Tajuk: "Kempesnya" Sepakbola Padangpariaman




Ekspektasi yang tinggi terhadap raihan prestasi sepakbola Padangpariaman di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumbar, berbuah kecewa dua kali. Kekecewaan pertama terjadi saat Porprov di Dharmasraya 2014, dimana saat itu kesebelasan Padangpariaman dibatalkan berlaga karena dualisme tim kesebelasan.

Sedangkan pada ajang Porprov XIV saat ini di Padang, tim yang masih tetap diunggulkan tersebut menelan kekalahan beruntun sebanyak empat kali lewat skor memalukan. Empat kali bertanding di babak penyisihan, empat kali itu pula kalahnya. Kekalahan tersebut, membuat pencinta olahraga sepakbola Piaman Laweh tenggelam dalam selimut kekecewaan.

Pengulangan raihan medali emas cabang sepakbola di Porprov XII Payakumbuh/Limapuluh Kota tahun 2012, untuk Padangpariaman, menguap bak debu di atas tunggul yang dihembus angin.

Bola itu bulat, apa saja bisa terjadi di lapangan. Kesebelasan Padangpariaman, di atas kertas memang punya materi pemain dengan skil individu yang bagus. Memiliki kualitas yang sudah teruji. Namun bicara sepakbola, kita tidak hanya terfokus kepada pemain, tapi juga pelatih dan managerial. Membangun tim yang solid, harus ada sinergitas antar tiga elemen tersebut.

Bisa dipahami, mengatakan/mengkritik terlihat mudah dibanding menjadi pelaku, apalagi dengan beban berat nama daerah tersandang di punggung. Namun sebuah kegagalan wajib dan diharuskan untuk dievaluasi. Karena sepakbola menyangkut milik orang banyak, semua orang berhak pula memberikan solusi pada olahraga sepakbola Padangpariaman.

Mengingat latar belakang tersebut, solusi tepat jika pengelolaan kepengurusan sepakbola Padangpariaman diformat ulang. Harus ada yang berani mencopot dirinya sendiri dalam kepengurusan sekarang ini; jadilah ksatria. Jangan ada yang saling salah menyalahkan apalagi mencari kambing hitam.

Bagaimana pun juga, kegagalan dua kali di Porprov adalah bukti empiris bentuk materi sebuah kosa kata yang disebut "kegagalan."

(redaksi)