Home » , , » Sepinya Pasar Pariaman Karena Konsumen Beralih Belanja Online?

Sepinya Pasar Pariaman Karena Konsumen Beralih Belanja Online?

Written By oyong liza on Sunday, 19 March 2017 | 11:08




Demam belanja online menjalar ke Pariaman, terutama dari kalangan melek teknologi, diduga berdampak pada menurunnya omset pedagang di Pasar Pariaman.

"Dalam sebulan terakhir, ada tiga kali saya meninjau Pasar Pariaman. Pedagang banyak mengeluhkan sepinya transaksi jual beli saat ini," ungkap Wakil Ketua DPRD Kota Pariaman Syafinal Akbar, di Jati Hilir, Pariaman Tengah, Minggu (19/3/2017).

Kecenderungan belanja online di sejumlah e-commerce tanah air seperti Lazada, Mataharimall, tokopedia, bukalapak, olx hingga pedagang online di media sosial facebook, instagram hingga twitter, makin memudahkan masyarakat dalam bertransaksi.

"Kawan-kawan yang belanja online menyebutkan harga online jauh lebih murah, banyak pilihan, berkualitas, dan menghemat waktu mereka," sambung Syafinal.

Sebagai wakil rakyat yang menginginkan pertumbuhan ekonomi pedagang pasar Pariaman kembali berputar tinggi, saran Syafinal, selain penataan pasar, para pedagang mesti menyadari bahwa mereka sekarang sedang bertarung ekonomi dengan pasar online.

Dengan adanya kesadaran itu, sebut Syafinal, maka pedagang tentu mempersiapkan strategi tertentu seperti meningkatkan kualitas barang, kompetisi harga dan pelayanan.

"Kemajuan zaman tidak bisa ditarik ke belakang, oleh sebab itu pedagang mesti mensiasatinya, karena mereka berhadapan dengan pasar global online yang juga saling bersaing," jelasnya.

Agar pasar Pariaman kembali ramai, menurut Syafinal, dibutuhkan kerjasama seluruh pihak, baik pemerintah, pedagang dan masyarakat konsumen. Semua harus cemitri dalam satu hukum, yakni hukum pasar, di mana kualitas dan harga merupakan sebuah keniscayaan bagi hukum ekonomi.

Diana (42) warga Pariaman Tengah mengaku sangat jarang belanja pakaian dan kebutuhan elektronik di pasar tradisional sejak keranjingan belanja online. Ia menyebut dengan belanja online, harga dan kualitas jauh lebih baik ia dapat, serta menghemat waktu dan tenaga.

"Bayangkan harga alas kasur bahan katun ukuran 180 beli online dengan diskon 75 persen saya dapat dengan harga Rp250 ribu plus ongkos kirim. Sedangkan harga normalnya di pasar masih di atas Rp500 ribu," sebutnya.

Kemudian, masih menurutnya, harga ponsel baru dan bekas online juga murah. Harga iPhone 5 32gb baru, dia beli kurang dari Rp2 juta dan iPhone 4s bekas dengan harga Rp700 ribu.

"Hingga saat ini kedua barang itu masih sehat berfungsi. Menurut saya, sepinya pasar bukan disebabkan lesunya pembeli, tapi pembeli nya yang beralih belanja online.
Sekarang saya pesan lagi baju, hanya Rp32ribu perhelai, beli 8 helai, dengan banyak model, ongkos kirim semuanya hanya Rp21 ribu. " kata dia.


Ia memberi tips jika belanja online, pilihlah toko online terpercaya dan gunakan rekening milik toko online tersebut.

"Pilih pedagang yang miliki reputasi di toko online itu, kemudian transfer ke rekening milik toko online. Sudah ratusan juta saya belanja online, belum sekalipun tertipu karena pakai sistim rekening yang disediakan tersebut," pungkasnya.

Dari penelusuran wartawan, member e-commerce seperti bukalapak, tokopedia, lazada, olx, mataharimall, zalora, tercatat lebih dari 1000 warga kota Pariaman yang aktif belanja.
 

Dibuktikan pula dengan ratusan resi pengiriman e-commerse oleh kurir jasa pengiriman tiki, jne dan pos setiap hari. Jadi, terjadi ratusan transaksi warga Pariaman di toko online setiap hari. Jika dikalikan sebulan, jika rata-rata mereka semua belanja sekitar Rp10 hingga Rp20 juta sehari, total cash masuk ke e-commerce cukup mencengangkan, yakni Rp300 juta hingga Rp600 juta/bulan, setara Rp3,6 milyar hingga Rp7,2 miliar setahun.

Dampak e-commerce dominan terhadap omset pakaian, jam tangan, elektronik dibawah 2 kilogram dan barang unik lainnya. Kemudian dalam riset lanjutan wartawan, keberadaan moda kereta api Pariaman-Padang dengan tarif murah, juga berimbas pada aktivitas ekonomi pasar Pariaman. Sambil bawa raun anak naik kereta api berbiaya murah, sebagian besar masyarakat Pariaman juga belanja kebutuhan di mall di Padang.

Biasanya Sabtu dan Minggu. Faktor lain kenapa pasar Pariaman sepi aktivitas jual beli, juga tak bisa dipisahkan dari imbas pengalihan rute angkutan pedesaan (angdes). Kalau dulu rute angdes menjangkau pasar, bahkan pemberhentiannya tak jauh dari pasar. Dengan jalan kaki sedikit dari terminal penurunan penumpang, pengguna jasa angdes sudah bisa menjangkau pasar.

Sekarang angdes harus menurun dan menaikan penumpang masuk terminal Jati. Untuk menuju ke pasar Pariaman harus pindah ke angkutan perkotaan (angkot) atau ojek. Yang artinya, masyarakat dari luar kota yang akan belanja ke Pasar Pariaman mesti mengeluarkan biaya lebih. Kondisi ini bagi konsumen tak efektif, baik waktu maupun biaya.

Lagian barang kebutuhan yang akan dicari di pasar Pariaman rata-rata juga ada tersedia di pasar-pasar tradisional atau di kedai atau mini market sekitar tempat tinggal, sebagian ada yang diantar oleh penjaja pakai kendaraan gerondong, dengan harga tak jauh beda dengan harga di pasar Pariaman.

Tantangan lain bagi pasar Pariaman adalah menggeliatnya aktivitas ekonomi di pasar-pasar nagari di wilayah Padangpariaman, khususnya yang terakses langsung denga Kota Pariaman. Pasar Sungai Limau dan Pasar Sungai Limau arah Utara, Pasar Pauah Kamba, Pasar Lubuak Aluang arah Selatan dan Pasar Balai Baru dan Pasa Sungai Sariak arah Timur.

Pasar-pasar tradisional tersebut kini menjelma jadi pasar semi modern, yang ramai tiap hari bahkan sampai malam hari. Inilah beberapa faktor makro ekonomi yang patut dicermati menyikapi kondisi sepinya pasar Pariaman.

OLP/TIM

Artikel Terkait

Share this article :