Duel Maut Genius-Mardison Vs Mahyudin-Ridwan?

Ilustrasi. Foto: Istimewa
Pariaman -- Ketua DPD Partai Golkar Kota Pariaman Mardison Mahyuddin mengaku sudah mendapatkan surat rekomendasi dari DPP Partai Golkar sebagai calon resmi dari partai berlambang pohon beringin itu pada Pilkada Pariaman 2018 mendatang. Bahkan surat rekomendasi tersebut tertera dua nama---untuk pasangan calon walikota dan wakil walikota.

Surat rekomendasi pasangan calon yang ditandatangani oleh Setya Novanto itu saat ini telah berada di tangan Mardison dan calon pasangannya. Siapa nama pasangannya tersebut, Mardison masih merahasiakannya hingga deklarasi resmi pada pertengahan bulan September 2017 mendatang.

"Deklarasi pasangan calon akan digelar pada bulan September nanti, bertempat di Pantai Gandoriah atau di Kantor DPD Golkar Kota Pariaman, mengundang masyarakat dan pengurus Golkar pusat dan provinsi. Lokasi jadwal pastinya masih menunggu kepulangan Ketua DPD Partai Golkar Sumbar Hendra Irwan Rahim dari tanah suci," ujar Ketua DPRD Kota Pariaman itu, di Jakarta, Rabu (23/8) melalui sambungan telepon dari Pariaman.

Sembari menunggu deklarasi, pihak Golkar akan menguatkan koalisi lintas partai pendukung dengan beberapa partai politik di Pariaman di atas surat perjanjian politik yang disahkan oleh notaris.

"Selain kontrak politik dengan sesama partai pengusung, pasangan calon juga akan meneken kontrak politik, tentunya yang baik-baik dan demi kepentingan masyarakat," ungkapnya.

Dari pengamatan wartawan di lapangan, sebagai gambaran, Mardison Mahyuddin bekemungkinan akan maju sebagai wakil walikota berpasangan dengan Genius Umar yang terlebih dahulu telah diusung oleh koalisi PAN dan PBB.

Koalisi parpol Golkar-PAN-PBB disinyalir akan terbentuk dengan pasangan calon Genius Umar-Mardison Mahyuddin yang berkemungkinan disingkat GEMAR.

Jika prediksi tersebut benar, popularitas dan tingkat keterpilihan GEMAR akan sulit dibendung oleh lawan politik head to head. Munculnya wacana Mahyuddin-M Ridwan dengan koalisi Gerindra-PKS dinilai akan menjadi lawan serius bagi GEMAR jika seluruh kader di tubuh Gerindra kompak.

Mahyuddin sendiri jika benar diusung oleh Gerindra, akan sulit menyatukan kader partai besutan Prabowo itu yang merasa terpinggirkan. Kader Gerindra yang 'berdarah' membesarkan partai, dinilai belum rela 'kendaraannya' dipakai oleh Mahyudin yang dinilai punya reputasi 'tidak setia' pada satu partai politik.

Di lain pihak, papol seperti NasDem, Hanura, PDIP kecuali PPP, sangat memungkinkan membangun kekuatan baru jika GEMAR terwujud dan koalisi Gerindra-PKS mengusung Mahyudin-M Ridwan. Di sana ada sejumlah nama bakal calon. Sebut saja Azwin Amir, Edison TRD, dan memungkinkan M Saban--selaku kader Gerindra yang kecewa--maju dari parpol selain Gerindra. M Saban tentu akan membawa sebagian gerbong Partai Gerindra jika ia memutuskan maju bukan dari partai dimana ia menjadi dewan penasehatnya itu.

Jika pasangan calon pada Pilkada Pariaman 2018 mendatang tiga pasang dimana GEMAR dan Mahyudin-M Ridwan ada di dalamnya, dipastikan Pilkada Pariaman berlangsung sengit. Banyak hal yang dipertaruhkan dalam kontestasi politik khususnya oleh dua pasang calon tersebut.

Genius selaku ASN yang wajib berhenti jika maju pilkada dengan Mardison pasangannya--juga mundur di dewan-- akan bertarung hingga titik darah penghabisan. Mereka sadar konsekwensi dari keputusan politiknya maju pilkada.

Pun demikian dengan Mahyudin. Selaku mantan walikota dan mantan calon walikota, pertaruhan gengsi dan harga diri merupakan harga mati. Ia tidak mau kalah lagi. Kekalahan dalam satu kali pilkada dan dua kali pemilu legislatif, telah memukulnya. Sakitnya jangan ditanya. Jika Pilkada Pariaman 2018 tidak memenangkannya, ia akan sulit bangkit kembali. Bisa saja politik menjadi trauma dalam hidupnya.

Pilkada Pariaman 2018 sarat kemungkinan. Segala sesuatu bisa saja terjadi. (OLP)