Emily Princesty, Atlet Putri Berhijab di Pariaman Triathlon 2017
Alberd, Emily, Ernawati dan Alfred. Tiga orang anak pasangan Ernawati dan Hendri dikenal sebagai keluarga yang religius. Foto/OLP
Pantai Kata --- Pariaman Triathlon ke IV tahun 2017 dipusatkan di Pantai Kata Pariaman yang sebelumnya selalu dihelat di pantai Gandoriah. Ribuan pengunjung terlihat memadati pentas utama di depan panggung MTQ Sumbar yang digelar bulan lalu. 
Emily dalam keseharian berhijab, di setiap kejuaraan yang diikutinya tak pernah menanggalkannya. Foto/OLP


Pariaman Triathlon digelar selama dua hari yakni 2 dan 3 Desember 2017 dengan peserta dari tujuh negara: Jepang, Hungaria, Newzeland, Prancis, Spanyol, Portugal dan Indonesia.

Jika sebelumnya atlet triathlon putri identik dengan busana minim, tidak demikian dengan Emily Princesty (20). Kontingen Indonesia asal Kasang, Batang Anai, kabupaten Padangpariaman itu, merupakan satu-satunya atlet Triathlon putri yang mengenakan hijab saat mengikuti Pariaman Triathlon tahun 2017.

Putri pasangan Hendri RD dan Ernawati itu, mampu finish di kelas sprint distance. Emily sendiri merupakan atlet renang putri yang mewakili Sumatera Barat pada PON Jawa Barat 2016 lalu. Tidak tanggung-tanggung, Emily turun di kelas paling bergengsi yakni kelas open water 10.000 meter renang di laut Indramayu.

Ketika ditanya wartawan apakah berhijab akan mengganggu performa saat berlaga, putri pelatih renang Sumbar itu menjawab bahwa kekuatan dan stamina itu datangnya dari Allah.

"Ini pertama kali saya ikut Triathlon. Allah berfirman setiap umat muslim perempuan wajib mengenakan hijab. Semua kekuatan datangnya dari Allah ya," ungkap Emili, di Pantai Kata Pariaman, Sabtu (2/12), yang sempat masuk putaran final di PON Jabar itu.

Sementara itu, Ernawati ibunya Emily menyebut, ia memiliki empat orang anak, tiga di antaranya atlet renang dan mengikuti Pariaman Triathlon 2017.

"Emili anak ketiga. Kakaknya Alfred dan Alberd juga ikut di Pariaman Triathlon. Semuanya dilatih bapaknya sedari kecil, bahkan Albert sudah bisa berenang sejak umur satu tahun," kata Ernawati yang memanejeri ketiga anaknya tersebut.

Perempuan yang bekerja di anjungan Sumatera Barat Taman Mini Indonesia Indah Jakarta itu, saat ini berdomisili di Kasang dan Jakarta. Ia terus memacu prestasi anak-anaknya dalam meningkatkan prestasi olahraga. (OLP)
Saat Ali Mukhni Ditodong Swafoto oleh Penjaga dan Tamu Minimarket
Bupati Ali Mukhni bersama karyawan dan warga usai berbelanja di salah satu minimarket di Pauh Kambar, Kamis (30).

Pauhkambar --- Dengan motto menjadi pelayan masyarakat menjadikan Bupati Padangpariaman Ali Mukhni sebagai kepala daerah yang dekat dengan warganya. Bupati yang menjabat periode kedua itu memang terkenal rendah hati dan tanpa protokoler.

Kamis sore (30/11), karyawan salah satu swalayan di wilayah Pauh Kambar, kaget dengan kedatangan orang nomor satu di Padangpariaman yang turun langsung untuk membeli air mineral tanpa kawalan ajudan.

"Terima kasih ya," kata Bupati Ali Mukhni usai berbelanja yang disambut antusias oleh segenap karyawan.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh karyawan dan warga setempat. Permintaan berfoto pun suatu hal yang menjadi keharusan.

"Pak, kami mau foto dengan Pak Bupati," ujar salah seorang karyawan dengan gembira.

Rini (24), warga pauh kambar, mengatakan Bupati Ali Mukhni telah berhasil memajukan nagarinya. Terutama bidang infrastruktur jalan.

"Lihatlah sekarang jalan Pauh Kambar - Pakandangan sudah lebar. Mobil tak perlu ngerem lagi jika berselisih. Katanya tahun depan dilanjutkan lagi dari Pakandangan ke Simpang Parit Malintang," ungkapnya.

Lain lagi dengan Wir (32), ia menilai mantan Wakil Bupati yang mendampingi Muslim Kasim pada periode 2005-2010 itu, berhasil dan komit melanjutkan kegiatan yang telah diprogramkan.

