Pintar 'Marendo', Istri Nelayan Marunggi Kembangkan Ekonomi Alternatif




Wakil Walikota Pariaman Genius Umar memahami kehidupan masyarakat pesisir, khususnya bagi kaum nelayan. Dalam mengarungi laut, kata Genius, nelayan dihadapkan berbagai kondisi alam dan tantangan yang susah diprediksi.

"Aktifitas masyarakat pesisir tak lepas dari kehidupan nelayan yang hidup mengarungi lautan luas untuk bertahan hidup, kadang-kadang cuaca tak bersahabat, namun masih ada yang melaut menantang maut," ujar Genius saat meninjau aktifitas nelayan di Desa Marunggi, Rabu (9/11).

Memahami kondisi tersebut, Genius mengaku pihaknya telah memikirkan solusi ekonomi alternatif untuk menambah penghasilan para nelayan.

"Salah satu ekonomi alternatif bagi masyarakat pesisir adalah keterampilan merajut bagi anak dan isteri nelayan, sehingga dapat menambah penghasilan. Saya akan membelinya beberapa unit pada pengrajin di Binasi hari ini," ujar Genius sambil melihat koleksi hasil kerajinan warga.

Nova (22), warga dusun Binasi di Desa Marunggi menyebutkan, keterampilan merajut renda (marendo) telah ia lakukan untuk menambah penghasilan keluarga. Jasanya dalam hal marendo sedikit banyak mampu menambah uang belanja.

"Untuk rajutan alas meja bisa diselesaikan satu minggu, sarung tisue hanya satu hari," tutur Nova yang sudah menggeluti kerajinan rajutan sejak kelas 4 SD.

Terpisah, Kepala Dinas Koperindag Kota Pariaman Gusniyeti Zaunit, menyebut usaha rajutan di Kota Pariaman digeluti sekitar 200 orang. Sebagian pengrajin ada yang sudah memiliki counter di tempatnya masing-masing.

"Pengusaha rajutan telah memasarkan produknya sampai ke Singapura dan Malaysia. Pemasaran bahkan dilakukan secara online," ujarnya.

TIM