Genius Ungkap Kesaksian Mencengangkan Dua Pasukan AL Abad 19 Tentang Pariaman Tempo Dulu




Wakil Walikota Pariaman, Genius Umar, berpendapat, pengembangan dunia pariwisata tidak hanya selalu dalam segi pembangunan infrastruktur, sarana dan pra sarana, tetapi bisa juga dari segi sejarah dan budaya.

"Pariaman dahulunya adalah pintu gerbang masuknya agama islam di Sumatera Barat dan pesisir barat Sumatera," ungkap Genius di rumah tabuik pasa, Rabu (6/4), pada acara penutupan "lawatan sejarah budaya (Laseda)" Sumatera Barat dalam rangka menelusuri jejak-jejak peninggalan islam di pantai barat pulau Sumatera.

Kata dia, pada abad ke-13 ajaran islam berkembang melalui seni dan budaya sehingga mudah diterima masyarakat kala itu.

Pada abad ke-15 dan 16 bangsa-bangsa Eropa mulai melabuhkan kapalnya di pelabuhan tertua Pariaman kala itu. Dari mula membeli rempah-rempah hingga menjajah pada akhirnya.

"Dan di abad ke-19 di masa perebutan dan mempertahankan kemerdekaan, Pariaman adalah Pangkalan Angkatan Laut pertama di Sumatera sesuai dengan kesaksian sejarah personil Angkatan Laut yang selamat dalam perang mempertahankan Pariaman di waktu dulu," tuturnya.

Di samping itu, kata Genius, selain sejarah panjang Pariaman di sisi pengembangan agama islam, sisi budaya juga punya nilai sejarah yang sangat kaya.

"Pesta budaya Tabuik adalah magnet tertinggi wisata Pariaman yang dikunjungi ratusan ribu wisatawan baik domestik hingga mancanegara, salah satu contoh sejarah budaya di Pariaman," sebut dia.

Lawatan Sejarah Daerah Sumatera Barat tahun 2016 diprakarsai oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat dan menjadi kegiatan rutin tahunan.

"Kegiatan ini sangat bermanfaat sekaligus bisa menjadi pintu masuk pertukaran kebudayaan antara pelajar yang ada di Sumatera,” cetus Genius.

Lawatan tersebut berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 3 s/d 5 April. Peserta mengunjungi Kota Padang, Kabupaten Padangpariaman dan Kota Pariaman.

Laseda 2016 diikuti oleh pelajar dan guru pendamping dari 3 provinsi, yaitu Provinsi Sumatera Barat diikuti 40 peserta, Provinsi Sumatera Selatan diikuti sebanyak 26 peserta dan Provinsi Bengkulu sebanyak 25 peserta. Sedangkan panitia dari BPNB dan narasumber sebanyak 15 orang.

Kegiatan itu diharapkan sebagai alternatif pembelajaran bagi siswa langsung menapak tilas sejarah islam dan menelusuri jejak-jejak peninggalannya di pantai barat Sumatera Barat.
 

"Peserta dari kegiatan ini adalah siswa berprestasi dari sekolah-sekolah di daerahnya. Peserta terbaik dari kegiatan Laseda Sumbar 2016 akan mengikuti ajang Lawatan Sejarah Nasional yang akan dilaksanakan di Kota Yogyakarta bulan juli mendatang,” kata ketua rombongan Jumhari.

TIM