"Kalau Almarhum Bapak Muslim Kasim masih hidup, tentu ia juga bangga. Bahwa mantan Wakil Bupati  melanjutkan program-programnya," ujar Wir yang berprofesi sebagai pedagang itu. (HA)
Pramuka Tunarungu yang Keliling Indonesia Bertemu Walikota Mukhlis

Pariaman --- Walikota Pariaman Mukhlis Rahman menerima kunjungan dua orang Anggota Pramuka Luar Biasa (APLB) Cacat Tuna Rungu Indonesia yang mengadakan perjalanan keliling indonesia. Perjalanan APLB bertujuan untuk menambah pengetahuan dan wawasan akan keberagaman Indonesia.

Dua APLB cacat tuna rungu tersebut adalah Muhammad Rusli, kelahiran 21 Mei 1994 di Makassar yang sudah hampir 5 tahun mengadakan perjalanan keliling indonesia. Ia telah menjelajahi hampir keseluruhan wilayah Indonesia.

Kedua Robby Yahya, kelahiran 28 Januari 1993 di Padang, yang baru 5 bulan mengikuti jejak Muhammad Rusli. Robby sudah mengelilingi Aceh, Riau, Batam.

Mukhlis Rahman di ruang kerjanya, Rabu (15/11), mengapresiasi semangat dua remaja itu berkeliling Indonesia dengan keterbatasan mereka.

"Semangat yang mereka tunjukan seharusnya menjadi motivasi bagi generasi muda lainnya yang diberikan nikmat hidup normal," tuturnya.

Mukhlis juga memberikan sedikit uang saku kepada mereka untuk bekal dalam perjalanan keliling Sumbar nantinya. Walaupun agak sedikit kurang memahami dengan apa yang mereka terangkan, karena tidak bisa berbicara---hanya dengan isyarat tangan saja---Mukhlis menangkap kepercayaan diri dan semangat mereka dalam menjelajah nusantara.

"Jangan takut untuk mengejar mimpi dengan kemampuan dan keterbatasan yang kita miliki. Karena dengan berani mendobrak apa yang orang lain bilang tidak bisa, kita akan lebih punya semangat untuk mengejar mimpi tersebut," ungkapnya.

Selepas dari Kota Pariaman, mereka berencana akan ke Kabupaten Padangpariaman dan daerah lainya yang ada di Sumbar. Untuk perjalanan antar provinsi, APLB menggunakan transportasi umum udara/darat, sedangkan dalam provinsi menggunakan sepeda motor yang ia sewa. (Juned)
[Humaniora] Safari Inn Hotel, Investasi Nazmi Untuk Pariaman yang Mulanya Ditentang
Keluarga James Nazmi bangga jadi orang Pariaman/Foto. OLP
~"Persiapkan anak-anak Anda dari dini sesuai dengan bakat mereka. Arahkan, tuntun mereka sebaik mungkin dalam pengembangan diri, untuk mencapai tujuannya. Jangan pernah berkata bohong kepada mereka walau sekalipun dan dalam bentuk apapun." (James Nazmi)
 

Hasil tidak akan pernah mengkhianati upaya. Keputusan bulat James Nazmi merantau ke Australia di banding kuliah kedokteran di Jakarta, tidak pernah ia sesali sedikitpun. Kerja keras, niat lurus dan cerdik melihat peluang, modal sukses Nazmi dalam membangun bisnis keluarga dari nol.

James Nazmi adalah pemilik usaha bidang perhotelan dan restoran di bawah bendera Safari Group. Hotel Safari Inn Resort Family yang berlokasi persis di area wisata Pantai Kata Pariaman, salah satu bisnis yang ia kelola bersama ketiga orang putranya. Bisnis lainnya membentang dari Australia, Jakarta, Pangandaran Jawa Barat dan Jambi.

Nazmi, asli putra Kuraitaji Pariaman kelahiran 1954. Sedari kecil suamai Rose Nazmi (57) ini, biasa berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya mengikuti orangtuanya yang saat itu merupakan tokoh penting Masyumi. Ayah Nazmi, selepas menjabat Kanwil Departemen Agama Sumatera Utara, terpilih sebagai anggota DPR RI dari fraksi Masyumi.

Nama James di depan nama Nazmi---pemberian orangtuanya---ia semat saat merantau di negara persemakmuran Inggris Raya tersebut. Nama James yang berarti Buyung dalam literasi Inggris, membuat Nazmi lebih percaya diri dan membaur dengan warga Australia yang mayoritas ras kulit putih. Ia terhindar dari bully. Prinsip penggunaan nama, kelak ia terapkan kepada tiga orang putranya Paul Nazmi, Daniel Nazmi dan Andrew Nazmi.

