Melihat Pola Pembinaan Sepakbola Tanpa Hierarki Ala Kota Pariaman





Kesebelasan sepakbola Porprov Kota Pariaman akan berlaga dalam babak delapan (8) besar pada hari Jumat, 25 November, melawan kesebelasan Kabupaten Sijunjung. Pariaman selama tiga kali pertandingan di babak penyisihan Group C, berhasil meraih 7 poin dan keluar sebagai juara group dengan satu kali seri dan dua kali menang. Kemenangan terakhir mencukur Dharmasraya tim paling diunggulkan sekaligus juara bertahan peraih emas sepakbola Porprov XIII dengan skor 4-1.

Laga 'hidup mati' ala babak 8 besar tersebut rencananya akan digelar di lapangan sepakbola Cangkeh di Cangkeh Nan XX, Lubuk Begalung, Kota Padang.

Kesebelasan Sijunjung adalah runer up Group D dibawah Kota Padang. Lolosnya kesebelasan ini cukup unik dan langka, karena mengalahkan kesebelasan Kota Solok melalui cabut lotreng oleh sebab poin dan akumulasi gol yang diperoleh kesebelasan Sijunjung identik dengan raihan kesebelasan Kota Solok.

Menurut Manager Tim Kesebelasan Sepakbola Kota Pariaman, Kardinal Feri, 90 persen atlet sepakbola yang diturunkan pada ajang Porprov XIV ini adalah atlet Porprov Kota Pariaman pada Porprov XIII di Kabupaten Dharmasraya dua tahun lalu.

"Dan 90 persen dari tim sekarang bisa berlaga pada Porprov 2018 yang akan datang," ujarnya di Pariaman, Senin (21/11).

Artinya, kata Kardinal, hampir seluruh pemain saat ini berusia jauh dibawah usia maksimun 23 tahun. Bisa dibayangkan usia mereka saat diturunkan pada Porprov Sumbar XIII di Dharmasraya 2014 lalu.

"Pembinaan yang kita lakukan selama ini tidak hanya sebatas kemampuan di lapangan, tapi juga telah membangun ikatan emosional yang baik antara pemain dengan pemain, pemain dan pelatih Masriko, serta dengan seluruh ofisial. Jarak umur antara pelatih dan pemain tidak terpaut jauh sehingga ikatan persaudaraan diantara mereka erat sekali," tutur Kardinal.

Dia meyakini, pembinaan atlet muda oleh pelatih dan ofisial harus dilakukan dengan pendekatan pertemanan, bukan membangun hierarki (status tinggi rendah), sehingga para atlet merasa nyaman secara psikologis.

"Sebagus apapun para pemain, jika mendapat beban mental akan tumpul di lapangan. Pemain yang saling mengenal satu sama lain akan membangun team work yang solid saat berlaga," sambungnya.

Selain itu, imbuhnya, atlet sepakbola asli putra daerah yang dibina sedari dini tersebut, punya semangat juang yang tinggi untuk mengharumkan nama kampung halamannya.

"Karena itu adik-adik atlet tidak henti-hentinya berpesan kepada kami agar meminta dukungan dan doa kepada segenap warga Pariaman agar mereka mampu memperjuangkan nama daerah," pungkas Kardinal.

Di lain pihak, tokoh muda Pariaman, Riky Falantino, menilai sepakbola adalah olahraga rakyat yang dapat membangkitkan semangat primordial.

"Sepakbola juga punya daya ungkit pada cabang olahraga lainnya. Oleh sebab itu, memberikan perhatian lebih pada sepakbola sebuah keniscayaan dilakukan di berbagai belahan negara dunia," ungkapnya.

Olahraga sepakbola, tukuk Riky, tidak dipungkuri menjadi yang terpopuler di dunia. Sejumlah negara dikenal dunia karena prestasi sepakbola mereka.

"Olimpiade dunia yang paling akbar saja, kalah pamor dibandingkan liga-liga sepakbola di Eropa. Artinya, sepakbola itu spiritnya olahraga. Sepakbola mempersatukan perbedaan politik, sepakbola membangkitkan nasionalisme," mantan Ketua KNPI Kota Pariaman itu meyakinkan.

Riky berharap, dalam rentang waktu beberapa hari ke depan, saatnya bagi komponen masyarakat untuk memberikan dukungan kepada tim sepakbola Kota Pariaman yang masih berjuang. Perlu diketahui, ungkap Riky, sejak Pariaman berdiri sendiri (otonomi daerah tahun 2002), belum sekalipun cabang sepakbola berhasil lolos masuk babak 8 besar Porprov.

"Dukungan dapat berbentuk suport, motivasi, bahkan hingga berbentuk materi. Saya meyakini, jika Tuhan mengabulkan doa warga Pariaman dan kesebelasan Pariaman berhasil meraih medali pada Porprov saat ini, inilah momentum kita semua untuk membina lebih profesional lagi seluruh olahraga prestasi Kota Pariaman untuk mengharumkan nama daerah di masa depan," pungkasnya.

OLP