Suhatri Bur, Masyarakat Jangan Mau Dikotak-Kotak




Wakil Bupati Padangpariaman Suhatri Bur, mengingatkan kembali bahwa negara Indonesia menjunjung tinggi semangat persatuan dan kesatuan. Indonesia terdiri dari ribuan pulau, berbagai suku, bahasa daerah dan agama, harus dipandang sebagai suatu kekuatan. Atas corak beragam itu, bangsa Indonesia menganut semboyan Bhineka Tunggal Ika, meski berbeda tetap satu.

Derasnya informasi di era global saat ini, menurutnya harus disikapi dengan bijak. Informasi yang bersifat memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa, sangat marak akhir-akhir ini disebarkan oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab.

"Masyarakat harus membuka wawasan untuk mendapatkan informasi agar tidak mudah dihasut atau di kotak-kotakkan. Carilah informasi dari sumber yang benar, jika menemukan informasi berbau SARA, jangan ikut menyebarkan," kata Suhatri Bur, saat memimpin Apel Kebhinekaan yang diikuti oleh unsur TNI/Polri di halaman kantor Bupati Padangpariaman di Paritmalintang, Senin (21/11).

Sementara itu, warga Padangpariaman, Boy (40), menilai, penguatan semangat nasionalisme harus terus dikobarkan bagi segenap warga negara Indonesia.

Dia mengatakan, massifnya pemberitaan media akhir-akhir ini tentang kasus Gubernur DKI non aktif Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, telah menggaduhkan bangsa Indonesia, tidak hanya Jakarta.

"Saya menilainya seperti itu. Momentum kasus Ahok disusupi oleh oknum-oknum tertentu untuk memecah belah kebhinekaan Indonesia. Selaku umat Muslim saya setuju kasus Ahok diproses dengan ketegasan hukum, namun sebagai warga Indonesia saya tidak ingin momentum kasus Ahok diseret ke ranah SARA," ujarnya.

Boy menambahkan, saat ini banyak sekali isu-isu yang meresahkan beredar di ranah sosial media yang sudah meresahkan masyarakat seperti isu rush money.

"Si penyebar isu yang menimbulkan keresahan nasional harus disikapi. Aparat hukum dalam hal ini harus tegas," sebutnya.

Terkait rencana aksi demo 2 Desember, menurutnya dalam rangka apa. Jika demo menuntut agar Ahok dipenjarakan dilakukan secara damai, sah-sah saja.

"Asal tidak ada maksud dan tujuan lain dibalik itu. Hemat saya, lebih bijak mengawal kasus Ahok yang sedang ditangani polisi saat ini agar berlangsung adil dan transparan dibandingkan aksi demonstrasi yang berpotensi disusupi," pungkasnya.

Sementara itu, Yosri (43), warga Padangpariaman bagian utara, ingin kesatuan berbangsa negara terus terjaga. Menurutnya, mudahnya masyarakat mengakses sosial media menjadi peradaban baru yang mampu mempengaruhi sudut pandang.

"Tidak semua informasi di sosmed (sosial media) suatu kebenaran. Akhir-akhir ini ranah sosmed bersiliweran berita-berita fitnah, SARA dan mengandung kebohongan yang jika tidak disikapi dengan baik bisa menimbulkan keresahan," kata dia.

Dia berharap, tekhnologi informasi yang makin canggih kian harinya dimanfaatkan untuk kegiatan positif.

"Seperti bersosialisasi dengan teman atau kerabat di rantau, mempromosikan dagangan, membuat grup alumni hingga mempromosikan potensi daerah. Manfaat itu yang harus kita ambil," pungkas dia.

HS/OLP