Safari Restoran Sidney

Bisnis Nazmi berawal di jantung kota Sidney. Di awal tahun 80an, Australia sudah tergolong negara maju. Banyak imigran selain Indonesia yang sukses berbisnis di sana. Awalnya ia membuka restoran kecil masakan Western, Indonesia---khususnya Padang---sebagai langkah awal. Restoran yang kelak dinamai Safari tersebut, seiring waktu berkembang. Masakan Nazmi cocok dengan lidah masyarakat sana yang terdiri dari banyak suku bangsa.

Nama Safari diambil karena mudah dilafazkan dan diingat. Rencananya Nazmi memberi nama restoran berciri kampung halaman dengan nama "Nelayan". Namun atas saran orangtua angkatnya seorang Yahudi tulen, menasehati, berilah nama usaha yang mudah diingat. Nasehat itu ia turuti.

Nama Safari lumrah dipakai di pelbagai bisnis usaha. Restoran Penekuk Belanda di Australia juga bernama Safari. Nazmi yang sudah kepincut menginginkan nama tersebut untuk restorannya menemui pemilik restoran Belanda tersebut. Ia yang semula ingin membeli nama Safari, oleh si Belanda, dikasih gratis saja.

"Silahkan Anda gunakan, tidak usah bayar. Siapapun boleh menggunakan nama Safari," tutur Paul Nazmi (36) sulung James Nazmi, saat menjamu wartawan di Hotel Safari Inn Pariaman, Senin malam (13/11). Sejak itu nama Safari digunakan Nazmi dalam setiap bidang usahanya: hotel, restoran dan cafe.

Pulang ke Indonesia

Semua putra Nazmi besar di Australia. Ketiganya bersekolah hingga kuliah di sana. 33 tahun merantau di sana, pada tahun 2003 James Nazmi memutuskan pindah ke Indonesia. Ia berdomisili di Jakarta. Safari Restoran di Sidney saat ini dikelola oleh keluarga mereka yang masih menetap di sana, namun masih di bawah kontrol James Nazmi.

Di Indonesia, Nazmi membuka Safari Cafe di Kebayoran Baru. Cafe berkonsep western---tanpa menjual alkohol---ramai dikunjungi. Di cafe tersebut tersedia kuliner ala barat dengan resep memanjakan selera. Hingga kini, Safari Cafe Jakarta merupakan salah satu cafe western yang paling banyak dikunjungi warga muslim yang pengen mencicipi hidangan western yang halal.

Usaha yang kian maju di bidang kuliner, keluarga Nazmi mulai melebarkan sayap. Safari Inn Hotel di Pangandaran Jawa Barat berdiri di tahun 2006. Safari Inn Pangandaran bertema resort yang nyaman bagi keluarga. Tak jarang para tamu menginap hingga satu minggu sekali kedatangan mereka. Safari Inn Pangandaran maju pesat. Sebagai keluarga Muslim yang taat, Nazmi punya aturan khusus di hotelnya: pihaknya tidak menjual alkohol dan menolak tamu yang menginap untuk bermesum ria.

Dari penuturan Paul Nazmi, pertama kali ia pulang kampung ke Pariaman di tahun 2003, ia terkesima dengan bentang alam Pariaman. Pariaman sebagai daerah pesisir yang memiliki pantai yang menakjubkan, belum dikelola dengan baik saat itu, tetap mencengangkannya.

"Ia (Pariaman) bagai berlian yang belum diasah," kata Paul serius.

Di samping Paul, Daniel Nazmi (32), putra kedua James Nazmi, ikut terlibat dalam perbincangan. Ia mengatakan sedari kecil, bersama adik kakaknya, sudah membantu orangtua di Restoran Safari Sidney Australia. Mulai dari cuci piring hingga melayani di kasir telah mereka lakoni.

Pengalaman berbinis telah ditanamkan oleh orangtua mereka sedari kecil yang kelak mereka teruskan dengan menggali ilmu di bangku kuliah yang tak jauh dari ilmu manajemen dan kepariwisataan.

Daniel yang saat ini merupakan direktur di Safari Inn Hotel Pangandaran mengungkap alasan ayahnya membuka Safari Inn Pariaman yang banyak ditentang keluarga besarnya saat itu. Belum lagi oleh sesama rekan bisnisnya. Cinta ayahnya untuk kampung halaman tidak bisa dinilai dengan uang.

"Ini kehendak papa. Uang bagi kami nomor dua dalam segala hal," ujar Daniel membuka pembicaraan.

