuah perahu nelayan yang dihiasi lampu sebagai salah satu item dekorasi Safari Inn Hotel.

10 meter ke belakang terlihat sebuah bangunan mirip warung tradisional Pariaman. Bangunan seratus persen terbuat dari kayu beratap rumbia tersebut diperuntukan bagi pengunjung hotel untuk sarapan pagi ala masakan tradisional Pariaman. Sarapan pagi racikan warga lokal Desa Taluak dan Karan Aur itu, dapat dicicipi oleh setiap tamu yang menginap setiap paginya sebagai bentuk pelayanan hotel.

Saat ini Safari Inn Pariaman baru memiliki 6 orang karyawan. Kesemuanya putra-putri asli Pariaman lulusan kepariwisataan. 6 karyawan tersebut secara berkala juga mendapatkan training dari para profesional yang didatangkan dari Jakarta. Membentuk senyum di wajah warga Pariaman tidak semudah membalikan telapak tangan. Kultur masyarakat pesisir yang cenderung keras perlu training yang tepat agar kelak menjadi karyawan yang handal penuh senyum keramahan.

Menurut Daniel, Safari Inn Pariaman, ke depannya akan menjadi head office bagi seluruh usaha keluarga James Nazmi. Dari tiga orang putra Nazmi, Paul dan Daniel sudah berkeluarga. Si bungsu Andrew yang merupakan direktur Safari Inn Pariaman---yang berulangtahun malam itu---kiranya masih jomlo.

Dari penuturan Andrew, Safari Inn Pariaman semua permodalannya murni dari kantong keluarga. Tidak ada dari pinjaman bank. Saat ini sudah Rp20 miliar pendanaan terserap untuk pembangunan Safari Inn Pariaman dari total Rp50 miliar rencana investasi.

"Kita bangun bertahap. Sejak mulai operasional di tahun 2016 sudah ratusan tamu menginap di sini. Ada yang dari Jepang, Eropa dan asal Indonesia. Kemarin waktu MTQ (Sumbar ke-37 di Pariaman) seluruh kamar penuh," kata Andrew.

Pembangunan Safari Inn Pariaman adalah bentuk kontribusi keluarga Nazmi untuk kampung halamannya. Mereka mengaku senang menjalankan bisnis tersebut di Pariaman apalagi dengan dukungan masyarakat dan pemerintah daerah.

Mereka berharap akan tumbuh hotel-hotel dan resort baru di Pariaman. Tanpa saingan, bisnis hotel tidak akan maju. Bisnis tersebut perlu tantangan agar ia selalu bergairah.

Keluarga Nazmi, representasi dari putra Piaman yang sangat mencintai kampung halamannya daripada lembaran uang. Sebagai pioner dalam bisnis resort di Pariaman, perjuangan yang ia lalui tidak mudah selaku pengusaha. Pesimis rekan bisnis dan keluarga besarnya akan keputusannya membangun Safari Inn di Pariaman, kini terjawab.

"Kami orang Pariaman, memiliki keluarga besar yang belum semuanya datang ke sini. Ini mimpi papa (James Nazmi) dan kontribusi beliau untuk membangun kampung halaman," kata Paul Nazmi. (OLP)