Genius-Mardison Vs Mahyudin-Ridwan, Azwin Amir Tiarap?


Pariaman -- Desas-desus akan berpasangannya Genius Umar-Mardison Mahyuddin dari koalisi tiga parpol Golkar-PAN-PBB dan wacana akan berkoalisinya Gerindra dengan PKS yang akan mengusung Mahyudin-M Ridwan, menurut salah seorang pengamat politik di Pariaman, Zulbahri, tidak akan menyurutkan niat Azwin Amir maju sebagai calon walikota.

"Azwin Amir tidak akan tiarap. Masih ada koalisi beberapa partai lagi yang tersisa," sebut Zulbahri, di Pariaman, Kamis (24/8).

Ia memprediksi kontestasi Pilkada Pariaman 2018 hampir dipastikan paling banyak oleh tiga pasang calon tanpa calon dari perseorangan atau independen.

Dari ketiga calon tersebut, kata dia, pasangan Genius-Mardison, Mahyudin-M Ridwan lah yang akan bertarung dalam tempo tinggi. Masing-masing tidak boleh lengah. Kedua pasangan calon itu jika jadi terealisasi, dia nilai sengit karena telah memiliki jaringan pemilih berdasarkan emosional dan primordial.

"Mahyudin sudah pernah menjabat walikota dan punya pemilih tradisional yang loyal, sedangkan PKS juga memiliki aleh lungguak (dasar) suara yang jelas," sambungnya.

Kendala satu-satunya yang akan menghambat koalisi tersebut, menurutnya adalah restu dari Partai Gerindra. Partai Gerindra sebagai pemenang kedua pemilu legislatif 2014 di Pariaman, tentu akan berupaya mengusung kadernya sendiri. Namun Gerindra selaku partai politik juga mesti realistis menyikapi keadaan jika kadernya dinilai belum cukup mampu bersaing dalam konteks pilkada.

"Tujuan berpolitik itu kan merebut kekuasaan. Saya kira Gerindra akhirnya akan realistis jika memang kadernya dinilai belum mampu bersaing. Di sini saya rasa bisa saja Mahyudin yang diusung," tuturnya.

Hal itu kata dia cukup mendasar mengingat solidnya hubungan Gerindra-PKS tingkat pusat yang mungkin pada akhirnya menjatuhkan pilihan mereka. PKS yang getol mengusung M Ridwan untuk dipasangkan dengan Mahyudin, berkemungkinan akan dipermulus oleh pengaruh kader PKS di tingkat pusat dengan konco politiknya Gerindra.

Sedangkan Azwin Amir dia nilai akan sulit memenangkan pilkada, mengingat pengemasan politik yang dilakukan Azwin Amir bersama timnya belum menyasar berbagai lini.

Kata dia, dalam konteks pilkada, komunikasi politik yang bersifat elitis mesti sejalan dengan komunikasi publik yang bersifat humanis.

"Azwin Amir jauh tertinggal karena kurangnya komunikasi publik. Mereka tidak memanfaatkan pengaruh media massa dalam perang gagasan. Padahal menurut hasil riset dan pakar komunikasi di Indonesia, pengaruh media mencapai 60 persen mempengaruhi opini publik," terangnya.

Genius-Mardison, sambung Zulbahri, diuntungkan dengan statusnya saat ini. Mereka figur sentral di Pariaman. Selain sebagai sosok populer, lajunya pembangunan di Pariaman akan menguntungkan bagi keduanya.

"Apa yang dilihat masyarakat saat ini dan yang merasa puas dengan kinerja pemerintahan, adalah suara dasar bagi mereka. Belum lagi jaringan pemilih primordial. Sebagai putra asli daerah pasangan itu sangat diuntungkan," sebutnya.

Kelebihan lain Genius-Mardison, ada pada sosok Genius yang telah dinilai publik sebagai pemimpin muda pembawa perubahan. Mereka berdua juga sering tampil di media massa berpengaruh dengan asumsi positif.

Sedangkan pengamat politik nasional asal Pariaman Indra Jaya Piliang, memprediksi Pilkada Pariaman 2018--oleh para calon--minim perang gagasan. Padahal menurutnya, pemilih Pariaman saat ini mayoritas kalangan muda dan pemilih pemula, sudah rasional dalam menjatuhkan pilihan politik.

"Jumlahnya dominan. Perang gagasan sangat diperlukan untuk pemilih rasional. Hal ini para kandidat bisa memanfaat media, baik media massa maupun media sosial," ujarnya.

Indra berpendapat, saat ini kalangan pemilih rasional masih banyak yang belum menentukan sikap politik. Mereka memilih berdasarkan kapasitas calon, bukan berdasarkan emosional.

Dari data yang dihimpun wartawan di lapangan, pemilih rasional di dominasi oleh generasi milenial dan generasi Z. Rentang kelahiran 1976-1986 dan 1987-2000. Kalangan tersebut dinilai kritis dalam menjatuhkan pilihan politik. Kalangan tersebut sangat aktif di media sosial.

Sedangkan untuk pemilih rasional berdasarkan kecamatan, Kecamatan Pariaman Tengah mendominasi. Pemilih Pariaman Tengah sebagai pusat kota, sejak Pilkada pertama 2008 paling menentukan. (OLP)