Safari Inn Resort Family Pariaman

Safari Inn Pariaman berdiri di atas lahan seluas 1 hektare. Tanah tersebut dibeli tahun 2014 dan mulai dibangun bertahap. Hingga saat ini resort tersebut telah memiliki 37 kamar dari 45 kamar yang ditargetkan. Penggunaan bambu, pohon kelapa dalam material bangunan menyaru suasana tropis ala Hawaii.

Bangunan-bangunan yang terpisah dengan kamar lapang dilengkapi AC, terlihat apik dengan penataan taman ditambah penempatan cahaya. Jika melihat bangunan Safari Inn yang didesain langsung oleh James Nazmi, dapat dilihat resort tersebut menghadirkan suasana yang romantis. Cocok untuk menggelar party, perayaan ulangtahun dan kegiatan kantor dan korporasi.

"Saat ini kita sedang tambah jumlah kamar dan bangun dua kolam renang. Satu kecil satunya lagi 8x15 meter. Targetnya selesai tahun 2018 dan setelahnya kita grand opening," kata Daniel.

Sebuah panggung seni terlihat unik di posisi tengah berbagai bangunan Safari Inn. Panggung 5x4 meter itu terbuat dari bambu yang menyemat tanpa satu pun paku. Rangkaian bambu itu bertudung rumbia. Terlihat anak-anak Desa Taluak menari pasambahan diiringi hentak gendang tasa. Malam itu bertepatan dengan ulang tahun putra bungsu Nazmi, Andrew Nazmi yang ke-30 tahun.

Lima meter ke belakang terliahat sebuah perahu nelayan yang dihiasi lampu sebagai salah satu item dekorasi Safari Inn Hotel.

10 meter ke belakang terlihat sebuah bangunan mirip warung tradisional Pariaman. Bangunan seratus persen terbuat dari kayu beratap rumbia tersebut diperuntukan bagi pengunjung hotel untuk sarapan pagi ala masakan tradisional Pariaman. Sarapan pagi racikan warga lokal Desa Taluak dan Karan Aur itu, dapat dicicipi oleh setiap tamu yang menginap setiap paginya sebagai bentuk pelayanan hotel.

Saat ini Safari Inn Pariaman baru memiliki 6 orang karyawan. Kesemuanya putra-putri asli Pariaman lulusan kepariwisataan. 6 karyawan tersebut secara berkala juga mendapatkan training dari para profesional yang didatangkan dari Jakarta. Membentuk senyum di wajah warga Pariaman tidak semudah membalikan telapak tangan. Kultur masyarakat pesisir yang cenderung keras perlu training yang tepat agar kelak menjadi karyawan yang handal penuh senyum keramahan.

Menurut Daniel, Safari Inn Pariaman, ke depannya akan menjadi head office bagi seluruh usaha keluarga James Nazmi. Dari tiga orang putra Nazmi, Paul dan Daniel sudah berkeluarga. Si bungsu Andrew yang merupakan direktur Safari Inn Pariaman---yang berulangtahun malam itu---kiranya masih jomlo.

Dari penuturan Andrew, Safari Inn Pariaman semua permodalannya murni dari kantong keluarga. Tidak ada dari pinjaman bank. Saat ini sudah Rp20 miliar pendanaan terserap untuk pembangunan Safari Inn Pariaman dari total Rp50 miliar rencana investasi.

"Kita bangun bertahap. Sejak mulai operasional di tahun 2016 sudah ratusan tamu menginap di sini. Ada yang dari Jepang, Eropa dan asal Indonesia. Kemarin waktu MTQ (Sumbar ke-37 di Pariaman) seluruh kamar penuh," kata Andrew.

Pembangunan Safari Inn Pariaman adalah bentuk kontribusi keluarga Nazmi untuk kampung halamannya. Mereka mengaku senang menjalankan bisnis tersebut di Pariaman apalagi dengan dukungan masyarakat dan pemerintah daerah.

Mereka berharap akan tumbuh hotel-hotel dan resort baru di Pariaman. Tanpa saingan, bisnis hotel tidak akan maju. Bisnis tersebut perlu tantangan agar ia selalu bergairah.

Keluarga Nazmi, representasi dari putra Piaman yang sangat mencintai kampung halamannya daripada lembaran uang. Sebagai pioner dalam bisnis resort di Pariaman, perjuangan yang ia lalui tidak mudah selaku pengusaha. Pesimis rekan bisnis dan keluarga besarnya akan keputusannya membangun Safari Inn di Pariaman, kini terjawab.

"Kami orang Pariaman, memiliki keluarga besar yang belum semuanya datang ke sini. Ini mimpi papa (James Nazmi) dan kontribusi beliau untuk membangun kampung halaman," kata Paul Nazmi. (OLP)