Jurus Lawan Hoaks, Emma Yohanna: Perlu Tabayun dan Klarifikasi
Emma Yohanna diajak swafoto oleh salah seorang peserta empat pilar kebangsaan di Pariaman. Foto/Nanda
Pariaman ----- Anggota DPD RI Emma Yohanna sosialiasasikan materi empat pilar kebangsaan kepada ratusan tokoh pemuda se Kota Pariaman, Sabtu (10/3).

Dalam penyampaiannya, Emma menekankan agar pemuda tidak “terjerumus” menjadi “hoakers” yang ikut menyebarkan informasi bohong (hoaks) dan ujaran kebencian.

Emma yang merupakan anggota DPD RI periode 2014-2019 ini, menilai, penyebaran informasi bohong dan ujaran kebencian saat ini marak di media sosial, ancaman bagi integrasi bangsa Indonesia yang beragam.

“Praktik yang seperti ini justru mengancam integrasi bangsa yang saat ini telah terjadi. Semua saat ini tertata dengan baik. Beragam, namun aman. Jangan sampai akibat ketikan jari-jari postingan kita di media sosial justru terjadi disintgerasi bangsa,” jelasnya. 

Ia berharap pemuda tidak ikut berperan dalam memerangi penyebaran informasi bohong dan hoaks. Banyak cara bisa dilakukan. Mulai dari upaya klarifikasi kebenaran informasi, hingga membantu meluruskan informasi bohong yang tersebar.

Diakui Emma, sebagai senator, ia kerap menyampaikan pesan melawan hoaks dan ujaran kebencian pada akun resminya ataupun kegiatan sehari-hari berkumpul dengan tokoh masyarakat.

“Saya rasa bisa dengan cara sederhana. Kita jangan menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi kebenarannya. Jika ada informasi yang kita terima, lakukan klarifikasi dulu. “Tabayun” dalam konsep Islam. Jika bisa luruskan informasi tersebut, jika itu adalah hoaks,” sebutnya.

Menurut dia, penguatan empat pilar kebangsaan dapat menimalisir ancaman kerawanan disintegrasi bangsa. Penekanan semangat kebhinekaan, bisa menanamkan semangat mencintai keberagaman yang ada di Indonesia.

Sementara itu, agar lebih mudah dipahami dan diserap masyarakat, ia menilai penyampaikan materi empat pilar kebangsaan harus disesuaikan dengan metode kekinian. Sosialisasi tentang empat pilar, tidak harus dengan metode ceramah. Namun disampaikan dengan cara yang disesuaikan dengan komunitas atau segmentasi yang menjadi sasaran sosialisasi tersebut.

“Pola penyampaian ceramah pada segmentasi kelompok masyarakat tertentu, tidak begitu efektif. Banyak metode sebetulnya yang dapat kita gunakan mensosialisasikan materi empat pilar ini. Ada diskusi, bahkan dalam waktu dekat kami mensosialisasikannya dalam bentuk kegiatan outbont,” kata dia lagi.

Salah seorang peserta sosialisasi empat pilar kebangsaan Abdul Syahril, menyatakan siap ikut melawan hoaks dan ujaran kebencian di wilayah Kota Pariaman.

Ia mengaku, sebagai pengguna media sosial aktif, konten dalam postingan yang ia dapati dari pengguna media sosial di wilayah Kota Pariaman mulai menjurus pada penyebaran berita bohong dan hoaks.

“Kadang saya upayakan untuk klarifikasi informasi yang tidak benar. Sejauh ini penyebarannya masih berbau dengan politik pilkada, belum ada unsur SARA,” pungkasnya. (Nanda)